Claim Missing Document
Check
Articles

EDUKASI EFEK SAMPING OBAT MELALUI KAJIAN FARMAKOVIGILANS PADA MASYARAKAT DI KOTA MATARAM Anna Pradiningsih; Baiq Leny Nopitasari; Nurul Qiyaam; Wirawan Adikusuma; Safwan Safwan; Cyntiya Rahmawati; Baiq Lenysia Puspita Anjani; Rihhadatul Aisy; Risma Widia Ningsih
SELAPARANG: Jurnal Pengabdian Masyarakat Berkemajuan Vol 7, No 3 (2023): September
Publisher : Universitas Muhammadiyah Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31764/jpmb.v7i3.14586

Abstract

ABSTRAKKegiatan pengabdian kepada masyarakat ini memiliki judul Edukasi Efek Samping Obat Melalui Kajian Farmakovigilans Pada Masyarakat. Kegiatan ini berlokasi di Taman Sangkareang pada hari Jumat, 30 Maret 2023. Mayarakat yang terdapat pada Taman Sangkareang sejumlah 30 orang. Masyarakat yang menjadi mitra meliputi usia produktif dari rentang 15-65 tahun. Pendidikan terakhir responden memiliki variasi yang beragam. Pendidikan terakhir SMA memiliki jumlah tertinggi yaitu 60%, S1 sebesar 16,67%, dan SMK sebesar 13,33 %. Sedangkan jumlah terendah yaitu D3, SMP dan SD dengan persentase masing-masing 3,33%. Masyarakat yang berkenan menjadi responden diberikan pretest, kemudian responden diberikan leaflet berupa penjelasan mengenai Efek Smaping obat melalui Kajian Farmakovigilans. Setelah itu, responden diberikan posttest. Pemberian pretest dan postetst ini bertujuan agar dapat mengetahui tingkap pemahaman responden terhadap materi yang diberikan. Hasil pretest didapatkan peresentase sebesar 69,67% jawaban yang sesuai. Sedangkan setelah pemberian edukasi, pengetahuan masyarakat dapat meningkat dilihat dari hasil posttest sebesar 83,08%. Hal ini menyatakan bahwa pemberian edukasi memberikan dampak yang baik bagi peningkatan pengetahuan masyarakat mengenai efek samping obat. Kata kunci: farmakovigilans; obat; edukasi ABSTRACTThis community service activity has the title Education of Drug Side Effects through Pharmacovigilance Studies in the Community. This activity will be located at Taman Sangkareang on Friday, March 30, 2023. The community in Sangkareang Park is 30 people. The communities that become partners include the productive age from the range of 15-65 years. The respondents' recent education has a variety of variations. The last high school education has the highest number of 60%, S1 at 16.67%, and SMK at 13.33%. While the lowest number is D3, junior high school and elementary school with a percentage of 3.33% each. People who wish to be respondents are given a pretest, then respondents are given a leaflet in the form of an explanation of the Smaping Effects of drugs through Pharmacovigilance Studies. After that, respondents were given a posttest. The provision of pretest and postetst aims to be able to find out the window of respondents' understanding of the material provided. The pretest results obtained a percentage of 69.67% of the corresponding answers. Meanwhile, after providing education, public knowledge can increase as seen from the posttest results by 83.08%. This states that providing education has a good impact on increasing public knowledge about drug side effects. Keywords: pharmacovigilance; medicine; education
EDUKASI PEMILIHAN DAN PENGGUNAAN OBAT TRADISIONAL YANG AMAN PADA MASYARAKAT DI DUSUN GUNUNG KOMAK DESA SETILING, LOMBOK TENGAH Baiq Lenysia Puspita Anjani; Cyntiya Rahmawati; Wirawan Adikusuma; Safwan Safwan; Uswaton Hasanah; Putu Gede Suriya Gunawan; Baiq Nurbaety; Nur Furqani; Baiq Leny Nopitasari; Anna Pradiningsih; Irmatika Hendriyani
SELAPARANG: Jurnal Pengabdian Masyarakat Berkemajuan Vol 7, No 4 (2023): December
Publisher : Universitas Muhammadiyah Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31764/jpmb.v7i4.17830

Abstract

ABSTRAKObat tradisional yang beredar harus memenuhi persyaratan khasiat, keamanan, dan penandaan. Banyak beredar obat tradisional yang tidak teregistrasi terutama yang dijual secara online. Rendahnya pemahaman dan kesadaran masyarakat mengenai informasi tentang pemilihan dan penggunaan obat tradisional yang aman, ditambah dengan banyaknya informasi kurang tepat yang beredar melalui media sosial merupakan tantangan baru bagi Tenaga Kefarmasian untuk melakukan edukasi tentang pemilihan dan penggunaan obat tradisional yang aman. Adanya kejadian yang tidak diharapkan dari kesalahan pemilihan dan penggunaan obat tradisional juga menjadi faktor penting untuk melakukan edukasi pada masyarakat. Tujuan kegiatan ini untuk memberikan edukasi kepada Masyarakat tentang obat tradisional. Pelaksanaan pra kegiatan meliputi survei lokasi kegiatan di Dusun Gunung Komak, proses pembuatan dan pencetakan leaflet. Pelaksanaan kegiatan dilakukan pada hari Minggu, 10 September 2023 bertempat di Dusun Gunung Komak. Leaflet yang telah disiapkan didistribusikan kepada peserta kegiatan. Pada tahap pasca kegiatan dilakukan evaluasi hasil dengan tanya jawab dan pengisian pertanyaan pre-intervensi dan post-intervensi tentang obat tradisional oleh Masyarakat. Edukasi Pemilihan dan Penggunaan Obat Tradisional yang Aman ini menunjukkan hasil yang baik terlihat dari adanya kenaikan nilai pada post-intervensi dibandingkan dengan pra-intervensi. Edukasi obat tradisional ini membuka wawasan Masyarakat tentang bagaimana memilih dan menggunakan obat tradisional yang aman. Pengetahuan tentang obat tradisional ini juga akan meminimalisir kejadian penyalahgunaan obat dan perederaan obat ilegal yang belum terdaftar BPOM (Badan Pengawas Obat dan Makanan). Kata kunci: obat tradisional; edukasi; dusun gunung komak desa setiling ABSTRACTCirculating folk remedies must meet the requirements of efficacy, safety and marking. Many traditional medicines are circulating that are not registered, especially those sold online. The low public understanding and awareness of information about the selection and use of safe traditional medicines, coupled with the large amount of inappropriate information circulating through social media is a new challenge for Pharmaceutical Personnel to educate about the selection and use of safe traditional medicines. The unexpected occurrence of errors in the selection and use of traditional medicine is also an important factor for educating the public. The purpose of this activity is to educate the public about traditional medicine. The pre-activity implementation includes a survey of the location of activities in Gunung Komak Hamlet, the process of making and printing leaflets. The activity will be carried out on Sunday, September 10, 2023 at Gunung Komak Hamlet. The prepared leaflets were distributed to the participants of the activity. In the post-activity stage, evaluation of the results was carried out with questions and answers and filling in pre-intervention and post-intervention questions about traditional medicine by the community. This Education on the Selection and Use of Safe Traditional Medicine shows good results as seen from the increase in post-intervention scores compared to pre-intervention. This traditional medicine education opens people's insight on how to choose and use safe traditional medicines. Knowledge of traditional medicine will also minimize the incidence of drug abuse and illegal drug circulation that has not been registered with BPOM (Food and Drug Supervisory Agency). Keywords: traditional medicine; education; gunung komak hamlet setiling village
PENCEGAHAN WITHDRAWAL SYNDROMES DENGAN EDUKASI PENGGUNAAN ANTISPIKOTIK DI RSJ MUTIARA SUKMA Anna Pradiningsih; Baiq Leny Nopitasari; Nurul Qiyaam; Cyntiya Rahmawati; Safwan Safwan; Baiq Nurbaety; Baiq Lenysia Puspita Anjani; Widayatul Khairi; Rihhadatul Aisy; Rendy Alya Praja; Purnama Supyan Assauri; Rozali Bayu Sugarda
SELAPARANG: Jurnal Pengabdian Masyarakat Berkemajuan Vol 7, No 4 (2023): December
Publisher : Universitas Muhammadiyah Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31764/jpmb.v7i4.20150

Abstract

ABSTRAKAntipsikotik merupakan golongan obat yang digunakan untuk gangguan psikotik. Penarikan obat yang tiba-tiba yang memicu efek samping obat dapat dikatakan dengan gejala putus obat atau Withdrawal Syndromes. Tujuan kegiatan pengabdian untuk memberikan edukasi terkait pengetahuan gejala putus obat antipsikotik. Metode yang digunakan yakni ceramah menggunakan alat peraga leaflet namun sebelumnya terlebih dahulu diberikan 10 pertanyaan mengenai edukasi untuk pre test setelah itu diberikan post test, target kegiatan yakni pasien yang menjalani rawat inap di Rumah Sakit RSJ Mutiara Sukma. Hasil kegiatan di dapatkan 21 pasien penggunaan antipsikotik yang terdiri dari 17 pasien laki-laki dan 4 pasien perempuan, didapatkan persentase pretest sebesar 62.86% jawaban yang sesuai sedangkan persentase post test sebesar 68.09%, sedangkan selisih persentase yang didapatkan sebesar 5.23%. Kesimpulan didapatkan pemberian edukasi dapat meningkatkan pengetahuan tentang putus obat penggunaan antipsikotika sebesar 5,23%. Kata kunci: putus obat; antipsikotik ABSTRACT Antipsychotics are a class of drugs used for psychotic disorders. Abrupt withdrawal of medication that triggers side effects can be referred to as withdrawal syndromes. The purpose of this community service activity is to provide education related to the knowledge of antipsychotic withdrawal symptoms. The method used is a lecture using visual aids such as leaflets, preceded by a pre-test consisting of 10 questions about education. Afterward, a post-test is administered to patients undergoing inpatient care at Mutiara Sukma Mental Hospital. The results of the activity revealed 21 patients using antipsychotics, comprising 17 male patients and 4 female patients. The pretest percentage was 62.86% correct answers, while the post-test percentage was 68.09%, resulting in a difference of 5.23%. In conclusion, education can improve knowledge about antipsychotic withdrawal by 5.23%. Keywords: withdrawal syndromes; antipsychotics
Edukasi pengelolaan limbah obat dalam rumah tangga di Desa Labuapi Baiq Nurbaety; Yuli Fitriana; Dzun Haryadi Ittiqo; Taufan Hari Sugara; Nur Furqani; Baiq Leny Nopitasari; Risma Widia Ningsih; Rosdiawati Rosdiawati
SELAPARANG: Jurnal Pengabdian Masyarakat Berkemajuan Vol 8, No 4 (2024): December
Publisher : Universitas Muhammadiyah Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31764/jpmb.v8i4.27944

Abstract

AbstrakLimbah medis merupakan limbah yang mengandung bahan atau kandungan yang dapat menginfeksi seseorang atau makhluk hidup di sekitarnya. Pada umumnya, masyarakat belum mengetahui bahwa pengolahan limbah medis dan limbah rumah tangga memiliki perbedaan. Pembuangan obat dan sediaan farmasi lain secara tidak tepat akan menimbulkan hal-hal yang tidak diinginkan seperti obat dijual kembali secara ilegal dan disalahgunakan, terutama jika obat dibuang dalam kemanasan aslinya. Masyarakat di Desa Labuapi masih banyak yang belum memahami tentang cara pembuangan limbah obat rumah tangga dengan baik dan benar. Masyarakat yang menangani obat yang rusak/kadaluwarsa dengan cara dibuang ke tempat sampah rumah tangga dan penyimpanan obat yang tidak terpakai dilakukan hingga mencapai tanggal kadaluwarsa. Tujuan dari kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini adalah untuk  memberikan  informasi pengelolaan limbah obat rumah tangga di Desa Labuapi. Peserta yang terlibat dalam pengabdian ini sejumlah 23 orang yang terdiri dari perwakilan ibu rumah tangga, kader dan karang taruna. Metode yang digunakan dalam kegiatan ini adalah metode ceramah, pemberian leaflet, booklet dan metode pre - post test dalam bentuk kuesioner. Subyek pengabdian kepada masyarakat ini adalah masyarakat Desa Labuapi. Berdasarkan hasil pretest dan posttest dari kegiatan tersebut dapat dilihat terjadi peningkatan  pengetahuan  masyarakat Desa Labuapi tentang pengelolaan limbah obat rumah tangga. Pada saat pretest nilai rata-rata peserta adalah 43,47% yang dalam kategori kurang sedangkan pada saat posttest nilai rata-rata peserta meningkat menjadi 78,69% yang dalam kategori Baik. Hal ini menunjukkan bahwa para peserta dapat menerima edukasi yang diberikan dengan baik. Kata kunci: pengelolaan; limbah obat; rumah tangga; desa labuapi AbstractMedical waste is waste that contains materials or ingredients that can infect a person or living creatures around them. In general, people do not know that the processing of medical waste and household waste is different. Improper disposal of medicines and other pharmaceutical preparations will result in undesirable things such as illegal resale of medicines and misuse, especially if the medicines are thrown away in their original packaging. Many people in Labuapi Village still do not understand how to dispose of household medicinal waste properly and correctly. People handle damaged/expired medicine by throwing it in the household trash and storing unused medicine until it reaches the expiry date. The aim of this community service activity is to provide information on household drug waste management in Labuapi Village. There were 23 participants involved in this service consisting of representatives of housewives, cadres and youth organizations. The methods used in this activity are the lecture method, giving leaflets, booklets and the pre-post test method in the form of a questionnaire. The subjects of this community service are the people of Labuapi Village. Based on the pretest and posttest results from this activity, it can be seen that there has been an increase in the knowledge of the Labuapi Village community regarding household drug waste management. During the pretest the participants' average score was 43.47% which was in the poor category, while during the posttest the participants' average score increased to 78.69% which was in the Good category. This shows that the participants can receive the education provided well. Keywords: management; medicinal waste; household; labuapi village
Sex education: meminimalisir penyakit menular seksual melalui peran aktif majelis kesehatan Dzun Haryadi Ittiqo; Anna Pradiningsih; Nurul Qiyaam; Baiq Leny Nopitasari; Muhammad Faisal; Ni Wayan Ari Adiputri; Gusti Ayu Puti Sri Erwinayanti; Intan Sri Hartanti; I Ketut Wisnu Arya Wiratama; Umul Mutmainah
SELAPARANG: Jurnal Pengabdian Masyarakat Berkemajuan Vol 9, No 4 (2025): Juli
Publisher : Universitas Muhammadiyah Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31764/jpmb.v9i4.33261

Abstract

AbstrakPendidikan seksual adalah keterampilan dan pengetahuan yang penting untuk diajarkan sejak dini kepada anak-anak, mengenai perilaku seksual, guna mempersiapkan mereka menghadapi perubahan seiring bertambahnya usia serta membentuk karakter dan pola perilaku agar mereka dapat menghindari risiko pelecehan seksual dan perilaku seksual menyimpang. Kegiatan pengabdian ini dilakukan pada di Aula Posyandu Lingkungan Pagesangan Indah, Kota Mataram. Pemilihan kelompok sasaran ditentukan dengan banyaknya remaja sekitar kampus. Kemudain tim menganalisa jumlah masyarakat pada lingkungan mitra sebagai target sasaran pengabdian masyarakat. Target sasaran kegiatan ini adalah Kepala Lingkungan, Kader Lingkungan, Dai kesehatan, Kepala RT dan Perwakilan Kampung Keluarga Berencana (KKB). Kegiatan deteksi dan edukasi terkait dengan sex education dalam meminimalisir IMS sangat bermanfaat untuk memberikan pemahaman kepada mitra terkait fenomena yang terjadi di masyarakat. Edukasi ini dimaksudkan untuk menekan angka paparan IMS. Kata kunci: sex education; infeksi menular seksual; mejelis kesehatan muhammadiyah AbstractSex education is an essential skill and knowledge that should be taught to children from an early age, focusing on sexual behavior, in order to prepare them for changes as they grow older and to help shape their character and behavior patterns so they can avoid the risks of sexual abuse and deviant sexual behavior. This community service activity was carried out at the Posyandu Hall in the Pagesangan Indah neighborhood, Mataram City. The target group was chosen based on the large number of adolescents living near the campus. The team then analyzed the population in the partner community area to determine the target of the community service. The target audience of this activity included the Neighborhood Head, Community Health Cadres, Health Preachers (Dai Kesehatan), Neighborhood Chiefs (RT Heads), and representatives from the Family Planning Village (KKB). The detection and education activities related to sex education aimed at minimizing sexually transmitted infections (STIs) were very beneficial in providing partners with understanding about phenomena occurring in society. This education is intended to reduce the incidence of STI exposure. Keywords: sex education; sexually transmitted infections (STI); muhammadiyah health council
Pemberdayaan generasi Z melalui edukasi dan pembuatan reed diffuser aromaterapi herbal untuk meningkatkan kenyamanan dan kebersihan lingkungan Muhammad Faisal; Baiq Leny Nopitasari; Eryona Azizun Rosyida; Sintha Puspitasari; Nabila Vidia Utami; Nanda Syahmila Maulida; Doni Hardani; Dedi Arjuna Saputra
SELAPARANG: Jurnal Pengabdian Masyarakat Berkemajuan Vol 10, No 3 (2026): June
Publisher : Universitas Muhammadiyah Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31764/jpmb.v10i3.39595

Abstract

Abstrak Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini dilatarbelakangi oleh pentingnya menciptakan lingkungan belajar yang nyaman dan higienis sebagai faktor pendukung konsentrasi, motivasi, dan kesejahteraan psikologis siswa Generasi Z. Hasil observasi di SMK Negeri 3 Mataram menunjukkan bahwa beberapa ruang kelas masih terasa pengap akibat ventilasi yang kurang optimal serta rendahnya literasi siswa terkait pemanfaatan bahan alam untuk mendukung higiene lingkungan. Kegiatan ini bertujuan meningkatkan pengetahuan dan keterampilan siswa dalam pembuatan reed diffuser aromaterapi herbal sebagai upaya menciptakan lingkungan belajar yang lebih nyaman, sehat, dan segar. Peserta kegiatan berjumlah 25 siswa. Metode pelaksanaan menggunakan pendekatan edukatif-partisipatif berbasis learning by doing yang meliputi penyuluhan interaktif, demonstrasi, praktik langsung pembuatan reed diffuser aromaterapi herbal, serta evaluasi melalui pre-test dan post-test. Penilaian keterampilan peserta dilakukan melalui observasi selama praktik berlangsung. Hasil kegiatan menunjukkan adanya peningkatan pengetahuan siswa terkait higiene lingkungan dan pemanfaatan aromaterapi herbal, ditandai dengan meningkatnya nilai post-test dibandingkan pre-test sebesar 20%. Secara kuantitatif, sebagian besar peserta mampu membuat reed diffuser secara mandiri sesuai prosedur yang diajarkan. Secara kualitatif, kegiatan ini meningkatkan kesadaran siswa terhadap pentingnya menjaga kenyamanan dan kebersihan lingkungan sekolah berbasis bahan alam. Produk reed diffuser yang dihasilkan juga dimanfaatkan di ruang kelas untuk mendukung suasana belajar yang lebih nyaman dan menyegarkan. Program ini memberikan pengalaman belajar yang kreatif, aplikatif, serta berpotensi dikembangkan menjadi kegiatan kewirausahaan sederhana di lingkungan sekolah. Kata kunci: aromaterapi herbal; generasi Z; higiene lingkungan; reed diffuser; sekolah sehat. Abstract This community service activity was motivated by the importance of creating a comfortable and hygienic learning environment as a supporting factor for the concentration, motivation, and psychological well-being of Generation Z students. Observations conducted at SMK Negeri 3 Mataram revealed that several classrooms still felt stuffy due to inadequate ventilation and the low level of students’ literacy regarding the utilization of natural materials to support environmental hygiene. This activity aimed to improve students’ knowledge and skills in producing herbal aromatherapy reed diffusers as an effort to create a more comfortable, healthy, and refreshing learning environment. The participants consisted of 50 students. The implementation method employed an educative-participatory approach based on learning by doing, which included interactive counseling sessions, demonstrations, hands-on practice in making herbal aromatherapy reed diffusers, and evaluation through pre-test and post-test assessments. Participants’ skills were assessed through direct observation during the practice sessions. The results showed an improvement in students’ knowledge regarding environmental hygiene and the use of herbal aromatherapy, indicated by a 20% increase in post-test scores compared to pre-test scores. Quantitatively, most participants were able to independently produce reed diffusers according to the procedures taught. Qualitatively, this activity increased students’ awareness of the importance of maintaining a comfortable and clean school environment using natural-based products. The reed diffusers produced were also utilized in classrooms to support a more pleasant and refreshing learning atmosphere. This program provided a creative and practical learning experience and has the potential to be further developed into a simple entrepreneurship activity within the school environment. Keywords: herbal aromatherapy; generation Z; environmental hygiene; reed diffuser; healthy school.
Edukasi SEHATI (Sehatkan Masyarakat, Hindari dan Atasi Hipertensi) berbasis herbal pada lansia di Dusun Montong Kelor Nursela Hijriani; Baiq Leny Nopitasari; Nabila Vidia Utami; Herlina Irani Fahmi; Fahra Fadila; Azizah Rahmawati; Fatin Putri Ramadhani; Irmatika Hendriyani
SELAPARANG: Jurnal Pengabdian Masyarakat Berkemajuan Vol 10, No 3 (2026): June
Publisher : Universitas Muhammadiyah Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31764/jpmb.v%vi%i.39676

Abstract

Abstrak Hipertensi merupakan salah satu penyakit tidak menular yang banyak dialami lansia dan berisiko menimbulkan komplikasi serius apabila tidak dikendalikan dengan baik. Rendahnya pengetahuan masyarakat mengenai pencegahan dan penanganan hipertensi, termasuk pemanfaatan herbal tradisional, menjadi salah satu faktor yang memengaruhi pengendalian tekanan darah. Kegiatan pengabdian kepada masyarakat melalui Edukasi SEHATI (Sehatkan Masyarakat, Hindari dan Atasi Hipertensi) berbasis herbal bertujuan meningkatkan pengetahuan dan kesadaran lansia terkait hipertensi. Kegiatan dilaksanakan pada tanggal 7 Mei 2026 di Dusun Montong Kelor, Desa Montong Terep, Kecamatan Praya, Lombok Tengah dengan melibatkan 35 lansia. Metode kegiatan meliputi observasi lapangan, identifikasi masalah dan kebutuhan mitra, senam lansia, pemeriksaan tekanan darah, edukasi kesehatan mengenai hipertensi dan obat herbal antihipertensi, serta demonstrasi pengolahan rebusan temulawak sebagai minuman herbal penurun tekanan darah. Hasil kegiatan menunjukkan bahwa peserta mengikuti seluruh rangkaian kegiatan dengan antusias dan aktif dalam sesi edukasi maupun demonstrasi. Pemberian edukasi kesehatan terbukti dapat meningkatkan pengetahuan masyarakat mengenai hipertensi, pola hidup sehat, dan pemanfaatan herbal tradisional sebagai terapi pendukung pengendalian tekanan darah. Demonstrasi pengolahan temulawak juga membantu peserta memahami cara pembuatan minuman herbal yang dapat diterapkan secara mandiri di rumah. Program Edukasi SEHATI diharapkan menjadi upaya promotif dan preventif dalam meningkatkan derajat kesehatan lansia serta mendorong kemandirian masyarakat dalam menjaga kesehatan. Kata kunci: hipertensi; lansia; edukasi kesehatan; herbal; temulawak. Abstract Hypertension is one of the non-communicable diseases commonly experienced by the elderly and is at risk of causing serious complications if not well managed. The low level of public knowledge regarding the prevention and management of hypertension, including the use of traditional herbs, is one of the factors affecting blood pressure control. Community service activities thru SEHATI Education (Healthy Community, Avoid and Overcome Hypertension) based on herbal remedies aim to increase the knowledge and awareness of the elderly regarding hypertension. The activity was conducted on May 7, 2026, in Dusun Montong Kelor, Desa Montong Terep, Kecamatan Praya, Lombok Tengah, involving 35 elderly participants. The methods of the activity included field observation, identification of partner problems and needs, senior citizen exercise, blood pressure checks, health education on hypertension and antihypertensive herbal medicine, as well as a demonstration of processing temulawak decoction as a herbal drink to lower blood pressure. The results of the activities show that participants followed the entire series of activities with enthusiasm and were active in both the education and demonstration sessions. The provision of health education has proven to increase the community's knowledge about hypertension, healthy lifestyles, and the use of traditional herbs as supportive therapy for blood pressure control. The demonstration of temulawak processing also helps participants understand how to make herbal drinks that can be independently applied at home. The SEHATI Education Program is expected to be a promotive and preventive effort in improving the health status of the elderly and encouraging community independence in maintaining health. Keywords: hypertension; elderly; health education; herbal; curcuma.
Pengaruh Pemberian Infundasi Sarang Burung Walet (Aerodramus Fuciphaga) terhadap Luka Bakar Derajat II-A pada Kelinci Baiq Leny Nopitasari; Muhammad Shivam Hadi; Nursela Hijriani
Lumbung Farmasi: Jurnal Ilmu Kefarmasian Vol 7, No 2 (2026): Juli
Publisher : UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MATARAM

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31764/lf.v7i2.35512

Abstract

Luka bakar derajat II-A merupakan salah satu cedera kulit yang ditandai dengan kerusakan pada lapisan epidermis. Sarang burung walet (Aerodramus fuciphaga) dikenal memiliki kandungan bioaktif yang memiliki potensi mendukung proses regenerasi jaringan serta mempercepat epitelisasi. Tujuan penelitian untuk mengevaluasi pengaruh infundasi sarang burung walet terhadap penyembuhan luka bakar derajat II-A pada model hewan kelinci (Oryctolagus cuniculus). Penelitian eksperimental ini dilakukan pada bulan Oktober–November 2024 dengan membandingkan kelompok perlakuan infundasi dua kali sehari dan tiga kali sehari dengan kontrol positif (silver sulfadiazine) serta kontrol negatif (aquades). Hasil penelitian menunjukkan bahwa kelompok dengan infundasi tiga kali sehari memiliki tingkat penyembuhan tertinggi (37,5%), diikuti oleh kelompok infundasi dua kali sehari (25%), kelompok silver sulfadiazine (20%), dan kelompok kontrol negatif (17,5%). Meskipun analisis statistik menunjukkan adanya perbedaan antar kelompok, hasil tersebut tidak signifikan secara statistik (p>0,05). Kesimpulan pada penelitian ini yaitu pemberian ekstrak sarang burung walet 2 kali sehari dan 3 kali sehari menunjukkan tren penurunan diameter luka bakar derajat II-A yang lebih baik dibandingkan kontrol aquadest dan Silver Sulfadiazine hingga hari ke-12, dengan persentase penyembuhan tertinggi pada sarang burung walet 3 kali sehari (37,5%).
Perbedaan Kualitas Hidup Pasien Gagal Ginjal Kronik dengan Komorbid Diabetes Melitus dan Hipertensi yang Menjalani Hemodialisa Di RSUD Provinsi NTB Baiq Leny Nopitasari; Anna Pradiningsih; Riskika Putri Suci Dinianty
Lumbung Farmasi: Jurnal Ilmu Kefarmasian Vol 5, No 2 (2024): Juli
Publisher : UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MATARAM

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31764/lf.v5i2.22122

Abstract

Gagal Ginjal Kronik (GGK) adalah suatu keadaan penurunan fungsi ginjal secara mendadak. Salah satu terapi yang dijalankan oleh pasien dengan penyakit gagal ginjal kronik adalah hemodialisa. Walaupun sudah menjalankan hemodialisa tetapi tidak semua toksin uremi dapat dikeluarkan. Toksin uremi yang tertinggal ini dapat memunculkan berbagai macam komorbid. Komorbid pasien gagal ginjal kronik yang paling banyak dari penyakit gagal ginjal kronik adalah diabetes dan hipertensi. Kualitas hidup merupakan indikator penting untuk menilai status kesehatan dan efektif suatu intervensi serta kelangsungan hidup dari penderita gagal ginjal kronik yang menjalani hemodialisa. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan kualitas hidup pasien gagal ginjal kronik dengan komorbid diabetes melitus dan hipetensi yang menjalani hemodialisa di RSUD Provinsi NTB. Metode penelitian yaitu observasional analitik dengan desain penelitian cross sectional. Penelitian ini melibatkan 44 pasien yang di ambil dengan purposive sampling dan dilakukan pada maret-april 2023. Pengumpulan data menggunakan Kidney Disease and Quality of Life (KDQOL-SF). Hasil penelitian menunjukkan pasien dengan komorbid hipertensi lebih baik kualitas hidup dari pada pasien dengan komorbid diabetes melitus. Hasil uji statistik menunjukkan terdapat perbedaan kualitas hidup pasien gagal ginjal kronik dengan komorbid diabetes melitus dan hipertensi yang menjalani hemodialisa di RSUD Provinsi NTB dengan nilai p-value 0,004 (p < 0,05).
Hubungan Polifarmasi dengan Potensi Terjadinya Interaksi Obat pada Pasien Congestive Heart Failure (CHF) di RSUD Provinsi NTB Baiq Leny Nopitasari; Nursela Hijriani; Baiq Nurbaety; Baiq Lenysia Puspita Anjani
Lumbung Farmasi: Jurnal Ilmu Kefarmasian Vol 6, No 2 (2025): Juli
Publisher : UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MATARAM

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31764/lf.v6i2.30878

Abstract

Pasien Congestive Heart Failure (CHF) umumnya menderita penyakit penyerta lain sehingga membutuhkan berbagai macam obat dalam terapinya atau disebut polifarmasi, yang berpotensi terjadi interaksi obat. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan polifarmasi dengan potensi interaksi obat. Desain penelitian menggunakan cross sectional dan pengambilan data secara retrospektif  periode bulan November - Desember 2023. Jumlah sampel sebanyak 30 sampel yang dianalisis menggunakan drug interactions checker (medscape) dan analisis statistik menggunakan Rank Spearman. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penggunaan obat CHF terbanyak yaitu furosemid dan spironolakton (16,5%). Penggunaan obat Non-CHF terbanyak yaitu clopidogrel dan atorvastatin (24,1%). Adapaun, kejadian interaksi obat sebanyak  99% mengalami interaksi dibandingkan tidak berinteraksi. Mekanisme interaksi obat farmakodinamika (34,4%) lebih banyak dibandingkan farmakokinetika. Tingkat keparahan monitor (moderat) (96%) lebih banyak dibandingkan minor dan mayor. Kesimpulan yaitu tidak terdapat hubungan antara polifarmasi dengan potensi interaksi obat pada pasien CHF dengan nilai Sig sebesar 0,719 (p-value> 0,05) dan, nilai korelasi sebesar -0,037 yang berarti bahwa hubungan antara kedua variabel tersebut sangat lemah.