Claim Missing Document
Check
Articles

Found 58 Documents
Search
Journal : e-GIGI

PENGARUH TINGKAT SOSIAL EKONOMI ORANG TUA TERHADAP KARIES ANAK DI TK HANG TUAH BITUNG Ngantung, Rebecca A.; Pangemanan, Damajanty H. C.; Gunawan, Paulina N.
e-GiGi Vol 3, No 2 (2015): e-GiGi
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/eg.3.2.2015.10319

Abstract

Abstract: Dental caries is a major problem in children’s mouth cavity. The damage of the primary teeth spreads faster, expands more, and worse than permanent teeth. Socioeconomics status is one of the factors that affect health status. In order to meets the need of life and to get the desired health service, the higher socioeconomic groups have more chance than the lower socioeconomic groups. This study aimed to find out the influence of parental socioeconomic to children’s caries in Hang Tuah Bitung Kindergarten. This was an analytical study using a cross sectional design. The population consisted of students of Hang Tuah Bitung Kindergarten with a total of 72 children. Samples were 52 students obtauned by using total sampling method. The primary data collection used def-t examination and parental identity checked from. The statistical analysis was perfomed by using Spearman’s test. The results showed that there was no effect of parents’ employment of parents to children dental caries (p=0.092); there was no effect of parents’ education to children dental caries (p=0.425); no effect of parents’ income to children dental caries (p=0.164); there was no effect of the number of family members to children dental caries (p=0.119). Conclusion: There was no effect of socioeconomic status of the parents to children dental caries.Keywords: socioeconomic level, occupation, education, income, cariesAbstrak: Karies merupakan masalah utama di rongga mulut anak. Kerusakan gigi sulung lebih cepat menyebar, meluas, dan lebih parah dari pada gigi permanen. Status sosial ekonomi merupakan salah satu faktor yang memengaruhi status kesehatan, sebab dalam memenuhi kebutuhan hidup dan untuk mendapatkan tempat pelayanan kesehatan yang diinginkan lebih memungkinkan bagi kelompok sosial ekonomi tinggi dibandingkan dengan kelompok sosial ekonomi rendah. Tujuan penelitian ini yaitu untuk mengetahui pengaruh tingkat sosial ekonomi orang tua terhadapkaries anak di TK Hang Tuah Bitung.Penelitian ini merupakan penelitian yang bersifat analitik dengan menggunakan metode cross sectional. Populasi penelitian ini ialah murid TK Hang Tuah Bitung yang berjumlah 72 orang. Sampel yang diteliti 52 anak dengan menggunakan total sampling. Metode pengambilan data secara primer yaitu dengan pemeriksaan def-t dan formulir pemeriksaan identitas orang tua. Analisis statistik dilakukan dengan menggunakan uji Spearman. Hasil penelitian diperoleh, tidak ada pengaruh tingkat pekerjaan orang tua terhadap karies gigi anak (p=0,092), tidak ada pengaruh tingkat pendidikan orang tua terhadap karies gigi anak (p=0,425), tidak ada pengaruh tingkat pendapatan orang tua terhadap karies gigi anak (p=0,164), tidak ada pengaruh banyaknya anggota keluarga orang tua terhadap karies gigi anak (p=0,119).Simpulan: Tidak terdapat pengaruh tingkat sosial ekonomi orang tua terhadap karies gigi anak. Kata kunci : tingkat sosial ekonomi, pekerjaan, pendidikan, pendapatan, karies.
Hubungan tingkat pengetahuan ibu tentang kesehatan gigi anak dengan tingkat keparahan karies anak TK di Kota Tahuna Rompis, Christian; Pangemanan, Damajanty; Gunawan, Paulina
e-GiGi Vol 4, No 1 (2016): e-GiGi
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/eg.4.1.2016.11483

Abstract

Abstract: Mother's knowledge about children dental health is very important. It could be observed from some aspects such as knowledge of the causes of dental health problems, children dental care, dietary, and time schedule to the dentist. Def-t index is a measurement of the severity of dental caries in children. This study aimed to determine the relationship of mother's knowledge about the dental health and dental caries severity of kindergarten children in the town of Tahuna. This was an analytical study with a cross-sectional design. There were 65 kindergarten children as samples. Data were collected by using a questionnaire and the def-t examination sheet. The results showed as follows: the mother's knowledge about the dental health of children of good category 93.8% and poor category 6.1%. The examination of the severity of dental caries resulted in 4.61% low severity category, 26.1% moderate severity category, 60% high severity category, and very high severity category 9.23%. The contingency coefficient correlation test showed a significance of 0.270 (> p = 0.05); therefore, the relationship was weak. Conclusion: There was no relationship between mother's knowledge about dental health of the children and caries severity of kindergarten children in the city of Tahuna.Keywords: def- t, severity of caries, knowledge of motherAbstrak: Pengetahuan ibu tentang kesehatan gigi anak menjadi salah satu hal yang penting di era sekarang ini. Pengetahuan ibu mengenai kesehatan gigi anak dapat dilihat dari beberapa aspek yaitu pengetahuan tentang penyebab masalah kesehatan gigi, akibat masalah kesehatan gigi, perawatan gigi anak, pengaturan makanan serta waktu memeriksakan gigi anak ke dokter gigi. Tingkat keparahan karies merupakan pengukuran seberapa parah karies gigi pada anak dengan menggunakan indeks def-t. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan pengetahuan ibu tentang kesehatan gigi terhadap tingkat keparahan karies anak TK di kota Tahuna. Jenis penelitan ini analitik dengan rancangan potong lintang. Jumlah sampel yang diambil dari beberapa TK di Kota Tahuna sebanyak 65 anak. Teknik pengumpulan data mengunakan kuesioner dan lembar pemeriksaan def-t. Hasil penelitian menunjukkan pengetahuan ibu tentang kesehatan gigi anak di Kota Tahuna kategori baik 93,8% sedangkan kategori buruk 6,1 %. Pemeriksaan tingkat keparahan karies gigi mendapatkan kategori keparahan rendah 4,61%, kategori keparahan sedang 26,1%, kategori keparahan tinggi 60%, dan kategori keparahan sangat tinggi 9,23%. Hasil analisis menggunakan uji korelasi koefisien kontingensi mendapatkan hasil signifikansi 0,270 (> p = 0,05), yang menunjukkan hubungan yang terjadi lemah. Simpulan: Tidak terdapat hubungan antara pengetahuan ibu tentang kesehatan gigi anak dengan tingkat keparahan karies anak TK di Kota Tahuna.Kata kunci : def- t, tingkat keparahan karies, pengetahuan ibu
GAMBARAN PERILAKU DAN CARA MERAWAT GIGI TIRUAN SEBAGIAN LEPASAN PADA LANSIA DI PANTI WREDHA MINAHASA INDUK Lengkong, Pingkan E.O.; Pangemanan, Damajanti H. C.; Mariati, Ni Wayan
e-GiGi Vol 3, No 1 (2015): e-GiGi
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/eg.3.1.2015.6404

Abstract

Abstract: Removable partial dentures (RPDs) is a denture that replaces one or more missing teeth in the maxilla or mandible and can be removed by the patient. Patients maintain hygiene habits removable partial dentures can be seen from the frequency, time, and method used to clean dentures varies between individuals and different communities. The purpose of this study is to describe the behavior and how to care RPDs for the elderly in Panti Wredha Minahasa.This type of research is a descriptive study with cross sectional study. The samples were all elderly who meet the inclusion criteria were age 60-80 years using RPDs in seven nursing homes in Minahasa.Based on the research that has been conducted, most respondents RPDs cleaning by brushing without toothpaste 1 (3.3%) and brushing with toothpaste totaled 29 respondents (96.67%). A total of 13 respondents (43.3%) did immersion RPDs. Most respondents simply did immersion by using water that are 17 respondents (56.67%), and no one do immersion using a chemical solution. Most respondents, 13 respondents (43.3%) RPDs cleaning once a day, as many as 28 respondents (93.33%) did not find any difficulty in cleaning RPDs, all respondents (100%) did not get instruction after assembling, as many as 22 respondents (73.3%) using RPDs at night when sleeping.Conclusion: from the study based on behavior, most respondents use RPDs at night when sleeping. Based on how to brush, most respondents RPDs cleaning by brushing use a toothbrush and toothpaste. Based on how to care for the soaking, most respondents did soaking with water.Keywords: removable partial dentures, elderlyAbstrak: Gigi tiruan sebagian lepasan (GTSL) adalah gigi tiruan yang menggantikan satu atau beberapa gigi yang hilang pada rahang atas atau rahang bawah dan dapat dilepas oleh pasien. Kebiasaan pasien memelihara kebersihan gigi tiruan sebagian lepasan dapat dilihat dari frekuensi, waktu, dan cara yang digunakan untuk membersihkan gigi tiruan bervariasi pada setiap individu dan masyarakat yang berbeda. Tujuan dari penelitian ini yaitu untuk mengetahui gambaran perilaku dan cara merawat GTSL pada lansia di Panti Wredha Minahasa Induk. Jenis penelitian ini yaitu penelitian deskriptif dengan pendekatan cross sectional study. Sampel adalah semua lansia yang memenuhi kriteria inklusi yaitu yang berusia 60-80 tahun, menggunakan GTSL di tujuh Panti Wredha di Minahasa Induk. Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan, responden paling banyak membersihkan GTSL dengan cara menyikat tanpa pasta gigi 1 orang (3,3%) dan menyikat gigi dengan pasta gigi berjumlah 29 responden (96,67%). Sebanyak 13 responden (43,3%) tidak melakukan perendaman GTSL. Responden terbanyak hanya melakukan perendaman dengan menggunakan air yaitu 17 responden (56,67%), dan tidak seorangpun yang melakukan perendaman dengan menggunakan larutan zat kimia. Sebagian besar responden yaitu 13 responden (43,3%) membersihkan GTSL sekali sehari, sebanyak 28 responden (93,33%) tidak menemukan kesulitan dalam membersihkan GTSL, semua responden (100%) tidak mendapatkan isntruksi setelah pemasangan, sebanyak 22 responden (73,3%) menggunakan GTSL pada saat malam hari ketika tidur. Simpulan: dari hasil penelitian berdasarkan perilaku, sebagian besar responden menggunakan GTSL pada saat malam hari ketika tidur. Berdasarkan cara menyikat, responden paling banyak membersihkan GTSL dengan cara menyikat memakai sikat gigi dan pasta gigi. Berdasarkan cara merawat dengan merendam, sebagian besar responden melakukan perendaman dengan menggunakan air.Kata kunci : gigi tiruan sebagian lepasan, lansia
Uji efektivitas ekstrak daun sendok (Plantago major L.) terhadap waktu perdarahan pada tikus Wistar jantan (Rattus norvegicus) Kainde, Abedneju R.; Pangemanan, Damajanty H.C.; Hutagalung, Bernart S.P.
e-GiGi Vol 4, No 2 (2016): e-GiGi
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/eg.4.2.2016.14221

Abstract

Abstract: Herbal plant is often used to treat any kind of disease. There are many kinds of plants in Minahasa used as traditional medicine, inter alia daun sendok (Plantago major L.). Daun sendok is often used to treat bleeding. This study was aimed to obtain the effectiveness of daun sendok extract on bleeding time in male Wistar rats. This was a true experimental study with a posttest only group design. This study was conducted at the Laboratory of Pharmacology Faculty of Medicine University of Sam Ratulangi. Total samples were 14 rats divided into 2 groups: control group and treatment group. Wounds of 2 mm depth were perfomed on the rat tails of the treatment group followed by application of daun sendok extract. The results showed that the average bleeding time of the control group was 51.87 seconds meanwhile of the treatment group was 29.67 seconds. The unpaired t-test between the two groups showed a p value of 0.000. Conclusion: Daun sendok (Plantago major L.) extract could reduce the bleeding time in male Wistar rats. Keywords: bleeding time, daun sendok, Wistar rat Abstrak: Tanaman obat seringkali digunakan untuk mengobati berbagai macam jenis penyakit. Di wilayah Minahasa terdapat banyak jenis tanaman yang digunakan sebagai obat tradisional, salah satunya ialah daun sendok (Plantago major L.) yang seringkali digunakan untuk mengobati perdarahan. Penelitian ini berrtujuan untuk mengetahui efektivitas ekstrak daun sendok terhadap waktu perdarahan tikus Wistar jantan. Jenis penelitian ialah true experimental dengan post test only control group design yang dilakukan di Laboratorium Farmakologi Fakultas Kedokteran Unsrat dengan total sampel berjumlah 14 ekor tikus Wistar yang dibagi menjadi 2 kelompok yaitu: kelompok kontrol dan kelompok perlakuan menggunakan ekstrak daun sendok. Pada kelompok uji diaplikasikan ekstrak daun sendok setelah dilakukan perlukaan di bagian ekor tikus sedalam 2 mm. Hasil penelitian memperlihatkan rerata waktu perdarahan pada kelompok kontrol ialah 51,87 detik sedangkan pada kelompok perlakuan 29,67 detik. hasil uji t tidak berpasangan antara kedua kelompok mendapatkan nilai p=0,000. Simpulan: Ekstrak daun sendok (Plantago major L.) efektif dalam memperpendek waktu perdarahan pada tikus Wistar.Kata kunci: waktu perdarahan, daun sendok, tikus Wistar
Perbedaan Penyembuhan Luka Pasca Ekstraksi Gigi Antara Pasien Perokok Dengan Bukan Perokok Di RSGM Unsrat Kewo, Lidia A.; Pangemanan, Damajanty H.C.; Supit, Aurelia
e-GiGi Vol 7, No 2 (2019): e-GiGi
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/eg.7.2.2019.25141

Abstract

Abstract: To date, there are lots of documentations about the adverse effects of smoking on the oral cavity. Albeit, smoking is still considered as a casual thing in our community. Chemicals contained in the cigarette smoke can irritate the gums and soft tissues of the mouth, thus inhibiting wound healing after tooth extraction. This study was aimed to determine the difference in post-extraction dental wound healing between smokers and non-smokers. This was a comparative analytical study with a cross sectional design. Samples were obtained by using total sampling method. Subjects consisted of 16 smokers and 16 non-smokers that fulfilled the study eligibility criteria. Their oral cavities were examined to check the signs of inflammation (calor, dolor, rubor, tumor, and functio laesa). The results showed that there was a difference in post-extraction wound healing in inflammatory phase between smokers and non-smokers. As many as 9.4% of smoker patients and 34.4% of non-smoker patients recovered at 7 days post extraction. The Mann Whitney U test showed a p-value of 0.005. In conclusion, there was a significant difference in post-extraction wound healing between smokers and non-smokers.Keywords: smokers, non-smokers tooth extraction, wound healing Abstrak: Kebiasaan merokok bukan merupakan hal asing di masyarakat walaupun banyak dokumentasi mengenai akibat buruk dari merokok terhadap rongga mulut. Bahan kimia yang terdapat dalam asap rokok dapat mengiritasi gusi dan jaringan lunak mulut sehingga menghambat penyembuhan luka pasca ekstraksi gigi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan penyembuhan luka pasca ekstraksi gigi antara pasien perokok dengan bukan perokok. Jenis penelitian ialah analitik komparatif dengan desain potong lintang. Pengambilan sampel menggunakan total sampling yang memenuhi kriteria penelitian. Terdapat sebanyak 16 orang perokok dan 16 orang bukan perokok sebagai subyek penelitian. Pemeriksaan rongga mulut dilakukan untuk melihat tanda-tanda inflamasi (kalor, dolor, rubor, tumor, dan fungsio laesa). Hasil penelitian menunjukkan terdapat perbedaan penyembuhan luka 7 hari pasca ekstraksi gigi pada fase inflamasi antara pasien perokok dengan yang bukan perokok; sebanyak 9,4% pasien perokok dan 34,4% pasien bukan perokok yang sudah sembuh. Hasil uji Mann Whitney U mendapatkan nilai p=0,005. Simpulan penelitian ini ialah terdapat perbedaan bermakna dalam penyembuhan luka pasca ekstraksi gigi antara pasien perokok dengan yang bukan perokokKata kunci: perokok, bukan perokok, ekstraksi gigi, penyembuhan luka
Pencegahan dan Pengendalian Infeksi Silang pada Tindakan Ekstraksi Gigi di Poli Gigi Puskesmas Kakaskasen Tomohon Lumunon, Novita P.; Wowor, Vonny N. S.; Pangemanan, Damajanty H. C.
e-GiGi Vol 7, No 1 (2019): e-GiGi
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/eg.7.1.2019.23311

Abstract

Abstract: Prevention and control of infection are needed in dentistry treatment. Tooth extraction is an invasive treatment, therefore, it plays an important role in the transmission of infection. This study was aimed to determine the prevention and control of cross infection in dental extractions at the Dental Clinic of Kakaskasen Tomohon Health Center. This was a descriptive observational study with a cross sectional design. There were 40 patients as subjects, obtained by using purposive sampling method. Data were obtained by using the checklist sheet. The results showed that the prevention of cross infection before tooth extraction achieved 56,87%; during tooth extractions 78%; and after tooth extraction 66,7%. In general, the prevention and control of cross-infection in dental extractions at the health center achieved 67.19%. Conclusion: The prevention and control of cross infection in dental extractions at the Dental Clinic of Kakaskasen Tomohon Health Center was still below maximum level.Keywords: prevention and control of cross-infection, tooth extraction action Abstrak: Pencegahan dan pengendalian infeksi dibutuhkan dalam setiap tindakan perawatan di bidang kedokteran gigi. Tindakan ekstraksi gigi merupakan salah satu jenis tindakan invasif sehingga berisiko tinggi dalam penularan infeksi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pencegahan dan pengendalian infeksi silang pada tindakan ekstraksi gigi di Poliklinik Gigi Puskesmas Kakaskasen Tomohon. Jenis penelitian ialah deskriptif observasional dengan menggunakan desain potong lintang. Pengambilan sampel menggunakan metode purposive sampling. Terdapat 40 pasien sebagai subyek penelitian. Data diperoleh dengan menggunakan lembar checklist. Hasil penelitian mendapatkan bahwa tindakan pencegahan dan pengendalian infeksi silang sebelum ekstraksi gigi dilakukan sebesar 56,87%; selama ekstraksi gigi sebesar 78%; dan setelah ekstraksi gigi sebesar 66,7%. Tindakan pencegahan dan pengendalian infeksi silang secara umum sebesar 67,19%. Simpulan: Pencegahan dan pengendalian infeksi silang pada tindakan ekstraksi gigi baik sebelum, selama, dan sesudah tindakan di Poliklinik Gigi Puskesmas Kakaskasen Tomohon belum maksimal.Kata kunci: Pencegahan dan pengendalian infeksi silang, tindakan ekstraksi gigi
Uji daya hambat ekstrak daun bayam petik (Amaranthus hybridus L.) terhadap pertumbuhan bakteri Staphylococcus aureus Pormes, Oktovianus; Pangemanan, Damajanty H.C.; Leman, Michael A.
e-GiGi Vol 4, No 2 (2016): e-GiGi
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/eg.4.2.2016.14452

Abstract

Abstract: Synthetic antibiotics have certain side effects, therefore, it is necessary to find alternative natural antibacterial materials which is easily available and to be cultivated, inter alia Amaranthus hybridus L. Its leaves contain active compounds, so they might have antibacterial potential. This study was aimed to determine the inhibitory effect of Amaranthus hybridus leaf extract on the growth of Staphylococcus aureus. This was a true experimental study using post test only control group design. This study was conducted at the Microbiology Laboratory of Faculty of Medicine and the Natural Phytochemical Laboratory of Faculty of Mathematics at Sam Ratulangi University. The modified Kirby-Bauer method was used with three wells, containing Amaranthus hybridus leaf extract, the positive control, and the negative control; and with 5 repetitions. The results showed that the average diameters of the inhibition zone of Amaranthus hybridus leaf extract and of the negative control were 0 mm meanwhile of erythromycin as the positive control was 38.8 mm. Conclusion: Amaranthus hybridus leaf extract had no inhibitory effect on Staphylococcus aureus. Keywords: inhibitory zone, Amaranthus hybridus L, Staphylococcus aureus Abstrak: Bahan antibiotik sintetik memiliki efek samping, sehingga perlu dicari bahan alternatif yaitu bahan alami yang mudah didapat dan dibudidayakan, salah satunya ialah bayam petik (Amaranthus hybridus L.). Daun bayam petik memiliki potensi antibakteri karena memiliki kandungan senyawa aktif. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui daya hambat ekstrak daun bayam petik terhadap pertumbuhan bakteri Staphylococcus aureus. Jenis penelitian ialah eksperimental murni dengan post test only control group design. Penelitian dilakukan di Laboratorium Mikrobiologi Fakultas Kedokteran dan Labaratorium Fitokimia Fakultas MIPA Unsrat. Metode pengujian yang digunakan ialah modifikasi Kirby-Bauer dengan menggunakan tiga buah sumuran yang diberi ekstrak daun bayam petik, kontrol positif, dan kontrol negatif, sebanyak 5 kali pengulangan. Hasil penelitian menunjukan diameter rerata dari zona hambat yang terbentuk pada sumur dengan ekstrak daun bayam petik dan pada sumur dengan kontrol negatif ialah 0 mm, sedangkan pada sumur yang diberi kontrol positif amoksisilin terjadi resistensi sehingga diganti dengan eritromisin dan didapatkan rerata zona hambat ialah 38,8 mm. Simpulan: Ekstrak daun bayam petik (Amaranthus hybridus L.) tidak memiliki daya hambat terhadap pertumbuhan bakteri Staphylococcus aureus.Kata kunci: daya hambat, Amaranthus hybridus L, Staphylococcus aureus
Perbedaan Intensitas Nyeri Saat Tindakan Skeling Ultrasonik Berdasarkan Kriteria OHI-S di RSGM Universitas Sam Ratulangi Karamoy, Deborah; Pangemanan, Damajanty H. C.; Mintjelungan, Christy N.; Khoman, Johanna
e-GiGi Vol 7, No 2 (2019): e-GiGi
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/eg.7.2.2019.23881

Abstract

Abstract: Pain is defined as an unpleasant sensory and emotional experience related to actual or the potential to cause tissue damage. Ultrasonic scaling is easier and more preferred to remove calculus on the tooth surface compared to manual scaling. The Oral Hygiene Index Simplified (OHI-S) is an index for assessing dental and oral hygiene status. This study was aimed to obtain the differences in pain intensity during ultrasonic scaling treatment among patients with varied OHI-S at RSGM Unsrat. This study is an analytical study using a cross sectional analysis. There were 36 patients involved in this study, obtained by using total sampling method. The results showed that the means of pain intensity during ultrasonic scaling in patients with good OHI-S was 6.50%; in patients with moderate OHI-S was 18.50%; and in patients with poor OHI-S was 28.79%. The Kruskal Wallis test showed a p-value of 0,000 for the differences in pain intensity during ultrasonic scaling. It is concluded that there were significant differences in the pain intensity during ultrasonic scaling based on the OHI-S criteria.Keywords: pain, ultrasonic scaling, Oral Hygiene Index Simplified (OHI-S).Abstrak: Nyeri didefinisikan sebagai pengalaman sensorik dan emosional yang tidak menyenangkan berkaitan dengan kerusakan jaringan yang aktual atau berpotensi untuk mengakibatkan kerusakan jaringan. Skeling ultrasonik merupakan skeling yang lebih mudah dan lebih banyak dilakukan untuk menghilangkan kalkulus pada permukaan gigi dibanding dengan skeling manual. Oral Hygiene Index Simplified (OHI-S) merupakan indeks untuk menilai status kebersihan gigi dan mulut. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan intensitas nyeri saat tindakan skeling ultrasonik berdasarkan kriteria OHI-S di RSGM Unsrat. Jenis penelitian ialah analitik dengan desain potong lintang. Sampel diperoleh secara total sampling yang berjumlah 36 orang. Hasil pemeriksaan menunjukkan nilai rerata intensitas nyeri saat skeling ultrasonik dengan OHI-S baik sebesar 6,50%; dengan OHI-S sedang sebesar 18,50%; dan dengan OHI-S buruk sebesar 28,79%. Hasil uji Kruskal Wallis terhadap perbedaan nilai rerata intensitas myeri mendapatkan nilai p=0,000. Simpulan penelitian ini ialah terdapat perbedaan bermakna dalam intensitas nyeri saat tindakan skeling ultrasonik berdasarkan kriteria OHI-S.Kata kunci: nyeri, skeling ultrasonik, Oral Hygiene Index Simplified (OHI-S)
GAMBARAN KEBUTUHAN PERAWATAN PERIODONTAL PADA PEROKOK DI DESA MATUNGKAS KECAMATAN DIMEMBE Suhanda, Debby J.; Pangemanan, Damajanty H. C.; ., Juliatri
e-GiGi Vol 3, No 1 (2015): e-GiGi
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/eg.3.1.2015.6454

Abstract

Abstract: Periodontal disease is the most common oral disease in Indonesia, especially in rural areas. One of the habits that can aggravate the status of oral hygiene which result periodontal disease is smoking. In addition, the prevalence of smokers in North Sulawesi is quite high when compared to other provinces. This research was conducted in Matungkas Village because high levels of smoking habits. Theres no limit of gender and age for people to smoke, men or women, and teens to the elderly. The purpose of this study was to describe the periodontal treatment needs of the smokers in Matungkas Village District of Dimembe. This type of research is a descriptive research with cross sectional study. The number of samples were taken using the Slovin formula and proportional simple random sampling method. The number of samples are 89 people from 11 parts of the village. Community Periodontal Index Treatment Needs (CPITN) assessment scores was used in this study. The results of this study indicate that the most treatment needs of smokers in the Matungkas Village District of Dimembe seen from the number of cigarettes and frequency of smoking habit is type II services with treatment needs of improvement OHIS and scaling. According to the result, it is suggested that the people of Matungkas village should reduce their smoking habit as a causing factor of periodontal disease and do the routine check up to the dentist every 6 months for the periodontal treatment needed..Keywords: periodontal treatment needs, smokersAbstrak: Penyakit periodontal merupakan penyakit gigi dan mulut yang paling banyak diderita masyarakat Indonesia, khususnya di daerah pedesaan. Salah satu kebiasaan yang dapat memperburuk status kebersihan mulut dan mengakibatkan terjadinya penyakit periodontal yaitu merokok. Selain itu, prevalensi perokok di Sulawesi Utara cukup tinggi jika dibandingkan dengan provinsi lain. Penelitian ini dilakukan di Desa Matungkas karena tingkat kebiasaan merokok yang tinggi. Jenis kelamin dan usia tidak membatasi masyarakat untuk merokok, laki-laki maupun perempuan, serta usia remaja sampai lanjut usia. Tujuan penelitian ini ialah untuk mengetahui gambaran kebutuhan perawatan periodontal pada perokok di Desa Matungkas Kecamatan Dimembe. Jenis penelitian ini merupakan penelitian deskriptif dengan pendekatan cross sectional study. Besar sampel diambil menggunakan rumus Slovin dan metode proportional simple random sampling. Jumlah sampel yang diambil sebanyak 89 orang dari 11 dusun. Penelitian ini menggunakan skor penilaian Community Periodontal Index Treatment Needs (CPITN). Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa gambaran kebutuhan perawatan pada perokok di Desa Matungkas Kecamatan Dimembe dilihat dari jumlah rokok dan lama merokok yang paling banyak ditemukan ialah tipe pelayanan II dengan kebutuhan perawatan perbaikan OHIS disertai skeling. Berdasarkan hasil tersebut, masyarakat perlu mengurangi kebiasaan merokok yang merupakan salah satu faktor penyebab penyakit periodontal dan melakukan pemeriksaan rutin ke dokter gigi setiap 6 bulan sekali untuk mendapatkan perawatan periodontal yang dibutuhkan..Kata kunci: kebutuhan perawatan periodontal, perokok
Perbandingan indeks plak gigi setelah mengunyah buah stroberi dan buah apel pada siswa SMK Negeri 6 Manado Koagouw, Marco S.; Mintjelungan, Christy N.; Pangemanan, Damajanty H.C.
e-GiGi Vol 4, No 2 (2016): e-GiGi
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/eg.4.2.2016.14160

Abstract

Abstract: Oral health plays an important role in human life. One effort to maintain oral health is plaque control. Plaque is a layer that is formed from food residues on the teeth that reacts with saliva, bacteria, enzymes, and acids. Strawberry and apple are juicy and fibrous fruit that are able to clean the dental plaque. This study was aimed to compare the plaque indexes after chewing strawberry and then apple. This was a quasi experimental study with a pre-post design group. This study was performed on students of 10th pharmaceutical grade SMK Negeri 6 Manado. Samples were obtained by using proportionate stratified simple random sampling of 3 classes of 10th grade. There were 55 students as respondents. The results showed that based on dental plaque index, chewing strawberries had a declined average of 0.74 meanwhile chewing apples had a declined average of 0.78. The unpaired T-test showed a p value of 0.58 (p> 0.05). Conclusion: Strawberries and royal gala apples could reduce dental plaque index, however, there was no significant difference between the two of them. Keywords: munching strawberry, munching apple, plaque indeks Abstrak: Kesehatan gigi dan mulut merupakan hal penting dalam hidup manusia. Salah satu upaya menjaga kesehatan gigi dan mulut ialah dengan kontrol plak. Plak merupakan lapisan yang terbentuk dari sisa makanan, menempel pada gigi, dan bereaksi dengan ludah, bakteri, enzim, dan asam. Buah stroberi dan buah apel yaitu buah berair dan berserat yang mampu membersihkan plak gigi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbandingan indeks plak setelah mengunyah buah stroberi dan apel. Jenis penelitian quasi experimental dengan rancangan pre-post design group terhadap siswa kelas X Farmasi SMK N 6 Manado. Untuk pengambilan sampel digunakan proportionate stratified simple random sampling pada 3 kelas X Farmasi dengan jumlah responden 55 siswa. Hasil penelitian menunjukkan bahwa mengunyah buah stroberi mempunyai rerata penurunan indeks plak gigi 0,74 dan mengunyah buah apel mempunyai rerata penurunan indeks plak gigi 0,78. Uji T tidak berpasangan menunjukkan nilai p = 0,58 (p > 0,05). Simpulan: Buah stroberi dan buah apel royal gala dapat menurunkan nilai indeks plak gigi tetapi tidak terdapat perbedaan bermakna antara keduanya.Kata kunci: mengunyah, buah stroberi, buah apel, plak gigi
Co-Authors Aji M. Sanhia Amelia Ramadhani, Amelia Ampow, Falen V. Anastasia P. G. Goni Angelia Langkir Angelita A. Durado Angmalisang , Elvin C. Anna M. Maruanaya, Anna M. Apituley, Tracy L. D Arif P. Yanto Aruperes, Geraldo Y. Astrid M. Lesar, Astrid M. Aurelia Supit Aviva, Novia N. Bangun, Liasma K. Beatrix I. Pontoh Berhimpon, Siemona Lydia_Eunike Castendo, Cynthia C. Catra H. E. Lengkey, Catra H. E. Christal G. Oroh, Christal G. Christian Rompis, Christian Christoffel Elim Christy Mintjelungan Christy N. Mintjelungan Cicilia A. Fernatubun Danes, Vennetia Ryckerens Debby J. Suhanda Dewi P. Sari, Dewi P. Dinar A. Wicaksono Dondokambey, Serena D. V. Dwi Cahya Fitriyana Fara M. Lossu, Fara M. Felicia P. C. C. Pantow, Felicia P. C. C. Fernanda, Vena Franly Onibala Fransiska Lintong Frenly Muntu Untu Gabrielly F. J. Rorong, Gabrielly F. J. Galant Rompas Gary S. J. Nayoan, Gary S. J. Geri W. Setiawan, Geri W. Gita J. Tulangow, Gita J. Hedison Polii Hendro Bidjuni Herlina I. S. Wungouw Hutagalung, Bernart S.P. Iksan, Nurwahid P. Indriani Tubagus Ivander A. Supit, Ivander A. Ivonny M. Sapulete Jeffry Sony Junus Lengkong Jeremy Frans, Joel Johanna A. Khoman Joice M. Laoh Joice N. A. Engka Joice N.A. Engka Juliatri . Kainde, Abedneju R. Karamoy, Deborah Karjoyo, Julianti Dewi Katarina D. Manibuy, Katarina D. Keloay, Princess Kewo, Lidia A. Khoman, Johanna Koagouw, Marco S. Korah, Sanny C. Korompot, Febri Krista V. Siagian Krista Veronica Siagian Kustina Zuliari, Kustina Li Ping Pontoh Lontaan, Jehuda Lumunon, Novita P. Mangindaan, Rocky J. Mariane Wowor Marimbun, Betrix E. Marunduh, Sylvia Ritta Maureen M. Mawuntu, Maureen M. Mendur, Sheren Ch. M. Michael A. Leman Mirani A. Uga Monica M. Sengkey, Monica M. Moningka, Maya Esther Wullur Muchyar, Dwi S.R. Myrtle Irene Sarjono Nancy Engka Natalia Purnamasari Natalia, Adriani Ngongoloy, Johanes J. F. Ni Made Windrawati, Ni Made Ni Wayan Mariati Nonutu, Stevia E. P. S. Anindita Paputungan, Fazriah F. Parengkuan, Henaldy Paulina Gunawan Paulina N. Gunawan Pingkan E.O. Lengkong Pormes, Oktovianus Pritartha S. Anindita Puk, Jimmy Rumam Rahayu, Mayangsari P. Rando F. Mamitoho, Rando F. Randy V. S. Kindangen Rantung, Galatia Marline Victoria Rasni, Novia D. P. Rawung, Meilita M. Rebecca A. Ngantung, Rebecca A. Rinto Mangiwa Rompis, Karen Ronald Sondakh Rumampuk, Jimmy Franky Sanger, Seily E. Sapulete, Ivonny M Saputra, Yoddy G. Sarah Warouw Sekeon, Saskia E. Shianata, Chrisshania M. Siada, Gracela Marchtica Siantan Supit Siemona Berhimpon, Siemona Silalahi, Agnes M. Simak, Valen Siwi, Filliany A. P. Soba, Siane Stefana H. M. Kaligis Suci M. J. Amir Sukarno, Karina Janneta Sumual, Inriyani A. Sundah, Michael J. Supit, Aurelia S.R. Syahril Panigoro, Syahril Sylvia Marunduh Sylvia R. Marunduh Tawas, Stevany A.D. Tendean, Brigitta A. Tilaar, Keren D. Tinneke A. Tololiu Tinneke Tololiu Tombokan, Kevin C. Triska Yolanda Worang Tulungnen, Regina S. Tulungnen S Vellisia Lindo Vita A. Lethulur Vonny N. S. Wowor Vonny N.S. Wowor, Vonny N.S. Warong, Kristo Waworuntu, Elshadai Teovilia Wibowo, Devina V. Wulan G. Parengkuan, Wulan G. Wulandari, Fitri K. Wuon, Kleysia D.