Claim Missing Document
Check
Articles

Found 58 Documents
Search
Journal : e-GIGI

STATUS KEBERSIHAN GIGI DAN MULUT PADA ANAK AUTIS DI KOTA MANADO Sengkey, Monica M.; Pangemanan, Damajanty H. C.; Mintjelungan, Christy N.
e-GiGi Vol 3, No 2 (2015): e-GiGi
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/eg.3.2.2015.8760

Abstract

Abstract: The most common tooth and mouth health problems in autisic children are dental caries, periodontal diseases, oral cavity disorders, tooth eruption disorder, and trauma. This study aimed to obtain the tooth and mouth hygienic status of autistic children in Manado. This was a descriptive observational study with a cross sectional design. Population was all autistic students registered in AGCA Manado dan Sekolah Khusus Anak Autis Permata Hati. There were 94 students aged 6-21 years. Samples were 51 students obtained by using total sampling and fulfilled the inclusion criteria. The results showed that the tooth and mouth hygienic status of autistic children was mostly categorized as moderate and poor, each of 39.21%. Based on gender, poor category of OHI-S status was the most frequent in males (42.5%) meanwhile in females good and moderate categories, each of 36.36%. Based on age, the moderate category of OHI-S status was in age group 6-10 years (42.31%), meanwhile poor category was found in age group 11-15 years (47.62%) and 16-21 years (75%). The average OHI-S index of autistic children in Manado was 2,77, categorized as moderate. Conclusion: In general, OHI-S status of autistic children in Manado was in moderate category, with an average OHI-S index of 2,77.Keywords: OHI-S, autistic childrenAbstrak: Masalah-masalah kesehatan gigi dan mulut yang paling sering dijumpai pada anak autis yaitu karies gigi, penyakit periodontal, kerusakan lingkungan rongga mulut, kelainan erupsi gigi, dan trauma. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui status kebersihan gigi dan mulut anak autis di kota Manado. Jenis penelitian yaitu deskriptif observasional dengan pendekatan potong lintang.. Populasi penelitian yaitu seluruh anak autis yang terdaftar sebagai siswa sekolah AGCA Manado dan Sekolah Khusus Anak Autis Permata Hati berjumlah 94 anak berusia 6-21 tahun. Sampel sejumlah 51 anak dilakukan dengan teknik total sampling dan memenuhi kriteria inklusi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa status kebersihan gigi dan mulut pada anak autis di kota Manado tertinggi yaitu berada pada kategori sedang dan buruk masing-masing 39,21%. Berdasarkan jenis kelamin, status OHI-S terbanyak pada laki-laki yaitu kategori buruk 42,5%, sedangkan pada perempuan yaitu kategori baik dan sedang masing-masing 36,36%. Berdasarkan kelompok umur, status OHI-S terbanyak pada kelompok umur 6-10 tahun yaitu sedang (42,31%), pada kelompok umur 11-15 (47,62%) dan 16-21 tahun yaitu buruk (75%). Rata-rata indeks OHI-S pada anak autis di kota Manado yaitu 2,77 dengan kategori sedang. Simpulan: Umumnya status OHI-S anak autis di Kota Manado berada pada kategori sedang dengan indeks OHI-S rata-rata yaitu 2,77.Kata kunci: OHI-S, anak autis
EFEKTIVITAS LENDIR BEKICOT (ACHATINA FULICA) TERHADAP JUMLAH SEL FIBROBLAS PADA LUKA PASCA PENCABUTAN GIGI TIKUS WISTAR Oroh, Christal G.; Pangemanan, Damajanty H. C.; Mintjelungan, Christy N.
e-GiGi Vol 3, No 2 (2015): e-GiGi
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/eg.3.2.2015.10325

Abstract

Abstract: Tooth extraction is a common procedure in dentistry and can produce an injury. The main cells involved in wound healing are the fibroblasts. Snails are animals that were encountered in Indonesia. Snail slime contains beta agglutinins (antibodies) in the plasma (serum), protein achasin, glikokonjugat and acharan sulphate plays a role in wound healing process by helping the blood clotting process and proliferation of fibroblasts. The purpose of this study was to examine the effectiveness of snail slime on the number of fibroblasts in the wound after tooth extraction Wistar rats. This study is a laboratory experimental design with posttest only control group design using 10 rats Wistar male were divided into 2 groups: the treatment group were extracted incisor left underneath and given the snail slime, and the control group were not given the snail slime after extraction of teeth bottom left incisor. Number of fibroblast cells was observed at day 5 after tooth extraction. Snails were taken from plantations in the area Kalasey. This research was conducted in the Laboratory of Pathology of the Faculty of Medicine, University of Sam Ratulangi. The results showed the average number of fibroblasts in the control group less, with a value of 34.4 compared with the group treated with the value of 70.2. Data from each group were analyzed using normality test, homogeneity and continued Independent t-test. Conclusion: Snail slime was effective to increase the number of fibroblasts after tooth extraction of Wistar rats.Keywords: snail slime (achatina fulica), fibroblasts, tooth extraction, male wistar rats.Abstrak: Pencabutan gigi merupakan prosedur umum dalam kedokteran gigi dan dapat menghasilkan suatu perlukaan. Sel utama yang terlibat dalam proses penyembuhan luka ialah fibroblas. Bekicot merupakan hewan yang banyak ditemui di Indonesia. Lendir Bekicot mengandung zat beta aglutinin (antibodi) di dalam plasma (serum), protein achasin, glikokonjugat dan acharan sulfat yang berperan dalam proses penyembuhan luka dengan membantu proses pembekuan darah dan proliferasi sel fibroblas. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui efektivitas lendir bekicot terhadap jumlah sel fibroblas pada luka pasca pencabutan gigi tikus wistar. Penelitian ini merupakan penelitian eksperimental laboratoris dengan desain post test only control group design dengan menggunakan 10 ekor tikus wistar jantan yang dibagi menjadi 2 kelompok yaitu kelompok perlakuan yang diekstrasi gigi insisivus kiri bawahnya dan diberikan lendir bekicot, dan kelompok kontrol yang tidak diberikan lendir bekicot setelah ekstrasi gigi insisivus kiri bawahnya. Jumlah sel fibroblas diamati pada hari ke-5 setelah pencabutan gigi. Bekicot diambil dari perkebunan di daerah Kalasey. Penelitian ini dilakukan di Laboratorium Patologi Anatomi Fakultas Kedokteran Universitas Sam Ratulangi Manado. Hasil penelitian menunjukkan jumlah rata-rata sel 515Oroh, Pangemanan, Mintjelungan: Aktivitas lendir bekicot...fibroblas pada kelompok kontrol lebih sedikit, dengan nilai 34,4 dibandingkan dengan kelompok perlakuan dengan nilai 70,2. Data dari masing-masing kelompok dianalisa menggunakan uji normalitas, uji homogenitas dan dilanjutkan Independent t-test. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa lendir bekicot memiliki efektifitas terhadap peningkatan jumlah sel fibroblas pasca pencabutan gigi tikus wistar.Kata kunci: lendir bekicot (achatina fulica), fibroblas, pencabutan gigi, tikus wistar jantan
Efektivitas Tindakan Skeling terhadap Perawatan Gingivitis di Rumah Sakit Gigi dan Mulut Universitas Sam Ratulangi Manado Korompot, Febri; Siagian, Krista V.; Pangemanan, Damajanty H. C.; Khoman, Johanna
e-GiGi Vol 7, No 2 (2019): e-GiGi
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/eg.7.2.2019.23928

Abstract

Abstract: The most common periodontal disease is gingivitis which is caused by biofilm accumulation on plaque around the gingival margin and inflammatory response to bacteria. Scaling is used to eliminate bacterial and calculus deposits that cause gingivitis. This study was aimed to determine the effectiveness of scaling in gingivitis treatment. This was a pre-experimental study with one group pre and post test design. Samples were obtained by using total sampling technique. There were 30 patients aged 17-45 years that had scaling performed on them at RSGM in 2019. Gingivitis was observed before and after scaling using the modified gingival index (MGI). The results showed that before scaling, there were mild gingivitis 23.30%, moderate gingivitis 70%, and severe gingivitis 6.70%. Two days after scaling, mild gingivitis and moderate gingivitis were observed 50% each. The paired sample t-test showed a p-value of 0.000. In conclusion, scaling is effective in gingivitis treatment based on the assessment using the modified gingival index.Keywords: gingivitis, scaling, modified gingival index Abstrak: Penyakit periodontal yang paling sering dijumpai yakni gingivitis (peradangan gingiva). Gingivitis disebabkan oleh akumulasi biofilm pada plak di sekitar margin gingiva dan respon peradangan terhadap bakteri. Tindakan untuk menghilangkan deposit bakteri dan kalkulus yang menyebabkan gingivitis salah satunya ialah tindakan skeling. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui efektivitas tindakan skeling terhadap perawatan gingivitis. Jenis penelitian ialah pra eksperimental dengan one grup pre and post test design. Pengambilan sampel menggunakan teknik total sampling terhadap pasien yang berusia 17-45 tahun yang dilakukan tindakan skeling di RSGM pada tahun 2019 berjumlah 30 orang. Penelitian ini dilakukan dengan melihat gingivitis sebelum skeling dan setelah skeling melalui pengukuran keparahan gingiva menggunakan modified gingival index (MGI). Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebelum skeling gingivitis ringan 23,30%, gingivitis sedang 70%, gingivitis berat 6,70%. Dua hari pasca skeling didapatkan gingivitis ringan dan gingivitis sedang sama besar yaitu masing-masing 50%. Hasil uji t berpasangan menunjukkan nilai p=0,000. Simpulan penelitian ialah tindakan skeling efektif terhadap perawatan gingivitis berdasarkan penilaian modified gingival index.Kata kunci: gingivitis, skeling, modified gingival index
HUBUNGAN TINGKAT PENGETAHUAN ORANG TUA DENGAN KEBERSIHAN GIGI DAN MULUT ANAK DI TK TUNAS BHAKTI MANADO Worang, Triska Yolanda; Pangemanan, Damajanti H. C.; Wicaksono, Dinar A.
e-GiGi Vol 2, No 2 (2014): e-GiGi
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/eg.2.2.2014.5777

Abstract

Abstract: Domain knowledge is very important for the formation of one's actions. Knowledge of parents is very important in the formation of the underlying behaviors that support or do not support the oral hygiene of children. Good oral hygiene will make healthy teeth and surrounding tissues. This study aims to analyze the relationship between the level of knowledge of parent swith achild's dental and oral hygiene in kinder garten Tunas Bhakti Manado. The research used the descriptive analytical study with cross sectional approach. The experiment was conducted in a kinder garten classroom Shoots Bhakti Manado. The sample in this study all children in kinder garten preschool Tunas Bhakti Manado as many as 70 children examined OHI-S and as many as 12 questions questionnaire for the elderly. Sampling technique with a total sampling method.The results of this study indicate that parental knowledge about dental and oral hygiene in either category by 45.7% with oral hygiene status of children included in the medium category at 65.7%. Based on the results obtained Pearson correlation test p value of 0.020 (p <0.05). It can be concluded that there is a relationship between the level of knowledge of parents with children's dental and oral hygiene in kindergarten Tunas Bhakti Manado. Keywords: knowledge, OHI-S, preschoolers.   Abstrak: Pengetahuan merupakan domain yang sangat penting untuk terbentuknya tindakan seseorang.Pengetahuan orang tua sangat penting dalam mendasari terbentuknya perilaku yang mendukung atau tidak mendukung kebersihan gigi dan mulut anak. Kebersihan mulut yang baik akan membuat gigi dan jaringan sekitarnya sehat. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan antara tingkat pengetahuan orang tua dengan kebersihan gigi dan mulut anak di TK Tunas Bhakti Manado.Jenis penelitian yang digunakan yaitu penelitian deskriptif analitik dengan pendekatan cross sectional study.Penelitian dilaksanakan di ruangan kelas TK Tunas Bhakti Manado. Sampel dalam penelitian ini seluruh anak prasekolah di TK Tunas Bhakti Manado sebanyak 70 anak diperiksa OHI-S dan kuesioner sebanyak 12 pertanyaan untuk orang tua. Teknik pengambilan sampel dengan metode total sampling. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa pengetahuan orang tua mengenai kebersihan gigi dan mulut dalam kategori baik sebesar 45,7% dengan status kebersihan gigi dan mulut anak termasuk dalam kategori sedang sebesar 65,7%. Berdasarkan hasil uji korelasi pearson didapatkan p value 0,020 (p<0,05). Dapat disimpulkan bahwa terdapat hubungan antara tingkat pengetahuan orang tua dengan kebersihan gigi dan mulut anak di TK Tunas Bhakti Manado. Kata kunci: pengetahuan, OHI-S, anak prasekolah.  
GAMBARAN LESI TRAUMATIK MUKOSA MULUT PADA LANSIA PENGGUNA GIGI TIRUAN SEBAGIAN LEPASAN DI PANTI WREDHA KABUPATEN MINAHASA Langkir, Angelia; Pangemanan, Damajanti H. C.; Mintjelungan, Christy N.
e-GiGi Vol 3, No 1 (2015): e-GiGi
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/eg.3.1.2015.6405

Abstract

Abstract: Removable partial dentures (RPDs) are artificial teeth that replaces one or more missing teeth in the upper jaw or lower jaw and can be removed by the patient. Elderly is an aging process that is experienced by everyone and can not be avoided by anyone. Traumatic lesions is a condition of discontinuity network extends from the dermis to the subcutaneous and always occurs in pathological conditions. His study aimed to describe traumatic oral mucosal lesions in elderly using removable partial dentures in nursing homes.This was a descriptive study with cross sectional approach. Social Institution used were Tresna Agape Tondano Elderly, Social Institution Ina I, Deborah Werdha Panti, Panti Yakobus Peduli Elderly, Elderly Nursing Hana, Tabitha Nursing Elderly and Elderly Nursing Pengasih. Samples were all elderly that used Most Removable Teeth. The results showed that the majority of elderly using removable teeth in Minahasa regency nursing homes have experienced traumatic lesions. Conclusion: Most of the elderly using removable partial dentures in Minahasa district nursing homes had experienced traumatic lesions caused by removable partial dentures.Keywords: removable partial dentures, elderly, traumatic lesions.Abstrak: Gigi tiruan sebagian lepasan (GTSL) adalah gigi tiruan yang menggantikan satu atau beberapa gigi yang hilang pada rahang atas atau rahang bawah dan dapat dilepas oleh pasien. Lesi traumatik merupakan kondisi diskontinuitas jaringan yang meluas dari dermis hingga ke subkutis dan selalu terjadi pada kondisi patologis. Tujuan Umum, untuk mengetahui gambaran lesi traumatik mukosa mulut pada lansia pengguna gigi tiruan sebagian lepasan di panti wredha.Tujuan Khusus, untuk mengetahui gambaran lesi traumatik mukosa mulut pada lansia pengguna gigi tiruan sebagian lepasan di Panti Wredha kabupaten Minahasa yang di tinjau dari lokasi lesi pada mukosa mulut. Jenis penelitian ini yaitu penelitian deskriptif dengan pendekatan cross sectional.Gambaran lesi ulseratif terhadap pengguna gigi tiruan sebagian lepasan pada lansia di panti werdha kabupaten minahasamenunjukkan sebagian besar pernah mengalami lesi ulseratif, dan yang terbanyak pada perempuan (93,3%). Lokasi yang paling sering terkena yaitu lidah (55,17%). Penyebab ulkus yang paling sering yaitu trauma bagian dasar/sayap GTSL (62,1%). Lesi ulseratif terjadi dengan frekuensi tidak teratur (68,9%). Responden paling banyak membiarkan ulkus tanpa pengobatan (48,3%), sedangkan 51,7% responden mengobati sendiri dimana 73,3% diantaranya menggunakan obat topikal. Simpulan: Sebagian besar lansia pengguna gigi tiruan sebagain lepasan di Panti Wredha kabupaten Minahasa telah mengalami lesi traumatik.Kata kunci: gigitiruan sebagian lepasan, lansia, lesi ulseratif
PERBEDAAN KEKUATAN TRANSVERSAL BASIS RESIN AKRILIK POLIMERISASI PANAS PADA PERENDAMAN MUNUMAN BERALKOHOL DAN AQUADES Pantow, Felicia P. C. C.; Siagian, Krista V.; Pangemanan, Damajanty H. C.
e-GiGi Vol 3, No 2 (2015): e-GiGi
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/eg.3.2.2015.9634

Abstract

Abstract: Material denture base that is often used is the acrylic resin thermal polymerization. Thermal polymerized acrylic base material is easily fractured when it is knocked down and easily absorbs liquids such as alcohol. Consumption of alcohol increases the plasticization effects of materials through the process of diffusion and causes crazing in acrylic resin, thereforre, the resin acrylic becomes easily fractured. This study aimed to measure the lifetimes of objects against fracture and to measure the strength of transversal load maximum acceptable thermal polymerization of acrylic resin upon receiving pressure. This was a laboratory experimental study with a post test only control group design. The acrylic resin plate was used as sample of thermal polymerization with a size of 65x10x2.5 mm for testing the strength of the transversal load. There were a total of 32 samples consisting of 16 samples for groups soaked in liquor and 16 samples for groups soaked in aquades for 8 days. Each sample was tested for the strength of the transversal load. Data were analyzed with the independent sample t-test to find out the difference between transversal strength of the group soaked in alcohol and the group soaked in aquades. The results showed that the average strength of transversal groups soaked in liquor was 117.35N/mm2 and the average strength of groups soaked in aquades was 131.11N/mm2. Conclusion: There was a significant difference in the strength of the acrylic resin polymerization transversal thermal soaked in liquor and of that soaked in aquades (P value 0.007).Keywords: alcoholic beverages, aquades, strength transversalAbstrak: Bahan dasar basis gigi tiruan yang sering digunakan ialah resin akrilik polimerisasi panas. Bahan basis akrilik polimerisasi panas bersifat mudah patah bila terjatuh dan mudah menyerap cairan seperti alkohol. Alkohol yang dikonsumsi pengguna gigi tiruan menyebabkan meningkatkanya efek plasticization dari bahan melalui proses difusi dan menyebabkan crazing pada resin akrilik sehingga resin akrilik mudah fraktur. Untuk mengukur daya tahan benda terhadap fraktur maka dilakukan pengujian kekuatan transversal untuk mengukur beban maksimal yang dapat diterima resin arkilik polimerisasi panas pada saat menerima tekanan. Penelitian ini ialah eksperiman laboratoris dengan post test only control group design. Sampel ialah pelat resin akrilik polimerisasi panas dengan ukuran 65x10x2,5 mm. Jumlah total sampel sebanyak 32 yang terdiri dari 16 sampel untuk kelompok yang direndam dalam minuman beralkohol dan16 sampel untuk kelompok yang direndam dalam aquades selama 8 hari. Setiap sampel dilakukan pengujian kekuatan transversal kemudian dianalisis dengan uji independent sample t-test untuk mengetahui adanya perbedaan kekuatan transversal antara kelompok yang direndam dalam minuman beralkohol dan kelompok yang direndam dalam aquades. Hasil penelitian menunjukkan bahwa rerata kekuatan transversal kelompok yang direndam dalam minuman beralkohol yaitu 117,35 N/mm2 dan rerata kekuatan transversal keompok yang direndam dalam aquades yaitu 131,11 N/mm2.Simpulan: Terdapat perbedaan bermakna antara kekuatan transversal resin akrilik polimerisasi panas yang direndam dalam minuman beralkohol dan yang direndam dalam aquades (P = 0,007).Kata kunci: minuman beralkohol, aquades, kekuatan transversal
Uji Daya Hambat Perasan Daging Buah Alpukat (Persea americana Mill.) terhadap Pertumbuhan Bakteri Staphylococcus aureus Muchyar, Dwi S.R.; Pangemanan, Damajanty H.C.; Supit, Aurelia S.R.
e-GiGi Vol 6, No 1 (2018): e-GiGi
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/eg.6.1.2018.19653

Abstract

Abstract: To date, Staphylococcus aureus resistance to some antibiotics is still increasing inter alia the methisillin-resistant Staphylococcus aureus (MRSA). Therefore, it is necessary to find other alternative materials that could overcome this bacteria. Avocado (Persea americana Mill.) is a medicinal plant that contains antibacterial compounds such as saponins, glutathiones, flavonoids, and tannins in its fruit flesh. This study was aimed to obtain the inhibitory effect of avocado flesh on the growth of S. aureus. This was a true experimental study with a post test only control group design. We used Kirby-Bauer modification with paper disks. The positive control was ciprofloxacin and the negative control was aquadest. The avocado flesh was refined by using a juicer and then was filtered. Staphylococcus aureus bacteria were obtained from pure bacteria stock at Microbiology Laboratory of Pharmacy Study Program at Faculty of Mathematics and Natural Sciences, Sam Ratulangi University. The result showed that the avocado juice had an inhibitory effect on the growth of S. aureus. The mean diameter of inhibitory zones formed was 15.55 mm which was classified as a strong inhibitory effect. Conclusion: The avocado flesh had a strong inhibitory effect on the growth of Staphylococcus aureus.Keywords: avocado flesh (Persea americana Mill.), S. aureus, inhibitory effect Abstrak: Resistensi bakteri Staphylococcus aureus terhadap beberapa jenis antibiotik sudah cukup tinggi. Sebagai contoh ialah methicillin-resistant Staphylococcus aureus (MRSA). Oleh karena itu perlu dicari bahan alternatif lain yang dapat mengatasi berkembang biaknya bakteri ini. Buah alpukat (Persea americana Mill.) merupakan salah satu tanaman obat yang dikenal berkhasiat sebagai antibakteri karena terdapat kandungan senyawa antibakteri pada daging buah seperti saponin, glutatin, flavonoid, dan tanin. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui daya hambat perasan daging buah alpukat (Persea americana Mill.) terhadap pertumbuhan bakteri S. aureus. Jenis penelitian ini ialah eksperimental murni dengan post test only control group design. Metode yang digunakan yaitu modifikasi Kirby-Bauer dengan kertas saring. Kontrol positif menggunakan antibakteri ciprofloxacin dan kontrol negatif menggunakan akuades. Daging buah alpukat dihaluskan dengan menggunakan juicer dan disaring. Bakteri S. aureus diambil dari stok bakteri murni Laboratorium Mikrobiologi Program Studi Farmasi Fakultas MIPA Universitas Sam Ratulangi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perasan daging buah alpukat memilki daya hambat terhadap pertumbuhan bakteri S. aureus. Diameter rerata zona hambat yang terbentuk yaitu 15,55 mm dan digolongkan sebagai zona hambat yang kuat. Simpulan: Perasan daging buah alpukat (Persea americana Mill.) memiliki daya hambat kuat terhadap pertumbuhan bakteri S. aureus.Kata kunci: daging buah alpukat (Persea americana Mill.), S. aureus, daya hambat
Kualitas Hidup Lansia Pengguna dan Bukan Pengguna Gigi Tiruan Korah, Sanny C.; Pangemanan, Damajanty H.C.; Wowor, Vonny N. S.
e-GiGi Vol 8, No 2 (2020): E-GiGi
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/eg.8.2.2020.29906

Abstract

Abstract: Loss of natural teeth, whether it is replaced with artificial teeth or not, can affect the quality of life (QoL), especially in relation to oral health. This study was aimed to determine the differences in the QoL of elderly between denture wearers and non denture wearers. This was a literature review study. There were five literatures in this study; three literatures used the GOHAI questionnaire as a research instrument meanwhile the others used the OHIP-14 questionnaire. The results showed that the measuring instrument most widely used was GOHAI. Based on age, the QoL of denture wearers and non denture wearers became worse as they became older. Based on sex, the QoL of the non denture wearers was better in males than in females, albeit, there was no difference between sex among the denture wearers. In conclusion, the QoL of denture wearers was better than of non denture wearers. Moreover, the QoL of denture wearers was relatively good, meanwhile the QoL of non denture wearers was poor.Keywords: quality of life, elders, denture, tooth loss Abstrak: Kehilangan gigi asli yang digantikan dengan gigi tiruan maupun tidak, dapat meme-ngaruhi kualitas hidup, khususnya kualitas hidup terkait kesehatan gigi dan mulut. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan kualitas hidup lansia pengguna dan bukan pengguna gigi tiruan. Jenis penelitian ialah studi pustaka. Total pustaka yang diteliti berjumlah lima buah. Terdapat tiga pustaka yang menggunakan kuesioner GOHAI sebagai instrumen penelitian, sedangkan dua lainnya menggunakan kuesioner OHIP-14. Hasil penelitian menunjukkan bahwa alat ukur yang paling banyak digunakan yaitu GOHAI. Berdasarkan usia, semakin bertambahnya usia, kualitas hidup lansia pengguna dan bukan pengguna gigi tiruan semakin buruk. Berdasarkan jenis kelamin, kualitas hidup lansia bukan pengguna gigi tiruan lebih baik pada laki-laki daripada perempuan, sedangkan pada lansia pengguna gigi tiruan, hasilnya seimbang. Simpulan penelitian ini ialah kualitas hidup lansia pengguna gigi tiruan lebih baik daripada bukan pengguna gigi tiruan. Kualitas hidup lansia pengguna gigi tiruan tergolong baik sedangkan kualitas hidup lansia bukan pengguna gigi tiruan tergolong buruk.Kata kunci: kualitas hidup, lansia, gigi tiruan, kehilangan gigi
Gambaran Kebiasaan Menyikat Gigi dan Status Kesehatan Gingiva pada Anak Sekolah Dasar Rasni, Novia D. P.; Khoman, Johanna A.; Pangemanan, Damajanty H. C.
e-GiGi Vol 8, No 2 (2020): E-GiGi
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/eg.8.2.2020.29905

Abstract

Abstract: Besides caries, tooth and mouth disease commonly found in children is gingival inflammation (gingivitis). The high prevalence of gingivitis in Indonesia is due to the fact that most people have not adopted good and effective habits in tooth brushing. Indicators determining the effectiveness of tooth brushing consist of tooth brushing time, frequency, duration, and method. This study was aimed to determine the overview of tooth brushing habit and gingival health status among elementary school students. This was a literature review study using the Google Scholar database. The keywords used were brushing habits, gingival health status, and elementary school children. Based on the inclusion and exclusion criteria, a critical appraisal was carried out that obtained 4 literatures consisting of 2 cross-sectional studies and 2 descriptive surveys. The results showed that most children had good habit of tooth brushing, however there were some children who had poor habit tooth brushing due to lack of understanding about the time, method, duration, and frequency of tooth brushing. The most common gingival disease was categorized as mild inflammation, followed by moderate inflammation; no severe inflammation criteria was reported. In conclusion, most elementary school students had good habit of tooth brushing and the most common gingival disease was in mild inflammation.Keywords: habit of brushing teeth, gingival health status, and elementary school children. Abstrak: Penyakit gigi dan mulut yang banyak ditemukan pada anak selain karies ialah peradangan gingiva (gingivitis). Tingginya prevalensi gingivitis di Indonesia disebabkan karena masyarakat belum menerapkan kebiasaan yang baik dan efektif dalam menyikat gigi. Indikator penentu efektivitas menyikat gigi terdiri dari waktu menyikat gigi, frekuensi, durasi, dan metode. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran kebiasaan menyikat gigi dan status kesehatan gingiva pada anak Sekolah Dasar. Jenis penelitian ialah studi pustaka. Pencarian data mengguna-kan database Google Scholar. Kata kunci yang digunakan yaitu kebiasaan menyikat gigi, status kesehatan gingiva, dan anak sekolah dasar. Setelah diseleksi berdasarkan kriteria inklusi dan eksklusi, dilakukan critical appraisal dan didapatkan 4 pustaka terdiri dari 2 studi potong lintang dan 2 survei deskriptif. Hasil penelitian mendapatkan sebagian besar anak melakukan kebiasaan menyikat gigi dengan baik namun masih terdapat anak dengan kebiasaan menyikat gigi yang buruk akibat kurangnya pengertian mengenai waktu menyikat gigi, frekuensi, durasi, dan metode. Penyakit gingiva yang paling banyak didapatkan yaitu pada kriteria inflamasi ringan, diikuti kriteria inflamasi sedang; kriteria inflamasi berat tidak dilaporkan. Simpulan penelitian ini ialah sebagian besar anak Sekolah Dasar telah melakukan kebiasaan menyikat gigi yang baik dan penyakit gingiva yang tersering ditemukan pada kriteria inflamasi ringan.Kata kunci: kebiasaan menyikat gigi, status kesehatan gingiva, dan anak sekolah dasar
Gambaran Karies Gigi Sulung pada Anak Stunting di Indonesia Aviva, Novia N.; Pangemanan, Damajanty H. C.; Anindita, Pritartha S.
e-GiGi Vol 8, No 2 (2020): E-GiGi
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/eg.8.2.2020.29907

Abstract

Abstract: Dental caries, as well as stunting in children, is still a worldwide problem including in Indonesia. Malnutrition can cause stunting and abnormal growth and development of teeth causing the child's teeth become more susceptible to caries. This study was aimed to obtain the description of primary dental caries among stunting children in Indonesia. This was a literature review study. Three databases used in this study, as follows: Pubmed, ClinicalKey, and Google Scholar. The keywords were stunting AND caries AND Indonesia. After being selected based on inclusion and exclusion criteria, a critical appraisal was carried out that obtained 5 literatures consisting of 4 cross-sectional studies and 1 cohort study. The results showed that stunting children had higher percentage of primary dental caries than normal children, with moderate to high caries severity reaching 80%. Children who suffered from high dental caries severity had a high chance of suffering from stunting in the future. In conclusion, stunting children in Indonesia suffered from caries of primary teeth categorized as high severity caries. There was a relationship between caries of primary teeth and stunting in children.Keywords: Primary dental caries, stunting, child. Abstrak: Seperti halnya karies gigi, stunting pada anak masih menjadi masalah dunia termasuk Indonesia. Kekurangan gizi pada masa-masa kritis dapat menyebabkan stunting pada anak serta tumbuh kembang gigi yang tidak normal sehingga gigi anak lebih rentan mengalami karies. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran karies gigi sulung pada anak stunting di Indonesia. Jenis penelitian ialah studi pustaka. Pencarian data menggunakan tiga database yaitu Pubmed, ClinicalKey, dan Google Scholar. Kata kunci yang digunakan yaitu stunting AND caries AND Indonesia. Setelah diseleksi berdasarkan kriteria inklusi dan ekslusi, dilakukan critical appraisal dan didapatkan 5 literatur terdiri dari 4 cross-sectional study dan 1 cohort study. Hasil penelitian menunjukkan anak stunting memiliki pengalaman karies gigi sulung lebih tinggi daripada anak normal dengan tingkat keparahan karies sedang sampai tinggi mencapai 80%. Anak yang menderita pengalaman karies gigi sulung parah, memiliki peluang tinggi menderita stunting di kemudian hari. Simpulan penelitian ini ialah anak stunting di Indonesia memiliki pengalaman karies pada gigi sulung dan terbanyak pada tingkat keparahan karies yang tinggi. Terdapat hubungan antara karies pada gigi sulung dan stunting pada anak.Kata kunci: karies gigi sulung, stunting, anak.
Co-Authors Aji M. Sanhia Amelia Ramadhani, Amelia Ampow, Falen V. Anastasia P. G. Goni Angelia Langkir Angelita A. Durado Angmalisang , Elvin C. Anna M. Maruanaya, Anna M. Apituley, Tracy L. D Arif P. Yanto Aruperes, Geraldo Y. Astrid M. Lesar, Astrid M. Aurelia Supit Aviva, Novia N. Bangun, Liasma K. Beatrix I. Pontoh Berhimpon, Siemona Lydia_Eunike Castendo, Cynthia C. Catra H. E. Lengkey, Catra H. E. Christal G. Oroh, Christal G. Christian Rompis, Christian Christoffel Elim Christy Mintjelungan Christy N. Mintjelungan Cicilia A. Fernatubun Danes, Vennetia Ryckerens Debby J. Suhanda Dewi P. Sari, Dewi P. Dinar A. Wicaksono Dondokambey, Serena D. V. Dwi Cahya Fitriyana Fara M. Lossu, Fara M. Felicia P. C. C. Pantow, Felicia P. C. C. Fernanda, Vena Franly Onibala Fransiska Lintong Frenly Muntu Untu Gabrielly F. J. Rorong, Gabrielly F. J. Galant Rompas Gary S. J. Nayoan, Gary S. J. Geri W. Setiawan, Geri W. Gita J. Tulangow, Gita J. Hedison Polii Hendro Bidjuni Herlina I. S. Wungouw Hutagalung, Bernart S.P. Iksan, Nurwahid P. Indriani Tubagus Ivander A. Supit, Ivander A. Ivonny M. Sapulete Jeffry Sony Junus Lengkong Jeremy Frans, Joel Johanna A. Khoman Joice M. Laoh Joice N. A. Engka Joice N.A. Engka Juliatri . Kainde, Abedneju R. Karamoy, Deborah Karjoyo, Julianti Dewi Katarina D. Manibuy, Katarina D. Keloay, Princess Kewo, Lidia A. Khoman, Johanna Koagouw, Marco S. Korah, Sanny C. Korompot, Febri Krista V. Siagian Krista Veronica Siagian Kustina Zuliari, Kustina Li Ping Pontoh Lontaan, Jehuda Lumunon, Novita P. Mangindaan, Rocky J. Mariane Wowor Marimbun, Betrix E. Marunduh, Sylvia Ritta Maureen M. Mawuntu, Maureen M. Mendur, Sheren Ch. M. Michael A. Leman Mirani A. Uga Monica M. Sengkey, Monica M. Moningka, Maya Esther Wullur Muchyar, Dwi S.R. Myrtle Irene Sarjono Nancy Engka Natalia Purnamasari Natalia, Adriani Ngongoloy, Johanes J. F. Ni Made Windrawati, Ni Made Ni Wayan Mariati Nonutu, Stevia E. P. S. Anindita Paputungan, Fazriah F. Parengkuan, Henaldy Paulina Gunawan Paulina N. Gunawan Pingkan E.O. Lengkong Pormes, Oktovianus Pritartha S. Anindita Puk, Jimmy Rumam Rahayu, Mayangsari P. Rando F. Mamitoho, Rando F. Randy V. S. Kindangen Rantung, Galatia Marline Victoria Rasni, Novia D. P. Rawung, Meilita M. Rebecca A. Ngantung, Rebecca A. Rinto Mangiwa Rompis, Karen Ronald Sondakh Rumampuk, Jimmy Franky Sanger, Seily E. Sapulete, Ivonny M Saputra, Yoddy G. Sarah Warouw Sekeon, Saskia E. Shianata, Chrisshania M. Siada, Gracela Marchtica Siantan Supit Siemona Berhimpon, Siemona Silalahi, Agnes M. Simak, Valen Siwi, Filliany A. P. Soba, Siane Stefana H. M. Kaligis Suci M. J. Amir Sukarno, Karina Janneta Sumual, Inriyani A. Sundah, Michael J. Supit, Aurelia S.R. Syahril Panigoro, Syahril Sylvia Marunduh Sylvia R. Marunduh Tawas, Stevany A.D. Tendean, Brigitta A. Tilaar, Keren D. Tinneke A. Tololiu Tinneke Tololiu Tombokan, Kevin C. Triska Yolanda Worang Tulungnen, Regina S. Tulungnen S Vellisia Lindo Vita A. Lethulur Vonny N. S. Wowor Vonny N.S. Wowor, Vonny N.S. Warong, Kristo Waworuntu, Elshadai Teovilia Wibowo, Devina V. Wulan G. Parengkuan, Wulan G. Wulandari, Fitri K. Wuon, Kleysia D.