Claim Missing Document
Check
Articles

Found 58 Documents
Search
Journal : e-GIGI

Pengaruh Kebiasaan Merokok terhadap Pembentukan Stain pada Gigi Dondokambey, Serena D. V.; Pangemanan, Damajanty H. C.; Khoman, Johanna A.
e-GiGi Vol 9, No 2 (2021): e-GiGi
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/eg.v9i2.34878

Abstract

Abstract: Smoking is a bad habit that has become a necessity of life for some people. Moreover, smoking is found almost everywhere regardless of age, gender, and occupation. One of the consequences of smoking is the formation of stain on the teeth. This study was aimed to obtain the effect of smoking on the formation of stain on teeth. This was a literature review using various databases, such as Google Scholar, PubMed, and Wiley. The most frequent smoking frequency found was light smokers with the number of cigarettes smoked 1-4 cigarettes per day. All literatures showed that more stain formation occurred than no stain formation. Based on the frequency of smoking, the formation of stain on the teeth was most common in smokers with light category. In conclusion, smoking habits can affect the formation of stain on teeth. Based on the frequency of smoking the formation of stain on teeth is most commonly found in light-category smokers.Keywords: smoke; stain; discoloration  Abstrak: Merokok merupakan salah satu kebiasaan buruk yang sudah menjadi kebutuhan hidup oleh sebagian orang. Selain itu, merokok banyak ditemukan tanpa memandang usia, jenis kelamin, dan pekerjaan. Salah satu akibat dari kebiasaan merokok yaitu terjadinya pembentukan stain pada gigi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh kebiasaan merokok terhadap pembentukan stain pada gigi. Jenis penelitian ialah suatu literature review menggunakan database Google Scholar, PubMed, dan Wiley dengan topik terkait. Terdapat tujuh literatur yang memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi serta telah melewati tahap penilaian jurnal menggunakan instrumen critical appraisal. Hasil penelitian mendapatkan frekuensi merokok yang paling banyak ditemukan ialah perokok kategori ringan dengan jumlah rokok yang dihisap 1-4 batang per hari. Pembentukan stain gigi secara keseluruhan pada semua literatur menunjukkan bahwa lebih banyak terjadinya pembentukan stain dibandingkan dengan yang tidak terjadi pembentukan stain. Berdasarkan frekuensi merokok, pembentukan stain pada gigi paling banyak terjadi pada perokok dengan kategori ringan. Simpulan penelitian ini ialah kebiasaan merokok dapat berpengaruh terhadap pembentukan stain pada gigi. Berdasarkan frekuensi merokok pembentukan stain pada gigi paling banyak ditemukan pada perokok dengan kategori ringan.Kata kunci: merokok; stain; pewarnaan gigi
Status Karies Gigi pada Pengidap HIV/AIDS Sundah, Michael J.; Mintjelungan, Christy N.; Pangemanan, Damajanty H. C.
e-GiGi Vol 9, No 2 (2021): e-GiGi
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/eg.v9i2.34985

Abstract

Abstract: Human immunodeficiency virus (HIV) is a virus that attacks the human immune system, especially white blood cells called CD4 cells. Meanwhile, acquired immune deficiency syndrome (AIDS) is a syndrome that arises due to the decline in the human immune system caused by HIV infection. Several studies showed that people living with HIV/AIDS had a higher risk of developing dental caries compared to those without HIV/AIDS. Maintenance of oral hygiene, consumption of antiretroviral (ARV) drugs, and low salivary flow play a role in increasing the risk of caries in people living with HIV/AIDS. This study was aimed to determine the status of dental caries in people living with HIV/AIDS. This was a literature review using the databases of Google Scholar, PubMed, and Clinical Key. The results obtained five journals that were relevant to the topic of discussion. There was a high prevalence of caries in people with HIV/AIDS (56.78%-78.7%) and a higher average caries status (12.83±9.6, 15.14±6.09, and 11.87±8.08) compared to those without HIV/AIDS. The high prevalence of caries in people with HIV/AIDS was influenced by decreased salivary flow, use of ARVs, consumption of sweet foods, and lack of oral hygiene. In conclusion, the prevalence of caries in people living with HIV/AIDS was high.Keywords: dental caries, HIV/AIDS  Abstrak: Human immunodeficiency virus (HIV) adalah virus yang menyerang sistem kekebalan tubuh manusia kususnya sel darah putih yang disebut sel CD4 sedangkan acquired immune deficiency syndrome (AIDS) merupakan sindrom yang muncul akibat menurunnya sistem kekebalan tubuh manusia yang diakibatkan infeksi HIV. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa pengidap HIV/AIDS berisiko lebih tinggi mengalami karies gigi dibandingkan dengan orang tanpa HIV/AIDS. Pemeliharaan kebersihan gigi mulut, konsumsi obat antiretroviral (ARV), dan aliran saliva yang rendah berperan dalam peningkatan risiko karies gigi pada pengidap HIV/AIDS. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui status karies gigi pada pengidap HIV/AIDS. Jenis penelitian ialah suatu literature review. Database yang digunakan untuk pencarian literatur ialah Google Scholar, PubMed, dan Clinical Key. Hasil penelitian mendapatkan prevalensi karies yang tinggi pada pengidap HIV/AIDS (56,78%-78,7%) dan rerata status karies lebih tinggi (12,83±9,6, 15,14±6,09, dan 11,87±8,08) dibandingkan dengan yang tanpa HIV/AIDS. Tingginya prevalensi karies pada pengidap HIV/AIDS dipengaruhi oleh penurunan laju aliran saliva, penggunaan ARV, konsumsi makanan manis, dan kurangnya menjaga kebersihan gigi mulut. Simpulan penelitian ini ialah prevalensi karies pada pengidap HIV/AIDS tergolong tinggi.Kata kunci: karies gigi, HIV/AIDS
Uji Daya Hambat Ekstrak Ikan Nike (Awous melanocephalus) Terhadap Pertumbuhan Bakteri Fusobacterium nucleatum Nonutu, Stevia E.; Pangemanan, Damajanty H. C.; Mintjelungan, Christy N.
e-GiGi Vol 9, No 2 (2021): e-GiGi
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/eg.v9i2.34982

Abstract

Abstract: One of the treatment options of periodontal abscess caused by Fusobacterium nucleatum is administration of antibiotics. However, long-term antibiotics consumption can cause negative side effects. Therefore, alternative treatments that have low side effects and easy to be obtained are needed. Nike fish (Awaous melanocephalus) is one of the endemic fish of North Sulawesi province which has antibacterial properties. This study was aimed to evaluate the inhibition effect of nike fish extract on the growth of Fusobacterium nucleatum. This was a true experimental study with a posttest only control group design. We used modified Kirby-Bauer method with filter papers. Ciprofloxacin was used as the positive control and aquadest as the negative control. Extract of nike fish and stock of pure bacteria Fusobacterium nucleatum were prepared. The results showed that the average diameters of the inhibition zones formed in the nike fish extract after three repetitions, were as follows: for extract concentration of 12.5% was 2.91 mm; 25% was 4.16 mm; 50% was 8.41 mm; and 100% was 9.58 mm. In conclusion, nike fish extract (Awaous melanocephalus) at concentrations of 50% and 100% had a weak inhibitory effect (Himedia category) on the growth of Fusobacterium nucleatum meanwhile at concentrations of 12.5% and 25% there was no activity of zone of inhibition.Keywords: extract of nike fish (Awaous melanocephalus); Fusobacterium nucleatum; inhibitory effect Abstrak: Salah satu opsi pengobatan abses periodontal yang disebabkan oleh bakteri Fusobacterium nucleatum yaitu dengan penggunaan antibiotik namun mengonsumsi antibiotik jangka panjang dapat menimbulkan efek samping negatif. Oleh karena itu, diperlukan pengobatan alternatif yang memiliki efek samping rendah serta mudah didapat. Ikan nike merupakan salah satu ikan endemik Provinsi Sulawesi Utara yang berkhasiat sebagai antibakteri. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui daya hambat ekstrak ikan nike (Awaous melanocephalus) terhadap pertumbuhan bakteri Fusobacterium nucleatum. Jenis penelitian ialah eksperimental murni dengan post test only control group design. Metode yang digunakan yaitu metode modifikasi Kirby-Bauer dengan menggunakan paper disk. Kontrol positif menggunakan antibakteri ciprofloxacin dan kontrol negatif menggunakan akuades. Pada penelitian ini digunakan ekstrak ikan nike dan stok bakteri murni Fusobacterium nucleatum. Hasil penelitian menunjukkan bahwa rerata diameter zona hambat yang terbentuk pada ekstrak ikan nike setelah tiga kali pengulangan yaitu untuk konsentrasi 12,5% sebesar 2,91 mm; 25% sebesar 4,16 mm; 50% sebesar 8,41 mm; dan 100% sebesar 9,58 mm. Simpulan penelitian ini ialah ekstrak ikan nike (Awaous melanocephalus) pada konsentrasi 50% dan 100% memiliki daya hambat kategori lemah (Himedia) terhadap pertumbuhan bakteri Fusobacterium nucleatum sedangkan pada konsentrasi 12,5% dan 25% dikategorikan tidak terdapat aktivitas zona hambat. Kata kunci: ekstrak ikan nike (Awaous melanocephalus); Fusobacterium nucleatum; daya hambat
Daya Hambat Ekstrak Daun Binahong (Anredera cordifolia Steenis) Terhadap Pertumbuhan Bakteri Streptococcus mutans Aruperes, Geraldo Y.; Pangemanan, Damajanty H. C.; Mintjelungan, Christy N.
e-GiGi Vol 9, No 2 (2021): e-GiGi
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/eg.v9i2.34983

Abstract

Abstract: Herbal plants in Indonesia have been widely used as ingredients in traditional medicine; one of them is binahong plant (Anredera cordifolia Steenis). Binahong has roots, tubers, stems, flowers, and leaves that contain active compounds, namely flavonoids, alkaloids, terpenoids, and saponins. The active compounds of flavonoids can act directly as antibiotics by interfering with the function of microorganisms such as bacteria and viruses. Binahong also contains active antimicrobials that can be used to prevent bacterial growth. This study was aimed to determine the inhibition effect of binahong leaf extract (Anredera cardifolia Ssteenis) against the growth of Streptococcus mutans. This was a literature review study by searching databases of Google Scholar and Pubmed. The keywords used were Binahong leaf (Anredera Cordifolia Steenis), Streptococcus mutans. After being selected based on the inclusion and exclusion criteria, 10 experimental literatures were obtained. The results showed that as many as 10 literatures stated that binahong leaf extract could inhibit the growth of Streptococcus mutans depending on the amount of binahong leaf extract given. In conclusion, binahong leaf extract has the ability to inhibit the growth of Streptococcus mutans which depends on the amount of the leaf extract.Keywords: binahong leaves (Anredera cordifolia Steenis); Streptococcus mutans Abstrak: Tanaman herbal di Indonesia telah banyak digunakan sebagai bahan obat tradisional, salah satunya ialah tanaman binahong (Anredera cordifolia Steenis). Binahong memiliki akar, umbi, batang, bunga, daun yang mengandung senyawa aktif yaitu flavonoid, alkanoid, terpenoid dan saponin. Senyawa aktif flavonoid dapat berperan langsung sebagai antibiotik dengan menggangu fungsi mikroorganisme seperti bakteri dan virus. Binahong juga mengandung antimikroba yang aktif sehingga dapat digunakan dalam mencegah pertumbuhan bakteri. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui daya hambat ekstrak daun binahong (Anredera cardifolia Steenis) terhadap pertumbuhan bakteri Streptoccocus mutans. Jenis penelitian ini suatu literature review. Pencarian data menggunakan database Google Scholar dan Pubmed dengan kata kunci yaitu daun Binahong (Anredera Cordifolia Steenis), Streptococcus mutans. Setelah diseleksi berdasarkan kriteria inklusi dan eksklusi didapatkan 10 literatur eksperimental yang digunakan dalam penelitian ini. Hasil penelitian memperlihatkan bahwa ke 10 literatur tersebut menyatakan ekstrak daun binahong memiliki daya hambat terhadap pertumbuhan bakteri Streptococcus mutans, dan daya hambatnya tergantung dari banyaknya ekstrak daun binahong yang diberikan. Simpulan penelitian ini ialah ekstrak daun binahong mampu menghambat pertumbuhan bakteri Streptococcus mutans yang dipengaruhi oleh banyaknya ekstrak daun tersebut.Kata kunci: daun binahong (Anredera cordifolia Steenis); Streptococcus mutans
Gambaran Tingkat Kecemasan Anak Saat Perawatan Ekstraksi Gigi Sekeon, Saskia E.; Gunawan, Paulina N.; Pangemanan, Damajanty H. C.
e-GiGi Vol 9, No 2 (2021): e-GiGi
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/eg.v9i2.36347

Abstract

Abstract: Going to a dentist can cause anxiety in children. One of dental treatments that causes anxiety is tooth extraction. This study was aimed to determine children’s anxiety level during tooth extraction. This was a literature review study. Data were collected from the database of Google Scholar by using predefined keywords children’s anxiety level and tooth extraction. Literatures were screened by title, and the inclusion and exclusion criteria. The critical appraisal was performed by using the Joanna Briggs Institute (JBI) critical appraisal and eight literatures weres obtained. The results showed that children’s anxiety level during tooth extraction were anxiety and mild anxiety. Based on age, younger children were more anxious than older children. Based on gender, females were more anxious than males. In conclusion, during tooth extraction, the anxiety levels of most of the children were anxiety and mild anxiety.Keywords: child anxiety level; tooth extraction Abstrak: Pemeriksaan kesehatan gigi dan mulut saat mengunjungi dokter gigi dapat menim-bulkan kecemasan pada anak. Salah satu perawatan yang dapat menimbulkan kecemasan ialah ekstraksi gigi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran tingkat kecemasan anak saat perawatan ekstraksi gigi. Jenis penelitian ialah literature review, Pencarian data pada database Google Scholar dengan menggunakan kata kunci tingkat kecemasan anak dan pencabutan gigi. Hasil pencarian dilakukan skrining berdasarkan judul, kriteria inklusi dan eksklusi, kemudian dilakukan uji kelayakan menggunakan the Joanna Briggs Institute (JBI) critical appraisal dan diperoleh delapan literatur. Hasil penelitian mendapatkan tingkat kecemasan anak saat perawatan ekstraksi gigi ialah cemas dan cemas ringan. Dilihat dari usia, anak lebih muda lebih cemas dibandingkan anak lebih tua. Dilihat dari jenis kelamin, anak perempuan lebih cemas daripada anak laki-laki. Simpulan penelitian ini ialah tingkat kecemasan sebagian besar anak pada saat perawatan ekstraksi gigi ialah cemas dan cemas ringan.Kata kunci: tingkat kecemasan anak; ekstraksi gigi
Uji Konsentrasi Hambat Minimum (KHM) Getah Kulit Buah Pisang Goroho (Musa acuminafe L.) terhadap Pertumbuhan Staphylococcus aureus Wuon, Kleysia D.; Pangemanan, Damajanty H.C.; Anindita, P. S.
e-GiGi Vol 6, No 2 (2018): e-GiGi
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/eg.6.2.2018.20853

Abstract

Abstract: Staphylococcus aureus is the most dominant cause of odontogenuic abscess, albeit, it is resistant to various types of antibiotics. The sap of goroho banana peel (Musa acuminafe L.) contains antibacteria compounds inter alia flavonoid, saponin, and tannin. This study was aimed to determine the minimal inhibitory concentration (MIC) of the sap of goroho banana peel to the growth of Staphylococcus aureus. This was a true experimental study with a randomized pretest-posttest control group design. We used serial dilution with turbidimetry and spectrophotometry as the test methods. Goroho banana was taken from Kelurahan Winangun, Kecamatan Malalayang meanwhile S. aureus bacteria were obtained from Microbiology Laboratory of Pharmacy Study Program, Faculty of Mathematics and Natural Sciences, Sam Ratulangi University. The result of turbidimetry after incubation showed that the tube of 50% of goroho sap looked clear. Measuring absorbance values before and after incubation using spectrophotometer UV-Vis showed that the MIC of the goroho sap was at 25%. Conclusion: The MIC of the sap of goroho banana peel (Musa acuminafe L.) to the growth of Staphylococcus aureus was at concentration of 25%.Keywords: sap of goroho banana peel (Musa acuminafe L.), S. aureus, MIC Abstrak: Staphylococcus aureus merupakan bakteri penyebab abses odontogenik yang paling dominan. Saat ini S. aureus telah resisten terhadap berbagai jenis antibiotik. Getah kulit buah pisang goroho (Musa acuminafe L.) merupakan tanaman herbal yang mengandung senyawa antibakteri, yaitu flavonoid, saponin, dan tanin. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui konsentrasi hambat minimum (KHM) getah kulit buah pisang goroho terhadap pertumbuhan S. aureus. Jenis penelitian ialah eksperimental murni dengan randomized pretest-posttest control group design. Metode yang digunakan yaitu metode serial dilusi dengan pengujian turbid-metri dan spektrofotometer. Pisang goroho diperoleh dari Kelurahan Winangun, Kecamatan Malalayang. Bakteri S. aureus diambil dari stok bakteri murni Laboratorium Mikrobiologi Program Studi Farmasi Fakultas MIPA Universitas Sam Ratulangi. Hasil penelitian turbid-metri sesudah inkubasi menunjukkan bahwa tabung dengan konsentrasi getah kulit buah pisang goroho 50% terlihat mulai jernih. Pengukuran nilai absorbansi sebelum dan sesudah inkubasi menggunakan spektrofotometer UV-Vis menunjukkan bahwa KHM getah kulit buah pisang goroho (Musa acuminafe L.) terhadap pertumbuhan bakteri S. aureus terdapat pada konsentrasi 25%. Simpulan: Konsentrasi hambat minimum getah kulit buah pisang goroho (Musa acuminafe L.) terhadap pertumbuhan bakteri S. aureus terdapat pada konsentrasi 25%Kata kunci: getah kulit buah pisang goroho (M. acuminafe), S. aureus, KHM
Hubungan Derajat Keasaman Saliva dan Karies Gigi pada Siswa Sekolah Menengah Atas Mariati, Ni Wayan; Pangemanan, Damajanty H. C.; Bangun, Liasma K.
e-GiGi Vol. 13 No. 2 (2025): e-GiGi
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/eg.v13i2.59520

Abstract

Abstract: The prevalence of caries among people in the age group of 15-24 years is still high. North Sulawesi Province has a caries occurrence rate of 55%. The salivary pH value during resting period has the ability to predict caries status. This study aimed to determine the relationship between the degree of salivary acidity and dental caries in students of SMAN 1 Wori (senior high school). This was an analytical study with a cross-sectional design. Samples were obtained by using total sampling method. Salivary pH was examined using the spitting technique and dental caries was examined using the DMF-T index. The results obtained 114 students as respondents. Examination of the degree of acidity (pH) of saliva showed that the acid category occupied the highest frequency of 55 students (48.3%) and the least is the alkaline category of five students (4.4%). The highest number of DMF-T score was in the medium category, namely 35 respondents (30.7%), while the high and very high categories had the same number, namely 18 respondents (15.8%) each. The chi-square test obtained a p-value of 0.001 for the relationship between the degree of acidity (pH) of saliva and dental caries.  In conclusion, there is a relationship between the degree of acidity (pH) of saliva and dental caries among students of SMAN 1 Wori. Keywords: saliva acidity; dental caries    Abstrak: Prevalensi karies pada masyarakat dengan kelompok usia 15–24 tergolong tinggi. Provinsi Sulawesi Utara mempunyai angka terjadinya karies sebesar 55%. Nilai pH saliva selama periode istirahat memiliki kemampuan untuk memrediksi status karies. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan derajat keasaman saliva dan karies gigi di SMAN 1 Wori. Jenis penelitian ialah analitik dengan desain potong lintang Pengambilan sampel dengan menggunakan total sampling. Pada penelitian ini  dilakukan pemeriksaan pH saliva dengan menggunakan teknik spitting dan pemeriksaan karies gigi dengan menggunakan indeks DMF-T. Hasil penelitian mendapatkan 114 siswa sebagai responden penelitian. Pemeriksaan derajat keasaman (pH) saliva memperlihatkan bahwa kategori asam menempati frekuensi paling tinggi (48,3%) dan yang paling sedikit ialah kategori basa (4,4%). Jumlah nilai DMF-T terbanyak pada kategori sedang (30,7%) sedangkan untuk kategori tinggi dan sangat tinggi mempunyai jumlah sama banyak (masing-masing15,8%). Hasil uji chi-square terhadap hubungan pH saliva dan karies gigi mendapatkan nilai p=0,001. Simpulan penelitian ini ialah terdapat hubungan antara derajat keasaman (pH) saliva dan karies gigi pada siswa di SMAN 1 Wori. Kata kunci: derajat keasaman saliva; karies gigi
Status Psikososial Remaja Usia 15-17 Tahun yang Mengalami Maloklusi Anterior Berdasarkan Indeks PIDAQ Tilaar, Keren D.; Anindita, Pritartha S.; Pangemanan, Damajanty H. C.
e-GiGi Vol. 14 No. 1 (2026): e-GiGi
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/eg.v14i1.64949

Abstract

Abstract: Anterior malocclusion can affect facial aesthetics and has an impact on psychosocial condition, particularly among adolescents. Coastal areas like Tuminting District, which is close to the center of Manado City, have social characteristics that make appearance an important aspect of adolescent interactions, while socio-economic conditions often limit access to orthodontic care, which further influences the psychosocial impact of malocclusion. This study aimed to obtain the psychosocial status of adolescents aged 15-17 tahun with anterior malocclusion based on PIDAC at SMAN3 Tuminting. This was a descriptive and observational study with a cross-sectional approach. Respondents consisted of 60 students aged 15–17 years selected through purposive sampling based on inclusion and exclusion criteria. Visual monitoring was conducted to detect anterior malocclusion, and the PIDAQ questionnaire was administered to assess psychosocial impact. The majority of study subjects (61.6%) fell into the moderate PIDAQ score category, 21.7% into the high category, and 16.7% into the low category. Female subjects tended to have higher PIDAQ scores than males, reflecting greater sensitivity to dental aesthetics. In conclusion, most adolescents with anterior malocclusion at SMAN 3 Tuminting fall into the moderate PIDAQ score category indicating that anterior malocclusion has a psychosocial impact. Keywords: anterior malocclusion; adolescents; psychosocial status; PIDAQ   Abstrak: Maloklusi anterior dapat memengaruhi estetika wajah dan berdampak pada kondisi psikososial, terutama pada remaja. Daerah pesisir seperti Kecamatan Tuminting yang tidak jauh dari pusat Kota Manado memiliki karakteristik sosial yang menjadikan penampilan sebagai aspek penting dalam interaksi remaja, sementara kondisi sosio-ekonomi sering membatasi akses terhadap perawatan ortodontik, yang turut memengaruhi dampak psikososial akibat maloklusi. Penelitian ini bertujuan mengetahui status psikososial remaja usia 15–17 tahun dengan maloklusi anterior berdasarkan indeks PIDAQ di SMAN 3 Tuminting. Jenis penelitian ialah deskriptif observasional dengan desain potong lintang. Responden penelitian berjumlah 60 siswa berusia 15–17 tahun yang telah dipilih melalui purposive sampling sesuai kriteria inklusi dan eksklusi. Pemantauan visual dilakukan untuk mendeteksi maloklusi anterior dan pengisian kuesioner PIDAQ untuk menilai dampak psikososial. Mayoritas responden sebanyak 61,6% tergolong skor PIDAQ kategori sedang, 21,7% kategori tinggi, dan 16,7% kategori rendah. Responden perempuan cenderung memiliki skor PIDAQ lebih tinggi daripada laki-laki, yang mencerminkan sensitivitas lebih besar terhadap estetika gigi. Simpulan penelitian ini ialah sebagian besar remaja dengan maloklusi anterior di SMAN 3 Tuminting tergolong dalam kategori skor PIDAQ sedang, yang menunjukkan bahwa maloklusi anterior memberikan dampak psikososial. Kata kunci: maloklusi anterior; remaja; status psikososial; PIDAQ
Co-Authors Aji M. Sanhia Amelia Ramadhani, Amelia Ampow, Falen V. Anastasia P. G. Goni Angelia Langkir Angelita A. Durado Angmalisang , Elvin C. Anna M. Maruanaya, Anna M. Apituley, Tracy L. D Arif P. Yanto Aruperes, Geraldo Y. Astrid M. Lesar, Astrid M. Aurelia Supit Aviva, Novia N. Bangun, Liasma K. Beatrix I. Pontoh Berhimpon, Siemona Lydia_Eunike Castendo, Cynthia C. Catra H. E. Lengkey, Catra H. E. Christal G. Oroh, Christal G. Christian Rompis, Christian Christoffel Elim Christy Mintjelungan Christy N. Mintjelungan Cicilia A. Fernatubun Danes, Vennetia Ryckerens Debby J. Suhanda Dewi P. Sari, Dewi P. Dinar A. Wicaksono Dondokambey, Serena D. V. Dwi Cahya Fitriyana Fara M. Lossu, Fara M. Felicia P. C. C. Pantow, Felicia P. C. C. Fernanda, Vena Franly Onibala Fransiska Lintong Frenly Muntu Untu Gabrielly F. J. Rorong, Gabrielly F. J. Galant Rompas Gary S. J. Nayoan, Gary S. J. Geri W. Setiawan, Geri W. Gita J. Tulangow, Gita J. Hedison Polii Hendro Bidjuni Herlina I. S. Wungouw Hutagalung, Bernart S.P. Iksan, Nurwahid P. Indriani Tubagus Ivander A. Supit, Ivander A. Ivonny M. Sapulete Jeffry Sony Junus Lengkong Jeremy Frans, Joel Johanna A. Khoman Joice M. Laoh Joice N. A. Engka Joice N.A. Engka Juliatri . Kainde, Abedneju R. Karamoy, Deborah Karjoyo, Julianti Dewi Katarina D. Manibuy, Katarina D. Keloay, Princess Kewo, Lidia A. Khoman, Johanna Koagouw, Marco S. Korah, Sanny C. Korompot, Febri Krista V. Siagian Krista Veronica Siagian Kustina Zuliari, Kustina Li Ping Pontoh Lontaan, Jehuda Lumunon, Novita P. Mangindaan, Rocky J. Mariane Wowor Marimbun, Betrix E. Marunduh, Sylvia Ritta Maureen M. Mawuntu, Maureen M. Mendur, Sheren Ch. M. Michael A. Leman Mirani A. Uga Monica M. Sengkey, Monica M. Moningka, Maya Esther Wullur Muchyar, Dwi S.R. Myrtle Irene Sarjono Nancy Engka Natalia Purnamasari Natalia, Adriani Ngongoloy, Johanes J. F. Ni Made Windrawati, Ni Made Ni Wayan Mariati Nonutu, Stevia E. P. S. Anindita Paputungan, Fazriah F. Parengkuan, Henaldy Paulina Gunawan Paulina N. Gunawan Pingkan E.O. Lengkong Pormes, Oktovianus Pritartha S. Anindita Puk, Jimmy Rumam Rahayu, Mayangsari P. Rando F. Mamitoho, Rando F. Randy V. S. Kindangen Rantung, Galatia Marline Victoria Rasni, Novia D. P. Rawung, Meilita M. Rebecca A. Ngantung, Rebecca A. Rinto Mangiwa Rompis, Karen Ronald Sondakh Rumampuk, Jimmy Franky Sanger, Seily E. Sapulete, Ivonny M Saputra, Yoddy G. Sarah Warouw Sekeon, Saskia E. Shianata, Chrisshania M. Siada, Gracela Marchtica Siantan Supit Siemona Berhimpon, Siemona Silalahi, Agnes M. Simak, Valen Siwi, Filliany A. P. Soba, Siane Stefana H. M. Kaligis Suci M. J. Amir Sukarno, Karina Janneta Sumual, Inriyani A. Sundah, Michael J. Supit, Aurelia S.R. Syahril Panigoro, Syahril Sylvia Marunduh Sylvia R. Marunduh Tawas, Stevany A.D. Tendean, Brigitta A. Tilaar, Keren D. Tinneke A. Tololiu Tinneke Tololiu Tombokan, Kevin C. Triska Yolanda Worang Tulungnen, Regina S. Tulungnen S Vellisia Lindo Vita A. Lethulur Vonny N. S. Wowor Vonny N.S. Wowor, Vonny N.S. Warong, Kristo Waworuntu, Elshadai Teovilia Wibowo, Devina V. Wulan G. Parengkuan, Wulan G. Wulandari, Fitri K. Wuon, Kleysia D.