Claim Missing Document
Check
Articles

Found 12 Documents
Search
Journal : Koneksi

Pola Komunikasi Orang Tua Etnis Tionghua Medan dalam Mendidik Anak Noviani, Juni; Paramita, Sinta
Koneksi Vol. 7 No. 1 (2023): Koneksi
Publisher : Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/kn.v7i1.15973

Abstract

This study discusses the communication patterns of parents in educating boys and girls in terms of choosing a mate or the position of children in the Chinese Indonesians family. This study uses family communication patterns in interpersonal communication theory. This study uses a qualitative descriptive method with a case study approach. The data were obtained from Chinese Indonesians family or community from Medan, North Sumatera, but they are living in Jakarta, Indonesia. The pattern of communication is seen from the selection of a mate such as the prohibition of marrying people who have the same clan. Boys take precedence over girls. Women occupy the lowest level or position or are lower than men because only boys are able to continue the family clan. Likewise in the case of choosing a mate where boys are free to choose a partner while girls must obey and accept whoever their parents choose. Penelitian ini membahas mengenai seperti apa pola komunikasi orang tua dalam mendidik anak laki-laki maupun perempuan dalam hal pemilihan jodoh atau kedudukan anak dalam keluarga Tionghua. Penelitian ini menggunakan pola komunikasi keluarga dalam teori komunikasi antar pribadi. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif dengan pendekatan studi kasus. Data diperoleh dari narasumber keluarga atau masyarakat Tionghua asal Medan, Sumatera Utara, tetapi menetap di Jakarta, Indonesia. Pola komunikasi dilihat dari pemilihan jodoh seperti larangan menikah dengan orang yang memiliki marga yang sama. Anak laki – laki lebih didahulukan atau diutamakan daripada anak perempuan. Perempuan menduduki tingkatan atau posisi terendah atau lebih rendah dari laki-laki karena hanya anak laki-laki yang mampu meneruskan marga keluarga. Begitupula dalam hal pemilihan jodoh di mana anak laki-laki bebas memilih pasangan sedangkan anak perempuan harus taat dan menerima siapapun jodoh yang menjadi pilihan orang tuanya.
Makna Festival Dongzhi bagi Generasi Z Tionghoa di SMA Ananda Bekasi Putri, Mahesika Yolindri; Paramita, Sinta
Koneksi Vol. 7 No. 1 (2023): Koneksi
Publisher : Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/kn.v7i1.21274

Abstract

There are numerous festivals celebrated annually in Chinese culture. One of the most well-known festivities is Dongzhi Festival, which is held at the end of each year. However, in the age of globalization, Chinese people believe that their culture is no longer relevant to the situation. Likewise with Chinese Z generation (born 1995–2010), which prefers foreign cultures since they are viewed as modern culture. This research attempts to discover and explain the meaning of the Dongzhi festival for the Chinese Z generation at Bekasi. The research used descriptive qualitative method, with Chinese Z generation in Bekasi served as the research subject, and the Dongzhi festival served as the research's object. According to the findings of the research, the Dongzhi festival for Chinese Z generation does not have special meaning because this festival simply an ancient tradition that has been passed down from generation to generation with support from people around them. Even this Chinese Z Generation will leave the Dongzhi Festival when they must live apart from their parents and family. Kebudayaan Tionghoa memiliki beragam perayaan yang dirayakan setiap tahunnya. Salah satu perayaan yang terkenal adalah Festival Dongzhi, yang dirayakan setiap akhir tahun. Namun di era globalisasi ini, masyrakat Tionghoa beranggapan bahwa budaya yang dimiliki tidak lagi sesuai dengan keadaan saat ini. Begitu juga dengan generasi Z (kelahiran tahun 1995-2010) yang lebih menyukai kebudayaan asing karena dianggap lebih kekinian. Untuk itu penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dan menjelaskan makna festival Dongzhi bagi generasi Z Tionghoa di Bekasi. Jenis penelitian yang digunakan pada penelitian ini adalah kualitatif deskriptif dengan metode studi kasus pada generasi Z Tionghoa di Bekasi sebagai subjek penelitian dan festival Dongzhi sebagai objek penelitian ini. Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan, diketahui bahwa makna festival Dongzhi bagi generasi Z Tionghoa tidak memiliki makna khusus karena perayaan ini hanya sebuah budaya lama yang dilakukan secara turun-temurun karena adanya dorongan dari orang-orang sekitar. Bahkan para generasi Z ini akan meninggalkan festival Dongzhiketika harus tinggal terpisah dengan orang tua dan keluarga.
Digital Personal Branding dalam Membentuk Kredibilitas Content Creator Yovelin, Very; Paramita, Sinta
Koneksi Vol. 7 No. 1 (2023): Koneksi
Publisher : Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/kn.v7i1.21330

Abstract

This research will explore digital personal branding through the social media Instagram @verencialaw. Verencia Law is a fashion, beauty, lifestyle content creator from Tangerang, Indonesia and has more than 70,000 followers. The author wants to explore Verencia Law's digital personal branding and credibility on Instagram. The theory used is Peter Montoya's theory regarding the 8 laws of personal branding and the theory of source credibility. Qualitative research approach, netnographic research method, the research subject is content creator Verencia Law and the research object is digital personal branding on the Instagram account @verencialaw. Methods of data collection using observation, documentation, online data review, and literature studies. Data analysis techniques are data reduction, presentation, and conclusion drawing, and the validity of the data is done by triangulation. The results of this study suggest that Verencia Law fulfills the eight personal branding concepts and fulfills the three components of source credibility. In addition, these two theories are still relevant to use in building digital personal branding and credibility. Penelitian ini akan mengeksplorasi digital personal branding akun media sosial Instagram @verencialaw. Verencia Law merupakan content creator fashion, beauty, lifestyle asal Tangerang, Indonesia, dan memiliki pengikut melebihi 70.000 orang. Penulis ingin mengulik digital personal branding dan kredibilitas Verencia Law di Instagram. Teori yang digunakan adalah teori Peter Montoya mengenai delapan hukum personal branding dan teori kredibilitas sumber. Pendekatan penelitian kualitatif,metode penelitian etnografi, subjek penelitian yaitu content creator Verencia Law dan objek penelitian adalah digital personal branding pada akun Instagram @verencialaw. Metode pengumpulan data menggunakan observasi, dokumentasi, tinjauan data online, dan studi kepustakaan. Teknik analisis data adalah reduksi, penyajian, dan penarik kesimpulan data, serta keabsahan data melalui triangulasi. Hasil penelitian ini mengemukakan bahwa Verencia Law memenuhi delapan konsep personal branding dan memenuhi tiga komponen kredibilitas sumber. Selain itu, kedua teori tersebut masih relevan digunakan dalam membentuk digital personal branding dan kredibilitas.
Hashtag dan Kata Kunci di Media Sosial Seputar Fenomena Citayam Fashion Week Yohana, Yohana; Paramita, Sinta
Koneksi Vol. 7 No. 2 (2023): Koneksi
Publisher : Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/kn.v7i2.21616

Abstract

Social media online communities are built because of similarities and connectedness. This is also the case with the social phenomenon Citayam Fashion Week, which is popular in Jakarta in 2022. Researchers are interested in the digital communication and virtual opinions that occur through hashtags and keywords in a social phenomenon. The researcher used a qualitative approach with the netnography method. Statistical data was obtained through analyse.io and screenshots of video content on TikTok social media. The results showed that the spread of information about a phenomenon was fast and comprehensive due to the participation of social media users. Communication-related to Citayam Fashion Week involves users as communicators and communicants through open spaces of expression and participation in the TikTok application. The role of hashtags and keywords here also enhances the communication activities to reach a wider audience. Komunitas online media sosial dibangun karena adanya kesamaan dan keterhubungan. Hal ini terjadi pula pada fenomena sosial, Citayam Fashion Week, yang popular di Jakarta pada tahun 2022. Peneliti tertarik untuk mengetahui komunikasi digital dan opini virtual yang terjadi melalui hashtag dan kata kunci dalam sebuah fenomena sosial. Peneliti menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode netnografi. Data statistik diperoleh melalui analisa.io dan tangkapan layar konten video di media sosial TikTok. Hasil penelitian menunjukkan bahwa  penyebaran informasi mengenai suatu fenomena begitu cepat dan luas karena partisipasi pengguna media sosial. Komunikasi terkait Citayem Fashion Week berlangsung dengan melibatkan pengguna sebagai komunikator maupun komunikan melalui ruang berekspresi dan partisipasi yang terbuka pada aplikasi TikTok. Peran hashtag dan kata kunci disini turut menyempurnakan kegiatan komunikasi yang berlangsung untuk menjangkau audiens yang lebih luas.
Digital Personal Branding Konten Kreator Penyiar Melalui TikTok Djeke, Stella Clarissa; Paramita, Sinta
Koneksi Vol. 8 No. 1 (2024): Koneksi
Publisher : Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/kn.v8i1.21632

Abstract

Social media is a place for the personal branding of internet users. In Indonesia, TikTok is the social media that ranks 2nd with the largest number of users. This is because this social media features audiovisual content accompanied by interesting features. Raye Shabrina is a private radio broadcaster in Jakarta who actively creates content on the TikTok platform. Initially, she uploaded content in the form of duets with foreign broadcasters. The content evolved into broadcast and public speaking exercises. By using the netnography method that utilises data through social media, the researcher intends to find out how Rayes Shabrina builds a positive image through her TikTok account @rayeshabrina. The application of the concept of The Eight Laws of Personal Branding by Peter Montoya (2004) is a reference in finding out the relevance between the concept and the content uploaded by Raye Shabrina. Data collection was carried out by pulling data through the Analisa.io website, supported by interviews, observation, and documentation. This research shows that as a broadcaster, the interviewee succeeded in doing digital personal branding by presenting the image of an educative broadcaster in a cheerful and enthusiastic manner and being consistent in creating content. Media sosial merupakan wadah personal branding para pengguna internet. Di Indonesia, TikTok merupakan media sosial yang menempati urutan ke-2 dengan pengguna terbesar. Hal ini karena media sosial ini menampilkan konten audiovisual disertai dengan fitur menarik. Raye Shabrina merupakan penyiar radio swasta di Jakarta yang aktif membuat konten pada platform TikTok. Awalnya, konten yang diunggah berupa duet dirinya dengan penyiar luar negeri. Konten berkembang menjadi latihan siaran dan public speaking. Dengan menggunakan metode netnografi yang memanfaatkan data melalui media sosial, peneliti bermaksud mencari tahu bagaimana Rayes Shabrina membangun citra positif melalui akun TikTok @rayeshabrina. Penerapan konsep The Eight Laws of Personal Branding oleh Peter Montoya (2004) menjadi acuan dalam mencari tahu relevansi antara konsep tersebut dengan konten yang di unggah Raye Shabrina. Pengumpulan data dilakukan dengan menarik data melalui website Analisa.io didukung dengan wawancara, observasi dan dokumentasi. Penelitian ini menunjukkan bahwa sebagai seorang penyiar, narasumber berhasil melakukan digital personal branding dengan menampilkan citra seorang penyiar edukatif dengan pembawaan yang ceria dan semangat serta konsisten dalam membuat konten.
Penetrasi Sosial Generasi Muda Melalui Aplikasi Kencan Online Teguh, Fiola; Paramita, Sinta
Koneksi Vol. 8 No. 1 (2024): Koneksi
Publisher : Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/kn.v8i1.27439

Abstract

This research discusses the phenomenon of social penetration in the context of online dating apps with a focus on the younger generation of Coffee Meets Bagel users. As one of the online dating apps, Coffee Meets Bagel provides a new alternative to finding and establishing romantic relationships by utilizing features such as searches based on preferences, interests, and location. Statistics show a significant increase in online dating app users, especially in Indonesia, with Coffee Meets Bagel as an app that emphasizes quality over quantity. In this context, social penetration is an interesting aspect to research, given its influence on the stages of the communication process in online dating apps. This research asks the main question, namely, how the process of social penetration stages among the younger generation establishes relationships through the Coffee Meets Bagel online dating application. This research is based on the Social Penetration Theory using the phenomenological method through a qualitative approach. The results of this study focus on the four stages of social penetration, according to Taylor and Altman. Through these four stages, the process of stages in a relationship that starts from online dating can be clearly described, both from the process of self-disclosure to the obstacles experienced. Penelitian ini membahas fenomena penetrasi sosial dalam konteks aplikasi kencan daring dengan fokus pada generasi muda pengguna Coffee Meets Bagel. Sebagai salah satu aplikasi kencan online, Coffee Meets Bagel memberikan alternatif baru dalam menemukan dan menjalin hubungan asmara dengan memanfaatkan fitur-fitur seperti pencarian berdasarkan preferensi, minat, dan lokasi. Statistik menunjukkan peningkatan yang signifikan pada pengguna aplikasi kencan online, khususnya di Indonesia, dengan Coffee Meets Bagel sebagai aplikasi yang mengedepankan kualitas daripada kuantitas. Dalam konteks ini, penetrasi sosial menjadi aspek yang menarik untuk diteliti, mengingat pengaruhnya terhadap tahapan proses komunikasi dalam aplikasi kencan online. Penelitian ini mengajukan pertanyaan utama, yaitu bagaimana proses tahapan penetrasi sosial di kalangan generasi muda dalam menjalin hubungan melalui aplikasi kencan online Coffee Meets Bagel. Penelitian ini berlandaskan pada Teori Penetrasi Sosial dengan menggunakan metode fenomenologi melalui pendekatan kualitatif. Hasil penelitian ini berfokus pada empat tahapan penetrasi sosial menurut Taylor dan Altman. Melalui keempat tahapan tersebut, proses tahapan dalam sebuah hubungan yang berawal dari kencan daring dapat digambarkan dengan jelas, baik dari proses pengungkapan diri hingga hambatan yang dialami.
Konstruksi Aspek-Aspek Populisme Aktor Politik pada Media Online melalui Perspektif Identitas Sosial Gunawan, Kimberley Adonia; Paramita, Sinta
Koneksi Vol. 8 No. 1 (2024): Koneksi
Publisher : Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/kn.v8i1.27601

Abstract

According to researchers from the Indonesian Institute of Sciences, the 2017 DKI Jakarta Governor election was the worst election in the history of Indonesian democracy. The impact of the gubernatorial election caused polarization in the community which was delivered by the practice of populism by the political actors involved during the campaign period. Populism is present as a political rhetorical strategy that is able to build sentiment comparisons in the public by building a class comparison between "the people" and "the elite". The focus of this research is to analyze the types of populism strategies used by the political actors involved. The method used in this research is Norman Fairlcough's critical discourse analysis with a qualitative approach. The analysis and study in this research are constructed from the theory of Social Identity by Henri Tajfel through three processes namely social grouping, social identification, and social comparison. The results of this study show the aspects that are highlighted from the implementation of populism by the two political actors involved and the types of populism strategies they implement. It was concluded that Basuki Tjahja Purnama or Ahok implemented technocratic populism and Anies Rasyid Baswedan implemented social (democratic) populism in his campaign process. Menurut peneliti dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia, pemilihan Gubernur DKI Jakarta tahun 2017 merupakan pemilu terburuk dalam sejarah demokrasi Indonesia. Dampak dari Pilgub menimbulkan polarisasi di masyarakat yang dihantarkan oleh praktik populisme oleh para aktor politik yang terlibat pada masa kampanye. Populisme hadir sebagai sebuah strategi retorika politik yang mampu membangun perbandingan sentimen di publik dengan membangun kelas perbandingan antara “rakyat” dan “elit”. Fokus dari penelitian ini adalah menganalisis jenis strategi populisme yang digunakan oleh para aktor politik yang terlibat. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisis wacana kritis Norman Fairlcough dengan pendekatan kualitatif. Analisis dan kajian dalam penelitian ini dikonstruksi dari teori Identitas Sosial oleh Henri Tajfel melalui tiga proses yaitu pengelompokan sosial, identifikasi sosial, dan perbandingan sosial. Hasil dari penelitian ini menunjukan aspek – aspek yang ditonjolkan dari implementasi populisme oleh dua aktor politik yang terlibat serta jenis strategi populisme yang diimplementasikannya. Basuki Tjahja Purnama atau Ahok mengimplementasikan populisme teknoratik dan Anies Rasyid Baswedan mengimplementasikan populisme sosial (demokratik) dalam proses kampanyenya.
Analisis Semiotika Makna Ketersinggungan terhadap Agama dan Unsur Politik dalam Stand Up Comedy Adriaansz, Raykhel Hardian Yehezkiel; Paramita, Sinta
Koneksi Vol. 8 No. 2 (2024): Koneksi
Publisher : Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/kn.v8i2.27616

Abstract

This research discusses how the interpretation of offense is conveyed through Stand Up Comedy. Stand Up Comedy itself is a form of solo comedian art performed by an individual known as a comedian or comic. Stand Up Comedy often touches on the consequences of meaning or content embedded in comedic material. Pandji Pragiwaksono is one of the comedians who frequently presents comedy material derived from a social issue or problem, often resulting in criticism or offense to certain parties. This research uses a qualitative research approach to interpret offense in a humorous context. The purpose of this research is to examine how the portrayal of meaning in offense is conveyed through Stand Up Comedy. The method and theory used in this research is Roland Barthes' semiotic analysis technique which interprets a sign from the presence of a signifier and a sign that is present as an element that regulates the process of creating a meaning, which can be explained further into the meaning of denotation, connotation and myth. The findings from this research are how Pandji Pragiwaksono conveys offense through a Stand-Up Comedy show, which is packaged in the form of comedy material that contains a humorous message that focuses on three aspects, namely race, religion, and political elements. Penelitian ini membahas tentang bagaimana pemaknaan ketersinggungan yang disampaikan melalui Stand Up Comedy. Stand Up Comedy sendiri merupakan seni lawakan tunggal yang dibawakan oleh satu orang yang biasa dikenal sebagai comika atau comic. Sebuah Stand Up Comedy kerap kali menyinggung akibat dari suatu makna atau isi yang terkandung di dalam suatu materi komedi. Pandji Pragiwaksono merupakan salah satu comika yang kerap kali membawakan materi komedi yang berasal dari suatu isu atau masalah sosial yang sedang terjadi, yang berujung pada sebuah celaan atau menyinggung beberapa pihak. Penelitian ini menggunakan pendekatan penelitian kualitatif dalam memaknai ketersinggungan dalam humor. Penelitian ini bertujuan untuk melihat bagaimana penggambaran suatu makna ketersinggungan yang disampaikan melalui Stand Up Comedy. Metode dan teori yang digunakan pada penelitian ini adalah teknik analisis semiotika Roland Barthes yang memaknai sebuah tanda dari adanya sebuah penanda dan pertanda yang hadir sebagai elemen yang mengatur proses terciptanya suatu makna, yang dapat dijelaskan lebih jauh ke dalam sebuah makna denotasi, konotasi, dan mitos. Hasil temuan dari penelitian ini adalah bagaimana Pandji Pragiwaksono menyampaikan suatu ketersinggungan melalui sebuah show Stand Up Comedy yang dikemas dalam bentuk materi komedi yang berisikan pesan humor di dalamnya, yang berfokus kepada tiga aspek, yaitu ras, agama, dan unsur politik.
Penyebaran Budaya Tionghoa melalui Akun Instagram @Peranakan.Story Jesica, Meini; Paramita, Sinta
Koneksi Vol. 9 No. 1 (2025): Koneksi
Publisher : Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/kn.v9i1.33296

Abstract

The development of digital communication technology, which facilitates easy access to information, has led to the erosion of past cultural preservation. One such culture in Indonesia is Chinese culture, which views the past as a reflection of present success. To preserve Chinese culture, a group of young people formed a community called Peranakan Story as a forum for spreading Chinese culture, especially Peranakan. This study aims to analyze message production through Instagram @peranakan.story in promoting Chinese culture. The study applies Stuart Hall’s Encoding/Decoding theory. Using a descriptive qualitative approach and case study method, data were collected through interviews with three core members of the Peranakan Story community (Encoding) and four Instagram followers (Decoding). The findings indicate that the Peranakan Story community produces cultural content based on a series of knowledge aligned with social, political, and ideological conditions, utilizing technology and social media. The content shared on Instagram receives diverse audience feedback, contributing to the ongoing process of message production. Perkembangan teknologi komunikasi digital yang memberikan kemudahan dalam mendapatkan informasi mengakibatkan lunturnya kelestarian budaya lampau. Salah satu budaya lampau di Indonesia adalah Budaya Tionghoa yang memiliki memiliki pandangan bahwa masa lampau merupakan cermin keberhasilan masa kini. Dalam pelestarian budaya Tionghoa, sekelompok anak muda membentuk sebuah komunitas yang bernama Peranakan Story sebagai wadah penyebaran budaya Tionghoa terutama Peranakan. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui produksi pesan melalui Instagram @peranakan.story dalam menyebarkan budaya Tionghoa. Teori pendekatan produksi pesan yang digunakan adalah Teori Encoding Decoding Stuart Hall. Pendekatan penelitian adalah kualitatif deskriptif dengan metode studi kasus. Penelitian ini menganalisis data hasil wawancara dengan 3 anggota inti Komunitas Peranakan Story sebagai pihak Encoding dan 4 pengikut akun Instagram @peranakan.story sebagai pihak Decoding. Hasil penelitian ini adalah Komunitas Peranakan Story memproduksi konten budaya berdasarkan serangkaian pengetahuan sesuai dengan kondisi sosial, politik, dan ideologi yang dikemas menggunakan produk teknologi serta disebarkan melalui media sosial Instagram dengan berbagai tanggapan audiens sebagai keberlanjutan produksi.
Analisis Peran Humas DPR RI dalam Pengelolaan Instagram @ppid.dprri Budi, Mauly Helau; Paramita, Sinta
Koneksi Vol. 9 No. 2 (2025): Koneksi
Publisher : Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/kn.v9i2.35432

Abstract

In carrying out its duties and performance, the DPR RI institution often reaps pros and cons in society, news about the DPR also often creates a bad image of this institution. Therefore, Public Relations of the DPR RI needs to disseminate information related to the results of DPR RI products. Public Relations currently needs to follow developments in the digital era so that Public Relations of the DPR RI uses the social media Instagram as a digital medium for conveying information. This research uses descriptive qualitative methods as a type of research. Data collection techniques are obtained from the process of observation, interviews and documentation. This research uses the theory of the role of public relations management Fantini, E., Sofyan, M., & Suryana, A. (2021). Researchers also use primary sources through other literature that is relevant to the discussion and reliable which is then processed into data for writing this journal. From the research results, it is known that there are several important factors, one of which is managing information content related to DPR institutions into interesting content. Public Relations of the People's Representative Council of the Republic of Indonesia (DPR RI) continues to innovate in following things that are currently popular or trending in society. Efforts that have been made include conducting research or looking for interesting content references to become a reference in managing information content so that the PPID Instagram account gets more interaction (engagement). However, this is still not optimal. So there needs to be collaboration and innovation in content creation. For this reason, this research is an interesting study with aspects of the role of public relations based on the research conducted. Dalam melaksanakan tugas dan kinerjanya lembaga DPR RI seringkali menuai pro dan kontra dimasyarakat, pemberitaan tentang DPR juga seringkali membuat citra lembaga ini buruk. Maka dari itu Humas DPR RI perlu menyebarluaskan informasi terkait hasil produk DPR RI, Humas saat ini perlu mengikuti perkembangan jaman digital sehingga Humas DPR RI menggunakan media sosial instagram sebagai media digital dalam menyampaikan informasi. Pada penelitian ini menggunakan metode kualitatif deskriptif sebagai jenis penelitian.Teknik pengumpulan data diperoleh dari proses observasi, wawancara, dan dokumentasi. Penelitian ini menggunakan teori peranan manajemen humas Fantini, E., Sofyan, M., & Suryana, A. (2021). Peneliti  juga menggunakan sumber primer melalui literatur lainnya yang relevan dengan pembahasan dan terpercaya yang kemudian diolah menjadi data untuk penulisan jurnal ini. Dari hasil penelitian diketahui bahwa terdapat beberapa faktor penting, salah satunya dalam mengelola konten informasi terkait lembaga DPR menjadi konten yang menarik. Humas Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia (DPR RI) terus berinovasi dalam mengikuti hal-hal yang sedang ramai atau sedang tren di masyarakat. Upaya yang telah dilakukan yaitu melakukan research atau mencari referensi konten yang menarik untuk menjadi acuan dalam pengelolaan konten informasi sehingga akun instagram PPID lebih banyak interaksi (engagement). Namun hal ini dirasa masih belum maksimal. Maka perlu adanya kolaborasi dan inovasi-inovasi dalam pembuatan konten. Untuk itulah penelitian ini menjadi kajian yang menarik dengan aspek peranan humas berdasarkan penelitian yang dilakukan.