Claim Missing Document
Check
Articles

Sanksi Terhadap Pelaku Santet Dalam Hukum Pidana Indonesia I Ketut Sukadana; Gede Agus Widya Sasmita; Kade Richa Mulyawati
Jurnal Analogi Hukum Vol. 8 No. 1 (2026): Jurnal Analogi Hukum
Publisher : Fakultas Hukum Universitas Warmadewa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22225/jah.8.1.2026.56-62

Abstract

Tujuan penelitian ini untuk mengetahui lebih lanjut tentang pengaturan santet dalam hukum positif di Indonesia menurut KUHP baru karena sebelum KUHP baru tidak ada pengaturan delik santet lebih lanjut. Permasalahannya adalah 1). Bagaimanakah pengaturan santet menurut hukum pidana di Indonesia? Dan 2). Bagaimanakah sanksi terhadap pelaku santet menurut hukum pidana di Indonesia? Penelitian ini menggunakan tipe penelitian hukum normatif, menggunakan pendekatan perundang-undangan dan pendekatan konseptual. Negara secara eksplisit mengatur tindak pidana terkait santet melalui Pasal 252, yang menggantikan pengaturan implisit dalam Pasal 545-547 KUHP sebelumnya,. Pasal 252 Undang-Undang No. 1 tahun 2023 tentang KUHP menetapkan sanksi pidana bagi pelaku santet dengan hukuman penjara hingga 1 tahun 6 bulan dan/atau denda maksimal Rp. 200.000.000, yang dapat ditambah sepertiga jika dilakukan untuk keuntungan atau mata pencaharian tetap, sebagai upaya serius untuk menangani praktik gaib yang merugikan demi keamanan dan ketertiban masyarakat.
The Urgence of Writing Awig's Pararem in Increasing Community Legal Awareness in Traditional Village Pelem Gede, Tabanan I Ketut Sukadana; Luh Putu Suryani; Ni Made Puspasutari Ujianti; I Ketut Jika; Kadek Ayu Surya Dwi Utami
Community Service Journal of Law Vol. 2 No. 2 (2023): Community Service Journal of Law
Publisher : Fakultas Hukum, Universitas Warmadewa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22225/csjl.2.2.2023.66-71

Abstract

Desa Adat is a traditional village in Bali which has been autonomous since its inception. Each Traditional Village has its own management and assets, and has the authority to make rules, known as awig-awig and/or pararem. It turns out that the program partners do not yet have pararem panyahcah awig as rules for implementing awig-awig. By providing accessible and relevant information about legal rights, responsibilities, and processes, "Pararem Panyahcah Awig" equips community members with the knowledge they need to navigate legal matters effectively. s to emphasize the importance and necessity of documenting and disseminating the local customary laws, known as Awig's Pararem, within the context of the Traditional Village Pelem Gede in Tabanan. The method used in this service program is by: (1) giving lectures or legal counseling about the importance of a pararem panyahcah awig in life in a traditional village, (2) carrying out focus group discussions (FGD) on pararem drafts, and (3) provide assistance in making traditional village pararem. The result of this program activity is the compilation of an awig pararem with a total of 42 Pawos, in accordance with the awig-awig mandate set forth in Pawos-Pawos (article). With the pararem panyahcah awig, the community will be wiser in acting and behaving in their association in society. Therefore, it will indirectly increase legal awareness.
Writing Awig-Awig Pangkungkarung Gede Traditional Village, Tabanan, Bali I Ketut Sukadana; Ni Made Jaya Senastri; Luh Putu Suryani; I Made Yudhiantara; Mahadewi Mulia Gangga; Dewa Ayu Adhika Saraswati
Community Service Journal of Law Vol. 3 No. 1 (2024): Community Service Journal of Law
Publisher : Fakultas Hukum, Universitas Warmadewa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22225/csjl.3.1.2024.24-31

Abstract

The situation at the Mitra location does not yet have awig-awig as mandated by Bali Provincial Regulation Number 4 of 2019. The aim of this program is to empower the Traditional Village community so that they have a rule in the form of awig-awig. The method used in this service program is by: (1) giving lectures or legal counseling about the importance of awig-awig in life in Traditional Villages, (2) carrying out focus group discussions (FGD) about the design of awig-awig, and (3) provide assistance in the preparation of awig-awig of Traditional Villages. The results of this program activity are the formation of an awig-awig with a total of 59 Pawos (articles).
Assistance for Prisoners to Obtain Free Legal Aid at the Gianyar Detention Center Ni Made Sukaryati Karma; I Ketut Sukadana; I Made Aditya Mantara Putra; Kade Richa Mulyawati; Kadek Nadya Pramita Sari
Community Service Journal of Law Vol. 4 No. 1 (2025): Community Service Journal of Law
Publisher : Fakultas Hukum, Universitas Warmadewa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22225/csjl.4.1.2025.23-28

Abstract

Legal aid for the Indonesian people must be provided equally in accordance with the mandate of the 1945 Constitution of the Republic of Indonesia and the principles of equality before the law and the right to be represented by a lawyer, which are fundamental human rights. This right must be provided fairly, including to those who are less fortunate. For the less fortunate, this right is the responsibility of the state, which provides legal aid free of charge (Prodeo). The issue in society is the lack of awareness about their right to receive free legal aid (Prodeo) from the government. Additionally, the public is also unaware that legal organizations also have the duty to provide legal aid to the community. The legal education program conducted by the Warmadewa University Community Service Team aims to increase legal awareness regarding free legal aid and the procedures for obtaining this right, using methods such as lectures and question-and-answer discussions. This program is expected to enhance public knowledge so that individuals facing legal issues can be assisted by lawyers in resolving the legal problems they encounter.
Efforts to Improve Legal Compliance Through the Writing of the Awig Screening Pararems in the Dalem Yangapi Traditional Village I Ketut Sukadana; Ni Made Jaya Senastri; I Made Gianyar; Kadek Ayu Surya Dwi Utami; Ni Putu Putri Pebriyanti Apsari
Community Service Journal of Law Vol. 4 No. 1 (2025): Community Service Journal of Law
Publisher : Fakultas Hukum, Universitas Warmadewa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22225/csjl.4.1.2025.48-55

Abstract

One factor for good law enforcement is legal awareness and compliance with the law. Legal compliance can be achieved through the existence of good regulations. In Bali, Customary Villages (Desa Adat) are traditional villages in Bali that have autonomy in creating regulations. Each Customary Village has its own administrators and assets, and has the authority to create regulations, known as awig-awig and/or pararem. The situation of the program partners is that they do not yet have a pararem panyahcah awig as a regulation for implementing awig-awig. The goal of this program is to empower the Customary Village community so that they have a regulation in the form of a pararem panyahcah awig. The methods used in this community service program are: (1) providing lectures or legal counseling on the importance of a pararem panyahcah awig in life in a Customary Village, (2) conducting focus group discussions (FGDs) on the draft pararem, and (3) providing assistance in creating customary village pararem. The result of this program is the development of a set of 64 articles (pawos) to address customary law (adat), in accordance with the mandate of the customary law (adat) outlined in the articles.
SANKSI PIDANA PELAKU TINDAK PIDANA PEMERKOSAAN TERHADAP PENYANDANG DISABILITAS Ni Luh Sri Candra Yuni; Luh Putu Suryani; I Ketut Sukadana
Keadilan : Jurnal Fakultas Hukum Universitas Tulang Bawang Vol 24 No 2 (2026): Keadilan
Publisher : Fakultas Hukum Universitas Tulang Bawang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37090/y2qvnm78

Abstract

Kelompok penyandang disabilitas tergolong sebagai kelompok rentan yang membutuhkan jaminan perlindungan hukum secara khusus terhadap segala bentuk tindak kekerasan, khususnya kekerasan berdimensi seksual. Realitas kasus pemerkosaan yang menimpa penyandang disabilitas di Indonesia menunjukkan angka yang masih tinggi, mengindikasikan adanya kerentanan berlapis yang dialami kelompok tersebut. Pokok permasalahan yang dikaji dalam penelitian ini meliputi: 1) Bagaimanakah Pengaturan Hukum Pelaku Pemerkosaan Terhadap Penyandang Disabilitas? 2) Bagaimanakah Sanksi Pidana Pelaku Tindak Pidana Pemerkosaan Terhadap Penyandang Disabilitas? Penelitian ini menggunakan metode yuridis normatif dengan mengkaji peraturan perundang-undangan, pendekatan konseptual, serta kajian putusan pengadilan. Regulasi hukum bagi pelaku kejahatan pemerkosaan terhadap penyandang disabilitas termuat dalam peraturan perundang-undangan yaitu Pasal 6 huruf a serta Pasal 15 Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2022 tentang Tindak Pidana Kekerasan Seksual yang mengatur pemberatan hukuman sepertiga bagi pelaku yang korbannya merupakan penyandang disabilitas. Berdasarkan analisis Putusan Nomor 34/Pid.Sus/2025/PN Btl, majelis hakim memutuskan terdakwa dengan menjatuhkan hukuman berupa pidana penjara 8 tahun, pidana denda senilai Rp100.000.000,00 serta kewajiban membayar restitusi sejumlah Rp200.000.000,00. Penerapan sanksi pidana yang lebih berat tersebut menunjukkan keseriusan negara dalam mengayomi kelompok rentan serta menciptakan efek pencegahan terhadap pelaku tindak kekerasan seksual yang menargetkan penyandang disabilitas. Kata Kunci: Sanksi Pidana, Pemerkosaan, Penyandang Disabilitas, Kekerasan  Seksual.
SANKSI PIDANA PELAKU TINDAK PIDANA PEMERKOSAAN TERHADAP PENYANDANG DISABILITAS Ni Luh Sri Candra Yuni; Luh Putu Suryani; I Ketut Sukadana
Keadilan : Jurnal Fakultas Hukum Universitas Tulang Bawang Vol 24 No 2 (2026): Keadilan
Publisher : Fakultas Hukum Universitas Tulang Bawang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37090/y2qvnm78

Abstract

Kelompok penyandang disabilitas tergolong sebagai kelompok rentan yang membutuhkan jaminan perlindungan hukum secara khusus terhadap segala bentuk tindak kekerasan, khususnya kekerasan berdimensi seksual. Realitas kasus pemerkosaan yang menimpa penyandang disabilitas di Indonesia menunjukkan angka yang masih tinggi, mengindikasikan adanya kerentanan berlapis yang dialami kelompok tersebut. Pokok permasalahan yang dikaji dalam penelitian ini meliputi: 1) Bagaimanakah Pengaturan Hukum Pelaku Pemerkosaan Terhadap Penyandang Disabilitas? 2) Bagaimanakah Sanksi Pidana Pelaku Tindak Pidana Pemerkosaan Terhadap Penyandang Disabilitas? Penelitian ini menggunakan metode yuridis normatif dengan mengkaji peraturan perundang-undangan, pendekatan konseptual, serta kajian putusan pengadilan. Regulasi hukum bagi pelaku kejahatan pemerkosaan terhadap penyandang disabilitas termuat dalam peraturan perundang-undangan yaitu Pasal 6 huruf a serta Pasal 15 Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2022 tentang Tindak Pidana Kekerasan Seksual yang mengatur pemberatan hukuman sepertiga bagi pelaku yang korbannya merupakan penyandang disabilitas. Berdasarkan analisis Putusan Nomor 34/Pid.Sus/2025/PN Btl, majelis hakim memutuskan terdakwa dengan menjatuhkan hukuman berupa pidana penjara 8 tahun, pidana denda senilai Rp100.000.000,00 serta kewajiban membayar restitusi sejumlah Rp200.000.000,00. Penerapan sanksi pidana yang lebih berat tersebut menunjukkan keseriusan negara dalam mengayomi kelompok rentan serta menciptakan efek pencegahan terhadap pelaku tindak kekerasan seksual yang menargetkan penyandang disabilitas. Kata Kunci: Sanksi Pidana, Pemerkosaan, Penyandang Disabilitas, Kekerasan  Seksual.
Co-Authors A. A. Dwi Ani Agustini Agnes Geraldine Olga Supriyana Agus Suarnegara Amos Mokorros Antonius Yoseph Bou Cok Gede Suryanata Dewa Ayu Adhika Saraswati Dewi, A.A Sagung Laksmi Diah Gayatri Sudibya Diah Gayatri Sudibya Fransiska Maryl Agatha Gede Agus Darmawan Gede Agus Widya Sasmita Gede Andi Wiradharma Gusti Ayu Dewi Irna Yanthi Gusti Ngurah Agung Tresna Wangsa I Gede Bayu Ari Krishna I Gede Made Doni Pramana Putra I Kadek Wisnu Dwipayana Ariska I Ketut Jika I Ketut Widia I Komang Pande Rayana I Made Aditya Mantara Putra I Made Agus Widiana I Made Budiyasa I Made Gianyar I Made Handika Putra I Made Minggu Widyantara I Made Sepud I Made Suwitra I Made Suwitra, I Made I Made Yudhiantara I Nengah Laba I Nyoman Agus Suprapta I Nyoman Aji Duranegara Payuse I Nyoman Putu Budiartha I Nyoman Putu Budiartha I Nyoman Sujana I Nyoman Sutama I Putu Gian Favian Adhi Pradana I Wayan Bayu Suta I Wayan Diva Adi Pradipta I Wayan Wesna Astara Ida Ayu Adi Iin Yuliandari Ida Bagus Made Murda Soma Widya Ida Bagus Putra Mahardika Kade Richa Mulyawati Kadek Ayu Surya Dwi Utami Kadek Ayu Surya Dwi Utami Kadek Nadya Pramita Sari Kadek Yogi Pranata Mulyawan A Karinka Karma, Ni Made Sukaryati Ketut Adi Wirawan Luh Putu Suryani Luh Putu suryani Mahadewi Mulia Gangga Mulyawati, Kade Richa Ni Kadek Emy Kencana Wati Ni Kadek Oktaviani Ni Ketut Risya Dewi Calista Ni Komang Evic Triani Ni Luh Gede Astari Dewi Ni Luh Sri Candra Yuni Ni Made Jaya Senastri Ni Made Jaya Senastri Ni Made Puspasutari Ujianti Ni Made Puspasutari Ujianti Ni Made Sukaryati Karma Ni Nyoman Oktaviani Ni Putu Feggy Cintya Karna Ni Putu Putri Pebriyanti Apsari Ni Putu Yuni Purnamawati Putu Aditya Palguna Yoga Putu Agustina Mega Antari Putu Budiartha, I Nyoman Putu Suryani . Suryani, Luh Putu widia, ketut