Claim Missing Document
Check
Articles

Found 38 Documents
Search

Pendekatan Berpikir Sistem dalam Pencegahan Penyimpangan Orientasi Seksual Pada Remaja Putri Azzahroh; Helmi Helmi; Arni Amir; Adang Bachtiar; Firdawati Firdawati
Jurnal Penelitian Kesehatan SUARA FORIKES 2023
Publisher : FORIKES

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33846/sf14nk102

Abstract

The spread of LGBT groups is currently increasingly unstoppable and increasingly growing attacking Adolescent, where Adolescent are the nation's successor assets. If left unchecked, this crucial problem will trigger social change and trigger the emergence of a hedonic society that is immoral, permissive, and physically and psychologically ill. To fight sexual orientation deviation, a system thinking approach is needed as an effective control strategy, because the influence of system damage caused has an impact on various fields such as health, society, education, and religion. Through system thinking, a strategy is designed that is seen from the input, process, output, and feedback from the sexual orientation prevention system in the form of a sexual orientation prediction model to stem the flow of the massive LGBT movement and spread in Indonesia. The search for the root of the problem in screening adolescent sexual orientation deviations will use iceberg tools and mapped in Causal Loop diagrams. Knowing the root of the problem is an important key in screening, providing education, and therapy so that it suits the needs of each individual. This sexual orientation deviation prevention strategy is expected to be one of the KRR programs and to run effectively, it certainly requires the involvement of various parties, both families, community leaders, religious leaders, educators, health workers, and of course also control from the government as policyholders.Keywords: system thinking; adolescent; lgbt; sexual orientation deviations ABSTRAK Penyebaran kelompok LGBT saat ini semakin tidak terbendung dan semakin berkembang menyerang para remaja, dimana remaja merupakan aset penerus bangsa. Apabila dibiarkan, masalah krusial ini akan memicu perubahan sosial dan munculnya masyarakat hedonis yang amoral, permissif, dan sakit secara fisik maupun psikologis. Sebagai upaya melawan penyimpangan orientasi seksual dibutuhkan pendekatan berpikir sistem sebagai strategi pengendalian yang efektif, karena pengaruh kerusakan sistem yang ditimbulkan berdampak pada berbagai aspek seperti bidang kesehatan, sosial, pendidikan, dan keagamaan. Melalui berpikir sistem dirancang sebuah strategi yang dilihat dari input, proses, output, dan feedback dari sistem pencegahan penyimpangan orientasi seksual yaitu berupa model prediksi orientasi seksual untuk membendung arus massif gerakan dan penyebaran LGBT di Indonesia. Pencarian akar masalah dalam skrining penyimpangan orientasi seksual remaja akan menggunakan alat bantu iceberg tools dan dipetakan dalam Causal Loop Diagram. Diketahuinya akar masalah merupakan kunci penting dalam melakukan skrining, pemberian edukasi, dan terapi sehingga sesuai dengan kebutuhan masing-masing individu. Strategi pencegahan penyimpangan orientasi seksual ini diharapkan dapat menjadi salah satu program KRR dan agar dapat berjalan dengan efektif tentunya diperlukan keterlibatan dari berbagai pihak, baik keluarga, tokoh masyarakat, tokoh agama, tenaga pendidik, tenaga Kesehatan dan pastinya juga kontrol dari pemerintah sebagai pemegang kebijakan.Kata kunci: berpikir sistem; remaja; lgbt; penyimpangan orientasi seksual
The consumption of protein, zinc, and vitamin a associated with ferritin levels in pregnancy Siregar, Eka Darmayanti Putri; Amir, Arni; Irawati, Nuzulia
Jurnal Gizi dan Dietetik Indonesia (Indonesian Journal of Nutrition and Dietetics) VOLUME 10 ISSUE 3, 2022
Publisher : Alma Ata University Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21927/ijnd.2022.10(3).100-108

Abstract

 ABSTRAKLatar Belakang: Permasalahan gizi dalam kehamilan berupa defisiensi makronutrien, mikronutrien, dan anemia. Kejadian anemia defisiensi besi pada ibu hamil di Indonesia berdasarkan data WHO tahun 2019 dan Riskesdas 2018 adalah 44,2% dan 48,9%. Persentase kasus anemia pada ibu hamil di Sumatera Barat dan Kota Padang tahun 2019 adalah 18,10% dan 11,2% dengan penyebab antara lain defisiensi makronutrien dan mikronutrien dan pola konsumsi. Defisiensi besi dapat diidentifikasi dengan pemeriksaan kadar ferritin. Tujuan: Penelitian ini bertujuan mengetahui hubungan asupan protein, asupan zink, dan  vitamin A dengan kadar ferritin ibu hamil trimester III.Metode: Penelitian analitik cross sectional ini dilaksanakan di Puskesmas Lubuk Kilangan dan Laboratorium Biomedik Universitas Andalas pada November 2021-Juli 2022. Subjek penelitian sebanyak 64 orang ibu hamil trimester III dan teknik sampling menggunakan total sampling. Asupan protein, zink, dan vitamin A diperoleh melalui wawancara menggunakan kuesioner SQ-FFQ dan kadar ferritin diperiksa dengan metode ELISA. Uji normalitas data mengunakan Kolmogorov Smirnov sementara analisis bivariat dan multivariat menggunakan uji korelasi Pearson dan regresi linear (p<0,05). Hasil: Rerata asupan protein adalah 92.56 gr, asupan zink 7.35 mg, vitamin A 824,98 µgRE dan kadar ferritin 16,267 µg/L. Asupan protein (p=0,001; r= 0,714), zink (p=0,001; r=0,428) dan vitamin A (p=0,001; r=0,531) memiliki hubungan bermakna dengan kadar ferritin. Hasil uji regresi linear menunjukkan asupan protein merupakan factor yang paling berhubungan dengan kadar ferritin (p= 0,001; β=0,598).Kesimpulan: Penelitian ini menyimpulkan terdapat hubungan bermakna antara asupan protein, zink, dan vitamin A dengan kadar ferritin ibu hamil trimester III. Pada kelas ibu hamil perlu diberikan edukasi gizi mengenai jenis dan peran gizi dalam mencegah anemia dan defisiensi besi  KATA KUNCI: asupan protein;  ferritin; kehamilan; vitamin A; zink;   ABSTRACTBackground: Macronutrient and micronutrient deficiencies, as well as anemia, are nutritional issues during pregnancy. According to WHO in 2019 and Basic Health Research in 2018, 44.20% and 48.90% of pregnant women in Indonesia were anemic. In 2019 there were 18.10% and 11.20% respectively of pregnant women who were anemic in West Sumatra Province and Padang City. Macro and micronutrient deficiencies as well as poor eating habits were the main causes of anemia in pregnancy. A trustworthy sign to detect iron deficiency anemia was the ferritin level.Objectives: This research aimed to determine the association between protein, zinc, and vitamin A consumption  with ferritin level in third trimester of pregnancy.Methods: This analytical cross-sectional research was held in Lubuk Kilangan Health Center and the Biomedical Laboratory of Andalas University on November 2021-July 2022. The subject were 64 third trimester pregnant women. Protein, zinc, and vitamin A consumption were obtained by the SQ-FFQ questionnaire and the ferritin levels were examined by ELISA method. Normality test used Kolmogorov Smirnov. The bivariate and multivariate analysis used Pearson correlation and linear regression (p <0,05).Results: The mean level of protein, zinc, and vitamin A consumption  were 92.56 g, 7.35 mg and 824.98 µgRE and ferritin level 16.26 µg/L. Protein (p=0.001; r=0.771), zinc (p=0.001; r=0.428) and vitamin A consumption (p=0.001; r=0.531) were significantly associated with ferritin levels. The linear regression test revealed protein consumption was the most associated factor with ferritin levels (p = 0.001; β= 0.598).Conclusions: There was a significant association of protein, zinc, and vitamin A consumption with ferritin levels in third trimester of pregnancy. Nutritional education about the types and roles of nutrients should be given to pregnant women in the antenatal class to prevent anemia and iron deficiency. KEYWORD: ferritin; protein; pregnancy; vitamin A consumption; zinc
Elevation of miR-210 Expression and Mean Arterial Pressure as Early-onset Pre-eclampsia Biomarkers, while Elevation of Matrix Metalloproteinase-2 as Late-onset Pre-eclampsia Biomarker Nelvianti Nelson; Yusrawati Yusrawati; Joserizal Serudji; Jamsari Jamsari; Arni Amir; Afriwardi Afriwardi; Erry Gumilar
The Indonesian Biomedical Journal Vol 17, No 2 (2025)
Publisher : The Prodia Education and Research Institute (PERI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18585/inabj.v17i2.3490

Abstract

BACKGROUND: Pre-eclampsia has varying onset patterns, which are challenging to determine due to their association with diverse clinical parameters, including blood pressure regulation, vascular remodeling, and placental hypoxia. These parameters influence the expression of key biomarkers such as microRNAs, metalloproteinases, and arterial pressure indices. Therefore, understanding the associations is crucial for improving early diagnosis and management. This study was conducted to compare miR-210 expression, mean arterial pressure (MAP), and matrix metalloproteinase (MMP)-2 levels between early-onset pre-eclampsia (EOPE) and late-onset pre-eclampsia (LOPE).METHODS: Pregnant women with EOPE (20–34 weeks) and LOPE (35 weeks to term) were included in this cross-sectional comparative study, and their blood samples were collected. miR-210 expression was quantified with reverse transcription polymerase chain reaction (RT-PCR), MAP was measured using sphygmomanometer, while MMP-2 levels were measured using enzyme-linked immunosorbent assay (ELISA).RESULTS: miR-210 expression was more frequently observed in the EOPE group (87.5%) compared to the LOPE group (77.5%), with a significant difference identified between the two groups. The odds ratio for miR-210 expression in EOPE compared to LOPE was 2.03 (95% CI: 1.06–6.72). The MAP was notably higher in the EOPE group (121.15 mmHg) than in the LOPE group (116.15 mmHg), with a significant difference observed. Conversely, MMP-2 levels were significantly higher in the LOPE group (390.99 ng/mL) compared to the EOPE group (271.35 ng/mL).CONCLUSION: There are significant differences in miR-210 expression, MAP and MMP-2 between EOPE and LOPE. These findings suggest that miR-210, MAP, and MMP-2 could be useful biomarkers for distinguishing between EOPE and LOPE, potentially guiding more effective management and intervention strategies.KEYWORDS: miR-210, MAP, MMP-2, EOPE, LOPE, pre-eclampsia
Association between sugary beverage and unhealthy food consumption and stunting among children under five Maharani Permata Sari; Yusrawati Yusrawati; Afdal Afdal; Desmawati Desmawati; Arni Amir; Finny Fitry Yani
THE JOURNAL OF Mother and Child Health  Concerns Vol. 4 No. 11 (2026): February Edition
Publisher : Indonesian Public Health-Observer Information Forum (IPHORR) Kerjasama dengan Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56922/mchc.v4i11.2429

Abstract

Background: Stunting is a condition of growth failure in children under five caused by chronic malnutrition, resulting in children being too short for their age. Malnutrition occurs during the first one thousand (1000) days of life, starting from conception until the child reaches two years of age; however, the condition of stunting becomes visible after the child was two years old. The risk factors contributing to stunting are consumption of sweetendebeverage and unhealthy foods, such as snacks high in sugar, salt, and fat, as well as sweetened and carbonated drinks that are low in nutrients. Such dietary patterns can lead to an imbalance in the intake of macro- and micronutrients that play an important role in a child’s growth. Purpose: To analyze the relationship between the consumption of unhealthy foods and beverages and the incidence of stunting. Method: This study was an analytic observational with a retrospective case control design. The sample in this study were mothers who had toddlers aged 24-48 months with case and control groups. The total sample in this study was 138 with an unpaired categorical comparative formula. The sampling method in the case group was directly carried out by consecutive sampling, while in the control group it was carried out by proportional sampling first and then taken by consecutive sampling. Results: The results of this study show that there were no relationship between the consumption of sweetened beverage (p = 0.232) and the consumption of unhealthy foods (p = 0.086) with the incidence of stunting in the working area of Pagambiran Public Health Center, Padang City (p-value < 0.05). Conslusion: The conclusion of this study are that there are no relationship between the consumption of sweetened beverage consumption and the incidence of stunting in the working area of Pagambiran Public Health Center, as well as no relationship between the consumption of unhealthy foods and the incidence of stunting in the same area
Pendekatan Kuantitatif dan Kualitatif: Pengaruh Peer Educator Berbasis Health Belief Model terhadap Persepsi Pendewasaan Usia Perkawinan Shinta Sari; Aladin Aladin; Arni Amir
Jurnal Ners Vol. 10 No. 3 (2026): JULI 2026
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jn.v10i3.58528

Abstract

Abstrak Pendewasaan usia perkawinan (PUP) merupakan strategi penting mencegah perkawinan anak dan kehamilan remaja yang berdampak pada kesehatan, sosial, dan ekonomi. Persepsi remaja berperan dalam pengambilan keputusan terkait perkawinan. Penelitian ini bertujuan menganalisis pengaruh peer educator berbasis Health Belief Model (HBM) terhadap persepsi remaja tentang PUP serta mengeksplorasi makna perubahan persepsi secara kualitatif. Desain mixed method sequential explanatory digunakan, dengan kuantitatif quasi-experiment one group pretest-posttest pada 58 remaja putri kelas XI SMAN 5 Padang yang dipilih secara simple random sampling, dan kualitatif melalui wawancara mendalam serta triangulasi pakar. Data kuantitatif dianalisis dengan uji dependent t-test, data kualitatif dianalisis secara tematik. Hasil univariat menunjukkan peningkatan rerata skor total persepsi dari 87,38 (SD=9,65) menjadi 113,66 (SD=5,77). Hasil bivariat menunjukkan perbedaan bermakna pada seluruh komponen HBM: perceived susceptibility (p=0,000), perceived severity (p=0,000), perceived benefits (p=0,000), perceived barriers (p=0,000), cues to action (p=0,000), dan self-efficacy (p=0,000). Analisis tematik kualitatif menghasilkan enam tema utama yang memperkuat temuan kuantitatif. Edukasi teman sebaya dirasakan lebih nyaman, relevan, dan tidak menghakimi. Pakar memvalidasi efektivitas pendekatan sebaya namun merekomendasikan evaluasi jangka panjang 1–3 bulan. Disimpulkan bahwa peer educator berbasis HBM efektif membentuk persepsi protektif terhadap PUP sebagai tahap awal perubahan perilaku. Kata Kunci: pendewasaan usia perkawinan, peer educator, Health Belief Model, persepsi remaja, pendidikan sebaya Abstract Maturation of marriage age (PUP) is a crucial strategy to prevent child marriage and adolescent pregnancy, impacting health, social, and economic aspects. Adolescent perceptions play an important role in marriage-related decision-making. This study aimed to analyze the effect of Health Belief Model (HBM)-based peer education on adolescents' perceptions of PUP and to qualitatively explore the meaning of these perceptual changes. A sequential explanatory mixed methods design was employed. The quantitative component used a quasi-experimental one-group pretest-posttest design with 58 eleventh-grade female students selected through simple random sampling at SMAN 5 Padang. The qualitative component involved in-depth interviews and expert triangulation. Quantitative data were analyzed using dependent t-test, and qualitative data were analyzed thematically. Univariate results showed an increase in the total mean perception score from 87.38 (SD=9.65) to 113.66 (SD=5.77). Bivariate analysis revealed significant differences in all HBM constructs: perceived susceptibility (p=0.000), perceived severity (p=0.000), perceived benefits (p=0.000), perceived barriers (p=0.000), cues to action (p=0.000), and self-efficacy (p=0.000). Thematic analysis produced six main themes reinforcing the quantitative findings. Peer education was perceived as more comfortable, relevant, and non-judgmental. The expert validated the effectiveness of the peer approach but recommended a 1–3 month long-term evaluation. It was concluded that HBM-based peer education effectively fosters protective perceptions of PUP as an initial stage of behavior change. Keywords: maturation of marriage age, peer educator, Health Belief Model, adolescent perception, peer education
SILASE RUMPUT GAJAH DAN AMONIASI JERAMI SEBAGAI PAKAN TERNAK SAPI POTONG UNTUK MENINGKATAN PEREKONOMIAN MASYARAKAT DI KELOMPOK TANI BANDA GADANG , PADANG PARIAMAN Evitayani Evitayani; Novirman Jamarun; Arni Amir; Rusmana Setia Ningrat; Ferry Lismanto; Hajime Kumagai; Tri Astuti; Bela Putra
Community Development Journal : Jurnal Pengabdian Masyarakat Vol. 6 No. 1 (2025): Volume 6 No. 1 Tahun 2025
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/cdj.v6i1.42017

Abstract

Program Pengabdian Kepada Masyarakat ini bertujuan meningkatkan perekonomian peternak di Kelompok Tani Banda Gadang, Padang Pariaman, melalui inovasi pakan ternak berbasis silase rumput gajah dengan teknologi Fungi Mikoriza Arbuskula (FMA) dan amoniasi jerami padi. Teknologi ini mampu menyediakan pakan berkualitas tinggi secara berkelanjutan dengan memanfaatkan bahan lokal yang mudah dijangkau oleh peternak. Melalui program ini, dilakukan berbagai kegiatan mulai dari sosialisasi teknologi, pelatihan pembuatan silase dan amoniasi, hingga implementasi teknologi secara langsung pada sapi potong. Evaluasi program menunjukkan peningkatan performa ternak, terutama dalam penambahan bobot badan harian yang signifikan. Program ini diharapkan dapat mendukung keberlanjutan usaha peternakan sapi potong, sekaligus berkontribusi pada pencapaian program swasembada daging nasional pada tahun 2034. Selain itu, program ini juga memberikan manfaat tambahan berupa peningkatan pengetahuan peternak dalam manajemen pakan ternak secara efisien.
Pemberdayaan Masyarakat Melalui Manajemen Asuhan Kebidanan Komunitas di Wilayah Kerja Puskesmas Pengambiran, Kelurahan Kampung Jua Nan XX, Kecamatan Lubuk Begalung Kota Padang Arni Amir; Yulizawati Yulizawati; Mainiati Mainiati; Mutiara Miftahul Jannah; Sakina Munira; Haritsa Dwi Andriani
JDISTIRA - Jurnal Pengabdian Inovasi dan Teknologi Kepada Masyarakat Vol. 6 No. 1 (2026)
Publisher : Yayasan Rahmatan Fidunya Wal Akhirah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58794/jdt.v6i1.1701

Abstract

Cakupan Imunisasi Dasar Lengkap (IDL) di Indonesia, khususnya di Sumatra Barat, mengalami kemunduran signifikan pasca pandemi COVID-19, meningkatkan risiko Kejadian Luar Biasa (KLB). Rendahnya cakupan imunisasi di Kelurahan Kampung Jua Nan XX, Kota Padang, yang hanya 58,3%, memerlukan intervensi segera melalui pendekatan yang komprehensif. Manajemen Asuhan Kebidanan Komunitas bertujuan untuk mengidentifikasi akar permasalahan dan meningkatkan cakupan imunisasi di wilayah tersebut. Metode pelaksanaan menggunakan pendekatan Manajemen Kebidanan Komunitas yang terdiri dari pengkajian, analisis data, perumusan diagnosis komunitas, perencanaan (POA), implementasi, dan evaluasi. Pengumpulan data dilakukan melalui wawancara mendalam dan observasi terhadap 139 kepala keluarga. Intervensi utama meliputi konseling dan penyuluhan intensif, pemberdayaan masyarakat dengan melibatkan tokoh agama dan kader, pemanfaatan grup WhatsApp untuk sistem recall, serta pelaksanaan layanan imunisasi langsung (action-oriented approach). Analisis akar masalah mengidentifikasi faktor penghambat utama, yaitu misinformasi, kecemasan akan efek samping (KIPI), dan peran dominan suami dalam pengambilan keputusan. Hasil ntervensi yang dilakukan berhasil meningkatkan partisipasi masyarakat. Sebanyak 15 anak berhasil diimunisasi pada hari yang sama setelah penyuluhan, menunjukkan peningkatan kesadaran dan perubahan perilaku. Pesan kesehatan juga diperkuat dengan pemasangan poster edukatif di titik strategis. Kesimpulannya, Manajemen Asuhan Kebidanan Komunitas terbukti efektif sebagai strategi untuk meningkatkan cakupan imunisasi. Pendekatan holistik yang menggabungkan edukasi, pemberdayaan masyarakat, dan kolaborasi lintas sektor berhasil mengatasi hambatan multidimensi. Kegiatan ini merekomendasikan pendekatan serupa untuk diterapkan di daerah dengan tantangan serupa guna mendukung pencapaian target kesehatan nasional.
ANALYSIS OF L-Asparaginase II ENZYME ACTIVITY FROM NATIVE AND RECOMBINANT Escherichia coli DH10B FOR THE APPLICATION OF ACUTE LYMPHOBLASTIC LEUKAEMIA THERAPY Keysha Putri Febiona; Dian Pertiwi; Arni Amir; Lily Syukriani; Dessy Arisanty; Almurdi Almurdi; Lisana Shiddiqin Aliya; Jamsari Jamsari
Jurnal Bioteknologi & Biosains Indonesia (JBBI) Vol. 13 No. 1 (2026)
Publisher : BRIN - Badan Riset dan Inovasi Nasional

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Acute Lymphoblastic Leukemia (ALL) is a blood cancer that occurs due to abnormal proliferation of lymphoid progenitor cells. L-asparaginase II is an enzyme used to treat this disease by inducing apoptosis in cancer cells encoded by the AnsB gene. Previous studies have shown complications and toxicity in commercial L-asparaginase, necessitating exploration of L-asparaginase sources. Serratia plymuthica UBCF_13 is one of the microorganisms that encodes the AnsB gene. This study consisted of inoculation of native E. coli DH10B and E. coli DH10B pET28a(+)_AnsB, molecular validation, enzyme activity testing using direct nesslerisation method, and analysis of extracellular and intracellular protein profiles using SDS-PAGE. Enzyme activity and protein profiles were compared with S. plymuthica UBCF_13, and Isopropyl β-D-1-thiogalactopyranoside (IPTG) induction was performed on each bacteria as a comparison. The results showed the highest L-asparaginase II enzyme activity in E. coli DH10B pET28a(+)_AnsB induced with IPTG with an average enzyme activity of 0.392 ± 0.017 U/mL. Protein profile analysis using SDS-PAGE supported this finding, showing a thicker 36.5 kDa protein band compared to other bacteria. Statistical testing using One Way ANOVA showed a significant difference in L-asparaginase II enzyme activity in native E. coli DH10B and E. coli DH10B pET28a(+)_AnsB. It can be concluded that there was an increase in activity in recombinant E. coli DH10B compared to its native.
ANALYSIS OF L-Asparaginase II ENZYME ACTIVITY FROM NATIVE AND RECOMBINANT Escherichia coli DH10B FOR THE APPLICATION OF ACUTE LYMPHOBLASTIC LEUKAEMIA THERAPY Keysha Putri Febiona; Dian Pertiwi; Arni Amir; Lily Syukriani; Dessy Arisanty; Almurdi Almurdi; Lisana Shiddiqin Aliya; Jamsari Jamsari
Jurnal Bioteknologi & Biosains Indonesia (JBBI) Vol. 13 No. 1 (2026)
Publisher : BRIN - Badan Riset dan Inovasi Nasional

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Acute Lymphoblastic Leukemia (ALL) is a blood cancer that occurs due to abnormal proliferation of lymphoid progenitor cells. L-asparaginase II is an enzyme used to treat this disease by inducing apoptosis in cancer cells encoded by the AnsB gene. Previous studies have shown complications and toxicity in commercial L-asparaginase, necessitating exploration of L-asparaginase sources. Serratia plymuthica UBCF_13 is one of the microorganisms that encodes the AnsB gene. This study consisted of inoculation of native E. coli DH10B and E. coli DH10B pET28a(+)_AnsB, molecular validation, enzyme activity testing using direct nesslerisation method, and analysis of extracellular and intracellular protein profiles using SDS-PAGE. Enzyme activity and protein profiles were compared with S. plymuthica UBCF_13, and Isopropyl β-D-1-thiogalactopyranoside (IPTG) induction was performed on each bacteria as a comparison. The results showed the highest L-asparaginase II enzyme activity in E. coli DH10B pET28a(+)_AnsB induced with IPTG with an average enzyme activity of 0.392 ± 0.017 U/mL. Protein profile analysis using SDS-PAGE supported this finding, showing a thicker 36.5 kDa protein band compared to other bacteria. Statistical testing using One Way ANOVA showed a significant difference in L-asparaginase II enzyme activity in native E. coli DH10B and E. coli DH10B pET28a(+)_AnsB. It can be concluded that there was an increase in activity in recombinant E. coli DH10B compared to its native.
HUBUNGAN RIWAYAT BBLR DAN PEMBERIAN ASI EKSKLUSIF DENGAN KEJADIAN STUNTING PADA ANAK USIA 24-59 BULAN DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS DADOK TUNGGUL HITAM Ochy Putri; Arni Amir; Henni Fitria; Desmawati; Erda Mutiara Halida; Fitrayeni
JUBIDA- Jurnal Kebidanan Vol. 5 No. 1 (2026)
Publisher : Yayasan Rahmatan Fidunya Wal Akhirah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58794/jubida.v5i1.1919

Abstract

Latar belakang: Stunting merupakan kondisi gagal tumbuh pada anak akibat kekurangan gizi kronis yang terjadi dalam 1.000 hari pertama kehidupan. World Health Organization (WHO) tahun 2023 menyatakan tahun 2022 terdapat 148,1 juta anak di bawah usia lima tahun yang mengalami stunting. Faktor risiko utama yang berkontribusi dengan kejadian stunting yaitu riwayat BBLR dan pemberian ASI eksklusif. Tujuan penelitian: Untuk menganalisis hubungan antara riwayat BBLR dan pemberian ASI eksklusif dengan kejadian stunting pada balita. Metode: Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dengan desain cross-sectional yang dilaksanakan di wilayah kerja Puskesmas Dadok Tunggul Hitam Kota Padang pada bulan Desember 2024 - Maret 2025. Sampel penelitian terdiri dari 103 ibu yang memiliki anak usia 24–59 bulan. Analisis data dilakukan secara univariat dan bivariat menggunakan uji chi-square dan Fisher exact test dengan tingkat signifikansi p<0,05. Hasil: Hasil analisis bivariat menunjukkan ada hubungan antara riwayat BBLR dengan kejadian stunting dianalisis menggunakan uji Fisher exact test (p=0,03) karena pada uji chi-square diperoleh nilai expected count <5. Terdapat hubungan antara riwayat pemberian ASI eksklusif dengan kejadian stunting (p=0,029). Terdapat hubungan yang signifikan antara riwayat BBLR dan pemberian ASI eksklusif dengan kejadian stunting (p<0,05). Simpulan: Terdapat hubungan antara riwayat berat badan lahir rendah dan pemberian ASI eksklusif dengan kejadian stunting pada anak usia 24-59 bulan.  
Co-Authors - Evitayani Adang Bachtiar Afdal, Afdal Afriwardi Afriwardi AHMAD ZULVA JUNIARTO Aladin Aladin Almurdi Almurdi Arib M. Jahfal Atikah Permata Yevan Bela Putra Citra Dewi Anitasari Citra Manela Darmayanti Siregar Defrin Defrin Defrin Defrin Delvina, Visti Desmawati Desmawati Dessy Arisanty Dian Pertiwi Dolly Irvandy efrida efrida Elmatris Syamsir Endri Yani Erda Mutiara Halida Ermawati Ermawati Ermawati Ermawati Erry Gumilar Eryati Darwin ERYATI DARWIN Etriyel Myh Eva Chundrayetti Fachzi Fitri Fatma Sri Wahyuni Ferry Lismanto Finny Fitry Yani Firdawati Firdawati Fitrahul Afifah Fitrayeni Fitrayeni Fitria, Henni Hajime Kumagai Haritsa Dwi Andriani Hasanalita, Hasanalita Hasmiwati Helmi Helmi Hudilla Rifa Karmia Husna Yetti Husni Iis Dahlia Indra Ihsan Insani, Aldina Ayunda Jamsari Jamsari Joserizal Serudji Keysha Putri Febiona Lily Syukriani Lisana Shiddiqin Aliya Lisma Evareny M. Rifqi Anugrah Maharani Permata Sari Mainiati Mainiati Malinda Meinapuri Masrul Djalal Miranie Safaringga Muhammad Afif Furqan Muhammad Farhan Hendry Mutia Lailani Mutiara Miftahul Jannah Nelvianti Nelson Netti Suharti Nice Rachmawati Masnadi Novirman Jamarun Nur Indrawaty Lipoeto Nurhayati, Nurhayati Nuzulia Irawati Ochy Putri Putri Azzahroh Rahmani Welan Rahmatul Ulya Rahmi Junaida Ravenna Salva Zahira Rendi Aulia Rina Oktaviana Rufi'i Rusmana Setia Ningrat Sakina Munira Satria, Epi Shinta Sari Silvi Zaimy Siregar, Eka Darmayanti Putri Sri Juleli Sakerebau Sri Oktavia Susanti, Oknovia Susmiati Susmiati TITIN DEWI SARTIKA SILABAN Tiyan Febriyani Lestari Tri Astuti Vaulinne Basyir Vaulinne Vaulinne VISTI DELVINA Visti Delvina Yaslinda Yaunin Yesi Anggriani Yolanda Dwi Santi Violentina Yollanda Dwi Santi Violentina Yulizawati . Yuniar Lestari Yusrawati Yusrawati Yustini Alioes