Claim Missing Document
Check
Articles

Found 24 Documents
Search

Association between sugary beverage and unhealthy food consumption and stunting among children under five Maharani Permata Sari; Yusrawati Yusrawati; Afdal Afdal; Desmawati Desmawati; Arni Amir; Finny Fitry Yani
THE JOURNAL OF Mother and Child Health  Concerns Vol. 4 No. 11 (2026): February Edition
Publisher : Indonesian Public Health-Observer Information Forum (IPHORR) Kerjasama dengan Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56922/mchc.v4i11.2429

Abstract

Background: Stunting is a condition of growth failure in children under five caused by chronic malnutrition, resulting in children being too short for their age. Malnutrition occurs during the first one thousand (1000) days of life, starting from conception until the child reaches two years of age; however, the condition of stunting becomes visible after the child was two years old. The risk factors contributing to stunting are consumption of sweetendebeverage and unhealthy foods, such as snacks high in sugar, salt, and fat, as well as sweetened and carbonated drinks that are low in nutrients. Such dietary patterns can lead to an imbalance in the intake of macro- and micronutrients that play an important role in a child’s growth. Purpose: To analyze the relationship between the consumption of unhealthy foods and beverages and the incidence of stunting. Method: This study was an analytic observational with a retrospective case control design. The sample in this study were mothers who had toddlers aged 24-48 months with case and control groups. The total sample in this study was 138 with an unpaired categorical comparative formula. The sampling method in the case group was directly carried out by consecutive sampling, while in the control group it was carried out by proportional sampling first and then taken by consecutive sampling. Results: The results of this study show that there were no relationship between the consumption of sweetened beverage (p = 0.232) and the consumption of unhealthy foods (p = 0.086) with the incidence of stunting in the working area of Pagambiran Public Health Center, Padang City (p-value < 0.05). Conslusion: The conclusion of this study are that there are no relationship between the consumption of sweetened beverage consumption and the incidence of stunting in the working area of Pagambiran Public Health Center, as well as no relationship between the consumption of unhealthy foods and the incidence of stunting in the same area
Pendekatan Kuantitatif dan Kualitatif: Pengaruh Peer Educator Berbasis Health Belief Model terhadap Persepsi Pendewasaan Usia Perkawinan Shinta Sari; Aladin Aladin; Arni Amir
Jurnal Ners Vol. 10 No. 3 (2026)
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jn.v10i3.58528

Abstract

Abstrak Pendewasaan usia perkawinan (PUP) merupakan strategi penting mencegah perkawinan anak dan kehamilan remaja yang berdampak pada kesehatan, sosial, dan ekonomi. Persepsi remaja berperan dalam pengambilan keputusan terkait perkawinan. Penelitian ini bertujuan menganalisis pengaruh peer educator berbasis Health Belief Model (HBM) terhadap persepsi remaja tentang PUP serta mengeksplorasi makna perubahan persepsi secara kualitatif. Desain mixed method sequential explanatory digunakan, dengan kuantitatif quasi-experiment one group pretest-posttest pada 58 remaja putri kelas XI SMAN 5 Padang yang dipilih secara simple random sampling, dan kualitatif melalui wawancara mendalam serta triangulasi pakar. Data kuantitatif dianalisis dengan uji dependent t-test, data kualitatif dianalisis secara tematik. Hasil univariat menunjukkan peningkatan rerata skor total persepsi dari 87,38 (SD=9,65) menjadi 113,66 (SD=5,77). Hasil bivariat menunjukkan perbedaan bermakna pada seluruh komponen HBM: perceived susceptibility (p=0,000), perceived severity (p=0,000), perceived benefits (p=0,000), perceived barriers (p=0,000), cues to action (p=0,000), dan self-efficacy (p=0,000). Analisis tematik kualitatif menghasilkan enam tema utama yang memperkuat temuan kuantitatif. Edukasi teman sebaya dirasakan lebih nyaman, relevan, dan tidak menghakimi. Pakar memvalidasi efektivitas pendekatan sebaya namun merekomendasikan evaluasi jangka panjang 1–3 bulan. Disimpulkan bahwa peer educator berbasis HBM efektif membentuk persepsi protektif terhadap PUP sebagai tahap awal perubahan perilaku. Kata Kunci: pendewasaan usia perkawinan, peer educator, Health Belief Model, persepsi remaja, pendidikan sebaya Abstract Maturation of marriage age (PUP) is a crucial strategy to prevent child marriage and adolescent pregnancy, impacting health, social, and economic aspects. Adolescent perceptions play an important role in marriage-related decision-making. This study aimed to analyze the effect of Health Belief Model (HBM)-based peer education on adolescents' perceptions of PUP and to qualitatively explore the meaning of these perceptual changes. A sequential explanatory mixed methods design was employed. The quantitative component used a quasi-experimental one-group pretest-posttest design with 58 eleventh-grade female students selected through simple random sampling at SMAN 5 Padang. The qualitative component involved in-depth interviews and expert triangulation. Quantitative data were analyzed using dependent t-test, and qualitative data were analyzed thematically. Univariate results showed an increase in the total mean perception score from 87.38 (SD=9.65) to 113.66 (SD=5.77). Bivariate analysis revealed significant differences in all HBM constructs: perceived susceptibility (p=0.000), perceived severity (p=0.000), perceived benefits (p=0.000), perceived barriers (p=0.000), cues to action (p=0.000), and self-efficacy (p=0.000). Thematic analysis produced six main themes reinforcing the quantitative findings. Peer education was perceived as more comfortable, relevant, and non-judgmental. The expert validated the effectiveness of the peer approach but recommended a 1–3 month long-term evaluation. It was concluded that HBM-based peer education effectively fosters protective perceptions of PUP as an initial stage of behavior change. Keywords: maturation of marriage age, peer educator, Health Belief Model, adolescent perception, peer education
SILASE RUMPUT GAJAH DAN AMONIASI JERAMI SEBAGAI PAKAN TERNAK SAPI POTONG UNTUK MENINGKATAN PEREKONOMIAN MASYARAKAT DI KELOMPOK TANI BANDA GADANG , PADANG PARIAMAN Evitayani Evitayani; Novirman Jamarun; Arni Amir; Rusmana Setia Ningrat; Ferry Lismanto; Hajime Kumagai; Tri Astuti; Bela Putra
Community Development Journal : Jurnal Pengabdian Masyarakat Vol. 6 No. 1 (2025): Volume 6 No. 1 Tahun 2025
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/cdj.v6i1.42017

Abstract

Program Pengabdian Kepada Masyarakat ini bertujuan meningkatkan perekonomian peternak di Kelompok Tani Banda Gadang, Padang Pariaman, melalui inovasi pakan ternak berbasis silase rumput gajah dengan teknologi Fungi Mikoriza Arbuskula (FMA) dan amoniasi jerami padi. Teknologi ini mampu menyediakan pakan berkualitas tinggi secara berkelanjutan dengan memanfaatkan bahan lokal yang mudah dijangkau oleh peternak. Melalui program ini, dilakukan berbagai kegiatan mulai dari sosialisasi teknologi, pelatihan pembuatan silase dan amoniasi, hingga implementasi teknologi secara langsung pada sapi potong. Evaluasi program menunjukkan peningkatan performa ternak, terutama dalam penambahan bobot badan harian yang signifikan. Program ini diharapkan dapat mendukung keberlanjutan usaha peternakan sapi potong, sekaligus berkontribusi pada pencapaian program swasembada daging nasional pada tahun 2034. Selain itu, program ini juga memberikan manfaat tambahan berupa peningkatan pengetahuan peternak dalam manajemen pakan ternak secara efisien.
Pemberdayaan Masyarakat Melalui Manajemen Asuhan Kebidanan Komunitas di Wilayah Kerja Puskesmas Pengambiran, Kelurahan Kampung Jua Nan XX, Kecamatan Lubuk Begalung Kota Padang Arni Amir; Yulizawati Yulizawati; Mainiati Mainiati; Mutiara Miftahul Jannah; Sakina Munira; Haritsa Dwi Andriani
JDISTIRA - Jurnal Pengabdian Inovasi dan Teknologi Kepada Masyarakat Vol. 6 No. 1 (2026)
Publisher : Yayasan Rahmatan Fidunya Wal Akhirah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58794/jdt.v6i1.1701

Abstract

Cakupan Imunisasi Dasar Lengkap (IDL) di Indonesia, khususnya di Sumatra Barat, mengalami kemunduran signifikan pasca pandemi COVID-19, meningkatkan risiko Kejadian Luar Biasa (KLB). Rendahnya cakupan imunisasi di Kelurahan Kampung Jua Nan XX, Kota Padang, yang hanya 58,3%, memerlukan intervensi segera melalui pendekatan yang komprehensif. Manajemen Asuhan Kebidanan Komunitas bertujuan untuk mengidentifikasi akar permasalahan dan meningkatkan cakupan imunisasi di wilayah tersebut. Metode pelaksanaan menggunakan pendekatan Manajemen Kebidanan Komunitas yang terdiri dari pengkajian, analisis data, perumusan diagnosis komunitas, perencanaan (POA), implementasi, dan evaluasi. Pengumpulan data dilakukan melalui wawancara mendalam dan observasi terhadap 139 kepala keluarga. Intervensi utama meliputi konseling dan penyuluhan intensif, pemberdayaan masyarakat dengan melibatkan tokoh agama dan kader, pemanfaatan grup WhatsApp untuk sistem recall, serta pelaksanaan layanan imunisasi langsung (action-oriented approach). Analisis akar masalah mengidentifikasi faktor penghambat utama, yaitu misinformasi, kecemasan akan efek samping (KIPI), dan peran dominan suami dalam pengambilan keputusan. Hasil ntervensi yang dilakukan berhasil meningkatkan partisipasi masyarakat. Sebanyak 15 anak berhasil diimunisasi pada hari yang sama setelah penyuluhan, menunjukkan peningkatan kesadaran dan perubahan perilaku. Pesan kesehatan juga diperkuat dengan pemasangan poster edukatif di titik strategis. Kesimpulannya, Manajemen Asuhan Kebidanan Komunitas terbukti efektif sebagai strategi untuk meningkatkan cakupan imunisasi. Pendekatan holistik yang menggabungkan edukasi, pemberdayaan masyarakat, dan kolaborasi lintas sektor berhasil mengatasi hambatan multidimensi. Kegiatan ini merekomendasikan pendekatan serupa untuk diterapkan di daerah dengan tantangan serupa guna mendukung pencapaian target kesehatan nasional.