Jose RL Batubara
Departemen Ilmu Kesehatan Anak Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia

Published : 36 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 19 Documents
Search
Journal : Sari Pediatri

Karakteristik Sindrom Turner di Jakarta I M Arimbawa; Jose RL Batubara; Bambang Tridjaya AAP; Aman B Pulungan
Sari Pediatri Vol 9, No 6 (2008)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp9.6.2008.386-90

Abstract

Latar belakang. Sindrom Turner adalah kumpulan gejala dengan karakteristik fisik dan hilangnya satukromosom X baik secara komplit maupun parsial, dan sering pula berupa sel mosaik.Tujuan. Untuk mengetahui karakteristik pasien sindrom Turner yang meliputi kariotip, umur saatdiagnosis, perawakan, kelainan penyerta, status pubertas, kadar follicle stimulating hormone (FSH), danusia tulang.Metode. Penelitian merupakan studi deskriptif. Data diperoleh dari Perkumpulan Turner Jakarta dancatatan medik pasien yang berkunjung ke Poliklinik Endokrin Anak RSCM dari tahun 1997-2006.Hasil. Dari 20 kasus yang berhasil dikumpulkan, 17 di antaranya dengan kariotip 45,X, sisanya mosaik.Rerata umur saat diagnosis adalah 7,75 tahun (rentang 0-15 tahun); rerata berat lahir 2590 gram; perawakanpendek 18 pasien (18/20). Terdapat 8 pasien dengan kelainan penyerta yaitu 4 anak kelainan jantung, 3gangguan telinga, dan 1 orang dengan hipertensi. Saat diagnosis tujuh pasien, mengalami pubertas terlambat.Rerata kadar FSH dari 16 pasien adalah 82,94 IU/liter (rentang 13,8-188 IU/liter). Data usia tulang (16pasien) menunjukkan retarded (11 pasien), dan sisanya average.Kesimpulan. Pada penelitian ini karakteristik utama sindrom Turner adalah kariotip 45,X dengankarakteristik fisik perawakan pendek dan pubertas terlambat disertai kelainan penyerta
Peran Instrumen Modifikasi Tes Daya Dengar sebagai Alat Skrining Gangguan Pendengaran pada Bayi Risiko Tinggi Usia 0-6 Bulan Rini Andriani; Rini Sekartini; Ronny Suwento; Jose RL Batubara
Sari Pediatri Vol 12, No 3 (2010)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (143.56 KB) | DOI: 10.14238/sp12.3.2010.174-83

Abstract

Latar belakang. Gangguan pendengaran pada bayi dapat menghambat perkembangan bicara, bahasa, dankemampuan kognitif. Identifikasi dan intervensi segera dengan program skrining akan mencegah konsekuensitersebut. Pemeriksaan elektrofisiologi merupakan alat skrining yang direkomendasikan namun memerlukanalat khusus, biaya dan tenaga ahli, sehingga diperlukan kuesioner pendengaran (hearing checklist) sebagaialat skrining. Departemen Kesehatan Republik Indonesia mengeluarkan instrumen tes daya dengar sebagaialat skrining gangguan pendengaran yang kemudian dimodifikasi pada tahun 2005.Tujuan. Membandingkan sensitivitas dan spesifisitas instrumen modifikasi tes daya dengar (MTDD) dengan bakuemas pemeriksaan skrining pendengaran yaitu distortion-product otoacoustic emission (DPOAE) dan AABR.Metode. Studi potong-lintang di RSCM pada bayi usia 0-6 bulan dengan satu atau lebih faktor risikoseperti riwayat keluarga dengan tuli bawaan, infeksi TORCH, prematuritas, berat badan lahir rendah,hiperbilirubinemia dengan terapi sinar atau transfusi tukar, sepsis awitan lambat dan meningitis, nilai skorApgar rendah, distress pernapasan, pemakaian alat bantu napas dan pemakaian obat yang bersifat ototoksikselama lebih dari 5 hari. Subjek dilakukan pemeriksaan fisis, pertumbuhan dan perkembangan, MTDD,DPOAE dan AABR.Hasil. Enam puluh subjek diperoleh ikut dalam penelitian, lelaki lebih banyak dengan rasio 1,1:1. Sebagianbesar subjek merupakan anak pertama (38,3%), diasuh oleh orangtua (60%) dan memiliki 􀁴3 faktor risiko(70%). Pemakaian obat yang bersifat ototoksik (76,7%) merupakan faktor risiko terbanyak. Prevalensigangguan pendengaran berdasarkan MTDD 63,3% sedangkan kombinasi DPOAE dan AABR 11,7%. Umursubjek merupakan faktor yang secara bermakna mempengaruhi hasil MTDD (nilai p=0,032). Sensitivitasdan spesifisitas MTDD berturut-turut 85,7% dan 39,6%.Kesimpulan. Instrumen MTDD bukan merupakan alat skrining pendengaran yang ideal namun dibutuhkandan dapat digunakan di negara berkembang seperti Indonesia
Jadwal Imunisasi Anak Usia 0 – 18 tahun Rekomendasi Ikatan Dokter Anak Indonesia 2017 Hartono Gunardi; Cissy B. Kartasasmita; Sri Rezeki Hadinegoro; Hindra Irawan Satari; Soedjatmiko Soedjatmiko; Hanifah Oswari; Hardiono D Pusponegoro; Jose R Batubara; Arwin AP Akib; Badriul Hegar; Piprim B Yanuarso; Toto Wisnu Hendrarto
Sari Pediatri Vol 18, No 5 (2017)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (220.754 KB) | DOI: 10.14238/sp18.5.2017.417-22

Abstract

Ikatan Dokter Anak Indonesia melalui Satuan Tugas Imunisasi mengeluarkan rekomendasi Imunisasi IDAI tahun 2017 untuk menggantikan jadwal imunisasi sebelumnya. Jadwal imunisasi 2017 ini bertujuan menyeragamkan jadwal imunisasi rekomendasi IDAI dengan jadwal imunisasi Kementerian Kesehatan RI khususnya untuk imunisasi rutin. Jadwal imunisasi 2017 juga dibuat berdasarkan ketersediaan kombinasi vaksin DTP dengan hepatitis B seperti DTPw-HB-Hib, DTPa-HB-Hib-IPV, dan dalam situasi keterbatasan atau kelangkaan vaksin tertentu seperti vaksin DTPa atau DTPw tanpa kombinasi dengan vaksin lainnya. Hal baru yang terdapat pada jadwal 2017 antara lain: vaksin hepatitis B monovalen tidak perlu diberikan pada usia 1 bulan apabila anak akan mendapat vaksin DTP-Hib kombinasi dengan hepatitis B; bayi paling sedikit harus mendapat satu dosis vaksin IPV (inactivated polio vaccine) bersamaan (simultan) dengan OPV-3 saat pemberian DTP-3; vaksin DTPw direkomendasikan untuk diberikan pada usia 2,3 dan 4 bulan. Hal baru yang lain adalah untuk vaksin influenza dapat diberikan vaksin inaktif trivalen atau quadrivalen, vaksin MMR dapat diberikan pada usia 12 bulan apabila anak belum mendapat vaksin campak pada usia 9 bulan. Vaksin HPV apabila diberikan pada remaja usia 10-13 tahun, pemberian cukup 2 dosis dengan interval 6-12 bulan; respons antibodi setara dengan 3 dosis. Vaksin Japanese Encephalitis direkomendasikan untuk diberikan mulai usia 12 bulan pada daerah endemis atau pada turis yang akan bepergian ke daerah endemis. Vaksin dengue direkomendasikan untuk diberikan pada anak usia 9-16 tahun dengan jadwal 0, 6, dan 12 bulan. Dengan pemberian imunisasi sesuai rekomendasi, diharapkan anak-anak Indonesia terlindungi dari penyakit infeksi yang dapat dicegah dengan imunisasi. 
Karakteristik Densitas Tulang Anak dengan Hiperplasia Adrenal Kongenital yang Mendapat Terapi Glukokortikoid Ariani Dewi Widodo; Jose R. L. Batubara; Evita B. Ifran; Arwin AP Akib; Sudung O. Pardede; Darmawan B. Setyanto
Sari Pediatri Vol 12, No 5 (2011)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (95.408 KB) | DOI: 10.14238/sp12.5.2011.307-14

Abstract

Latar belakang. Anak dengan hiperplasia adrenal kongenital (HAK) mendapat terapi glukokortikoid seumurhidup. Penggunaan glukokortikoid jangka panjang diketahui dapat menyebabkan penurunan densitas mineraltulang (DMT), namun pada anak HAK terapi tersebut bersifat substitusi. Belum diketahui karakteristikDMT pada anak HAK di Indonesia.Tujuan. Mengetahui karakteristik densitas tulang anak dengan HAK yang mendapat terapiglukokortikoid.Metode. Uji potong lintang deskriptif dilakukan di Poliklinik Endokrinologi Departemen Ilmu KesehatanAnak RSUPN Cipto Mangunkusumo selama November 2008-April 2010. Subjek adalah anak HAK yangmendapat terapi glukokortikoid teratur lebih dari 6 bulan. Pada setiap subjek dilakukan pencatatan data danpemeriksaan DMT menggunakan dual energy x-ray absorptiometry (DEXA) di Klinik Teratai RSUPNCM.Hasil. Tigapuluh dua subjek, 25 perempuan dan 7 lelaki, 18 dengan HAK tipe virilisasi sederhana dan 14tipe salt-losing, diikutsertakan dalam penelitian, median usia 6 tahun. Diagnosis 24 subjek ditegakkan padausia <1 tahun, tipe salt-losing terdiagnosis pada usia lebih muda. Semua subjek memiliki status gizi baikhingga obesitas, dan 29/32 subjek memiliki status pubertas sesuai usia. Semua pasien HAK mendapat terapiglukokortikoid teratur sejak saat diagnosis, dengan median dosis 17,7 mg/m2/hari atau 3,8 gram dalam 6bulan terakhir, dan rerata lama pengobatan 7,7 tahun. Terapi mineralokortikoid pada subjek dengan mediandosis 50 mcg/hari. Ditemukan DMT normal pada 24/32 subjek, 7 osteopenia, dan 1 osteoporosis. Delapandi antara pasien dengan DMT normal, memiliki Z-score >+1. Rerata Z-score DMT L1-L4 subjek +0,29 (SB1,46). Terdapat korelasi lemah antara DMT dengan dosis kumulatif glukokortikoid enam bulan terakhir(r= -0,36; p=0,04), dan tidak ditemukan korelasi dengan dosis glukokortikoid/LPB/hari (r= -0,29; p=0,11)maupun dengan durasi terapi (r= -0,07; p=0,69).Kesimpulan. Sebagian besar anak HAK yang mendapat terapi substitusi glukokortikoid memiliki DMTnormal. Terdapat korelasi lemah antara DMT dengan dosis kumulatif glukokortikoid enam bulan terakhir,sehingga diperlukan penelitian lebih lanjut dengan durasi dosis kumulatif yang berbeda-beda.
Studi Sero epidemiologi pada Antibodi Mumps Anak Sekolah Dasar di Jakarta Hindra Irawan Satari; Nia Kuniati; Corry S Matondang; Zakiudin Munasir; Jose RL Batubara; Mulyadi Mulyadi
Sari Pediatri Vol 6, No 3 (2004)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp6.3.2004.134-7

Abstract

Parotitis merupakan penyakit sistemik pada anak yang sampai saat ini masih seringdijumpai. Mumps merupakan salah satu virus penyebab parotitis yang tersering. Saat inisudah tersedia vaksin yang dapat mencegah parotitis yang disebabkan oleh mumps.Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui sampai sejauh mana vaksinasi mumps diperlukanpada masa kanak-kanak, dengan mengetahui berapa tinggi tingkat perlindungan kekebalanalamiah. Penelitian seksi silang ini dilakukan di salah satu SD di Jakarta Pusat pada muridmuridyang duduk di kelas I dan VI. Setelah dilakukan anamnesis dan pemeriksaan fisis,dilakukan pengambilan sampel darah untuk uji ELISA terhadap IgG spesifik mumps.Data diolah dengan mengunakan program SPSS versi 6. Terkumpul 127 sampel darahdari 69 anak laki-laki dan 58 anak perempuan. Kelompok ini dibagi dua menjadi kelompokI umur 5- 7 tahun, serta kelompok II umur diatas 5-7 tahun. Berdasarkan anamnesisdidapatkan 24 anak dari 2 kelompok pernah menderita parotitis, yang mana terbagi ataskelompok I sebanyak 15 anak (62,5 %) dan 9 anak (37,5%) dari kelompok II. Meskipunsudah diimunisasi MMR masih ada 3 orang dari kelompok I yang dikatakan oleh orangtua tetap menderita parotitis, sehingga diperkirakan daya lindung vaksinasi mumps terhadapanak-anak ini sekitar 85 %. Dari penelitian ini didapatkan pula data anak yang memilikikekebalan alamiah sebanyak 25,6%. Sebagai kesimpulan, vaksinasi mumps memangdiperlukan pada masa kanak-kanak. Penelitian lebih lanjut diperlukan untuk menentukansaat yang tepat untuk pemberian suntikan ulangan.
Acanthosis Nigricans dan Hubungannya dengan Resistensi Insulin pada Anak dan Remaja Jose RL Batubara
Sari Pediatri Vol 12, No 2 (2010)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp12.2.2010.67-73

Abstract

Acanthosis nigricans (AN) bukan hanya sekedar kelainan kulit saja, tetapi dipandang sebagai petanda adanyapenyakit lain yang mendasari, salah satunya adalah resistensi insulin. Prevalensi AN bervariasi dari 7%pada populasi umum sampai dengan 74% pada orang dengan obesitas. Penelitian terakhir memperlihatkanbahwa derajat beratnya AN berhubungan dengan konsentrasi insulin plasma puasa dan indeks masatubuh (IMT). Tidak ada perbedaan insidens antara laki-laki dan perempuan. Secara garis besar AN dibagimenjadi dua kategori besar yaitu jinak (benign) dan ganas (malignant). Acanthosis nigricans pada sindromresistensi insulin disebabkan karena kadar insulin yang tinggi mampu mengaktifkan fibroblas dermal dankeratinosit melalui reseptor insulin-like growth factor yang ada pada sel-sel tersebut. Sebagai hasilnya terjadipeningkatan deposisi glikosaminoglikans oleh fibroblas di dermal. Hal ini menyebabkan papilomatosis danhiperkeratosis. Acanthosis nigricans dilaporkan sebagai salah satu faktor prediktor hiperinsulinemia yangcukup baik. Skrining adanya AN merupakan alat yang cukup sederhana, cepat, mudah, dan murah untukmendeteksi individu yang berisiko menderita diabetes tipe 2 dan penyakit lain yang berhubungan denganhiperinsulinemia. Skrining AN di klinik dan sekolah untuk mengidentifikasi individu yang berisiko tinggimenderita diabetes tipe 2 memiliki implikasi penting dalam pengembangan strategi intervensi melawanDM, terutama di tingkat layanan primer.Tujuan terapi pada AN adalah untuk mengkoreksi penyakit yangmendasarinya. Koreksi hiperinsulinemia dapat mengurangi derajat lesi hiperkeratosis, begitu juga denganpenurunan berat badan.
Pengobatan Testosteron pada Mikropenis Bambang Tridjaja; Jose RL Batubara; Aman Pulungan
Sari Pediatri Vol 4, No 2 (2002)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (113.99 KB) | DOI: 10.14238/sp4.2.2002.63-6

Abstract

Mikropenis atau hipogenitalism adalah suatu keadaan penis dengan bentuk normalnamun dengan ukuran kurang dari 2.5 SD di bawah rerata menurut umur dan statusperkembangan pubertas. Pengukuran penis dilakukan secara fully stretched, menggunakanspatula kayu yang diletakkan sejajar dengan dorsum penis dan ditekan sampai simfisispubis. Panjang penis adalah jarak dari simfisis pubis sampai ujung glans penis dan tidakdalam keadaan ereksi. Pengobatan mikropenis terhadap 23 anak dengan rerata usia 9.6tahun dilakukan dengan pemberian testosteron ester intramuskular setiap 3 minggusebanyak 4 kali. Pasca terapi penis bertambah panjang 85% dibandingkan sebelum terapi.Tidak terlihat adanya pertambahan usia tulang dengan protokol yang digunakan.
Pubertas Terlambat pada Thalassemia Mayor Diah Pramita; Jose RL. Batubara
Sari Pediatri Vol 5, No 1 (2003)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (684.2 KB) | DOI: 10.14238/sp5.1.2003.4-11

Abstract

Gangguan kelenjar endokrin akibat penimbunan besi pada pasien thalassemia mayorsemakin sering ditemukan seiring dengan meningkatnya harapan hidup. Kegagalanpubertas merupakan komplikasi endokrin yang paling sering diikuti oleh amenoresekunder. Angka kejadian pubertas terambat pada thalassemia mayor bervariasi tergantungjenis kelamin, riwayat transfusi darah dan terapi kelasi besi yang pemah didapat, danusia saat memulai terapi kelasi.Para peneliti mendapatkan kejadian pubertas terlambat lebih sering terjadi pada lakilaki.Secara umum, penyebab pubertas terlambat dikiasifikasikan menjadi gangguantemporer sekresi gonadotropin, dan steroid seks, kegagalan poros hipotalamus-hipofisisdengan defisiensi sekresi gonadotropin dan kegagalan gonad primer. Gangguan tersebutdiakibatkan oleh proses peroksidasi lipid oleh penimbunan besi di dalam sel-sel kelenjarhipofisis dan kerusakan di hipofisis mi menyebabkan sekresi gonadotropin menurun.Secara klinis keterlambatan pubertas pada perempuan umumnya keterlambatanpertumbuhan payudara dan rambut pubis, sedang pada lakilaki terjadi gangguanperkembangan testis. Penting untuk melakukan pemeriksaan hormonal untuk mengetahuifungsi poros hipotalamus-hipofisis-gonad. Tatalaksana thalassemia mayor denganpubertas terlambat selain terapi pengganti hormonal, perlu diperhatikan status nutrisi,dan pemberian transfusi disertai terapi kelasi yang adekuat.
Profil Klinis dan Terapeutik Anak Hiperplasia Adrenal Kongenital Terkait Gizi Lebih dan Obesitas Ivena Susanti; Jose RL Batubara; Najib Advani
Sari Pediatri Vol 16, No 3 (2014)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp16.3.2014.201-9

Abstract

Latar belakang. Obesitas pada anak hiperplasia adrenal kongenital (HAK) dapat terjadi akibat penyakit dan terapi glukokortikoid. Di Indonesia, belum diketahui prevalensi gizi lebih dan obesitas pada anak HAK serta faktor-faktor yang berhubungan.Tujuan. Mengetahui prevalensi gizi lebih dan obesitas anak HAK dan faktor yang berhubungan (faktor penyakit, faktor terapi, dan faktor umum).Metode. Uji potong lintang pada anak HAK yang berobat di RSCM dan RS lain di Jabodetabek selama Maret-Juni 2013. Pencatatan data klinis, analisis diet, dan pemeriksaan kadar 17-hidroksiprogesteron (17-OHP) dilakukan pada setiap subjek.Hasil. Empatpuluh sembilan subjek-38 perempuan dan 11 laki-laki, rentang usia 0,4-18,3 tahun-memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi. Subjek tipe salt wasting (SW) 79,6% dengan median usia awal terapi 2,5 tahun lebih muda dibandingkan kelompok non-SW. Rerata dosis hidrokortison 17,2 (SB 6,4) mg/m2/hari dan median durasi terapi 5,7 (rentang 0,1-18,3) tahun. Sebagian besar subjek memiliki kontrol metabolik undertreatment (36/49) dengan median kadar 17-OHP 19 (rentang 0,2-876) nmol/L. Terdapat 19 subjek sudah pubertas, 6 di antaranya mengalami pubertas prekoks. Ditemukan prevalensi gizi lebih dan obesitas 5,3% pada kelompok usia balita dan 66,7% usia lebih dari 5 tahun. Subjek memiliki asupan gizi lebih dari 62,5%. Subjek dengan usia lebih dari 5 tahun, sudah pubertas, atau mengalami pubertas prekoks lebih berisiko mengalami gizi lebih dan obesitas. Durasi terapi glukokortikoid berkorelasi sedang (r=0,668; p=0,000) dengan indeks massa tubuh (IMT), sedangkan dosis terapi tidak menunjukkan korelasi dengan IMT.Kesimpulan. Prevalensi gizi lebih dan obesitas pada anak HAK adalah 42,9%. Subjek dengan usia lebih dari 5 tahun, sudah pubertas, atau mengalami pubertas prekoks lebih berisiko mengalami gizi lebih dan obesitas. Terdapat korelasi sedang antara durasi terapi glukokortikoid dengan IMT
Adolescent Development (Perkembangan Remaja) Jose RL Batubara
Sari Pediatri Vol 12, No 1 (2010)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (247.324 KB) | DOI: 10.14238/sp12.1.2010.21-9

Abstract

Adolescent atau remaja merupakan periode kritis peralihan dari anak menjadi dewasa. Pada remaja terjadiperubahan hormonal, fisik, psikologis maupun sosial yang berlangsung secara sekuensial. Pada anakperempuan awitan pubertas terjadi pada usia 8 tahun sedangkan anak laki-laki terjadi pada usia 9 tahun.Faktor genetik, nutrisi, dan faktor lingkungan lainnya dianggap berperan dalam awitan pubertas. Perubahanfisik yang terjadi pada periode pubertas ini juga diikuti oleh maturasi emosi dan psikis. Secara psikososial,pertumbuhan pada masa remaja (adolescent) dibagi dalam 3 tahap yaitu early, middle, dan late adolescent.Masing-masing tahapan memiliki karakteristik tersendiri. Segala sesuatu yang mengganggu proses maturasifisik dan hormonal pada masa remaja ini dapat mempengaruhi perkembangan psikis dan emosi sehinggadiperlukan pemahaman yang baik tentang proses perubahan yang terjadi pada remaja dari segala aspek.
Co-Authors Abdul Latief Adji Suranto Agus Firmansyah Aman B Pulungan Aman B Pulungan Aman B Pulungan Aman B Pulungan Aman B Pulungan Aman B Pulungan Aman B. Pulungan Aman B. Pulungan Aman B. Pulungan Aman B. Pulungan Aman Pulungan Angèle JGMGerver-Jansen Angky Tririni Anies Irawati Anna Alisjahbana Ariani Dewi Widodo Arie Purwana Arry Rodjani Arto, Karina Sugih Arwin Akib Arwin AP Akib Arwin AP Akib Atiek Widya Oswari Bachti Alisjahbana Badriul Hegar Bambang Madiyono Bambang Supriyatno Bambang Tridjaja AAP, Bambang Tridjaja Bambang Tridjaya AAP Bernie Endyarni Medise Budiono Budiono Christina Olly Lada Cissy B. Kartasasmita Corry S Matondang Cynthia Rindang Damayanti R. Sjarif Darmawan B. Setyanto Dhyniek Nurul FLA Diah Pramita Diah Pramita Diana Mettadewi Jong Edward Surjono, Edward Ellen P. Gandaputra Erna Mutiara Evita B. Ifran Evita K. B. Ifran H.F. Wulandari Hanifah Oswari Hardiono D Pusponegoro Hartono Gunardi Hartono Gunardi Harun Alrasyid Damanik Henriette A Delemarre–van de Waal Hindra Irawan Satari Hindra Satari I Boediman I Made Arimbawa I Wayan Bikin Suryawan Idham Amir Ilham Wahyudi Indra W Himawan Indra W. Himawan Irfan Wahyudi Iswari Setianingsih Ivena Susanti Juhariah Juhariah Kadim S. Bachtiar Kanadi Sumadipradja Kemas Firman Lamtorogung Prayitno Lanny C. Gultom Lily Rahmawati Ludi Dhyani Melda Deliana Melda Deliana Miswar Fattah Muhammad Faizi Mulyadi Mulyadi Munar Lubis Naela Fadhila Najib Advani Nastiti Kaswandani Nia Kuniati Partini P. Trihono Piprim B Yanuarso Pustika Amalia Pustika Amalia Wahidiyat Rini Andriani Rini Sekartini Rini Sekartini Riza Mansyoer Rizki Aryo Wicaksono Ronny Suwento, Ronny Rosalina Dewi Roeslani Rubiana Sukardi Salimar Salimar Saptawati Bardosono Setyo Handryastuti Siska Mayasari Lubis Soedjatmiko Sri Rezeki Hadinegoro Sudigdo Sastroasmoro Sudigdo Sastroasmoro Sudung O Pardede, Sudung O Taralan Tambunan Tjhin Wiguna Tony Sadjimin Toto Wisnu Hendrarto Tya Listiaty Willem J Gerver Woro Indri Padmosiwi Yulniar Tasli Zakiudin Munasir Zakiudin Munasir