Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search
Journal : Mozaik Humaniora

Ekspresi Semantis Verba dan Pelibatan Argumen dalam Klausa Bahasa Bima Made Sri Satyawati; Ketut Widya Purnawati; I Nyoman Kardana
MOZAIK HUMANIORA Vol. 19 No. 2 (2019): MOZAIK HUMANIORA VOL. 19 NO. 2
Publisher : Universitas Airlangga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20473/mozaik.v19i2.14918

Abstract

Bimanese language is an Austronesian, Malayo Polinesian Language (Arafik 2005). In 1986, Jonker conducted a research on this language. His reseach focused on sintactic structure of the language. Jonker’s analisis (1896) looked similar with Owens’ analisis (2000) that stated there are two common features of the Bimanese as one of the Austronesian language, they are affixing and compounding. With the base features, Owens considered that Bimanese at least has one of the features or even both features as well. His work focused on verb expression and bound arguments in Bimanese clauses. The two problems were analyzed based on Functional Lexical Grammar theory proposed by Kroeger (2005). The theory contains three sintactic aspects, such as functional structure, constituent structure, and argument structure. Data were collected through elicitation and observation method. Elicitation was applied to obtain spoken data while observation method was used to collect written data from texts. Both methods were supported by note taking technique and recording. The collected data were analyzed by substitution and immediate constituent technique. The result shows that Bimanese verbs can express their arguments syntactically by using verb semantic meaning and preposition like labo, kai, wea, and ba-. It was also found that the obligatory arguments in a clause are generally marked with the four markers. 
Pemarkahan Diatesis Bahasa Indonesia: Kajian Tipologi Linguistik Ketut Artawa; Ketut Widya Purnawati
MOZAIK HUMANIORA Vol. 20 No. 1 (2020): MOZAIK HUMANIORA VOL. 20 NO. 1
Publisher : Universitas Airlangga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20473/mozaik.v20i1.15128

Abstract

Sistem diatesis suatu bahasa terkait erat dengan sistem pemarkahannya, baik pemarkahan secara morfologis maupun secara sintaktis. Secara linguistik tipologi, bahasa akusatif memiliki diatesis aktif dan pasif, sedangkan bahasa ergatif memiliki diatesis ergatif dan antipasif. Bahasa Indonesia digolongkan sebagai bahasa yang memiliki diatesis aktif dan pasif, sehingga bahasa Indonesia dapat dimasukkan ke dalam kelompok bahasa akusatif. Berdasarkan kajian diatesis yang dilihat dari perspektif linguistik tipologi, diatesis aktif dan pasif bahasa Indonesia menunjukkan perbedaan yang signifikan jika dibandingkan dengan diatesis aktif pasif dalam bahasa yg bertipe akusatif. Bahasa Indonesia memiliki dua tipe pasif: ‘pasif di-’ dan ‘pasif pronomina’. Berdasarkan sistem kebermarkahan, konstruksi pasif di- yang dimarkahi secara morfologis memiliki bentuk aktif yang juga dimarkahi secara morfologis. Dengan kata lain, konstruksi pasif di- memiliki diatesis aktif dan pasif yang sama-sama memiliki pemarkahan secara morfologis. Dalam konstruksi pasif di-, verba yang menunjukkan diatesis pasif dimarkahi oleh prefiks di-, sedangkan verba yang menunjukkan diatesis aktif dimarkahi oleh prefiks meng-. Secara sintaktis, subjek kalimat pasif berfungsi sebagai ajung (adjunct) dalam bentuk frasa preposisional dan bisa dilesapkan. Pada konstruksi pasif pronomina, verba yang menunjukkan diatesis pasif muncul dalam bentuk verba dasar, sedangkan verba yang menunjukkan diatesis aktif dimarkahi oleh prefix meng-. Agen dalam kalimat pasif pronomina tidak dapat dilesapkan. Hal ini menunjukkan bahwa dalam pasif pronomina, diatesis aktif lebih bermarkah daripada diatesis pasifnya. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa berdasarkan pendekatan tipologi linguistik, diatesis aktif dan pasif dalam bahasa Indonesia tidak memenuhi persyaratan diatesis secara tipologi.Kata Kunci: diatesis, aktif, pasif, akusatif, ergatif
Fungsi Semantis Lokasi dalam Struktur Klausa Bahasa Jepang dan Bahasa Indonesia Ketut Widya Purnawati; Made Sri Satyawati; Ketut Artawa
MOZAIK HUMANIORA Vol. 21 No. 1 (2021): MOZAIK HUMANIORA VOL. 21 NO. 1
Publisher : Universitas Airlangga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20473/mozaik.v21i1.24623

Abstract

Setiap bahasa memiliki sistem pemarkahannya sendiri untuk menunjukkan fungsi semantis tertentu dalam suatu klausa. Sistem pemarkahannya bisa sangat sederhana atau sangat kompleks. ‘Lokasi’ sebagai salah satu fungsi semantis memiliki tiga subtipe, yaitu sumber, tujuan, dan lintasan. Dengan ketiga subtipenya tersebut, fungsi semantis ini paling tidak memiliki empat buah pemarkah yang berbeda. Dalam penelitian ini dipaparkan bagaimana sistem pemarkahanfungsi semantis ‘lokasi’ dalam bahasa Jepang dan bahasa Indonesia. Data yang diambil dari korpus data Corpora Leipzig dianalisis secara kualitatif dengan menggunakan metode agih dan teknik bagi unsur langsung sebagai teknik utama. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemarkahan ‘lokasi’ bahasa Jepang lebih kompleks daripada bahasa Indonesia. Dalam bahasa Jepang, sebuah subtipe bisa memiliki tiga jenis pemarkah yang berbeda. Namun, tidak demikian halnya dengan bahasa Indonesia yang memiliki sistem pemarkahan jauh lebih sederhana. Baik dalam bahasa Indonesia maupun bahasa Jepang, fungsi semantis lokasi tidak selalu menduduki fungsi gramatikal yang sama. Fungsi semantis lintasan yang menduduki fungsi oblik dalam bahasa Jepang, ternyata menduduki fungsi objek dalam bahasa Indonesia.