Articles
TINJAUAN MASLAHAH TERHADAP POLITIK HUKUM PENETAPAN BATAS MINIMAL USIA PERKAWINAN DALAM UNDANG-UNDANG NOMOR 16 TAHUN 2019 PERUBAHAN ATAS UNDANG-UNDANG NOMOR 1 TAHUN 1974 TENTANG PERKAWINAN
Efrinaldi, Efrinaldi;
Fahimah, Iim;
Shafra, Shafra;
Billah, Yusuf Ridho;
Putra, Andi Eka
Ijtimaiyya: Jurnal Pengembangan Masyarakat Islam Vol. 15 No. 1 (2022): Ijtimaiyya : Jurnal Pengembangan Masyarakat Islam
Publisher : Universitas Islam Negeri Raden Intan Lampung
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.24042/ijpmi.v15i1.11778
Law Number 16 of 2019 Amendments to Law Number 1 of 1974 concerning Marriage raise the minimum age for marriage for both men and women to be 19 years old. This was not just an equalization of the minimum age for men and women, but there were government legal politics to improve the quality of Indonesian marriages. The focus of this research was a review of the problems of the legal politics of the minimum age limit for marriage in Law Number 16 of 2019? This study concludes that the legal politics of determining the minimum age for marriage in Indonesia in the Law of the Republic of Indonesia Number 16 of 2019 concerning Amendments to Law Number 1 of 1974 concerning Marriage with the principles of equality and justice; non-discrimination; the state's obligation to actively protect and ensure the fulfillment of human rights and freedoms; the best interests of the child; the right to life which guarantees that every child has the right to live, develop and carry on their lives and the state was obliged to guarantee it and fulfill the rights of the child, respect for the opinion of the child; orderly and legally certainty; in line with maslahah which was the goal of Islamic law related to maintaining offspring (hifz an-nasl).
MAJELIS TAKLIM AND ITS ROLE IN WOMEN'S EMPOWERMENT
Ridho, Muhammad Ali;
Putra, Andi Eka;
Jamil, Muhammad
Ijtimaiyya: Jurnal Pengembangan Masyarakat Islam Vol. 16 No. 1 (2023): Ijtimaiyya: Jurnal Pengembangan Masyarakat Islam
Publisher : Universitas Islam Negeri Raden Intan Lampung
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.24042/ijpmi.v16i1.16273
This research describes the activities of Majelis Taklim Rachmat Hidayat in empowering women in Bandar Lampung city. Majlis Taklim in the current era is not just a base for the transformation of religious knowledge. But it also carries out the function of social exchange, including through women's empowerment. The focus of this research is How is the role of the Rachmat Hidayat Taklim assembly in empowering women in Bandar Lampung city? The research concluded that Rachmat Hidayat's Majelis Taklim has succeeded in encouraging women's participation in religious, economic, and social fields. Majelis Taklim Rachmat Hidayat has become a transformative forum for the women's movement in the city of Bandar Lampung
PROTECTION OF WIFE’S RIGHTS AFTER A CONTESTED DIVORCE (Analysis of Judge's Decision Number: 143/Pdt.G/2014/PA.Sgm)
Efrinaldi, Efrinaldi;
Jayusman, Jayusman;
Margono, Aris;
Putra, Andi Eka;
Bunyamin, Mahmudin
Ijtimaiyya: Jurnal Pengembangan Masyarakat Islam Vol. 17 No. 1 (2024): Ijtimaiyya: Jurnal Pengembangan Masyarakat Islam
Publisher : Universitas Islam Negeri Raden Intan Lampung
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.24042/ijpmi.v17i1.21354
The research discusses the considerations of judges at the Sungguminasa Religious Court regarding fulfilling the rights of wives after divorce, decision Number: 143 /Pdt.G/2014/PA.Sgm. It is generally accepted that in contested divorce cases, there are no rights to the wife after the divorce. The judge's decision that was accepted usually only granted the divorce petition. Judges usually did not grant it if there were claims for their rights and the rights of children post-divorce in the lawsuit. This research question is: What is the progressive legal analysis of the judge's considerations in case Number: 143 /Pdt.G/2014/PA.Sgm? This research was a literature study related to the considerations of judges' decisions in case number: 143/Pdt.G/2014/PA.Sgm. The primary data of this research was the decision of case number: 143/Pdt.G/2014/PA.Sgm. The judge's considerations in the decision were analyzed using Progressive Law theory to conclude. After collecting data through interviews, the findings of this research are that the Judge's considerations in Decision Number: 143 /Pdt.G/2014/PA.Sgm in fulfilling the wife's rights after a divorce from her husband, is progressive. The panel of judges granted the wife's civil rights after the divorce based on the defendant's capabilities. This decision benefits and provides financial protection for the ex-wife in continuing her life.
TASAWUF, ILMU KALAM, DAN FILSAFAT ISLAM (Suatu Tinjauan Sejarah Tentang Hubungan Ketiganya)
Putra, Andi Eka
AL-ADYAN Vol 7 No 2 (2012): Al-Adyan: Jurnal Studi Lintas Agama
Publisher : Universitas Islam Negeri Raden Intan Lampung
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.24042/ajsla.v7i2.509
Tasawuf seringkali dibedakan dan dipisahkan dengan ilmu kalam dan filsafat dalam studi-studi pemikiran keislaman, seolah-olah ketiganya tidak memiliki hubungan dan relasi kesejarahaan. Padahal pada mulanya, tasawuf hampir tidakdapat dipisahkan dengan ilmu kalam dan filsafat karena ketiganya menyatu, tumpang-tindih. Hubungan tasawuf dengan ilmu kalam terletak pada pembahasan tentang kebenaran. Dalam tasawuf, hakikat kebenaran berupa tersingkapnya (kasyaf) Kebenaran Sejati (Allah) melalui mata hati. Tasawuf menemukan kebenaran dengan melewati beberapa jalan atau maqam. Sedangkan kebenaran dalam Ilmu Kalam berupa diketahuinya kebenaran ajaran agama melalui penalaran akal-budi, yang kemudian dirujukkan kepada nash al-Qur'an dan Hadis. Pada ilmu kalam ditemukan pembahasan iman dan definisinya, kekufuran dan manifestasinya, serta kemunafikan dan batasannya. Sementara pada ilmu tasawuf ditemukan pembahasan jalan atau metode praktis untuk merasakan keyakinan dan ketentraman. Sementara hubungan ilmu tasawuf dengan ilmu filsafat terletak pada soal pencarian hakikat. Tasawuf adalah pencarian jalan ruhani, kebersatuan dengan kebenaran mutlak dan pengetahuan mistik menurut jalan dan sunnah. Sedangkan filsafat tidak dimaksudkan hanya filsafah peripatetik yang rasionalistik, tetapi seluruh mazhab intelektual dalam kultur Islam yang telah berusaha mencapai pengetahuan mengenai sebab awal melalui daya intelek. Filsafat terdiri dari filsafat diskursif (bahtsi) maupun intelek intuitif (dzawqi), yang sebetulnya sama dengan ajaran dalam tasawuf falsafi.
TASAWUF SEBAGAI TERAPI ATAS PROBLEM SPIRITUAL MASYARAKAT MODERN
Putra, Andi Eka
AL-ADYAN Vol 8 No 1 (2013): Al-Adyan: Jurnal Studi Lintas Agama
Publisher : Universitas Islam Negeri Raden Intan Lampung
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.24042/ajsla.v8i1.525
Munculnya problema spiritual yang dialami manusia modern saat ini, bermula dari hilangnya visi keilahian yang disebabkan oleh manusia modern itu sendiri, yang senantiasa bergerak makin menjauh dari pusat eksistensi. Untuk itu, tidak ada alternatif yang lebih baik dalam menjawab krisis spiritualitas yang telah menimbulkan berbagai penyakit spiritual saat ini, kecuali manusia modern harus kembali ke pusat eksistensi. Asumsi dasar tentang manusia yang terdiri dari asperk jasmani dan ruhani, material dan spiritual, adalah dimensi yang lengkap yang dapat menjadi alternaif bagi manusia modern mengatasi penyakit spiritual. Keduanya sejatinya berjalan seiring, saling melengkapi. Melalui dimensi spiritual manusia dituntut untuk kembali ke pusat eksistensi melalui dzawq atau cita rasa hati, musyahadah (menyaksikan) dan ma‟rifah (mengenal segala yang tidak tampak. Dari sisi eksternal, pendidikan tasawuf merupakan pendidikan diri yang harus dilakukan dengan usaha-usaha yang sungguh-sungguh terhadap aspek spiritual.
TASAWUF DALAM PANDANGAN MUHAMMAD ARSYAD AL-BANJARI
Putra, Andi Eka
AL-ADYAN Vol 8 No 2 (2013): Al-Adyan: Jurnal Studi Lintas Agama
Publisher : Universitas Islam Negeri Raden Intan Lampung
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.24042/ajsla.v8i2.588
Terdapat beragam pendapat ulama ketika berbicara tentang hubungan antara shari„ ah, tarekat dan hakikat keragaman ini disebabkan oleh beberapa faktor yang mungkin saling melengkapi baik itu pendapat para akademisi ketika berbicara tentang tasawwuf ataupun para praktisi yang terus menerus menjalani dan melakoni prilaku ataupun kehidupan sufi yang mereka pelajari atau padomi dari para guru-guru mereka belajar. Tulisan ini mencoba menganggkat salah satu praktisi tasawwuf yang telah mempraktekkan kehidupan sufi dan dampaknya bagi perkembangan islam dimana tokoh ini berada.
PENYERBUKAN SILANG ANTARBUDAYA MENURUT EDDIE LEMBONG (Suatu Perspektif Tasawuf)
Putra, Andi Eka
AL-ADYAN Vol 10 No 2 (2015): Al-Adyan: Jurnal Studi Lintas Agama
Publisher : Universitas Islam Negeri Raden Intan Lampung
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.24042/ajsla.v10i2.1433
Pencetus penyerbukan silang antarbudaya sebagai suatu tawaran dalam mendekati pluralisme di Indonesia, adalah Eddie Lembong, tokoh keturunan etnis Tionghoa dan pendiri yayasan Nabil (Nation Building). Ide penyerbukan silang antarbudaya menempatkan kebudayaan Indonesia yang beraneka ragam dapat dikelola sebagai suatu strategi dalam mengelola prluralisme di Indonesia. Budayabudaya yang unggul diserbuk-silangkan dengan budaya unggul etnis lain sehingga muncullah satu budaya alternatif. Penyerbukan silang antarbudaya (Cross Cultural Fertlization) berbeda dengan ide multikulturalisme. Praktek multikulturalisme yang diterapkan di Kanada dan Australia juga di sebagian negara-negara Eropa tidaklah cocok bila diterapkan di Indonesia. Ide multikulturalisme yang berangkat dari pandangan bahwa masing-masing budaya diberikan kebebasan untuk tumbuh berkembang sesuai dengan keunikannya masing-masing. Dalam perspektif tasawuf, strategi penyerbukan silang antarbudaya ibarat taman yang ditanami banyak pohon. Masing-masing budaya yang ada tumbuh sesuai dengan kediriannya. Tidak ada dialog batin yang mendalam apalagi usaha saling-silang dalam pendekatan tersebut.
Membangun Komunikasi Sosial Antaretnik: Perspektif Sosiologi Komunikasi
Putra, Andi Eka
AL-ADYAN Vol 12 No 1 (2017): Al-Adyan: Jurnal Studi Lintas Agama
Publisher : Universitas Islam Negeri Raden Intan Lampung
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.24042/ajsla.v12i1.1441
Konflik sosial antaretnik bukanlah fenomena baru di Indonesia. Banyak teori yang berusaha mengurai fenomena ini. Teori sosiologi komunikasi hanya salah satu cara untuk melihat lebih mendalam proses komunikasi antaretnik. Teori ini merupakan teori yang secara khusus menggeneralisasi konsep komunikasi di antara komunikator dengan komunikan yang berbeda kebudayaan, dan yang membahas pengaruh kebudayaan terhadap kegiatan komunikasi antarmanusia. Pengaruh itu bisa berupa dampak positif maupun negatif tergantung hasil dari proses komunikasi tersebut. Untuk membangun proses komunikasi sosial antaretnik, paling tidak ada tiga sumber yang bisa digunakan, yakni: pertama, sosiologi komunikasi antaretnik yang dibangun akibat perluasan teori komunikasi yang secara khusus dirancang untuk menjelaskan komunikasi intra/antar budaya. Kedua, teori-teori baru yang dibentuk dari hasil-hasil penelitian khusus dalam bidang komunikasi antarbudaya. Ketiga, teori komunikasi antaretnik yang diperoleh dari hasil generalisasi teori ilmu lain, termasuk antropologi dan agama dalam rangka mewujudkan masyarakat terbuka yang harmonis.
Sketsa Pemikiran Keagamaan dalam Perspektif Normatif, Historis dan Sosial-Ekonomi
Putra, Andi Eka
AL-ADYAN Vol 12 No 2 (2017): Al-Adyan: Jurnal Studi Lintas Agama
Publisher : Universitas Islam Negeri Raden Intan Lampung
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.24042/ajsla.v12i2.2110
Contemporary religious thought is open and plural. Various approaches have emerged from the oldest such as the historical approach to the latest such as the Islamic economic approach. various approaches to religious thought are often simply grouped into three main stream groups; namely the normative, historical and sociological groups. These three approaches are not infrequently fragmented, whereas ideally, as a religious thought, the three must be linked and combined to produce a multidisciplinary approach, namely an approach that comprehensively can refresh contemporary religious thought that seems to be sluggish.
Menumbuhkan Sikap Keterbukaan Terhadap Yang Lain: Perspektif Silang Budaya (Cross-Cultural)
Putra, Andi Eka
AL-ADYAN Vol 13 No 1 (2018): Al-Adyan: Jurnal Studi Lintas Agama
Publisher : Universitas Islam Negeri Raden Intan Lampung
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.24042/ajsla.v13i1.2946
Various perspectives in fostering an attitude of openness to others (the others). One of them is a cross-cultural or cross-cultural perspective. Cultural crossing or cultural crossing is a way of combining two or more cultural elements which are then crossed, grafted, mated or reconciled, so that new, fresh and creative cultures emerge. Cross-cultural studies were introduced by Edward Burnett Tylor and Lewis H. Morgan in anthropology which later developed into the realm of culture. Cross-cultural perspectives can now be applied freely to something that refers to anything about the comparison of cultural differences, including the comparison of religion. The main goal is to minimize conflict and build a co-existence or sincere openness with others.