Claim Missing Document
Check
Articles

Found 34 Documents
Search

Perbandingan Kejadian Kecemasan antara Sif Kerja Malam dan Sif Kerja Pagi pada Satuan Pengamanan Universitas Islam Bandung Muhammad Faishal Kartadinata; Nugraha Sutadipura; Raden Ganang Ibnusantosa; Eka Nurhayati; R. Kince Sakinah
Jurnal Integrasi Kesehatan dan Sains Vol 1, No 1 (2019): Jurnal Integrasi Kesehatan dan Sains
Publisher : Universitas Islam Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/jiks.v1i1.4210

Abstract

Kementerian Kesehatan Republik Indonesia mengkategorikan kecemasan sebagai salah satu gangguan mental emosional. Riset Kesehatan Dasar tahun 2013 mengungkapkan prevalensi penduduk yang mengalami gangguan mental emosional secara nasional adalah 6,0%. Faktor risiko yang dapat memengaruhi kecemasan pada seseorang di antaranya beban kerja, yaitu sif kerja terutama sif kerja malam. Tujuan penelitian ini adalah melihat proporsi kejadian kecemasan antara sif kerja pagi dan sif kerja malam pada satuan pengamanan. Metode penelitian ini adalah kuantitatif observasional melalui pendekatan cross-sectional. Sampel penelitian ini adalah satuan pengamanan di Universitas Islam Bandung. Dalam periode Maret–April 2018 jumlah sampel yang berhasil didapatkan 23 orang dengan pengukuran sebanyak 2 kali, yaitu ketika menyelesaikan sif pagi dan ketika menyelesaikan sif malam. Pengukuran kejadian cemas menggunakan lembar kuesioner Depression Anxiety Stress Scale 42 (DASS 42). Hasil penelitian menunjukkan bahwa sif pagi memiliki persentase kejadian cemas 15 dari 23 orang dan sif malam 14 dari 23 orang. Hasil Uji statistik McNemar’s Chi-Square tidak terdapat perbedaan proporsi kecemasan antara sif kerja pagi dan sif kerja malam (p=0,76; PR=0,93; IK 95%: 0.59–1,45). Simpulan penelitian ini tidak terdapat perbedaan proporsi kecemasan antara sif kerja pagi dan sif kerja malam. COMPARISON OF ANXIETY EVENTS BETWEEN NIGHT SHIFT AND MORNING SHIFT ON SECURITY IN BANDUNG ISLAMIC UNIVERSITYThe Ministry of Health of the Republic of Indonesia categorizes anxiety as one of the mental disorders. Basic Health Research in 2013 reveals the prevalence of people with mental disorders nationally at 6.0%. Risk factors that can affect anxiety in a person such as workload is shift work, especially night shift work. The purpose of this study was to assess the proportion of anxiety occurrence between morning shift and night shift on security unit. This research method was quantitative observational through cross-sectional approach. The sample in this study was a security unit at the Bandung Islamic University. The research was doing between March–April 2018. The number of samples obtained were 23 people with measurements as much as 2 times, record one after finishing the morning shift and one after finishing the night shift. Measurement of anxiety events using Depression Anxiety Stress Scale 42 (DASS 42) questionnaire. The results showed that morning shift had an anxious incidence percentage 15 of 23 samples and the night shift 14 of 23 samples. The statistical results of McNemar’s Chi-Square showed no difference in the proportion of anxiety between morning shift and night shift (p=0.76, PR=0.93, 95% CI 0.59–1.45). The conclusion of the study there is no difference in the proportion of anxiety occurrence between morning shift and night shift.
Determinan Kesehatan dalam Perspektif Islam: Studi Pendahuluan Eka Nurhayati; Susan Fitriyana
Jurnal Integrasi Kesehatan dan Sains Vol 2, No 1 (2020): Jurnal Integrasi Kesehatan dan Sains
Publisher : Universitas Islam Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/jiks.v2i1.5865

Abstract

Ajaran Islam meyakini bahwa kesehatan merupakan hak asasi manusia dan anugerah kedua terbesar dari Allah setelah keimanan. Dalam upaya menjaga kesehatan, dibutuhkan keseimbangan antara berbagai determinan kesehatan yang merupakan perpaduan faktor-faktor yang dapat memengaruhi kesehatan baik individu maupun masyarakat. Penelitian ini bertujuan mengidentifikasi dan mendeskripsikan determinan kesehatan dalam perspektif Islam. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif etnografis yang dilakukan di Kota Bandung. Pengambilan data dilakukan pada bulan April–Oktober 2019. Penelitian dilakukan dengan wawancara mendalam kepada 6 orang ulama yang memiliki pendidikan minimal strata dua dalam bidang agama Islam. Analisis data dilakukan dengan cara reduksi, transkripsi, koding, dan tema. Validitas data dilakukan dengan cara triangulasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa determinan kesehatan dalam perspektif Islam terdiri atas: (i) iman dan ibadah (ii) perilaku, (iii) lingkungan, (iv) sosial, (v) genetik, dan (vi) pelayanan kesehatan. Simpulan penelitian adalah determinan kesehatan dalam Islam yang paling utama adalah keimanan dan ibadah, ditunjang pula oleh determinan lainnya, yaitu perilaku, lingkungan, sosial, genetika, dan pelayanan kesehatan. Keseimbangan seluruh determinan kesehatan akan menciptakan kesehatan spiritual yang akan memengaruhi pencapaian kesehatan jiwa, fisik dan sosial. DETERMINANTS OF HEALTH IN ISLAMIC PERSPECTIVE: A PILOT STUDY Islamic teachings believe that health is a human right and the second main gift from God after the faith. In an effort to preserve health, a balance is needed between determinants of health which is a combination of factors that can affect the health of both individuals and society. This study aims to identify and describe health determinants in an Islamic perspective. This research is an ethnographic qualitative study conducted in Bandung. Data collection was held in April–October 2019. The study was conducted with in-depth interviews to 6 Islamic religion leader who have a minimum of master education in Islamic religion. Data analysis was done by reduction, transcription, coding and themes. Data validity was done by triangulation. The results showed that health determinants in Islamic perspective consisted of: (i) faith and worship (ii) health behavior, (iii) environment, (iv) social, (v) genetic, and (vi) health services. The conclusion from the research showed that the most important determinants of health in Islam is faith and worship, also supported by other determinants such as behavior, environment, social, genetics and health services. The balance of all health determinants will create spiritual health that will support the achievement of mental, physical and social health.
Pengetahuan dan Perilaku Swamedikasi oleh Ibu-Ibu di Kelurahan Tamansari Kota Bandung Putri Anggraini Aswad; Yuktiana Kharisma; Yuke Andriane; Titik Respati; Eka Nurhayati
Jurnal Integrasi Kesehatan dan Sains Vol 1, No 2 (2019): Jurnal Integrasi Kesehatan dan Sains
Publisher : Universitas Islam Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/jiks.v1i2.4462

Abstract

Swamedikasi merupakan upaya individu untuk mengobati penyakit atau gejala yang dikenali sendiri. Swamedikasi dapat menjadi permasalahan kesehatan akibat keterbatasan pengetahuan mengenai obat sehingga akan memengaruhi perilaku seseorang. Tujuan penelitian ini adalah mendeskripsikan pengetahuan dan perilaku swamedikasi oleh ibu-ibu di Kelurahan Tamansari Kota Bandung. Rancangan penelitian observasional deskriptif dengan metode cross sectional. Jumlah sampel 50 orang dengan teknik consecutive sampling. Pengambilan data melalui kuesioner. Hasil penelitian menunjukkan pengetahuan responden tentang definisi swamedikasi (54%), penggolongan obat berdasar atas logo (64%), makna logo obat dibeli tanpa resep dokter (46%), makna logo obat bebas terbatas (52%), definisi aturan pakai obat 3x sehari (56%), interval waktu penggunaan obat (68%), perbedaan dosis obat dewasa dengan anak (88%), definisi efek samping obat (80%), menanggulangi efek samping (98%), definisi kontraindikasi obat (86%), definisi interaksi obat (62%), dan penyimpanan obat (86%). Prevalensi perilaku swamedikasi pada responden (60%), obat modern lebih mendominasi (64%), pemilihan obat modern untuk swamedikasi didasarkan atas keinginan sendiri (38%), warung kelontong sebagai tempat mendapatkan obat (48%), informasi swamedikasi diperoleh melalui media elektronik dan media cetak (36%), kebiasaan membaca kandungan obat (64%) dan tanggal kadaluarsa obat (86%), serta menyimpan obat di rak obat (50%). Simpulan penelitian ini, pengetahuan swamedikasi pada masyarakat secara umun cukup baik. Terdapat upaya untuk mengatasi masalah kesehatan dengan melakukan swamedikasi. SELF-MEDICATION KNOWLEDGE AND BEHAVIOR BY MOTHERS IN TAMANSARI VILLAGE OF BANDUNGSelf-medication is an individual effort to treat a disease or symptom that is recognized by itself. Self-medication can be a health problem due to limited knowledge about drugs which will affect a person’s behavior. The aim of this study was to describe the self-medication knowledge and behavior of mothers in Tamansari village of Bandung. Descriptive observational study design with cross-sectional method. The number of samples were 50 people with consecutive sampling technique. Data was collected by using questionnaire. The research showed that respondent’s knowledge of definition of self-medication (54%), classification of drugs based on logos (64%), meaning of over the counter drug (46%), limited free drug logos meaning (52%), definition of drug use rules 3x a day (56%), time interval for drug use (68%), difference in drug dosage between adults and children (88%), definition of drug side effects (80%), overcoming side effects (98%), definition of contraindications (86%), definition of drug interactions (62%), and drug storage (86%). The prevalence of self-medication behavior in respondent’s (60%), modern medicine dominates (64%), the selection of modern drugs for self-medication are based on their own desires (38%), grocery stalls as places to get medicine (48%), self-administered information obtained through electronic media and printed (36%), habit of reading drug content (64%) and drug expiration dates (86%), and storing drugs on drug racks (50%). The conclusion of this study that level knowledge by mothers is generally quite good. There are efforts to overcome health problem with self-medication.
Scoping Review: Hubungan Konsumsi Kafein Dengan Kejadian Nyeri Kepala Pada Orang Dewasa Chagieansyah Hadie Widjaya; Santun Bhekti Rahimah; Eka Nurhayati
Bandung Conference Series: Medical Science Vol. 3 No. 1 (2023): Bandung Conference Series: Medical Science
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsms.v3i1.6660

Abstract

Abstract. Caffeine is a substance that can function as a stimulant in the central nervous system. Caffeine has good benefits in the body because it can modify and regulate neurotransmitters, as well as help bring out hidden potential in the body. This research aims to analyze the relationship between caffeine consumption and the occurrence of headaches in adults. The method used is a Scoping Review which consists of stages, namely: conducting a focusing review with the PICOS framework (Population, Intervening, Comparison, Outcome and Study), conducting literature searching using 3 databases, namely ScienceDirect, SpringerLink, Pubmed. Selecting relevant studies using inclusion and exclusion criteria; perform JBI critical appraisal to evaluate the quality of the literature, perform data extraction, analyze and report the results. The compilation procedure using the Preferred Reporting Items for Systematic Review and Meta-Analyses (PRISMA) method was used to describe the literature search flow. The results were obtained as many as 8 international articles published in the period of 2013-2021, in all articles found the effect of caffeine on headaches. The conclusion that caffeine is related to migraine headache, Post Dural Puncture Headache (PDPH), and episodic-tension and caffeine can affect cognitive and physical performance. For the need to improve cognitive and physical performance, in addition to caffeine, herbal supplements can also be used. Abstrak. Kafein merupakan zat yang dapat berfungsi sebagai stimulan pada sistem saraf pusat. Kafein mempunyai manfaat baik dalam tubuh karena dapat memodifikasi dan mengatur neurotransmitter, serta membantu memunculkan potensi tersembunyi dalam tubuh. Metode yang digunakan adalah adalah Scoping Review yang terdiri dari tahapan-tahapan, yaitu: melakukan fokusing review dengan framework PICOS (Population, Intervening, Comparison, Outcome dan Study), melakukan literature searching menggunakan 3 database, yaitu ScienceDirect, SpringerLink, Pubmed. Menyeleksi studi yang relevan menggunakan kriteria inklusi dan ekslusi; melakukan JBI critical appraisal untuk menilai kualitas literatur, melakukan data ekstraksi, menganalisis dan melaporkan hasil. Prosedur penyusunan menggunakan metode Preferred Reporting Items for Systematic Review and Meta-Analyses (PRISMA) digunakan untuk menggambarkan alur pencarian literatur. Hasil penelitian diperoleh sebanyak 8 artikel internasional yang dipublikasikan pada kurun waktu tahun 2013-2021, pada semua artikel ditemukan artikelnya ditemukan pengaruh kafein terhadap sakit kepala. Simpulan bahwa kafein berhubungan terhadap sakit kepala migrain, Post Dural Puncture Headache (PDPH), dan episodic-tension dan kafein dapat mempengaruhi performa kognitif dan fisik. Peningkatan performa kognitif dan fisik, selain kafein, dapat digunakan pula suplemen campuran tumbuh-tumbuhan.
Karakteristik Diabetes Melitus Tipe 2 Berdasarkan Usia, Jenis Kelamin, dan Profil Lipid di Rumah Sakit Umum Daerah Subang Indri Rahmawati; Suganda T; Eka Nurhayati
Bandung Conference Series: Medical Science Vol. 3 No. 1 (2023): Bandung Conference Series: Medical Science
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsms.v3i1.6132

Abstract

Abstrak. Diabetes melitus (DM) disebabkan kelainan resistensi insulin, insulin atau keduanya dengan karakteristik hiperglikemia, dan merupakan penyakit metabolik kronik progresif. Prevalensi DM tipe 2 tahun 2018 meningkat sebanyak 8,5%. DM tipe 2 merupakan faktor risiko penyakit jantung koroner, diawali kondisi dislipidemia. Penelitian bertujuan mengetahui karakteristik pasien DM tipe 2 di RSUD Subang berdasarkan usia, jenis kelamin, dan profil lipid. Jenis penelitian deskriptif dengan teknik total sampling berjumlah 31 sampel sesuai kriteria inklusi dan ekslusi. Hasil pasien DM tipe 2 di RSUD Subang tahun 2021 terbanyak kelompok lansia awal 15 orang (48,4%), jenis kelamin terbanyak perempuan 20 orang (64,5%), kadar kolesterol total kategori agak tinggi dan normal berjumlah masing-masing sebanyak 12 orang (38,7%), trigliserida terbanyak kategori normal sejumlah 14 orang (45,2%), High-Density Lipopotein terbanyak kategori tinggi sejumlah 18 orang (58,1%), dan Low-Density Lipoprotein terbanyak kategori optimal sejumlah 21 orang (67,8%). Data usia, jenis kelamin, dan profil lipid dianalisis statistik menggunakan Microsoft Excel. DM tipe 2 hasil dari kurangnya aktivitas dan gaya hidup tidak sehat. Faktor risiko DM terdapat yang dapat diubah dan tidak dapat diubah seperti genetik, usia dan jenis kelamin, sehingga didapatkan karakteristik pasien DM tipe 2 di RSUD Subang berdasarkan usia, jenis kelamin, dan profil lipid. Abstract. Diabetes mellitus (DM) is caused by abnormalities of insulin resistance, insulin or both with characteristics of hyperglycemia, and is a progressive chronic metabolic disease. The prevalence of type 2 DM in 2018 increased by 8.5%. Type 2 DM is a risk factor for coronary heart disease, starting with dyslipidemia. The aim of this study was to determine the characteristics of type 2 DM patients at Subang Hospital based on age, sex, and lipid profile. This type of descriptive research with a total sampling technique totaling 31 samples according to the inclusion and exclusion criteria. The results of type 2 DM patients at Subang Hospital in 2021 were mostly in the early elderly group of 15 people (48.4%), the most sex was female 20 people (64.5%), the total cholesterol level was in the rather high and normal category, amounting to 12 each people (38.7%), the most triglycerides in the normal category were 14 people (45.2%), the High-Density Lipoprotein the most in the high category were 18 people (58.1%), and the Low-Density Lipoprotein in the optimal category was 21 people (67.8%). Age, gender, and lipid profile data were statistically analyzed using Microsoft Excel. Type 2 DM results from a lack of activity and an unhealthy lifestyle. DM risk factors that can be changed and cannot be changed such as genetics, age and gender, so that the characteristics of type 2 DM patients at Subang Hospital are obtained based on age, sex and lipid profile.
PERANAN KOMISI PEMBERANTASAN KORUPSI (KPK) SEBAGAI LEMBAGA ANTI KORUPSI DI INDONESIA NURHAYATI, EKA
Lex Jurnalica Vol 20, No 3 (2023): LEX JURNALICA
Publisher : Lex Jurnalica

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47007/lj.v20i3.7091

Abstract

ABSTRAK Pemberantasan korupsi merupakan salah satu agenda penting pemerintah dalam rangka membersihkan diri dari korupsi, kolusi dan nepotisme. Korupsi merupakan kejahatan luar biasa dan sistematis sehingga diperlukan upaya yang luar biasa pula dalam memberantasnya. Selain menjadi agenda nasional, pemberantasan korupsi juga merupakan agenda internasional. Keberadaan lembaga anti korupsi memiliki nilai yang sangat strategis dan politis bagi pemerintahan suatu negara. Saat ini persoalan korupsi bukan hanya menjadi isu lokal, melainkan menjadi isu internasional. Bagi negara-negara sedang berkembang, keberhasilan menekan angka korupsi merupakan sebuah prestasi tersendiri. Hal ini akan berdampak pada arus investasi asing yang masuk ke negara tersebut. Negara-negara dengan tingkat korupsi tinggi tentunya akan kehilangan daya saing untuk merebut modal asing yang sangat dibutuhkan oleh negara yang sedang berkembang. Negara-negara maju dan lembaga donor internasional sangat menaruh perhatian terhadap peringkat korupsi yang dikeluarkan oleh lembaga survei internasional seperti Transparancy International dan PERC. Oleh karena itu Pemerintah Indonesia sangat memberi perhatian serius dalam upaya pemberantasan korupsi. Salah satu upayanya adalah membentuk lembaga anti korupsi yang diberi nama KPK. Kata Kunci: korupsi, kolusi, nepotisme, kejahatan luar biasa, kejahatan sistematis, Komisi Pemberantasan Korupsi
Is Resilience Knowledge Related to the Mental Health of First-Year Medical Students? Romadhona, Nurul; Fitriyana, Susan; Prasetia, Ayu; Ibnusantosa, Raden Ganang; Nurhayati, Eka; Respati, Titik
Global Medical & Health Communication (GMHC) Vol 11, No 1 (2023)
Publisher : Universitas Islam Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/gmhc.v11i1.11361

Abstract

The many demands faced by first-year medical students can impact mental health. For students to function well, resilience is needed. This study aimed to determine the relationship between resilience knowledge and the mental health of first-year medical students. This quantitative study was conducted at the Faculty of Medicine, Universitas Islam Bandung, in October 2022. Respondents were 92 students in the first 2022/2023 academic year—data collection method was by distributing two Google Forms links. The first contains a pre-test regarding resilience knowledge, while the second includes the self-reporting questionnaire-29 (SRQ-29). Univariate analysis used distribution assumptions, frequency distribution (median, mean, standard deviation), and proportion distribution (percentage, 95% CI). Bivariate analysis used the ttest, Wilcoxon test, and chi-square test. Most respondents were female, 59% (95% CI=52.62, 72.37). The majority of respondents were 18 years old. The highest order of mental health screening was post-traumatic stress disordersymptoms at 59% (95% CI=48.27, 68.39), mental-emotional disorder (anxiety and depression) symptoms at 37% (95% CI=27.62, 47.37), and psychotic symptoms at 27% (95% CI 18.98, 37.28). No respondents experienced symptoms of narcotic or psychotropic drugs. Respondents who indicated mental health disorders were more significant than those who did not, namely 60% (95% CI=49.35, 69.39). There was no relationship between resilience knowledge and mental health (p=0.75). Respondent's understanding of resilience was good, but more indicated mental health disorders.
Community Knowledge and Behavior in the Utilization of Medicinal Plants in Cikoneng Village Bandung District Rahimah, Santun Bhekti; Kharisma, Yuktiana; Nurhayati, Eka; Yuniarti, Yuniarti; Santoso, Shenny Dianathasari; Faridza, Muhammad
Global Medical & Health Communication (GMHC) Vol 7, No 1 (2019)
Publisher : Universitas Islam Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (724.908 KB) | DOI: 10.29313/gmhc.v7i1.3214

Abstract

The industry of the traditional medicinal made from medicinal plants was currently growing. Effortless cultivation and utilization of medicinal plants were an important step to preserve the traditional medicine of Indonesia. Cikoneng village had abundant natural potential and is an assisted village of the researchers' institution located at the foot of Manglayang mountain Bandung district. Therefore, the researchers implemented the intervention program to educate and socialize the use of medicinal plants to the community of Cikoneng village. After the intervention program, the assessment of the level of knowledge and perceptions of people in the behavior of treatment by medicinal plants utilized was carried out. This study aims to assess the increase in knowledge and perceptions of people in the behavior of cultivation and treatment by using medicinal plants in Cikoneng village. The study used an intervention program and questionnaire with 35 respondents conducted on 22 August–23 September 2016. The results showed that after the intervention program, the level of knowledge of the Cikoneng village community regarding medicinal plants was right. The entire people of Cikoneng village is willing to take advantage of medicinal plants in maintaining family health and will begin to cultivate them in the smallest scope (family). In conclusion, there is an increase in people's knowledge and perception of the behavior of cultivation and treatment by utilizing medicinal plants in Cikoneng village. PENGETAHUAN DAN PERILAKU MASYARAKAT DALAM PEMANFAATAN TANAMAN OBAT DI KAMPUNG CIKONENG KABUPATEN BANDUNGIndustri obat tradisional berbahan baku tanaman obat saat ini semakin berkembang. Upaya budidaya dan pemanfaatan tanaman obat yang optimal merupakan langkah penting untuk menjaga kelestarian obat tradisional Indonesia. Kampung Cikoneng mempunyai potensi alam yang melimpah dan merupakan desa binaan institusi peneliti yang terletak di kaki Gunung Manglayang Kabupaten Bandung. Oleh karena itu, peneliti melaksanakan program intervensi untuk mengedukasi dan menyosialisasikan pemanfaatan tanaman obat kepada masyarakat Kampung Cikoneng. Pada akhir program intervensi, dilakukan penilaian tingkat pengetahuan dan persepsi masyarakat tentang perilaku pengobatan dengan tanaman obat. Penelitian ini bertujuan menilai peningkatan pengetahuan dan persepsi masyarakat tentang perilaku budidaya dan pengobatan dengan memanfaatkan tanaman obat di Kampung Cikoneng. Penelitian menggunakan program intervensi dan kuesioner dengan jumlah responden 35 orang yang dilaksanakan pada 22 Agustus–23 September 2016. Hasil memperlihatkan bahwa setelah program intervensi, tingkat pengetahuan masyarakat Kampung Cikoneng mengenai tanaman obat adalah baik. Seluruh masyarakat Kampung Cikoneng bersedia memanfaatkan tanaman obat dalam menjaga kesehatan keluarga dan akan mulai membudidayakannya dalam lingkup yang paling kecil (keluarga). Simpulan, terdapat peningkatan pengetahuan dan persepsi masyarakat tentang perilaku pengobatan dengan memanfaatkan tanaman obat di Kampung Cikoneng.
Penegakan Hukum Oleh Satuan Polisi Pamong Praja Sebagai Upaya Penertiban Pedagang Kaki Lima Di Wilayah Kabupaten Karanganyar Eka Nurhayati; Arie Purnomosidi
JURNAL MADANI HUKUM - Jurnal Ilmu Sosial dan Hukum Volume 2 Nomor 2 Agustus 2024
Publisher : BSP Publisher - CV. Bina Sarana Pendidikan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui penegakan hukum terhadap pedagang kaki lima yang dilakukan oleh Satuan Polisi Pamong Praja di wilayah Kabupaten Karanganyar. Jenis penelitian yang digunakan dalam skripsi ini adalah penelitian hukum empiris, yang berfokus pada perilaku (behavior) yang berkembang dalam masyarakat, atau bekerjanya hukum dalam masyarakat. Dengan menggunakan pendekatan undang-undang dan pendekatan konseptual. Data yang digunakan menggunakan data primer yang berupa wawancara dan data sekunder yang terdiri dari bahan hukum primer, sekunder dan tersier. Penegakan hukum yang dilakukan Satuan Polisi Pamong Praja Kabupaten Karanganyar terkait dengan Pedagang Kaki Lima dilakukan dengan dua pendekatan, yaitu pendekatan preventif dan pendekatan represif. Tindakan Preventif berarti melakukan tindakan sebelum terjadinya suatu kejadian. Tindakan preventif tersebut berupa komunikasi antara Satuan Polisi Pamong Praja dengan Pedagang kaki lima, selain itu tindak preventif juga dilakukan dengan cara patroli rutin. Sedangkan represif melakukan tindakan setelah terjadi kejadian yang dilakukan oleh Satuan Polisi Pamong dalam melakukan penertiban pedagang kaki lima. Adapun tindak represif tersebut berupa pemberian sanksi administrative maupun penggusuran, bahkan bagi pihak PKL yang terus melakukan pelanggaran juga dituntut untuk bertanggungjawab di hadapan pengadilan.
Scoping Review: Analisis Vasektomi sebagai Faktor Risiko Disfungsi Seksual pada Pria Andini Salsabila Puteri; Eka Nurhayati; Bambang Setiohadji
Bandung Conference Series: Medical Science Vol. 4 No. 1 (2024): Bandung Conference Series: Medical Science
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsms.v4i1.10454

Abstract

Abstract. Vasectomy is a male sterilization procedure to prevent pregnancy by cutting the vas deferens therefore it will block sperm from reaching the semen that is ejaculated from the penis. People rarely choose vasectomy as a contraceptive method of choice because of concerns that vasectomy can cause sexual dysfunction. This research aims to analyze vasectomy as a factor of sexual dysfunction in men. This research used a scoping review study to identify and analyze articles through database sources such as ScienceDirect, PubMed, and Taylor and Francis, specific journals such as European Urology, Urology, The European Journal of Contraception & Reproductive Health Care, and The Journal of Sexual Medicine, and Grey Literature published in 1994-2023. This research used The PRISMA diagram method and resulted in seven articles that met the inclusion and eligibility criteria. Based on the results from the analysis of seven articles, two articles concluded that there was an increase in sexual function after vasectomy because there was no anxiety about the pregnancy after sexual intercourse, one article concluded that there was a decrease in sexual function in men who were forced to have vasectomy by their partner’s and resulted in an increase in work of sympathetic nerve that can interfere the sexual function, and four articles concluded that there was no effect of vasectomy on sexual function. Abstrak. Vasektomi merupakan prosedur sterilisasi pada pria dengan tujuan untuk mencegah kehamilan yang dilakukan dengan mengikat dan memotong saluran vas deferens agar sperma tidak dapat bercampur dan keluar bersama semen. Masyarakat masih jarang memilih vasektomi sebagai metode kontrasepsi pilihan disebabkan karena kekhawatiran bahwa vasektomi dapat menyebabkan disfungsi seksual. Tujuan dari penelitian ini yaitu untuk menganalisis vasektomi sebagai faktor risiko disfungsi seksual pada pria. Penelitian menggunakan studi scoping review untuk mengidentifikasi dan menganalisis artikel melalui sumber database seperti ScienceDirect, PubMed, dan Taylor and Francis, jurnal spesifik seperti European Urology, Urology, The European Journal of Contraception & Reproductive Health Care, dan The Journal of Sexual Medicine, serta Grey Literature yang diterbitkan pada tahun 1994-2023. Metode diagram PRISMA digunakan dalam penelitian ini dan menghasilkan tujuh artikel yang memenuhi kriteria inklusi dan kelayakan. Berdasarkan hasil analisis dari tujuh artikel, dua artikel menyimpulkan bahwa terdapat peningkatan fungsi seksual pascavasektomi karena tidak adanya kecemasan akan hamilnya pasangan apabila melakukan hubungan seksual, satu artikel menyimpulkan bahwa terdapat penurunan fungsi seksual pada pria yang terpaksa melakukan vasektomi karena tuntutan pasangan dan berakibat pada peningkatan kerja saraf simpatis yang dapat mengganggu fungsi seksual, dan empat artikel menyimpulkan bahwa tidak ada pengaruh vasektomi terhadap fungsi seksual.