Claim Missing Document
Check
Articles

Found 34 Documents
Search

Analisis Faktor Determinan Kemampuan Perawatan Diri Pada Pasien Pasca Stroke: Studi Literatur Nurhayati, Eka
ProNers Vol 7, No 1 (2022): Juli
Publisher : Universitas Tanjungpura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26418/jpn.v7i1.48857

Abstract

Latar Belakang: Penurunan kemampuan perawatan diri merupakan salah satu dampak dari serangan stroke yang dapat menyebabkan masalah dalam kehidupan sehari-hari seperti ketergantungan dalam melakukan aktivitas fisik dan pemenuhan kebutuhan diri. Tujuan: Penelitian ini meneliti faktor-faktor yang menentukan kemampuan perawatan diri pada pasien pascastroke dan mengetahui faktor dominan yang dapat mempengaruhi kemampuan perawatan diri pasien pascastroke. Metode: Penelitian ini merupakan kajian literatur dengan kerangka kerja SPIDER. Sumber data didapatkan melalui mesin pencari DOAJ, Pubmed, SAGE, Science Direct, Google Scholar, Perpusnas, dan Research Gate; diterbitkan antara September 2015"“Oktober 2020. Analisis isi digunakan untuk menyintesis dan memperoleh data dari temuan literatur terkait pokok bahasan dalam penelitian ini. Hasil: 104.101 artikel berhubungan dengan kemampuan perawatan diri pada pasien stroke dan 10 artikel di antaranya sesuai dengan kriteria inklusi. Ditemukan beberapa faktor yang berkaitan dengan aktivitas kehidupan sehari-hari pada pasien pascastroke: demografi (usia, tingkat pendidikan, status ekonomi), karakteristik klinis (jenis dan frekuensi stroke, fungsi kognitif, kemampuan fungsional, status gizi), motivasi, efikasi diri, dan dukungan keluarga. Kesimpulan: Beberapa faktor dapat mempengaruhi kemampuan perawatan diri pada pasien pascastroke: usia, jenis stroke, frekuensi stroke, fungsi kognitif, status fungsional, status gizi, dukungan keluarga, motivasi, efikasi diri, pengetahuan, dan status ekonomi; faktor yang paling banyak ditemukan dalam literatur adalah status fungsional dan dukungan keluarga.
Perbedaan Profil Klinis dan Lama Rawat Community-Acquired Pneumonia pada Anak Rawat Inap Berdasarkan Kelompok Usia: Sebuah Studi Cross-Sectional Garina, Lisa Adhia; Nurhayati, Eka; Purbaningsih, Wida
Sari Pediatri Vol 27, No 4 (2025)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp27.4.2025.231-9

Abstract

Latar belakang. Pneumonia merupakan penyakit menular penyebab utama rawat inap di seluruh dunia, dengan angka kesakitan dan kematian tinggi di Indonesia. Pneumonia memiliki gejala yang bervariasi dan tidak spesifik tergantung dengan faktor seperti etiologi, usia dan respon imun.Tujuan. Menganalisis perbedaan profil klinis, terapi, lama rawat, dan luaran pneumonia pada anak berdasarkan usia. Metode. Penelitian observasional dengan desain cross-sectional. Data pasien berdasarkan rekam medis di RSUD Al-Ihsan Kabupaten Bandung Tahun 2022 - 2023. Diagnosis CAP ditentukan SpA berdasarkan pemeriksaan dan penunjang. SpO2 diperiksa menggunakan pulse oksimetri. Penggolongan usia dikelompokan menjadi <1 tahun (bayi), ?1 tahun sampai dengan <5 tahun, dan ?5 tahun. Analisis bivariat dengan Uji Kruskal-Wallis dan Uji Kolmogorov-Smirnov menggunakan SPSS versi 25.Hasil. Dari 177 pasien pneumonia anak, 114 data memenuhi kriteria inklusi dengan sebagian besar laki-laki, di kelompok usia <1 tahun dan ?1 - <5 tahun (44,7% dan 50,9%), keluhan demam sebanyak 72,8%, sesak 89,5%, dan batuk 97,4%. Temuan klinis takipnea dan retraksi dada (25,4% dan 32,5%), sianosis 2,6%. Rerata lama demam 2±3 hari, rerata lama rawat 3±2 hari, dan hanya 1 pasien dengan luaran meninggal. Tidak terdapat perbedaan profil klinis dan pemberian jenis terapi antibiotik, tetapi terdapat perbedaan rerata lama rawat pada pasien pneumonia anak berdasarkan usia (p<0,001).Kesimpulan. Kelompok usia pasien pneumonia <1 tahun mendapatkan lama hari rawat yang lebih lama dibandingkan kelompok usia ?1 - <5 tahun dan ?5 tahun. Disfungsi imunitas pada bayi, serta perkembangan paru bayi yang belum sepenuhnya berkembang akan rentan terhadap invasi patogen eksternal.
Low dietary diversity is associated with stunting among children aged 8-23 months in stunting locus area, Yogyakarta, Indonesia Lestari, Putri; Irawati, Winda; Hositanisita, Hastrin; Paratmanitya, Yhona; Nurhayati, Eka; Yi, Lee Yi; Ariftiyana, Siska; Rahayu, Herwinda Kusuma
Jurnal Gizi dan Dietetik Indonesia (Indonesian Journal of Nutrition and Dietetics) VOLUME 12 ISSUE 5, 2024
Publisher : Alma Ata University Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21927/ijnd.2024.12(5).387-396

Abstract

 Background: Stunting is impaired growth and development that children experience, caused by poor nutrition during 1000 days of life. Dietary diversity is one of the core indicators for assessing diet quality and adequacy of complementary feeding.Objectives: This study aimed to analyzed the relationship between dietary diversity and stunting among children aged 8-23 months in Pajangan District, Bantul Regency, Yogyakarta.Methods: This was a quantitative observational cross-sectional study. Purposive random sampling was used to recruit a total of 167 children aged 8-23 months with their mothers/ caregivers as respondents. Individual dietary diversity was assessed by minimum dietary diversity with the consumption of 5 or more food groups of the total 7 food groups. Logistic regression, chi-square test, and descriptive statistics were used for data analysis.Results: Results showed that prevalence of stunting was 32.3% and 54.5% of children did not meet the minimum dietary diversity. There was a significant relationship between dietary diversity on complementary feeding and stunting (p=0.005, OR=2.558; 95%CI= 1.422-4.142). Furthermore, other factors related to dietary diversity were child’s age, mother's employment status, father's education, father’s employment, and family income.Conclusions: There was a relationship between dietary diversity and stunting among children aged 8-23 months in Pajangan District, Bantul Regency, Yogyakarta. Strategy to improve dietary diversity on complementary feeding are needed to prevent child malnutrition. KEYWORDS: complementary feeding; dietary diversity; stunting
EFEKTIFITAS NESTING TERHADAP STABILITAS SUHU DAN NADI PADI BAYI PREMATUR DI RUANG PERINATOLOGI RAFINGAH, SITI; HARYANTI, YANTI; NURDINI, RINI; NURHAYATI, EKA
Afiat Vol. 11 No. 2 (2025): Jurnal Afiat : Kesehatan dan Anak
Publisher : Jurnal Afiat : Kesehatan dan Anak

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.34005/afiat.v11i2.5384

Abstract

Sistem termoregulasi yang belum matang mengakibatkan bayi prematur sangat rentan terhadap ketidakstabilan suhu tubuh dan frekuensi nadi. Salah satu teknik posisi yang bertujuan untuk meningkatkan kenyamanan dan stabilitas fisiologis bayi adalah intervensi nesting. Tujuan : mengidentifikasi efektifitas penggunaan nesting untuk mempertahankan suhu tubuh dan frekuensi nadi pada bayi prematur. Metode: Penelitian ini menggunakan desain pre post test without control pada bayi prematur yang dirawat di ruang perinatologi. Suhu tubuh dan frekuensi nadi diukur sebelum dan sesudah intervensi nesting. Data dianalisis menggunakan uji t dependen. Hasil: Setelah intervensi, suhu tubuh rata-rata meningkat dari 36,4°C sebelum intervensi menjadi 36,7°C setelah intervensi. Frekuensi nadi juga turun dari 140 kali per menit menjadi 137 kali per menit. Perubahan ini menunjukkan bahwa bayi prematur menjadi lebih stabil secara fisiologis setelah nesting. Kesimpulan: Nesting efektif membantu meningkatkan stabilitas suhu tubuh dan frekuensi nadi pada bayi prematur. Intervensi ini dapat direkomendasikan sebagai bagian dari perawatan suportif di ruang perinatologi yang murah dan tanpa efek samping