Claim Missing Document
Check
Articles

Found 24 Documents
Search

KONSTRUKSI LINGUISTIK TERDAKWA KELAS BAWAH DALAM TEKS BERITA MEDIA DARING: ANALISIS WACANA KRITIS MODEL SARA MILLS PADA PEMBERITAAN KASUS FANDI RAMADHAN Endah Pujianti; Agus Hamdani; Lina Siti Nurwahidah
IdeBahasa Vol 8 No 1 (2026): Jurnal Idebahasa Vol 8 No 1 Juni 2026
Publisher : Asosiasi dosen IDEBAHASA KEPRI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37296/idebahasa.v8i1.418

Abstract

Penelitian ini menganalisis konstruksi linguistis terhadap terdakwa Anak Buah Kapal (ABK) kelas bawah dalam teks berita media daring menggunakan analisis wacana kritis model Sara Mills. Tiga teks berita yang memuat pemberitaan kasus hukum terhadap seorang ABK kelas bawah pada periode Maret dipilih sebagai data karena merepresentasikan praktik speed journalism dan click-driven economy yang rentan terhadap bias serta minim verifikasi berimbang. Landasan teoretis penelitian ini didukung oleh perspektif analisis wacana kritis, linguistik sistemik fungsional, dan kajian representasi media. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan desain studi kasus. Pengumpulan data dilakukan melalui teknik dokumentasi, sedangkan analisis data dilaksanakan melalui enam tahapan analisis wacana kritis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa: (1) aparat penegak hukum tampil dominan sebagai subjek naratif yang otoritatif melalui penggunaan verba proses mental dengan tingkat kepastian epistemis tinggi, sedangkan terdakwa lebih sering ditempatkan sebagai objek pasif; (2) media menggunakan strategi diksi sensasional, distribusi ruang naratif yang tidak proporsional, serta asimetri modalitas untuk mengarahkan pembaca pada perspektif aparat; dan (3) terdapat tiga bentuk representasi terdakwa yang tidak setara, yaitu sebagai pelaku (dominan), korban (marginal), dan pihak yang tidak memiliki kuasa naratif (konsisten). Temuan ini menunjukkan bahwa bahasa media tidak hanya berfungsi sebagai sarana penyampaian informasi, tetapi juga sebagai instrumen ideologis yang mengonstruksi realitas hukum dan mereproduksi relasi kuasa yang berpotensi merugikan kelompok rentan.
STRUKTUR TEKS, KOGNISI DAN KONTEKS SOSIAL DALAM BERITA ONLINE MENGENAI PENGUSUNGAN GIBRAN SEBAGAI CAWAPRES Yusi Yustisian Adlah; Agus Hamdani
Lingue : Jurnal Bahasa, Budaya, dan Sastra Vol. 5 No. 2 (2023): Language and Culture Studies
Publisher : LP2M UIN Abdul Muthalib Sangadji Ambon

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33477/lingue.v5i2.5891

Abstract

AbstractThis study adopts the theory of Critical Discourse Analysis by Teun A. van Dijk in evaluating online news articles published in two media, namely Kompas.com and detik.com, in order to explore the author's views and compare the views of both. The news topic chosen by the researcher was about "The Siege of Gibran Rakabuming Raka as Prabowo's Vice President in the 2024 Election". This research is a qualitative descriptive research method. Data analysis techniques include data redaction, data presentation, and conclusion pulling.From the analysis of text structure, in both news macro in both news, it can be concluded that there is a difference in meaning between the titles taken by each news portal but still has the same context that news writers try to form a discourse that presents PDIP as a victim (has a positive image) and Gibran as a traitor and has no political ethics (negative image). The socicial cognition highlighted from the news is a role scheme with a social context of power practices where readers are led to sympathize with PDIP.Keywords : News Text Structure, Social Context, Teun A Van Dijk, Gibran Cawapres AbstrakPenelitian ini mengadopsi teori Analisis Wacana Kritis oleh Teun A. van Dijk dalam mengevaluasi artikel berita online yang dipublikasikan di dua media, yakni Kompas.com dan detik.com, guna mengeksplorasi pandangan penulis dan membandingkan sudut pandang keduanya. Topik berita yang dipilih peneliti yaitu mengenai “Pengusungan Gibran Rakabuming Raka sebagai Cawapres Prabowo pada Pemilu 2024”. Penelitian ini merupakan metode penelitian deskriptif kualitatif. Teknik analisis data  meliputi redaksi data, penyajian data, dan penarik kesimpulan.Dari analisis struktur teks, pada kedua berita tersebut makro pada kedua berita, dapat disimpulkan bahwa terdapat perbedaan makna antara judul yang diambil oleh setiap portal berita namun tetap memiliki persamaan konteks bahwa penulis berita berusaha membentuk sebuah wacana yang menghadirkan PDIP dianggap sebagai korban (memiliki image positif) dan Gibran sebagai pengkhianat serta tidak memiliki etika politik (image negative). Kognisi sosiial yang ditonjolkan dari berita yaitu skema peran dengan konteks social praktik kekuasaan Dimana pembaca digiring untuk bersimpati kepada pihak PDIP.Kata Kunci : Struktur Teks Berita, Konteks sosial, Teun A Van Dijk, Gibran Cawapres
Studi Komparatif Kualitas Linguistik, Estetika, dan Kreativitas Puisi Siswa SMK dengan Puisi Generatif ChatGPT dalam Analisis Akademik Rachmani Syaefatul Huda Maryam; Agus Hamdani; Umi Kulsum
Alusi: Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Vol. 1 No. 1 (2025): Alusi:Kajian Bahasa dan Sastra serta Pembelajaran Bahasa Indonesia
Publisher : Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31980/alusi.v1i1.3269

Abstract

Penelitian ini dilatarbelakangi oleh perkembangan teknologi kecerdasan buatan (AI) yang memengaruhi pembelajaran sastra, khususnya dalam penulisan puisi. Permasalahan yang diangkat adalah perbedaan kualitas antara puisi karya siswa yang ditulis secara manual dengan puisi hasil bantuan ChatGPT, baik dari segi teknis maupun kedalaman makna. Penelitian ini bertujuan membandingkan kualitas kedua jenis puisi tersebut serta mengidentifikasi kelebihan dan kekurangannya untuk pembelajaran sastra. Metode penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain paired sample t-test. Subjek penelitian adalah siswa SMK TPI Al-Ghoniyyah Selaawi Garut yang menulis dua puisi: satu secara manual dan satu menggunakan ChatGPT tanpa prompt khusus selain judul puisi sebelumnya. Penilaian dilakukan oleh dua penilai independen berdasarkan delapan indikator: diksi, rima, gaya bahasa, imaji, tipografi, unsur ideologis, nilai didaktis, dan kelayakan ide. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ChatGPT unggul pada aspek teknis seperti diksi, rima, gaya bahasa, imaji, dan tipografi, sedangkan puisi siswa lebih unggul pada unsur ideologis, nilai didaktis, dan kelayakan ide. Meskipun skor rata-rata puisi ChatGPT sedikit lebih tinggi, perbedaan keduanya tidak signifikan secara statistik. Temuan ini mengimplikasikan bahwa ChatGPT dapat dimanfaatkan sebagai media pembelajaran untuk memperkuat keterampilan teknis menulis puisi, sementara penulisan manual tetap penting untuk mempertahankan kedalaman makna, nilai budaya, dan orisinalitas karya. Integrasi kedua pendekatan berpotensi meningkatkan kualitas pembelajaran sastra secara menyeluruh.
REPRESENTASI PEREMPUAN DALAM BERITA KEKERASAN SEKSUAL MELALUI WACANA KRITIS SARA MILLS Reni Noviani Lasmidewi; Agus Hamdani
Lingua Rima: Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Vol. 14 No. 2 (2025)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Tangerang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31000/lgrm.v14i2.13837

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengungkap representasi perempuan sebagai korban dalam pemberitaan kasus kekerasan seksual oleh media daring Kompas.com, Detik.com, Tempo.com, dan Tribunnews.com. Metode yang digunakan adalah analisis wacana kritis dengan pendekatan Sara Mills yang menelaah tiga elemen utama: posisi subjek, posisi objek, dan posisi pembaca. Data berupa kutipan teks dari media daring Tribunnews.com, Detik.com, Tempo.co, dan Kompas.com yang dipublikasikan pada April 2025. Teknik pengumpulan data menggunakan metode dokumentasi, dengan validitas data dijaga melalui triangulasi sumber. Analisis dilakukan dengan memerhatikan struktur kalimat, pilihan diksi, serta posisi naratif dalam teks. Hasil analisis menunjukkan bahwa keempat berita tersebut menempatkan pelaku sebagai pusat narasi (subjek) dengan dominasi peran aktif dan institusional, sedangkan korban perempuan direpresentasikan secara pasif sebagai objek yang mengalami tindakan tanpa suara naratif yang otonom. Tidak ada penggambaran mendalam mengenai kondisi psikologis korban, dan struktur berita cenderung mengalihkan perhatian pembaca dari pengalaman korban ke aspek prosedural, institusional, dan status sosial pelaku. Pembaca diposisikan secara netral dan tidak diarahkan untuk membangun empati terhadap korban. Temuan ini mengindikasikan bahwa media masih mereproduksi wacana patriarkis yang melemahkan posisi perempuan sebagai subjek dalam pemberitaan kekerasan seksual, serta belum menunjukkan keberpihakan etis terhadap korban. Penelitian ini merekomendasikan agar media mengedepankan narasi yang lebih berperspektif korban dan adil gender dalam peliputan kasus serupa.Kata kunci: kekerasan seksual, representasi perempuan, Sara Mills