Claim Missing Document
Check
Articles

Found 30 Documents
Search

KONSTRUKSI LINGUISTIK TERDAKWA KELAS BAWAH DALAM TEKS BERITA MEDIA DARING: ANALISIS WACANA KRITIS MODEL SARA MILLS PADA PEMBERITAAN KASUS FANDI RAMADHAN Endah Pujianti; Agus Hamdani; Lina Siti Nurwahidah
IdeBahasa Vol 8 No 1 (2026): Jurnal Idebahasa Vol 8 No 1 Juni 2026
Publisher : Asosiasi dosen IDEBAHASA KEPRI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37296/idebahasa.v8i1.418

Abstract

Penelitian ini menganalisis konstruksi linguistis terhadap terdakwa Anak Buah Kapal (ABK) kelas bawah dalam teks berita media daring menggunakan analisis wacana kritis model Sara Mills. Tiga teks berita yang memuat pemberitaan kasus hukum terhadap seorang ABK kelas bawah pada periode Maret dipilih sebagai data karena merepresentasikan praktik speed journalism dan click-driven economy yang rentan terhadap bias serta minim verifikasi berimbang. Landasan teoretis penelitian ini didukung oleh perspektif analisis wacana kritis, linguistik sistemik fungsional, dan kajian representasi media. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan desain studi kasus. Pengumpulan data dilakukan melalui teknik dokumentasi, sedangkan analisis data dilaksanakan melalui enam tahapan analisis wacana kritis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa: (1) aparat penegak hukum tampil dominan sebagai subjek naratif yang otoritatif melalui penggunaan verba proses mental dengan tingkat kepastian epistemis tinggi, sedangkan terdakwa lebih sering ditempatkan sebagai objek pasif; (2) media menggunakan strategi diksi sensasional, distribusi ruang naratif yang tidak proporsional, serta asimetri modalitas untuk mengarahkan pembaca pada perspektif aparat; dan (3) terdapat tiga bentuk representasi terdakwa yang tidak setara, yaitu sebagai pelaku (dominan), korban (marginal), dan pihak yang tidak memiliki kuasa naratif (konsisten). Temuan ini menunjukkan bahwa bahasa media tidak hanya berfungsi sebagai sarana penyampaian informasi, tetapi juga sebagai instrumen ideologis yang mengonstruksi realitas hukum dan mereproduksi relasi kuasa yang berpotensi merugikan kelompok rentan.
STRUKTUR TEKS, KOGNISI DAN KONTEKS SOSIAL DALAM BERITA ONLINE MENGENAI PENGUSUNGAN GIBRAN SEBAGAI CAWAPRES Yusi Yustisian Adlah; Agus Hamdani
Lingue : Jurnal Bahasa, Budaya, dan Sastra Vol. 5 No. 2 (2023): Language and Culture Studies
Publisher : LP2M UIN Abdul Muthalib Sangadji Ambon

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33477/lingue.v5i2.5891

Abstract

AbstractThis study adopts the theory of Critical Discourse Analysis by Teun A. van Dijk in evaluating online news articles published in two media, namely Kompas.com and detik.com, in order to explore the author's views and compare the views of both. The news topic chosen by the researcher was about "The Siege of Gibran Rakabuming Raka as Prabowo's Vice President in the 2024 Election". This research is a qualitative descriptive research method. Data analysis techniques include data redaction, data presentation, and conclusion pulling.From the analysis of text structure, in both news macro in both news, it can be concluded that there is a difference in meaning between the titles taken by each news portal but still has the same context that news writers try to form a discourse that presents PDIP as a victim (has a positive image) and Gibran as a traitor and has no political ethics (negative image). The socicial cognition highlighted from the news is a role scheme with a social context of power practices where readers are led to sympathize with PDIP.Keywords : News Text Structure, Social Context, Teun A Van Dijk, Gibran Cawapres AbstrakPenelitian ini mengadopsi teori Analisis Wacana Kritis oleh Teun A. van Dijk dalam mengevaluasi artikel berita online yang dipublikasikan di dua media, yakni Kompas.com dan detik.com, guna mengeksplorasi pandangan penulis dan membandingkan sudut pandang keduanya. Topik berita yang dipilih peneliti yaitu mengenai “Pengusungan Gibran Rakabuming Raka sebagai Cawapres Prabowo pada Pemilu 2024”. Penelitian ini merupakan metode penelitian deskriptif kualitatif. Teknik analisis data  meliputi redaksi data, penyajian data, dan penarik kesimpulan.Dari analisis struktur teks, pada kedua berita tersebut makro pada kedua berita, dapat disimpulkan bahwa terdapat perbedaan makna antara judul yang diambil oleh setiap portal berita namun tetap memiliki persamaan konteks bahwa penulis berita berusaha membentuk sebuah wacana yang menghadirkan PDIP dianggap sebagai korban (memiliki image positif) dan Gibran sebagai pengkhianat serta tidak memiliki etika politik (image negative). Kognisi sosiial yang ditonjolkan dari berita yaitu skema peran dengan konteks social praktik kekuasaan Dimana pembaca digiring untuk bersimpati kepada pihak PDIP.Kata Kunci : Struktur Teks Berita, Konteks sosial, Teun A Van Dijk, Gibran Cawapres
Studi Komparatif Kualitas Linguistik, Estetika, dan Kreativitas Puisi Siswa SMK dengan Puisi Generatif ChatGPT dalam Analisis Akademik Rachmani Syaefatul Huda Maryam; Agus Hamdani; Umi Kulsum
Alusi: Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Vol. 1 No. 1 (2025): Alusi:Kajian Bahasa dan Sastra serta Pembelajaran Bahasa Indonesia
Publisher : Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31980/alusi.v1i1.3269

Abstract

Penelitian ini dilatarbelakangi oleh perkembangan teknologi kecerdasan buatan (AI) yang memengaruhi pembelajaran sastra, khususnya dalam penulisan puisi. Permasalahan yang diangkat adalah perbedaan kualitas antara puisi karya siswa yang ditulis secara manual dengan puisi hasil bantuan ChatGPT, baik dari segi teknis maupun kedalaman makna. Penelitian ini bertujuan membandingkan kualitas kedua jenis puisi tersebut serta mengidentifikasi kelebihan dan kekurangannya untuk pembelajaran sastra. Metode penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain paired sample t-test. Subjek penelitian adalah siswa SMK TPI Al-Ghoniyyah Selaawi Garut yang menulis dua puisi: satu secara manual dan satu menggunakan ChatGPT tanpa prompt khusus selain judul puisi sebelumnya. Penilaian dilakukan oleh dua penilai independen berdasarkan delapan indikator: diksi, rima, gaya bahasa, imaji, tipografi, unsur ideologis, nilai didaktis, dan kelayakan ide. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ChatGPT unggul pada aspek teknis seperti diksi, rima, gaya bahasa, imaji, dan tipografi, sedangkan puisi siswa lebih unggul pada unsur ideologis, nilai didaktis, dan kelayakan ide. Meskipun skor rata-rata puisi ChatGPT sedikit lebih tinggi, perbedaan keduanya tidak signifikan secara statistik. Temuan ini mengimplikasikan bahwa ChatGPT dapat dimanfaatkan sebagai media pembelajaran untuk memperkuat keterampilan teknis menulis puisi, sementara penulisan manual tetap penting untuk mempertahankan kedalaman makna, nilai budaya, dan orisinalitas karya. Integrasi kedua pendekatan berpotensi meningkatkan kualitas pembelajaran sastra secara menyeluruh.
REPRESENTASI PEREMPUAN DALAM BERITA KEKERASAN SEKSUAL MELALUI WACANA KRITIS SARA MILLS Reni Noviani Lasmidewi; Agus Hamdani
Lingua Rima: Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Vol. 14 No. 2 (2025)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Tangerang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31000/lgrm.v14i2.13837

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengungkap representasi perempuan sebagai korban dalam pemberitaan kasus kekerasan seksual oleh media daring Kompas.com, Detik.com, Tempo.com, dan Tribunnews.com. Metode yang digunakan adalah analisis wacana kritis dengan pendekatan Sara Mills yang menelaah tiga elemen utama: posisi subjek, posisi objek, dan posisi pembaca. Data berupa kutipan teks dari media daring Tribunnews.com, Detik.com, Tempo.co, dan Kompas.com yang dipublikasikan pada April 2025. Teknik pengumpulan data menggunakan metode dokumentasi, dengan validitas data dijaga melalui triangulasi sumber. Analisis dilakukan dengan memerhatikan struktur kalimat, pilihan diksi, serta posisi naratif dalam teks. Hasil analisis menunjukkan bahwa keempat berita tersebut menempatkan pelaku sebagai pusat narasi (subjek) dengan dominasi peran aktif dan institusional, sedangkan korban perempuan direpresentasikan secara pasif sebagai objek yang mengalami tindakan tanpa suara naratif yang otonom. Tidak ada penggambaran mendalam mengenai kondisi psikologis korban, dan struktur berita cenderung mengalihkan perhatian pembaca dari pengalaman korban ke aspek prosedural, institusional, dan status sosial pelaku. Pembaca diposisikan secara netral dan tidak diarahkan untuk membangun empati terhadap korban. Temuan ini mengindikasikan bahwa media masih mereproduksi wacana patriarkis yang melemahkan posisi perempuan sebagai subjek dalam pemberitaan kekerasan seksual, serta belum menunjukkan keberpihakan etis terhadap korban. Penelitian ini merekomendasikan agar media mengedepankan narasi yang lebih berperspektif korban dan adil gender dalam peliputan kasus serupa.Kata kunci: kekerasan seksual, representasi perempuan, Sara Mills
Efektivitas media pembelajaran interaktif Wordwall dalam meningkatkan kemampuan membaca awal siswa Iros Rosita; Ari Kartini; Asep Nurjamin; Agus Hamdani
Curricula: Journal of Curriculum Development Vol. 5 No. 1 (2026): Curricula: Journal of Curriculum Development
Publisher : Universitas Pendidikan Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/curricula.v5i1.95013

Abstract

Early reading skills are among the basic skills that elementary school students must master. Early reading difficulties persist among first-grade students, underscoring the need for effective instructional media to support learning. This study aims to assess the effectiveness of Wordwall interactive learning media in improving early reading skills among first-grade students at SDN Pasirwaru Limbangan. This study uses a quantitative approach with a one-group pretest-posttest pre-experimental design. The population in this study was all 21 first-grade students, who were also used as the research sample. Data were collected through reading comprehension tests before and after the implementation of Wordwall. Data analysis was performed using the Wilcoxon Signed-Rank Test, a nonparametric test, because one of the data sets was not normally distributed. The results showed a difference in reading comprehension between before and after the use of Wordwall. These findings indicate that Wordwall interactive learning media is effective in teaching reading comprehension to first-grade elementary school students.
Penerapan PjBL dalam meningkatkan proses kreatif menulis puisi Aditya Ansor Alsunah; Didin Sahidin; Agus Hamdani; Ardi Mulyana Haryadi; Ninah Hasanah
Curricula: Journal of Curriculum Development Vol. 5 No. 1 (2026): Curricula: Journal of Curriculum Development
Publisher : Universitas Pendidikan Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/curricula.v5i1.92442

Abstract

Some students have poor abilities to express ideas and to develop creative imagination in poetry writing activities in Indonesian Language and Literature learning. Therefore, this study aims to analyze the effect of implementing the Project-Based Learning (PjBL) model on students' creative process in poetry writing. The PjBL model was chosen because it emphasizes active, collaborative, and project-based learning, providing opportunities for students to explore ideas through authentic experiences and to be responsible for the final products of their learning, in the form of literary works. This study used a quasi-experimental one-group pretest–posttest design. The research subjects were 30 grade XII students at MA Fauzaniyyah. The research instruments included a creative process assessment sheet and a poetry assessment rubric that covered aspects of imagination, expression, and poetic diction. The results showed a significant increase in students' creative processes following the implementation of the PjBL model. This increase was seen in the ability to develop ideas, enrich imagination, and express ideas poetically. In addition, students showed higher involvement and enthusiasm during the learning process. The PjBL model can support more meaningful, context-based poetry-writing learning.
ANALISIS WACANA KRITIS KEBIJAKAN PENGHEMATAN ENERGI PEMERINTAH DALAM PERSPEKTIF VAN DIJK Suhendar Suhendar; Agus Hamdani; Lina Siti Nurwahidah
Diksatrasia : Jurnal Ilmiah Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Vol 10, No 2 (2026): JURNAL DIKSATRASIA JULI 2026
Publisher : Universitas Galuh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25157/diksatrasia.v10i2.24786

Abstract

Kebijakan penghematan energi merupakan salah satu upaya pemerintah dalam menjaga keberlanjutan sumber daya energi dan mendukung efisiensi penggunaan energi nasional. Salah satu kebijakan yang diterapkan adalah mekanisme Work From Home (WFH) sebagai strategi untuk mengurangi konsumsi energi pada sektor transportasi. Namun, kebijakan tersebut menuai kritik dari berbagai pihak karena dinilai belum mampu menyentuh akar permasalahan konsumsi energi nasional. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis wacana kritik terhadap kebijakan penghematan energi pemerintah menggunakan model Analisis Wacana Kritis Teun A. Van Dijk. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode analisis wacana kritis. Data penelitian berupa pernyataan publik Anggota Komisi XII DPR RI, Ratna Juwita Sari, yang mengkritik kebijakan penghematan energi melalui WFH. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui dokumentasi, sedangkan analisis data dilakukan berdasarkan tiga dimensi analisis Van Dijk, yaitu struktur makro, superstruktur, dan struktur mikro. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pada struktur makro, tema utama yang dibangun adalah kritik terhadap efektivitas kebijakan penghematan energi yang dianggap tidak sistemik dan kurang komprehensif. Pada struktur superstruktur, teks disusun secara argumentatif melalui pola pengenalan kebijakan, penyampaian kritik, dan penawaran solusi alternatif. Pada struktur mikro ditemukan penggunaan unsur semantik, sintaksis, stilistika, dan retoris yang berfungsi membangun citra negatif terhadap kebijakan pemerintah sekaligus memperkuat legitimasi kritik yang disampaikan. Selain itu, wacana tersebut merepresentasikan relasi kekuasaan antara pemerintah dan legislatif dalam proses pengawasan kebijakan publik. Penelitian ini menunjukkan bahwa bahasa digunakan sebagai instrumen untuk membangun makna, memengaruhi opini publik, dan merepresentasikan kepentingan tertentu dalam wacana kebijakan publik.
MARGINALISASI KORBAN DAN PENGABURAN PELAKU DALAM PEMBERITAAN KASUS PELECEHAN SEKSUAL OLEH DRIVER TAKSI ONLINE: ANALISIS WACANA KRITIS ROGER FOWLER Uda Hudaya; Agus Hamdani; Lina Siti Nurwahidah
Diksatrasia : Jurnal Ilmiah Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Vol 10, No 2 (2026): JURNAL DIKSATRASIA JULI 2026
Publisher : Universitas Galuh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25157/diksatrasia.v10i2.25279

Abstract

Penelitian ini bertujuan menganalisis representasi korban dan pelaku dalam berita berjudul "5 Fakta Ulah Driver Taksi Online Lecehkan Penumpang Kini Jadi Tersangka" yang dimuat oleh media daring Detiknews. Penelitian menggunakan pendekatan Analisis Wacana Kritis (AWK) Roger Fowler yang memandang bahasa sebagai praktik sosial yang tidak netral dan sarat dengan kepentingan ideologis. Data penelitian berupa teks berita mengenai kasus pelecehan seksual yang dilakukan seorang pengemudi taksi online terhadap penumpang perempuan. Metode yang digunakan adalah metode deskriptif kualitatif dengan teknik analisis teks. Hasil penelitian menunjukkan bahwa korban direpresentasikan secara terbatas melalui penyebutan identitas yang minim dan tidak diberi ruang untuk menyampaikan pengalaman maupun dampak psikologis yang dialaminya. Sebaliknya, pelaku direpresentasikan melalui strategi kebahasaan tertentu yang berpotensi mengaburkan tanggung jawabnya, seperti penggunaan nominalisasi, klasifikasi sosial, dan pengalihan fokus pemberitaan pada faktor eksternal seperti penggunaan narkoba. Temuan ini memperlihatkan bahwa bahasa media tidak hanya menyampaikan fakta, tetapi juga mereproduksi relasi kuasa dan ideologi tertentu dalam memahami realitas sosial.
HEGEMONI DAN KONTROL INFORMASI DALAM NARASI ANTI-HOAKS PROGRAM MBG: ANALISIS WACANA KRITIS NORMAN FAIRCLOUGH Sopi Ali Mubarok; Agus Hamdani; Lina Siti Nurwahidah
Diksatrasia : Jurnal Ilmiah Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Vol 10, No 2 (2026): JURNAL DIKSATRASIA JULI 2026
Publisher : Universitas Galuh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25157/diksatrasia.v10i2.25929

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengungkap representasi kekuasaan, ideologi, dan mekanisme kontrol informasi dalam narasi anti-hoaks pada pemberitaan Program Makan Bergizi Gratis (MBG). Fokus penelitian diarahkan pada teks berita ANTARA News berjudul BGN Gandeng Kemkomdigi Perangi Hoaks Program MBG yang dipublikasikan pada 28 Februari 2026. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan metode Analisis Wacana Kritis model Norman Fairclough yang mencakup tiga dimensi analisis, yaitu dimensi teks, praktik diskursif, dan praktik sosiokultural (Fairclough, 1992; Fairclough, 2001; Wodak & Meyer, 2016; Ulinnuha et al., 2013). Data dikumpulkan melalui teknik dokumentasi dan dianalisis melalui identifikasi unsur linguistik, interpretasi produksi serta konsumsi teks, dan eksplanasi konteks sosial-politik yang melatarbelakanginya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa narasi anti-hoaks dalam pemberitaan tersebut tidak semata berfungsi sebagai strategi melawan disinformasi, melainkan juga sebagai praktik diskursif yang mengonstruksi legitimasi negara dalam mengontrol ruang digital. Pada level teks, ditemukan penggunaan diksi militeristik, modalitas tinggi, nominalisasi, dan dominasi aktor negara sebagai subjek aktif (Machin & Mayr, 2012; Ledin & Machin, 2019). Pada level praktik diskursif, ANTARA sebagai media nasional berfungsi sebagai reproduktor wacana resmi pemerintah (Erwin & Susanto, 2019; Hapsari & Komariah, 2024; Pambudi et al., 2025). Pada level praktik sosiokultural, narasi anti-hoaks beroperasi sebagai instrumen hegemoni ideologis untuk mempertahankan stabilitas politik dan legitimasi kebijakan publik (van Dijk, 1998; van Dijk, 2008; Fuchs, 2020). Penelitian ini menegaskan bahwa bahasa dalam media tidak pernah netral, melainkan menjadi arena pertarungan kekuasaan, ideologi, dan kontrol sosial (Gee, 2014; KhosraviNik, 2017; Couldry & Mejias, 2019).
BAHASA, KEKUASAAN, DAN IDEOLOGI DALAM PEMBERITAAN MEDIASI INDONESIA : KAJIAN ROGER FOWLER PADA MEDIA DETIKNEWS Siti Nadiah; Agus Hamdani; Lina Siti Nurwahidah
Diksatrasia : Jurnal Ilmiah Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Vol 10, No 2 (2026): JURNAL DIKSATRASIA JULI 2026
Publisher : Universitas Galuh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25157/diksatrasia.v10i2.24719

Abstract

Penelitian ini bertujuan menganalisis konstruksi bahasa, relasi kekuasaan, dan ideologi dalam pemberitaan mengenai kesiapan Presiden Indonesia menjadi mediator konflik antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran pada media detikNews. Pemberitaan tersebut menyampaikan bahwa pemerintah Indonesia menyatakan kesiapan untuk memfasilitasi dialog dan Presiden bersedia bertolak ke Teheran apabila disetujui pihak terkait sebagai upaya menciptakan kondisi keamanan yang kondusif. Di sisi lain, pemberitaan juga menampilkan pernyataan tokoh nasional yang memperingatkan bahwa konflik tersebut sangat kompleks, dipengaruhi ketimpangan kekuatan global, serta berpotensi berdampak pada ekonomi Indonesia, termasuk kenaikan harga minyak dan gangguan logistik perdagangan. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan metode analisis wacana kritis Roger Fowler yang berfokus pada analisis kosakata, struktur transitivitas, nominalisasi, dan modalitas dalam teks berita. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pilihan bahasa media membangun representasi Indonesia sebagai aktor diplomasi perdamaian yang aktif, namun secara simultan menampilkan keterbatasan kekuasaan melalui penggunaan modalitas bersyarat dan representasi ketimpangan geopolitik. Dengan demikian, bahasa media tidak hanya berfungsi sebagai sarana penyampaian informasi, tetapi juga sebagai instrumen ideologis yang membentuk persepsi publik mengenai posisi politik Indonesia dalam konflik internasional.