Lanny Mulqie
Farmasi, Fakultas Matematika Dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Islam Bandung

Published : 57 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Studi Literatur Aktivitas Antibakteri Buah Mengkudu (Morinda citrifolia) Resti Fauziyah; Lanny Mulqie; Ratu Choesrina
Bandung Conference Series: Pharmacy Vol. 2 No. 2 (2022): Bandung Conference Series: Pharmacy
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (358.975 KB) | DOI: 10.29313/bcsp.v2i2.4673

Abstract

Abstract. Infectious diseases are still occur in Indonesia. The most common microorganisms that cause infection are bacteria. Several pathogenic bacteria that can cause infection in humans include Escherichia coli, Staphylococcus epidermidis, Propionibacterium acnes, Staphylococcus aureus, Shigella dysenteriae, Shigella flexneri, Bacillus subtilis, Klebsiella pneumonia, Proteus mirabilis, Salmonella typhi, and Pseudomonas sp. In general, infectious diseases can be cured by taking antibiotics. However, uncontrolled use of antibiotics can lead to resistance. So it is necessary to use natural ingredients that can be used as a support for the treatment of infections. One of the plants that can be used as medicine is noni fruit (Morinda citrifolia). The purpose of this review article was to determine the antibacterial activity of the Noni fruit (Morinda citrifolia) and to determine the active compounds contained in the Noni fruit (Morinda citrifolia). The method used is a systematic literature review with the stages of literature study, screening based on inclusion and exclusion criteria and data extraction. Based on the results of a literature study, Noni (Morinda citrifolia) has antibacterial activity against Escherichia coli, Staphylococcus epidermidis, Propionibacterium acnes, Staphylococcus aureus, Shigella dysenteriae, Shigella flexneri, Bacillus subtilis, Klebsiella pneumonia, Proteus mirabilis, Salmonella typhi, and Pseudomonas sp. The active compounds contained in the noni fruit (Morinda citrifolia) are acubin, L.asperuloside, alizarin, anthraquinone, limonene, quercetin, acids in the form of ascorbic acid, carpitic acid and caproic acid, anticancer substances in the form of xeronin and others nutrients needed by the body such as carbohydrates, proteins, vitamins, and minerals Abstrak. Penyakit infeksi masih banyak terjadi di Indonesia. Mikroorganisme yang paling sering menyebabkan infeksi adalah bakteri. Beberapa bakteri patogen yang dapat menyebabkan infeksi pada manusia diantaranya Escherichia coli, Staphylococcus epidermidis, Propionibacterium acnes, Staphylococcus aureus, Shigella dysenteriae, Shigella flexneri, Bacillus subtilis, Klebsiella pneumonia, Proteus mirabilis, Salmonella typhi, dan Pseudomonas sp. Secara umum penyakit infeksi dapat disembuhkan dengan mengkonsumsi antibiotik. Namun, penggunaan antibiotik yang tidak terkontrol dapat memicu terjadinya resistensi. Sehingga perlu digunakan bahan alam yang dapat dijadikan sebagai penunjang pengobatan infeksi. Salah satu tanaman yang dapat dimanfaatkan sebagai bahan obat yaitu buah Mengkudu (Morinda citrifolia). Tujuan dari review artikel ini adalah untuk mengetahui aktivitas antibakteri pada buah Mengkudu (Morinda citrifolia) dan mengetahui senyawa aktif yang terkandung pada buah Mengkudu (Morinda citrifolia). Metode yang digunakan yaitu berupa kajian pustaka secara sistematis dengan tahapan penelusuran pustaka, penyaringan berdasarkan kriteria inklusi dan eksklusi serta ekstrasi data. Berdasarkan hasil studi literatur, buah mengkudu (Morinda citrifolia) memiliki aktivitas antibakteri terhadap bakteri Escherichia coli, Staphylococcus epidermidis, Propionibacterium acnes, Staphylococcus aureus,Shigella dysenteriae, Shigella flexneri, Bacillus subtilis, Klebsiella pneumonia, Proteus mirabilis, Salmonella typhi, dan Pseudomonas sp. Senyawa aktif yang terkandung dalam buah mengkudu (Morinda citrifolia) adalah acubin, L.asperuloside, alizarin, antraquinon, limonen, kuersetin, zat asam berupa asam askorbat, asam karpitat dan asam kaproat, zat antikanker berupa xeronin dan zat-zat nutrisi yang dibutuhkan tubuh seperti karbohidrat, protein, vitamin, dan mineral.
Penetapan Kadar Abu Total dan Bobot Jenis Buah Tin (Ficus carica L.) Aghnia Nurzahra; Lanny Mulqie; Siti Hazar
Bandung Conference Series: Pharmacy Vol. 2 No. 2 (2022): Bandung Conference Series: Pharmacy
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (344.892 KB) | DOI: 10.29313/bcsp.v2i2.4677

Abstract

Abstract. The fig plant is one of the plants that can be used as medicine, starting from the fruit, roots, and leaves which have benefits for treating various diseases, diseases such as digestion, respiratory disorders, cardiovascular disorders empirically and is thought to have anti-inflammatory effect, antispasmodic, antibacterial, antioxidant, antivirus, anthelmintic and others. To be able to be used as a medicinal plant that is not only efficacious, but also guaranteed safety and quality, it is necessary to standardize which is an effort to maintain the quality of medicinal raw materials that come from plants. Standardization consists of specific and non-specific parameters. Standardization that will be carried out in this study is non-specific parameters, namely total ash content and specific gravity. The purpose of this study was to determine the total ash content and types contained in figs (Ficus carica L.). The research method used is experimentally in the laboratory of the Islamic University of Bandung. The results obtained for the total ash content of 3.87% and specific gravity of 0.83 Abstrak. Tanaman tin merupakan salah satu tanaman yang dapat dijadikan sebagai tanaman obat, mulai dari buah, akar, dan daunnya memiliki manfaat untuk mengobati berbagai penyakit, seperti penyakit pada pencernaan, gangguan pernafasan, gangguan kardiovaskular secara empiris dan diduga memiliki efek antiinflamasi, antispasmodik, antibakteri, antioksidan, antivirus, antelmintik dan lainnya. Untuk dapat dijadikan suatu tanaman obat yang bukan hanya berkhasiat, tapi juga terjamin keamanan dan mutunya, maka perlu dilakukan standardisasi yang merupakan upaya dalam menjaga kualitas bahan baku obat yang sumbernya dari tanaman. Standardisasi terdiri dari parameter spesifik dan non spesifik. Standardisasi yang akan dilakukan pada penelitian ini adalah parameter non spesifik yaitu kadar abu total dan bobot jenis. Tujuan penelitian ini ialah untuk mengetahui nilai kadar abu total dan bobot jenis yang terdapat pada buah tin (Ficus carica L.). Metode penelitian yang digunakan adalah secara eksperimental di laboratorium Universitas Islam Bandung. Hasil yang diperoleh untuk nilai kadar abu total sebesar 3,87% dan bobot jenis sebesar 0,83. Kata Kunci: Bobot jenis, kadar abu total, buah tin.
Kajian Pustaka Aktivitas Antibakteri dari Tanaman Nanas (Ananas Comosus L. Merr) terhadap Bakteri Escherichia Coli dan Pseudomonas Aeruginosa Rise Yantika; Lanny Mulqie; Suwendar
Bandung Conference Series: Pharmacy Vol. 2 No. 2 (2022): Bandung Conference Series: Pharmacy
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (476.364 KB) | DOI: 10.29313/bcsp.v2i2.4766

Abstract

Abstract. Infection is one of 10 diseases that are often found in hospitals. The prevalence due to pneumonia reached 14.5% and diarrhea reached 9.8%. Pseudomonas aeruginosa and Escherichia coli are gram-negative bacteria that often cause health problems and resistant to a number of antibiotics. In some cultures, pineapple plants are widely used as traditional, with this potential hoped it can be used as supporting drugs or medicinal materials for developing new drugs in the use of antibiotics. The purpose of this study are to determine the antibacterial activity of pineapple plant, that part include of the fruit, crown, core, stem, and peel, that showed antibacterial activity against Escherichia coli and Pseudomonas aeruginosa bacteria bacterias, to determine the compounds group and active compounds that have antibacterial activity. The results of the literature search showed that the diameter of the inhibition zone, % of inhibition, the value of the Minimum Inhibitory Concentration (MIC), and Minimum Bactericidal Concentration (MBC) of the pineapple plant, the fruit part, fruit crown, fruit hump, fruit stem, and fruit peel showed antibacterial activity against bacteria. Group of compound that function as antibacteria in pineapple plants are flavonoids, saponins, tannins, phenolic and alkaloids as well as active compounds that function as antibacteria and are found in pineapple plants including bromelain, ferulic acid, phytol, linalool, -terpineol, ferulic, iso-ferulic, cinnamic acid, benzoic acid, p-hydroxybenzoic acid, syringic acid, and vanillin. Abstrak. Infeksi merupakan salah satu jenis penyakit yang masuk ke dalam 10 daftar penyakit yang banyak ditemui di rumah sakit. Pervalensi akibat pneumonia mencapai 14,5% dan diare mencapai 9,8%. Bakteri Pseudomonas aeruginosa dan Escherichia coli merupakan bakteri gram negatif yang seringkali menimbulkan masalah kesehatan dan resisten pada sejumlah antibiotik. Pada beberapa budaya tanaman nanas digunakan sebagai obat tradisional, dengan adanya potensi tersebut diharapkan tanaman nanas dapat digunakan sebagai obat penunjang atau bahan obat dalam pengembangan obat baru pada penggunaan antibiotik. Tujuan penelitian ini yakni untuk mengetahui aktivitas antibakteri tanaman nanas yang meliputi buah, kulit buah, bonggol, batang, dan mahkota buah terhadap bakteri Escherichia coli dan Pseudomonas aeruginosa, dan untuk mengetahui golongan senyawa serta senyawa yang memiliki aktivitas antibakteri. Hasil penelusuran pustaka menunjukan pada diameter zona hambat, % penghambatan, nilai Konsentrasi Hambat Minimum (KHM), dan Konsentrasi Bunuh Minimum (KBM) dari tanaman nanas bagian buah, mahkota buah, bonggol, batang, dan kulit buah menunjukan aktivitas antibakteri terhadap bakteri gram negatif yakni Pseudomonas aeruginosa dan Escherichia coli. Golongan senyawa yang berfungsi sebagai antibakteri pada tanaman nanas yakni flavonoid, saponin, tanin, fenolik, dan alkaloid serta senyawa aktif yang berfungsi sebagai antibakteri dan terdapat dalam tanaman nanas meliputi bromelin, asam ferulat, fitol, linalool, α-terpineol, ferulik, iso-ferulat, asam sinamat, asam benzoate, p-asam hidroksibenzoat, asam siringat, dan vanillin.
Studi Kepatuhan Pengobatan Pasien Diabetes Melitus Tipe-2 di Puskesmas Desa Rantau Keloyang Provinsi Jambi Laila Afifah AB; Fetri Lestari; Lanny Mulqie
Bandung Conference Series: Pharmacy Vol. 2 No. 2 (2022): Bandung Conference Series: Pharmacy
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (242.652 KB) | DOI: 10.29313/bcsp.v2i2.4841

Abstract

Abstract. Type 2 Diabetes Mellitus is the most common form of diabetes. Treatment therapy for type 2 diabetes consists of five main components, namely diet, exercise, monitoring of metabolic status, pharmacological therapy, and education. Most patients with type 2 diabetes will experience difficulties in self-management related to physical activity, healthy eating, drug use, blood glucose monitoring, and stress management. Long-term therapy in patients with type 2 diabetes mellitus will greatly determine the level of drug use adherence. This study aims to determine the level of treatment adherence of type 2 DM patients at the Rantau Keloyang Health Center and the factors that influence it. Observational research method with cross sectional design. Retrospective data collection and MMAS-8 questionnaire filling. The level of compliance is seen from the number and average score of each respondent. Then in the analysis of the factors that influence the patient's medication adherence with the results of the questionnaire. The results showed that the level of compliance of patients with Type-2 Diabetes Mellitus at the Puskesmas Rantau Desa Keloyang had a low level of adherence, namely 66% of patients with low adherence, 44% of patients with moderate adherence, and 0% of patients with moderate adherence. patients with moderate adherence. patients with high adherence. Factors that affect patient compliance in taking medication are lack of knowledge and good education to patients, busy patients' time, and difficulty or often forgetting to take medication. Abstrak. Diabetes Melitus Tipe-2 merupakan bentuk paling umum dari diabetes. Terapi pengobatan DM tipe 2 ini terdiri dari lima komponen utama yaitu aturan makan, olahraga, pemantauan status metabolik, terapi farmakologi, dan edukasi. Sebagian besar pasien DM tipe 2 akan mengalami kesulitan dalam pengelolaan diri yang berhubungan dengan aktivitas fisik, makan sehat, penggunaan obat, pemantauan glukosa darah, serta pengelolaan stres. Pengobatan diabetes melitus tipe-2 ini dilakukan dalam jangka panjang sehingga akan sangat menentukan tingkat kepatuhan penggunaan obat. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tingkat kepatuhan pengobatan pasien DM tipe 2 di Puskemas Desa Rantau Keloyang dan faktor yang mempengaruhinya. Metode penelitian observasional dengan desain cross sectional. Pengambilan data secara retrospektif dan pengisian kuisioner MMAS-8. Tingkat kepatuhan dilihat dari dari jumlah dan rata-rata skor dari setiap responden. Kemudian di analisis faktor-faktor yang mempengaruhi kepatuhan pengobatan pasien dengan hasil kuisioner. Hasil penelitian menunjukkan tingkat kepatuhan pasien Diabetes Melitus Tipe-2 di Puskesmas Desa Rantau Keloyang memiliki tingkat kepatuhan yang rendah yaitu 66% pasien dengan tingkat keptuhan rendah, 44% pasien dengan kepatuhan sedang, dan 0% pasien dengan kepatuhan tinggi. Faktor-faktor yang mempengaruhi kepatuhan pasien dalam melakukan pengobatan yaitu kurangnya pengetahuan dan edukasi yang baik kepada pasien, kesibukan waktu pasien, dan kesulitan atau sering lupa dalam mengkonsumsi obat.
PERBANDINGAN EKSTRAK BENALU TEH (Scurrula atropurpurea (Bl.) Dans.) DENGAN EKSTRAK TEMULAWAK (Curcuma xanthorrhiza) SEBAGAI HEPATOPROTEKTOR PADA TIKUS WISTAR Fetri Lestari; Mochamad Tanto Kuswanto; Lanny Mulqie
Jurnal Ilmiah Farmasi Farmasyifa Vol 6, No 1 (2023)
Publisher : Universitas Islam Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/jiff.v6i1.10816

Abstract

Penggunaan obat antituberkulosis isoniazid dan rifampisin diketahui dapat menyebabkan drug-induced hepatitis sehingga memerlukan pemberian hepatoprotektor. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pemberian ekstrak etanol benalu teh (EBT) dalam mencegah kenaikan kadar Serum Glutamic-Pyruvic Transaminase/ SGPT pada tikus yang diinduksi isoniazid dan rifampisin, dibandingkan dengan ekstrak temulawak (ETL). Sebanyak 24 ekor tikus dibagi menjadi 6 kelompok yaitu kontrol positif; kontrol negatif; tiga kelompok uji masing-masing diberi induktor dan EBT dengan dosis 35, 70, dan 140 mg/kgBB; kelompok pembanding diberi induktor dan sediaan mengandung ETL dengan dosis 36 mg/kgBB. Setelah 15 hari, dilakukan analisa parameter kadar SGPT sampel darah dari vena lateralis ekor. Hasil menunjukkan kelompok EBT dosis 70 mg/kgBB dan 140 mg/kgBB serta kelompok ETL memiliki rata-rata kadar SGPT lebih rendah yang signifikan secara statistik  dibandingkan kelompok kontrol positif  (p<0,05). Rata-rata kadar SGPT kelompok EBT dosis 70 mg/kgBB dan 140 mg/kgBB tidak berbeda bermakna secara statistik dengan kelompok ETL. Sehingga disimpulkan bahwa efek hepatoprotektor ekstrak benalu teh dengan dosis tersebut sebanding dengan ekstrak temulawak.Kata kunci: hepatoprotektor, benalu teh, temulawak, antituberkulosis, SGPT 
POTENSI ANTIBAKTERI FRAKSI EKSTRAK BUAH TIN DOMESTIK (Ficus carica L.) TERHADAP Pseudomonas aeruginosa dan Staphylococcus aureus Lanny Mulqie; Siti Hazar; Ratu Choesrina; Dieni Mardliyani; Aghnia Nurzahra; Nabila Nur Latifa
Jurnal Ilmiah Farmasi Farmasyifa Vol 6, No 2 (2023)
Publisher : Universitas Islam Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/jiff.v6i2.10853

Abstract

Munculnya bakteri resisten yang cepat terjadi di seluruh dunia, membahayakan efikasi antibiotik. Bakteri Staphylococcus aureus yang resisten terhadap antimikroba membuat pemilihan antibiotika terbatas dan infeksi pada luka tidak dapat diobati. infeksi yang disebabkan Pseudomonas aeruginosa sering mengakibatkan kerusakan yang signifikan pada jaringan dan menunjukkan resistensi terhadap antibiotika. Penggunaan antibiotika yang berasal dari alam dapat menjadi alternatif untuk mengatasi permasalahan resistensi antibiotika. Salah satu tanaman yang sudah banyak dibudidayakan di Indonesia adalah tanaman tin (Ficus carica L.). Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui potensi antibakteri ekstrak etanol buah tin yang didomestikasi di Indonesia terhadap bakteri Pseudomonas aeruginosa dan Staphylococcus aureus dengan metode difusi agar serta penetapan nilai Konsentrasi Hambat Minimum (KHM). Fraksi n-heksana dan fraksi air memiliki aktivitas antibakteri terhadap Staphylococcus aureus dengan nilai KHM masing-masing sebesar 1,25% dan 10%. Fraksi etil asetat memiliki aktivitas antibakteri terhadap bakteri Pseudomonas aeruginosa dan Staphylococcus aureus dengan nilai KHM sebesar 1,25%.
Study Of Drug Interaction in Diabetes Mellitus Therapy at the Inpatient Installation of Al Islam Hospital Bandung Nabila Nur Azhari; Fetri Lestari; Lanny Mulqie
Bandung Conference Series: Pharmacy Vol. 3 No. 2 (2023): Bandung Conference Series: Pharmacy
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsp.v3i2.8374

Abstract

The patient's clinical outcome can be influenced by drug related problems, one of which is drug interactions, because the more complex the therapy carried out, it will be in line with the use of a large number of drugs and the tendency for polypharmacy, so the potential for drug interactions is greater. One of the diseases that can potentially experience drug interactions is type 2 diabetes mellitus, because it has the potential to be prescribed more than two kinds of drugs or even prescribed polypharmacy. This studied aimed to determined the percentage of drug prescriptions that potential to cause drug interactions, determined the mechanism, classification of the impact of drug interactions. The study was conducted analytically observational with retrospective data collection in January-March 2023 using prescription data and medical records of type 2 diabetes mellitus patients hospitalized at Al Islam Hospital Bandung, with purposive sampling technique. From a total of 98 prescriptions, there were 71 prescriptions that had the potential for drug interactions. Consisting of the number of drugs 2- 4 as many as 25 recipes with potential drug interactions 29 (17.37%), while for the number of drugs ≥5 as many as 46 recipes with potential drug interactions 138 (82.63%). Based on the mechanism of drug interactions that occurred, it consisted of pharmacodynamics 142 (85.03%) and pharmacokinetics 25 (14.97%), with the frequency of major severity 5 (3%), moderate 152 (91%) and minor 10 (6%). This study used Stockley’s Drug Interaction E-Book, Drug Interaction Checker and Medscape Drug Interaction Checker to analyze drug interactions. Outcome klinis pasien dapat dipengaruhi oleh drug related problem salah satunya interaksi obat, karena semakin kompleks terapi yang dilakukan maka akan sejalan dengan penggunaan jumlah obat yang banyak dan kecenderungan terjadinya polifarmasi, sehingga potensi interaksi obat semakin besar. Salah satu penyakit yang dapat berpotensi mengalami interaksi obat ialah diabetes melitus tipe 2, karena berpotensi diresepkan lebih dari dua macam obat atau bahkan diresepkan polifarmasi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui persentase peresepan obat yang berpotensi menimbulkan interaksi obat meliputi mekanisme, klasifikasi tingkat keparahanan dan dampak dari interaksi obat. Penelitian dilakukan secara observasional analitik dengan pengambilan data secara retrospektif pada bulan Januari-Maret 2023 menggunakan data resep dan rekam medik pasien diabetes melitus tipe 2 yang dirawat inap di Rumah Sakit Al Islam Bandung, teknik pengambilan sampel secara purposive sampling. Dari total 98 resep, terdapat 71 resep yang berpotensi mengalami interaksi obat. Terdiri dari jumlah obat 2-4 sebanyak 25 resep dengan potensi interaksi obat 29 (17,37%), sedangkan untuk jumlah obat ≥5 sebanyak 46 resep dengan potensi interaksi obat 138 (82,63%). Berdasarkan mekanisme interaksi obat yang terjadi terdiri dari farmakodinamik 142 (85,03%) dan farmakokinetik 25 (14,97%), dengan frekuensi tingkat keparahan mayor 5 (3%), moderate 152 (91%) dan minor 10 (6%). Penelitian ini Menggunakan E-Book Stockley’s Drug Interaction, Drug Interaction Checker serta Medscape Drug Interaction Checker untuk menganalisis interaksi obat.
ANTIBACTERIAL ACTIVITY AND KLT-BIOAUTOGRAPHY ANALYSYS OF ETHANOL EXTRACT OF KELOR LEAVES (Moringa oleifera L.) AGAINST Staphylococcus aureus dan Escherichia coli BACTERIES Diena Elisa Cahyani; Bertha Rusdi; Lanny Mulqie
Bandung Conference Series: Pharmacy Vol. 3 No. 2 (2023): Bandung Conference Series: Pharmacy
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsp.v3i2.8452

Abstract

Abstract. Moringa leaves (Moringa oleifera L.) have a class of secondary metabolites that act as antibacterials. Research has been conducted on identifying secondary metabolite compounds with antibacterial activity in Moringa leaves using the KLT bioautography method. This study aims to determine the group of secondary metabolite compounds contained in the ethanol extract of moringa leaves that have the potential as antibacterials. The ethanol extract of moringa leaves was made by maceration method using ethanol solvent. Antibacterial testing in this study used the agar well method with 5%, 10%, 20%, 40%, and 80% b/v concentrations. The results showed that the KHM value of moringa leaf ethanol extract was 10% with inhibition zones on Staphylococcus aureus and Escherichia coli bacteria of 27.5 mm and 19.5 mm, respectively. Furthermore, the separation of secondary metabolites in the ethanol extract of moringa leaves was carried out using KLT with a stationary phase of silica gel GF254 and a mobile phase of chloroform: methanol (9: 1), then continued with a contact bioautography test. KLT bioautography results showed that the spot with an Rf value of 0.81 produced an inhibition zone. Identifying marks with corroborate, specific for flavonoid compounds, shows positive results, so it is concluded that secondary metabolite compounds with antibacterial activity are flavonoids. Abstrak. Daun kelor (Moringa oleifera L.) diduga memiliki golongan metabolit sekunder yang berperan sebagai antibakteri. Telah dilakukan penelitian mengenai identifikasi senyawa metabolit sekunder yang memiliki aktivitas antibakteri pada daun kelor dengan menggunakan metode KLT bioautografi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui golongan senyawa metabolit sekunder yang terkandung pada ekstrak etanol daun kelor yang berpotensi sebagai antibakteri.Ekstrak etanol daun kelor dibuat dengan metode maserasi menggunakan pelarut etanol. Pengujian antibakteri pada penelitian ini menggunakan metode agar sumuran dengan konsentrasi 5%, 10%, 20%, 40%, dan 80% b/v. Hasilnya menunjukkan bahwa nilai KHM ekstrak etanol daun kelor adalah 10% dengan zona hambat pada bakteri Staphylococcus aureus dan bakteri Escherichia coli berturut-turut sebesar 27,5 mm dan 19,5 mm. Selanjutnya dilakukan pemisahan metabolit sekunder pada ekstrak etanol daun kelor menggunakan KLT dengan fase diam silika gel GF254 dan fase gerak kloroform:metanol (9:1) dilanjutkan dengan uji bioautografi kontak. Hasil KLT bioautografi menunjukan bahwa bercak dengan nilai rf 0,81 menghasilkan zona hambat. Identifikasi bercak dengan sitroborat yang spesifik untuk senyawa flavonoid menunjukan hasil positif, sehingga disimpulkan senyawa metabolit sekunder yang memiliki aktivitas antibakteri adalah flavonoid.
Pewarnaan Gram Bakteri Isolat Klinis pada Pasien ISK di RSUD Karawang Zalfa Neysa Salsabila; Lanny Mulqie; Umi Yuniarni
Bandung Conference Series: Pharmacy Vol. 3 No. 2 (2023): Bandung Conference Series: Pharmacy
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsp.v3i2.8468

Abstract

Infeksi merupakan salah satu penyakit dengan prevalensi yang tinggi di Indonesia, salah satunya yaitu infeksi saluran kemih (ISK). Kasus ISK paling banyak disebabkan oleh mikroba berupa bakteri. Bakteri penyebab ISK dapat berupa bakteri gram negatif dan gram positif dengan frekuensi kejadian lebih banyak diakibatkan oleh bakteri gram negatif. Salah satu upaya dalam penatalaksanaan ISK agar terapi dapat tepat sasaran yaitu dengan mengetahui bakteri penyebab infeksi. Identifikasi bakteri dapat dilakukan dengan beberapa cara, salah satunya yaitu identifikasi berdasarkan pewarnaan Gram dan interpretasi hasilnya berupa perbedaan warna antara bakteri gram negatif dan gram positif. Penelitian ini bertujuan mengidentifikasi jenis gram bakteri berdasarkan pewarnaan Gram yang menyebabkan ISK pada sampel pasien terdiagnosis ISK di Poli Urologi RSUD Karawang serta mengetahui persentase masing-masing bakteri isolat klinis dari total kelima sampel pasien terdiagnosis ISK di Poli Urologi RSUD Karawang. Metode pewarnaan gram dilakukan dengan menggunakan reagen merek Aim Gram Stain. Hasil penelitian menunjukkan dari total kelima sampel pasien terdiagnosis ISK di RSUD Karawang berdasarkan pewarnaan Gram memberikan hasil pewarnaan positif terhadap bakteri gram negatif dan gram positif, yang ditandai dengan preparat yang berwarna merah pada bakteri gram negatif, dan berwana ungu pada bakteri gram positif saat diamati dengan mikroskop perbesaran 100x, dengan persentase sebesar 80% disebabkan oleh bakteri gram negatif, sedangkan 20% lainnya diakibatkan oleh bakteri gram positif. Infection is one of the diseases with a high prevalence in Indonesia, one of which is urinary tract infection (UTI). Most UTI cases are caused by microbes in the form of bacteria. The bacteria that cause UTIs can be gram-negative and gram-positive bacteria with a higher frequency of occurrence caused by gram-negative bacteria. One of the efforts in UTI management so that therapy can be right on target is to find out the bacteria that cause infection. Bacterial identification can be done in several ways, one of which is identification based on Gram staining and interpretation of the results in the form of color differences between gram negative and gram positive bacteria. This study aims to identify the type of gram bacteria based on Gram staining that causes UTI in samples of patients diagnosed with UTI in the Dept. Urology of Karawang Hospital and determine the percentage of each clinical isolate bacteria from a total of five samples of patients diagnosed with UTI in the Dept. Urology of Karawang Hospital. Gram staining method was performed using Aim Gram Stain reagent. The results showed that from a total of five samples of patients diagnosed with UTI at Karawang Hospital based on Gram staining gave positive staining results for gram-negative and gram-positive bacteria, characterized by preparations that were red in gram-negative bacteria, and purple in gram-positive bacteria when observed with a 100x magnification microscope, with a percentage of 80% caused by gram-negative bacteria, while the other 20% were caused by gram-positive bacteria.
Uji Antidiabetes Ekstrak Kulit Kayu Manis (Cinnamomum burmannii (Nees & T.Nees) Blume) dengan Metode Resistensi Insulin pada Mencit Swiss Webster Jantan yang Diinduksi Emulsi Tinggi Lemak Daifa Ermanda Mawali; Ratu Choesrina; Lanny Mulqie
Bandung Conference Series: Pharmacy Vol. 3 No. 2 (2023): Bandung Conference Series: Pharmacy
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsp.v3i2.8570

Abstract

Abstrak. Kulit kayu manis (Cinamomun Burmanii (Nees & T.Nees) Blume) secara empiris digunakan masyarakat indonesia untuk mengatasi diabetes mellitus. Diduga kuat senyawa dari kulit kayu manis yang berperan yaitu MHCP dan sinamaldehid. Tujuan dilakukan penelitian ini yaitu untuk mengetahui efektivitas serta dosis ekstrak kulit kayu manis dalam mencegah kenaikan kadar glukosa darah dan meningkatkan sensitivitas jaringan terhadap insulin pada mencit swiss webster jantan dengan metode resistensi insulin.Hewan uji dibagi menjadi 6 kelompok yang terdiri dari kelompok kontrol negatif, kontrol positif, pembanding metformin 65 mg/kgBB, ekstrak etanol kulit kayu manis (EKKM) dosis 50, 100, dan 200 mg/kgBB. Pengujian dilakukan secara preventif dimana induksi dan pengobatan diberikan secara bersamaan. Tiap kelompok diberi induksi Lipofundin® MCT/LCT 20% dan fruktosa kecuali kontrol negatif. Parameter yang diamati yaitu kadar glukosa darah hari ke 0, 7, 14, dan 20 serta nilai KTTI sebagai parameter sensitivitas insulin yang diperoleh dari tes toleransi insulin. Berdasarkan pengujian, diketahui bahwa pada EEKKM dosis 50, 100, dan 200 mg/kgBB memiliki nilai KTTI secara berturut turut yaitu 15,475; 10,858; dan 10,43. Dari pengujian tersebut dapat disimpulkan pada pemberian ketiga dosis EEKKM dapat mencegah kenaikan kadar glukosa darah serta dapat meningkatkan sensitivitas insulin dimana potensi aktivitas antidiabetes terbaik terdapat pada EEKKM dosis 50 mg/kgBB. Abstract. Cinnamon bark (Cinamomun Burmanii (Nees & T.Nees) Blume) has been empirically used by the people of Indonesia to overcome diabetes mellitus. It is strongly suspected that compounds of cinnamon bark which play a role are MHCP and cinnamaldehyde. The purpose of this study was to determine the effectiveness and dose of cinnamon bark extract in preventing an increase in blood glucose levels and increasing tissue sensitivity to insulin in male swiss webster mice with insulin resistance method. Test animals were divided into 6 groups consisting of negative control, positive control, metformin 65 mg/kgBB, and cinnamon bark extract (EEKKM) doses 50, 100, dan 200 mg/kgBB. Testing is carried out preventively where induction and treatment are given simultaneously. Each group was given a 20% Lipofundin® MCT/LCT and fructose except negative control.The parameters observed were blood glucose levels on days 0, 7, 14, and 20 and and KTTI values as insulin sensitivity parameters obtained from insulin tolerance tests. Based on testing, it is known that in EEKKM doses of 50, 100, and 200 mg/kg BB have KTTI values respectively of 15.475; 10,858; and 10.43. From these tests, it can be concluded that the administration of the three doses of EEKKM can prevent increases in blood glucose levels and can improve insulin sensitivity where the best potential antidiabetic activity is found in EEKKM doses of 50 mg/kg BB.
Co-Authors Aghnia Nurzahra Aghnia Nurzahra Agytesa Ficri Septian Amelia Alfia Insani Andri Nopriansyah Annisa Ajeung Wulandari Annisa Dila Perwitasari Annisa Rahmawati Annisa Rahmawati Arlina Prima Putri Arlina Prima Putri Aulia Tazki Ayu Suci Dewi Bertha Rusdi Daifa Ermanda Mawali Davina Rustyasari Deden Miftah Fauzan Desi Anom Sari Devi Zulfitriyana, Devi Zulfitriyana Devina Aulia Fitri Diena Elisa Cahyani Dieni Mardliyani Dinda Hana Elvina Legia Helisa Essy Sari Adhani Fani Eka Martiza Fetri Lestari Fetri Lestari Fhirda Robani Hazar, Siti Imas Yumniati Iqlima Khairunnisa Tanjung Kamilia Ayu Khairunnisa Kusnandar Anggadireja Laila Afifah AB Lily Nurjihan Luzhny Azzahra Mochamad Tanto Kuswanto Muhammad Fakhrur Rajih Mujittaba Mumarli Mutiara Nur Afni Nabila Nur Azhari Nabila Nur Latifa Nabila Nur Latifa Neng Yani Nia Epawati Pramudita Putri Azzahra Ratu Choesrina Ratu Choesrina Ratu Choesrina Ratu Choesrina Ratu Choesrina Ratu Choesrnia Resti Fauziyah Revi Eluvia Zahra Risa Apriani Hilyah Rise Yantika Sabila Adzika Salma Sani Ega Priani Septian, Agytesa Ficri Siti Aisyah Putri Chaniago Siti Hazar Siti Hazar Siti Hazar Siti Hazar Siti Hazar Siti Umniyyah Nabilah Sofie Ayunia Rachmawati Sri Peni Fitrianingsih Suwendar Suwendar Suwendar Syahla Alpia Rachman Syarifah Hasanah Syifa Egidia Delani Tati Kurniati Tika Siti Fatimah Umi Yuniarni Umi Yuniarni vini nur alfaeni Wafda Shofia Widiasari Widiasari Yani Lukmayani Zakiyyah Nurrosyidah Zalfa Neysa Salsabila Zarawanda Zihan Nabila