Lanny Mulqie
Farmasi, Fakultas Matematika Dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Islam Bandung

Published : 57 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Uji Aktivitas Antelmintik Infusa dan Ekstrak Etanol Daun Rambutan (Nephelium lappaceum L.) terhadap Cacing Gelang Babi Dewasa (Ascaris suum Goeze) secara In-Vitro Siti Aisyah Putri Chaniago; Lanny Mulqie; Suwendar
Bandung Conference Series: Pharmacy Vol. 3 No. 2 (2023): Bandung Conference Series: Pharmacy
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsp.v3i2.8784

Abstract

Abstrak. Askariasis merupakan infeksi yang disebabkan oleh cacing gelang dan sering terjadi di negara berkembang seperti Indonesia. Prevalensi STH (soil-transferred helminths) di seluruh dunia mencapai 1,5 miliar atau 24% dari seluruh populasi dunia serta negara tropis dan subtropis yang tersebar luas. Salah satu tanaman yang dapat dijadikan sebagai pengobatan alternatif infeksi cacing, yaitu daun rambutan (Nephelium lappaceum L.). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efek antelmintik dari daun rambutan terhadap cacing gelang babi dewasa (Ascaris suum Goeze) dengan melihat onset paralisis dan kematian yang terjadi, dan menentukan konsentrasi terbaik yang berpotensi sebagai antelmintik antara infusa dan ekstrak etanol daun rambutan secara in-vitro. Sediaan uji menggunakan 3 konsentrasi yaitu 5%; 7,5%; dan 10% b/v dengan pembanding pirantel pamoat 0,3% b/v dan kontrol negatif NaCl 0,9%. Hasil penelitian yang diperoleh yaitu bahwa infusa dan ekstrak etanol daun rambutan memiliki aktivitas sebagai antelmintik dengan persentase paralisis tertinggi adalah infusa konsentrasi 7,5% b/v pada menit ke-120 sebesar 50%, sedangkan pada infusa konsentrasi 10% b/v pada menit ke-105 sebesar 50% merupakan persentase kematian tertinggi. Kata kunci: Antelmintik, infusa, ekstrak, daun rambutan Abstract. Ascariasis is an infection caused by roundworms and often occurs in developing countries such as Indonesia. The prevalence of STH (soil-transferred helminths) worldwide reaches 1.5 billion or 24% of the world's population and is widespread in tropical and subtropical countries. One of the plants that can be used as an alternative treatment for worm infections is rambutan leaves (Nephelium lappaceum L.). This study aims to determine the anthelmintic effect of rambutan leaves on adult swine roundworms (Ascaris suum Goeze) by observing the onset of paralysis and death that occurs, and determine the best concentration that has the potential as an anthelmintic between in-vitro infusion and ethanol extract of rambutan leaves. The test preparations used 3 concentrations, namely 5%; 7.5%; and 10% b/v with comparison pirantel pamoat 0, 3% w/v and 0.9% NaCl negative control. The research results obtained were that the infusion and ethanol extract of rambutan leaves had activity as anthelmintics with the highest percentage of paralysis was the infusion of 7.5% w/v at the 120th minute of 50%, while the infusion of 10% w/v at the 120th minute 105th 50% is the highest percentage of deaths. Keywords: Anthelmintic, infusion, extract, rambutan leaves
Uji Aktivitas Antijamur Ekstrak Daun Kemangi (Ocimum americanum L.) Dalam Menghambat Pertumbuhan Jamur Candida albicans dan Aspergillus niger Syarifah Hasanah; Lanny Mulqie; Ratu Choesrina
Bandung Conference Series: Pharmacy Vol. 3 No. 2 (2023): Bandung Conference Series: Pharmacy
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsp.v3i2.8807

Abstract

Abstrak. Infeksi jamur termasuk salah satu penyakit yang masih merupakan masalah kesehatan di Indonesia. daun kemangi (Ocimum americanum L.) memiliki berbagai macam khasiat dalam dunia pengobatan, salah satunya untuk mengobati penyakit yang disebabkan oleh infeksi jamur. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui uji aktivitas antijamur ekstrak daun kemangi terhadap pertumbuhan jamur Candida albicans dan Aspergillus niger. Ekstraksi yang dilakukan menggunakan metode difusi agar (sumuran) dengan konsentrasi 2%,4%,6%,8% dan 10%. Kontrol positif yang digunakan ketokonazol dan kontrol negatif yaitu DMSO. Hasil penelitian menunjukkan rata-rata diameter zona hambat pertumbuhan jamur Candida albicans dan Aspergillus niger dengan variasi konsentrasi yaitu 2%, 4%, 6%, 8% dan 10% adalah 13,2 mm,15 mm, 16,4 mm, 17,8 mm, 18,6 mm. Sedangkan rata-rata diameter zona hambat pertumbuhan jamur Aspergillus niger yaitu 14 mm, 16 mm, 16,5 mm, 19,1 mm, 20,2 mm. Dari hasil data penelitian diatas dapat disimpulkan bahwa ekstrak daun kemangi memiliki aktivitas antijamur dengan terbentuknya zona bening disekitaran sumuran. Kata kunci: Daun kemangi, antijamur, Candida albicans, Aspergillus niger Abstract. Fungal infection is a disease that is still a health problem in Indonesia. Basil leaves (Ocimum americanum L.) have various properties in the world of medicine, One of them is to treat diseases caused by fungal infection. This study aims to determine the antifungal activity of basil leaf extract on the growth of Candida albicans and Aspergillus niger. Extract was carried out using the agar diffusion method (wells) with concentrations of 2%, 4%, 6%, 8% and 10%. Positive control using ketoconazole and negative control using DMSO. The results showed that the average diameter of the growth inhibition zones of Candida albicans and Aspergillus niger with varying concentrations of 2%, 4%, 6%, 8% and 10% was 13,2 mm,15 mm, 16,4 mm, 17,8 mm, 18,6 mm. While the average diameter of the growth inhibition zone of Aspergillus niger is 14 mm, 16 mm, 16,5 mm, 19,1 mm, 20,2 mm. From the results of the research data above, it can be concluded that basil leaf extract has antifungal activity with the formation of clear zones around the wells. Keywords: Basil leaves, antifungal, Candida albicans, Aspergillus niger
STUDI LITERATUR TANAMAN JERUK NIPIS (Citrus aurantifolia Swingle) DAN JERUK LEMON (Citrus limon L.) SEBAGAI ANTIBAKTERI TERHADAP BAKTERI Staphylococcus aureus, Staphylococcus epidermidis Dan Propionibacterium acnes Essy Sari Adhani; Lanny Mulqie; Siti Hazar
Bandung Conference Series: Pharmacy Vol. 3 No. 2 (2023): Bandung Conference Series: Pharmacy
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsp.v3i2.8889

Abstract

Abstract. Indonesia has a lot of biodiversity. One of the biodiversity that is used to treat acne is lime (Citrus aurantifolia Swingle) and lemon (Citrus limon L.). The content of flavonoids and essential oils from these two plants have antibacterial activity. The purpose of this study was to determine the potential of lime and lemon plants in inhibiting Staphylococcus aureus, Staphylococcus epidermidis and Propionibacterium acnes, to determine compounds contained in lime and lemon plants that have antibacterial activity. The research method used is in the form of a literature study by examining the antibacterial activity of lime and lemon citrus plants against acne-causing bacteria, namely Staphylococcus epidermidis, Staphylococcus aureus, and Propionibacterium acnes. The antibacterial testing method used is the agar diffusion method. The results of the study showed that the parts of the two plants including fruit juice, fruit skin and leaves had potential as antibacterial against the growth of Staphylococcus aureus, Staphylococcus epidermidis, and Propionibacterium acnes as indicated by the formation of zones of inhibition with very strong to weak categories. The content of compounds that have the potential as antibacterial in both plants are alkaloids, saponins, tannins, flavonoids, triterpenoids, terpenoids, steroids, citric acid, limonene and essential oils. Keywords: Lime (Citrus aurantifolia Swingle), lemon (Citrus limon L.), acne- causing bacteria Abstrak Indonesia memiliki banyak keanekaragaman hayati. Salah satu keanarekagaman hayati yang digunakan untuk mengobati jerawat seperti jeruk nipis (Citrus aurantifolia Swingle) dan jeruk lemon (Citrus limon L.). Kandungan flavonoid dan minyak atsiri dari kedua tanaman ini memiliki aktivitas sebagai antibakteri. Tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui potensi dari tanaman jeruk nipis dan jeruk lemon dalam menghambat Staphylococcus aureus, Staphylococcus epidermidis Dan Propionibacterium acnes, untuk mengetahui senyawa yang terkandung dari tanaman jeruk nipis dan jeruk lemon yang memiliki aktivitas antibakteri. Metode penelitian yang digunakan berupa studi literatur dengan mengkaji aktivitas antibakteri dari tanaman jeruk nipis dan jeruk lemon terhadap bakteri penyebab jerawat yaitu Staphylococcus epidermidis, Staphylococcus aureus, dan Propionibacterium acnes dengan metode pengujian antbakteri yang digunakan adalah metode difusi agar cara sumuran dan cakram. Hasil kajian menunjukkan bahwa bagian kedua tanaman tersebut diantaranya air perasaan buah, kulit buah dan daun memiliki potensi sebagai antibakteri terhadap pertumbuhan bakteri Staphylococcus aureus, Staphylococcus epidermidis, dan Propionibacterium acnes yang ditunjukkan dengan terbentuknya zona hambat dengan kategori sangat kuat hingga lemah. Kandungan senyawa yang berpotensi sebagai antibakteri pada kedua tanaman yaitu alkaloid, saponin, tanin, flavonoid, triterpenoid, terpenoid, steroid, asam sitrat, limonene dan minyak atsiri. Kata Kunci: Jeruk nipis (Citrus aurantifolia Swingle), jeruk lemon (Citrus limon L.), bakteri penyebab jerawat. Penda
Uji Aktivitas Antibakteri Ekstrak Etanol Daun Benalu Teh (Scurrula atropurpurea (BL.) Dans) Terhadap Bakteri Penyebab Jerawat (Propionibacterium acnes dan Staphylococcus epidermidis) Ayu Suci Dewi; Umi Yuniarni; Lanny Mulqie
Bandung Conference Series: Pharmacy Vol. 3 No. 2 (2023): Bandung Conference Series: Pharmacy
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsp.v3i2.9015

Abstract

Abstract. Acne is a skin disease, one of which is caused by the bacteria Propionibacterium acnes and Staphylococcus epidermidis. Mistletoe tea (Scurrula atropurpurea (BL.) Dans) is a plant that has the potential as an antibacterial. This study aims to determine the antibacterial activity of the ethanol extract of mistletoe tea leaves (Scurrula atropurpurea (BL.) Dans) against Propionibacterium acnes and Staphylococcus epidermidis as well as to compare its effectiveness against both bacteria. Extraction was carried out using the maceration method using 96% ethanol solvent. Antibacterial activity test was carried out by the agar diffusion method using wells. The results showed that the ethanol extract of mistletoe tea leaves had antibacterial activity against both test bacteria at concentrations of 20%, 30%, 40%, and 50% with the resulting inhibition diameter against Propionibacterium acnes bacteria being 12,67 mm, 14,83 mm, 17,40 mm and 17,60 mm. Whereas for Staphylococcus epidermidis bacteria, respectively were 21,80 mm, 23,90 mm, 25,67 mm and 26,50 mm. Based on the resulting inhibition zone, the ethanol extract of tea parasite leaves (Scurrula atropurpurea (BL.) Dans) has strong activity in inhibiting the growth of Propionibacterium acnes and Staphylococcus epidermidis bacteria at concentrations above 20%. Abstrak. Jerawat merupakan penyakit kulit yang salah satunya disebabkan oleh bakteri Propionibacterium acnes dan Staphylococcus epidermidis. Benalu teh (Scurrula atropurpurea (BL.) Dans) merupakan tanaman yang berpotensi sebagai antibakteri. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui aktivitas antibakteri ekstrak etanol daun benalu teh (Scurrula atropurpurea (BL.) Dans) terhadap Propionibacterium acnes dan Staphylococcus epidermidis serta perbandingan efektivitas terhadap kedua bakeri. Ekstraksi dilakukan menggunakan metode maserasi dengan menggunakan pelarut etanol 96%. Uji aktivitas antibakteri dilakukan dengan metode difusi agar menggunakan sumuran. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ekstrak etanol daun benalu teh memiliki aktivitas antibakteri terhadap kedua bakteri uji pada konsentrasi 20%, 30%, 40%, dan 50% dengan diameter hambat yang dihasilkan terhadap bakteri Propionibacterium acnes berturut-turut adalah 12,67 mm, 14,83 mm, 17,40 mm, dan 17,60 mm. Sedangkan terhadap bakteri Staphylococcus epidermidis berturut-turut adalah 21,80 mm, 23,90 mm, 25,67 mm, dan 26,50 mm. Berdasarkan zona hambat yang dihasilkan, ekstrak etanol daun benalu teh (Scurrula atropurpurea (BL.) Dans) memiliki aktivitas kuat dalam menghambat pertumbuhan bakteri Propionibacterium acnes dan Staphylococcus epidermidis pada konsentrasi diatas 20%.
UJI AKTIVITAS ANTIJAMUR EKSTRAK ETANOL DAUN LEUNCA (Solanum nigrum L.) TERHADAP PERTUMBUHAN JAMUR Candida albicans DAN Microsporum gypseum Davina Rustyasari; Lanny Mulqie; Siti Hazar
Bandung Conference Series: Pharmacy Vol. 3 No. 2 (2023): Bandung Conference Series: Pharmacy
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsp.v3i2.9025

Abstract

Abstract. The leunca plant (Solanum nigrum L.) is one of the local plants that is often used as an herbal plant. Leunca leaves contain antifungal secondary metabolites. The purpose of this study was to determine the antifungal activity of the ethanol extract of leunca leaves on the growth of Candida albicans and Microsporum gypseum, and to determine the diameter of the inhibition zone of the ethanol extract of leunca leaves on the growth of Candida albicans and Microsporum gypseum. With the good diffusion method, it was carried out using 4 concentration variations of 10%, 5%, 2.5%, and 1.5%. Negative control (-) contains DMSO and positive control (+) contains 2% ketoconazole. Determination of the diameter of the inhibition zone by looking at the clear zone formed around the wells. The results of the diffusion method test showed that the average diameter of the inhibition zone for Candida albicans growth at various concentrations, namely 10%, 5%, 2.5%, and 1.5%, was 17.45 mm, 14.20 mm, 11.70 mm. and 10.65mm. Meanwhile, the diameter of the inhibition zone for Microsporum gypseum growth was 16.45 mm, 14.35 mm, 13.35 mm and 11.75 mm respectively. The conclusion of this study is that the ethanol extract of leunca leaves is able to inhibit the growth of Candida albicans and Microsporum gypseum fungi. Abstrak. Tanaman leunca (Solanum nigrum L.) adalah salah satu tanaman lokal yang sering digunakan sebagai tanaman herbal. Daun leunca mengandung senyawa metabolit sekunder antijamur. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui aktivitas antijamur ekstrak etanol daun leunca terhadap pertumbuhan Candida albicans dan Microsporum gypseum, serta mengetahui diameter zona hambat dari ekstrak etanol daun leunca terhadap pertumbuhan Candida albicans dan Microsporum gypseum. Dengan metode difusi sumuran dilakukan dengan menggunakan 4 variasi konsentrasi 10%, 5%, 2,5%, dan 1,5%. Kontrol negatif (-) berisi DMSO dan kontrol positif (+) berisi ketokonazol 2%. Penentuan diameter zona hambat dengan melihat zona bening yang terbentuk di sekitar sumuran. Hasil pengujian metode difusi menunjukkan rata-rata diameter zona hambat pertumbuhan jamur Candida albicans pada berbagai konsntrasi yaitu 10%, 5%, 2,5%, dan 1,5% adalah 17,45 mm, 14,20 mm, 11,70 mm dan 10,65 mm. Sedangkan diameter zona hambat pertumbuhan jamur Microsporum gypseum secara berurutan adalah 16,45 mm, 14,35 mm, 13,35 mm dan 11,75 mm. Kesimpulan dari penelitian ini yaitu ekstrak etanol daun leunca mampu menghambat pertumbuhan jamur Candida albicans dan Microsporum gypseum.
Uji Sitotoksik Ekstrak Etanol dan Fraksi Kulit Batang Salam (Syzygium polyanthum (Wight) Walp.) Menggunakan Metode Brine Shrimp Lethality Test (BSLT) Aulia Tazki; Siti Hazar; Lanny Mulqie
Bandung Conference Series: Pharmacy Vol. 3 No. 2 (2023): Bandung Conference Series: Pharmacy
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsp.v3i2.9060

Abstract

Abstract. Cytotoxic compounds are compounds that can damage cells, and can also be used to inhibit the growth of malignant tumor cells. Based on the study, it is stated that salam bark (Syzygium polyanthum (Wight) Walp.) contains flavonoid compounds, which are thought to have anticancer activity. This research was conducted to determine the cytotoxic activity of ethanol extract, water fraction, ethyl acetate fraction, and n-hexane fraction of salam bark based on LC50 value against Artemia franciscana Kellogg at various concentrations of 10 ppm, 50 ppm, 100 ppm, 250 ppm, 500 ppm, 750 ppm, and 1000 ppm. Cytotoxic effect from extract and each fraction was analyzed based on the mortality percentage of Artemia franciscana Kellogg and the LC50 value calculated by probit value method. Based on the result obtained, the LC50 extract value is 1532,85 ppm, the LC50 water fraction value is 593,34 ppm, the LC50 ethyl acetate fraction value is 1865,52 ppm, and the LC50 n-hexane value is 891,25 ppm. Based on the results, it can be concluded that the water fraction has a higher cytotoxic effect. Abstrak. Senyawa sitotoksik merupakan senyawa yang dapat merusak sel, serta dapat digunakan untuk menghambat pertumbuhan sel tumor ganas. Berdasarkan sebuah penelitian menyatakan bahwa kulit batang salam (Syzygium polyanthum (Wight) Walp.) mengandung senyawa flavonoid, yang diduga memiliki aktivitas sebagai antikanker. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui aktivitas sitotoksik dari ekstrak etanol, fraksi air, fraksi etil asetat, dan fraksi n-heksana kulit batang salam berdasarkan parameter nilai LC50 terhadap Artemia franciscana Kellogg menggunakan metode Brine Shrimp Lethality Test (BSLT), dengan variasi konsentrasi 10 ppm, 50 ppm, 100 ppm, 250 ppm, 500 ppm, 750 ppm, dan 1000 ppm. Efek sitotoksik dari ekstrak dan masing-masing fraksi dianalisis berdasarkan persentase mortalitas Artemia franciscana Kellogg dan nilai LC50 dihitung menggunakan metode nilai probit. Berdasarkan hasil penelitian diperoleh nilai LC50 ekstrak sebesar 1532,85 ppm, nilai LC50 fraksi air sebesar 593,34 ppm, nilai LC50 fraksi etil asetat sebesar 1865,52 ppm, dan nilai LC50 fraksi n-heksana sebesar 891,25 ppm. Berdasarkan hasil tersebut, dapat disimpulkan fraksi air memiliki efek sitotoksik yang lebih tinggi.
Uji Aktivitas Analgetik Ekstrak Etanol Daun Pelawan (Tristaniopsis merguensis Griff) Terhadap Mencit Swiss Webster Jantan Deden Miftah Fauzan; Sri Peni Fitrianingsih; Lanny Mulqie
Bandung Conference Series: Pharmacy Vol. 3 No. 2 (2023): Bandung Conference Series: Pharmacy
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsp.v3i2.9104

Abstract

Nyeri merupakan salah satu indikator dari tubuh bahwa telah terjadi kerusakan pada bagian tertentu dan menimbulkan respon berupa nyeri supaya tidak mengalami kerusakan yang lebih lanjut. Untuk mengurangi rasa nyeri, digunakan obat-obat pereda nyeri atau analgesik. Penggunaan sediaan dari bahan alam dapat menjadi alternatif dalam meredakan nyeri. Daun pelawan (Tristaniopsis merguensis Griff) secara empiris telah digunakan sebagai obat untuk berbagai penyakit. Terdapat berbagai senyawa metabolit sekunder pada daun pelawan yang berpotensi mempunyai efek farmakologis termasuk sebagai pereda nyeri atau analgetik. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui aktivitas analgetik dari ekstrak etanol daun pelawan dan efektivitas analgetiknya pada beberapa dosis uji melalui 2 metode. Metode uji dengan induksi panas untuk mengetahui aktivitas analgetika sentral dan metode uji dengan induksi asam asetat untuk mengetahui aktivitas analgetika perifer. Hewan uji berupa mencit dibagi menjadi 5 kelompok. Kelompok kontrol sakit diberi CMC Na, kelompok pembanding diberi aspirin dan kelompok uji diberi ekstrak etanol daun pelawan dengan dosis 0,7 mg/kg BB, 1,4 mg/kg BB, 2,8 mg/kg BB. Data yang diperoleh dianalisis dengan metode ANOVA dan dilanjutkan dengan post hoc test. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ekstrak etanol daun pelawan dosis 2,8 mg/kg BB memiliki aktivitas analgetik dan persentase efektivitas analgetiknya sebesar 75,67%. Pain is an indicator of the body that there has been damage to a certain part and causes a response in form of pain, so as not to experience further damage. To reduce the pain, use pain relievers or analgesic drugs. The preparations made from natural ingridients can be an alternative in relieving pain. Pelawan leaves have been empirically used as a medicine for various diseases. There are various secondary metabolite compounds in pelawan leaves that have potential pharmacological effects including as a pain reliever or analgesic. The purpose of this study was to determine analgesic activity ethanol extract of pelawan leaves and it’s analgesic effectiveness at several doses through 2 methods. Test method with heat induction to determine the activity of central analgesics and test method with acetic acid induction to determine peripheral analgesics activity. The test animals are mice were divided into 5 groups. The sick control group was given CMC Na, the comparison group was given aspirin and the test group was given pelawan leaf ethanol extract at dose 0,7 mg/kg BW, 1,4 mg/kg BW, 2,8 mg/kg BW. The data obtained were analyzed using the ANOVA method and followed by a post hoc test. The results showed that the ethanol extract of pelawan leaves at dose 2,8 mg/kg BW had analgesic activity and the percentage of analgesic effectiveness was 75,67%.
UJI AKTIVITAS ANTIJAMUR EKSTRAK ETANOL KULIT BUAH PETAI (PARKIA SPECIOSA HASSK.) TERHADAP PERTUMBUHAN CANDIDA ALBICANS DAN MICROSPORUM GYPSEUM Luzhny Azzahra; Lanny Mulqie; Ratu Choesrina
Bandung Conference Series: Pharmacy Vol. 3 No. 2 (2023): Bandung Conference Series: Pharmacy
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsp.v3i2.9118

Abstract

Abstract. Petai plant (Parkia speciosa Hassk.) is known to contain metabolite compounds that can be developed to treat several diseases, one of which is antifungal. This study aims to determine the antifungal activity of ethanol extract of petai fruit peel (Parkia speciosa Hassk.) against the growth of Candida albicans and Microsporum gypseum, and determine the value of the inhibition zone in ethanol extract of petai fruit peel (Parkia speciosa Hassk.) against the growth of Candida albicans and Microsporum gypseum. The method used was agar diffusion (wells). The concentrations of the extracts tested were 1, 5, 10, 15, and 20%. The positive control used was ketoconazole 2% and the negative control was DMSO. The results of the calculation of the average zone of inhibition of ethanol extract of petai fruit peel against Candida albicans at concentrations of 1, 5, 10, 15, and 20% were 13,9; 15,5; 17,6; 18,9; and 20,3 mm, respectively. The results of the calculation of the inhibition zone of ethanol extract of petai fruit peel against Microsporum gypseum at concentrations of 1, 5, 10, 15, and 20% were 17,5; 19,8; 18,6; 23,7; and 26,6 mm, respectively. The results showed that ethanol extract of petai fruit peel (Parkia speciosa Hassk.) has antifungal activity with the formation of an inhibition zone around the wells. Abstrak. Tanaman petai (Parkia speciosa Hassk.) diketahui memiliki kandungan senyawa metabolit yang dapat dikembangkan untuk mengobati beberapa penyakit, salah satunya antijamur. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui aktivitas antijamur ekstrak etanol kulit buah petai (Parkia speciosa Hassk.) terhadap pertumbuhan Candida albicans dan Microsporum gypseum, serta mengetahui nilai zona hambat pada ekstrak etanol kulit buah petai (Parkia speciosa Hassk.) terhadap pertumbuhan Candida albicans dan Microsporum gypseum. Metode yang digunakan adalah difusi agar (sumuran). Konsentrasi ekstrak yang diuji yaitu 1, 5, 10, 15, dan 20%. Kontrol positif yang digunakan yaitu ketokonazol 2% dan kontrol negatif yaitu DMSO. Hasil perhitungan rata-rata zona hambat ekstrak etanol kulit buah petai terhadap Candida albicans pada konsentrasi 1, 5, 10, 15, dan 20% berturut-turut sebesar 13,9; 15,5; 17,6; 18,9; dan 20,3 mm. Hasil perhitungan zona hambat ekstrak etanol kulit buah petai terhadap Microsporum gypseum pada konsentrasi 1, 5, 10, 15, dan 20% berturut-turut sebesar 17,5; 19,8; 18,6; 23,7; dan 26,6 mm. Dari hasil penelitian menunjukkan ekstrak etanol kulit buah petai (Parkia speciosa Hassk.) memiliki aktivitas antijamur dengan terbentuknya zona hambat disekitar sumuran.
Uji Aktivitas Antibakteri Ekstrak Etanol Daun Kelor (Moringa oleifera Lam.) Terhadap Bakteri Bacillus subtilis dan Klebsiella pneumoniae Secara In Vitro Fhirda Robani; Sri Peni Fitrianingsih; Lanny Mulqie
Bandung Conference Series: Pharmacy Vol. 3 No. 2 (2023): Bandung Conference Series: Pharmacy
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsp.v3i2.9192

Abstract

Abstract. Moringa plants are commonly found in regions with streams or grassy areas known for their rapid growth. The Moringa plant is reputed to possess antibacterial properties, with prior research highlighting the antibacterial activity of its seeds and leaves. The present study aims to investigate the antibacterial potential of Moringa leaves against Bacillus subtilis and Klebsiella pneumoniae bacteria using the disc diffusion method to measure the inhibition zone diameter. The experimental groups for this study included a positive control group using Ciprofloxacin, a negative control group employing DMSO, and the test group utilizing Moringa leaf ethanol extract at concentrations of 20%, 40%, 60%, and 80%. Upon conducting the research, it can be concluded that the ethanol extract of Moringa leaves (Moringa oleifera Lam.) at the aforementioned concentrations, tested through the diffusion method with paper discs, did not produce clear zones around the discs against Bacillus subtilis and Klebsiella pneumoniae bacteria. This phenomenon may be attributed to the challenging diffusion of the test extract into the test medium. Abstrak. Tanaman kelor biasa ditemukan di daerah dengan aliran sungai ataupun halaman yang memiliki rerumputan dengan kemampuan tumbuh yang relatif cepat. Tanaman kelor dipercaya memiliki khasiat sebagai antibakteri. Berdasarkan penelitian sebelumya, bagian tanaman kelor seperti biji dan daun memiliki aktivitas sebagai antibakteri. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan aktivitas antibakteri dari daun kelor terhadap bakteri Bacillus subtilis dan Klebsiella pneumoniae dengan mengukur diameter zona hambat menggunakan metode difusi cakram. Kelompok uji yang digunakan pada penelitian ini yaitu kelompok kontrol positif berupa Ciprofloxacin, kelompok kontrol negatif digunakan DMSO dan kelompok uji digunakan ekstrak etanol daun kelor dengan konsentrasi 20%, 40%, 60% dan 80%. Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan, dapat disimpulkan bahwa ekstrak etanol daun kelor (Moringa oleifera Lam.) pada konsentrasi 20%, 40%, 60% dan 80% yang diuji dengan metode difusi menggunakan cakram kertas, tidak memberikan hasil terbentuknya zona bening di sekitar cakram kertas terhadap bakteri Bacillus subtilis dan Klebsiella pneumoniae. Hal ini dimungkinkan karena ekstrak uji sulit berdifusi ke media uji.
Uji Efektivitas Antelmintik Tunggal dan Kombinasi Ekstrak Etanol Umbi Wortel (Daucus carota L.) dan Daun Kemangi (Ocimum americanum L.) Terhadap Cacing Gelang Babi Dewasa (Ascaris suum Goeze.) dan Telur Cacing Gelang Babi Secara In Vitro Annisa Rahmawati Annisa Rahmawati; Suwendar; Lanny Mulqie
Bandung Conference Series: Pharmacy Vol. 3 No. 2 (2023): Bandung Conference Series: Pharmacy
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsp.v3i2.9524

Abstract

Abstract. Helminthiasis, predominantly caused by worm eggs entering the body through the digestive tract via soil transmission, continues to exhibit a high prevalence. This study aimed to assess the efficacy of a single anthelmintic, comprising the ethanol extract of carrot tubers and basil leaves, as well as their combination, against adult pig roundworms and their eggs. Additionally, the research aimed to identify the effective concentration of the ethanol extracts to induce anthelmintic effects and determine the LC50 value in the single-test setup. The experimental laboratory method was adopted for this research, divided into three distinct groups. The first group involved the ethanol extract test of carrot tubers and basil leaves with concentrations of 10%, 15%, 20% and 25%. The second group constituted a combination of extracts at 25% concentration each, alongside a comparison group involving pirantel pamoate and piperazin citrate for adult worms, and albendazole for worm eggs. Finnaly, the control group received Hank Salin solution and CMC-Na. The result revealed significant anthelmintic activity, with the highest rates of paralysis and death observed in the combination of 25% basil leaf extract and 25% concentration of carrot tubers, achieving 70% and 50% paralysis, respectively, with a spastic paralysis type. In the single-test setup, the LC50 values produced for ethanol extract of basil leaves and carrot tubers were 27.859% and 29.693 %, respectively. Anthelmintic activity on worm eggs exhibited the greatest percentage of inhibition at 60% for the combination of extracts at a concentration of 25%. In conclusion, the combination test extracts demonstrated superior efficacy compared to the single-test extracts, showcasing promise for potential therapeutic applications in combating hetminthiasis. Abstrak. Penyakit kecacingan mayoritas disebabkan oleh masuknya parasit dengan berupa telur cacing ke dalam tubuh melalui saluran pencernaan karena adanya penularan melalui tanah dan masih menduduki prevalensi yang tinggi. Tujuan dari penelitian ini yaitu mengetahui efektifitas antelmintik tunggal pada ekstrak etanol umbi wortel dan daun kemangi serta kombinasinya terhadap cacing gelang babi dewasa dan telurnya, mengetahui konsentrasi efektif dari ekstrak etanol umbi wortel dan daun kemangi sehingga mempunyai efek antelmintik terhadap cacing gelang babi dewasa dan telurnya serta mengetahui nilai LC50 pada pengujian tunggal ekstrak etanol umbi wortel dan daun kemangi. Metode penelitian ini merupakan eksperimental laboratorium. Pengujian ini terbagi dalam 3 kelompok, yaitu kelompok uji ekstrak etanol umbi wortel dan daun kemangi dengan konsentrasi 10%, 15%, 20% dan 25% serta kombinasi ekstrak dengan konsentrasi masing-masing 25% dengan pembanding (pirantel pamoat dan piperazin sitrat untuk cacing dewasa, dan albendazole untuk telur cacing) serta kelompok kontrol (larutan Hank Salin dan CMC-Na). Hasil penelitian berupa aktivitas antelmintik dengan akumulasi paralisis dan kematian paling tinggi ditunjukkan oleh kombinasi ekstrak uji daun kemangi 25% dan umbi wortel konsentrasi 25% dengan persentase 70% dan 50% dengan tipe paralisis spastik serta nilai LC50 yang dihasilkan pada pengujian tunggal ekstrak etanol daun kemangi dan umbi wortel sebesar 27,859% dan 29,693%. Penelitian aktivitas antelmintik yang ditunjukkan telur cacing menunjukkan persentase inhibisi terbesar pada ekstrak uji kombinasi konsentrasi 25% sebesar 60%. Kesimpulan dari penelitian ini adalah ekstrak uji pada pengujian kombinasi lebih baik daripada pengujian tunggal.
Co-Authors Aghnia Nurzahra Aghnia Nurzahra Agytesa Ficri Septian Amelia Alfia Insani Andri Nopriansyah Annisa Ajeung Wulandari Annisa Dila Perwitasari Annisa Rahmawati Annisa Rahmawati Arlina Prima Putri Arlina Prima Putri Aulia Tazki Ayu Suci Dewi Bertha Rusdi Daifa Ermanda Mawali Davina Rustyasari Deden Miftah Fauzan Desi Anom Sari Devi Zulfitriyana, Devi Zulfitriyana Devina Aulia Fitri Diena Elisa Cahyani Dieni Mardliyani Dinda Hana Elvina Legia Helisa Essy Sari Adhani Fani Eka Martiza Fetri Lestari Fetri Lestari Fhirda Robani Hazar, Siti Imas Yumniati Iqlima Khairunnisa Tanjung Kamilia Ayu Khairunnisa Kusnandar Anggadireja Laila Afifah AB Lily Nurjihan Luzhny Azzahra Mochamad Tanto Kuswanto Muhammad Fakhrur Rajih Mujittaba Mumarli Mutiara Nur Afni Nabila Nur Azhari Nabila Nur Latifa Nabila Nur Latifa Neng Yani Nia Epawati Pramudita Putri Azzahra Ratu Choesrina Ratu Choesrina Ratu Choesrina Ratu Choesrina Ratu Choesrina Ratu Choesrnia Resti Fauziyah Revi Eluvia Zahra Risa Apriani Hilyah Rise Yantika Sabila Adzika Salma Sani Ega Priani Septian, Agytesa Ficri Siti Aisyah Putri Chaniago Siti Hazar Siti Hazar Siti Hazar Siti Hazar Siti Hazar Siti Umniyyah Nabilah Sofie Ayunia Rachmawati Sri Peni Fitrianingsih Suwendar Suwendar Suwendar Syahla Alpia Rachman Syarifah Hasanah Syifa Egidia Delani Tati Kurniati Tika Siti Fatimah Umi Yuniarni Umi Yuniarni vini nur alfaeni Wafda Shofia Widiasari Widiasari Yani Lukmayani Zakiyyah Nurrosyidah Zalfa Neysa Salsabila Zarawanda Zihan Nabila