Claim Missing Document
Check
Articles

KAJIAN PERKEMBANGAN FISIK DAN TIPOLOGI KAWASAN PERMUKIMAN DI PUSAT PERTUMBUHAN KECAMATAN TEMBALANG, KOTA SEMARANG Suryani, Tia Adelia; Rahdriawan, Mardwi
Jurnal Pengembangan Kota Articles in Press
Publisher : Jurusan Perencanaan Wilayah dan Kota

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Perkembangan kota terjadi akibat munculnya pusat pertumbuhan baru. Kecamatan Tembalang menjadi pusat pertumbuhan baru karena adanya kebijakan pemerintah yang menjadikan Kecamatan Tembalang sebagai kawasan pendidikan, Kecamatan Tembalang yang merupakan lokasi kawasan pendidikan merupakan salah satu pusat pertumbuhan kota Semarang menjadi pendorong berkembangnya segala akitivitas yang berimplikasi pada terjadinya perubahan pemanfaatan lahan. Bertambah luasnya kawasan permukiman dan berubahnya kondisi permukiman kemudian mengindikasikan adanya perbedaan jumlah dan kondisi sarana prasarana serta kualitas permukiman. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji Perkembangan Fisik dan Tipologi Kawasan Permukiman di Pusat Pertumbuhan Kecamatan Tembalang, Kota Semarang, menggunakan metode deskriptif kuantitatif dengan analisis spasial yang menggunakan Data Citra. Hasil penelitian menunjukkan terjadi perkembangan fisik di kawasan permukiman selama kurun waktu 10 tahun (2005-2015). Tipologi kawasan permukiman di Kecamatan Tembalang, mencerminkan suatu permukiman perkotaan yang telah dilengkapi dengan sarana prasarana, namun yang berada dalam kondisi baik hanya ditemukan di Kelurahan Sendangmulyo. Kualitas lingkungan Kawasan Permukiman sebagian besar termasuk dalam kriteria cukup layak ditemukan di  Kelurahan Rowosari, Kelurahan Meteseh, Kelurahan Kramas, Kelurahan Tembalang, Kelurahan Bulusan, Kelurahan Mangunharjo, Kelurahan Sambiroto, Kelurahan Jangli, Kelurahan Tandang, Kelurahan Kedungmundu, dan Kelurahan Sendangguwo. Hal ini terjadi karena kondisi pohon pelindung dan pola tata letak bangunannya buruk. Rekomendasi yang dapat disampaikan berdasarkan hasil penelitian yaitu perlu dilakukan perbaikan prasarana lingkungan dan perbaikan Pola tata letak bangunan serta pengaturan pohon pelindung di Kawasan Permukiman Kecamatan Tembalang.
KINERJA PELAYANAN AIR BERSIH BERBASIS MASYARAKAT DI KELURAHAN TUGUREJO KOTA SEMARANG Yuliani, Yani; Rahdriawan, Mardwi
Jurnal Pengembangan Kota Vol 3, No 1 (2015): Agustus 2015
Publisher : Jurusan Perencanaan Wilayah dan Kota

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (48.752 KB) | DOI: 10.14710/jpk.3.1.11-25

Abstract

Penyediaan air bersih yang diselenggarakan oleh PDAM Kota Semarang pada tahun 2011 baru mampu melayani 56,95% penduduk. Sehingga terdapat sebagian penduduk Kota Semarang yang belum terjangkau pelayanan jaringan air bersih perkotaan. Untuk memenuhi kekurangan pelayanan kebutuhan air bersih tersebut, pemerintah membuat program penyediaan dengan melibatkan masyarakat, sebagaimana kasus di Kelurahan Tugurejo Kecamatan Tugu Kota Semarang. Di lokasi ini, sejak tahun 2003 Kelompok Swadaya Masyarakat (KSM) Tirto Langgeng yang dilanjutkan BKM Makmur Abadi di Kelurahan Tugurejo membentuk sub unit pengelolaan air bersih untuk melayani masyarakat,  khususnya di wilayah RW I dan RW V. Pada tahap selanjutnya muncul berbagai masalah terkait kualitas dan penyeadiannya. Untuk itu, penelitian ini bertujuan mengkaji kinerja pelayanan air bersih berbasis masyarakat di Kelurahan Tugurejo. Metode penelitian mengkombinasikan antara kuantitatif dan kualitatif, melalui analisis kinerja yang ditinjau dari aspek operasional, keuangan, administrasi dan kepuasan pelanggan. Berdasarkan analisis penilaian kinerja ditemukan bahwa sisi penyelenggara meliputi aspek operasional, keuangan dan administrasi dinilai berpredikat ‘baik’, dan “mampu berkembang”, artinya mampu  menjaga konsistensi dan kualitas air bersih, mampu menghasilkan keuntungan untuk menjalankan kegiatan  operasional, mempertahankan asset, membayar kewajiban pinjaman; serta  pengelola mampu mempertahankan  keberlanjutan pelayanan  air bersih  kepada pelanggan.  Penilaian kinerja dari sisi pelanggan, dinilai dengan kepuasan pelanggan dari kualitas pelayanan air.  Nilai indeks kepuasan pelanggan (Customer Satisfaction Index) adalah 78,34 % berada pada kategori “puas”,  artinya  pelanggan puas terhadap hampir semua  atribut-atribut kualitas layanan air bersih dari penyelenggara layanan, walaupun belum semua  sesuai harapan pelanggan. Analisis Importance Performance Analysis (IPA) menjelaskan atribut-atribut yang perlu dipertahankan kinerjanya yaitu kualitas fisik air, lokasi tempat pelayanan, kemampuan petugas administrasi/ keuangan, kecermatan petugas pencatat meter air, tarif air yang terjangkau, kelengkapan sambungan pelayanan, dan kepastian biaya yang dibayar. Akan tetapi masih terdapat atribut-atribut yang perlu ditingkatkan kinerjanya yaitu kuantitas air, kontinuitas, kedisiplinan petugas distribusi air, cepat dan tanggap terhadap keluhan pelanggan, serta petugas mudah dihubungi.
KARAKTERISTIK PERKEMBANGAN STRUKTUR RUANG IBU KOTA KECAMATAN GEMOLONG KABUPATEN SRAGEN Setiawan, Dhoni; Rahdriawan, Mardwi
Jurnal Pengembangan Kota Vol 2, No 2 (2014): Desember 2014
Publisher : Jurusan Perencanaan Wilayah dan Kota

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jpk.2.2.118-127

Abstract

City is a space that serves as a center place of activities, over time the city was experiencing growth and development, both physical and non-physical conditions. So these conditions affect the change in the pattern of land use, activity system as well as the pattern of people and goods mobility that are happening in the urban system. The phenomenon of the emergence of new urban areas (cities and towns) in IKK Gemolong causes changes in land use patterns along the road corridor is experiencing rapid development, it is evidenced by the increased activity and physical growth of the city. The conditions were observed with the growth of new activities such as residential, commercial district and other commercial areas. So that it will affect land use patterns, activities systems and people and goods mobility patterns that occur, which in turn will affect the characteristics of the spatial structure of the development of IKK Gemolong formed as a town in Sragen. The focus of discussion such as land use, population activity systems, as well as the people and goods mobility which the influencing factors of the formation of the spatial structure of a city. The study is considered important because as the basis for consideration in the development of towns in the future. This is because the policy of urban development continues in administrative and sectoral nature, so the presence of the regional autonomy policy of development with regional and integrated system and assessed more quickly to implement. This study used quantitative an quantitative study method. The analysis results indicated the characteristics of land use in Gemolong dominated by settlements, while the commercial district developed along the main streets of this town because Gemolong have function as service centers for its surrounding areas. The residents of Gemolong mostly have work in the non-agricultural sectors, such as trade and services, while the population as a farmer is relatively small, so that these conditions indicated that Gemolong says as urban area. The people mobility in Gemolong originated from both internal and external area of the town in destination location of commercial areas to have studying, working, shopping and other purposes. The residents of Gemolong do not have to big cities to access the daily life necessities for since it is already available in Gemolong. Based on the phenomenon of Gemolong have a compact city type of development, while the structure of urban spaces that were formed have view more functioning of each of the regions even though the condition is still occurring mixture of functions. Then, the structure of urban spaces is the type of sector, although not as ideal as yet which happened in developed countries.
PERAN PEREMPUAN DALAM PENGEMBANGAN SENTRA INDUSTRI BATIK TULIS DI KABUPATEN PAMEKASAN (STUDI KASUS DI DESA KLAMPAR, KECAMATAN PROPPO) Dwinda P, Esthy; Rahdriawan, Mardwi
Jurnal Pengembangan Kota Vol 2, No 1 (2014): Juli 2014
Publisher : Jurusan Perencanaan Wilayah dan Kota

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jpk.2.1.1-13

Abstract

ilayah Pulau Madura terutama daerah pedesaan masih didominasi oleh masyarakat agraris yang bekerja di sektor pertanian, dengan nilai religius (Islam) yang sangat kuat, dan kompetensi sumber daya manusia (SDM) yang masih relatif rendah dikarenakan tingkat pendidikan yang rendah. Namun, disisi lain bahwa ada sektor lain yang masih dapat dikembangkan salah satunya industri lokal yaitu sentra industri batik tulis melalui peningkatan potensi sektor industri yang dapat menunjang perekonomian di desa. Desa Klampar, Kecamatan Proppo merupakan desa dengan sentra industri batik tulis terbanyak. Selain sebagai bagian dari industrialisasi, perkembangan sentra batik di sana sangat dipengaruhi oleh aspek kebudayaan. Dilihat dari sumber daya manusianya (SDM) dimana pengrajin batik didominasi oleh kaum perempuan. Hal ini menunjukkan bahwa kaum perempuan menjadi bagian yang sangat penting dalam perkembangan sentra batik di desa tersebut yang dapat menunjang perekonomian desa. Tujuan dari penelitian ini adalah mengetahui peranan maupun tingkat kompetensi perempuan dalam pengembangan industri batik tulis di Kabupaten Pamekasan, tepatnya Desa Klampar Kecamatan Proppo. Pendekatan penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif. Studi terhadap teori dan literatur digunakan untuk menghasilkan variabel penelitian yang digunakan dalam tahapan analisis. Hasil penelitian yang didapatkan adalah peran perempuan dalam keluarga dan sebagai pengrajin batik dapat berjalan baik dan berperan di dalam menyokong pengembangan industri batik tulis sekaligus meningkatkan perekonomian keluarga.
EVALUASI PERSEBARAN LOKASI HALTE BRT KORIDOR MANGKANG-PENGGARON KOTA SEMARANG Harsantyo, Mareno; Rahdriawan, Mardwi
Jurnal Pengembangan Kota Vol 1, No 2 (2013): Desember 2013
Publisher : Jurusan Perencanaan Wilayah dan Kota

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jpk.1.2.75-85

Abstract

Permasalahan kemacetan di Kota Semarang sebagian besar diakibatkan oleh banyaknya kendaraan pribadi yang turun ke jalan. Hal tersebut dikarenakan pertumbuhan jumlah kendaraan pribadi dari tahun 2005-2009 mengalami peningkatan sebesar 43% (Badan Pusat Statistik, 2009). Peningkatan jumlah kendaraan pribadi di Kota Semarang disebabkan semakin mudahnya mendapatkan kendaraan pribadi, baik lewat pembelian secara tunai atau kredit (mengangsur). Peningkatan tersebut tidak didukung dengan kapasitas jalan khususnya dari sisi lebar dan kuantitasnya. Akibatnya jalan-jalan di kota menjadi macet. Upaya penyelesaian permasalahan kemacetan yang dilakukan oleh Pemerintah Kota Semarang adalah pengadaan program angkutan umum massal, yaitu Bus Rapid Transit (BRT). BRT diharapkan dapat menciptakan tatanan transportasi yang lebih madani di Kota Semarang, sekaligus mampu menjawab kebutuhan pelayanan angkutan umum yang handal. Pengoperasian BRT diperlukan adanya fasilitas penunjang, salah satunya adalah halte. Penentuan lokasi dan jumlah halte memiliki peran yang penting dalam penggunaan moda BRT. Pembangunan halte yang tidak baik akan mengakibatkan bertambahnya permasalahan transportasi, karena banyak masyarakat yang seharusnya menjadi target pengguna BRT menjadi enggan untuk menggunakan moda ini. Keengganan tersebut dikarenakan masyarakat kesulitan saat akan memanfaatkan fasilitas yang ada. Hal ini dapat terlihat dari sisi teknis, seperti tidak efektifnya angkutan pengumpan (feeder), frekuensi tunggu BRT belum terjadwal. dan jarak antar halte yang masih berjauhan. Kenyataannya, pembangunan halte satu dan lainnya tidak berdasarkan identifikasi titik-titik konsentrasi calon penumpang, seperti perkantoran dan pusat perbelanjaan. Seharusnya rapat renggangnya jarak halte BRT ditentukan sesuai kebutuhan calon penumpang, bukannya diatur dalam jarak tertentu. Untuk itu, dilakukanlah penelitian yang bertujuan untuk mengevaluasi persebaran lokasi halte BRT Koridor Mangkang-Penggaron Kota Semarang. Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan kuantitatif. Penelitian ini menggunakan teknik analisis deskriptif dan distribusi frekuensi. Adapun teknik pengumpulan data yang digunakan berupa wawancara dan kuesioner. Tahapan analisis yang diterapkan dalam penelitian ini dimulai dengan mengidentifikasi karakteristik fisik lokasi halte BRT dan lokasi bangkitan pada lokasi halte BRT. Setelah itu, melakukan analisis persebaran lokasi halte BRT dengan melihat kriteria-kriteria yang digunakan dan yang terakhir adalah melakukan evaluasi berdasarkan hasil analisis. Berdasarkan hasil pembobotan dengan menggunakan aturan H.A Sturgess, maka didapatkan bahwa halte Simpang Lima, Balaikota, dan SMA 5 adalah persebaran lokasi halte BRT yang paling sesuai. Sedangkan halte Mullo, Gramedia, Pasar Bulu, dan ADA Pasar Bulu sudah sesuai serta halte RRI-SPBU dan Pandanaran masih kurang sesuai. Jika dilihat berdasarkan kriteria persebaran lokasi halte, maka kriteria yang sudah baik adalah kriteria pergantian moda serta keamanan dan keselamatan. Kriteria yang sudah cukup baik adalah kemudahan menggunakan halte BRT, dekat dengan pusat kegiatan, letak halte, dan waktu tempuh menuju halte. Sedangkan kriteria yang masih kurang adalah jarak antar halte dan dekat dengan jalur dan fasilitas pejalan kaki. Secara keseluruhan persebaran lokasi halte BRT sudah cukup baik. Kriteria yang dinilai cukup baik mempunyai bobot tertinggi dengan total 906 (49,81%). Kriteria persebaran lokasi halte BRT yang dinilai baik memiliki bobot 516 (28,37%), sedangkan yang termasuk dalam kriteria kurang mempunyai nilai 397 (21,83%). Berdasarkan hasil evaluasi, maka penentuan lokasi halte BRT yang menurut penilaian responden masih kurang disebabkan tidak diperhatikannya kriteria jarak antar halte, fasilitas pejalan kaki, dan peletakan halte dengan pusat aktivitas. Oleh karena itu, perlu penambahan jumlah halte pada daerah yang memiliki potensi untuk membangkitkan jumlah penumpang yang cukup tinggi. Lokasi-lokasi tersebut antara lain sebelum perempatan bangkong jalan A. Yani, depan Lawang Sewu, depan Museum Mandala bakti dan depan Carrefour Pemuda.
KAJIAN PERKEMBANGAN FISIK DAN TIPOLOGI KAWASAN PERMUKIMAN DI PUSAT PERTUMBUHAN KECAMATAN TEMBALANG, KOTA SEMARANG Suryani, Tia Adelia; Rahdriawan, Mardwi
Jurnal Pengembangan Kota Vol 1, No 2 (2013): Desember 2013
Publisher : Jurusan Perencanaan Wilayah dan Kota

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jpk.1.2.108-117

Abstract

Perkembangan kota terjadi akibat munculnya pusat pertumbuhan baru. Kecamatan Tembalang menjadi pusat pertumbuhan baru karena adanya kebijakan pemerintah yang menjadikan Kecamatan Tembalang sebagai kawasan pendidikan, Kecamatan Tembalang yang merupakan lokasi kawasan pendidikan merupakan salah satu pusat pertumbuhan kota Semarang menjadi pendorong berkembangnya segala akitivitas yang berimplikasi pada terjadinya perubahan pemanfaatan lahan. Bertambah luasnya kawasan permukiman dan berubahnya kondisi permukiman kemudian mengindikasikan adanya perbedaan jumlah dan kondisi sarana prasarana serta kualitas permukiman. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji Perkembangan Fisik dan Tipologi Kawasan Permukiman di Pusat Pertumbuhan Kecamatan Tembalang, Kota Semarang, menggunakan metode deskriptif kuantitatif dengan analisis spasial yang menggunakan Data Citra. Tipologi kawasan permukiman di Kecamatan Tembalang, mencerminkan suatu permukiman perkotaan yang telah dilengkapi dengan sarana prasarana, namun yang berada dalam kondisi baik hanya ditemukan di Kelurahan Sendangmulyo. Kualitas lingkungan Kawasan Permukiman sebagian besar termasuk dalam kriteria cukup layak ditemukan di  Kelurahan Rowosari, Kelurahan Meteseh, Kelurahan Kramas, Kelurahan Tembalang, Kelurahan Bulusan, Kelurahan Mangunharjo, Kelurahan Sambiroto, Kelurahan Jangli, Kelurahan Tandang, Kelurahan Kedungmundu, dan Kelurahan Sendangguwo. Hal ini terjadi karena kondisi pohon pelindung dan pola tata letak bangunannya buruk. Rekomendasi yang dapat disampaikan berdasarkan hasil penelitian yaitu perlu dilakukan perbaikan prasarana lingkungan dan perbaikan Pola tata letak bangunan serta pengaturan pohon pelindung di Kawasan Permukiman Kecamatan Tembalang.
SEKTOR INFORMAL DAN PENGUATAN KELEMBAGAAN LOKAL DALAM PENGELOLAAN SAMPAH TERPADU BERBASIS MASYARAKAT DI DESA KUTOHARJO KABUPATEN KENDAL Rahdriawan, Mardwi
Jurnal Pengembangan Kota Vol 1, No 1 (2013): Juli 2013
Publisher : Jurusan Perencanaan Wilayah dan Kota

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jpk.1.1.32-42

Abstract

One of the environmental problems caused by human beings as a result of their activities is solid waste, the amount will be more and more, which can potentially lead to a variety of complex waste problems. Similarly, one of the central sub districts of the growing fast as urban areas, Desa Kutoharjo. The growing of heterogeneity of the population and land uses, it will emerge as problems of solid waste. Therefore, the village government through Community Self-reliance Agency (BKM) and non-governmental groups trying to implement the stages of sustainable waste management. Various attempts of implementation program has been done by community, such as sorting, ‘takakura’ or composting, but have not been able to run effectively. Along with it, the scavengers have been running their activities, who pick up trash sorting community property. So, the purpose of this article are to examines the activities and presence of scavengers in a state of society that seeks to manage the solid waste by strengthening local institutions in community-based integrated waste management. This article shows that the informal sector has been a well-established network, but it has become a community problem, if the scavengers take the solid waste sorting, especially on trash sorting, which is valuable if recycled. Most of the Scavengers has distinctive characteristics, namely do not care, ignorant with limited capabilities. Thus, their involvement in the management of  community-based sustainable integrated waste is not easy and difficult to implement, especially most people have the same interests as scavengers. However, there are many scavengers-level collectors who can be trusted and people willing to work together with them, especially on trash sorting, such as plastic, metal, glass, paper, paperboard and etc. Therefore, its effectiveness for more sustainable waste management, formal and informal relations sector requires a better cooperation, due the informal sector already has a well established network to manage a solid waste and on the other side the local government officially through BKM that have been formed community groups of waste management.
Pemanfaatan Angkutan Darat pada Distribusi Barang dari Kawasan Industri Wijayakusuma Semarang Ursula, Lia; Rahdriawan, Mardwi
JURNAL PEMBANGUNAN WILAYAH & KOTA Vol 13, No 3 (2017): JPWK Vol 13 No 3 September 2017
Publisher : Magister Pembangunan Wilayah dan Kota,Undip

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (980.452 KB) | DOI: 10.14710/pwk.v13i3.17478

Abstract

Industrial activity in Semarang growing along the north coast corridor as Wijayakusuma Industrial District along with the movement of other cities dominated modes of trucks helped shape the traffic density and increase the load on the highway. Railway container emerged as alternative modes of land transportation by utilizing a double track on the line across the north. This mode is suitable for the delivery of logistics in large-scale industry. Based on the background research is conducted with the aim to study the role of railways in the mode of distribution of logistics from the Wijayakusuma Industrial District. This research uses descriptive quantitive approach. Based on the analysis results can be concluded utilization of railway mode of container is not optimal compared with trucks. In terms of the access road to the Station Pethek not in accordance with the designation of container vehicle fully loaded. Loading and unloading facilities are still lacking to support the efficiency of the time. In terms of container train travel time is still ahead of the truck for destination Jakarta about 1-2 hours and 15-25 minutes for destination Surabaya, where the truck using the combination of toll and non toll road. But if The Trans-Java toll fully operational then trains can not compete if don’t make improvement in infrastructure and operating system.  From the aspect of cost railway mode will be much more efficient if the cost of feeder truck can be pressed.
Kajian Pengelolaan Sampah Berbasis Masyarakat dengan Konsep 3R (Reduce, Reuse, Recycle) di Kelurahan Larangan Kota Cirebon Puspitawati, Yuni; Rahdriawan, Mardwi
JURNAL PEMBANGUNAN WILAYAH & KOTA Vol 8, No 4 (2012): JPWK Vol 8 No 4 December 2012
Publisher : Magister Pembangunan Wilayah dan Kota,Undip

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (801.036 KB) | DOI: 10.14710/pwk.v8i4.6490

Abstract

The community based waste management with 3R concept (reduce, reuse, recycle) carried out by the people in Larangan Sub-district in Cirebon city has shown great potential for replication in other places, posing the need for an in depth study on its successful implementation. The study identifies community’s social character and participation capacity in waste management. It analyzes community’s perception of the benefits of waste management in terms of public health, economics and psychology. The study employs qualitative approach by case study to comprehensively describe the social interaction taking place in the community’s based waste management. The study showed that the community’s social and cultural characters have more influence in the activity compared to its socio-economic character. Participation is bottom-up, starting from the identification of problems/needs by the people up to collective experience of benefits. The process begins with community empowerment through capacity building of social characteristics by the RW 08 Merbabu Asih administrations. The activity not only increases the neighborhoods quality of environment and life, it has also changed the people’s behavior in reducing waste, turning involvement in waste management a part of the daily life culture.
Kinerja Pelayanan Air Bersih Berbasis Masyarakat di Tugurejo Kota Semarang Yuliani, Yani; Rahdriawan, Mardwi
JURNAL PEMBANGUNAN WILAYAH & KOTA Vol 10, No 3 (2014): JPWK Vol 10 No 3 September 2014
Publisher : Magister Pembangunan Wilayah dan Kota,Undip

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (506.922 KB) | DOI: 10.14710/pwk.v10i3.7783

Abstract

PDAM water service by only 50 % to 10 % for urban and rural, to accelerate the fulfillment of the need for clean water, need to involve the private sector and communities. This study aims to assess the performance of community-based water services in Tugurejo. Analysis of performance in terms of aspects operational, finance, administration and customer satisfactio. The method of research used is a mixture methods (mixed methods), which combines the methods, techniques of data collection, and quantitative and qualitative data analysis. The results of the performance evaluation study covers aspects operasioanl organizers, finance and administration assessed predicate 'good', and "Developing Capable", means they were able to maintain the consistency and quality of water, capable of generating a profit to run operations, maintain the assets, pay the loan obligations; and managers are able to maintain the sustainability of water services to customers. Performance assessment of the customer, customer satisfaction was assessed by the quality of water services. The value of customer satisfaction index (Customer statisfaction Index) is 78.34 % in the category of "satisfied", meaning that almost all customers satisfied with the service quality attributes of water service providers, although not all of the appropriate customer expectations.