Claim Missing Document
Check
Articles

KINERJA PELAYANAN AIR BERSIH MASYARAKAT DI KELURAHAN TUGUREJO KOTA SEMARANG Yani Yuliani; Mardwi Rahdriawan
Jurnal Pengembangan Kota Vol 3, No 1: Juli 2015
Publisher : Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (761.641 KB) | DOI: 10.14710/jpk.3.1.11-25

Abstract

Penyediaan air bersih yang diselenggarakan oleh PDAM Kota Semarang pada tahun 2011 baru mampu melayani 56,95% penduduk. Sehingga terdapat sebagian penduduk Kota Semarang yang belum terjangkau pelayanan jaringan air bersih perkotaan. Untuk memenuhi kekurangan pelayanan kebutuhan air bersih tersebut, pemerintah membuat program penyediaan dengan melibatkan masyarakat, sebagaimana kasus di Kelurahan Tugurejo Kecamatan Tugu Kota Semarang. Di lokasi ini, sejak tahun 2003 Kelompok Swadaya Masyarakat (KSM) Tirto Langgeng yang dilanjutkan BKM Makmur Abadi di Kelurahan Tugurejo membentuk sub unit pengelolaan air bersih untuk melayani masyarakat, khususnya di wilayah RW I dan RW V. Pada tahap selanjutnya muncul berbagai masalah terkait kualitas dan penyeadiannya. Untuk itu, penelitian ini bertujuan mengkaji kinerja pelayanan air bersih berbasis masyarakat di Kelurahan Tugurejo. Metode penelitian mengkombinasikan antara kuantitatif dan kualitatif, melalui analisis kinerja yang ditinjau dari aspek operasional, keuangan, administrasi dan kepuasan pelanggan. Berdasarkan analisis penilaian kinerja ditemukan bahwa sisi penyelenggara meliputi aspek operasional, keuangan dan administrasi dinilai berpredikat ‘baik’, dan “mampu berkembang”, artinya mampu menjaga konsistensi dan kualitas air bersih, mampu menghasilkan keuntungan untuk menjalankan kegiatan operasional, mempertahankan asset, membayar kewajiban pinjaman; serta pengelola mampu mempertahankan keberlanjutan pelayanan air bersih kepada pelanggan. Penilaian kinerja dari sisi pelanggan, dinilai dengan kepuasan pelanggan dari kualitas pelayanan air. Nilai indeks kepuasan pelanggan (Customer Satisfaction Index) adalah 78,34 % berada pada kategori “puas”, artinya pelanggan puas terhadap hampir semua atribut-atribut kualitas layanan air bersih dari penyelenggara layanan, walaupun belum semua sesuai harapan pelanggan. Analisis Importance Performance Analysis (IPA) menjelaskan atribut-atribut yang perlu dipertahankan kinerjanya yaitu kualitas fisik air, lokasi tempat pelayanan, kemampuan petugas administrasi/ keuangan, kecermatan petugas pencatat meter air, tarif air yang terjangkau, kelengkapan sambungan pelayanan, dan kepastian biaya yang dibayar. Akan tetapi masih terdapat atribut-atribut yang perlu ditingkatkan kinerjanya yaitu kuantitas air, kontinuitas, kedisiplinan petugas distribusi air, cepat dan tanggap terhadap keluhan pelanggan, serta petugas mudah dihubungi.
KAJIAN PARTISIPASI MASYARAKAT DALAM PENGELOLAAN SANITASI BERBASIS MASYARAKAT (PSBM) DI KELURAHAN MANGUNHARJO, SEMARANG Ivan Kurnia Adi; Mardwi Rahdriawan
Jurnal Pengembangan Kota Vol 4, No 2: Desember 2016
Publisher : Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (44.545 KB) | DOI: 10.14710/jpk.4.2.151-159

Abstract

The tendency of the existing infrastructure is not in accordance with the needs of the community because it is top down. Therefore, this study aims to assess community participation in managing community-based sanitation. Studies conducted focusing on participatory processes and the level of community participation in the provision of sanitation in the village program Mangunharjo precisely in RT 03 and 04 RW I. The method used in this research is quantitative and qualitative. The level of community participation in the management of the sanitation program has high participation category that has meaning on the degree of power-sharing community which has occurred rights, responsibilities and authority between the community and government to participate. Meanwhile, at the stage of organizing the participation category includes medium category (tokensm) in which the wishes of the people has been discussed, but the decision rests with the government. It is influenced by the role of the Village and Chairman of RT / RW is too dominant so that the public is not very enthusiastic in participating at the stage of organizing and resigned to the decision of the facilitator. Implementation of the program when viewed from the principle pelaksaaan almost matches that is about 80%, planning, implementation, and evaluation is fully in accordance with the principle only at the stage of organizing has obstacles described earlier which resulted in incompatibility in principle with the implementation of the program. That there is a relationship between the facilitator and community involvement, if the facilitator can perform their duties well as explaining the program well and excessive interference, then the public will enthusiastically participate. The Government needs to show its commitment in the implementation of the provision of community-based sanitation program (PSBM) in terms of giving people an opportunity to participate fully in sanitation management stages.
EVALUASI PEMANFAATAN AIR BERSIH PROGRAM PAMSIMAS DI KECAMATAN TEMBALANG Nurul Fitriyani; Mardwi Rahdriawan
Jurnal Pengembangan Kota Vol 3, No 2: Desember 2015
Publisher : Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1051.419 KB) | DOI: 10.14710/jpk.3.2.80-89

Abstract

Pertambahann jumlah penduduk yang semakin meningkat, meningkat pula kebutuhan akan sarana dan prasarana. Upaya pemerintah untuk memenuhi kebutuhan air bersih bagi masyarakat di lima kelurahan Di Kecamatan Tembalang yaitu membangun pengadaan air bersih berbasis masyarakat atau PAMSIMAS. Seiring berjalannya waktu kualitas air dari program PAMSIMAS mengalami penurunan kualitas sehingga penggunaan atau pemanfaatan air tidak dapat digunakan secara optimal. Untuk membuktikan pernyataan diatas diperlukan adanya evaluasi terkait pemanfaatan air bersih dari program PAMSIMAS, adapun tujuan dari peneilitian yaitu untuk mengevaluasi kinerja pelayanan dan pemanfaatan air bersih program PAMSIMAS di Kecamatan Tembalang dari aspek kinerja operasional dan pemanfaatannya. Metode penelitian yang digunakan yaitu deskriptif kuantitatif, dengan cara menganalisis aspek kinerja pelayanan dan aspek kinerja pemanfaatan.  Setelah menganalisis semuanya kemudian di evaluasi dengan acuan dari Departemen Pekerjaan Umum Direktorat Jendral Cipta Karya Dalam Bagian 3 Pemanfaatan Dan Pemeliharaan Sarana Dan Prasarana (2008) dan Kemendagri no 47/ 1999  tentang pedoman penilaian kinerja perusahaan daerah air minum. Hasil penelitian evaluasi pemanfaatan air bersih program PAMSIMAS menunjukkan bahwa secara keseluruhan rata-rata kinerja pelayanan air bersih adalah 1,9 sedangkan untuk pemanfaatan air bersih mencapai 2,4. Dari dua indikator tersebut jika dirata-ratakan menunjukkan pada skor 2,1 yang menunjukkan hasil cukup baik hasil evalausi mengacu dari Departemen Pekerjaan Umum Direktorat Jendral Cipta Karya Dalam Bagian 3 Pemanfaatan Dan Pemeliharaan Sarana Dan Prasarana (2008) dan Kemendagri no 47/ 1999  tentang pedoman penilaian kinerja perusahaan daerah air minum. Permasalahan terbesar berada pada kualitas air yang semakin memburuk, tetapi air dari program PAMSIMAS tetap dapat dimanfaatkan untuk kebutuhan domestik, meskipun beberapa masyarakat belum memanfaatkan air untuk keperluan minum dan memasak. Untuk meningkatkan pemanfaatan air bersih program PAMSIMAS Di Kecamatan Tembalang perlu dilakukan pemeriksaan secara sederhana baik dari sifat fisik, kimia, dan biologi terhadap kualitas air bersih ke laboratorium Dinas Kesehatan secara rutin untuk memastikan kualitas air yang dikonsumsi aman dan layak untuk di masak dan  di minum. Badan pengelola program PAMSIMAS juga harus menjalin komunikasi yang rutin dengan masyarakat yang menjadi pelanggan PAMSIMAS dalam setiap kegiatan, untuk mengetahui keluhan atau kendala yang dirasakan dan dihadapi oleh pengguna program PAMSIMAS di lapangan.
KAJIAN TATA KELOLA PENYEDIAAN TAMAN KOTA RAMAH HAM DI KABUPATEN WONOSOBO Fikri Farkhana; Mardwi Rahdriawan
Jurnal Pengembangan Kota Vol 6, No 2: Desember 2018
Publisher : Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (965.099 KB) | DOI: 10.14710/jpk.6.2.96-107

Abstract

Kabupaten Wonosobo menjadi Kota Ramah Hak Asasi Manusia pada tahun 2014. Hal tersebut mengacu pada Deklarasi Gwangju guna mewujudkan kovenan HAM internasional. Bentuk implementasinya adalah melalui pembangunan taman kota ramah HAM yaitu Taman Kartini dan Taman Fatmawati. Permasalahan yang terjadi pada kedua taman adalah belum optimalnya tata kelola taman kota pada beberapa aspek seperti minimnya sosialisasi taman ramah HAM kepada masyarakat dan minimnya perawatan fasilitas taman yang rusak. Tujuan penelitian yaitu untuk mengkaji tata kelola taman kota di Kabupaten Wonosobo. Tata kelola yang dimaksud adalah bentuk manajemen pembangunan dengan kerjasama dan pelibatan sluruh stakeholder. Metode yang digunakan adalah metode penelitian kuantitatif. Data diperoleh melalui kegiatan telaah dokumen, observasi, kuisioner, dan wawancara terstuktur. Analisis yang digunakan yaitu analisis deskriptif kuantitatif dan analisis skoring data. Hasil dari penelitian ini menunjukkan terdapat perbedaan tata kelola antara Taman Kartini dan Taman Fatmawati pada tahap pemeliharaan khususnya pada pihak yang bertanggung jawab. Tata kelola taman kota ramah hak asasi manusia yang baik dapat diwujudkan melalui pemenuhan prinsip-prinsip pada tiap tahapan pembangunan meliputi tahap perencanaan, implementasi dan pemeliharaan. Prinsip utama yang harus diakomodir adalah prinsip partisipatif, prinsip akuntabilitas dan prinsip transparansi.
PENGELOLAAN SAMPAH DALAM PERUMAHAN MBR TERPADU MENGGUNAKAN TPS 3R DI DESA BRANJANG, KECAMATAN UNGARAN BARAT Asnawi Manaf; Hadi Wahyono; Sunarti Sunarti; Mardwi Rahdriawan; Hasbi Kurniawan
Jurnal Pasopati : Pengabdian Masyarakat dan Inovasi Pengembangan Teknologi Vol 3, No 3 (2021)
Publisher : Fakultas Teknik Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pengelolaan sampah menjadi suatu permasalahan yang serius di Kabupaten Semarang. Hal ini disebabkan oleh beberapa faktor, seperti pertambahan jumlah penduduk di suatu wilayah yang berbanding lurus dengan meningkatnya jumlah sampah yang dihasilkan; perilaku masyarakat membuang sampah sembarangan yang seakan-akan sudah menjadi budaya; serta kurangnya kapasitas masyarakat dan stakeholder terkait dalam melakukan pengelolaan sampah yang baik dan benar. Desa Branjang menjadi salah satu desa di Kabupaten Semarang yang masih belum optimal dalam upaya pengelolaan sampah. Elemen prasarana persampahannya pun masih minim. Untuk mengatasi permasalahan tersebut, kemudian dilakukan sosialisasi kepada masyarakat Desa Branjang untuk membantu mengarahkan serta memberikan wawasan bahwasannya sampah bukanlah semata-mata barang yang sudah tidak berguna, akan tetapi sampah juga bisa memiliki nilai ekonomis apabila dilakukan pengelolaan terlebih dahulu. Dari hasil kegiatan diperoleh sebuah rencana pengelolaan persampahan yang terpadu, dengan teknis pewadahan menggunakan tong sampah berkapasitas 60 L, teknis pengangkutan menggunakan motor dengan bak terbuka berkapasitas 2 m3, penyediaan TPS 3R sebagai sarana pengumpulan sampah, serta bank sampah yang akan mengelola sampah anorganik agar menjadi barang yang memiliki nilai ekonomis. Adapun tarif retribusi yang dikenakan untuk setiap rumah sebanyak Rp 10.824, sedangkan untuk setiap kantor Rp 12.530. Melalui upaya pengelolaan sampah terpadu menggunakan TPS 3R di Desa Branjang diharapkan dapat membantu mengurangi penumpukan sampah yang terjadi di TPA, selain itu juga dapat memberikan dampak positif seperti membantu meningkatkan perekonomian masyarakat Desa Branjang.
Kajian Strategi Penanganan Kawasan Kumuh di Kabupaten Bangka Tengah: Slum Upgrading Strategies in Central Bangka Regency S Sunarti; Landung Esariti; Mardwi Rahdriawan; Dyah Putri Makhmudi
Journal of Regional and Rural Development Planning (Jurnal Perencanaan Pembangunan Wilayah dan Perdesaan) Vol. 5 No. 2 (2021): Journal of Regional and Rural Development Planning (Jurnal Perencanaan Pembangu
Publisher : P4W LPPM IPB

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29244/jp2wd.2021.5.2.110-122

Abstract

Slum area remains as the main problem faced in urban settlement areas, especially in developing countries. Slum area in Central Bangka Regency reaches a total area of 55.92 hectares, covering 9.1% of Central Bangka Regency area. The local government formulized a strategy named Construction and Development Plan of Housing and Settlement Areas (Rencana Pembangunan dan Pengembangan Perumahan dan Kawasan Permukiman/RP3KP). The objective of this strategy is to analyze whether the strategy for slum upgrading in Central Bangka Regency has been formulated effectively. This is significant since a study of the strategy needs to be conducted before the strategy is legalized and becomes the basic framework for implementation. Quantitative technique is depicted throughout this article by comparing strategies resulted from the RP3KP document with literature driven indicators and with Law Number 1 Year 2011 on Housing and Settlements. Result shows that the plan has been formulated effectively according to three assessment aspects, namely political aspects, administrative aspects, and their suitability to Law Number 1 Year 2011. Despite, for more effective implementation, is it suggested to operationalize the strategy by formulating mechanisms and instruments for effective governance. More detailed implementation strategies shall be regulated, to not only concentrate on physical aspects, but also on non-physical aspects, such as social, economic, and demographical aspects.
Kajian Pelaksanaan Operasional dan Pemeliharaan Sarana Air Bersih di Desa Citalang Kabupaten Purwakarta Zaenab Arifah Syamsurizal; Mardwi Rahdriawan
Teknik PWK (Perencanaan Wilayah Kota) Vol 11, No 2 (2022): Mei 2022
Publisher : Jurusan Perencanaan Wilayah dan Kota

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Proper practice of operations and maintenance of water supply system is necessary to ensure the fulfillment of community’s water need while maintaining the continuity of functionality of the water facility. This study aims to explore the practice of operations and maintenance of water facilities in Citalang Village. Data collection is done through deep interviews with operator and beneficiaries of four water facilities in Citalang Village and field observation. This study uses qualitative approach with inductive analysis, referring to the analysis of Miles and Huberman model and Spradley model. Result of the finding shows a degree of how operations and maintenance of water facility conducted in four different locations. The implementation of technical procedures is important to achieve the proper practice of water facility operations, while maintenance need to be carried out through routine and periodic inspection and restoration. Evidence also suggests several factors that hamper the potential sustainability of the water supply system, namely the absence of routine maintenance mechanism and the absence of tariff structure supporting it, the absence of operator rotation, the absence of collective agreement on efficient water consumption, and finally financial limitations of beneficiaries.
THE POTENTIAL OF LAND VALUE CAPTURE FOR A TRANSIT-ORIENTED DEVELOPMENT INITIATIVE IN PEKALONGAN CITY CENTER Pradoto, Wisnu; Rahdriawan, Mardwi; Safrul, Muhammad; Ramli, Nurul Anam
Jurnal Pengembangan Kota Vol 12, No 1: Juli 2024
Publisher : Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jpk.12.1.23-34

Abstract

Investment is a trigger for increasing the economic potential of a region. Land value is an indicator that not only reflects it, but also shows its development prospects. Government applies variety instruments of land use to improve the attractiveness of an area, especially for commercial activities. This study aims to formulate the Land Value Capture model as an innovation for financing the infrastructure development as well as for generating public revenues. Pekalongan City Center, which is located around the railway station, is an economic magnet that contains several advantages for Transit Oriented Development application. This research examines the determinant variables through Multiple Linear Regression. The model shows the significance of each influencing factor to raise land value. The study finds LVC tools that possibly applied. Discussion regarding the lack of financial capacity on government side while developable land is predominated owned by public institution vis-à-vis the needs for involving private investors to optimize the economic potential for new development is interested to understand about the differences between theoretical and practical point of view.
Tantangan Pengembangan Wisata Berdasarkan Dinamika Partisipasi Masyarakat Desa Montongsari, Kabupaten Kendal Sunarti, S; Damayanti, Maya; Esariti, Landung; Rahdriawan, Mardwi; Medina, Novia Cecilia
Jurnal Pembangunan Wilayah dan Kota Vol 18, No 4 (2022): JPWK Volume 18 No. 4 December 2022
Publisher : Universitas Diponegoro, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/pwk.v18i4.49740

Abstract

Sektor pariwisata dapat menunjang pemberdayaan dan perekonomian masyarakat dikarenakan melibatkan dan berdampak langsung bagi masyarakat. Partisipasi masyarakat menjadi elemen penting sekaligus pemicu tantangan pengembangan wisata khususnya wisata baru di daerah tertinggal. Desa Montongsari, Kabupaten Kendal merupakan desa yang diinisiasi menjadi wisata namun memiliki tantangan dalam pengembangannya berupa lahan kering serta kurangnya kesadaran dan partisipasi masyarakat. Partisipasi seharusnya menjadi pertimbangan penting untuk pemberdayaan masyarakat dalam kegiatan wisata. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis tantangan pengembangan wisata berdasarkan dinamika partisipasi masyarakat di Desa Montongsari. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan pengumpulan informasi melalui wawancara kepada fasilitator saat Focus Group Discussion (FGD) pengembangan wisata  serta teknik analisis deskriptif kualitatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwatantangan pengembangan wisata berdasarkan partisipasi masyarakat berkaitan dengan kurangnya kesadaran masyarakat tentang potensi dan manfaat kegiatan wisata, kesibukan aktivitas masyarakat, hingga kurangnya perhatian pemerintahan setempat. Sosialisasi dan pemberian motivasi dapat mempengaruhi peningkatan partisipasi masyarakat namun juga menghasilkan tantangan berupa perbedaan pendapat masyarakat. Dengan demikian, diperlukan pertimbangan prioritas pendapat masyarakat serta akses partisipasi dan pembagian peran masyarakat dalam mengelola, memelihara dan menerima manfaat wisata.
Relokasi Pedagang Pasca Revitalisasi Pasar Johar Semarang Wibowo, Naufal Farras Abhista; Rahdriawan, Mardwi
Teknik PWK (Perencanaan Wilayah Kota) Vol 13, No 2 (2024): Mei 2024
Publisher : Jurusan Perencanaan Wilayah dan Kota

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/tpwk.2024.35318

Abstract

The purpose of this study was to analyze the readiness of traders from the South Johar Sub-Rayon from the relocation site back to the Johar Market, Semarang. The study used quantitative methods with variables, namely identification of relocation policies, assessing the readiness and perceptions of traders and processed by descriptive techniques and scoring analysis. Data collection techniques are questionnaires, interviews, field observations, document reviews and literature studies. The results of the research are traders are very ready to return to Pasar Johar Semarang and overall conditions are better such as the conditions of zoning arrangements, circulation, waste management systems, drainage systems and waste water management, availability of green open spaces and safety systems in buildings. There are two aspects that are deemed inadequate, namely the condition of kiosks and stalls as well as the existence of parking and loading and unloading places, but traders are required to adapt because Johar Market is a cultural heritage building so it must be rearranged and is expected to be able to adjust trading strategies by making Johar Market Semarang as a showcase of commodities that are sold, and for warehouses can wait for the construction of the Main Market in Rejomulyo.