Claim Missing Document
Check
Articles

Bakawugh Tradition In Nagari Sumpur Kudus Sijnjung District West Sumatera Province Hasnah Anita Putri, Hasnah Anita Putri; Febri Yulika; Mutia Kahanna
Journal of Scientific Research, Education, and Technology (JSRET) Vol. 2 No. 3 (2023): Vol. 2 No. 3 2023
Publisher : Kirana Publisher (KNPub)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58526/jsret.v2i3.224

Abstract

  This thesis entitled “Bakawugh Tradition in Nagari Sumpur Kudus Sijunjung west Sumatera Province” The purpose of this research is to regency describes the bakawugh tradision carried out by the community in Nagari Sumpur Kudus. The theory used in this thesis is symbolic interpretative theory by Clifford Geertz. The medhod used by the author is qualitativemethod, with data collection techniques namely observation, interview, and dokumentation. The results of the study show that the background of the bakawugh tradition comes from the idea of Syekh Ibrahim himself in 1520. In general, the meaning of the bakawugh tradition is thanksgiving, gathering and practicing the charakteristics of Syekh Ibrahim. Social, respect of mind, patience and struggle, togetherness, and hope. Furthermore there are meanings in the contents of jambaigh such as the meaning of peace, purity, freedom, simplicity and ease, unity, tenderness, kinship and closeness, closeness, brotherhood.
Pelatihan Dasar Kepemimpinan Publik dan Manajemen Program bagi Mahasiswa Calon Duta GenRe Kota Padang Panjang Mardhatillah, Muntaha; Kahanna, Mutia
-
Publisher : Universitas Negeri Gorontalo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37905/jrpi.v2i4.36104

Abstract

This community service activity aims to improve the public leadership and program management capacity of students who are candidates for Generation Planning Ambassadors (GenRe) in Padang Panjang City. Students and pupils nominated as GenRe Ambassadors play a strategic role as agents of change in supporting population programs and youth development. However, this role requires structured and results-oriented leadership and program management skills, necessitating systematic training activities. The community service program was conducted using an educational and participatory approach via Zoom. The activity was attended by 30 participants from various universities and high schools in the province of West Sumatra. The activity included lectures on public leadership and program management, interactive discussions, and question-and-answer sessions. The activity was evaluated through a questionnaire filled out by participants to assess the relevance of the material, the implementation method, and the benefits of the activity. The results of the activity showed an increase in participants' understanding of the role of public leadership and basic program management skills. Participant evaluations showed ratings ranging from good to very good, especially in terms of the relevance of the material and the benefits of the activity. This indicates that online training remains effective in improving the capacity of prospective GenRe Ambassadors. This community service activity contributes to supporting the development of a competitive and integrity-driven young generation, as well as strengthening the synergy between universities, BKKBN, dan Dinas Sosial, Pengendalian Penduduk, Keluarga Berencana, Pemberdayaan Perempuan, dan Perlindungan Anak Kota Padang Panjang in strengthening the GenRe program at the local level
Kekerasan Simbolik Terhadap Perempuan Dalam Media Populer Mutia Kahanna
Journal of Innovative and Creativity Vol. 5 No. 2 (2025)
Publisher : Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/joecy.v5i2.1914

Abstract

Media bukan hanya sarana komunikasi, melainkan agen ideologis yang aktif dalam membentuk konstruksi sosial tentang identitas gender. Representasi perempuan dalam media kerap dikonstruksi melalui simbol sensualitas, estetika tubuh, dan narasi patriarkal yang menjadikan mereka objek visual dan komoditas simbolik. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji bagaimana media memproduksi dan melanggengkan mitos-mitos tentang perempuan melalui praktik representasi simbolik yang bersifat hegemonik. Penelitian ini menggunakan metode penelitian kepustakaan dengan pendekatan kualitatif interpretatif. Data dikumpulkan dari berbagai sumber literatur seperti buku teori feminisme, semiotika budaya, kajian media sebagai referensi utama. Analisis dilakukan dengan mengidentifikasi dan menginterpretasi tanda-tanda, narasi visual, serta wacana gender yang direproduksi media melalui pembacaan kritis terhadap makna denotatif, konotatif, dan ideologis. Hasil kajian menunjukkan bahwa media tidak hanya merepresentasikan perempuan secara stereotipis, tetapi juga menciptakan bentuk-bentuk kekerasan simbolik dan manipulasi pencitraan yang beroperasi di bawah struktur kapitalisme dan patriarki. Mitos-mitos ini memperlihatkan bagaimana tubuh perempuan diposisikan sebagai alat produksi makna kultural demi kepentingan ekonomi dan estetika dominan.
Tradisi Maanta Kampia pada Masyarakat Desa Marunggi Kecamatan Pariaman Selatan Kota Paraiman Silvia Juita; Mutia Kahanna
QISTINA: Jurnal Multidisiplin Indonesia Vol. 5 No. 1 (2026): June 2026
Publisher : CV. Rayyan Dwi Bharata

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.57235/qistina.v5i1.7999

Abstract

Artikel ini berjudul tradisi maanta kampia pada Masyarakat Desa Marunggi Kecamatan Pariaman Selatan Kota Pariaman. Keunikan tradisi ini terletak pada banyaknya simbol adat yang digunakan, namun pemahamannya masih bersifat turun-temurun dan belum dijelaskan secara sistematis, sehingga generasi muda cenderung kurang memahami nilai filosofis di balik tradisi tersebut. Tujuan penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan prosesi pelaksanaan tradisi maanta kampia dan makna yang terkandung pada pelaksanaan tradisi maant maanta kampia Pada Masyarakat Desa Marunggi Kecamatan Pariaman Selatan, Kota Pariaman. Teori yang digunakan dalam skripsi ini adalah teori Interpretatif Simbolik Clifford Geertz. Adapun metode yang digunakan yaitu metode kualitatif, dengan teknik pengumpulan data yaitu observasi, wawancara dan dokumentasi. Selanjutnya makna simbolik bisa dilihat dari isi kampia yaitu siriah langkok melambangkan kesopanan dan penghormatan adat, cincin yang diikat kain kuning simbol ikatan janji komitmen, kemuliaan, kesakralan dalam adat, hantaran tando berupa makanan simbol kemanisan dalam hubungan dan keharmonisan antara kedua belah pihak keluarga, singgang ayam dimaknai pengorbanan, tanggung jawab dan kesiapan dalam membina rumah tangga, lapek sipuluiksimbol keterikatan dan kekompakkan, buah-buahan melambangkan kesuburan dan kesejahteraan, dan harapan keberkahan hidup.
Dinamika Pagang Gadai sebagai Relasi Ekonomi Petani di Minangkabau, Sumatera Barat Yetty Oktayanty; Mutia Kahanna; Hijratur Rahmi; Divani Fadhilah Putri; Maskota Delfi
Jurnal Antropologi: Isu-Isu Sosial Budaya Vol 28 No 1 (2026): June
Publisher : Universitas Andalas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25077/jantro.v28.n1.p95-107.2026

Abstract

This article examines the practice of pagang gadai as a socio- economic relation among rural peasants in Minangkabau, West Sumatra. The research aims to analyze pagang gadai not merely as a customary land-based lending mechanism, but as a transforming relation of production that reflects changing patterns of access, control, and ownership over the means of production. Using Karl Polanyi’s concept of embeddedness and Karl Marx’s historical materialism, this article argues that pagang gadai has shifted from a solidaristic mechanism rooted in kinship and customary values into a semi-capitalist relation that reproduces class inequality between panggadai (landowners/ debtors) and pamagang (lenders/ creditors). This research employs a qualitative method with a descriptive approach. Data were collected through field observations, in-depth interviews, and documentation in rural peasants household in Minangkabau. The findings demonstrate that, despite being socially contested, pagang gadai continues to function as an alternative source of credit for peasants facing limitied access to formal financial institutions and agricultural capital. However, the practice simultaneously contributes to the temporary loss of peasants’ control over pusako tinggi (ancestral land), enabling the accumulation of agricultural surplus through control over land and unequal bargaining relations. The research highlights the contradiction between customary values of solidarity and the increasing commodification of ancestral land within contemporary rural economic relations.
MAKNA TRADISI MAKAN SINGGANG AYAM PADA MASYARAKAT NAGARI PANDAI SIKEK KECAMATAN X KOTO Syalsabila Maharani Putri; Mutia Kahanna
Jurnal Antropologi Sumatera Vol. 23 No. 2 (2026): Jurnal Antropologi Sumatera, Juni 2026
Publisher : Program Studi Antropologi Sosial Pascasarjana Universitas Negeri Medan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24114/xfayeb28

Abstract

Penelitian ini membahas tentang tradisi makan singgang ayam di Nagari Pandai Sikek merupakan prosesi adat yang sarat akan simbol, berfungsi sebagai sarana pengukuhan gelar (gala) bagi mempelai laki-laki sekaligus penegasan status sosial dalam struktur masyarakat Minangkabau. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan secara mendalam prosesi pelaksanaan tradisi tersebut dan mengungkapkan makna simbolik yang terkandung di dalamnya. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan kualitatif dengan pendekatan etnografi untuk memahami makna budaya, dengan teknik pengumpulan data melalui observasi partisipatif dan wawancara mendalam bersama tokoh adat. Teknik analisis data dilakukan secara kualitatif menggunakan model analisis interaktif Miles, Huberman, dan Saldana.Hasil penelitian menunjukkan bahwa tradisi ini terdiri dari tahapan persiapan (barundiang, mampaiyoan, mapamanggia, mamanggia, maantaan siriah, masak dama, dan masang kasur) serta tahap pelaksanaan (minum pinun aia, pasambahan, makan bersama, dan manyiriah). Secara simbolik, penggunaan carano gadang yang berisi singgang ayam jantan utuh dan nasi kunyik bermakna kemuliaan, pikiran yang matang, serta kebulatan mufakat. Sementara itu, carano ketek dan fasilitas kasur mencerminkan etika penghormatan terhadap niniak mamak. Penelitian ini menyimpulkan bahwa tradisi makan singgang ayam adalah mekanisme sosial yang efektif untuk menjaga marwah kaum dan mengintegrasikan identitas individu ke dalam tatanan adat, memastikan nilai-nilai luhur Minangkabau tetap lestari di Nagari Pandai Sikek.
KETIDAKADILAN GENDER DALAM PENGUPAHAN PEKERJA PEREMPUAN PADA SEKTOR PERTANIAN: STUDI KASUS DI KENAGARIAN BATU PALANO, KECAMATAN SUNGAI PUA Sari Nurmala, Mutia Kahanna
JURNAL PENELITIAN PENDIDIKAN SOSIAL HUMANIORA Vol. 11 No. 1 (2026): JP2SH
Publisher : LP2M Universitas Muslim Nusantara Al Washliyah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32696/jp2sh.v11i1.6348

Abstract

This study examines gender inequality in the wage system of female agricultural workers in Kenagarian Batu Palano, Sungai Pua District. The aim of the study is to identify the factors causing gender-based wage disparities among agricultural workers and to analyze the economic impacts of wage inequality on agricultural workers in Kenagarian Batu Palano. The theoretical framework used in this research is the gender injustice theory proposed by Mansour Fakih. This study employs a qualitative method using observation, interviews, and documentation, involving female agricultural workers, male agricultural workers, landowners, nagari government officials, and community leaders. The findings show that female workers receive lower wages than male workers despite performing the same tasks, working hours, and responsibilities, with female workers earning Rp 80,000 per day and male workers earning Rp 120,000 per day. The forms of gender injustice experienced by female agricultural workers in Kenagarian Batu Palano include subordination, marginalization, stereotyping, double burden, and non-physical violence. The factors contributing to wage inequality are long-standing traditions, gender stereotypes held by landowners, and the absence of written regulations regarding wage determination. Furthermore, the economic impacts of wage inequality include limited ability to meet daily needs, inability to save and invest, and restricted access to children’s education.
Kreativitas Tradisi Bungo Lado di Nagari Lubuk Pandan Kabupaten Padangpariaman Provinsi Sumatra Barat Wahyu Mustika Rani; Mutia Kahanna
Ekspresi Vol 15, No 1 (2026)
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/ekspresi.v15i1.19374

Abstract

This study aims to describe the factors underlying the creativity of the Bungo Lado tradition, the forms of creativity, and the impact of bungo lado creativity on the people of Lubuk Pandan Village. This study utilizes Utami Munandar's 4Ps theory of creativity, which includes person, press, process, and product. The research method employed is qualitative, with data collection techniques including observation, interviews, and documentation, complemented by literature review. The results indicate that the bungo lado tradition in Lubuk Pandan Village is commonly referred to as tabuik because it has undergone creative processes and is paraded collectively. The factors behind this creativity are divided into internal factors, namely the creative ideas of young people, and external factors, namely community support, government assistance, developments, the variety of decorations available to decorate the bungo lado, and technological advances. Furthermore, forms of creativity found include the Grand Mosque of West Sumatra, dam gates, jars, catfish, guard posts, airplanes, cocoa/chocolate monuments, trophies, male alang-alang, cars, the Lubuk Pandan people's struggle monument, mosque domes, laga-laga, boat, and chickens. The creativity of the bungo lado tradition has had an impact on the development, economy, social, and culture of the people of Nagari Lubuk Pandan.Keywords: Creativity , Bungo Lado Tradition, West SumatraPenelitian ini mendeskripsikan faktor-faktor yang melatarbelakangi kreativitas tradisi bungo lado, bentuk-bentuk kreativitas dan dampak kreativitas bungo lado bagi masyarakat Nagari Lubuk Pandan. Penelitian ini menggunakan teori kreativitas 4P oleh Utami Munandar yang terdiri dari person (pribadi), press (dorongan), process (proses) dan product (produk). Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini yaitu metode kualitatif dengan teknik pengumpulan data melalui observasi, wawancara, dokumentasi dan dilengkapi oleh studi kepustakaan. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa Tradisi Bungo lado di Nagari Lubuk Pandan akrab disebut tabuik karena sudah mengalami kreativitas dan di hoyak (diarak-arak) secara bersama-sama. Adapun faktor-faktor yang melatarbelakangi kreativitas ini terbagi menjadi faktor internal yaitu adanya ide dari dalam diri pemuda-pemuda untuk berkreasi dan faktor eksternal yaitu dukungan dari seluruh masyarakat, bantuan dari pemerintah, perkembangan zaman, beragamnya hiasan yang tersedia untuk menghias bungo lado, dan kemajuan teknologi. Selanjutnya bentuk-bentuk kreativitas yang ditemukan diantaranya Masjid Raya Sumatera Barat, pintu bendungan, guci, ikan lele, pos ronda, pesawat, tugu kakao/coklat, piala, alang-alang jantan, mobil, tugu perjuangan rakyat Lubuk Pandan, kubah masjid, laga-laga, biduk, dan ayam. Kreativitas tradisi bungo lado ini berdampak terhadap pembangunan, ekonomi, sosial dan budaya bagi masyarakat Nagari Lubuk Pandan.Kata kunci: Kreativitas, Tradisi Bungo Lado, Sumatra Barat
Prosesi Mandi Pengantin dalam Pernikahan Adat Masyarakat Banjar di Kecamatan Betara Yosa Oktriwagi; Mutia Kahanna
Ethnography : Journal of Cultural Anthropology Vol 4, No 2 (2025): Etnography Juli - Desember 2025
Publisher : Institut Seni Indonesia Padangpanjang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26887/ethnography.v4i2.4308

Abstract

From the research entitled "Bridal Bathing Procession in Banjar Community in Betara District, West Tanjung Jabung Regency, Jambi Province" aims to describe the bridal bathing procession in Banjar community in Betara District. The type of data collection uses qualitative methods, with interview, observation and documentation techniques. Bridal bathing is one of the traditional ceremonies carried out before the wedding ceremony in Banjar community in Betara District. Bridal bathing is a tradition that must be carried out in the marriage process according to Banjar customary beliefs and beliefs. Bridal bathing aims to purify oneself as a whole, both physically and spiritually. Banjar people believe that the bride's face will be radiant for 40 days and kept away from disaster. The equipment for the bridal bathing procession is young areca nut shoots, 40 types of cakes, 4 yellow sugar cane stalks, yellow thread rope, yellow clothes, yellow shawls, long cloth, mirror, comb, powder, kohl, hair oil, candles, prayer water and yasin water. Bridal bathing until now, one of them in West Tanjung Jabung Regency still carries out bridal bathing as one of the traditional wedding processions.
Makna Simbolik Tradisi Batarewai dalam Perkawainan Masyarakat Koto Gadang Hamimi Julita AR; Mutia Kahanna; Emzia Fajri
Ethnography : Journal of Cultural Anthropology Vol 4, No 2 (2025): Etnography Juli - Desember 2025
Publisher : Institut Seni Indonesia Padangpanjang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26887/ethnography.v4i2.6271

Abstract

Penelitian ini mengkaji makna simbolik tradisi Batarewai dalam prosesi perkawinan masyarakat Nagari Koto Gadang, Kecamatan IV Koto, Kabupaten Agam, Sumatera Barat. Penelitian bertujuan untuk memahami sejarah, tahapan prosesi, serta nilai-nilai budaya yang terkandung dalam tradisi Batarewai perkawinan. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode etnografi, merujuk pada teori interpretatif simbolik Clifford Geertz. Data diperoleh melalui observasi partisipatif, wawancara mendalam dengan niniak mamak, pelaku adat, dan pengrajin, serta dokumentasi visual. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tradisi Batarewai perkawinan terdiri atas tiga tahapan utama, yaitu tahap persiapan, pelaksanaan, dan penutup. Setiap tahapan memuat simbol-simbol budaya yang merepresentasikan nilai tanggung jawab, silaturahmi kekerabatan, pendidikan adat, serta peran mamak dalam sistem kekerabatan Minangkabau. Tradisi ini berfungsi sebagai mekanisme pewarisan nilai adat dan penguatan identitas budaya lokal. Penelitian ini menegaskan bahwa Batarewai perkawinan tidak hanya berfungsi sebagai ritual seremonial, tetapi juga sebagai media edukasi sosial dan simbolik dalam menjaga keberlanjutan adat Minangkabau di tengah perubahan sosial.