Claim Missing Document
Check
Articles

Pemertahanan Bahasa Flores NTT oleh Masyarakat Desa Modo 1 Kabupaten Buol Liputo, Istiqamah I.; Ntelu, Asna; Masie, Sitti Rachmi
Jurnal Bahasa, Sastra, dan Budaya Vol 14, No 2 (2024): (Mei 2024)
Publisher : Jurusan Pendidikan Bahasa & Sastra Indonesia, Universitas Negeri Gorontalo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37905/jbsb.v14i2.27310

Abstract

The problems studied in this research are: (a) how is the Flores NTT language used by the People of Modo 1 village in Buol Regency? (b) What are the strategies for preserving the Flores NTT language for the people of Modo 1 village in Buol Regency? (c) what factors influence the maintenance of the Flores NTT language by the people of Modo 1 village in Buol Regency? This research aims to describe the use of the Flores NTT language by the people of Modo 1 village in Buol Regency in the domains of family, social, parties, organizations, bureaucracy, and school, to describe the factors influencing language preservation and the strategies for preserving the Flores NTT language by the people of Modo 1 village in Buol Regency. The theories used were Speaking (Hymes), factors influencing language maintenance (Downes), and strategies for language maintenance (Pateda).This research was conducted in Modo 1 village, BuolRegency. The method used was a descriptive qualitative method. The data were the Flores NTT language used by the people of Modo 1 village in Buol Regency. The data collection techniques included elicitation, participant observation, and structured and unstructured interviews. The data analysis techniques involved transcribing, translating, sorting, analyzing the data, concluding, and writing the research report.The research results revealed that the use of the Flores NTT language by the people of Modo 1 village in Buol Regency is predominantly in the domains of family and social interactions, whereas in the domains of parties, organizations, bureaucracy, and school, Indonesian is predominantly used. The factors influencing the preservation of the Flores NTT language by the people of Modo 1 village in Buol Regency included: family factors, social interaction factors, communication intensity factors, activity factors, education factors, and desire or aspiration factors. The strategies for preserving the Flores NTT language by the people of Modo 1 village in Buol Regency included: parents familiarizing and teaching the Flores NTT language to their children, the community using the Flores NTT language in daily communication, traditional leaders using the Flores NTT language in various traditional activities, the government supporting cultural activities that use regional languages, and integrating lessons related to regional languages into the local content curriculum in schools. Thus, it can be concluded that the Preservation of the Flores NTT Language by the People of Modo 1 Village in Buol Regency is still sustained despite being dominated by the Indonesian language. 
Urgensi Pembelajaran Mitigasi Bencana Alam melalui Kearifan Lokal pada Guru PAUD Eraku, Sunarti Suly; Ntelu, Asna; Hinta, Ellyana; Baruadi, Moh. Karmin
Jurnal Obsesi : Jurnal Pendidikan Anak Usia Dini Vol. 7 No. 6 (2023)
Publisher : LPPM Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/obsesi.v7i6.5556

Abstract

Anak pada masa usia dini memiliki potensi luar biasa, serta rentan terhadap bahaya bencana alam. tentunya harus ada upaya konkret dalam menanggulangi hal-hal yang tidak diinginkan terjadi pada anak-anak. Tujuan penelitian ini yakni mengetahui urgensi pembelajaran mitigasi bencana alam pada anak usia dini melalui pengenalan lingkungan budaya kearifan lokal. Penelitian ini merupakan langkah awal untuk nantinya sebagai dasar tindaklanjut oleh guru-guru PAUD dan Pemerintah Provinsi Gorontalo. Upaya tersebut tidak lepas dari rutinitas anak dan lingkungan sekitar, yaitu pendidikan dan kearifan lokal. Metode penelitian ini menggunakan tinjauan literatur yang matang dalam pentingnya pendidikan mitigasi bencana alam.  Adapun hasil penelitian yakni pendidikan mitigasi bencana alam melalui kearifan lokal dapat menjadi bekal dalam antisipasi anak untuk menghadapi bencana alam yang tidak dapat diprediksi oleh siapapun jua. Sehingga sebagai tindak lanjut guru-guru PAUD sebaiknya menghubungkan tema pembelajaran dengan kearifan local untuk mengembangkan pembelajaran mitigasi bencana alam khususnya di Provinsi Gorontalo. 
PENGARUH MODEL PEMBELAJARAN PROBLEM BASED LEARNING TERHADAP HASIL BELAJAR SISWA MENGANALISIS UNSUR-UNSUR INSTRINSIK CERPEN DALAM MATA PELAJARAN BAHASA INDONESIA DI KELAS XI DI SMA NEGERI 7 GORONTALO Ladjulu, Slamet; Malabar, Sayama; Ntelu, Asna
Jurnal Review Pendidikan dan Pengajaran Vol. 8 No. 1 (2025): Volume 8 No. 1 Tahun 2025
Publisher : LPPM Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jrpp.v8i1.39383

Abstract

Problem Based Learning (PBL) merupakan metode pembelajaran inovatif yang mengedepankan penyelesaian masalah nyata sebagai inti proses belajar. Pendekatan ini memungkinkan siswa menghadapi berbagai tantangan yang membutuhkan identifikasi, evaluasi dan perumusan solusi. Dalam konteks penelitian ini, PBL diarahkan untuk meningkatkan kemampuan analisis siswa terhadap unsur-unsur intrinsik cerpen pada mata pelajaran Bahasa Indonesia di kelas XI SMA Negeri 7 Gorontalo.Penelitian ini menerapkan metode eksperimen dengan rancangan pretest dan posttest untuk menguji efektivitasnya. Selanjutnya, 30 siswa kelas XI Sastra SMA Negeri 7 Gorontalo dipilih secara sengaja sebagai sampel representatif dari 117 populasi siswa.Hasil penelitian menunjukkan peningkatan signifikan dalam hasil belajar siswa melalui penerapan model Pembelajaran Berbasis Masalah (PBL). Rata-rata nilai siswa melonjak dari 55 pada pre-test menjadi 74 pada post-test. Peningkatan ini juga menunjukkan bahwa mayoritas siswa berhasil mencapai kriteria ketuntasan minimal (KKM), sekaligus mengurangi jumlah siswa yang belum mencapai KKM.Meskipun beberapa siswa masih menghadapi kesulitan dalam memahami gaya bahasa dan amanat, model PBL terbukti efektif dalam mengembangkan kemampuan analisis siswa. Uji hipotesis juga memperkuat temuan ini dengan nilai signifikansi 0,000, yang jauh lebih rendah dari alpha 0,05. Hasil ini secara resmi mengonfirmasi efektivitas model PBL dalam meningkatkan hasil belajar siswa.Pembelajaran berbasis masalah berhasil meningkatkan kemampuan analitis siswa terhadap unsur-unsur intrinsik cerpen secara signifikan, membuktikan efektivitasnya dalam meningkatkan kualitas pembelajaran
REGISTER BAHASA MASYARAKAT PETANI DI DESA KEIMANGA KECAMATAN BOLANGITANG BARAT KABUPATEN BOLAANG MONGONDOW UTARA Pahu, Ambarwati; Supriyadi, Supriyadi; Ntelu, Asna
Jurnal Review Pendidikan dan Pengajaran Vol. 8 No. 1 (2025): Volume 8 No. 1 Tahun 2025
Publisher : LPPM Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jrpp.v8i1.41416

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan bentuk, makna, dan fungsi register bahasa masyarakat petani di desa Keimanga kecamatan Bolangitang Barat kabupaten Bolaang Mongondow Utara. Data penelitian ini berupa istilah yang dituturkan secara lisan oleh masyarakat yang berprofesi sebagai petani sawah dan petani kebun yang ada di desa Keimanga kecamatan Bolangitang Barat kabupaten Bolaang Mongondow Utara. Metode penelitian ini adalah pendekatan dekspritif dengan jenis penelitian kualitatif. 43 istilah yang dibagi menjadi 26 yang sering digunakan oleh petani sawah dan 17 istilah yang sering digunakan oleh petani kebun. Pada petani sawah terdiri 19 istilah dengan kategori verba dan 7 istilah dengan kategori nomina. Sedangkan petani kebun terdiri dari 7 istilah dengan kategori verba, 9 istilah dengan kategori nomina, dan 1 istilah dengan kategori adjektiva. Makna register petani mencakup satu makna yaitu istilah. Fungsi register bahasa petani mencakup fungsi instrumental, fungsi regulasitoris, fungsi interaksi dan fungsi personal.
PRONOMINA BAHASA GORONTALO DAN BAHASA ATINGGOLA (SUATU KAJIAN ANALISIS KONTRASTIF) Tobelo, Nur Afni; Baruadi, Mohamad Karmin; Ntelu, Asna
Jurnal Review Pendidikan dan Pengajaran Vol. 8 No. 1 (2025): Volume 8 No. 1 Tahun 2025
Publisher : LPPM Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jrpp.v8i1.41417

Abstract

Tujuan penelitian ini yaitu untuk mendeskripsikan bentuk, persamaan dan perbedaan pronomina bahasa Gorontalo dan bahasa Atinggola. Data penelitian ini berupa kata yang dituturkan secara lisan oleh masyarakat di desa Mokonowu Kecamatan Monano dan desa Tombulilato. Metode penelitian ini adalah pendekatan analisis kontrastif dengan jenis penelitian deskriptif kualitatif. Teknik pengumpulan data yang digunakan yakni Teknik Simak, teknik cakap, teknik catat serta teknik rekam suara dan gambar. Pada teknik analisis data pada penelitian yaitu mentranskip data, mengidentifikasi data, mengelompokkan data, mengiterpretasi data dan menyimpulkan. Hasil penelitian menunjukkan adanya bentuk-bentuk pronomina diantaranya: kata ganti orang, kata ganti tanya, kata ganti penunjuk, pronomina tak tentu, kata ganti kepemilikan dan kata ganti penghubung. Perbandingan pronomina pada bahasa Gorontalo dan bahasa Atinggola ditemukan persamaan pronomina bahasa Gorontalo dan bahasa Atinggola pada kata ganti diri orang pertama tunggal dan jamak yaitu bentuk wa’u dan ami sedangkan perbedaan pada bahasa Gorontalo dan bahasa Atinggola terdapat pada kata ganti orang pertama tunggal dan jamak, orang kedua tunggal dan jamak dan orang ketiga tunggal dan jamak, kata ganti tanya, kata ganti penunjuk, kata ganti milik dan kata ganti penghubung. Simpulan dari penelitian ini terdapat bentuk-bentuk, persamaan dan perbedaan pronomina bahasa Gorontalo dan bahasa Atinggola.
TINDAK TUTUR DIREKTIF DALAM KOMUNIKASI TERAPEUTIK PERAWAT DI RUMAH SAKIT TOTO KABILA Rauf, Gebrila Patricia; Djou, Dakia N.; Ntelu, Asna
Jurnal Review Pendidikan dan Pengajaran Vol. 8 No. 1 (2025): Volume 8 No. 1 Tahun 2025
Publisher : LPPM Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jrpp.v8i1.42670

Abstract

Tujuan penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan bentuk, fungsi, dan makna tindak tutur direktif dalam komunikasi terapeutik oleh perawat di Rumah Sakit Toto Kabila. Metode yang digunakan adalah deskriptif kualitatif dengan sumber data dari perawat di rumah sakit tersebut. Teknik pengumpulan data meliputi observasi,pencatatan, dan dokumentasi. Data yang terkumpul dianalisis melalui transkripsi, pengkategorian, pengkodean, dan deskripsi untuk memahami bagaimana tindak tutur direktif digunakan dalam komunikasi terapeutik, serta peran dan maknanya dalam meningkatkan kualitas interaksi perawat dan pasien. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat empat bentuk tindak tutur direktif dalam komunikasi terapeutik, yaitu meminta (10 data), memerintah (8 data), menasihati (10 data), dan merekomendasikan (10 data). Makna tindak tutur direktif dalam komunikasi terapeutik di Rumah Sakit Toto Kabila tidak hanya sebagai instruksi teknis, tetapi juga mencakup aspek empati, motivasi, dan peningkatan hubungan antara perawat dan pasien. Fungsi tindak tutur direktif ini meliputi pemberian instruksi, memastikan kepatuhan, mencegah komplikasi, mendorong komunikasi, mengelola ekspektasi, menenangkan pasien, memberikan edukasi, mendorong pelaporan gejala, memastikan persiapan yang tepat, memberikan jaminan, mendorong perawatan mandiri, memastikan keselamatan pasca prosedur, mengelola kondisi kronis, dan mendorong kepatuhan terhadap rejimen pengobatan.
Address Terms in the Bolango Language in Tolondadu Village, Bolaang Uki District Windriyanti Nupulo; Asna Ntelu; Ulfa Zakaria
INTERACTION: Jurnal Pendidikan Bahasa Vol. 13 No. 1 (2026): INTERACTION: Jurnal Pendidikan Bahasa
Publisher : Program Studi Pendidikan Bahasa Inggris, Universitas Pendidikan Muhammadiyah Sorong

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36232/interactionjournal.v13i1.5528

Abstract

Previous studies have examined address systems in several Indonesian regional languages; however, systematic documentation of address terms in the Bolango language, particularly within the sociocultural context of Tolondadu Village, remains limited. This gap highlights the need for in-depth analysis to clarify the forms and communicative functions of Bolango address terms and to contribute to local language preservation efforts. This study aims to describe the types of address terms and their functions in the Bolango language. The theoretical framework employed is sociolinguistic theory, particularly Koentjaraningrat’s classification of address terms (in Karel, 2022:23), which categorizes address terms into three types: personal name address terms, kinship address terms, and non-kinship address terms. This research applies a qualitative descriptive method with a sociolinguistic approach. The data consist of spoken utterances containing address terms produced by the community of Tolondadu Village. The study involved 15 informants, consisting of native speakers representing family members, community leaders, religious figures, traditional authorities, and general community members. Data were collected through observation, in-depth interviews, listening, recording, note-taking, and documentation techniques. The findings indicate that address terms in the Bolango language consist of personal name address terms, kinship address terms, and non-kinship address terms. Kinship address terms are the most dominant and are frequently extended beyond biological relationships to express respect and solidarity. Non-kinship address terms are mainly used in religious, customary, and formal social domains. Furthermore, address terms function to express respect, intimacy, and politeness, as well as to initiate and maintain effective communication. Their use is strongly influenced by age, social status, and the social relationship between speakers and addressees. In conclusion, the Bolango language possesses a diverse and culturally embedded system of address terms that reflects social hierarchy, solidarity, and community values. This study contributes to sociolinguistic scholarship and supports the documentation and preservation of the Bolango language for future generations.
Paanthungi, Puisi Lisan Gorontalo sebagai Media Pemertahanan Bahasa Daerah Ellyana Hinta; Asna Ntelu; Dakia Djou; NFN Zulkipli
JENTERA: Jurnal Kajian Sastra Vol 11, No 1 (2022): Jentera: Jurnal Kajian Sastra
Publisher : Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/jentera.v11i1.4874

Abstract

The purpose of this study is to describe Panthungi, Gorontalo's oral poetry as a medium for maintaining local languages. This research is descriptive in nature which is the result of a literature review related to Paanthungi. Therefore, the method used is a qualitative descriptive method. This method is intended to describe Gorontalo Oral Poetry as a Regional Language Defense Media. The data collection technique is in the form of a documentation technique by digging back into literature studies related to the Gorontalo Pantun which can be used as a medium for maintaining regional languages. The results showed that Paanthungi is a social rhyme that is sung to the accompaniment of music, dances, or without music, and is used when welcoming guests or used in traditional rituals in Gorontalo. Paanthungi or pantun is an art that needs to be developed and maintained by the people of Gorontalo because in addition to being entertaining, paanthungi also plays a very important role in protecting the Gorontalo regional language from extinction. AbstrakTujuan penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan Panthungi, puisi lisan Gorontalo sebagai media pemertahanan bahasa daerah. Penelitian ini bersifat deskriptif yang merupakan hasil kajian studi pustaka terkait dengan Paanthungi. Oleh sebab itu, metode yang digunakan adalah metode deskriptif kualitatif. Metode ini dimaksudkan untuk mendiskripsikan Puisi Lisan Gorontalo Sebagai Media Pemertahanan Bahasa Daerah. Teknik pengumpulan data berupa teknik dokumentasi dengan menggali kembali kajian kepusatakaan terkait dengan Pantun Gorontalo yang dapat dimanfaatkan sebagai media pemertahanan bahasa daerah. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Paanthungi adalah pantun pergaulan yang dilagukan dengan iringan musik, tari-tarian, atau juga tanpa musik, dan digunakan pada saat penyambutan tamu atau digunakan pada ritual-ritual adat di Gorontalo.Paanthungi atau pantun itu adalah sebuah seni yang perlu dikembangkan dan dipelihara oleh masyarakat Gorontalo karena di samping dapat menghibur, paanthungi juga sangat berfungsi untuk menjaga bahasa daerah Gorontalo agar terhindar dari kepunahan.
REGISTER BAHASA KAIDIPANG DALAM KEGIATAN MONOMA DI DESA TUNTUNG TIMUR: KAJIAN SOSIOLINGUISTIK Tangahu, Sri Yolanda; Djou, Dakia N.; Ntelu, Asna
Pendas : Jurnal Ilmiah Pendidikan Dasar Vol. 11 No. 02 (2026): Volume 11 Nomor 02, Juni 2026 Public
Publisher : Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar FKIP Universitas Pasundan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23969/jp.v11i02.50240

Abstract

This study aims to describe the forms and functions of the Kaidipang language register in monoma (fishing) activities in Tuntung Timur Village. This study employs a qualitative descriptive approach with a sociolinguistic analysis. Research data were obtained through observation, listening, recording, and documentation of Kaidipang-speaking communities involved in monoma activities. The results indicate that the Kaidipang language register in monoma activities is divided into word forms, phrases, fixed expressions, and sentences. This register is used specifically in monoma activities and is understood only by the group of fishermen involved in these activities. Additionally, instrumental, informational, personal, and interactional functions were identified in the use of the Kaidipang language register. These registers serve as tools for work coordination, information transmission, emotional expression, and markers of the social identity of the fishing community. The research findings indicate that language variation is significantly influenced by the social context and the activities of the speaker community. Thus, the Kaidipang language registers in monoma activities constitute part of the local knowledge of the coastal community that needs to be preserved.
PERGESERAN BAHASA BUOL PADA GENERASI MUDA PERANTAUAN DALAM RANAH SOSIAL DI GORONTALO Rahman, Nurfiska K.; Djou, Dakia N.; Ntelu, Asna
Pendas : Jurnal Ilmiah Pendidikan Dasar Vol. 11 No. 02 (2026): Volume 11 No. 2, Juni 2026 Publish
Publisher : Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar FKIP Universitas Pasundan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23969/jp.v11i02.50527

Abstract

This study aims to describe the patterns of language shift in the Buol language among the younger generation living away from their hometown in Gorontalo City, the factors causing this language shift, and the younger generation’s attitudes toward the use of the Buol language. This study employs a qualitative descriptive approach with a sociolinguistic analysis. The research data consists of spoken utterances from the young generation from Buol, obtained through observation, listening, interviews, note-taking, and recording. The data sources come from the young Buol generation living in Gorontalo City. The results show that the use of the Buol language has shifted in the domains of family, education, organizations, social interactions, and work. Young people predominantly use Indonesian mixed with the Gorontalo dialect rather than the Buol language in daily communication. Factors contributing to this language shift include the social environment, education, employment, and the dominance of the majority language. Nevertheless, some young people still hold a positive attitude toward the Buol language as a symbol of local cultural identity.