Claim Missing Document
Check
Articles

Found 23 Documents
Search

Prevalensi Kuman Multi Drug Resistance (MDR) di Laboratorium Mikrobiologi RSUP Dr. M. Djamil Padang Periode Januari 2010 - Desember 2012 Novilla Rezka Sjahjadi; Roslaili Rasyid; Erlina Rustam; Lily Restusari
Jurnal Kesehatan Andalas Vol 3, No 3 (2014)
Publisher : Fakultas Kedokteran, Universitas Andalas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25077/jka.v3i3.169

Abstract

AbstrakKuman Multi Drug Resistance (MDR) menyebabkan semakin sulit dalam memilih antibiotika untuk pasien yang mengalami infeksi. Akibat sulitnya pemilihan antibiotika, bisa terjadi perpanjangan masa rawat di Rumah Sakit dan menyebabkan kemunduran dalam dunia medis, sosial dan ekonomi secara tidak terduga. Telah dilakukan penelitian deskriptif-retrospektif dengan mengambil data kuman penyebab infeksi yang mengalami Multi Drug Resistance (MDR) di RSUP Dr. M. Djamil Padang periode Januari 2010 - Desember 2012 untuk mengetahui kuman Multi Drug Resistance (MDR) dan prevalensi kuman Multi Drug Resistance (MDR) di RSUP Dr. M. Djamil Padang periode Januari 2010 - Desember 2012.Hasil Penelitian menunjukkan dari 6.387 jumlah spesimen yang diambil dan dilakukan uji sensitifitas, ditemukan 3.689 kuman yang telah mengalami Multi Drug Resistance (MDR) diantaranya kuman Klebsiella sp, Staphylococcus aureus, Enterobacter sp, E.coli sp, Pseudomonas sp, dan Proteus sp. Dari 3.689 kuman yang mengalami Multi Drug Resistance (MDR) di RSUP Dr. M. Djamil Padang, peningkatan resistensi paling tinggi ditemukan pada tahun 2010 dan meningkat kembali ditahun 2012. Hasil ini menunjukkan bahwa, kasus Multi Drug Resistance (MDR) sudah ditemukan pada hasil kuman yang dikultur di Laboratorium Mikrobiologi RSUP Dr. M. Djamil Padang dan kasus tertinggi ditemukan ditahun 2010 (62%), kemudian menurun ditahun 2011 (55%) dan kembali meningkat ditahun 2012 (58%).Kata kunci: kuman multi drug resistance, prevalensi, kumanAbstractMulti Drug Resistance (MDR) bacteria, makes harder to choose the right antibiotics to use for the treatment and can cause the longer of hospitality days and the sudden decrease of medic, social and economics. It had been conducted a descriptive-retrospective study by taking the data of bacteria that cause infections experienced Multi Drug Resistance (MDR) in RSUP Dr. M.Djamil Padang from January 2010 - December 2012 to find out the Multi Drug Resistance (MDR) bacteria in RSUP Dr. M. Djamil Padang from January 2010 - December 2012. The result from the research from 6.387 study that shows the number of specimens taken and get sensitivity test, found 3.689 bacterias that have experienced the Multi Drug Resistance (MDR) including Klebsiella sp, Staphylococcus aureus, Enterobacter sp, E.coli sp, Pseudomonas sp, dan Proteus sp. The highest resistance from 3.689 Multi Drug Resistance (MDR) bacteria was in 2010 and increased again in 2012.These result indicate that, Multi Drug Resistance (MDR) case has been found in bacteria from specimen in Laboratory of Microbiology RSUP Dr. M. Djamil Padang and the highest was discovered in 2010 (62%), than decreased in 2011 (55%) and increased again in 2012 (58%).Keywords:Multi Drug Resistance bacteria, prevalention, bacteria
Identifikasi MRSA pada Diafragma Stetoskop di Ruang Rawat Inap dan HCU Bagian Penyakit Dalam Rizkia Chairani Asri; Roslaili Rasyid; Edison Edison
Jurnal Kesehatan Andalas Vol 6, No 2 (2017)
Publisher : Fakultas Kedokteran, Universitas Andalas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25077/jka.v6i2.685

Abstract

Methicillin-resistant Staphylococcus aureus (MRSA) merupakan bakteri yang sering ditemukan sebagai bakteri penyebab infeksi nosokomial. Infeksi MRSA selain mengakibatkan bertambahnya mortalitas dan morbiditas juga menambah jumlah biaya perawatan karena semakin lamanya waktu rawat dan tambahan biaya pengobatan. Laporan RSUP Dr. M. Djamil Padang menunjukan kasus infeksi MRSA yang tinggi, terdapat 200 kasus yang tercatat sejak bulan Januari 2014 sampai Juni 2014. Stetoskop merupakan alat medis yang sering digunakan oleh dokter dan telah dilaporkan dapat mejadi sumber penyebaran infeksi MRSA. Tujuan penelitian ini adalah u tuk mengetahui gambaran MRSA pada diafragma stetoskop di Ruang Rawat Inap dan HCU, yang memiliki laporan kasus MRSA terbanyak daripada ruangan lainnya. Penelitian ini merupakan studi deskriptif yang menggunakan teknik total sampling dan dilakukan pada 74 sampel stetoskop di bagian Penyakit Dalam. Isolat diambil dari swab diafragma stetoskop lalu dilakukan uji resistensi menggunaka   cefoxitin. Hasil penelitian didapatkan adanya koloni MRSA pada 22 stetoskop (64,7%) di ruang rawat inap dan 8 stetoskop (72,7%) di HCU. Persentase stetoskop positif MRSA lebih tinggi pada HCU daripada ruang rawat inap. Banyaknya stetoskop positif MRSA menunjukan pentingnya pembersihan stetoskop setelah berkontak dengan pasien
Penyuluhan dan Pemeriksaan Leptospirosis terhadap Petani di Nagari Alahan Panjang Kabupaten Solok Elizabeth Bahar; Netti Suharti; Roslaili Rasyid; Andani Eka Putra; Linosefa Linosefa; Muhammad Reza; Arni Amir
Warta Pengabdian Andalas Vol 26 No 2 (2019)
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) Universitas Andalas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25077/jwa.26.2.88-96.2019

Abstract

Leptospirosis is an infectious disease caused by Leptospira interogans (L interogans). The urine of rats is a carrier of L interrogans bacteria that pollutes stagnant water such as flooding both in rice fields and fields. Bacteria enter through the mucosa and sores or blisters when in contact with the polluted water. The mortality rate due to leptospirosis in Indonesia is reported to reach 2.5 - 16.45%, because it is a tropical country with quite high rainfall followed by flooding. Nagari Alahan Panjang Solok Regency is located at an altitude of 1400 - 1600 meters above sea level (masl) with rainfall of 2600 mm which is a vast agricultural area and the community is 90% farmers. Based on the problem above, the Department of Microbiology and Biology, Faculty of Medicine, Andalas University has held community service in Nagari Alahan Panjang, Solok Regency, for farmers, because farmers are at risk of being infected by Leptospira. The counseling method uses a power point slide and poster about leptospira followed by blood tests using the Standard Q rapid test for Leptospira IGM / IgG. About 48 farmers carried alcohol swabs at the tips of their fingers to take blood samples with fingersticks. As much as 10 ul of blood add 1 drop of standard buffer solution Q rapid test Leptospira IgM / IgG put in the rapid test tool well while stirring and wait 5 minutes. Positive results appear in the red line in the IgM / IgG area according to the control indicated on the rapid test tool. The conclusion that counseling can increase the knowledge of farmers to prevent leptospirosis with the discovery of 6.25% of farmers suspected of leptospirosis.
PENGARUH ESTROGEN TERHADAP AKTIFITAS SEL MAKROFAG DALAM MENFAGOSIT Candida albicans SECARA IN VITRO Roslaili Rasyid; Yanwirasti Yanwirasti; Ellyza Nasrul
Majalah Kedokteran Andalas Vol 32, No 1: April 2008
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Andalas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22338/mka.v32.i1.p83-92.2008

Abstract

AbstrakSaat ini estrogen banyak digunakan untuk keperluan terapi, mengurangi keluhan menopause atau untuk kontrasepsi, terutama di negara berpenduduk padat seperti Indonesia. Pemberian terapi estrogen juga dapat menyebabkan efek samping, mulai dari yang ringan sampai berat, seperti vulvovaginal candidiasis. Fluktuasi kadar hormon ini dapat mempengaruhi kerentanan vagina terhadap infeksi dengan memodulasi mekanisme imun protektif seperti menurunnya aktifitas sel fagosit seperti netrophil, makrofag dan juga natural killer (NK). Penelitian eksperimental dilakukan untuk mengetahui perubahan aktifitas makrofag karena pengaruh estrogen dalam menfagosit Candida albicans secara in vitro. Penelitian menggunakan 12 mencit putih betina galur Swiss, berumur 4-6 minggu dengan berat sekitar 20 mg. Selama 10 hari berturut-turut diberikan estrogen peroral dengan berbagai perbedaan konsentrasi. Pengujian dilakukan terhadap jumlah blastospora yang mampu difagosit oleh tiap makrofag dari kelompok kontrol, dengan makrofag dari kelompok yang mendapat tambahan estrogen. Jumlah blastospora yang difagosit oleh tiap sel makrofag antara kelompok kontrol dengan kelompok estrogen menunjukkan perbedaan yang bermakna secara statistik. Rata-rata persentase tiap 100 sel makrofag yang dapat menfagosit blastospora antara kelompok kontrol dengan kelompok estrogen juga menunjukkan perbedaan bermakna. Diduga estrogen mempengaruhi fungsi enzim-enzim yang berfungsi membantu terbentuknya bahan-bahan yang bersifat oksidatif kuat yang membantu proses fagositosis di dalam makrofag, sehingga dapat menurunkan aktifitas fagositosisnya.Kata kunci : Estrogen, makrofag, Candida albicansAbstractEstrogen is used widely for treatments, reducing symptoms of menopausal women, or even as a choice of contraception, especially in developing countries like Indonesia. Estrogen therapy may result in various side effect, with mild to severe symptoms such as vulvovaginal candidiasis. Fluctuation of this hormone affects vaginal susceptibility toward infections due to modulation of protective immune mechanism which assists in the suppression of neutrophil, macrophage, and nature killer (NK) cell. A laboratory experimental study was conducted to assess the change of macrophageARTIKEL PENELITIAN84activity in phagocyting blastospores of Candida albicans due to estrogen in vitro. This study used 12 white Swiss female mice which characteristics are 4-6 weeks ages and 20 grams weight. Those mice were given estrogen orally for 10 consecutive days in different concentration. The number of phagocyted blastophore in each macrophage of control and estrogen treated groups were counted. The number of phagocyted blastophore of control group and estrogen treated group was significantly diffeterent. Average percentage of macrophage which are able to phagocyte blastophore between control and estrogen treated group were also significantly different. It is concluded that estrogen affects enzyme function which is assisted in compounding strong oxidant which result in decresase phagocytes activity of macrophage.Keywords: Estrogen, Macrophage, Candida albicans
Perbedaan Daya Hambat Kefir Susu Kambing dengan Kefir Susu Sapi Terhadap Escherichia coli secara In Vitro Qonita Syafrina; Roslaili Rasyid; Linosefa Linosefa
Jurnal Ilmu Kesehatan Indonesia Vol 1 No 3 (2020): November 2020
Publisher : Fakultas Kedokteran, Universitas Andalas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1377.466 KB) | DOI: 10.25077/jikesi.v1i3.91

Abstract

Latar Belakang. Kefir merupakan produk susu fermentasi dari Kaukasus. Komposisinya didominasi oleh bakteri asam laktat (BAL) dan zat metabolit sekunder yang dihasilkannya seperti bakteriosin yang bersifat antibakteri terhadap bakteri patogen seperti Escherichia coli. Objektif. Penelitian ini bertujuan untuk membandingkan daya hambat dari kefir susu kambing dan kefir susu sapi terhadap Escherichia coli dengan menilai Kadar Hambat Minimal (KHM) dan Kadar Bunuh Minimal (KBM). Metode. Penelitian dilakukan dengan teknik dilusi desain Rancangan Acak Lengkap. Kefir diencerkan menjadi Tanpa Pengenceran, Pengenceran 1/2, Pengenceran 1/4, Pengenceran 1/8, Pengenceran 1/16, dan kontrol. Daya hambat berupa nilai KHM dan KBM ditentukan dengan menghitung manual jumlah koloni bakteri yang tumbuh. Analisis data menggunakan uji Kruskal-Wallis dan post hoc dengan uji Mann-whitney. Hasil. Kefir susu kambing dan kefir susu sapi dapat menghambat pertumbuhan Escherichia coli. Jumlah koloni baru E.coli dengan pemberian kefir susu kambing pada pengenceran 1/16, 1/8, 1/4, dan tanpa pengenceran yaitu secara berurut 114; 50; 60; 0,03 CFU/ml, dibandingkan dengan kontrol yang berjumlah 470.000 CFU/ml. Hasil pada pemberian kefir susu sapi yaitu secara berurut, 139,5; 5; 7,5; 0 CFU/ml, dibandingkan dengan kontrol yaitu 1.670.000 CFU/ml. Terdapat KHM dan KBM pada kefir susu kambing dan kefir susu sapi dengan persentase penurunan jumlah bakteri >99,9% di tiap kelompok. Nilai minimal KHM dan KBM pada Pengenceran 1/16 kefir susu kambing yaitu 99,97% dan pada Pengenceran 1/16 kefir susu sapi sebesar 99,99%. Kesimpulan. Tidak terdapatnya perbedaan daya hambat berupa KHM dan KBM antara kefir susu kambing dan kefir susu sapi, namun secara rerata kefir susu sapi lebih baik dalam menghambat pertumbuhan Escherichia coli. Kata kunci: kefir, Escherichia coli, susu kambing, susu sapi, antibakteri
Karakteristik Klinis dan Patologis Pasien Tumor Parotis di RSUP Dr. M. Djamil Padang Astri Sentyaningrum; Sukri Rahman; Roslaili Rasyid
Jurnal Ilmu Kesehatan Indonesia Vol 2 No 1 (2021): Maret 2021
Publisher : Fakultas Kedokteran, Universitas Andalas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1473.639 KB) | DOI: 10.25077/jikesi.v2i1.307

Abstract

Background: Parotid tumor is a tumor supporter of saliva that occurs most often among the tumors present in other saliva. Parotid tumor is a tumor with a slow progression rate, so that it makes patients serve to seek treatment.Objective: This study aims to determine the characteristics of parotid tumor patients in RSUP. Dr. M. Djamil Padang.Methods: This type of research is descriptive with a retrospective approach. This research was conducted from March to August 2020 at the Medical Record Installation of Dr. M. Djamil Padang with a total sample of 30 people and used a total sampling technique.Results: The most cases of parotid tumor were found in 2018. Parotid tumors were more often seen in women than men with the largest age range of 51 - 60 years. The main complaint is generally a lump behind the ear. Parotid tumor clinical symptoms consist of a lump behind the ear, followed by pain in the lump and others. The most histopathological types found were pleomorphic adenoma for the benign type and mucoepidermoid carcinoma for the malignant type.Conclusion: parotid tumors are more common in women, the most age range is 51 - 60 years, the main complaint is generally a lump behind the ear. The most clinical symptoms are a lump behind the ear, and the most benign parotid tumor histopathology is pleomorphic adenoma while the malignant type is carcinoma. mucoepidermoid.
Gambaran Sensitivitas Bakteri Penghasil Enzim Esbl terhadap Beberapa Antimikroba di RSUP Dr. M. Djamil Padang Periode 2018-2019 Muhamad Fadil; Roslaili Rasyid; Muhammad Hidayat
Jurnal Ilmu Kesehatan Indonesia Vol 2 No 2 (2021): Juni 2021
Publisher : Fakultas Kedokteran, Universitas Andalas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (506.553 KB) | DOI: 10.25077/jikesi.v2i2.448

Abstract

Latar Belakang. Extended spectrum beta-lactamase (ESBL) adalah enzim yang diproduksi oleh bakteri tertentu yang mampu menghidrolisis penisilin, sefalosporin generasi 1,2,3 dan aztreonam. Antimikroba golongan beta-laktam merupakan salah satu antimikroba yang paling sering diresepkan. Resistansi yang disebabkan oleh enzim ESBL berakibat cukup signifikan terhadap pengobatan penyakit infeksi. Bakteri penghasil ESBL juga sering menunjukkan resistansi pada obat lain. Objektif. Untuk mengetahui gambaran sensitivitas bakteri penghasil enzim ESBL terhadap beberapa antimikroba di RSUP dr. M. Djamil Padang pada periode 2018-2019. Metode. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif dengan pendekatan retrospektif pada hasil uji sensitivitas bakteri penghasil enzim ESBL terhadap beberapa antimikroba menggunakan alat VITEK-2 yang diidentifikasi dari spesimen pasien di RSUP dr. M. Djamil Padang periode 2018-2019. Teknik pengambilan sampel dalam penelitian ini adalah total sampling menggunakan data hasil uji sensitivitas bakteri menggunakan alat VITEK-2. Hasil. Hasil penelitin ini ditemukan 2,855 bakteri penghasil enzim ESBL. Prevalensi terbanyak adalah Klebsiella sp dengan total 974 bakteri (34.1%), diikuti oleh E.coli dengan total 636 bakteri (22.3%) dan Acinetobacter sp dengan total 627 bakteri (22%). Setiap bakteri memiliki gambaran sensitivitas berbeda terhadap beberapa obat antimikroba. Obat-obat yang memiliki sensitivitas yang masih baik adalah karbapenem, amikasin, tigesiklin dan kombinasi β-laktam/β-laktamase inhibitor namun sudah mengalami penurunan sensitivitas pada bakteri grup tertentu. Pada bakteri grup falavobacterium hanya menunjukan sensitivitas yang baik terhadap obat siprofloksasin. Kesimpulan. Obat-obat yang memiliki sensitivitas yang masih baik adalah karbapenem, amikasin, tigesiklin dan kombinasi β-laktam/β-laktamase inhibitor. Background. Extended spectrum beta-lactamases (ESBLs) are defined as enzymes produced by certain bacteria that are able to hydrolyze penicillins, cephalosporins and aztreonam. The beta-lactam antimicrobials are one of the most commonly prescribed antimicrobials. The resistance caused by Extended spectrum beta-lactamases enzyme has a significant effect on the treatment of infectious diseases. ESBL-producing bacteria also frequently show resistance to other drugs. Objective. To describe the sensitivity of ESBL producing bacteria to several antimicrobials in dr. M. Djamil hospital Padang on 2018-2019. Methods. This research was a descriptive study with a retrospective approach in the results of the sensitivity test of ESBL producing bacteria to several antimicrobials using the VITEK-2 tool that was identified from patient specimens at dr. M. Djamil hospital Padang on 2018-2019. The samples were taken using total sampling technique uses the test results of bacterial sensitivity data using the VITEK-2 tool. Results. The results of this research found 2,855 ESBL producing bacteria. The highest prevalence was Klebsiella sp with a total of 974 bacteria (34.1%), followed by E. coli with a total of 636 bacteria (22.3%) and Acinetobacter sp with a total of 627 bacteria (22%). Each bacterium has a different pattern of sensitivity to several antimicrobial drugs. Drugs that have good sensitivity are carbapenem, amikacin, tigecycline and a combination of β-lactam / β-lactamase inhibitors but have decreased sensitivity in certain groups of bacteria. The falavobacterium group bacteria only showed good sensitivity to the ciprofloxacin. Conclusion. Drugs that have good sensitivity are carbapenem, amikacin, tigecycline and a combination of β-lactam / β-lactamase inhibitors.
An overview of risk factors for androgenetic alopecia among women at Pasar Ambacang, Kuranji, Padang Sugma, Lidya Aprilia; Yenny, Satya Wydya; Rasyid, Roslaili
Journal of General - Procedural Dermatology & Venereology Indonesia Vol. 7, No. 1
Publisher : UI Scholars Hub

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Background: Androgenetic alopecia (AGA) is a patterned hair loss due to chronic and progressive miniaturization of hair follicles. Hair represents femininity and self-confidence in women. Therefore, AGA may affect the quality of life and psychology in women. This study aims to describe the risk factors for AGA in women living in Pasar Ambacang Sub-district, Kuranji District, Padang City. Method: This was a descriptive, cross-sectional study that included 40 women with AGA. Interviews with subjects were conducted. This study was approved by the Health Research Ethics Committee at Universitas Andalas (252/UN.16.2/KEPK-FK/2021) Results: AGA was mostly found on patients aged >65 years old (32.5%), married with childbearing (87.5%), overweight (32-5%), had a family history of AGA from the patient’s father (57.5%,) and a family history of AGA from the patient’s mother (75%). According to their medical history, respondents mostly had no hypertension (65%), type-2 diabetes mellitus (DM) (92.5%), and polycystic ovarian syndrome (PCOS) (100%). Most respondents had menarche at (95%), regular menstrual cycles (95%), and were non- menopausal (67.5%). The most common type of AGA was the type I Ludwig Classification (67.5%). Conclusion: Among women, AGA mostly occurred in patients with the following conditions: aged >65 years old, overweight, married with childbearing, had menarche at old, regular menstrual cycles, non- menopausal, and paternal or maternal history of AGA. AGA risk factors, such as hypertension, DM, and PCOS, were slightly found. The most common type of AGA was the type I Ludwig Classification.
ANALISIS SISTEM PENCEGAHAN DAN PENGENDALIAN KEJADIAN TERTUSUK JARUM SUNTIK PADA PERAWAT DI RSUP DR M DJAMIL PADANG TAHUN 2022 Rumaisha, Rumaisha; Semiarty, Rima; Astiena, Adila Kasni; Lestari, Yuniar; Silvia, Nelmi; Rasyid, Roslaili
PREPOTIF : JURNAL KESEHATAN MASYARAKAT Vol. 7 No. 3 (2023): DESEMBER 2023
Publisher : Universitas Pahlawan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/prepotif.v7i3.22319

Abstract

Salah satu dampak negatif yang ditimbulkan oleh proses pelayanan kesehatan yaitu tertusuk jarum suntik (needle stick injury) yang berdampak pada petugas rumah sakit berisiko terpapar darah dan cairan tubuh yang terinfeksi. Berdasarkan laporan komite Pencegahan dan Pengendalian Infeksi Rumah Sakit (PPIRS) RSUP Dr M Djamil Padang di tahun 2019, tahun 2020 dan tahun 2021, terlihat kenaikkan kasus kejadian tertusuk jarum suntik pada perawat, dimana pada tahun 2019 yaitu 22%, di tahun 2020 yaitu 41% dan di tahun 2021 yaitu 48%. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui pelaksanaan pencegahan dan pengendalian kejadian tertusuk jarum suntik pada perawat di RSUP Dr M Djamil Padang. Penelitian ini menggunakan metode penelitian yang menggabungkan antara metode penelitian kuantitatif dan kualitatif (mixed methods) dengan desain model concurrent triangulation yaitu dengan cara mencampur kedua metode tersebut secara seimbang. Teknik pengambilan sampel penelitian ini secara proportionate startified random sampling yang berjumlah 90 orang responden. Pemilihan informan penelitian ini dengan purposive sampling yang berjumlah 5 orang informan. Berdasarkan hasil penelitian ini, sebagian besar perawat memiliki pengetahuan yang baik (93,3%) dan sikap positif (84,4%) mengenai pencegahan dan pengendalian kejadian tertusuk jarum suntik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sistem pencegahan dan pengendalian kejadian tertusuk jarum suntik pada perawat di RSUP Dr M Djamil Padang sudah berjalan dengan baik, namun memang ada hal-hal yang perlu menjadi perhatian sebagai penguat sistem sehingga risiko bisa dikendalikan dan berkurang atau tidak adanya kejadian tertusuk jarum suntik bekas pakai. Di sarankan perawat dalam bekerja sesuai standar dan fokus ,meningkatkan pengawasan terhadap penanganan jarum suntik bekas pakai ,meningkatkan monitoring dan evaluasi terhadap pengendalian risiko kejadian tertusuk jarum bekas pakai ,agar rumah sakit melakukan resosialisasi atau pelatihan yang dilakukan secara berkala terhadap penanganan tertusuk jarum suntik bekas pakai kepada perawat.
HUBUNGAN PENGETAHUAN DAN KEAKTIFAN IBU DATANG KE POSYANDU DENGAN STATUS GIZI BALITA DI  WILAYAH KERJA PUSKESMAS ANDALAS Nugroho, Faisal; Semiarty, Rima; Rasyid, Roslaili; Rasyid, Rosfita; Fasrini, Ulya Uti; Asterina, Asterina
SINERGI : Jurnal Riset Ilmiah Vol. 2 No. 1 (2025): SINERGI : Jurnal Riset Ilmiah, Januari 2025
Publisher : Lembaga Pendidikan dan Penelitian Manggala Institute

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62335/bv9kd591

Abstract

Kekurangan gizi merupakan hal yang sering terjadi pada balita karena pada umur tersebut anak mangalami pertumbuhan dan perkembangan yang cepat Posyandu merupakan salah satu strategi menurunkan prevalensi gizi kurang sebagai awal timbulnya gizi buruk dengan pemantauan pertumbuhan balita.. Pemantauan pertumbuhan bertujuan untuk deteksi dan intervensi dini gangguan pertumbuhan sehingga kader dan petugas puskesmas dapat melakukan pembinaan kepada ibu balita agar tidak jatuh ke gizi kurang. Pengetahuan dan Keaktifan ibu balita ke posyandu dapat dipengaruhi oleh berbagai hal, rendahnya kunjungan posyandu akan menyebabkan tumbuh kembang anak tidak terpantau dan berisiko mengalami masalah gizi Penelitian ini merupakan penelitian analitik observasional dengan desain cross-sectional. Penelitian ini dilakukan di Puskesmas Andalas dengan jumlah sampel sebanyak 51 orang. dengan kriteria Inklusi Ibu memiliki buku KMS serta memilki anak dengan umur 12-60 bulan. Instrumen yang digunakan berupa kuesioner pengetahuan dan keaktifan ibu datang ke posyandu, kemudian dianalisis dengan menggunakan Uji regresi ordinal. Hasil dari penelitian ini didapatkan bahwa masalah gizi terbanyak terjadi pada anak dari ibu dengan pengetahuan yang cukup dan kurang (58,8%) dan tidak aktif berkunjung ke posyandu (4%) dibandingkan dengan ibu dengan pengetahuan yang baik dan cukup (86,3%) dan aktif berkunjung ke posyandu (96,1%). Dalam penelitian ini ditemukan hubungan yang signifikan antara pengetahuan dan keaktifan ibu datang ke posyandu dengan status gizi balita (p = 0,0001) Kesimpulan dari penelitian ini adalah masalah gizi lebih banyak terjadi pada anak dari ibu dengan pengetahuan yang cukup dan kurang dan tidak aktif berkunjung ke posyandu dibandingkan dengan ibu dengan pengetahuan yang baik dan cukup dan aktif datang ke posyandu