Claim Missing Document
Check
Articles

Found 20 Documents
Search

Identifikasi Ikan Hasil Tangkapan Nelayan di Pantai Timur Pananjung Pangandaran Kartiawati Alipin; Nining Ratningsih; Retnaningtyas Siska Dianty
Biotropika: Journal of Tropical Biology Vol 9, No 2 (2021)
Publisher : University of Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21776/ub.biotropika.2021.009.02.05

Abstract

Kawasan Pantai Pangandaran merupakan kawasan wisata dan penangkapan ikan bagi nelayan. Hasil tangkapan nelayan terdiri dari berbagai spesies ikan. Untuk mengetahui hasil tangkapan nelayan tersebut perlu dilakukan identifikasi spesies ikan. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengidentifikasi spesies ikan berdasarkan struktur morfologis dan morfometrik. Metode penelitian yang dilakukan yaitu pengamatan secara morfologis dan morfometrik menggunakan sampel ikan masing-masing tiga ekor jenis ikan yang mewakili ikan terbanyak pada hasil tangkapan nelayan. Berdasarkan hasil identifikasi jenis ikan yang paling banyak dari hasil tangkapan nelayan didapat spesies ikan laut Kembung (Rastrelliger brachysoma) yang memiliki ekor berwarna kuning; ikan Talang (Scomberoides tol) yang memiliki corak keperakkan di sepanjang tubuh; dan ikan Kakapasan (Geres punctatus) yang memiliki bentuk mulut superior yang khas. Berdasarkan pengukuran morfometrik terdapat spesies ikan yang memiliki ukuran paling besar yaitu ikan laut Kembung (R. brachysoma) dengan panjang total 25,1 cm dan berat rata-rata 215 g. Kesimpulan penelitian menunjukkan bahwa hasil tangkapan nelayan di Pantai Timur Pananjung Pangandaran berdasarkan hasil identifikasi terdapat tiga jenis ikan yang paling dominan untuk itu perlu dilakukan pemeliharaan kawasan agar memungkinkan berbagai jenis ikan dapat berkembang biak.
UJI SENSITIVITAS BAKTERI STAPHYLOCOCCUS AUREUS, STREPTOCOCCUS PYOGENES DAN PSEUDOMONAS AERUGINOSA TERHADAP AIR REBUSAN CACING TANAH LUMBRICUS RUBELLUS DAN PHERETIMA ASIATICA DAN ANTIBIOTIK SECARA IN VITRO Ida Indrawati; Nining Ratningsih; Sadiah Djajasupena
JURNAL ISTEK Vol 7, No 2 (2013): ISTEK
Publisher : JURNAL ISTEK

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Telah dilakukan penelitian mengenai uji sensititvitas bakteri S.aureus, S. pyogenes dan P.aeruginosa terhadap antibiotik uji dan air rebusan cacing tanah secara in vitro. Hasil penelititan dengan diameter daerah hambat sebagai parameter dan dilakukan secara eksperimental dengan rancangan acak lengkap pola faktorial ini menunjukan bahwa bakteri S.aureus lebih sensitif terhadap kloramfenikol dan gentamicin, S.pyogenes lebih sensititif terhadap basitracin dan P. aeruginosa resisten terhadap keempat antibiotik uji. Selanjutnya, bakteri S. aureus lebih sensitif terhadap air rebusan cacing tanah P.asiatica daripada air rebusan L.rubellus. Sementara S. pyogenes dan P. aeruginosa lebih sensititf terhadap air rebusan L.rubellus daripada air rebusan P.asiatica. Konsentrasi air rebusan cacing tanah yang memberikan hambatan yang efektif terhadap S.aureus adalah konsentrasi 80 %, S.pyogenes dimulai dari konsentrasi 20 % dan P.aeruginosa dimulai dari konsentrasi 2,5 %. Bakteri S.aureus dan S.pyogenes lebih sensitif terhadap antibiotik sementara P. aeruginosa lebih sensitif terhadap air rebusan cacing tanah.
POTENSI REGENERASI SEL SERTOLI DAN SEL LEYDIG TIKUS (Rattus norvegicus) MODEL DIABETES PASCA PEMBERIAN EKSTRAK ETANOL KULIT BUAH JENGKOL (Archidendron pauciflorum) Desak Made Malini; Nining Ratningsih; Nurullia Fitriani; Dwi Rahmi
Jurnal Pro-Life Vol. 7 No. 2 (2020): Juli
Publisher : Program Studi Pendidikan Biologi Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33541/jpvol6Iss2pp102

Abstract

Diabetes mellitus (DM) is a metabolic disease that causes disruption of spermatogenesis due to decreased numbers of Sertoli cells and Leydig cells. The aim of this study was to determine the potency of ethanol extract of Jengkol fruit peel (JFPEE) on increasing the regeneration of Leydig cells and Sertoli cells in diabetic rat models. This type of research is experimental research using a completely randomized design (CRD)with 5 treatments and 5 replications. Treatment was given orally for 54 consecutive days consisting of negative control (NC), positive control (PC), comparison (Glibenclamide dose 10 mg/kg BW), P1 and P2 (JFPEE dose 385 and 770 mg/kg BW). Diabetic induction was performed with streptozotocin dose 65 mg/kg BW in male Wistar rat except for NC group. The parameters observed were the number of Sertoli cells and Leydig cells in 25 seminiferous tubules.The results of histological structured showed that the highest number of Sertoly cells and Leydig cells were obtained in group P2 (4.40±0.55; 9.80±0.84) and it was not significantly different from the NC group (5.00±1.41; 12.20±2.77). It can be concluded that 770 mg/kg BW was the effective dose of JFPEE that can increase the regeneration of Sertoli cells and Leydig cells in diabetic rat models.Keywords: Jengkol Fruit Peel Ethanol Extract, Leydig Cells, Regeneration, Sertoli Cells.
ANALISIS PERTUMBUHAN DAN KANDUNGAN TOTAL FLAVONOID KULTUR KALUS KRISAN (Chrysanthemum morifolium Ramat) DENGAN PEMBERIAN ASAM 2,4-DIKLOROFENOKSIASETAT (2,4-D) DAN AIR KELAPA Tia Setiawati; Anggita Levi Astuti; Mohamad Nurzaman; Nining Ratningsih
Jurnal Pro-Life Vol. 8 No. 1 (2021): Maret
Publisher : Program Studi Pendidikan Biologi Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33541/jpvol6Iss2pp102

Abstract

Chrysanthemum morifolium contains flavonoids which have antioxidant properties and was useful in treating various diseases. The production of flavonoids from plants can be done in vitro through callus culture. Auxin 2,4-D growth regulators and organic compounds such as coconut water added to the media can affect the success of callus formation and secondary metabolite synthesis. The purpose of this study was to obtain the best treatment of 2,4-D concentration and coconut water that can increase the growth and total flavonoid levels of C. morifolium callus cultures. The method used in this research was the experimental method completely randomized design (CRD) with 8 treatments, namely 1 ppm 2,4-D + 10% coconut water (CW); 2 ppm 2,4-D + 10% CW; 3 ppm 2,4-D + 10% CW ; 4 ppm 2,4-D + 10% CW; 1 ppm 2,4-D; 2 ppm 2,4-D; 3 ppm 2,4-D; 4 ppm 2,4-D in 4 replication. The results showed that the treatment of 4 ppm 2,4-D and 10% CW was the best treatment combination, resulting in an average callus size (1.4 cm), fresh weight (0.19 grams), dry weight (0.16 gram) and total flavonoid content (1.873 mgQE/g)
Pemberian Asam Humat untuk Meningkatkan Pertumbuhan dan Kandungan Total Flavonoid Sawi Hijau (Brassica juncea L.) pada Perbedaan Kadar Salinitas Tia Setiawati; Tentani Buhti Amadea; Mohamad Nurzaman; Nining Ratningsih
Jurnal Pro-Life Vol. 8 No. 3 (2021): November
Publisher : Program Studi Pendidikan Biologi Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33541/jpvol6Iss2pp102

Abstract

Salt affects plant growth due to increased soil osmotic pressure and plant nutrients disturbance. Most plants are susceptible to high salinity which can cause physiological and biochemical interference. This research was conducted to obtain a possible salinity level for mustard greens (Brassica juncea L.) to grow well and the best humic acid dosage to reduce salinity damages and to gain high total flavonoid content. This research used Randomized Block Design method with two factors and four replications. The factors are salinity levels (control, 50, 75, and 100 mM) and humic acid dosage (control, 2, 4, and 8 g/kg). In the parameters which had interactions between the two treatments, the highest results were obtained with a combination of 100 mM salinity and 12 g humic acid, such as plant height (33.35 cm), leaf area (379.66 cm2), fresh weight (22.41 g) and dry weight (1.54 g). The highest results on leaf number (8.5 leaves) and total flavonoid content (0.074 mgQE/g sample) were obtained with 100 mM salinity. Humic acid dose of 12 g gave the highest result on leaf number (8.69 leaves) and total flavonoid content (0.095 mgQE/g sample).
Empowering the Rural Communities through Education on the Use of Chrysanthemums as Medicinal Plants and Herbal Tea Tia Setiawati; Annisa Annisa; Mohamad Nurzaman; Rusdi Hasan; Nining Ratningsih
KAIBON ABHINAYA : JURNAL PENGABDIAN MASYARAKAT Vol. 5 No. 1 (2023)
Publisher : Universitas Serang Raya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30656/ka.v5i1.5347

Abstract

Chrysanthemum is widely known as ornamental plants, but chrysanthemums can also be used as medicinal plants and can be processed into healthy beverages known as chrysanthemum tea. The purpose of the PPM activity is to educate the community, especially PKK women who are participants in this activity about the role of chrysanthemum plants in the prevention and treatment of various diseases such as fever, hypertension, osteoporosis, eye healthy and making chrysanthemum tea as a healthy beverage. PPM activities was carried out through outreach activities with presentations and discussions (question and answer), demonstrations of making chrysanthemum tea, and distributing questionnaires to determine participants understanding before and after the implementation of PPM activities. The results of the questionnaire showed that participants knowledge about the use of chrysanthemum as medicinal ingredients increased after participating in outreach activities, as well as the interest in chrysanthemum tea cultivation and entrepreneurship.
Efek Kombinasi Ekstrak Temulawak dan Belimbing Wuluh terhadap Perbaikan Histologis Ginjal Tikus yang Terpapar Herbisida Paraquat Kartiawati Alipin; Nining Ratningsih; Salsabila Nurjihan
BIOTIKA Jurnal Ilmiah Biologi Vol 20, No 2 (2022): BIOTIKA DESEMBER 2022
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/biotika.v20i2.41713

Abstract

Paraquat merupakan herbisida yang digunakan pada pertanian. Akumulasi paraquat pada tanaman sayur jika dikonsumsi dapat bersifat racun dan menyebabkan gangguan pada organ ginjal seperti kerusakan pada glomerulus berupa edema spatium Bowman, serta pada tubulus berupa infiltrasi sel radang dan pembengkakan sel epitel tubulus. Tujuan penelitian ini yaitu untuk mengetahui pengaruh pemberian kombinasi ekstrak temulawak dan belimbing wuluh (TBW) terhadap perbaikan histologis ginjal tikus yang terpapar paraquat. Metode penelitian secara eksperimental menggunakan Rancangan Acak Lengkap dengan lima perlakuan dan lima ulangan. Induksi paraquat dilakukan pada seluruh perlakuan kecuali KN. Susunan perlakuan yang terdiri dari KN (tween 80 1%), KP (paraquat 25 mg/KgBB), P1 (kombinasi TBW 770 mg/KgBB), P2 (kombinasi TBW 385 mg/KgBB), P3 (kombinasi TBW 192,5 mg/KgBB). Parameter yang diamati yaitu histologis ginjal meliputi diameter glomerulus, lebar ruang Bowman, dan persentase nekrosis pada tubulus proksimal. Data dianalisis secara statistik menggunakan uji ANOVA pada taraf kepercayaan 95% kemudian dilanjutkan dengan uji jarak berganda Duncan. Hasil penelitian menunjukkan terdapat peningkatan diameter glomerulus, penurunan lebar ruang Bowman serta penurunan persentase nekrosis sel tubulus proksimal pada perlakuan P1-P3 dengan dosis optimum yang dapat memperbaiki struktur histologis ginjal yaitu 385 mg/KgBB. Kesimpulan penelitian ini yaitu kombinasi ekstrak temulawak dan belimbing wuluh berpengaruh memperbaiki struktur histologis ginjal tikus yang terpapar paraquat.
Uji Sitotoksisitas Boraks (Natrium Tetraborat) pada Akar Bawang Bombai (Allium Cepa L.) Sri Rejeki Rahayuningsih; Annisa Annisa; Nining Ratningsih; Alyssa Meutia Fadiyah
BIOTIKA Jurnal Ilmiah Biologi Vol 20, No 2 (2022): BIOTIKA DESEMBER 2022
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/biotika.v20i2.41838

Abstract

Boraks (B4H20Na2O17) atau natrium tertraborat termasuk senyawa kimia yang secara umum digunakan sebagai bahan campuran non-pangan. Namun, boraks sering kali ditemukan di dalam pangan sebagai bahan aditif yang dipercaya dapat menambah kualitas pangan. Penggunaan boraks dalam pangan telah diatur dalam Peraturan Menteri Kesehatan No. 33 Tahun 2012 Tentang Bahan Tambahan Pangan. Masih banyak orang yang tidak sadar mengenai dampak dari penggunaan boraks dalam pangan dapat bersifat toksik dan bisa menyebabkan penyakit degeneratif apabila dikonsumsi dalam waktu yang Panjang dan tidak terukur. Uji sitotoksisitas dilakukan untuk mengidentifikasi agen sitotoksik dengan Allium asay memakai. Akar bawang bombai (Allium cepa L.) sebagai indikator biologis. Metode penelitian yang digunakan eksperimental dengan RAL faktor tunggal senyawa borax terdiri dari 5 konsentrasi 100, 300, 500, dan 700, 1000 mg/L dan 0 mg/l sebagai kontrol dengan 3 ulangan sesuai rumus Federer. Parameter yang diamati adalah Indek mitosis dan aberasi kromosom. Data hasil penelitian dianalisis dengan ANAVA (α .05) dan bila signifikan diteruskan dengan uji Dunkan (α .05). Hasil Anava menunjukkan perbedaan signifikan perlakuan konsentrasi borax terhadap Indeks mitosis (IM), terlihat hasil uji Dunkan [100] sama dengan kontrol tetapi berbeda dengan [300-700], [300] sendiri berbeda dengan [500-700]. Dapat disimpulkan bahwa pada [300] IM turun dibawah 50% bersifat sublethal, sedangkan pada [500-700] IM turun dibawah 22% dibanding kontrol, bersifat lethal. Pada semua konsentrasi perlakuan terjadi berbagai jenis Aberasi kromosom seperti: sticky anaphase, c-mitosis, mickronucleate, binucleate, vacuolated cells, bridge anaphase, dan pole deviation ).
Citarum River Water Pollution and Stress Responses in The Tolerant and Sensitive Fish Sunardi Sunardi; Kabul Fadilah; Nadia Istiqomah; Miranti Ariyani; Desak Made Malini; Syifa Yolanda; Azalea Putri; Nining Ratningsih
Indonesian Journal of Limnology Vol. 2 No. 1 (2021): Indonesian Journal of Limnology
Publisher : Indonesian Society of Limnology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (3906.437 KB) | DOI: 10.51264/inajl.v2i1.10

Abstract

Severe river pollution creates a stressful environment for aquatic organisms, causing disturbances to their health and leading to their extinction. Thus, in this study, the stress responses of tolerant (Oreochromis niloticus) and sensitive (Cyprinus carpio) fish to river pollution in the Citarum River, Indonesia were investigated. The two groups of fish were exposed to varying levels and lengths of water pollution, their blood was sampled, and stress responses were identified. The red blood cells (RBC) count, haemoglobin (HGB), haematocrit (HCT), white blood cells (WBC) count, blood glucose levels, and derived haematological indices such as mean corpuscular volume (MCV), mean corpuscular haemoglobin (MCH) and mean corpuscular haemoglobin concentration (MCHC), were measured. Significant changes in these indices, with tendential changes in RBC and HCT, were observed, indicating that stress responses had occurred in both groups of fish. The sensitive fish recorded more pronounced changes in their haematological activities, with greater amounts of blood parameters being altered in response to water pollution exposure. This result suggested that the sensitive fish were more susceptible to environmental stressors and were, therefore, more vulnerable to extinction in a polluted natural environment.
Pemanfaatan e-commerce dan Lactiplantibacillus plantarum untuk Meningkatkan Pemasaran dan Kualitas Oncom Merah di Desa Pasireungit, Kecamatan Paseh, Kabupaten Sumedang Yolani Syaputri; Nining Ratningsih; Tatang Suharmana Erawan
Farmers: Journal of Community Services Vol 4, No 1 (2023)
Publisher : Unpad Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/fjcs.v4i1.43128

Abstract

Desa Pasireungit, Kecamatan Paseh merupakan salah satu desa penghasil oncom merah terbaik di Jawa Barat. Oncom merah merupakan produk fermentasi yang terbuat dari bungkil kacang tanah dan onggok dengan bantuan kapang Neurospora sitophila. Oncom merah khas Desa Pasireungit hanya dijual pada warga sekitar, pasar tradisional, dan agen/distributor yang memang sudah menjadi pelanggan tetap. Pemasaran secara online oncom merah Desa Pasireungit masih belum optimal dan memiliki kendala berupa kemasan produk yang kurang menarik; pemasaran yang belum luas; serta kurangnya kemampuan pelaku usaha untuk meningkatkan jumlah produksi dan kualitas oncom. Data yang didapatkan dari hasil survei bahwa, dari 15 Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) penghasil oncom, hanya 1 UMKM yang menggunakan e-commerse untuk pemasaran. Pada pengabdian masyarakat ini, dilakukan edukasi dan seminar pemanfaatan e-commerce dan Lactiplantibacillus plantarum untuk meningkatkan pemahaman warga mengenai potensi e-commerce sebagai wadah dalam memperluas potensi pasar, serta memberikan edukasi kepada masyarakat dalam penggunaan bakteri asam laktat agar dapat memperpanjang masa simpan oncom merah. Peserta seminar adalah pelaku usaha yang memproduksi oncom. Data yang didapatkan setelah masyarakat mengikuti seminar adalah 81,86% masyarakat di Desa Pasireungit mengerti dengan penggunaan e-commerce dan pemanfaatan L. plantarum untuk meningkatkan pemasaran dan kualitas oncom merah.