Claim Missing Document
Check
Articles

Found 29 Documents
Search

Pengaruh pencampuran minyak ikan nila, stearin sawit, dan minyak biji karet terhadap karakteristik fisikokimia biskuit: The effect of blending tilapia fish oil, palm stearin, and rubber seed oil on the physicochemical characteristics of biscuits Sumartini, Sumartini; Hasibuan, Nirmala Efri; Pamaharyani, Luchiandini Ika; Saputra, Eko Novi; Suryono, Muhamad; Azka, Aulia; Ratrinia, Putri Wening; Basri, Basri
Jurnal Pengolahan Hasil Perikanan Indonesia Vol. 27 No. 9 (2024): Jurnal Pengolahan Hasil Perikanan Indonesia 27(9)
Publisher : Department of Aquatic Product Technology IPB University in collaboration with Masyarakat Pengolahan Hasil Perikanan Indonesia (MPHPI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17844/jphpi.v27i9.52211

Abstract

Biskuit dibuat dari campuran bahan dan lemak padat (shortening). Kualitas biskuit dipengaruhi oleh perbedaan jenis lemak yang digunakan. Limbah biji karet, tulang, kepala, sisik, kulit, dan isi perut ikan merupakan limbah perkebunan dan perikanan yang dapat dimanfaatkan menjadi lemak sebagai bahan baku shortening. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan rasio terbaik dari lemak padat stearin sawit, minyak ikan dan minyak biji karet yang di netralisasi serta dihilangkan baunya dengan rasio padatan terhadap sifat fisik dan tekstur adonan. Rancangan Acak Lengkap (RAL) digunakan dengan 5 perlakuan (palm stearin/ minyak biji karet/ minyak ikan), yaitu rasio 1 (50:30:20), rasio 2 (60:35:5), rasio 3 (70:15 :15), rasio 4 (80:10:10), dan rasio 5 (90:5:5). Parameter uji meliputi diameter, hardness, ketebalan, tekstur, warna, kadar air, protein, lemak, kalori dan sensori. Analisis data menggunakan SPSS Versi 25 dengan ANOVA 95%. Hasil yang diperoleh lightness biskuit 74,57-78,55; ketebalan 0,54-0,94 mm; diameter 90,38-110,16 mm; hardness 2769,36-3648,53g; kadar lemak 18,61-20,64%; protein 10,38-10,88% dan nilai kalori 623,680-625,367 kcal. Hasil pengujian sensori tertinggi pada rasio 4 (80: 10: 10). Proporsi rasio shortening yang tepat memengaruhi karakteristik fisik dan kimia biskuit yang dihasilkan dengan rasio terbaik 80:10:10.
Pengaruh penambahan bahan pengikat yang berbeda terhadap karakteristik fisik dan sensori tablet effervescent Sonneratia caseolaris: Effect of different binding agents on the physical and sensory characteristics of effervescent tablets of Sonneratia caseolaris Ratrinia, Putri Wening; Sumartini, Sumartini; Azka, Aulia; Hasibuan, Nirmala Efri; Nusaibah, Nusaibah; Triyastuti, Meilya Suzan
Jurnal Pengolahan Hasil Perikanan Indonesia Vol. 27 No. 10 (2024): Jurnal Pengolahan Hasil Perikanan Indonesia 27(10)
Publisher : Department of Aquatic Product Technology IPB University in collaboration with Masyarakat Pengolahan Hasil Perikanan Indonesia (MPHPI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17844/jphpi.v27i10.52204

Abstract

Sonneratia caseolaris dapat dimanfaatkan sebagai minuman fungsional dalam bentuk tablet effervescent. Tablet effervescent merupakan minuman dalam sediaan tablet yang larut dalam air menghasilkan gelembung dan berkarbonasi serta memiliki manfaat untuk kesehatan tubuh. Bahan pengikat diperlukan untuk meningkatkan kualitas serta menjaga kestabilan sediaan tablet effervescent. Bahan pengikat berfungsi untuk menyatukan bahan-bahan menjadi satu kesatuan tablet yang kohesif sehingga bahan aktif yang terkandung di dalam effervescent terdistribusi secara merata. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan bahan pengikat terbaik berdasarkan karakteristik fisik dan sensori tablet effervescent yang dihasilkan. Pembuatan tablet effervescent diawali dengan pencampuran filtrat S. caseolaris dengan bahan pengikat yang berbeda masing-masing konsentrasi 2,5%, yaitu polyvinyl pyrolidone (PVP), gelatin, pulvis gummi arabicum (PGA), dan maltodekstrin. Hasil campuran dikeringkan menggunakan spray dryer. Padatan hasil pencampuran diformulasikan sesuai bahan pembuatan tablet effervescent. Parameter yang dianalisis meliputi keseragaman bobot, kekerasan tablet, warna, kelarutan, waktu larut, kadar air, dan sensori. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penggunaan bahan pengikat yang berbeda berpengaruh nyata (p<0,05) terhadap keseragaman bobot, kekerasan tablet, warna, kelarutan, waktu larut, dan kadar air. Penambahan gelatin 2,5% merupakan perlakuan terbaik dengan karakteristik kekerasan 4,86 kg/cm2, kelarutan 98,32%, waktu larut <70 detik dan kadar air 2,15% telah memenuhi standar dari Farmakope Indonesia. Hasil penilaian sensori berdasarkan ketampakan, aroma, warna, rasa, dan keseluruhan menunjukkan bahwa semua perlakuan tablet effervescent sangat disukai oleh panelis.
Pelatihan desain kemasan dan marketing berbasis digital melalui program “Techno Fish-Park” pada sirup buah mangrove dan teh herbal mangrove Sumartini, Sumartini; Arkham, Muhammad Nur; Azka, Aulia; Hasibuan, Nirmala Efri; Ratrinia, Putri Wening; Saputra, Eko Novi; Suryono, Muh; Basri, Basri
KACANEGARA Jurnal Pengabdian pada Masyarakat Vol 6, No 4 (2023): November
Publisher : Institut Teknologi Dirgantara Adisutjipto

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.28989/kacanegara.v6i4.1671

Abstract

Technofisheriespark adalah suatu kawasan terpadu (dirancang/direncanakan, dikembangkan  &  dikelola secara  khusus)  yang  terdiri  dari  satu  atau  lebih  pusat  kegiatan IPTEKIN. Kegiatan Pengenalan  dan  Sosialiasi dilaksanakan dalam upaya  yang dilakukan dengan cara mengembangkan masyarakat pesisir dan nelayan di kawasan Sungai Geniot, Sungai Sembilan berencana memberikan program penyuluhan dan pelatihan tentang potensi mangrove sebagai bahan baku pembuatan sirup mangrove dan teh herbal. Kegiatan ini dilakukan melalui metode perencanaan dan sosialisasi, pendampingan operasional dan implementasi teknologi. Pada awal pengamatan terlihat para pengusaha tertarik dengan program pendidikan ini. Para pengusaha tampak antusias hingga akhir kegiatan pelatihan. Kegiatan ini diharapkan dapat meningkatkan tingkat pendapatan wirausaha masyarakat Sungai Geniot, meningkatkan kreativitas dalam pengemasan dan pelabelan serta pemasaran  digital produk, serta keterampilan wirausaha warga Desa Sungai Geniot Kecamatan Sungai Sembilan Kota Dumai. 
Nanochitosan from Manufacture Shells of Mud Crab (Scylla sp.) and Its Application as Acne Patch Luthfiyana, Novi; Ratrinia, Putri Wening; Nusaibah, Nusaibah; Nisa, Mutia Khoirun
Squalen, Buletin Pascapanen dan Bioteknologi Kelautan dan Perikanan Vol 19, No 2 (2024): August 2024
Publisher : :Agency for Marine and Fisheries Research and Human Resources, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15578/squalen.928

Abstract

Chitosan is a potential raw material for marine cosmetics with antibacterial,anti-inflammatory properties and can stimulate collagen synthesis in theskin. This research aimed to obtain nano-sized chitosan (nanochitosan) frommud crab (Scylla sp.) shells and apply it as a cosmetic acne patch. Theparameters used to characterize nanochitosan are particle size, polydispersityindex, zeta potential and morphology. Meanwhile, the parameters of the Acnepatch produced are characterized by physical appearance and ance bacterialactivity. The results revealed that nanochitosan had an average size of 35.20±1.66 nm, the highest intensity of 11.70±1.25, polydispersity of 0.274±0.10,and zeta potential of 42.9±1.41 mV. The morphology of nanochitosan is in theform of broken rods, not hollow and irregular but uniform. Its elements includecarbon, oxygen, magnesium, aluminum, phosphorus, and calcium. The acnepatches resulting from the addition of 0 mg (K0), 50 mg (K1), 100 mg (K2),and 150 mg (K3) were opaque white, slightly transparent, smooth, elastic,and odorless. The thickness varies, namely, 0.014 ± 0.002 mm (K0), 0.017 ±0.002 mm (K1), 0.022 ± 0.004 mm (K2), and 0.031 ± 0.005 mm (K3). Theweight variations were 0.019 ± 0.001 mg (K0), 0.026 ± 0.005 mg (K1), 0.033± 0.002 mg (K2), and 0.047 ± 0.013 mg (K3). The moisture loss varied,namely, 7.525 ± 0.054% (K0), 3.201 ± 0.487% (K1), 2.741 ± 0.279% (K2), and2.017 ± 0.290% (K3). Acne patches K1, K2, and K3 were proven to be able toinhibit the activity of acne bacteria Propionibacterium acnes (9.5 ± 0.25 mm,10.67 ± 0.76 mm, and 9.17 ± 0.76 mm), Staphylococcus epidermidis (9.33 ±1.15 mm, 13.67 ± 2.02 mm, and 8.67 ± 1.89 mm), and S. aureus (10.33 ±0.25 mm, 11.83 ± 0.76 mm, and 8.66 ± 0.76 mm). This research succeededin obtaining chitosan from crab shells (Scylla sp) in nano size and acnepatches with the addition of nanochitosan effectively inhibited the growth ofacne bacteria.
Karakteristik fisikokimia mi basah substitusi jenis ikan berbeda dengan penambahan egg white powder: Physicochemical characteristics of wet noodles substitution of different types of fish with the addition of egg white powder (EWP) Amalia, Ayu Rizki; Sumartini, Sumartini; Azka, Aulia; Ratrinia, Putri Wening; Suryono, Muh; Saputra, Eko Novi; Hasibuan, Nirmala Efri
Jurnal Pengolahan Hasil Perikanan Indonesia Vol. 27 No. 11 (2024): Jurnal Pengolahan Hasil Perikanan Indonesia 27(11)
Publisher : Department of Aquatic Product Technology IPB University in collaboration with Masyarakat Pengolahan Hasil Perikanan Indonesia (MPHPI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17844/jphpi.v27i11.52207

Abstract

Mi merupakan salah satu jenis makanan yang disukai oleh semua kalangan dan digunakan sebagai alternatif variasi makanan pengganti nasi. Kandungan gizi protein pada produk mi sangat rendah sehingga perlu ditambahkan protein dari berbagai jenis ikan. Kelemahan mi berbahan dasar ikan adalah karakteristik fisiknya yang mudah putus dan tidak kenyal sehingga kurang disukai konsumen. Oleh sebab itu, perlu adanya bahan pengenyal egg white powder (EWP). Penelitian ini bertujuan untuk menentukan tepung jenis ikan terbaik pada mi basah berdasarkan karakteristik fisikokimia dan kesukaan konsumen. Metode penelitian yang digunakan adalah rancangan acak lengkap (RAL) dengan perlakuan jenis ikan yang berbeda, yaitu tanpa ikan, ikan patin, lomek, kembung, dan tongkol. Parameter yang diuji adalah sensori, proksimat dan karakteristik fisik. Mi dengan jenis ikan berbeda mengandung kadar air 51,50-76,65%; protein 4,40-17,21; lemak 0,20-6,53%; abu 1,00-2,82%; cooking loss 3,50-8,25%; daya rehidrasi 35,00-65,24%; cooking time 75,75-115,28 detik; elastisitas 11,38-29,79%; dan nilai hardness 881,40-4.155,01 gf. Tepung jenis ikan yang paling disukai sebagai bahan baku mi basah berdasarkan tingkat penerimaan panelis adalah ikan tongkol. Penggunaan ikan sebagai bahan baku dapat meningkatkan nutrisi mi basah.
Aktivitas antioksidan dan hedonik teh hijau berbahan baku daun mangrove Avicennia sp. dan Sonneratia sp.: Antioxidant activity and hedonic of green tea made from mangrove leaves Avicennia sp. and Sonneratia sp. Hasibuan, Nirmala Efri; Azka, Aulia; Ratrinia, Putri Wening; Sumartini, Sumartini; Pamaharyani, Luchiandini Ika; Suryono, Muh; Basri, Basri
Jurnal Pengolahan Hasil Perikanan Indonesia Vol. 28 No. 2 (2025): Jurnal Pengolahan Hasil Perikanan Indonesia 28(2)
Publisher : Department of Aquatic Product Technology IPB University in collaboration with Masyarakat Pengolahan Hasil Perikanan Indonesia (MPHPI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17844/jphpi.v28i2.60944

Abstract

Teh hijau telah lama dikenal sebagai minuman yang memiliki berbagai manfaat kesehatan, terutama karena kandungan antioksidannya yang tinggi. Daun mangrove berpotensi sebagai bahan baku teh hijau karena memiliki senyawa metabolit sekunder yang bersifat sebagai antioksidan. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan spesies mangrove terbaik yang berpotensi sebagai teh hijau melalui parameter kimia, antioksidan, dan penilaian hedonik. Teh hijau diproduksi dari daun muda bagian pucuk mangrove Avicennia sp. dan Sonneratia sp. yang diperoleh dari kawasan ekosistem Bandar Bakau, Kota Dumai dan teh komersial (Camellia sinensis) sebagai pembanding. Parameter yang dianalisis meliputi karakteristik kimia (kadar air, abu, abu tak larut asam, sari larut air, dan serat), fitokimia, persentase inhibisi antioksidan metode DPPH, serta penilaian hedonik (rasa, aroma, warna, dan overall). Hasil penelitian menunjukkan ketiga jenis teh memiliki kadar air 7,84-25,45%, abu 6,69-16,12%, abu tak larut asam 0,65-1,23%, sari larut air 2,82-4,27%, dan serat 5,80-7,11%. Senyawa fitokimia lebih banyak terdeteksi pada teh komersial dibandingkan teh daun mangrove. Perbedaan jenis bahan baku teh hijau berpengaruh nyata terhadap persentase inhibisi antioksidan dan penilaian hedonik panelis. Perlakuan terbaik teh hijau dengan daun mangrove Sonneratia sp. dengan persentase inhibisi antioksidan tertinggi (87,59%) dan penilaian hedonik keseluruhan (overall) sangat disukai panelis. Teh ini memenuhi standar teh hijau sesuai SNI 3945:2016 pada kadar abu, abu larut asam, dan serat kasar, namun belum pada kadar air dan sari larut air. Hasil penelitian mengindikasikan daun mangrove berpotensi sebagai bahan baku teh hijau.
ANALISA PEMASARAN TERASI UDANG AKIBAT PANDEMI COVID-19DI DESA TANJUNG PASIR KECAMATAN TANAH MERAH KABUPATEN INDRAGIRI HILIR Shalichaty, Shiffa Febyarandika; Ratrinia, Putri Wening; Suryono, Muh; Gusnawati, Riama
Coastal and Ocean Journal (COJ) Vol 5 No 1 (2021): COJ (Coastal and Ocean Journal)
Publisher : Pusat Kajian Sumberdaya Pesisir dan Lautan IPB

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1262.836 KB) | DOI: 10.29244/COJ.5.1.9-18

Abstract

Potensi perikanan di Kabupaten Indragiri Hilir sangat besar, mulai dari perikanan laut/tangkap hingga keperikanan umum. Potensi tersebut banyak dimanfaatkan oleh masyarakat sekitar salah satunya adalahdengan membuat usaha pengolahan terasi udang. Pandemi covid-19 yang melanda hampir di seluruhIndonesia berdampak pada produksi pengolahan terasi yang dilakukan masyarakat Desa Tanjung Pasir.Tujuan dari penelitian ini adalah mengetahui besarnya margin pemasaran, efisiensi pemasaran danfarmer’s share sebelum dan sesudah adanya pandemic Covid-19 dan menganalisa ada tidaknya perbedaanpemasaran sebelum dan sesudah pandemic Covid-19 di Kabupaten Indragiri Hilir. Hasil dari penelitian iniadalah nilai margin pemasaran sebelum pandemic covid-19 adalah Rp.3.000,-/kg dan setelah pandemiccovid menjadi Rp. 13.000,-/kg. Nilai efisiensi pemasaran sebelum pandemic covid-19 sebesar 5-5,75% dansetelah pandemic covid-19 sebesar 3,33 - 3,83%. Nilai farmer’s share sebelum pandemic covid-19 sebesar85% dan setelah pandemic covid-19 sebesar 56,67%. Uji t menunjukan bahwa ada perbedaan pemasaranusaha pengolahan terasi udang antara sebelum dan sesudah adanya pandemic Covid-19 dengan nilai thitung 2,638 > t tabel 2,110.
ANALISA USAHA SKALA MENENGAH DAN SKALA MIKRO IKAN ASIN GULAMAH(Johnius trachycephalus) di DESA PERLIS KECAMATAN BERANDAN BARAT KABUPATEN LANGKAT, SUMATERA UTARA Shalichaty, Shiffa Febyarandika; Ratrinia, Putri Wening; Damanik, Salda
Coastal and Ocean Journal (COJ) Vol 5 No 1 (2021): COJ (Coastal and Ocean Journal)
Publisher : Pusat Kajian Sumberdaya Pesisir dan Lautan IPB

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1136.162 KB) | DOI: 10.29244/COJ.5.1.1-8

Abstract

Kabupaten Langkat memiliki potensi perikanan yang sangat besar. Unit usaha di Kabupaten Langkatkhususnya Desa Perlis meliputi usaha berskala menengah dan skala mikro. Tujuan dari penelitian iniadalah untuk mengetahui kelayakan usaha pengolahan ikan asin gulamah di Desa Perlis KabupatenLangkat. Analisis data yang diguanakan dalam penelitian ini adalah analisis keuntungan, Revenue/CostRatio (R/C Ratio), Break Even Point (BEP) produk dan harga, dan Payback Period. Hasil dari analisistersebut adalah usaha pengolahan ikan asin gulamah baik skala menengah maupun mikro dikatakan layakuntuk dijalankan dengan lama pengembalian modal dalam kategori cepat. Keuntungan usaha ikan asingulamah skala menengah sebesar Rp. 1.095.670.000,-/tahun dan keuntungan usaha ikan asin gulamahskala kecil sebesar Rp. 657.296.667,-/tahun. Besar nilai BEP produksi usaha skala menengah adalah115.549 kg dengan nilai BEP harga sebesar Rp.10.913,-/kg, nilai BEP produk usaha kecil adalah 51.336 kgdalam 1 tahun dengan nilai BEP harga sebesar Rp.9.697,-/kg. Nilai R/C ratio 1,56 untuk skala menengahdan 1,75 untuk skala kecil. Nilai Payback Period sebesar 0,64 untuk skala menengah dan 0,57 untuk skalakecil.Kata kunci: gulamah, usaha, keuntungan, kelayakan
Pelatihan kewirausahaan pangan lokal: fish chip ikan lomek dan produk inovatif mangrove untuk organisasi ikatan istri karyawan Wilmar Dumai Sumartini Sumartini; Luchiandini Ika Pamaharyani; Nirmala Efri Hasibuan; Kurnia Sada Harahap; Putri Wening Ratrinia; Aulia Azka; Basri Tanjung; Eko Novi Saputra; Muhammad Nur Arkham
KACANEGARA Jurnal Pengabdian pada Masyarakat Vol 9, No 3 (2026): Agustus
Publisher : Institut Teknologi Dirgantara Adisutjipto

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.28989/kacanegara.v9i3.3393

Abstract

Kota Dumai memiliki potensi perikanan dan ekosistem mangrove yang melimpah, salah satunya ikan lomek (Harpadon nehereus) yang kaya protein dan buah pedada (Sonneratia caseolaris) yang mengandung senyawa bioaktif. Namun, pemanfaatannya masih terbatas sehingga nilai tambah ekonominya rendah. Kegiatan pengabdian masyarakat ini bertujuan untuk meningkatkan keterampilan dan kewirausahaan anggota Ikatan Istri Karyawan Wilmar (IIKW) Dumai melalui pelatihan pengolahan ikan lomek menjadi fish chips serta produk inovatif berbasis mangrove, seperti sirup, dodol, dan kopi. Metode yang digunakan adalah pelatihan partisipatif berbasis workshop dengan tahapan persiapan, sosialisasi, demonstrasi, praktik langsung, pendampingan teknis, dan evaluasi. Peserta dilatih dalam pemilihan bahan baku, teknik pengolahan, penerapan standar mutu dan keamanan pangan, serta strategi pengemasan dan pemasaran digital. Evaluasi dilakukan melalui pre-test dan post-test serta pengisian kuesioner kepuasan peserta. Hasil pelatihan menunjukkan adanya peningkatan pemahaman peserta dengan rata-rata nilai post-test ≥90 pada 88% peserta. Tingkat kepuasan responden juga sangat tinggi, dengan skor rata-rata 97,99% pada aspek relevansi materi, manfaat kegiatan, dan kualitas narasumber. Peserta menilai kegiatan ini bermanfaat untuk pengembangan usaha rumah tangga, meskipun terdapat kendala ketersediaan bahan baku musiman. Secara keseluruhan, program ini efektif dalam meningkatkan kapasitas pengetahuan, keterampilan teknis, dan motivasi kewirausahaan perempuan pesisir. Keberhasilan kegiatan ini menegaskan pentingnya dukungan lanjutan berupa pendampingan, akses sarana produksi, dan strategi pemasaran digital agar produk fish chips ikan lomek dan olahan mangrove dapat berdaya saing serta menjadi ikon kuliner khas pesisir Dumai.