Claim Missing Document
Check
Articles

Found 24 Documents
Search

Telogen effluvium incidence in women wearing hijab compared to non-hijab: A cross-sectional study Sirait, Sondang Pandjaitan; Widaty, Sandra; Legiawati, Lili; Surachmiati Suseno, Lis; Krisanti, Roro Inge Ade; Budianti, Windy Keumala; Miranda, Eliza; Rihatmadja, Rahadi; Oktarina, Caroline; Pandelaki, Paulus Anung Anindita; Situmeang, Irhen
Journal of General - Procedural Dermatology & Venereology Indonesia Vol. 8, No. 2
Publisher : UI Scholars Hub

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Background: Hair loss is a normal experience, but if the amount of hair loss exceeds what is considered normal, it will usually cause anxiety for the patient. In Indonesia, almost every Muslim woman wears a hijab. The hijab is one of many factors believed to cause hair loss. Telogen effluvium (TE) itself is a hair cycle disorder in which the anagen phase terminates prematurely, resulting in diffuse club hair loss without scarring, and TE itself has many risk factors. The purpose of this study was to determine the relationship between the incidence of TE in women who wear hijabs and those who do not. Methods: This cross-sectional study was conducted from August 2019 to April 2021 involving 188 healthy women aged 18 years and over who had not yet reached menopause. In the hijab group, it was determined that they should wear a minimum of 8 hours a day for at least 5 years. The test was carried out on hair that had not been washed using a trichogram, to look for hair characteristics in each group (hijab-wearing and non-hijab-wearing). Analysis of the data obtained was carried out using the Chi-square test and odds ratio. Results: Telogen effluvium was higher in subjects wearing hijab (26.8%) than in subjects who did not wear hijab (18.1%), (p-value 0.040, OR 2.036). Conclusion: There was a significant relationship between TE in women who wear hijab compared to those who do not. Further studies should be conducted in other populations with a larger sample size to confirm these results.
DERMATOMIOSITIS KLASIK DENGAN ANTI-Mi-2 ANTIBODY POSITIF: SEBUAH LAPORAN KASUS JARANG DENGAN PROGNOSIS BAIK: Laurensia, Riani; Meisyah Fitri, Eyleny; Keumala Budianti, Windy; Rihatmadja, Rahadi; Novianto, Endi; Pranathania, Andravina
Media Dermato-Venereologica Indonesiana Vol 53 No 1 (2026): Media Dermato Venereologica Indonesiana
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Kulit dan Kelamin Indonesia (PERDOSKI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33820/mdvi.v53i1.513

Abstract

Pendahuluan: Dermatomiositis (DM) merupakan penyakit jaringan ikat langka yang ditandai manifestasi kulit khas, kelemahan otot progresif, serta keterlibatan organ multisistem. Pemeriksaan myositis-specific autoantibodies (MSA) berhubungan dengan fenotip klinis dan prognosis. Kasus: Laki-laki 36 tahun didiagnosis DM klasik dengan lesi khas berupa Gottron sign, Gottron papules, v-neck sign, shawl sign, holster sign, serta kelemahan otot progresif bilateral. Pemeriksaan laboratorium didapatkan peningkatan enzim lactate dehydrogenase (LDH), alanine aminotransferase (ALT), aspartate transferase (AST), C-reactive protein (CRP), ANA IF dengan titer >1:1000 pola homogen, creatinine kinase (CK), CKMB, serta troponin I. Panel MSA didapatkan hasil positif terhadap anti-Mi-2a dan anti-Mi-2b. Pemeriksaan elektromiografi (EMG) sesuai dengan immune-mediated myopathy. Pemeriksaan histopatologis didapatkan akantosis tidak teratur, ortokeratosis, basal vacuolar alteration, keratin plug, pigment incontinence, kolagen papila dermis homogen, sebukan perivaskular ringan, deposisi musin sesuai dengan gambaran DM. Lesi kulit perbaikan dan tidak ada lesi baru, namun kelemahan pada tangan, tungkai atas, dan tungkai bawah masih dirasakan sama dengan pemberian terapi metilprednisolon 32 mg setara prednison 0,5 mg/kgBB dan metotreksat 10 mg/minggu selama 2 minggu. Diskusi: Patogenesis penyakit DM sangat kompleks dipengaruhi oleh genetik, lingkungan, dan gangguan sistem imun dengan peran autoantibodi, adanya inflamasi jaringan, kerusakan sel parenkim, dan vaskulopati. Pemeriksaan MSA membantu penegakan diagnosis DM atipikal, mengidentifikasi manifestasi keganasan, pilihan tata laksana, dan memengaruhi prognosis. Anti-Mi-2 antibody positif berhubungan dengan angka kejadian penyakit paru interstisial dan keganasan lebih rendah, serta respon terapi dan luaran klinis yang lebih baik. Simpulan: Pemeriksaan MSA dengan hasil anti-Mi-2 antibody positif pada DM dapat digunakan sebagai penanda diagnostik dan prognostik yang baik.
PITYRIASIS LICHENOIDES PASCA VAKSINASI mRNA COVID-19 Laurensia, Riani; Nadia Yusharyahya, Shannaz; Legiawati, Lili; Astriningrum, Rinadewi; Rihatmadja, Rahadi; Andrianus, Kenny
Media Dermato-Venereologica Indonesiana Vol 53 No 1 (2026): Media Dermato Venereologica Indonesiana
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Kulit dan Kelamin Indonesia (PERDOSKI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33820/mdvi.v53i1.514

Abstract

   Pendahuluan: Pityriasis lichenoides (PL) merupakan spektrum kelainan kulit yang tumpang tindih secara klinis maupun histopatologis dengan dua bentuk utama yaitu pityriasis lichenoides et varioliformis acuta (PLEVA) dan pityriasis lichenoides chronica (PLC). Sekitar 20% PL terjadi pada anak-anak dan dewasa muda. Beberapa publikasi ilmiah melaporkan PL pascavaksinasi coronavirus disease (COVID-19). Kasus: Seorang laki-laki, 64 tahun didiagnosis PL, 4 hari pascavaksinasi COVID-19 booster pertama Pfizer® sejak 14 bulan lalu. Pemeriksaan dermoskopi ditemukan dotted vessels, yellowish-orange structureless area, vesicles with red background. Pemeriksaan laboratorium didapatkan peningkatan D-dimer 490 mG/L dan IgE 730 IU/ml. Pemeriksaan histopatologi kulit sesuai PLEVA, ditemukannya eosinofil dipertimbangkan sebagai hipersensitivitas vaksin. Perbaikan klinis signifikan tercapai dengan terapi metilprednisolon setara prednison 0.5 mg/kgBB dan doksisiklin selama 2 minggu. Diskusi: : Patogenesis PL disebabkan oleh peningkatan kompleks imun, deposit IgM, dan C3 pada vaskular taut dermo-epidermal, serta kumpulan sel sitotoksik pada dermis dan epidermis yang berkorelasi dengan hipersensitivitas tipe lambat terhadap bahan vaksin. Pemeriksaan histopatologi membantu menegakkan diagnosis. Terapi kortikosteroid dan doksisiklin memberikan respon terapi dan luaran klinis yang baik pada P. Simpulan: Kasus PL pascavaksinasi Pfizer® COVID-19, perbaikan klinis dengan terapi kortikosteroid dan doksisiklin, serta pentingnya mengawasi efek samping pascavaksinasi, pemeriksaan klinis dan evaluasi histopatologi penting dalam penegakan diagnosis.
Acrokeratosis Verruciformis of Hopf: Atypical Clinical Presentation Yolanda, Keiko; Rihatmadja, Rahadi; Nadia Yusharyahya, Shannaz
Media Dermato-Venereologica Indonesiana Vol 53 No 1 (2026): Media Dermato Venereologica Indonesiana
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Kulit dan Kelamin Indonesia (PERDOSKI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33820/mdvi.v53i1.539

Abstract

   Pendahuluan: Acrokeratosis verruciformis of Hopf atau acrokeratosis verruciformis (AKV) merupakan kelainan genodermatosis langka yang diturunkan secara autosomal dominan dengan karakteristik klinis berupa papul verukosa sewarna kulit hiperkeratotik multipel, dengan predileksi utama pada punggung tangan, kaki, lutut, siku, dan lengan. Kasus: Seorang pasien laki-laki usia 70 tahun dengan papul hiperkeratotik sewarna kulit multipel pada lengan bawah kanan. Tidak ada keluhan subjektif berupa gatal atau nyeri. Awalnya di diagnosis sebagai liken amiloidosis dengan diagnosis banding liken nitidus. Setelah dilakukan pemeriksaan histopatologis ditemukan gambaran hiperkeratosis masif, akantosis, hiperplasia psoriasiformis, parakeratosis setempat, hipergranulosis, peningkatan melanin, melanosit cukup meningkat, terdapat penonjolan pada epidermis yang menyerupai gambaran “church spire”. Oleh karena itu, diagnosis yang ditegakkan menjadi Acrokeratosis verruciformis of Hopf. Diskusi: Penegakan diagnosis AKV berdasarkan klinis dan histopatologis. Diagnosis banding penyakit Darier juga perlu dipertimbangkan. AKV biasanya terjadi saat masa kanak-kanak namun dapat terjadi pada akhir dekade kelima. Pada pasien geriatri ini didapatkan presentasi klinis tidak khas namun didukung gambaran histopatologi yang patognomonik yaitu “church spire”. Simpulan: Korelasi dari klinikopatologi penting untuk menegakkan diagnosis AKV dengan gejala klinis atipik. Penting untuk mengetahui tanda patognomik yang khas agar diagnosis penyakit langka AKV ini dapat ditegakkan sesegera mungkin.
Co-Authors Agung Muhammad Rheza, Agung Muhammad Aldri Frinaldi Alida Widiawaty Andrea, Valerie Andrianus, Kenny Anggraini, Ika Astriningrum, Rinadewi Aulia, Izzah Aviyanti Djurzan Azizah, Fitri Bianti, Marsha Chairista, Inadia Putri Effendy, Isaak Eliza Miranda Endi Novianto Erna Hutabarat, Erna Fathan, Hafiza Fauziah, Siti Nurani Fitri, Eyleny Meisyah Githa Rahmayunita Halim, Melissa Hanny Nilasari Hilma, Rizka Farah Huda, Fifi Mifta Inadia Putri Chairista Irawan, Yudo Jacoeb, Tjut N.A. Keumala Budianti, Windy Krisanti, Inge Ade Krisanti, Roro Inge Ade Krisnanti, Inge Ade Laurensia, Riani Lili Legiawati Lili Legiawati Lim, Henry W Lim, Henry W. Mahri, Sarah Marina, Arinda Marissa, Melani Martinus, Martinus Meisyah Fitri, Eyleny Melly, Conny Melviana, Gisca Nadia Yusharyahya, Shannaz Nainggolan, Evelyn Nuary, Teffy Nugraha, Heru Nugraheni Pasaribu, Uly Aanda Maria Ohara, Kuniaki Oktarina, Caroline Onmaya, Vini Pandelaki, Paulus Anung Anindita Pranathania, Andravina Prayogo, Rizky Lendl Pusponegoro, Erdina H.D. Rahman, Yusnita Rainamira, Arlene Reshinta, Reisa Riesye Arisanty Rinadewi Astriningrum Rosandi, Ridha Sandra Widaty Santoso, Irene Dorthy Shannaz Nadia Yusharyahya Sirait, Sondang Panjaitan Siti Aisah Boediardja Situmeang, Irhen Sri Adi Sularsito Sri L. Menaldi Sukma, Putu Martha Gerynda Suprapto, Novita Surachmiati Suseno, Lis Surya, Danny Surya, Denny Suseno, Lis Surachmiati Tri Juli E Tarigan, Tri Juli E Triana Agustin Widyasari, Indah Windy Keumala Budianti Wresti Indriatmi B. Makes Yolanda, Keiko