Claim Missing Document
Check
Articles

Pemilihan Bahan Restorasi yang Tepat untuk Mouth-Preparation Pasien Celah Bibir dan Langit-Langit Stephanie Stephanie; Eriska Riyanti
Jurnal Material Kedokteran Gigi Vol 4 No 2 (2015): JMKG Vol 4 No 2 September 2015
Publisher : Ikatan Peminat Ilmu Material dan Alat Kedokteran Gigi (IPAMAGI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (674.227 KB)

Abstract

Children’s dental caries is a dental and oral health problem in Indonesia. Children at school age have high caries risk. Patients with cleft lip and or palate have caries experience similar to normal children. It takes a preventive and curative treatment for patients and their families. The purpose of this case report is to open horizons for the use of restoration in patients with cleft lip and palate, as a form of mouth preparation prior to reconstruction and rhinoplasty surgery. A 10 years- old boy was came with his parents to the Cleft Lip and Palate Foundation, with complaint of his nose form after the cleft lip and palate closure surgery when he was a baby and wanted teeth alignment to be fixed. Clinical examination found dental caries at 55, 54, 53, 63, 64, 74, 84, and 85. Dental treatments proposed included OHI, caries risk assessment, plaque control, dietary analysis, restoration, root canal treatment, and topical fluoride application. Dental care is required in patients who have had cleft lip and palate closure surgery before reconstructive and rhinoplasty surgery. Good oral hygiene will support the success of reconstructive and rhinoplasty surgery.
Efek kliking terhadap performa mastikasi periode gigi campuran usia 6-12 tahun Lusy Damayanti; Jakobus Runkat; Roosje R. Owen; Eriska Riyanti
Makassar Dental Journal Vol. 4 No. 3 (2015): Vol 4 No 3 Juni 2015
Publisher : Makassar Dental Journal PDGI Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (396.67 KB) | DOI: 10.35856/mdj.v4i3.218

Abstract

Kliking merupakan salah satu bentuk gangguan sendi temporomandibular yang dapat terjadi pada semua tingkatan usia termasuk usia sekolah yaitu periode gigi campuran. Kliking belum dianggap suatu gangguan yang permanen pada periode ini tetapi dapat memberi dampak buruk dikemudian hari jika penyebabnya tidak diatasi sehingga dapat memengaruhi fungsi mastikasi yang terlihat pada performa mastikasi. Tujuan penelitian adalah untuk mengetahui efek kliking terhadap performa mastikasi periode gigi campuran usia 6-12 tahun. Metode penelitian menggunakan jenis penelitian cross sectional tipe survei epidemologi. Subyek penelitian adalah anak SD usia 6 -12 tahun di Kota Bandung. Teknik pengambilan sampel penelitian menggunakan multistage random sampling dengan penentuan besarnya ukuran sampel yang memenuhi kriteria penelitian dan diperoleh 25 orang kelompok kliking serta 28 orang sebagai kelompok kontrol. Performa mastikasi dinilai melalui subyek penelitian dalam menghancurk an artificial test food dengan 20x pengunyahan, dan dilakukan pemeriksaan nilai median particle size (MPS) serta nilai distribusi sebaran partikel (b). Penelitian ini menggunakan uji statistik t-test. MPS rata-rata adalah 1,698 mm pada kelompok kliking dengan SD 0,770887 dan 1,651 mm untuk kelompok kontrol dengan SD 0,868319. Nilai rata -rata b adalah 4,17 pada kelompok kontrol dan 4,34 pada kelompok kliking. Hasil uji t-test memperlihatkan t- hitung =0,44 dan nilai p=0,6646 lebih besar dari α=0,01 sehingga tidak terdapat perbedaan signifikan secara statistik yang ditemukan antara kedua kelompok tersebut. Disimpulkan tidak terdapat efek kliking terhadap performa mastikasi periode gigi campuran usia 6-12 tahun dengan mengingat bahwa periode gigi campuran adalah masa gigi dalam posisi oklusi yang belum stabil dan terdapat perbedaan pola pengunyahan yang berbeda dengan gigi permanen.
Tingkat pengetahuan ibu mengenai direct breastfeeding dan tumbuh kembang rahang Description of mother’s knowledge regarding direct breastfeeding and its effect on jaw growth and development Diajeng Julian Casilda; Eriska Riyanti; Naninda Berliana Pratidina
Padjadjaran Journal of Dental Researchers and Students Vol 6, No 3 (2022): Oktober 2022
Publisher : Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/pjdrs.v6i3.35355

Abstract

ABSTRAKPendahuluan: Maloklusi merupakan salah satu kelainan yang dapat terjadi pada proses tumbuh kembang kraniofasial. Prevalensi maloklusi di dunia maupun di Indonesia masih tinggi. Faktor lingkungan seperti praktik breastfeeding merupakan salah satu yang dapat mencegah terjadinya maloklusi. Mekanisme pergerakan lidah dan otot yang terlibat pada direct breastfeeding dapat memberikan pengaruh terhadap pertumbuhan kraniofasial yang lebih baik. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui tingkat pengetahuan ibu mengenai direct breastfeeding dan tumbuh kembang rahang. Metode: Jenis penelitian adalah deskriptif cross-sectional menggunakan survei. Penelitian dilakukan terhadap 33 orang ibu murid PAUD Kecamatan Mampang Prapatan. Penelitian menggunakan instrumen kuesioner dengan 9 butir pertanyaan mengenai ASI eksklusif dan 5 butir pertanyaan mengenai tumbuh kembang rahang di luar data karakteristik responden. Hasil: Sebanyak satu responden termasuk dalam kategori tingkat pengetahuan rendah (3%), tujuh responden pada kategori sedang (21,2%), dan 25 responden dalam kategori tinggi (75,8%) pada pertanyaan mengenai ASI eksklusif. Sebanyak 24 responden termasuk kategori tingkat pengetahuan rendah (72,7%) dan sembilan responden dalam kategori tinggi (27,3%) pada pertanyaan mengenai tumbuh kembang rahang. Simpulan: Tingkat pengetahuan ibu anak usia dini mengenai ASI eksklusif termasuk dalam kategori tinggi, namun tingkat pengetahuan ibu mengenai efek direct breastfeeding dan tumbuh kembang rahang termasuk dalam kategori rendah.Kata kunci: tingkat pengetahuan ibu; direct breastfeeding; maloklusi ABSTRACTIntroduction: Malocclusion is a dental abnormality that might occur during craniofacial growth and development process. The prevalence of malocclusion both worldwide and in Indonesia is still high. Environmental factors could have an impact on malocclusion, one of which is breastfeeding practice. The mechanism of tongue and muscles involved during direct breastfeeding might lead to better craniofacial growth. The aim of this study is to describe mother’s level of knowledge on direct breastfeeding and its effect on jaw development. Methods: This research was a descriptive cross-sectional study, conducted on 33 mothers whose children are students of PAUD in Mampang Prapatan Subdistrict. A questionnaire consisting of 9 questions on exclusive breastfeeding and 5 questions on jaw development excluding respondents’ characteristics was used. Results: On questions regarding exclusive breastfeeding, only 1 respondent was in low knowledge level category (3%), 7 in moderate knowledge level category (21.2%), and 25 in high knowledge level category (75.8%). On questions regarding jaw development, 24 respondents were in low knowledge level category (72,7%) and 9 in high knowledge level category (27,3%). Conclusion: Respondents’ knowledge level on exclusive breastfeeding is high. However, their knowledge level on direct breastfeeding and its effect on jaw development is low.Keywords: mother’s knowledge level; direct breastfeeding; malocclusion
REHABILITASI RONGGA MULUT PADA ANAK DISABILITAS INTELEKTUAL Ulfa Yasmin; Eriska Riyanti
Cakradonya Dental Journal Vol 11, No 1 (2019): Februari 2019
Publisher : FKG Unsyiah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (634.482 KB) | DOI: 10.24815/cdj.v11i1.13627

Abstract

Disabilitas intelektual atau yang sebelumnya disebut dengan retardasi mental merupakan suatugangguan cacat umum adaptif dan fungsi intelektual yang berhubungan dengan onset usiaperkembangan seharusnya. Prevalensi disabilitas intelektual pada anak-anak di bawah umur 18 tahundi negara maju diperkirakan mencapai 0,5-2,5% sedangkan di negara berkembang berkisar 4,6%.Laporan kasus ini memaparkan seorang anak perempuan usia 12 tahun yang menderita disabilitasintelektual dengan keadaan kebersihan mulut yang sangat buruk. Pemeriksaan intra oral menunjukkanbanyaknya gigi persistensi, nekrosis gigi molar pertama permanen kiri rahang bawah disertai kistaradikalis, serta gingivitis marginalis kronis rahang atas dan bawah. Pasien selalu mengeluarkan air liur(drooling) secara berlebihan sehingga selalu membuat baju serta barang disekitarnya menjadi basah.Pasien mendapatkan perawatan dibawah anestesi umum dikarenakan banyaknya tindakan pencabutanyang harus dilakukan dan pasien tidak dapat mengikuti instruksi dokter gigi. Edukasi diberikankepada pasien dan orangtua mengenai cara pemeliharaan rongga mulut dan latihan myofungsionaluntuk mengurangi drooling yang terjadi. Kerjasama dokter gigi, orangtua dan pasien sangat pentingdalam perawatan anak disabilitas intelektual dengan tujuan menjaga kebersihan rongga mulut anak.Kata Kunci : Rehabilitasi, disabilitas intelektual, anastesi umum, drooling.
PERAWATAN GIGI DAN MULUT PADA ANAK DENGAN INTELLECTUAL DISABILITY RINGAN DALAM ANESTESI UMUM (Laporan Kasus) Naninda Berliana Pratidina; Arlette Suzy Puspa Pertiwi; Eriska Riyanti; Willyanti Soewondo
Cakradonya Dental Journal Vol 12, No 1 (2020): Februari 2020
Publisher : FKG Unsyiah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (636.692 KB) | DOI: 10.24815/cdj.v12i1.17075

Abstract

Intellectual disability (ID) mengacu pada sekelompok gangguan pada fungsi adaptif dan intelektual serta terjadi sebelum usia dewasa. ID bukan merupakan satu kesatuan, melainkan gejala umum dari disfungsi sistem saraf. Laporan kasus ini bertujuan untuk memberikan informasi mengenai pentingnya perawatan gigi pada anak ID ringan dengan anestesi umum. Seorang anak laki-laki berusia 9 tahun datang ke Poliklinik Kedokteran Gigi Anak RSGM Universitas Padjadjaran dengan keluhan gigi yang kotor dan berbau tidak sedap yang sudah terjadi sejak kurang lebih 2 tahun yang lalu. Pasien didiagnosis ID ringan sejak usia 3 tahun. Pemeriksaan fisik, ekstra oral, radiografi toraks dan laboratorium menunjukkan tidak ada kelainan signifikan. Pemeriksaan intraoral: pulpitis reversibel pada gigi 55, 53, 63, 65, 75, dan 85, pulpitis ireversibel pada gigi 54, nekrosis pulpa pada gigi 64, 73, 74, 83, dan, 84, serta gingivitis marginalis kronis pada rahang atas dan bawah. Perawatan yang dilakukan adalah skeling dan profilaksis rahang atas dan bawah, aplikasi fluor topikal serta ekstraksi gigi 54, 64, 74, 73, 83 dan 84 dalam anestesi umum. Pasien merespon baik terhadap perawatan yang dilakukan. Perawatan gigi dan mulut dengan anestesi umum untuk penyandang ID dapat dijadikan pilihan pada pasien yang tidak kooperatif. Dokter gigi anak berperan penting dalam peningkatan kesehatan gigi dan rongga mulut pada penyandang ID.
HUBUNGAN POLIMORFISME GEN RESEPTOR ESTROGEN ALFA DENGAN JUMLAH SEL T CD4+ PADA ANAK TERINFEKSI HIV Irna Sufiawati; Risti Saptarini; Eriska Riyanti
Odonto : Dental Journal Vol 4, No 2 (2017): December 2017
Publisher : Faculty of Dentistry, Universitas Islam Sultan Agung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (576.934 KB) | DOI: 10.30659/odj.4.2.94-100

Abstract

Background: Estrogen plays a key role in human physiological processes. Polymorphisms of estrogen receptors have been implicated in the development of numerous diseases. The aim of this study was to evaluate the frequency of ERα gene Pvull and Xbal polymorphisms and assessing their association with CD4+ T-cell counts in HIV-infected children on highly active antiretroviral therapy.Methods: CD4+ T cell counts were determined using the FACS count system. ERα PvuII and XbaI polymorphisms were analyzed by PCR-RFLP.Results: This study enrolled 34 HIV-infected children on HAART. The frequencies of the PvuII and XbaI gene polymorphisms were PP 41,2%, Pp 26,5%, pp 32,4% and XX 35,3%, Xx 17,6%, xx 47,1% respectively. CD4+ T-cell counts were significantly associated with XbaI polymorphisms (p<0.05), but not PvuII polymorphisms (p>0.01).Discussion: Host genetic factor polymorphism is an important determinant of HIV  disease progression and treatment response. The ERα Pvull and Xbal polymorphisms can increase risk for the development of HIV-related complication,including oral diseases.Conclusion: The ERα gene XbaI polymorphism was significantly associated with CD4+ T-cell counts. It may explain the role of estrogen in the regulation of HIV replication. Studying human genetic variation in HIV-infected individuals is important to guide a new therapeutic approach.
UJI AKTIVITAS ANTIOKSIDAN EKSTRAK BAWANG PUTIH (Allium sativum) Djuned Prasonto; Eriska Riyanti; Meirina Gartika
Odonto : Dental Journal Vol 4, No 2 (2017): December 2017
Publisher : Faculty of Dentistry, Universitas Islam Sultan Agung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (577.822 KB) | DOI: 10.30659/odj.4.2.122-128

Abstract

Background: Organosulfur compound, allicin and phenolic are the main compound in garlic responsible for antioxidant activity. Correlation between free radicals and some dental diseases, such as free radicals and Reactive Oxygen Species (ROS) responsible for periodontal inflammation, caries, lesions and oral cancers. The research objective is to get scientifc data about the antioxidant activity from garlic extract (Allium sativum).Method: The research was conducted using three different varieties of garlic:local garlic varieties Ciwidey, single local garlic’s clove, and import garlic which is found at the market in Bandung. Garlic extract is made by maceration using ethanol 96% and antioxidant activity test using DPPH method (1,1-diphenyl-2- picrylhydrazyl). Statistical analysis using One Way ANOVA followed by post hoc analysisResult: three varieties of garlic have a strong antioxidant activity. Value of IC50 = 13.61 mg / ml for local garlic varieties Ciwidey, IC50 = 10.61 mg/ml for single local garlic’s clove and IC50 = 11.32 mg/ml for imports garlic.Conclusion: Three varieties of garlic have different antioxidant strength and the best antioxidant strength is single local garlic’s clove.
The effect of acidulated phosphate fluoride (APF) gel against erosion on enamel microstructure of primary teeth which soaked with Citrus aurantifolia Lai Yi, Flora Ng; Riyanti, Eriska; Gartika, Meirina
Padjadjaran Journal of Dentistry Vol 34, No 3 (2022): November 2022
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/pjd.vol34no3.39293

Abstract

ABSTRACTIntroduction: Erosion is a common dental problem that is especially prevalent in children due to the increasing consumption of acidic food and beverages. APF gel is believed to be effective in reducing the demineralization effect of the teeth as well as escalating the remineralization process. This research aims to determine and evaluate the effectiveness of 1.23% APF gel as a preventive agent for the erosion of tooth enamel, specifically in deciduous teeth. Methods: This type of research is true experimental research. The population of this research would be primary teeth extracted from children, using a purposive sampling technique with inclusive and exclusive criteria. A total amount of 5 maxillary primary central incisors were extracted and cleaned. APF gel was applied repetitively on the left side of the teeth for 4 minutes every hour, whereas the right side was left as it is. Samples were then analyzed using a scanning electron microscope (SEM). A qualitative and subjective analysis regarding the micromorphological features of the erosion can be done. Result: The side of teeth without APF gel application has a greater erosion rate compared with teeth with APF gel application. The tooth which is demineralized shows a honeycomb structure of the interprismatic enamel. As for the dentinal tubules, teeth without APF gel application have a bigger opening of dentinal tubules, going up to 7.868 micrometers in size compared to teeth with APF gel application (1-2 micrometers). Conclusion: The application of professional acidulated phosphate fluoride (APF) gel on deciduous teeth even when soaked in Citrus aurantifolia, is proven to be effective in preventing dental erosion.Keywords: acidulated phosphate fluoride (APF) gel; citrus aurantifolia; dental erosion; primary tooth  
PERAWATAN GIGI DAN MULUT PADA ANAK DENGAN INTELLECTUAL DISABILITY RINGAN DALAM ANESTESI UMUM (Laporan Kasus) Naninda Berliana Pratidina; Arlette Suzy Puspa Pertiwi; Eriska Riyanti; Willyanti Soewondo
Cakradonya Dental Journal Vol 12, No 1 (2020): Februari 2020
Publisher : FKG Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24815/cdj.v12i1.17075

Abstract

Intellectual disability (ID) mengacu pada sekelompok gangguan pada fungsi adaptif dan intelektual serta terjadi sebelum usia dewasa. ID bukan merupakan satu kesatuan, melainkan gejala umum dari disfungsi sistem saraf. Laporan kasus ini bertujuan untuk memberikan informasi mengenai pentingnya perawatan gigi pada anak ID ringan dengan anestesi umum. Seorang anak laki-laki berusia 9 tahun datang ke Poliklinik Kedokteran Gigi Anak RSGM Universitas Padjadjaran dengan keluhan gigi yang kotor dan berbau tidak sedap yang sudah terjadi sejak kurang lebih 2 tahun yang lalu. Pasien didiagnosis ID ringan sejak usia 3 tahun. Pemeriksaan fisik, ekstra oral, radiografi toraks dan laboratorium menunjukkan tidak ada kelainan signifikan. Pemeriksaan intraoral: pulpitis reversibel pada gigi 55, 53, 63, 65, 75, dan 85, pulpitis ireversibel pada gigi 54, nekrosis pulpa pada gigi 64, 73, 74, 83, dan, 84, serta gingivitis marginalis kronis pada rahang atas dan bawah. Perawatan yang dilakukan adalah skeling dan profilaksis rahang atas dan bawah, aplikasi fluor topikal serta ekstraksi gigi 54, 64, 74, 73, 83 dan 84 dalam anestesi umum. Pasien merespon baik terhadap perawatan yang dilakukan. Perawatan gigi dan mulut dengan anestesi umum untuk penyandang ID dapat dijadikan pilihan pada pasien yang tidak kooperatif. Dokter gigi anak berperan penting dalam peningkatan kesehatan gigi dan rongga mulut pada penyandang ID.
REHABILITASI RONGGA MULUT PADA ANAK DISABILITAS INTELEKTUAL Ulfa Yasmin; Eriska Riyanti
Cakradonya Dental Journal Vol 11, No 1 (2019): Februari 2019
Publisher : FKG Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24815/cdj.v11i1.13627

Abstract

Disabilitas intelektual atau yang sebelumnya disebut dengan retardasi mental merupakan suatugangguan cacat umum adaptif dan fungsi intelektual yang berhubungan dengan onset usiaperkembangan seharusnya. Prevalensi disabilitas intelektual pada anak-anak di bawah umur 18 tahundi negara maju diperkirakan mencapai 0,5-2,5% sedangkan di negara berkembang berkisar 4,6%.Laporan kasus ini memaparkan seorang anak perempuan usia 12 tahun yang menderita disabilitasintelektual dengan keadaan kebersihan mulut yang sangat buruk. Pemeriksaan intra oral menunjukkanbanyaknya gigi persistensi, nekrosis gigi molar pertama permanen kiri rahang bawah disertai kistaradikalis, serta gingivitis marginalis kronis rahang atas dan bawah. Pasien selalu mengeluarkan air liur(drooling) secara berlebihan sehingga selalu membuat baju serta barang disekitarnya menjadi basah.Pasien mendapatkan perawatan dibawah anestesi umum dikarenakan banyaknya tindakan pencabutanyang harus dilakukan dan pasien tidak dapat mengikuti instruksi dokter gigi. Edukasi diberikankepada pasien dan orangtua mengenai cara pemeliharaan rongga mulut dan latihan myofungsionaluntuk mengurangi drooling yang terjadi. Kerjasama dokter gigi, orangtua dan pasien sangat pentingdalam perawatan anak disabilitas intelektual dengan tujuan menjaga kebersihan rongga mulut anak.Kata Kunci : Rehabilitasi, disabilitas intelektual, anastesi umum, drooling.