Claim Missing Document
Check
Articles

Found 34 Documents
Search

Identifikasi Lapisan Bawah Permukaan Untuk Analisis Potensi Longsor Di Daerah Cikidang, Kabupaten Majalengka Silmi Afina Aliyan; Totok Doyo Pamungkas; Nanin Trianawati Sugito; Dede Rohmat; Haikal Muhammad Ihsan; Vasha Namira Adzanah; Zaenal Mahfud; Sekar Ayu Pertiwi; Raffi Razan Fulvian; Aditya Surya Erlangga
BULLET : Jurnal Multidisiplin Ilmu Vol. 4 No. 2 (2025): BULLET : Jurnal Multidisiplin Ilmu
Publisher : CV. Multi Kreasi Media

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

The geological conditions around Bantarujeg District exhibit diverse and intriguing features, especially in the area north to northwest of Cikidang village, characterized by elongated hills and steep slopes bordering the Ciwaru River to the east. Landslide potential in this region is influenced by various factors such as soil types, rock formations, subsurface materials, water saturation, slip planes, and gravity. This research aimed to mitigate landslide risks by analyzing subsurface geological conditions and structures to identify slope slip areas and predict the depth and type of layers beneath the northwest slope of Cikidang village using the Wenner-Schlumberger 2D geoelectric method. Measurements were taken along two lines: the mainline trending NW-SE and the crossline trending NE-SW. On the mainline, the topsoil layer (5.54 - 237 Ωm) is predicted to be less than 7 meters deep, with volcanic fragments (237 - 2,893 Ωm) at depths of 7 – 9.5 meters. Layers deeper than 9.5 meters exhibit resistivity values exceeding 2,893 Ωm. On the crossline, the topsoil layer (6.40 - 261 Ωm) is also less than 7 meters deep, with volcanic breccia (261 - 1,152 Ωm) at depths of 7 – 9.5 meters. Layers deeper than 9.5 meters have resistivity values exceeding 1,152 Ωm, indicating the presence of basaltic breccia in the lower layers.
Pemanfaatan zeolit untuk pengelolaan limbah peternakan sapi perah milik rakyat di Kecamatan Lembang Kabupaten Bandung (kaji tindak di Desa Cibodas dan Desa Sukajaya) Dede Rohmat
Jurnal Abmas Vol. 1 No. 1 (2001): Jurnal Abmas
Publisher : Universitas Pendidikan Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/abmas.v1i1.47

Abstract

Berangkat dari kurang teperhatikannya penanganan limbah ternak sapi di masyarakat, kegiatan ini dilakukan dengan tujuan untuk membantu masyarakat dalam menangani pencemaran lingkungan sekitar akibat limbah ternak melalui pemanfaatan Zeolit; dan mengembangkan metode pengelolaan limbah agar lebih efektif dimanfaatkan untuk bidang pertanian. Kegiatan dilakukan di Desa Cibodas Kecamatan Lembang dan Desa Cihideung Kecamatan Parongpong Kabupaten Bandung, dengan sasaran para peternak sapi perah dan para keluarga yang berada di sekitar desa tersebut. Aplikasi Zeolit ini dilakukan dengan cara memodifikasi penanganan limbah yang dilakukan oleh peternak. Hasil perlakuan secara fisik menunjukkan penampakan yang lebih baik dibandingkan dengan limbah tanpa perlakuan pada periode pemupukan yang sama, tidak berbau dan cukup matang untuk diaplikasikan pada lahan pertanian. Dengan kondisi demikian, maka pencemaran lingkungan akibat limbah ternak sapi dapat ditangani. Respon peternak sangat baik dan mereka dapat mentransfer ilmunya pada peternak lainnya. Terbentuknya kesadaran mengenai pentingnya penanganan limbah secara baik untuk menciptakan lingkungan yang bersih dan aman. Dari hal tersebut sangat diharapkan perlu dilakukannya bentuk kaji tindak aplikasi kotoran sapi hasil perlakuan untuk beberapa jenis tanaman; yang hasil kegiatannya disebarluaskan kepada peternak-peternak lain. Oleh karena itu diperlukan kerja sama yang baik dengan para penyuluh peternakan di tingkat dinas, kecamatan dan desa.
Start-Up Phase Performance of a Basic Water Purification System for Urban Surface Water Treatment Endah Lestari; Dede Rohmat; Wati Asriningsih Pranoto; Muhammad Sofyan; Arief Suardi Nur Chairat
Equivalent: Jurnal Ilmiah Sosial Teknik Vol. 8 No. 3 (2026): Equivalent: Jurnal Ilmiah Sosial Teknik
Publisher : Politeknik Siber Cerdika Internasional

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59261/jequi.v8i3.370

Abstract

Background: The increasing degradation of urban surface water quality due to suspended solids, dissolved metals, and anthropogenic activities has driven the demand for simple, cost-effective, and sustainable water treatment technologies. Methods: This study evaluated a Basic Water Purification System (BWPS) during its start-up phase, examining water quality changes associated with the stabilization of newly installed filtration media. Surface water from a retention pond was treated using a multi-media filtration system consisting of zeolite, silica sand, activated carbon, anthracite, manganese sand, and ion exchange resin across three configurations. Temperature, total dissolved solids (TDS), turbidity, color, pH, nitrate, nitrite, Fe, and Mn concentrations were assessed at three sampling points. Results: TDS, turbidity, color, Fe, and Mn concentrations increased after filtration, resulting in negative removal efficiencies attributable to initial leaching from the newly installed media. However, TDS, Fe, and Mn concentrations consistently declined from the first to the third sampling point, indicating progressive media stabilization. Media 2 demonstrated the most consistent performance, maintaining a near-neutral pH range (6.3–7.2) and the lowest TDS levels, while Media 3 achieved the highest Fe removal efficiency (13.53%). Correlation analysis revealed strong positive relationships between TDS and dissolved metal concentrations, as well as between turbidity and color, confirming that these fluctuations were associated with media conditioning rather than inadequate treatment performance. Conclusion: These findings confirm that the Basic Water Purification System (BWPS) is a promising low-cost, decentralized option for urban surface water treatment, provided that an adequate media conditioning period is implemented before full-scale operation.
PENGARUH PENGUASAAN SPATIAL THINKING TERHADAP SPATIAL CITIZENSHIP MAHASISWA PASCASARJANA PENDIDIKAN GEOGRAFI DI KOTA BANDUNG Eka Wulan Safriani; Dede Rohmat; Iwan Setiawan; Budi Rahmah Panjaitan
GEOGRAPHY : Jurnal Kajian, Penelitian dan Pengembangan Pendidikan Vol 12, No 1 (2024): APRIL
Publisher : Universitas Muhammadiyah Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31764/geography.v12i1.20918

Abstract

Abstrak: Penelitian di Indonesia yang berkaitan dengan pandangan mengenai keruangan masih terbatas pada spatial thinking, spatial ability, dan thinking geographically. Terdapat pengembangan lebih lanjut terkait pandangan seputar keruangan yang sudah diteliti di luar Indonesia, yaitu spatial citizenship. Spatial citizenship dapat ditemukan di lingkungan perguruan tinggi pada bidang studi  Geografi. Kemampuan dasar yang harus dimiliki dalam pembelajaran Geografi ialah spatial thinking ability. Kemampuan berpikir spasial mahasiswa dalam menggambarkan ruang abstrak tergolong masih rendah dikarenakan kurangnya pembiasaan terhadap pengerjaan soal-soal yang mengasah kemampuan spasial. Tujuan penelitian berfokus pada 1) menganalisis tingkat penguasaan spatial thinking ability dan spatial citizenship pada mahasiswa, 2) menganalisis pengaruh spatial thinking terhadap kompetensi spatial citizenship mahasiswa pendidikan Geografi. Desain penelitian yang digunakan berupa metode survey dengan pendekatan kuantitatif. Populasi penelitian ini adalah seluruh mahasiswa pendidikan Geografi yang berjumlah 15 mahasiswa. Teknik sampling yang digunakan dalam penelitian ini adalah purposive sampling. Teknik analisis data pada penelitian ini adalah statistik deskriptif dan statistik inferensial. Hasil analisis data menunjukan 1) mahasiswa memiliki perbedaan penguasaan spatial thinking yakni dengan tingkat penguasaan spatial thinking rata-rata sebesar 42 %, 2) penguasaan kemampuan spatial citizenship secara keseluruhan dengan rata-rata 19,8 %. 2) Spatial thinking memiliki pengaruh yang signifikan terhadap spatial citizenship dengan persentase 45%. Kajian mengenai spatial thinking dan spatial citizenship pada mahasiswa pendiidkan geografi belum optimal sehingga perlu dikaji lebih terperinci dan lebih luas bahkan terkait dengan literasinya. Hal ini dapat dijadikan sebagai dasar dalam penyusunan bahan ajar, evaluasi pembelajaran dalam meningkatkan kemampuan berpikir spasial.Abstract:  Research in Indonesia related to spatial views is still limited to spatial thinking, spatial abilities, and thinking geographically. There is further development related to spatial citizenship that has been researched outside Indonesia, namely spatial citizenship. Spatial citizenship can be found in a university environment in the field of geography studies. The basic ability that must be possessed in learning Geography is spatial thinking ability. Students' spatial thinking ability in describing abstract space is still relatively low due to a lack of familiarity with working on questions that hone spatial abilities. The research objectives focus on 1) analyzing the level of mastery of spatial thinking ability and spatial citizenship among students, 2) analyzing the influence of spatial thinking on the spatial citizenship competence of Geography education students. The research design used is a survey method with a quantitative approach. The population of this research was all Geography education students, totaling 15 students. The sampling technique used in this research was purposive sampling. The data analysis techniques in this research are descriptive statistics and inferential statistics. The results of data analysis show 1) students have differences in mastery of spatial thinking, namely with an average level of mastery of spatial thinking of 42%, 2) overall mastery of spatial citizenship skills with an average of 19.8%. 2) Spatial thinking has a significant influence on spatial citizenship with a percentage of 45%. The study of spatial thinking and spatial citizenship among geography education students is not yet optimal so it needs to be studied in more detail and more broadly, even in relation to literacy. This can be used as a basis for preparing teaching materials, evaluating learning in improving spatial thinking skills..