Claim Missing Document
Check
Articles

Found 37 Documents
Search

ANALISIS BIAYA PENGGUNAAN ANTIBIOTIKA PADA BEDAH CESAR DI RUMAH SAKIT PKU MUHAMMADIYAH BANTUL YOGYAKARTA Faridah Baroroh; Haafizah Dania; Moch. Saiful Bachri
Jurnal Ilmiah Ibnu Sina (JIIS): Ilmu Farmasi dan Kesehatan Vol 1 No 2 (2016): JIIS
Publisher : Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan ISFI Banjarmasin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (273.96 KB) | DOI: 10.36387/jiis.v1i2.42

Abstract

Penggunaan antibiotika pada bedah cesar di rumah sakit yang bervariasi, mengakibatkan besarnya biaya obat yang bervariasi juga. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui komponen biaya medik langsung dan biaya antibiotika pada bedah cesar di Rumah Sakit PKU Muhammadiyah Bantul Yogyakarta. Metode penelitian yang dilakukan adalah penelitian deskriptif dengan data retrospektif. Subyek penelitian adalah semua pasien bedah sesar pada periode 1 Januari – 31 Maret 2014 yang memenuhi kriteria inklusi. Analisa biaya dilakukan melalui payers perspective yang difokuskan pada biaya medik langsung (direct medical cost). Hasil penelitian menunjukkan bahwa rata-rata total biaya bedah cesar tiap pasien di rumah sakit PKU Muhammadiyah Bantul Yogyakarta antara Rp.7.302.127 sampai Rp.11.057.450. Komponen biaya terbesar adalah biaya tidakan bedah sebesar 56,31% - 59,35%, biaya perbekalan farmasi sebesar 13,93% - 17,78%, dan biaya rawat inap sebesar 10,35% - 13,27,35%.  Jenis antibiotika yang banyak digunakan pada pasien adalah ceftriaxon – amoxicilin sebesar 63,79%, dengan biaya antibiotika sebesar 0,26% - 11,77% dari biaya perbekalan farmasi. Lama hari rawat inap tidak berpengaruh terhadap besarnya biaya antibiotik yang digunakan pada pasien bedah cesar (p > 0.05). Komponen biaya terbesar pada tindakan bedah cesar adalah biaya tidakan bedah sebesar 56,31% - 59,35%, dan biaya perbekalan farmasi sebesar 13,93% - 17,78%. Biaya antibiotika sebesar 0,36% - 11,77% dari biaya perbekalan farmasi.
EFEKTIVITAS EKSTRAK PEGAGAN (Centella asiatica) DALAM PENCEGAHAN EKSPRESI GEN CASPASE 8 PADA SEL PYRAMIDAL TIKUS MODEL DEMENSIA Sapto Yuliani; Suci Kurniati; Desi Iswahyuni; Vivi Sofia; Wahyu Widyaningsih; Moch. Saiful Bachri
FITOFARMAKA: Jurnal Ilmiah Farmasi Vol 11, No 2 (2021): FITOFARMAKA | Jurnal Ilmiah Farmasi
Publisher : Universitas Pakuan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33751/jf.v11i2.3193

Abstract

Penelitian sebelumnya membuktikan bahwa pemberian ekstrak pegagan (Centela asiatica) dapat mencegah peningkatan ekspresi protein caspase 3 dan menurunkan ekspresi Bcl-2 yang berkaitan dengan apoptosis di daerah CA1 dan CA2-CA3 sel pyramidal hippocampus  pada tikus model demensia.  Selain ekspresi protein tersebut, mekanisme apoptosis juga melibatkan protein lain yaitu caspase 8, yaitu protease sistein yang berperan sebagai inisiator apoptosis di jalur ekstrinsik. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui efek ekstrak pegagan dalam mencegah ekspresi gen caspase 8 di sel pyramidal hippocampus pada tikus model demensia yang diinduksi dengan trimetiltin (TMT). Sebanyak 30 ekor tikus Sprague Dawley, 3 bulan, jantan, berat 200-300 g dibagi menjadi 6 kelompok.  sebagai berikut: Kelompok Normal dan TMT diberi CMC-Na,  kelompok ekstrak diberi ekstrak dosis 100 (EP-100), 200 (EP-200)  dan 400 mg/kg BB (EP-400), sedangkan kelompok Sitikolin diberi sitikolin dosis 200 mg/kg B. Pemberian perlakuan selama 35 hari.  Injeksi TMT dilakukan pada hari ke-8 perlakuan dengan dosis 8 mg/kg BB secara intraperitoneal, kecuali pada kelompok normal. Pada hari ke 36 tikus dikorbankan, otak diambil, kemudian bagian hippocampus dipisahkan untuk pembuatan preparat imunohistokimia untuk pengamatan ekspresi gen caspase 8 di sel pyramidal daerah CA1 dan CA2CA3. Jumlah sel yang mengekspresikan gen caspase 8 pada sel pyramidal di daerah CA1 dan CA2CA3 dianalisis dengan uji anava satu jalur dilanjutkan dengan uji LSD dengan tingkat signikansi 0.05. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian TMT meningkatkan secara signifikan jumlah sel yang mengekspresikan caspase 8 di daerah CA1 namun tidak pada daerah CA2CA3. Pemberian ekstrak pegagan dosis 400 mg/kg BB menurunkan secara signifikan ekspresi caspase 8 namun tidak terjadi pada dosis 100 dan 200 mg/kg BB. Dengan demikian ekstrak pegagan berpotensi dikembangkan untuk  mencegah demensia.
EVALUASI PENGGUNAAN ANTIBIOTIK PADA PASIEN BEDAH SESAR DI RUMAH SAKIT PKU MUHAMMADIYAH BANTUL YOGYAKARTA Haafizah Dania; Faridah Baroroh; Moch Saiful Bachri
PHARMACY: Jurnal Farmasi Indonesia (Pharmaceutical Journal of Indonesia) Jurnal Pharmacy, Vol. 13 No. 02 Desember 2016
Publisher : Pharmacy Faculty, Universitas Muhammadiyah Purwokerto

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penggunaan antibiotika pada pasien bedah sesar perlu dicermati untuk memperkecil adanya resiko infeksi luka operasi. Antibiotika yang diresepkan seharusnya dipilih secara bijaksana, dengan tepat dosis, cara pemberian dan lama pemberian yang sesuai dengan kebutuhan pasien, dan efek samping yang minimal. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui gambaran penggunaan antibiotika dan mengevaluasi penggunaan antibiotik pasien bedah sesar di Rumah Sakit PKU Muhammadiyah Bantul Yogyakarta. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif dengan data retrospektif. Subyek penelitian adalah semua pasien bedah sesar pada periode 1 Januari–31 Maret 2014. Data diperoleh dari rekam medik dan catatan medik lain secara restrospektif di RS PKU Muhammadiyah Bantul Yogyakarta. Data pasien yang dianalisis meliputi ketepatan pemilihan antibiotik, dosis, dan lama pemberian. Analisis ketepatan pemilihan antibiotik dengan perhitungan persentase berdasarkan pada guideline dan pedoman terapi di rumah sakit sedangkan analisis dosis, frekuensi, dan lama pemberian berdasarkan pada Drug Information Handbook edisi 19 tahun 2010-2011. Total pasien yang masuk dalam kriteria inklusi adalah sejumlah 59 orang. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penggunaan antibiotik profilaksis sejumlah 3 pasien (5,08%), antibiotik terapi pascabedah sesar sejumlah 10 pasien (16,95%), dan antibiotik kombinasi profilaksis dan terapi sejumlah 46 pasien (77,97%). Antibiotik profilaksis yang digunakan adalah ceftriaxone sejumlah 48 pasien dan ferotam (sulbactam Na 500 mg, cefoperazone Na 500 mg) sejumlah 1 pasien. Jenis antibiotik terapi pascabedah yang paling banyak digunakan adalah amoxicillin sejumlah 25 pasien (44,64%) kemudian diikuti dengan kombinasi ceftriaxone dan amoxicillin sejumlah 20 pasien (35,71%). Kesesuaian jenis antibiotik yang digunakan berdasarkan pada pedoman terapi di rumah sakit adalah 100%, sedangkan kesesuaian jenis antibiotik berdasarkan pada Guideline Antibiotic Prophylaxis in Obstetric Procedures tahun 2010 adalah 0%. Kesesuaian dosis dan frekuensi antibiotik berdasarkan Drug Information Handbook edisi 19 tahun 2010-2011 adalah 100%. Antibiotic usage for cesarean section have to be observed to minimize the risk of wound infections. The prescribed antibiotics should be selected correctly, with exact doses, appropriate method and term of administration regarding patient needs, and with minimum side effect. This research was intended to find a description of antibiotic usage and evaluate the use of antibiotics for caesarean patients at PKU Muhammadiyah hospital in Bantul Yogyakarta. The type of this research was a descriptive research using retrospective data. The subject of this research were all caesarean patients within the period of 1 January-31 March 2014. The data were collected from medical records and other medical history retrospectively at PKU Muhammadiyah hospital, Bantul Yogyakarta. Patients data were analyzed including appropriate antibiotics choice, doses, and term of administration. Analysis on correct antibiotics choice was based on guidelines and therapy handbook at the hospital, while the analysis on doses, frequency dan term of administration was based on Drug Information Handbook edition 19th. The amount of patient included in inclusion criteria is 59 patients. The results of the research showed that the use of antibiotic prophylaxis involved 3 patients (5.08%), post-caesarean therapy antibiotics involved 10 patients (16.95%), and combined prophylaxis and therapy antibiotics involved 46 patients (77.97%). Prophylaxis antibiotics used were ceftriaxone for 48 patients and ferotam (sulbactam Na 500 mg, cefoperazone Na 500 mg) for 1 patient. The most used antibiotic for therapy was amoxycillin for 25 patient (44.64%) and then combination of ceftriaxone+amoxicillin for 20 patients (35.71%). The appropriateness of antibiotics usage based on hospital therapy handbook was 100%, while the correctness of antibiotics type based on Guideline Antibiotic Prophylaxis in Obstetric Procedures was 0%. The appropriateness of antibiotic doses and frequency based on Drug Information Handbook edition 19th was 100%.
PENGARUH GASTROPROTEKTOR KOMBINASI TEPUNG GARUT (Marantha arundinaceae) DAN KUNYIT (Curcuma domestica Val.) PADA TIKUS MODEL TUKAK LAMBUNG Moch. Saiful Bachri; Vivi Sofia; Cipta Khairunnisa
FITOFARMAKA: Jurnal Ilmiah Farmasi Vol 12, No 1 (2022): FITOFARMAKA: Jurnal Ilmiah Farmasi
Publisher : Universitas Pakuan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33751/jf.v12i1.3194

Abstract

Tukak lambung atau lebih populer dengan penyakit maag, banyak terdapat pada masyarakat baik di Indonesia maupun di dunia. Kecenderungan masyarakat Indonesia memilih pengobatan tradisional (jamu) sejak dahulu untuk swamedikasi karena biayanya terjangkau dan efektif. Salah satunya untuk mengobati tukak lambung dinilai lebih aman dibanding dengan obat sintesis. Tukak lambung terjadi karena adanya kelebihan asam dan pepsin yang dapat disebabkan oleh stress-related mucosal damage. Tepung garut dan kunyit baik secara empiris dan ilmiah masing-masing dikatakan mampu mengurangi tukak lambung. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi pengaruh gastroprotektor kombinasi tepung garut dan kunyit terhadap nilai indeks tukak lambung dan gambaran histopatologinya pada tikus putih galur Wistar model tukak lambung. Tikus dibagi ke dalam kelompok normal, kontrol tukak diberi etanol 96% dosis 1 ml/ 200 g/BB,kontrol positif sukralfat dosis 200 mg/kgBB, perlakuan I; II; III diberi tepung garut 200 mg/kgBB, kunyit 250 mg/kgBB,kombinasi tepung garut dan kunyit 200 mg/kgBB. Perlakuan diberikan secara oral. Pengamatan dilakukan selama tujuh hari dan diikuti dengan puasa selama 24 jam pada hari ke delapan selain kelompok normal, semua kelompok diinduksi etanol 96% dengan dosis 1 ml/200gBB. Setelah satu jam, tikus dikorbankan dan lambungnya diambil. Pengujian antiulcer dihitung dengan indeks tukak lambung dan secara deskriptif dianalisis histopatologinya. Hasil penelitian menunjukkanbahwa pemberian dosis tunggal dan kombinasi menghasilkan indeks tukak berturut-turut 1,80; 1,47; 1,33 secara nyata lebih rendah dibandingkan kontrol negatif (4,42) dan rasio proteksi (%) pemberian kombinasi tepung garut dan kunyit 200 mg/kgBB lebih tinggi dibandingkan kontrol positif. Gambaran histopatologi menunjukkan adanya perbaikan jaringan pada pemberian kunyit 250 mg/kgBB dan kombinasi tepung garut dan kunyit 200 mg/kgBB.
Effects of ethanolic extract of arrowroot tubers (maranta arundinacea l.) on the level of MDA, SGPT and SGOT in ethanol induced rats Muhammad Reza Ramadhani; Mochammad Saiful Bachri; Wahyu Widyaningsih
JKKI : Jurnal Kedokteran dan Kesehatan Indonesia JKKI, Vol 8, No 1, (2017)
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Islam Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20885/JKKI.Vol8.Iss1.art3

Abstract

Background : The exposure of free radicals can induce oxidative stress. In the liver, this process will cause impaired liver function. Oxidative stress can be inhibited by antioxidants. Arrowroot tubers (Maranta arundinacea) contains phenolic, flavonoid, alkaloids and saponin compound that are potential as antioxidants. Objective : Determine the effect of ethanolic extract of arrowroot tubers (Maranta arundinacea) against oxidative stress using the parameter of MDA, SGPT and SGOT level in ethanol-induced rats. Methods : Animal models were divided into 5 groups, in which each group contained 6 rats. Group I (normal) and group II (control) was induced with CMC Na 0,5%. Group III, IV and V were given ethanolic extract of arrowroot tubers in the dosage of 125, 250 and 500 mg/Kg/day respectively. The extract was administered orally for 14 days. Induction of ethanol 5 gram/ KgBW was administered orally 1 hour after the last administration on day 14th except for group I. On day 15th, the animal blood was drawn to measure the levels of SGPT and SGOT, then the animals were sacrificed and their organs were analyzed to measure the levels of MDA in the liver. Data obtained in the form of MDA, SGPT and SGOT levels were statistically analyzed using ANOVA. Results : There is statistically significant difference between the utilization of ethanolic extract of arrowroot tubers (Maranta arundinacea) group with the control group in reducing the concentration of MDA (p<0,05), SGPT, and SGOT (p<0,05). Conclusions : The ethanolic extract of arrowroot tubers (Maranta arundinacea) is able to reduce the concentration of MDA, SGPT and SGOT in ethanol-induced rats.
Aktivitas Ekstrak Rimpang Kunyit (Curcuma longa L) pada Mencit Parkinson yang Diinduksi Haloperidol Sapto Yuliani; Mochammad Saiful Bachri; Vivi Sofia; Wahyu Widyaningsih; Dandy Annas Muttaqien; Galuh Rista Putri; Nadia Selvia; Sofina Rahmadita; Intan Dwi Rahmita
Jurnal Sain Veteriner Vol 40, No 3 (2022): Desember
Publisher : Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Gadjah Mada bekerjasama dengan PB PDHI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jsv.71871

Abstract

Penyakit Parkinson merupakan penyakit neurodegeneratif dengan gangguan motorik seperti bradikinesia, rigiditas, dan tremor yang dapat mempengaruhi keseimbangan tubuh.  Hal ini terjadi karena penurunan kadar dopamin yang dapat dipicu oleh adanya stres oksidatif. Kunyit (Curcuma longa) mengandung kurkumin yang mempunyai aktivitas antioksidatif dan neuroprotektif yang potensial sehingga dapat mencegah gangguan neurodegeneratif karena stres oksidatif. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui aktivitas ekstrak rimpang kunyit pada mencit model Parkinson yang diinduksi haloperidol. Ekstraksi rimpang kunyit dilakukan secara maserasi dengan pelarut etanol 96%. Sebanyak 60 ekor mencit dibagi menjadi 6 kelompok, masing-masing mendapat perlakukan sebagai berikut : Kelompok normal diberi CMC-Na per oral (p.o) dan NaCl fisiologis intraperitoneal (i.p), kelompok haloperidol diberi CMC -Na (p.o) dan larutan haloperidol i.p (1 mg/kg BB), kelompok levodopa diberi levodopa (p.o) dan larutan haloperidol i.p, Kelompok ekstrak 100 diberi ekstrak kunyit dosis 100 mg/kg BB dan larutan haloperidol i.p , Kelompok ekstrak 200 diberi ekstrak kunyit dosis 200 mg/kg BB dan larutan haloperidol i.p, Kelompok ekstrak 400 diberi ekstrak kunyit dosis 400 mg/kg BB dan larutan haloperidol i.p. Pemberian CMC-Na, levodopa dan ekstrak kunyit diberikan selama 21 hari. Lima belas menit setelah pemberian perlakuan hari terakhir, semua hewan uji kecuali kelompok 1 diinjeksi haloperidol dosis 1 mg/kg BB secara i.p. Kemudian dilakukan uji batang, uji roda berputar, uji refleks geotaksis, uji refleks menghindari jurang dan uji kemampuan penciuman pada menit ke 5, 60, 120 dan 180. Data yang diperoleh dianalisis menggunakan uji anova satu jalur dilanjutkan dengan uji post hoc LSD. Hasil analisis data menunjukkan bahwa pemberian haloperidol dapat meningkatkan waktu katalepsi, meningkatkan jumlah jatuh dan mempercepat waktu jatuh pertama kali, menurunkan refleks geotaksis, meningkatkan waktu refleks menghindari jurang serta menurunkan kemampuan indera penciuman. Sedangkan pemberian ekstrak kunyit dosis 200 dan 400 mg/kgBB dapat menurunkan waktu katalepsi, menurunkan jumlah jatuh dan memperlama waktu jatuh pertama kali, menurunkan refleks geotaksis, menurunkan lama waktu pada uji refleks menghindari jurang serta meningkatkan kemampuan indera penciuman jika dibandingkan dengan Haloperidol (P<0.05). Pemberian ekstrak 200 dan 400 mg/kg tidak berbeda bermakna (P>0,05) dengan pemberian levodopa. Berdasarkan hasil dapat disimpulkan bahwa ekstrak rimpang kunyit dosis 200 dan 400 mg/kgBB memiliki aktivitas untuk mencegah terjadinya Parkinson pada mencit yang diberi haloperidol.
EFEK EKSTRAK ETANOL DAUN JARAK PAGAR (Jatropha curcas L.) TERHADAP KADAR TRIGLISERIDA PADA TIKUS HIPERTENSI YANG DIBERI PAKAN LEMAK TINGGI Moch. Saiful Bachri; Wiki Yuli Anita; Sapto Yuliani; Wahyu Widyaningsih; Vivi Sofia; Daru Estiningsih
Farmasains : Jurnal Ilmiah Ilmu Kefarmasian Vol. 10 No. 1 (2023)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Prof. DR. HAMKA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22236/farmasains.v10i1.10407

Abstract

Daun jarak pagar (Jatropha curcas L.) mengandung beberapa senyawa aktif, seperti alkaloid, saponin, tannin, terpenoid, steroid, glikosida, senyawa fenol, dan flavonoid yang diduga dapat menurunkan kadar trigliserida dalam serum darah, sehingga dapat mencegah keadaan hipertrigliseridemia. Penelitian  ini bertujuan untuk mengetahui aktivitas penurunan kadar trigliserida serum setelah pemberian ekstrak etanol daun jarak pagar (EEDJP) variasi dosis pada tikus hipertensi yang diinduksi dengan NaCl dan diberi pakan lemak tinggi. Penelitian eksperimental dengan pre-posttest control group design terhadap tikus jantan galur Wistar. Tikus dibagi menjadi 7 kelompok, yaitu  kelompok normal, kontrol (diinduksi NaCl dan diberi pakan  tinggi lemak), Captopril, Simvastatin, EEDJP dosis 1,8 g/KgBB, 2,7 g/KgBB, 4,05 g/KgBB. Analisis kadar trigliserida serum dengan metode GPO- PAP. Data dianalisis   dengan uji One-Sample Kolmogorov-Smirnov Test, Homogenity of Variances, One-Way ANOVA, Kruskal-Wallis, dan Mann-Whitney. Induksi NaCl dan pemberian pakan lemak tinggi dapat meningkatkan kadar trigliserida serum yang signifikan (p<0,050). Pemberian EEDJP dapat menurunkan kadar trigliserida serum yang signifikan (p<0,050) pada semua variasi dosis. Kesimpulannya EEDJP dapat menurunkan kadar trigliserida secara signifikan pada dosis 1,8 g/KgBB, 2,7 g/KgBB, 4,05 g/KgBB.
EFEK HEPATOPROTEKTIF SERBUK AKAR PASAK BUMI (Eurycoma longifolia Jack.) DILIHAT DARI AKTIVITAS SGPTSGOT TIKUS JANTAN YANG DIINDUKSI CCl4 Adikusuma, Wirawan; Bachri, Moch. Saiful
Pharmaciana Vol. 4 No. 2 (2014): Pharmaciana
Publisher : Universitas Ahmad Dahlan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.12928/pharmaciana.v4i2.1574

Abstract

This study was designed to evaluate the hepatoprotective effect of the powder Eurycomalongifolia Jack. From the activity level of SGPT-SGOT on CCl4-induced in male rats. Twentyfive male rats (150-250 g) divide in to 5 groups. Group I treated with aquadest was kept asnormal, group II treated with a single dose of CCl4 (1 ml/ kg BW i.p), group III and IV weretreated with Eurycoma longifolia Jack. (100 mg/kg BW and 200 mg/kg BW p.o) respectivelyand CCl4 (1 ml/kg BW i.p), group V treated with a single dose of curcumin (100 mg/kg BWp.o) and CCl4 (1 ml/kg BW i.p). Blood was collected from vena porta for determination ofSGPT-SGOT. The study showed the activity level of SGPT from the rats was treated byEurycoma longifolia Jack. 100 mg/kg BW and 200 mg/kg BW, Curcumin, and control groupsare 150.0±5.099 U/L; 113.6±5.508 U/L; 60.5±2.887 U/L; and 129.0±6.055 U/L respectively. Mean while the activity level of SGOT from the rats was treated by Eurycoma longifolia Jack.100 mg/ kg BW and 200 mg/ kg BW, Curcumin, and control groups are 369.4±11.165;263.0±1.803; 194.5±7.448; and 451.5±16.759 U/L respectively. The Eurycoma longifoliaJack. powder and Curcumin significantly (p < 0.05) declines two enzymes (SGPT and SGOT)than control group. The results concluded that Eurycoma longifolia Jack. powder hashepatoprotective effect.
AKTIVITAS ANTIOKSIDAN SERTA PENETAPAN KADAR b-KAROTEN, FLAVONOID DAN FENOL TOTAL EKSTRAK ETANOL LABU KUNING (Cucurbita moschata, (Duch.) Poir) -, Nova Anggreni; Anggreni, Nova; Mulyaningsih, Sri; Saiful Bachri, Moch.
Jurnal Insan Farmasi Indonesia Vol 7 No 3 (2024): Jurnal Insan Farmasi Indonesia
Publisher : Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan ISFI Banjarmasin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36387/ta8v4w29

Abstract

Yellow pumpkin (Cucurbita moschata) is a horticultural plant belonging to the Cucurbitaceae family. Yellow pumpkin fruit contains polysaccharides, various vitamins (including β-carotene, vitamin A, vitamin B2, tocopherol, vitamin C, and vitamin E). The abundant β-carotene in yellow pumpkin fruit has been proven to have activity in combating the negative effects of free radicals. This study aimed to determine the levels of β-carotene, total flavonoids, total phenols, and antioxidant activity in yellow pumpkin fruit (Cucurbita moschata) extracted using the maceration method with 96% ethanol solvent. The extract was qualitatively tested using thin-layer chromatography (TLC) and quantitatively tested using a UV-Vis spectrophotometer. Antioxidant activity was performed using DPPH method. The total flavonoid content in the yellow pumpkin fruit extract was 1.8 ± 0.025 mgQE/g extract, and the total phenol content was 13.9 ± 0.04 mg GAE/gram extract. Meanwhile, the β-carotene content was 16.99%, and the antioxidant activity of the yellow pumpkin fruit extract resulted in an IC50 value of 12.13 ppm, which can be classified as a very strong antioxidant.
MEKANISME KO-KEMOTERAPI EKSTRAK ROSELLA (Hibiscus sabdariffa. L) DENGAN DOXORUBICIN PADA SEL KANKER SERVIKS (HeLa) SECARA IN VITRO Daud, Intan; Hayu Nurani, Laela; Bachri, Moch. Saiful; Ariani Edityaningrum, Citra; Ma’ruf, Muhammad
Jurnal Ilmiah Ibnu Sina (JIIS): Ilmu Farmasi dan Kesehatan Vol 9 No 2 (2024): JIIS
Publisher : Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan ISFI Banjarmasin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36387/jiis.v9i2.2158

Abstract

Cervical cancer caused by exposure to Human Papilloma Virus (HPV) through sexual intercourse can be treated with Doxorubicin. Doxorubicin shows side effects so it needs to be combined with co-chemotherapy. Rosella (Hibiscus sabdariffa L.) The main content of anthocyanins is cytotoxic to HeLa cells.  The purpose of this study was to find co-chemotherapy combination of Doxorubicin and Rosella extract with apoptosis mechanism and Rosella antiproliferation.  The research method starts from the maceration process of Rosella petals using 96% ethanol. Cytotoxic test method, antiproliferation test, apoptosis, and combination test with MTT method using HeLa cells. The result of cytotoxic test showed IC50 of Rosella extract was 32.3 ± 2.15 µg/mL and IC50 of Doxorubicin was 2.68 ± 0.09 µg/mL. The antiproliferation test results in the control cell doubling time of 28.25 ± 0.21 hours while the concentration of Rosella extract at levels of 32.3; 16.15; and 8.08 µg/mL doubling time of 53.23 ± 0.20 hours, 39.02 ± 0.19 hours and 46.74 ± 0.23 hours so that it shows the inhibition of cell multiplication growth. The IC results show the combination of 4.04 µg/mL Rosella Flower Extract and 2.67 µg/mL Doxorubicin which is 0.0013 can be interpreted as a very strong synergistic effect (0.0013 ≤ 0.1). So it can be concluded the combination of ethanol extract Rosella flowers has antiproliferation properties through the mechanism of delaying the doubling time.