Claim Missing Document
Check
Articles

Found 38 Documents
Search

Karakteristik pengeringan dan perubahan warna cabai Katokkon (capsicum annuum L. Var. Sinensis) Rusmiati Rustam; Salengke Salengke; Junaedi Muhidong
Jurnal Agritechno Jurnal Agritechno Vol. 9, Nomor 2, Oktober 2016
Publisher : Depertemen Teknologi Pertanian Universitas Hasanuddin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (957.763 KB) | DOI: 10.20956/at.v9i2.48

Abstract

Cabai Katokkon merupakan salah satu cabai local yang memiliki prospek yang baik untuk dikembangkan. Akan tetapi, belum ada penelitian yang telah dilakukan menyangkut aspek pasca panen, khususnya pengeringan dari komoditas ini. Oleh karena itu, penelitian ini difokuskan pada studi tentang laju pengeringan dan perubahan warna cabai Katokkon selama pengeringan. Penelitian ini menggunakan dua perlakuan yaitu suhu pengeringan (40°C, 50°C, 60°C), lama blanching (15 menit, 30 menit, 45 menit). Hasil penelitian menunjukkan bahwa semakin tinggi suhu pengeringan maka semakin cepat laju pengeringan dan kadar air basis basah semakin cepat menyusut. Tiga model pengeringan (model Newton, model Henderson dan Pabis, dan model Page) menghasilkan nilai MR yang cukup dekat dengan nilai MR observasi. Namun demikian, meodel Page menghasilkan nilai prediksi yang terbaik dan menunjukkan nilai R2 yang lebih besar dibandingkan dengan Newton dan Hederson-Pabis. Hal ini menunjukkan bahwa model Page adalah model terbaik untuk merepresentasikan model pengeringan karena memiliki nilai kesesuaian yang besar terhadap karakteristik pengeringan cabai Katokkon. Hasil penelitian juga menunjukkan bahwa semakin lama pengeringan maka semakin menurun tingkat kecerahan warna cabai Katokkon dan semakin tinggi suhu pengeringan maka semakin cepat perubahan warna menjadi lebih gelap.
Mempelajari Sifat Fisik Beras Varietas Padi Cigeulis Dan Inpari – 4 Pada Penggilingan Padi Mobile Hastang Hastang; Mursalim Mursalim; Junaedi Muhidong
Jurnal Agritechno Jurnal Agritechno Vol. 10, Nomor 1, April 2017
Publisher : Depertemen Teknologi Pertanian Universitas Hasanuddin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (799.095 KB) | DOI: 10.20956/at.v10i1.51

Abstract

Penggilingan padi mempunyai peranan yang penting dalam mengkonversi padi menjadi beras yang siap diolah untuk dikonsumsi maupun untuk disimpan sebagai cadangan. Dalam kaitan dengan proses penggilingan padi, karakteristik fisik padi sangat perlu diketahui karena proses penggilingan padi sebenarnya mengolah bentuk fisik dari butiran padi menjadi beras putih. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perubahan dimensi (panjang, lebar, tebal) dan perubahan berat dari gabah menjadi beras utuh, selama proses penggilingan. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Juni – Agustus 2015 di Laboratorium Program Studi Keteknikan Pertanian, Jurusan Teknologi Pertanian, Fakultas Pertanian, Universitas Hasanuddin, Makassar. Metode Penelitian yang digunakan adalah metode survey dengan melakukan pengamatan dan pengukuran pada masing – masing varietas padi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa bahwa rata – rata perubahan dimensi dari masing – masing varietas meliputi panjang, tebal, dan tinggi dari gabah menjadi beras utuh selama proses penggilingan varietas Cigeulis yaitu 9,722 %, 6,778 %, dan 30,29 %. Sedangkan varietas Inpari-4 yaitu 9,845 %, 6,730 % dan 31,66 %. Sedangkan persentase berat beras utuh, patah dan menir dengan rata- rata persentase yaitu Beras Utuh 40,42%, BP 34,42% dan BM 25,14%. Sedangkan varietas Inpari-4 memiliki rata – rata yaitu BU 39,26 %, 34,88%, 25,84%.
Karakteristik Penurunan Kadar Air dan Perubahan Volume Bengkoang (Pachyrizus erosus) Selama Pengeringan Rizka Amaliah; Junaedi Muhidong; Muhammad Tahir Sapsal
Jurnal Agritechno Jurnal Agritechno Vol. 10, Nomor 1, April 2017
Publisher : Depertemen Teknologi Pertanian Universitas Hasanuddin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (953.775 KB) | DOI: 10.20956/at.v10i1.57

Abstract

Pola penurunan kadar air pada pengeringan bengkoang (Pachyrhizus erosus) terjadi akibat perbedaan suhu serta bentuk bahan. Penelitian karakteristik penurunan kadar air dan perubahan volume selama pengeringan menggunakan bahan utama berupa bengkoang (Pachyrhizus erosus). Proses pengeringan bahan menggunakan alat pengering tipe batch dryer, bengkoang dikeringkan dengan menggunakan variasi suhu yaitu 400C, 500C, 600C serta bentuk yaitu bentuk bulat dan kotak. Dari hasil penelitian dapat dilihat bahwa semakin tinggi suhu, maka akan semakin cepat laju pengeringan baik bahan dengan bentuk bulat ataupun kotak. Sampel dengan suhu 600C (baik bentuk bulat maupun kotak) membutuhkan waktu yang lebih singkat (waktu pengeringan 8 jam) untuk mencapai kadar air kesetimbangan dibandingkan dengan sampel yangmenggunakan suhu 400C ataupun 500C. Penelitian ini menggunakan 6 model pengeringan untuk mendeteksi perilaku MR. Enam model yang dimaksud adalah model Newton, model Henderson dan Pabis, model Page, model Modified Page, model hii et all dan model Two Term. Persamaan model Hii et al untuk 3 tingkatan suhu dan dua bentuk sampel yang berbeda menunjukkan nilai R2 yang lebih besar dibandingkan dengan 5 persamaan model lainnya. Hal ini menunjukkan bahwa model Hii et al adalah model terbaik untuk merepresentasikan laju pengeringan dari bengkoang karena memiliki nilai kesesuaian yang besar terhadap karakteristik pengeringan pengeringan bengkoang.
Penentuan Jumlah Butir Gabah dengan Computer Vision Andi Muhammad Tamrin; Junaedi Muhidong; Muhammad Tahir Sapsal
Jurnal Agritechno Jurnal Agritechno Vol. 10, Nomor 2, Oktober 2017
Publisher : Depertemen Teknologi Pertanian Universitas Hasanuddin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (821.337 KB) | DOI: 10.20956/at.v10i2.61

Abstract

Perkiraan produksi padi, salah satunya dapat dilakukan dengan menghitung jumlah butir padi atau gabah yang dihasilkan. Metode perkiran ini digunakan dalam berbagai penelitian yang berhubungan dengan peningkatan produksi padi, seperti pengaruh pemberian pupuk, perlakuan metode tanam dan lainnya. Menghitung jumlah butir padi tentu saja membutuhkan waktu, ketekunan dan ketelitian. Untuk itu diperlukan sebuah metode yang dapat digunakan untuk menghitung jumlah gabah yang dihasilkan dengan cepat dan akurat. Salah satunya dengan Computer Vision.Penelitian ini menggunakan Raspberry Pi tipe B yang dilengkapi dengan kamera 5 MP. Proses pengolahan citra meliputi penentuan Region of Interest (ROI) dan proses deteksi menggunakan ContourFinding. Tingkat akurasi dari hasil deteksi yaitu 99%. Posisi benih yang terdeteksi dengan tepat yaitu posisi benih yang terpisah dengan benih lain lebih dari 1 mm dan posisi benih yang berpeluang tidak terdeteksi dengan tepat yaitu posisi berhimpit dan bertumpuk serta tingkat kesalahan (error rate) pada proses pengujian yaitu pada benih berhimpit sebesar (0,23), pada benih bertumpuk sebesar (0,09) dan benih terpisah sebesar (0,01) serta tingkat kesalahan dalam proses perhitungan sebesar (0,03). Adapun ukuran gambar yang sesuai untuk proses pengolahan citra yaitu ukuran dengan Resize 75% (3,75 MP) dengan kecepatan deteksi 1.34 detik.
PROFIL SIFAT FISIK BUAH TERUNG BELANDA (Cyphomandra betacea) Fani Lande Pakiding; Junaedi Muhidong; Olly Sanny Hutabarat
Jurnal Agritechno Jurnal Agritechno Vol. 8, Nomor 2, Oktober 2015
Publisher : Depertemen Teknologi Pertanian Universitas Hasanuddin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (957.488 KB) | DOI: 10.20956/at.v8i2.78

Abstract

Terung belanda (Cyphomandra betacea) termasuk komoditi hortikultura unggulan dan hanya tumbuh di daerah dataran tinggi sehingga penanganan pasca panen yang tepat sangat dibutuhkan agar tidak merusak kualitas buah. Terung belanda sering mengalami kerusakan karena beberapa faktor yaitu faktor fisiologis, mekanis, hama dan penyakit. Buah matang yang sudah dipetik dan disimpan pada suhu kamar hanya dapat bertahan lima sampai enam hari dan setelah itu kulit buah akan memar kemudian membusuk. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui sifat-sifat fisik meliputi distribusi berat dan volume dan tingkat kekerasan bahan, rolling angle serta perubahan warna dengan waktu penyimpanan selama 7 hari pada suhu 290C dan suhu 90C sehingga dapat menjadi acuan dan referensi dasar untuk industri pengolahan terung belanda. Hasil penelitian menunjukkan distribusi berat maupun volume terung belanda mendekati pola distribusi normal. Pengujian tingkat kekerasan tidak terlalu berpengaruh terhadap volume dan berat karena tidak memiliki suatu pola yang saling berhubungan, begitupula pada pengujian rollig angle terhadap volume dan berat pada terung belanda. Pada proses pengamatan warna selama 7 hari dengan menggunakan photoshop dan munsell pada suhu 290C maupun suhu 90C menunjukkan perubahan dari warna kuning kemerahan menjadi merah tua, namun buah yang disimpan pada suhu 290C mengalami kerusakan pada penyimpanan hari ke empat dimana terjadi pengerutan sedangkan buah yang disimpan pada suhu dingin tidak mengalami perubahan fisik.
Pola Perubahan Dimensi Biji Kopi Arabika (Coffea arabica) Selama Proses Pengeringan Sari Ramadhani; Junaedi Muhidong; Mursalim Mursalim
Jurnal Agritechno Jurnal AgriTechno Vol. 12, Nomor 1, April 2019
Publisher : Depertemen Teknologi Pertanian Universitas Hasanuddin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (760.711 KB) | DOI: 10.20956/at.v12i1.194

Abstract

Kopi arabika (Coffea arabica) merupakan tipe kopi tradisional dengan cita rasa terbaik. Biji kopi yang dihasilkan berwarna hijau hingga merah gelap. Kopi ini berasal dari Etiopia dan sekarang telah dibudidayakan di berbagai belahan dunia, mulai dari Amerika Latin, Afrika Tengah, Afrika Timur, India dan Indonesia. Secara umum, kopi ini dapat tumbuh di daerah dengan ketinggian 700-1.700 m dpl, suhu tumbuh optimalnya adalah 16-200C. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui perubahan dimensi biji kopi selama proses pengeringan akibat adanya perubahan kadar air untuk dijadikan sebagai bahan informasi bagi petani kopi dan industri pengolahan biji kopi serta desain mesin pascapanen kopi. Penelitian ini menggunakan biji kopi yang diperoleh dari desa Kalimbua, kecamatan Baroko, kabupaten Enrekang. Parameter yang diamati adalah perubahan panjang, lebar dan tebal yang digunakan untuk menghitung diameter geometri, berat biji kopi dan kadar air. Pengeringan dilakukan dengan menggunakan alat pengering tray dryer dengan variasi suhu (500C dan 600C) dan kecepatan udara 1,0 m/s. Pengukuran dimensi dan berat dilakukan pada 0 jam sampai dengan 12 jam. Penelitian menunjukkan bahwa terjadi penurunan dimensi (panjang, lebar dan tebal) biji kopi arabika sejalan dengan bertambahnya waktu pengeringan dan penurunan kadar air bahan. Pola penurunan dimensi ini seiring dengan lama pengeringan dan perubahan kadar air mengikuti pola logarithmic dengan nilai R2 lebih besar dari 0,90. Pola penurunan diameter geometri pada saat kadar air basis kering menurun mengikuti pola logarithmic.
Analisis Pengaruh Suhu dan Kelembaban Ruang terhadap Kadar Air Benih Padi di Gudang Penyimpanan PT. Sang Hyang Seri Muhammad Fachruri; Junaedi Muhidong; Muhammad Tahir Sapsal
Jurnal Agritechno Jurnal Agritechno Vol. 12, Nomor 2, Oktober 2019
Publisher : Depertemen Teknologi Pertanian Universitas Hasanuddin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (372.096 KB) | DOI: 10.20956/at.v0i0.221

Abstract

Peningkatan produksi pangan membutuhkan ketersediaan benih yang bermutu. Salah satu masalah dalam penyediaan benih bermutu yaitu viabilitas benih yang menurun dalam masa penyimpanan, penelitian mengenai hal tersebut masih jarang dilakukan, Selama proses penyimpanan suhu dan kadar air benih merupakan faktor penting yang mempengaruhi masa simpan benih. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui pengaruh suhu dan kelembaban terhadap kadar air pada benih selama penyimpanan pada gudang PT Sang Hyang Seri (Persero). Benih padi merupakan benih orthodox yaitu benih yang dapat disimpan dalam waktu yang relatif lama dengan kadar air dapat diturunkan sampai dibawah 10%, Dalam pengumpulan data khususnya data temperatur gudang penyimpanan digunakan area sampling, area sampling merupakan cara pengambilan sampel dengan menetapkan area secara equally spaced (bagian yang sama). Data sampel yang diperoleh terdiri dari sejumlah nilai-nilai pengamatan yang rata-rata hitungnya (arithmatic mean) dapat langsung dicari dari data yang bersangkutan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa korelasi suhu interstisial bulk benih 28-29˚C dan suhu ruang penyimpanan tidak menunjukkan pengaruh terhadap kadar air benih padi 13-14% selama 15 hari penyimpanan, tingkat kelembaban ruang 45-50% merupakan faktor yang berpengaruh terhadap penurunan kadar air benih sebesar 1% selama penyimpanan.
Pengeringan Passive Irisan Umbi Uwi (Dioscorea alata L.) Irwan T; Junaedi Muhidong; Iqbal
Jurnal Agritechno Jurnal Agritechno, Vol. 13, Number 2, Oktober 2020
Publisher : Depertemen Teknologi Pertanian Universitas Hasanuddin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20956/at.v13i1.346

Abstract

ABSTRACT Passive drying is a drying mechanism that utilizes sunlight in a drying chamber with natural air flow mechanism. The tool used is direct passive solar box dryer. Direct type passive drying is a drying mechanism in a drying chamber with an air flow mechanism where direct sunlight enters the drying chamber. This study was intended to determine the pattern of decreasing water content and moisture ratio of yum (Dioscorea alata L.) and the appropriate drying model. Passive drying of yum tuber slices is done in two stages. The first drying data is used to determine the most suitable drying model (biggest R2). While the second drying data is used to validate the accuracy of the model predictions obtained. The drying process is carried out by placing the sample at the top, middle, and bottom of the drying chamber. The samples used are two types of yum namely white yum and purple yum with a size of 3x3x1 cm. The models evaluated for compatibility are Newton, Henderson & Pabis, and Page. The results of the analysis show that the Page model with the equation MR = exp (-ktn) is the most suitable model to describe the pattern of decreasing water content and moisture ratio of yum. The values ​​of the Page equation constants are obtained as follows: k = 0.187249, n = 1.17272 and R2 = 0.999403. Keywords: Yum, Drying, Drying Model, Water Content
Penerapan Sistem Kendali Fuzzy Logic pada Alat Penyangrai Kopi Tipe Fluidisasi Arie Nugroho; Abdul Waris; Junaedi Muhidong
Jurnal Agritechno Jurnal Agritechno Vol. 15, Nomor 2, Oktober 2022
Publisher : Depertemen Teknologi Pertanian Universitas Hasanuddin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20956/at.vi.920

Abstract

The fluidized coffee roaster is one of roasters which designed to overcome the weaknesses of the conventional roasting method. The purpose of this research is to develop a fluidization type roaster with a Fuzzy Logic control system. The specification of the roaster are roasting chamber dimensions of 65 mm (diameter) and 75 mm (height), a roasting capacity of 40 grams with a roasting time of 300 seconds. A heater with a power of 1,200 W was used as the source of heating energy. The research method was carried out by first, developed a control program and applied to the roaster. Then, a test of functionality and performance was conducted by using Robusta coffee for a temperature set point of 190°C, 200°C, and 210°C. The performance test of control responses resulted in 6.25°C (2,97%) error steady state for 15 seconds. However, this value remains below the tolerance threshold of 5%. The test of the color quality of coffee roasted at 190°C produced 3 groups of coffee colors, namely light brown-yellow, light brown-half-city, and light brown-cinnamon. In the case of roasting temperature of 200°C, it produced 3 color groups, i.e. light brown-city, light brown-full city, and light brown-full city+. For a roasting temperature of 210°C, there were two types of colors, namely dark brown-Vienna and dark brown-Italian. It can be concluded that a fluidized coffee roaster with a fuzzy logic control system was able to produce roast coffee compatible to the target roast profile according to the National Coffee Association (2002), namely light, medium, and dark.
PENGEMBANGAN METODE FERMENTASI BIJI KOPI DENGAN MENGUNAKAN INKUBATOR TERKONTROL FUZZY LOGIC DAN MONITORING IOT Sunandar Djasba; Abdul Waris; Junaedi Muhidong
Ensiklopedia of Journal Vol 6, No 1 (2023): Vol. 6 No. 1 Edisi 1 Oktober 2023
Publisher : Lembaga Penelitian dan Penerbitan Hasil Penelitian Ensiklopedia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33559/eoj.v6i1.1935

Abstract

The purpose of this study was to determine the quality of coffee bean basket yields with a fuzzy logic controlled incubator. The method in this research is experimentation by packing coffee beans in an incubator using a stirrer and without a stirrer. Fermentation was carried out for 12 hours at 40oC with two repetitions. The amount of fermented coffee was 3.5 kg for each treatment. Stages of hardening: coffee peeling, washing, weighing, and measuring the pH of the air in the stirrer container. After the measurement, the pH of the water was measured, the color test, the water content of the coffee beans, the pH of the coffee powder, and the total acid. The results obtained from this study are in the form of a tool that is tuned using an IoT-based fuzzy logic control system that can perform a temperature control system in the incubator room automatically based on a temperature set point of 40oC, a fan control device that functions to even out the temperature of the incubator room, and the temperature and power parameters used are monitored through the thingspeak application. The rules used to brew coffee beans are quite good based on that there is no overshoot, the steady state error is still in the range of 2-5, the settling time is quite short, stable and the energy used is relatively small during the coffee bean roasting process. Indicators of the quality of coffee beans produced from settlement according to SNI values include the amount of water content of coffee beans using a stirrer, which is 11.04% and without a stirrer, 11.18%, the color of the coffee beans has a chroma/color intensity (L*) value of 33.02 which is close to the biofermentor's L value of 31.71, the pH of coffee grounds steeping is 4.3 and the total acid steeping powder is 0.53%.
Co-Authors Abdul Azis Abdul Azis Abdul Aziz Abdul Waris Abdul Waris Abdul Waris Abdul, Azis Ahmad Munir AHMAD MUNIR Akbal Akbal Aminuyati Amran Laga Andi Muhammad Tamrin Andini, Nurlisa Anugrah Feri Hermanto Arie Nugroho Arnida Mustafa asmilawati, asmilawati Astuti, J daniatanti, farisna Daniel Useng Dedianto Pasomba Diyah Yumeina Fani Lande Pakiding Febriana Intan Permata Hati Fitri Andriani Gemala Hardinasinta Haerani Haerani Haerani Hartono Hartono Hastang Hastang Hastang Hastang Husnul Mubarak Ikbal Indi Indahdiah Nurharini Intan Febriana Intan Permata Hati, Febriana Iqbal Iqbal Iqbal iqbal salim Irwan T jannah, Khuriatul Kartika Pertama Sari Khaeril Anwar Junaedi M. Yogi Riyantama Isjoni M.Tahir Sapsal Mahmud Achmad Mahmud Achmad, Mahmud Miftahul Jannah Muhammad Fachruri Muhammad Luthfi Muhammad Tahir Sapsal Muhammad Tahir Sapsal Mukmin Mukmin Mursalim Mursalim Mursalim Mursalim Mursalim Mursalim Mursalim Mursalim Mursalim Musdalifah, Nuzlul Nur Ftiri Ramadhani Nuratika Nurhawa Nurhawa Nursusilowati, Indah Nurwijayanti Olly S.Hutabarat Olly Sanny Hutabarat Olly Sanny Hutabarat Ophirtus Sumule Putri Sejagat, Laradita Ramadhani, Adhella Reta Reta Rizka Amaliah Rusmiati Rustam Salengke Salengke Salengke Salengke Salengke Salengke, Salengke Samsuar, Samsuar Sapsal, Tahir Sari Ramadhani Sitti Nur Faridah Sri Wahyuni, Rahman Suhardi Sunandar Djasba Supratomo Supratomo Supratomo, Supratomo Supratomo, Supratomo Syahrul R, Syahrul Syamsia Syamsia Syamsinar Rahmia Useng, Daniel Waris Yumeina, Diyah Yuni, Rahmawati Yurika Samma Todingan Zaimar Zaimar