Dwi Septiani Putri
Program Studi Budidaya Perairan, Fakultas Ilmu Kelautan Dan Perikanan, Universitas Maritim Raja Ali Haji, Tanjungpinang

Published : 13 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 13 Documents
Search

PEMBERDAYAAN MASYARAKAT PESISIR DI DESA PENGUJAN DALAM PEMBUATAN BERAS ANALOG BERBASIS SUMBER DAYA LOKAL RUMPUT LAUT DAN SAGU SEBAGAI ALTERNATIF PANGAN SEHAT BAGI PENDERITA DIABETES Sri Novalina Amrizal; Novi Winarti; Elfa Oprasmani; Haidawati Haidawati; Rika Anggraini; Yulia Oktavia; Azwin Apriandi; Dwi Septiani Putri; Shavika Miranti; Tetty Tetty; Rafid Luthfi; Jumsurizal Jumsurizal; Dedy Kurniawan; Afran Dion Simatupang; Enasya Warnoveana; Dhena Yudeseptrada Verlita; Philipus Jhohanes Moa Loren
Jurnal Pemberdayaan Maritim Vol 8 No 2 (2026): Journal of Maritime Empowerment
Publisher : Lembaga Penelitian, Pengabdian Masyarakat, dan Penjaminan Mutu, Universitas Maritim Raja Ali Haji

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31629/jme.v8i2.8337

Abstract

Diabetes merupakan salah satu penyakit tidak menular yang prevalensinya terus meningkat di Indonesia. Ketergantungan masyarakat terhadap beras putih sebagai pangan pokok berkontribusi pada tingginya asupan karbohidrat berindeks glikemik tinggi yang berpotensi memicu lonjakan kadar gula darah. Pemanfaatan pangan lokal seperti rumput laut dan sagu menjadi alternatif potensial dalam upaya pencegahan diabetes. Rumput laut memiliki kandungan serat dan senyawa bioaktif yang mampu memperlambat penyerapan glukosa, sedangkan sagu memiliki indeks glikemik rendah serta mengandung pati resisten yang bermanfaat bagi pengendalian gula darah. Program Pengabdian kepada Masyarakat (PKM) ini dilaksanakan untuk memberikan edukasi kepada masyarakat mengenai bahaya diabetes, manfaat pangan lokal, dan pengenalan inovasi beras analog berbahan dasar rumput laut dan sagu. Kegiatan dilakukan melalui sosialisasi, demonstrasi, dan penyebaran kuesioner. Hasil kegiatan menunjukkan peningkatan pemahaman peserta mengenai hubungan pangan dengan risiko diabetes serta meningkatnya minat masyarakat untuk mencoba beras analog sebagai alternatif pangan yang lebih sehat.
Nanoteknologi dalam Nutrisi Ikan: Tinjauan Sistematis Penggunaan Selenium Nanopartikel sebagai Suplemen Mikronutrien pada Pakan Nancy Willian; Sri Novalina Amrizal; Dwi Septiani Putri; Daniel Sinaga
Marinade Vol 9 No 01 (2026): April, 2026
Publisher : Fisheries Product Technology Department, Faculty of Marine Science and Fisheries, Universitas Maritim Raja Ali Haji

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31629/marinade.v9i01.8247

Abstract

Selenium (Se) merupakan mikronutrien esensial dalam nutrisi ikan yang berperan dalam pertahanan antioksidan, regulasi sistem imun, fungsi metabolisme, dan peningkatan performa pertumbuhan. Namun, sumber selenium konvensional, baik dalam bentuk anorganik maupun organik, memiliki keterbatasan terkait bioavailabilitas, rentang dosis aman yang sempit, serta potensi toksisitas pada dosis berlebih. Perkembangan nanoteknologi telah memperkenalkan nanopartikel selenium atau selenium nanoparticles (SeNPs) sebagai alternatif suplemen pakan yang menjanjikan karena ukuran partikelnya yang kecil, luas permukaan yang tinggi, dan aktivitas biologis yang lebih baik. Kajian sistematis ini bertujuan mengevaluasi peran SeNPs dalam pakan ikan serta pengaruhnya terhadap performa pertumbuhan, status antioksidan, bioavailabilitas, kualitas daging, dan risiko toksisitas pada spesies akuakultur. Kajian dilakukan dengan pendekatan PRISMA melalui analisis artikel ilmiah bereputasi yang diterbitkan pada periode 2015–2025. Studi yang dianalisis terutama mencakup penelitian in vivo pada berbagai spesies ikan budidaya. Hasil sintesis menunjukkan bahwa suplementasi SeNPs pada dosis rendah hingga sedang meningkatkan laju pertumbuhan spesifik, efisiensi konversi pakan, aktivitas enzim antioksidan seperti GPx, SOD, dan CAT, serta ketahanan terhadap stres oksidatif dan infeksi patogen. Selain itu, SeNPs meningkatkan retensi selenium pada jaringan otot, profil protein, stabilitas oksidatif lipid, dan preservasi asam lemak tak jenuh ganda. Dibandingkan dengan sumber selenium konvensional, SeNPs umumnya menunjukkan bioavailabilitas yang lebih tinggi. Namun, gejala toksisitas dilaporkan pada dosis berlebih, sehingga standardisasi ukuran partikel, formulasi dosis, dan evaluasi keamanan jangka panjang diperlukan sebelum aplikasi komersial skala luas.
AKTIVITAS ANTIBAKTERI Sargassum sp. DALAM MENGHAMBAT Vibrio sp. TERISOLASI DARI KERAPU CANTANG (Epinephelus fuscoguttatus x Epinephelus lanceolatus) Shavika Miranti; Sri Novalina Amrizal; Dwi Septiani Putri; Nancy Willian; Said Afzaldy; Alyssa Dwi Ananda
Vol 16 No 4 (2026): JURNAL PERIKANAN
Publisher : Universitas Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29303/jp.v16i4.2380

Abstract

Penanganan vibriosis menggunakan bahan alami seperti ekstrak Sargassum sp. pada kegiatan budidaya ikan kerapu cantang perlu diteliti. Pengujian efektifitas pelarut dalam menghasilkan senyawa fitokimia sebagai antibakeri dan modifikasi proses ekstraksi menjadi lebih sederhana bertujuan agar dapat ditiru oleh pembudidaya dilapangan. Isolat bakteri uji diisolasi langsung dari ikan yang memiliki gejala vibriosis dari ikan kerapu cantang pembudidaya di Senggarang Besar, Kota Tanjungpinang. Pengujian aktivitas antibakteri dari ekstrak Sargassum sp. dalam menghambat pertumbuhan Vibrio sp. dilakukan melalui uji zona hambat metode difusi kertas cakram (metode Kirby-Bauer). Hasil penelitian menunjukkan penggunaan pelarut alkohol 70% pada proses ektraksi memberikan hasil diameter zona hambat yang jernih dan lebih baik yaitu 13 mm pada konsentrasi tertinggi dari perlakuan (10%) dibandingkan dengan ekstrak yang menggunakan pelarut alkohol 96% pada konsentrasi yang sama yaitu 11.67 mm dengan catatan zona hambat yang terbentuk tergolong parsial karena tidak jernih atau bening sempurna akibat masih terdapat pertumbuhan bakteri yang tipis di dalam zona meskipun bentuk lingkaran zona hambat terlihat cukup jelas. Penggunaan pelarut alkohol 70% dapat digunakan untuk proses ekstraksi Sargassum sp. dengan pertimbang harga yang lebih murah dan hasil yang lebih baik dibandingkan alkohol 96% berdasarkan hasil yang ditunjukkan melalui penelitian ini.