Claim Missing Document
Check
Articles

Found 36 Documents
Search

PERSEN YIELD (%YIELD) SEBAGAI PARAMETER EVALUASI PROSES KINERJA RAW MILL PADA INDUSTRI SEMEN Aulia R. Ramadhanti; Santosa, Sandra
DISTILAT: Jurnal Teknologi Separasi Vol. 5 No. 1 (2019): February 2019
Publisher : Politeknik Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33795/distilat.v5i1.11

Abstract

Salah satu alat yang digunakan dalam proses produksi semen adalah raw mill yang digunakan untuk mencampur, menggiling, dan mengeringkan bahan baku utama yang digunakan dalam proses produksi semen. Material dengan ukuran maksimum 10 cm akan diturukan lagi ukurannya (size reduction) hingga ± 90 mikron di dalam raw mill. Evaluasi proses pada raw mill diperlukan untuk mengetahui kinerja raw mill karena kerusakan yang terjadi pada raw mill akan mempengaruhi produksi semen. Hal ini berhubungan dengan proses produksi dan kecepatan produksi. Semua perhitungan didasarkan pada hukum kekekalan massa, massa masuk sistem = massa keluar sistem. Diperoleh %yield sebesar 89,31 % yang menunjukan bahwa raw mill masih befungsi dengan baik.
PENINGKATAN NILAI KALOR PRODUK PADA LIMBAH KULIT PISANG MENGGUNAKAN PROSES BIODRYING Densiana, Widianti; Putri, Vionadhiah R.; Santosa, Sandra
DISTILAT: Jurnal Teknologi Separasi Vol. 5 No. 2 (2019): August 2019
Publisher : Politeknik Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33795/distilat.v5i2.47

Abstract

Biodrying adalah proses penguapan konvektif dengan memanfaatkan panas yang dihasilkan dari reaksi aerobik komponen biologis dan dibantu dengan aerasi. Penelitian ini bertujuan untuk mempelajari pengaruh laju alir aerasi pada reaktor tertutup terhadap nilai kalor, kadar air, dan temperatur. Laju alir aerasi yang digunakan sebesar 0,7 L/min, dan 3 L/min. Penelitian dilakukan hingga lindi tidak terbentuk kembali. Hasil penelitian menunjukan bahwa semakin besar debit aerasi maka suhu semakin rendah, kandungan air semakin rendah, dan nilai kalor semakin besar. Temperatur tertinggi dimiliki oleh debit aerasi 0,7 L/min sebesar 45°C. Penurunan kadar air tertinggi dan kalor tertinggi dimiliki oleh debit aerasi 3 L/min masing-masing sebesar 81,83 %, dan 2423,98 cal/gr.
Pengaruh Ukuran Serutan Kayu Terhadap Produksi Gas Methane dengan Teknologi Gasifikasi pada Reaktor Downdraft Aulia, Mia; Fariha, Yohana Dhani; Santosa, Sandra
DISTILAT: Jurnal Teknologi Separasi Vol. 5 No. 2 (2019): August 2019
Publisher : Politeknik Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33795/distilat.v5i2.33

Abstract

Tingginya harga bahan bakar serta ketersediaan yang terbatas mendorong pemerintah untuk meningkatkan penggunaan energi terbarukan. Biomassa merupakan salah satu energi terbarukan yang pantas dan bisa dikonversi menjadi bahan bakar gas. Gas yang dihasilkan dari proses konversi tersebut salah satunya adalah CH4. Biomassa dari limbah kayu dapat dimanfaatkan sebagai sumber energi terbarukan dan dijadikan solusi untuk mengatasi masalah energi tersebut. Limbah kayu akan diolah dengan salah satu teknologi konversi biomassa yang dikenal sebagai gasifikasi. Penelitian ini menggunakan serutan kayu berukuran 2.5 cm, 3 cm dan 4 cm dilakukan menggunakan gasifier tipe downdraft. Tahapan penelitian ini meliputi pengeringan, pemilahan ukuran serutan kayu dan proses gasifikasii. Hasil penelitian ini diperoleh ukuran serutan kayu yang terbaik pada pada ukuran 2,5 cm yaitu pada kayu jati sebesar 4294 L, kayu wadang sebesar 3431 L dan kayu mahoni sebesar 2802 L.
PENGARUH PENGUMPANAN LINDI TERHADAP PENINGKATAN NILAI KALOR PRODUK PADA LIMBAH KULIT PISANG MENGGUNAKAN PROSES BIODRYING Putri, Vionadhiah R.; Densiana, Widianti; Santosa, Sandra
DISTILAT: Jurnal Teknologi Separasi Vol. 5 No. 2 (2019): August 2019
Publisher : Politeknik Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33795/distilat.v5i2.45

Abstract

Sampah kulit pisang yang terdekomposisi menghasilkan lindi dan bau yang busuk, sehingga diperlukan penanganan secara tepat. Salah satu metode pengolahan sampah organik adalah biodrying yang merupakan teknik pengeringan yang mengandalkan aktivitas biologis mikroorganisme baik bakteri ataupun jamur, untuk mengurangi kadar air (moisture content) dari sampah basah. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui pengaruh laju alir aerasi terhadap nilai heating value yang dihasilkan. Penelitian ini dilakukan sampai lindi yang dihasilkan habis dengan alat biodrying tipe batch menggunakan 3 buah reaktor dengan massa kulit pisang 1 kg dengan heating value sebesar 163,76 cal/gram dan dengan laju alir aerasi 0,7 L/menit, 1,5 L/menit dan 3 L/menit menghasilkan heating value sebesar 2241,22 cal/gram, 3243,93 cal/gram, dan 4588,18 cal/gram dengan pengumpanan lindi. Hasil penelitian menunjukan bahwa semakin besar laju alir aerasi dan adanya pengumpanan lindi menyebabkan temperatur semakin tinggi, kandungan air semakin rendah, dan nilai kalor semakin besar.
PENGARUH PENGADUKAN TERHADAP PROSES PEMBUATAN BIOGAS (REVIEW) Adelia, Dela; Santosa, Sandra
DISTILAT: Jurnal Teknologi Separasi Vol. 6 No. 2 (2020): August 2020
Publisher : Politeknik Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33795/distilat.v6i2.160

Abstract

Studi literatur ini berisi tentang pengaruh pengadukan proses biogas yang dihasilkan dari proses biogas MSW (Municipal Solid Waste) dan Sampah Organik. Metode yang digunakan yaitu dengan review 15 jurnal terkait proses biogas dengan pengadukan dan tanpa pengadukan, kemudian dianalisa, dan disimpulkan. Penelitian ini bertujuan mengetahui hasil produksi biogas MSW (Municipal Solid Waste) dan sampah organik menggunakan pengadukan dan tanpa pengadukan terhadap jumlah gas metana yang dihasilkan. Hasil analisa mendapatkan data tertinggi menggunakan pengadukan yaitu sebesar 717 liter dengan kecepatan pengadukan 10 rpm berbahan baku kotoran sapi + limbah rumah potong hewan dengan waktu fermentasi 20 hari berkapasitas ±5,2 liter dibandingkan dengan hasil yang tidak menggunakan pengadukan menghasilkan sebesar 102,9 liter berbahan baku kotoran sapi dan rumput gajah berkapasitas 100 liter waktu fermentasinya 60 hari. Hal ini dapat disesuaikan berdasarkan pernyataan teori bahwa proses pengadukan dapat menggeser waktu produksi biogas satu atau dua hari lebih awal dibandingkan reaktor yang tidak dilakukan pengadukan, sehingga dengan pengadukan akan mempercepat terbentuknya biogas.
PENGARUH RATIO KATALIS CaO-NaOH DAN WAKTU REAKSI TERHADAP KUALITAS BIODIESEL MINYAK JELANTAH Hidayat, Fajar Rasyid; Mas'udah, Mas'udah; Santosa, Sandra
DISTILAT: Jurnal Teknologi Separasi Vol. 8 No. 4 (2022): December 2022
Publisher : Politeknik Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33795/distilat.v8i4.451

Abstract

Biodiesel dari minyak jelantah berpotensi sebagai bahan bakar terbarukan karena konsumsi minyak goreng masyarakat di Indonesia secara nasional pada tahun 2019 mencapai 16,2 juta kilo liter dan menghasilkan rata rata minyak jelantah di kisaran 6,46-9,72 juta kilo liter, namun baru sekitar 3 juta kilo liter minyak jelantah yang dapat dikumpulkan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh ratio katalis CaO-NaOH dan waktu reaksi terhadap kualitas biodiesel dari minyak jelantah. percobaan menggunakan bahan baku minyak jelantah, metanol, dan katalis CaO-NaOH dengan variabel bebas yaitu ratio CaO-NaOH 1:3, 1:1, dan 3:1 dan waktu reaksi 60, 80, dan 100 menit; variabel tetap berupa suhu reaksi sebesar 60°C dan variasi jumlah katalis 1% CaO-NaOH terhadap berat minyak jelantah; dan variabel terikat adalah kualitas biodiesel berupa %yield, densitas biodiesel, dan viskositas biodiesel. Metode analisa biodiesel yang diperoleh menggunakan perhitungan %yield, densitas dan viskositas. Dari penelitian ini didapatkan kesimpulan bahwa hasil percobaan nilai densitas 857-871 kg/m3 telah sesuai SNI 7182:2015 yaitu berkisar 850-890 kg/m3 dan nilai %yield yang dihasilkan sebesar di atas 80% untuk rasio CaO-NaOH 1:3 dan 3:1, dan nilai viskositas biodiesel sebesar 1,15-1,31 cst tidak sesuai dengan standar SNI yang berkisar 2,3-6 cst.
PENGARUH RASIO KATALIS CaO-NaOH DAN SUHU REAKSI TRANSESTERFIKASI TERHADAP KUALITAS BIODIESEL DARI MINYAK SAWIT Amira, Sheila Devina; Mas’udah, Mas’udah; Santosa, Sandra
DISTILAT: Jurnal Teknologi Separasi Vol. 8 No. 4 (2022): December 2022
Publisher : Politeknik Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33795/distilat.v8i4.430

Abstract

Biodiesel merupakan bahan bakar alternatif dari minyak nabati seperti minyak sawit, yang diproduksi dengan metode transesterifikasi menggunakan katalis dan metanol. Penggunaan katalis homogen seperti NaOH sering digunakan karena menghasilkan %yield biodiesel yang tinggi dibanding katalis heterogen. Akan tetapi, penggunaan katalis homogen sering menimbulkan reaksi saponifikasi yang mengganggu proses konversi biodiesel. Pengkombinasian antara katalis homogen dan heterogen akan mencegah terjadinya reaksi saponifikasi. Selain itu suhu reaksi transesterifikasi juga sangat berpengaruh terhadap hasil produk biodiesel yang diperoleh. Oleh karena itu penelitian ini bertujuan untuk mengetahui rasio massa CaO-NaOH dan suhu reaksi transesterifikasi terhadap kualitas biodiesel yaitu viskositas, densitas, dan %yield. Penelitian dilakukan dengan melakukan percobaan proses transesterifikasi minyak sawit dan metanol dengan persentase jumlah katalis CaO NaOH 1% (b/v) dengan variabel bebas rasio massa CaO-NaOH 1:3, 1:1, 3:1 dan suhu 50˚C,60˚C, 80˚C dengan rasio mol minyak dan metanol yang digunakan adalah 1:6. Dari hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa penggunaan campuran katalis CaO-NaOH dan suhu berpengaruh terhadap kualitas dari beberapa parameter biodiesel yang diuji. Parameter terbaik yang hampir mendekati standar SNI 7182:2015 biodiesel didapatkan pada variabel suhu reaksi 60°C dan rasio katalis CaO-NaOH sebesar 3:1 dari berat minyak dimana nilai yield biodiesel sebesar 76,13%, densitas 0,865 g/mL, viskositas 8,65 cSt.
STUDI PENGGUNAAN KATALIS CaO-NaOH PADA PRODUKSI BIODIESEL DARI MINYAK JELANTAH Susanti, Titik; Mas’udah, Mas’udah; Santosa, Sandra
DISTILAT: Jurnal Teknologi Separasi Vol. 8 No. 2 (2022): June 2022
Publisher : Politeknik Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33795/distilat.v8i2.361

Abstract

Berbagai macam penelitian pembuatan biodiesel telah banyak dilakukan, mulai dari penggunaan berbagai macam jenis tanaman biji-bijian, katalis, metode reaksi dan sebagainya. Selama ini sebagian besar penelitian menggunakan minyak sawit sebagai bahan baku biodiesel, dimana penggunaan bahan ini menimbulkan konflik karena merupakan bahan pangan. Oleh karena itu, pemanfaatan minyak jelantah yang merupakan limbah penggunaan minyak sawit dipilih sebagai alternatif bahan baku biodiesel. Penggunaan katalis homogen seperti NaOH, selama ini menghasilkan biodiesel dengan nilai yield yang tinggi dibanding katalis heterogen. Akan tetapi, penggunaan katalis homogen sering menimbulkan reaksi saponifikasi yang mengganggu proses konversi biodiesel. Oleh karena itu, pengkombinasian antara katalis homogen dan heterogen dilakukan untuk memecahkan masalah tersebut. Penelitian ini bertujuan untuk mempelajari pengaruh penggunaan katalis CaO NaOH terhadap yield, densitas dan viskositas produksi biodiesel dari minyak jelantah. Metode yang digunakan dalam studi ini adalah proses transesterifikasi dengan variasi suhu reaksi yaitu 60°C, 65°C dan 70°C, serta persentase jumlah katalis CaO-NaOH yang ditambahkan sebesar 1%, 2% dan 3% dari berat minyak dengan perbandingan CaO:NaOH 1:1. Untuk rasio mol minyak dan metanol yang digunakan adalah 1:6. Dari hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa penggunaan campuran katalis CaO-NaOH berpengaruh terhadap beberapa parameter biodiesel yang diuji. Parameter terbaik yang hampir mendekati standar kualitas biodiesel didapatkan pada variabel suhu reaksi 65°C dan persentase jumlah katalis CaO-NaOH sebesar 1% dari berat minyak dimana nilai yield biodiesel sebesar 85%, densitas 0,857 g/ml, viskositas 0,65 cst.
DESAIN EVAPORATOR PADA PRARANCANGAN PABRIK BIODIESEL DARI MINYAK SAWIT DENGAN KAPASITAS 400.000 TON/TAHUN Kusumaningsih, Nur Rahma Setya; Masudah, Masudah; Santosa, Sandra
DISTILAT: Jurnal Teknologi Separasi Vol. 8 No. 4 (2022): December 2022
Publisher : Politeknik Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33795/distilat.v8i4.501

Abstract

Pada proses pembuatan biodiesel terdapat tahapan proses yaitu tahap persiapan, tahap transesterifikasi, tahap pemisahan mestil ester, tahap pencucian metil ester, dan tahap pemurnian metil ester. Pada tahap pemurnian dilakukan pemanasan metil ester dengan tujuan untuk menghilangkan sisa metanol dan air yang masih terkandung dalam metil ester. Oleh karena itu diperlukan desain evaporator yang sesuai untuk mendapatkan kemurnian produk metil ester yang akan berpengaruh pada kinerja mesin yang akan digunakan dalam jangka pendek maupun panjang n. Penelitian ini bertujuan untuk merancang evaporator pada prarancangan pabrik biodiesel dengan kapasitas 400.000 ton/tahun. Perhitungan desain evaporator mengacu pada buku process heat transfer dan buku equipment design menggunakan metode kern dan perhitungan menggunakan bantuan microsoft excel. Dari hasil perhitungan didapatkan dimensi evaporator dengan diameter luar 114 in, tebal silinder 3/8 in dan tinggi evaporator 245,7 in dengan alat pemanas tipe 1-shell dan 2-tube. Desain evaporator ini diharapkan dapat menjadi acuan analisis kebutuhan alat sebelum pabrik didirikan. Terdapat saran yaitu perlu adanya evaluasi kerja alat evaporator secara berkala guna meningkatkan proses agar lebih optimal.
THE EFFECT OF PH SOLUTIONS AND STIRRING SPEED ON NICKEL RECOVERY FROM PYROPHYLLITE ROCKS USING FROTH FLOTATION Santoso, Titi Pangesti Berlian; Santosa, Sandra; Mas'udah, Mas'udah
DISTILAT: Jurnal Teknologi Separasi Vol. 8 No. 4 (2022): December 2022
Publisher : Politeknik Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33795/distilat.v8i4.449

Abstract

Nickel is an important element in the metal alloy industry. In Indonesia, nickel resources are found in many areas in the form of rocks such as pyrophyllite. Froth flotation is a method commonly used in the mining industry to extract metals such as nickel from mineral rocks. However, the nickel concentrates yields tend to be relatively low. This is often influenced by several factors such as the pH solutions and stirring speed used in the process. Therefore, this study aims to investigate the effect of agitation speed and collector concentration on the nickel recovery results obtained from the froth flotation process. In this study, variations of pH solutions at 8,9, and 10 were used. Meanwhile, the stirring speed was varied to 700, 800 and 900 rpm. The results showed that the pH solutions and stirring speed had a significant impact on nickel recovery. Optimum results were obtained at pH of 10 and stirring speed of 900 rpm where the nickel concentration reached 27,55% from the initial concentration of 8,21%.