Claim Missing Document
Check
Articles

Found 36 Documents
Search

THE EFFECT OF STIRRING SPEED AND COLLECTOR CONCENTRATION ON NICKEL RECOVERY FROM PYROPHYLLITE USING FROTH FLOTATION Rifki Sakib Thalib, Hanifah; Santosa, Sandra; Mas'udah , Mas'udah
DISTILAT: Jurnal Teknologi Separasi Vol. 9 No. 2 (2023): June 2023
Publisher : Politeknik Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33795/distilat.v9i2.2693

Abstract

Nickel is an important element in the metal alloy industry. In Indonesia, nickel resources are found in many areas in the form of rocks such as pyrophyllite. Froth flotation is a method commonly used in the mining industry to extract metals such as nickel from mineral rocks. However, the nickel concentrates yield tends to be relatively low. This is often influenced by several factors such as the stirring speed and the concentration of the collector used in the process. Therefore, this study aims to investigate the effect of agitation speed and collector concentration on the nickel recovery results obtained from the froth flotation process. In this study, variations of stirring speed at 500, 600, and 750 rpm were used. Meanwhile, the collector concentration varied to 2,5%, 4,5% and 6,5%. The results showed that the stirring speed and collector concentration had a significant impact on nickel recovery. Optimum results were obtained at 750 rpm and 6,5% where the nickel concentration reached 2,475% from the initial concentration of 8,21%.
PENGARUH JENIS PELARUT DAN WAKTU PENGERINGAN DALAM PEMBUATAN ENZIM PAPAIN DARI GETAH BUAH PEPAYA Hidayat, Sansabila Febrianti; Mas’udah, Mas’udah; Santosa, Sandra
DISTILAT: Jurnal Teknologi Separasi Vol. 9 No. 3 (2023): September 2023
Publisher : Politeknik Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33795/distilat.v9i3.3766

Abstract

Indonesia merupakan negara agraris yang memiliki hasil alam bervariasi dan jumlahnya melimpah, salah satunya adalah buah pepaya. Di dalam buah pepaya muda terdapat getah yang mengandung enzim pemecah protein/proteolitik salah satunya yaitu enzim papain yang belum dimanfaatkan secara maksimal. Enzim papain dari getah buah pepaya dapat diperoleh dengan cara mengambil getah dari buahnya lalu ditambahkan pelarut dan dilakukan proses pengeringan menggunakan oven pada suhu 65°C dengan waktu yang telah ditentukan. Dalam hal ini jenis pelarut dan waktu pengeringan sangat berperan penting terhadap hasil produk enzim papain. Untuk itu, penelitian ini bertujuan untuk mempelajari dan menganalisis pengaruh jenis pelarut dan waktu pengeringan terhadap kuantitas dan kualitas enzim papain dari getah buah pepaya. Variabel jenis pelarut yang digunakan adalah etanol dan aseton, sedangkan waktu pengeringan divariasikan pada 1 jam, 2 jam, dan 3 jam. Hasil produk enzim papain dilakukan uji kuantitas (yield) dan kualitas (kadar air). Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa enzim papain dengan bahan pelarut berupa etanol dengan lama pengeringan 3 jam merupakan enzim papain yang memiliki kuantitas dan kualitas sesuai dengan SNI 01-3709-1995.
PENENTUAN KAPASITAS PRODUKSI DAN SELEKSI PROSES PRA RANCANGAN PABRIK KIMIA ENZIM PAPAIN DARI GETAH PEPAYA Opeda, Moch Hisyam Pratama Geoparadiase; Mas’udah, Mas’udah; Santosa, Sandra
DISTILAT: Jurnal Teknologi Separasi Vol. 9 No. 4 (2023): December 2023
Publisher : Politeknik Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33795/distilat.v9i4.4188

Abstract

Enzim papain merupakan enzim protease yang dapat diperoleh dari getah papaya dan memiliki banyak manfaat dalam industri makanan, farmasi, dan kosmetik. Oleh karena itu enzim papain menjadi kebutuhan yang terus meningkat di Indonesia. Sehingga, pendirian pabrik enzim papain dengan memanfaatkan getah pepaya akan dapat memenuhi kebutuhan dalam negeri maupun ekspor. Penelitian ini bertujuan menentukan kapasitas produksi dan seleksi proses pra rancangan pabrik enzim papain dari getah pepaya yang direncanakan berdiri pada tahun 2024 dan berlokasi di Dampit, Kabupaten Malang. Metode penentuan kapasitas produksi menggunakan metode linier dari data rata-rata kebutuhan produk dalam 5 tahun terakhir. Sedangkan untuk seleksi proses menggunakan metode penilaian pada beberapa aspek proses produksi enzim papain pada rentang nilai 0-100 dengan kategori 0-25: rendah, 26-50: cukup, 51-75: baik, dan 76-100: sangat baik. Hasil dari penelitian ini didapatkan kapasitas produksi enzim papain tahun 2024 sebesar 8000 ton/tahun dan proses produksi menggunakan metode pengeringan beku, sehingga dengan pendirian pabrik enzim papain dapat memenuhi kebutuhan impor dan ekspor
PENGARUH SUHU DAN UKURAN PARTIKEL PADA PROSES PEMBUATAN NATRIUM SILIKAT DARI BATUAN PYROPHYLLITE Wibowo, Dizza Capolizta; Santosa, Sandra
DISTILAT: Jurnal Teknologi Separasi Vol. 9 No. 4 (2023): December 2023
Publisher : Politeknik Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33795/distilat.v9i4.4412

Abstract

Batuan piropilit merupakan salah satu sumber mineral dengan kandungan silika atau silikon dioksida (SiO2) yang tinggi dan memiliki ketersediaan cukup banyak di Indonesia khususnya di kecamatan Sumbermanjing, Jawa Timur. Batuan piropilit ini ternyata belum banyak dimanfaatkan dan umumnya hanya dijual dalam bentuk serbuk atau tepung batu. Kandungan silika yang tinggi pada batuan piropilit dapat digunakan sebagai alternatif sumber silikon dioksida yang potensial dalam sintesis natrium silikat (Na2SiO3). Untuk mendapatkan natrium silikat dari batuan piropilit dapat dilakukan dengan menggunakan proses ekstraksi. Penelitian ini bertujuan untuk mempelajari dan menganalisa pengaruh suhu dan ukuran partikel batuan terhadap kualitas dan kuantitas natrium silikat. Dalam penelitian ini variabel suhu ekstraksi yang digunakan adalah 70oC, 80oC, 90oC dan 100oC. Ukuran partikel divariabelkan pada 40 mesh, 60 mesh, 80 mesh, dan 100 mesh. Hasil analisis XRF yang dilakukan pada natrium silikat tersebut menunjukkan bahwa perbedaan suhu dan ukuran batuan memberi pengaruh nyata terhadap persentase natrium silikat yang dihasilkan. Besar suhu 100oC dengan ukuran partikel batuan 100 mesh menghasilkan persentase natrium silikat tertinggi di antara variabel lainnya, yaitu 61,83%
PEMANFAATAN TUMBUHAN ECENG GONDOK DAN BATOK KELAPA SEBAGAI EKSTENDER PEREKAT UREA FORMALDEHID Muhtada, Detra Sifa Shal Sabila; Santosa, Sandra; Aribah, Salwa Fairuza Ayu; Sulistio, Any
DISTILAT: Jurnal Teknologi Separasi Vol. 10 No. 1 (2024): March 2024
Publisher : Politeknik Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33795/distilat.v10i1.4950

Abstract

Kayu lapis (plywood) adalah material yang tersusun dari 3 atau lebih vinir yang diikat dengan perekat. Perekat plywood yang banyak digunakan di Indonesia ialah Urea Formaldehid. Penggunaan perekat murni untuk industri plywood menyebabkan penggunaan biaya yang tinggi pada industri. Oleh karena itu penggunaan perekat untuk plywood dapat ditambahkan dengan ekstender. Selain itu penggunaan bahan ekstender dapat meningkatkan kualitas perekat seperti dapat meningkatkan daya rekat. Penelitian ini bertujuan untuk mencari alternatif bahan untuk pembuatan ekstender yang berasal dari tumbuhan. Tumbuhan yang digunakan yaitu eceng gondok dan batok kelapa. Pemilihan tumbuhan tersebut dikarenakan tingginya kandungan selulosa yang dapat menaikkan viskositas, kandungan protein dan lignin untuk menambah daya rekat sehingga limbah tersebut digunakan sebagai tepung ekstender. Tahapan percobaan pada penelitian ini yang pertama adalah membuat tepung dari limbah eceng gondok dan batok kelapa, kemudian tepung tersebut akan dicampur dengan perekat Urea Formaldehida dengan kadar ekstender eceng gondok yaitu 3,5 %, 4,5 %, 5,2 % (b/v) dan ekstender batok kelapa 24%, 30%, 34% (b/v) masing-masing dari volume perekat cair. Setelah itu dilakukan pengaplikasian campuran perekat tersebut pada vinir sengon untuk membuat plywood, kemudian plywood tersebut akan dilakukan pengujian viskositas, bonding strength dan delaminasi untuk mengetahui keteguhan rekat dari perekat cair yang telah dicampur dengan tepung ekstender. Kadar penambahan ekstender terbaik pada penelitian ini adalah eceng gondok 3,5% dan batok kelapa 24%, hal ini dapat dilihat dari nilai bonding strength yang tinggi serta tidak mengalami delaminasi.  
PEMBINAAN PEMBUATAN SABUN CAIR CUCI PIRING DARI MINYAK JELANTAH DI KELURAHAN MULYOREJO Arief Rahmatulloh; Mutia Devi Hidayati; Sandra Santosa
Jurnal Pengabdian kepada Masyarakat Vol. 11 No. 1 (2024): JURNAL PENGABDIAN KEPADA MASYARAKAT 2024
Publisher : P3M Politeknik Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33795/abdimas.v11i1.4688

Abstract

Mulyorejo Village is an area in the Malang which is has many home industries particularly based on food and drink which is directly proportional with the waste namely waste cooking oil. Recently, the society discharged it directly to the environment. Therefore, it is important for the people of Mulyorejo Village to obtained skills in order to processing that waste. The community service that has been done is how to make liquid dishes soap from waste cooking oil. The active ingredient is potassium hydroxide. In addition, the training was conducted through the use of reuse bottles as a substitute for plastic packaging which can later be filled through refill station. The community service was held on October 6th, 2023 with 15 participants. Based on the results of the questionnaire, it can be seen that the mean value reaches 3.84 and the mode value of each question is 4.0. Thus, it can be informed that the training participants understand, feel the benefit and satisfied with the guidance of liquid dishes soap fabrication. The training participants also received materials and tools for refilling liquid dishes soap from the community service team which could be used to produce liquid dishes soap independently.