Claim Missing Document
Check
Articles

Found 71 Documents
Search
Journal : Koneksi

Stereotip Gender Perempuan Dalam Board Game Laga Jakarta Andy Andy; Suzy Azeharie
Koneksi Vol 1, No 2 (2017): Koneksi
Publisher : Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/kn.v1i2.1963

Abstract

Kultur budaya Indonesia umumnya masih memisahkan pekerjaan berdasarkan jenis kelamin. Perempuan dianggap lebih tepat untuk jenis pekerjaan tertentu sementara laki-laki untuk pekerjaan lain. Penelitian ini ingin mengetahui stereotip gender terhadap perempuan yang terdapat dalam board game Laga Jakarta. Laga Jakarta merupakan sebuah game yang menggambarkan lika-liku kehidupan di Jakarta. Di dalam Laga Jakarta terdapat 32 kartu pekerjaan. Perempuan dialokasikan pada empat pekerjaan sementara laki-laki pada 28 pekerjaan. Peneliti ingin meneliti bagaimana stereotip gender perempuan yang terdapat dalam board game tersebut. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui bagaimana board game Laga Jakarta mengkonstruksikan stereotip gender perempuan. Dengan menggunakan sejumlah konsep dalam komunikasi, komunikasi massa, stereotip, gender, representasi dan semiotika, penelitian kualitatif deskriptif ini menggunakan analisis semiotika. Teknik pengumpulan data menggunakan observasi, wawancara, studi pustaka dan penelurusan data online. Wawancara dilakukan dengan satu narasumber dan observasi dilakukan terhadap empat kartu pekerjaan yang diilustrasikan dengan gambar perempuan dalam board game Laga Jakarta. Hasil dari penelitian adalah terdapat stereotip gender yang negatif terhadap perempuan. Perempuan dalam board game Laga Jakarta diinterprestasikan sebagai kaum yang hanya mengandalkan kecantikan fisik dalam bekerja dan tidak memerlukan kecerdasan intelektual atau kemampuan tertentu.
Event Volunteering: Gaya Hidup Kelompok Milenial (Studi Kasus Pada Volunteer Asian Games 2018) Vanny Novella; Suzy S. Azeharie
Koneksi Vol 4, No 1 (2020): Koneksi
Publisher : Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/kn.v4i1.6518

Abstract

The use of new media especially by millennials in Indonesia has more or less changed the value and order of society. One interesting phenomenon is the event volunteering activities in which the dissemination of information is conveyed through new media. Events volunteering are increasingly in demand by millennials, particularly when 2018 Asian Games which is the event with the highest number of volunteers in Indonesia were held. This research aims to determine event volunteering as part of millennials’ lifestyle, especially the 2018 Asian Games volunteers. This research uses a descriptive qualitative approach with a case study method. Data analyzed were obtained through interviews, observations, documentation studies and literature studies. Theories used in this research are communication theory, mass media, popular culture and lifestyle theory. The conclusion is event volunteering has become part of the millennials’ lifestyle which can be seen from the feelings, attitudes and opinions of millennials that are relatively positive for event volunteering activities. In addition, the existence of commercialization in event volunteering’s management is intended for the sake of public and event’s sponsor. However, commercialization is also often found on several organizing committees and millennials activists in event volunteering. Tingginya penggunaan media baru atau new media khususnya oleh kelompok milenial di Indonesia sedikit banyak telah mengubah nilai dan tatanan di masyarakat. Salah satu fenomena yang menarik untuk diteliti adalah kegiatan event volunteering yang penyebaran informasinya disampaikan melalui new media. Kegiatan event volunteering yang diminati oleh kelompok milenial yakni penyelenggaraan Asian Games 2018. Event olahraga ini merupakan event dengan jumlah volunteer terbanyak di Indonesia. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui event volunteering sebagai bagian dari gaya hidup kelompok milenial khususnya volunteer Asian Games 2018. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan metode studi kasus. Data yang dianalisis diperoleh melalui wawancara, observasi, studi dokumentasi dan studi kepustakaan. Teori yang digunakan adalah teori komunikasi, media massa, budaya populer dan gaya hidup. Penelitian ini menyimpulkan bahwa event volunteering telah menjadi bagian dari gaya hidup kelompok milenial ditinjau dari aspek perasaan, sikap dan opini kelompok milenial yang relatif positif terhadap kegiatan event volunteering. Selain itu ditemukan pula adanya komersialisasi dalam penyelenggaraan event volunteering yang ditujukan untuk kepentingan publik dan sponsor event. Namun tindakan komersialisasi juga kerap ditemui pada beberapa pihak panitia penyelenggara dan kelompok milenial penggiat event volunteering.
Studi Proses Pengungkapan Jati Diri Transeksual Fatinah Ghiyats; Suzy Azeharie
Koneksi Vol 1, No 2 (2017): Koneksi
Publisher : Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/kn.v1i2.2003

Abstract

Penelitian ini dibuat dengan maksud untuk mengetahui awal mula seseorang mengalami gangguan identitas gender, proses pengungkapan jati diri transeksual serta tanggapan masyarakat terhadap transeksual. Transeksual merupakan salah satu contoh penyimpangan dalam konteks gangguan identitas gender yang merasa dirinya berada di tubuh yang salah sehingga berperilaku seperti lawan jenis bahkan melakukan operasi penegasan kelamin. Pada awalnya seorang transeksual memilih untuk tertutup namun dengan penuh pertimbangan akhirnya seorang transeksual mulai membuka dirinya kepada masyarakat melalui komunikasi secara langsung dan tidak langsung seperti melalui media sosial. Sejumlah konsep yang digunakan dalam penelitian ini adalah gender, gangguan identitas gender, agama, transeksual, self disclosure, komunikasi, media Massa, framing dan aktualisasi diri. Metode penelitian yang digunakan adalah metode penelitian kualitatif secara deskriptif. Data yang dianalisis diperoleh dari hasil wawancara mendalam dengan empat narasumber. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa transeksual mengalami banyak pertimbangan sebelum dirinya memutuskan untuk membuka diri. Dukungan dan penerimaan dari keluarga sangat penting bagi kepercayaan diri transeksual sebelum membuka diri di hadapan publik meskipun terdapat banyak pro dan kontra dari pandangan agama dan masyarakat sosial.
Tatung Sebagai Budaya Masyarakat Tionghoa (Studi Komunikasi Ritual Tatung di Singkawang) Fitria Ferliana Suryadi; Suzy S. Azeharie
Koneksi Vol 4, No 1 (2020): Koneksi
Publisher : Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/kn.v4i1.6615

Abstract

This research is titled Tatung as a Cultural Part of the Chinese Community (Tatung Ritual Communication Study in Singkawang). The purpose of this study is  to determine Tatung which is considered by the Chinese community in Singkawang, as a culture and to know the ritual communication carried out by Tatung in Singkawang. Tatung is a person who is possessed by the spirit of Dewa to help the Chinese community in Singkawang who are in need, such as asking about their wedding date, health, career and future. This thesis uses ethnographic methods to describe and discover the hidden knowledge of a culture or community. This thesis uses descriptive qualitative methods. Research Data obtained from non participant observation on Tatung in Singkawang, semi-structured interview with one Key informant and three additional informant in Singkawang, library study and document study. The theory used in the study was the ritual communication of Eric W. Rothenbuhler stating that ritual communication is part of the use of symbols. Rituals are always identical to habits or routines. Ritual as a hereditary action, formal action and containing transcedental values. The conclusion of this research is Tatung is a cultural part of Singkawang because the Chinese people in Singkawang strongly believe in Tatung from generation to generation and the majority of Chinese in Singkawang Confucian religion. Penelitian ini mengangkat Tatung sebagai bagian dari budaya masyarakat Tionghoa. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui Tatung yang dianggap oleh masyarakat Tionghoa di Singkawang sebagai budaya dan komunikasi ritual yang dilakukan oleh Tatung di Singkawang. Tatung merupakan orang yang dirasuki oleh roh dewa untuk membantu masyarakat Tionghoa yang membutuhkan, seperti menanyakan tanggal pernikahan, kesehatan, karir dan masa depan. Penelitian ini menggunakan metode etnografi untuk mendeskripsikan dan menemukan pengetahuan tersembunyi suatu budaya atau komunitas. Data penelitian diperoleh dari observasi non partisipan pada Tatung di Singkawang, wawancara semi terstruktur dengan satu key informan dan tiga informan tambahan di Singkawang, studi pustaka dan studi dokumen. Teori yang digunakan dalam penelitian adalah komunikasi ritual dari Eric W. Rothenbuhler yang menyatakan bahwa komunikasi ritual merupakan bagian dari pemaknaan simbol. Ritual selalu identik dengan kebiasaan atau rutinitas. Ritual sebagai suatu aksi turun-temurun, aksi formal dan mengandung nilai-nilai transendental. Penelitian ini menyimpulkan bahwa Tatung merupakan bagian budaya di Singkawang karena masyarakat Tionghoa di Singkawang sangat percaya terhadap Tatung dari generasi ke generasi dan mayoritas Tionghoa di Singkawang beragama Konghucu.
Studi Komunikasi Ekspatriat di Jakarta yang Menjadi Pelaku Budaya Rendy Reynaldo; Suzy Azeharie
Koneksi Vol 2, No 1 (2018): Koneksi
Publisher : Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/kn.v2i1.2443

Abstract

Ekspatriat yang menjadi pelaku budaya merupakan warga negara asing yang meninggalkan negara asalnya untuk pergi ke negara lain dan mempelajari kebudayaan di negara tersebut hingga menjadi pelaku budaya. Ekspatriat di Indonesia yang menjadi pelaku budaya pada awalnya tertarik dengan kebudayaan Indonesia karena keunikan dan beraneka ragam yang berbeda dengan negara lain. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui faktor yang mempengaruhi ekspatriat menjadi pelaku budaya, kesulitan yang dialami mereka serta culture shock yang dialami ekspatriat sebagai pelaku budaya. Teori yang digunakan dalam penelitian ini adalah teori komunikasi, teori budaya, teori adaptasi dan teori culture shock. Metode penelitian yang digunakan adalah metode penelitian kualitatif dengan pendekatan studi kasus secara deskriptif. Data yang dianalisis diperoleh dari hasil wawancara dengan dua narasumber dan dari hasil observasi yang dilakukan oleh penulis. Kesimpulan dari penelitian ini adalah ekspatriat menjadi pelaku budaya karena melihat secara langsung kebudayaan yang menarik dan unik di suatu daerah dan menjadi tertarik untuk mempelajarinya. Kesulitan yang dihadapi oleh ekspatriat yang menjadi pelaku budaya adalah hambatan komunikasi yang memiliki perbedaan bahasa. Faktor yang membuat ekspatriat menjadi pelaku budaya adalah kebudayaan Indonesia yang memiliki keunikan dilihat secara bentuk, suara dan latar belakang budaya tersebut yang tidak dimiliki oleh negara lain.
Komunikasi Interaksionisme Simbolik Antara Pekerja Tunarungu Dengan Tamu (Studi Komunikasi di Kafe Kopi Tuli Depok) Mailinda Mailinda; Suzy S. Azeharie
Koneksi Vol 2, No 2 (2018): Koneksi
Publisher : Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/kn.v2i2.3919

Abstract

Komunikasi interaksionisme simbolik yang berupa bahasa isyarat merupakan bentuk komunikasi tunarungu atau penyandang disabilitas tuli untuk memudahkan dalam menyampaikan pesan kepada orang lain dan berinteraksi dengan lingkungannya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui komunikasi interaksionisme simbolik antara pekerja tunarungu dengan tamu di kafe Kopi Tuli Depok dan untuk mengetahui cara pekerja tunarungu mengatasi kendala dalam berkomunikasi dengan tamu di kafe Kopi Tuli Depok. Teori yang digunakan dalam penelitian ini adalah teori komunikasi, komunikasi antarpersonal dan komunikasi interaksionisme simbolik. Metode penelitian yang digunakan adalah metode penelitian kualitatif melalui pendekatan studi kasus secara deskriptif. Data yang dianalisis diperoleh dari hasil wawancara dengan empat narasumber. Penelitian ini menyimpulkan bahwa komunikasi interaksionisme simbolik antara pekerja tunarungu dengan tamu di kafe Kopi Tuli Depok merupakan bahasa isyarat sebagai bentuk komunikasi antara pekerja tunarungu dengan tamu dan membuat penyandang disabilitas tuli yang datang merasa nyaman dalam berkomunikasi dan berinteraksi. Interaksi dengan isyarat merupakan simbol-simbol dalam menyampaikan pesan kepada orang lain. Pekerja tunarungu akan menjelaskan secara verbal ketika tamu tidak mengerti bahasa isyarat dan tidak bisa menggunakan bahasa isyarat. Tamu dapat langsung menunjuk gambar pada menu sesuai keinginan atau memberikan tulisan kepada pekerja tunarungu.
Perlawanan Mahasiswi Bercadar Sebagai Kelompok Bungkam Alma Syafiera; Suzy S. Azeharie
Koneksi Vol 4, No 1 (2020): Koneksi
Publisher : Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/kn.v4i1.6641

Abstract

Public oftenly stigmatized students who wear the veil. They are afraid of approaching them because the media depicted women with veils as terrorists. Therefore, women with veils categorized can be a mute group. This paper will see how the resistance a women wearing veil who joined the real organization named activities of the muslim student. The goals of this research is to find out how those students with veil as a resistance group against the dominant group in the campus environment. The theory used in the study is a mute group theory. The study uses case study methods with a qualitative descriptive approach to understand phenomenon about the behavior, perception and motivation of a person who is not negotiating. The research data was taken from a semi-structured interview with three key informants through documentation study and literature study. The conclusion of this themselves as well as channeling ideas, developing potential and their lack of confidence in the campus environment. They make their organization as a piece against the defection with open resistance such as following an external work program, campaign and channeling their potential. Closed resistance is done as a discussion between fellow members.  Mahasiswi yang menggunakan cadar umumnya mendapatkan stigmatisasi dari lingkungan sekitarnya. Orang-orang takut mendekati mereka karena pengaruh pemberitaan bahwa perempuan bercadar termasuk kategori kelompok radikal. Jumlah mahasiswi bercadar yang sedikit dalam lingkungan kampus dianggap sebagai kelompok bungkam. Penelitian ini akan meneliti bagaimana perlawanan yang dilakukan mahasiswi bercadar yang tergabung dalam organisasi kerohanian di tingkat universitas. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui bagaimana perlawanan yang dilakukan mahasiswi bercadar sebagai kelompok bungkam terhadap kelompok dominan di lingkungan kampus. Teori yang digunakan dalam penelitian ini adalah kelompok bungkam. Penelitian ini menggunakan metode studi kasus dengan pendekatan kualitatif deskriptif untuk memahami fenomena tentang apa yang dialami seseorang seperti perilaku, persepsi dan motivasi yang tidak bersifat negosiasi. Data penelitian diperoleh dari wawancara semi terstruktur, pengamatan, studi dokumentasi dan studi kepustakaan. Kesimpulan penelitian ini adalah mahasiswi bercadar memiliki ruang terbatas dalam mengekspresikan diri, menyalurkan ide, mengembangkan potensi dan tidak memiliki kepercayaan diri di lingkungan kampus. Mereka menjadikan organisasi kerohanian yang mereka ikuti di kampus sebagai tempat melawan kebungkaman dengan perlawanan terbuka seperti mengikuti program kerja eksternal, kampanye dan menyalurkan potensi yang mereka miliki. Perlawanan tertutup yang dilakukan seperti berdiskusi antar sesama anggota.
Konsep Diri Remaja Cina Benteng (Studi Komunikasi Pada Remaja Cina Benteng di Tangerang) Sheren Millennia Wijaya; Suzy Azeharie
Koneksi Vol 5, No 2 (2021): Koneksi
Publisher : Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/kn.v5i2.10419

Abstract

Indonesia is a plural country because it has a variety of ethnicities, languages, religions. One of the ethnic groups in Indonesia is Benteng Chinese who have lived for a long time in Tangerang. Each ethnic group has its own identity or uniqueness that differentiates it from other ethnicities. Benteng Chinese society consists of various groups, one of which is a teenager. One of the most important periods in this phase of human life occurs in adolescence. During this period, a teenager's mental development and growth process occurs to form an identity that will describe his self-concept. Every teenager has a different self-concept. Parents are the biggest factor in the formation of adolescent self-concept. Imitation also affects self-concept. The purpose of this study was to describe the self-concept of Benteng Chinese Youth and what factors influence the self-concept of Benteng Chinese youths. In examining this research the writer uses concepts and theories, namely self-concept, imitation, adolescence, and Cina Benteng. This research uses a qualitative approach with a case study method. The research data was obtained through interviews with two key informants and two supporting informants, as well as a literature study. The results showed that the self-concept possessed by Chinese Benteng youths varied physically, socially, and psychologically. And the factor that most influences the formation of adolescent self-concept is parents. adolescence, and Cina Benteng. This research uses a qualitative approach with a case study method. The research data was obtained through interviews with two key informants and two supporting informants, as well as a literature study. The results showed that the self-concept possessed by Chinese Benteng youths varied physically, socially, and psychologically. And the factor that most influences the formation of adolescent self-concept is parents. adolescence, and Cina Benteng. This research uses a qualitative approach with a case study method. The research data was obtained through interviews with two key informants and two supporting informants, as well as a literature study. The results showed that the self-concept possessed by Chinese Benteng youths varied physically, socially, and psychologically. And the factor that most influences the formation of adolescent self-concept is parents.Indonesia merupakan negara majemuk karena memiliki beragam suku, etnis, bahasa, agama. Salah satu etnis yang ada di Indonesia adalah Cina Benteng yang sudah menetap lama di Tangerang. Setiap etnis memiliki identitas atau keunikan masing-masing yang membedakan dengan etnis lainnya. Masyarakat Cina Benteng terdiri dari berbagai kalangan, salah satunya remaja. Salah satu periode terpenting dalam fase kehidupan manusia terjadi pada masa remaja. Pada masa ini terjadi proses perkembangan dan pertumbuhan mental seorang remaja sehingga membentuk jati diri yang akan menggambarkan konsep dirinya. Setiap remaja memiliki konsep diri yang berbeda-beda. Orang tua merupakan faktor terbesar terbentuknya konsep diri remaja. Imitasi juga berpengaruh terhadap konsep diri. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui gambaran konsep diri Remaja Cina Benteng dan faktor apa saja yang mempengaruhi terbentuknya konsep diri remaja Cina Benteng. Dalam mengkaji penelitian ini penulis menggunakan konsep dan teori yaitu konsep diri, imitasi, remaja, dan Cina Benteng. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode studi kasus. Data penelitian diperoleh melalui wawancara terhadap dua key informan dan dua informan pendukung, serta studi kepustakaan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa konsep diri yang dimiliki remaja Cina Benteng berbeda-beda secara fisik, sosial, maupun psikologis. Dan faktor yang paling berpengaruh terhadap pembentukan konsep diri remaja adalah orang tua.
Studi Komunikasi Budaya pada Paguyuban Wayang Orang Bharata Monica Veronica; Suzy S. Azeharie
Koneksi Vol 2, No 2 (2018): Koneksi
Publisher : Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/kn.v2i2.3924

Abstract

Di era modern, kebudayaan tradisional khususnya Wayang Orang jarang terdengar eksistensinya. Banyak orang tidak mengetahui keberadaan kebudayaan Wayang Orang sebagai bentuk kesenian pertunjukan tradisional Jawa. Sejauh ini belum ada penelitian tentang komunikasi budaya pada Paguyuban Wayang Orang Bharata. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui komunikasi budaya yang terdapat pada Paguyuban Wayang Orang Bharata. Metode penelitian yang digunakan adalah metode penelitian kualitatif fenomenologi secara deskriptif. Data yang dianalisis diperoleh dari hasil wawancara mendalam dengan empat narasumber. Penelitian berfokus terhadap lima elemen budaya yang dikemukakan oleh Samovar. Agama mayoritas di Paguyuban Wayang Orang Bharata adalah Islam. Beberapa individu masih menganut kepercayaan kejawen seperti semedi untuk mencari keselematan dan kelancaran dalam pagelaran. Nilai budaya yang terdapat di Paguyuban Wayang Orang Bharata berasal dari tokoh Wayang orang yang relevan di kehidupan sehari-hari contohnya adalah sifat baik dari tokoh Pandawa. Bahasa yang mereka gunakan adalah bahasa Jawa.
Interaksi Simbolik Pengajar Musik Tunanetra dengan Siswa Tunanetra di Yayasan Mitra Netra Lebak Bulus Jakarta Selatan Intan Puspitasari; Suzy Azeharie
Koneksi Vol 3, No 1 (2019): Koneksi
Publisher : Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/kn.v3i1.6230

Abstract

Kesulitan tunanetra adalah keterbatasan dalam melihat sehingga perlunya pendidikan yang sesuai dengan karakteristik dan kebutuhannya. Anak tunanetra tidak hanya harus mendapat pendidikan akademik tetapi juga pendidikan non akademik, sehingga potensi anak berkembang secara optimal. Yayasan Mitra Netra Lebak Bulus Jakarta Selatan mengajarkan keahlian di luar pendidikan akademik yaitu salah satunya adalah pembelajaran bermusik. Yayasan ini memiliki tiga orang pengajar musik yang merupakan penyandang tunanetra. Pengajaran bermusik untuk anak tunanetra berupaya memberikan kesempatan yang sama kepada semua anak termasuk anak tunanetra dalam memperoleh kesempatan belajar. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui interaksi simbolik pengajar musik tunanetra dengan siswa tunanetra di Yayasan Mitra Netra Lebak Bulus Jakarta Selatan. Untuk mengetahui cara pengajar musik tunanetra mengatasi kendala dalam pembelajaran bermusik di Yayasan Mitra Netra Lebak Bulus Jakarta Selatan. Teori yang digunakan dalam penelitian ini adalah teori komunikasi, komunikasi verbal dan interaksi simbolik. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif yang bersifat deskriptif. Penelitian akan menggunakan wawancara mendalam terhadap lima orang narasumber yaitu tiga pengajar musik, pengurus yayasan dan siswa. Data penelitian yang diperoleh bersumber dari wawancara, observasi dan studi pustaka. Kesimpulan dari penelitian ini adalah komunikasi interaksi simbolik antara pengajar musik tunanetra dengan siswa tunanetra di Yayasan Mitra Netra adalah menggunakan pengulangan suara melalui pendengaran dan interaksi simbolik berupa perabaan. Sebab tidak menggunakan visual karena siswa dan pengajar merupakan tunanetra. Dalam berkomunikasi menggunakan interaksi simbolik berupa perabaan, dilakukan dengan cara jari siswa dipegang untuk mengikuti gerak tangan pengajar musik. Setelah itu siswa harus mendengarkan dan mempraktikkan pembelajaran yang diberikan oleh pengajar musik.
Co-Authors Abda Abda Adinda, Sheren Aldo Aldo Alma Syafiera Anastasia Cahyadi Anastasia Putri Yuniarti Anastasya, Nikita Andilia, Marcella Andy Andy Antony Antony Audrey Andrea Hastan Aulia, Shabila Aureliya Ramadhanti Bernica Irnadianis Ifada Calvin Calvin Chang, Keith Prasethio Chaterine Setiawan Chintia Oktavia Christa, Vanessa Christina Derio, Calvin Dhea Marianti Elvina Marcella Wijaya Enjelly, Enjelly Eric Eric Erlina Sebastian Fatinah Ghiyats Femisyah, Jazzy Tiara Fenika Fenika Fernando, Luis Fitria Ferliana Suryadi Garry Rykiel Hutama, Victor Huwae, Marchantia Putri Nesya Ian Handani Indrawan, Sanrio Intan Puspitasari Irena, Lydia Irvan Andress Anthony Jeceline Jeceline Jessica Gunawan Jessica Halim Juandi Rusdianto Kambey, Alannys Zefanya Karn Bell Kezia Natalia Sjofjan Leonardo Leonardo Mailinda Mailinda Marcella, Shellie Margareth, Hanna Marlene Sandra Mckanzie, Yoel Mela Cristanty Melina Melina Michael Stefanus Micheal Micheal Mikael Rainer Anggiprana Monica Veronica Muhammad Adi Pribadi Muljono, Andreas Putra Nathania, Metta Nelly Nelly Nigar Pandrianto Nissi, Keizah Noho, Nabir I.B. Novalia Novalia Nurkholis Majid Nurul Khotimah Olivia Junifer Cendana Paramita, Sinta Prameswari, Darlyss Charolina Eva Ratna Sari Puspa Rendy Reynaldo Rezasyah, Teuku Rini Oktaviani Rizki Tanto Wijaya Rizkiana, Talenta Rocki Prasetya Suharso Sandinatha, Alvina Oeyta Shani Dwi Putri Sheren Millennia Wijaya Solagracia, Andreas Stella Sonia Stella Stella Sthevani, Kezia Sukendro, Gregorius Genep Susanto, Veren Tania Tania Theonaldy, Kriston Thommy Thorina, Jenifer Vanessa Junaidi Vanny Novella Vicktor Fadi Vimala Yanthi, Valencia Viona viona, Viona Wensi Wensi Wicaksono, Raihan Zahran Willen Tifvany Wilson Wilson Winardi Aldrian Winoto, Jessica Vallery Wiryana, Febiola Wulan Purnama Sari Yoedtadi, Muhammad Gafar Yola Nahria Mufida Yuliana Yuliana Zeny Zeny