Claim Missing Document
Check
Articles

Found 38 Documents
Search

PENGARUH STUNTING TERHADAP PERKEMBANGAN MOTORIK ANAK USIA 6-23 BULAN DI KECAMATAN MAULAFA, KUPANG, NUSA TENGGARA TIMUR da Costa, Santa; Pantaleon, Maria Goreti; Zogara, Asweros Umbu
Kupang Journal of Food and Nutrition Research Vol. 4 No. 1 (2023): Kupang Journal of Food and Nutrition Research
Publisher : Poltekkes Kemenkes Kupang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31965/kjfnr.v4i1.1138

Abstract

Stunting adalah salah satu masalah gizi yang berdampak buruk terhadap kualitas hidup anak dalam mencapai titik tumbuh kembang yang optimal sesuai potensi genetiknya. Periode penting dalam tumbuh kembang anak adalah masa balita. Pertumbuhan balita akan mempengaruhi perkembangan anak selanjutnya. Kemampuan motorik adalah proses tumbuh kembang gerak seorang anak. Perkembangan ini sejalan dengan kematangan saraf dan otot anak. Perkembangan motorik yang normal memungkinkan anak dapat bermain dengan teman sebayanya, sedangkan yang tidak normal akan menghambat anak dalam bergaul dengan teman sebayanya. Dampak jangka panjang akan berakibat buruk terhadap kemampuan kognitif dan prestasi belajar. Stunting menurunkan kualitas sumber daya manusia, produktifitas dan daya saing. Prevelensi stunting di Indonesia dan Kota Kupang menunjukan kenaikan. Pada tahun 2018 sebanyak 30,8%. Dari data yang diperoleh disimpulkan bahwa angka stunting di Indonesia masih tinggi. Data kasus stunting di Kota Kupang pada tahun 2018 sebanyak 3.426 kasus (23,4%), tahun 2019 ada 3.892 kasus (29,9%) dan 5.151 kasus (32,2%) di tahun 2020. Kasus stunting di Kota Kupang menunjukan kenaikan. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan antara kejadian stunting dengan perkembangan motorik anak usia 6-23 bulan di Kecamatan Maulafa, Kupang, Nusa Tenggara Timur. Penelitian ini merupakan penelitian observasional dengan rancangan cross sectional. Sampel penelitian sebanyak 60 anak yang berusia 6-23 bulan, terdiri dari 30 baduta stunting dan 30 baduta tidak stunting yang dilaksanakan bulan Agustus – Oktober 2020. Pengukuran perkembangan anak menggunakan Formulir KPSP (Kuesioner Pra Skrening Perkembangan). Analisis data menggunakan uji chi-square. Hasil penelitian menunjukan ada hubungan antara stunting dengan perkembangan motorik balita (p=0,045).
THE RELATIONSHIP BETWEEN NUTRITIONAL KNOWLEDGE AND MACRONUTRIENT INTAKE WITH THE NUTRITIONAL STATUS OF ELEMENTARY SCHOOL STUDENTS Umbu Zogara, Asweros; Pantaleon, Maria Goreti
Kupang Journal of Food and Nutrition Research Vol. 5 No. 1 (2024): Kupang Journal of Food and Nutrition Research
Publisher : Poltekkes Kemenkes Kupang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31965/kjfnr.v5i1.1474

Abstract

  Elementary school students are one of the vulnerable groups to nutritional and health problems. Nutritional status is the condition of the body which is the end result of the balance between nutrients that enter the body. Intake of macronutrients is the intake needed in relatively large amounts, including carbohydrates, fats, and protein. In addition to food intake, there are other factors that affect nutritional status, namely nutritional knowledge. Objectivethis research to determine the relationship between intake of macronutrients and nutritional knowledge with the nutritional status of school students in Kelapa Lima District. This research design uses a descriptive correlation with a cross sectional approach. Analysis of the data used is the fisher's exact test. From the results of the study, it was found that the frequency of nutritional status of students based on BMI according to age (BMI/U) in the undernutrition category was 6 people (2.3%), 18 people (6.8%) were overweight and 4 people were obese (1,5%). The carbohydrate intake of students in the more category was 6 people (2.3%) and the less category was 102 people (38.3). The protein intake of students was more than 47 people (17.7%) and less than 75 people (28.2%). The fat intake of students was more than 18 people (6.8%) and less as many as 95 people (35.7%). There were 79 (29.7%) students with enough nutritional knowledge and 52 students (19.5%) lacking knowledge. The results of the analysis stated that there was no relationship between carbohydrate intake, protein intake, fat intake and nutritional knowledge with nutritional status. Based on the results of the analysis, there is no relationship between carbohydrate intake, protein intake, fat intake and nutritional knowledge with nutritional status.
FAKTOR-FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN STATUS GIZI REMAJA USIA 15-18 TAHUN DI SMA NEGERI 2 KOTA KUPANG Feoh, Jesica Cheline Juliand; pantaleon, maria goreti; zogara, asweros umbu
Kupang Journal of Food and Nutrition Research Vol. 5 No. 2 (2024): Kupang Journal of Food and Nutrition Research
Publisher : Poltekkes Kemenkes Kupang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31965/kjfnr.v5i2.1672

Abstract

Adolescence is a stage of very rapid growth (growth spurt). This period is called the Golden period because during this period teenagers experience many biological changes, namely changes in body weight, height and body proportions. Teenagers really need twice as much nutritional intake for their growth and development. The nutritional status of adolescents is directly influenced by infectious diseases and food intake, and one of the indirect factors that can influence nutritional status is nutritional knowledge. The aim of this research is to analyze the relationship between nutritional knowledge and infectious diseases and the nutritional status of adolescents aged 15-18 years. The research used is quantitative research with a correlational analysis design with a cross sectional study approach. In this study, stratified random sampling was used to determine the sample, with a total sample of 131 people conducted at SMA Negeri 2 Kupang City from November 2023 to June 2024. The results of the univariate research showed that the majority of teenagers' nutritional knowledge was in the category of good nutritional knowledge, namely 63 people (48.1%), the number of teenagers who experienced infectious diseases in the last month was 78 people (59.5%) and 81 teenagers (61.8%) had good nutritional status. The results of the Fisher exact test analysis p-value = 0.702, which means there is no relationship between nutritional knowledge and the nutritional status of adolescents and the p-value is 0.831, meaning that infectious diseases also have no relationship with the nutritional status of adolescents.
Pemberdayaan Ibu melalui Praktik Pemantauan Tumbuh Kembang Baduta sebagai Upaya Pencegahan Stunting di Kota Kupang Nur, Astuti; Pantaleon, Maria Goreti; Costa, Santa Luciana Da; Nenotek, Christina R.
Jurnal Kreativitas Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM) Vol 8, No 11 (2025): Volume 8 No 11 (2025)
Publisher : Universitas Malahayati Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/jkpm.v8i11.22849

Abstract

ABSTRAK Nusa Tenggara Timur masih menghadapi masalah gizi yang serius, salah satunya adalah stunting. Peran ibu sangat penting dalam memastikan anak tumbuh dan berkembang secara optimal dalam upaya pencegahan stunting. meningkatkan pengetahuan ibu dalam pemantauan pertumbuhan dan perkembangan anak. Kegiatan pengabdian masyarakat dilaksanakan di Kelurahan Oesapa yang dihadiri oleh ibu baduta sebanyak 24 orang pada bulan September tahun 2025. Metode yang digunakan meliputi ceramah, demonstrasi, praktik langsung, serta diskusi interaktif. Edukasi diberikan mengenai pentingnya pemantauan tumbuh kembang anak, pelatihan pemantauan pertumbuhan (pengukuran antropometri dan membaca grafik pertumbuhan) serta pemantauan perkembangan anak menggunakan buku KIA. Evaluasi dilakukan melalui pretest dan posttest untuk mengukur perubahan pengetahuan. Hasil menunjukkan adanya peningkatan skor pengetahuan ibu dari rata-rata 67 pada pretest menjadi 78 pada posttest. Proporsi ibu dengan pengetahuan baik meningkat dari 20,8% menjadi 58,3%, sedangkan kategori kurang menurun dari 16,7% menjadi 0%. Hal ini menunjukkan bahwa edukasi gizi efektif dalam meningkatkan pemahaman ibu. kegiatan pengabdian masyarakat ini efektif meningkatkan pengetahuan ibu dalam pemantauan pertumbuhan dan perkembangan balita. Penelitian selanjutnya disarankan menilai perubahan perilaku ibu serta memanfaatkan media digital sebagai sarana edukasi. Ke depan, pemanfaatan buku KIA perlu lebih dioptimalkan melalui pendampingan kader dan kolaborasi lintas sector.  Kata Kunci: Stunting, Tumbuh Kembang, Buku KIA  ABSTRACT East Nusa Tenggara continues to face serious nutritional problems, one of which is stunting. The role of mothers is crucial in ensuring children grow and develop optimally, thereby helping to prevent stunting. To increase mothers' knowledge in monitoring children's growth and development. The community service activity was conducted in Oesapa Village in September 2025, attended by 24 mothers of infants. The methods used include lectures, demonstrations, hands-on practice, and interactive discussions. Education was provided on the importance of monitoring child growth and development, including training on growth monitoring (anthropometric measurements and reading growth charts), as well as monitoring child development using the KIA book. Evaluation was conducted through pretests and posttests to measure changes in knowledge. The results showed an increase in mothers' knowledge scores from an average of 67 on the pretest to 78 on the posttest. The proportion of mothers with good knowledge increased from 20.8% to 58.3%, while the proportion in the poor category decreased from 16.7% to 0%. This indicates that nutrition education is effective in improving mothers' understanding. This community service activity is effective in increasing mothers' knowledge about monitoring the growth and development of toddlers. Further research is recommended to assess changes in maternal behavior and utilize digital media as an educational tool. In the future, the use of the KIA book needs to be further optimized through cadre mentoring and cross-sectoral collaboration. Keywords: Stunting, Growth and Development, KIA book
Perbedaan Konsumsi Pangan dan Karakteristik Keluarga Balita Stunting dan Tidak Stunting di Kota Kupang Pantaleon, Maria Goreti; Zogara, Asweros Umbu
Innovative: Journal Of Social Science Research Vol. 3 No. 5 (2023): Innovative: Journal of Social Science Research
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Menurut Unicef dalam kerangka kebijakan gerakan seribu hari pertama kehidupan, penyebab langsung masalah gizi yang pertama adalah konsumsi makanan yang tidak memenuhi jumlah dan komposisi zat gizi yang memenuhi syarat gizi seimbang yaitu beragam, sesuai kebutuhan, bersih, dan aman. Faktor penyebab langsung kedua adalah penyakit infeksi yang berkaitan dengan tingginya kejadian penyakit menular terutama diare dan penyakit pernapasan akut (ISPA). Prevalensi stunting secara nasional tahun 2013 adalah 37,2%, yang berarti terjadi peningkatan dibandingkan tahun 2010 (35,6%) dan 2007 (36,8%). Sedangkan pada tahun 2018 prevalensi stunting adalah 30,8% yang artinya telah tejadi penurunan jika dibandingkan tahun 2013, namun masalah stunting masih menjadi masalah utama di Nusa Tenggara Timur sehingga perlu terus dilakukan penelitian lanjutan terutama pada kelompok umur yang berisiko seperti bayi dan balita. Tujuan penelitian ini yaitu untuk menganalisis perbedaan konsumsi pangan dan karakteristik keluarga balita stunting dan tidak stunting di Kota Kupang. Metode yang digunakan adalah cross sectional study, lokasi penelitian di wilayah kerja Puskesmas Oesapa dengan total sampel sebanyak 96 balita. Hasil analisis menggunakan uji chi-square, menunjukkan bahwa terdapat perbedaan konsumsi pangan antara balita stunting dan tidak stunting di Kota Kupang (p = 0,012). Hasil analisis terhadap karakteristik keluarga antara lain terdapat perbedaan pekerjaan ayah (p=0,006) dan pola asuh perawatan kesehatan (p=0,001) pada balita stunting dan tidak stunting di Kota Kupang. Sedangkan hasil analisis terhadap Pendidikan orangtua, pendapatan keluarga, usia balita, jumlah anggota keluarga, jumlah saudara kandung, dan pengetahuan ibu balita menunjukkan tidak terdapat perbedaan pada balita stunting dan tidak sunting di Kota Kupang.
Pencegahan Stunting pada Balita Melalui Refreshing Pemantauan Pertumbuhan dan Pelatihan Pembuatan PMT MI Beras Hitam Kelor pada Kader Posyandu Nur, Astuti; Pantaleon, Maria Goreti; Nita, Maria Helena Dua; Costa, Santa Luciana Da; Nenotek, Christina R.
Jurnal Kreativitas Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM) Vol 7, No 10 (2024): Volume 7 No 10 (2024)
Publisher : Universitas Malahayati Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/jkpm.v7i10.16311

Abstract

ABSTRAK Posyandu merupakan pelayanan kesehatan dasar bagi masyarakat dalam mendeteksi masalah gizi. Peran kader sangat dibutuhkan dalam pendampingan pemantauan tumbuh kembang balita. Untuk meningkatkan pengetahuan dan keterampilan kader dalam melakukan pengukuran antropometri, menghitung umur dan ploting KMS serta pembuatan PMT mi beras hitam kelor. Kegiatan pengabdian masyarakat dilaksanakan di Prodi Gizi Poltekkes Kemenkes Kupang dengan mendatangkan kader posyandu Puskesmas Oesapa sebanyak 30 orang pada bulan April-Mei tahun 2024. Kegiatan pengabdian yang dilakukan meliputi: 1). Pelatihan pengukuran antropometri (berat badan, tinggi badan, lingkar kepala dan lingkar lengan atas), 2). Pelatihan ploting grafik pertumbuhan dan menghitung umur, dan 3). Pelatihan pembuatan PMT Mie Beras Hitam Kelor. Setelah kegiatan pelatihan dilakukan, pengetahuan kader terhadap materi yang diberikan mengalami peningkatan yang ditunjukkan nilai posttest yang menunjukkan pengetahuan kader kategori baik meningkat dari 5 (16,7%) menjadi 20 (66,7%) dan kategori kurang berkurang dari 9 (30%) menjadi 1 (3,3%). Rata-rata pengetahuan kader mengalami peningkatan dari 61 menjadi 82. Refreshing (pelatihan) efektif meningkatkan pengetahuan kader dalam pemantauan pertumbuhan balita dan pembuatan PMT mi beras hitam. Kata Kunci: Pelatihan, Kader, Posyandu, Stunting, Balita  ABSTRACT Posyandu is a basic health service for the community in detecting nutritional problems. The role of cadres is very much needed in assisting in monitoring the growth and development of toddlers. To increase cadres' knowledge and skills in carrying out anthropometric measurements, calculating age and plotting KMS as well as making PMT for Moringa black rice noodles. Community service activities were carried out at the Kupang Ministry of Health Polytechnic Nutrition Study Program by bringing in 30 Oesapa Community Health Center posyandu cadres in April-May 2024. The service activities carried out included: 1). Anthropometric measurement training (body weight, height, head circumference and upper arm circumference), 2). Training in plotting growth charts and calculating age, and 3). Training on making Moringa Black Rice Noodle PMT. After the training activities were carried out, the cadres' knowledge of the material provided increased as shown by the posttest score which showed that the knowledge of the good category cadres increased from 5 (16.7%) to 20 (66.7%) and the poor category decreased from 9 (30 %) to 1 (3.3%). The average knowledge of cadres has increased from 61 to 82. Refreshing (training) is effective in increasing cadres' knowledge in monitoring the growth of toddlers and making PMT black rice noodles.  Keywords: Training, Cadres, Posyandu, Stunting, Toddlers
EDUKASI GIZI DAN PELATIHAN PEMBUATAN KUDAPAN JAWADA “PADAZI (PADAT BERGIZI)” KEPADA IBU HAMIL DI KELURAHAN MANUTAPEN KOTA KUPANG Anak Agung Ayu Mirah Adi; Loaloka, Meirina S Loaloka; Pantaleon, Maria Goreti; Costa, Santa Luciana LDV da
Community Development Journal : Jurnal Pengabdian Masyarakat Vol. 6 No. 1 (2025): Volume 6 No. 1 Tahun 2025
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/cdj.v6i1.42465

Abstract

Masalah gizi kurang pada ibu hamil merupakan masalah kesehatan yang dapat menyebabkan kelahiran bayi berisiko berat badan lahir rendah dan panjang lahir pendek pemicu terjadinya stunting. Tujuan kegiatan: memberikan edukasi tentang gizi seimbang dalam upaya pencegahan KEK dan memberikan pelatihan pembuatan kudapan jawada (Padazi). Sasaran: kader posyandu dan ibu hamil di wilayah kerja Puskesmas Manutapen dengan total peserta 50 orang. Metode pengabdian yakni penyuluhan dan pelatihan. Hasil kegiatan: setelah diberikan edukasi dan pelatihan terjadi peningkatan pengetahuan tentang gizi seimbang bagi ibu hamil dan peningkatan ketrampilan mengolah bahan pangan lokal menjadi kudapan sehat,bergizi dengan tampilan menarik. Saran: agar kader posyandu dapat memberikan pendampingan kepada ibu hamil dalam pemenuhan kebutuhan gizi dan mengikutsertakan ibu hamil dalam setiap kegiatan yang bertujuan peningkatan pengetahuan dan keterampilanyang berkaitan dengan kesehatan dan gizi.
Pengaruh Pemberian Formula Tepung Tempe sebagai Bahan Substitusi pada Formula Enteral Rendah Lemak (Hospital Made) Terhadap Kadar Ldl dan Hdl Darah Tikus (Rattus Novergicus) dengan Diet Aterogenik Loaloka, Meirina S; Pantaleon, Maria Goreti
Nutriology : Jurnal Pangan, Gizi, Kesehatan Vol. 1 No. 1 (2020): April 2020
Publisher : Program Studi Gizi, Universitas Bumigora

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30812/nutriology.v1i1.731

Abstract

Tempe flour is one of food material that contains high protein biovability value and high potential in preventing coronary heart disease by decreasing the cholesterol content. Tempe has hypocholesterol effect that able to inhibit the cholesterol absorption. Beside that, tempe contains strong antioxidant that able to protect LDL oxidation. The research aimed at knowing the influence of tempe flour giving as substitution material at low fat enteral formula (hospital made) toward the increase of LDL content and the decrease of HDL content at male rate of wistar norvegiccus strain that given atherogenic diet. The research was laboratory experimental in nature with complete design with 4 repetition for each treatment stages. The measured variables included independent variables, that is enteral formula giving at hospital that consist of 6 treatment stages, that is (Po) Standard diet, (P1) Atherogenic diet, (P2) Standard Diet + Hospital Enteral Formula, (P3) Standard Diet + Enteral formula of Tempe Flour Substitution, (P4) Atherogenic diet + Hospital Enteral Formula, (P5) Atherogenic Diet + Enteral formula of Tempe Flour Substitution and the dependent variables were LDL and HDL. The results showed that the highest cholesterol serum content in average at treatment group without tempe flour giving (P4) was 199±8.14; while the lowest at the treatment with tempe flour giving (P3) was 18.2±6.65. The highest HDL cholesterol serum content in average was 78.9±2.18 while the lowest at treatment (P1) Atheroganic Diet was 26.5±3.57. The statistical test showed there was significant content differences between LDL and HDL at teach treatment (P =0.000). The body weight measurement of he initial sample from all treatment was homogenous (P = 0.052), then after the treatment finished produced different body weight average (P =0.000), where the difference at the treatment group with tempe flour. Each intake of nutrient (energy, protein, fat, and carbohydrate) at all treatments have differences, that is (P =0.000) The conclusion of the research was the tempe flour with atherogenic diet able to decrease the LDL oxidation that showed by the LDL cholesterol serum and the high HDL content. The giving of the flour able to prevent the LDL cholesterol serum content, prevent the HDL cholesterol serum decrease and able to inhibit the rat body weight significantly.