Claim Missing Document
Check
Articles

Evaluasi kinerja perawat di rumah sakit: A scoping review Rismayanti, Depi; Mediawati, Ati Surya; Somantri, Irman
Holistik Jurnal Kesehatan Vol. 19 No. 3 (2025): Volume 19 Nomor 3
Publisher : Program Studi Ilmu Keperawatan-fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/hjk.v19i3.903

Abstract

Background: Performance evaluation plays a crucial role in monitoring and assessing the activities of nurses over time. Optimal performance has the potential to positively impact individual work behaviors. However, the current nurse performance evaluation system is considered to be underperforming, and it has yet to deliver satisfactory results for clients in hospitals. Purpose: To identify the performance evaluation system implemented by the hospital in assessing nurse performance. Method: This review identified nursing performance evaluation through electronic searches using Scopus Q1 and Q2 indexed databases for articles published between 2020 and 2024. Of the 38 articles identified, the screening process resulted in 17 articles based on title and inclusion and exclusion criteria. After full-text due diligence, 7 articles remained ready for further review. Results: Identification shows various methods of performance evaluation, such as multi-source feedback, patient response, 360 degrees, website-based, and leadership evaluation. Each method has a positive impact, including the establishment of good relationships between professionals, improving the quality of service, and patient satisfaction. In addition, this method also increases nurses' self-confidence and supports nurses' health at work. All of this contributes to more effective decision making. Conclusion: Varied performance evaluation methods, such as multisource feedback, can enhance nurse performance when tailored to their competencies. Hospital management should develop evaluations that support work motivation without neglecting the health conditions of nurses.   Keywords: Evaluation; Hospitals; Nurse Performance.   Pendahuluan: Evaluasi kinerja memiliki peran yang sangat penting dalam memantau dan menilai aktivitas perawat dari waktu ke waktu. Kinerja yang optimal berpotensi memberikan dampak positif pada perilaku kerja individu. Namun, sistem evaluasi kinerja perawat saat ini dianggap belum berjalan maksimal, sehingga belum mampu memberikan hasil yang memuaskan bagi klien di rumah sakit. Tujuan: Untuk mengidentifikasi sistem evaluasi kinerja yang diterapkan oleh rumah sakit dalam menilai kinerja perawat. Metode: Tinjauan ini mengidentifikasi evaluasi kinerja perawat melalui penelusuran elektronik menggunakan database yang terindeks Scopus Q1 dan Q2 untuk artikel yang diterbitkan antara tahun 2020-2024. Dari 38 artikel yang diidentifikasi, proses penyaringan menghasilkan 17 artikel berdasarkan judul serta kriteria inklusi dan eksklusi. Setelah uji kelayakan pada teks lengkap, tersisa 7 artikel yang siap untuk ditinjau lebih lanjut. Hasil: Identifikasi menunjukkan adanya berbagai metode evaluasi kinerja, seperti umpan balik multi sumber, respon pasien, 360 derajat, berbasis website, dan evaluasi pimpinan. Setiap metode memberikan dampak positif, termasuk terjalinnya hubungan yang baik antar profesional, peningkatan kualitas pelayanan, serta kepuasan pasien. Selain itu, metode ini juga meningkatkan kepercayaan diri perawat dan mendukung kesehatan perawat dalam bekerja. Semua ini berkontribusi pada pengambilan keputusan yang lebih efektif. Simpulan: Metode evaluasi kinerja yang variatif seperti multisumber dapat meningkatkan kinerja perawat dengan disesuaikan pada kompetensinya. Manajemen rumah sakit perlu mengembangkan evaluasi yang mendukung motivasi kerja tanpa mengabaikan kondisi kesehatan perawat.   Kata Kunci: Evaluasi; Kinerja Perawat; Rumah Sakit.
KUALITAS KEHIDUPAN KERJA PERAWAT CRITICAL CARE NURSING DI RSUD KOTA BANDUNG Triesna, Meuthia Saulikha; Somantri, Irman; Nugraha, Bambang Aditya
SENTRI: Jurnal Riset Ilmiah Vol. 3 No. 3 (2024): SENTRI : Jurnal Riset Ilmiah, Maret 2024
Publisher : LPPM Institut Pendidikan Nusantara Global

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55681/sentri.v3i3.2434

Abstract

Perawat di instalasi gawat darurat dan unit perawatan intensif memiliki beban kerja yang berat dan dituntut untuk memberikan pelayanan cepat serta tepat, sehingga berisiko menimbulkan permasalahan seperti stres kerja, burnout, sampai dengan turnover. Hal tersebut berdampak kualitas kehidupan kerjanya yang merupakan hal penting untuk meningkatkan produktivitas, menurunkan stres kerja, kelelahan kerja, serta meningkatkan kepuasan kerja. Tujuan penelitian mengidentifikasi kualitas kehidupan kerja pada perawat Critical Care Nursing di RSUD Kota Bandung. Metode menggunakan desain deskriptif kuantitatif, sebanyak 42 orang sampel dipilih menggunakan metode total sampling perawat IGD dan ICU di RSUD Kota Bandung. Analisis univariat disajikan menggunakan distribusi frekuensi. Hasil penelitian menunjukkan nilai rerata kualitas kehidupan kerja perawat IGD sebesar 188,70 (SD 26,643) dan ICU sebesar 186,77 (SD 24,491) atau berada diatas standar rerata sebesar 150, yang berarti sudah berada dalam kondisi sejahtera, mencakup semua dimensi meliputi work environment, relation with manager, work conditions, job perseptions, serta support service. Kualitas kehidupan kerja perawat dapat menjadi acuan dalam mengembangkan strategi untuk mempertahankan serta meningkatkan aspek yang belum sepenuhnya optimal berfokus pada pengadaan program pelatihan, penyesuaian jumlah perawat dengan beban kerja, dan sistem remunerasi lebih baik bagi perawat. Namun, analisis lanjutan diperlukan untuk mengidentifikasi faktor kualitas kehidupan kerja pada perawat Critical Care Nursing.
PENGELOLAAN INTERVENSI KEPERAWATAN PENGGUNAAN MINYAK ZAITUN PADA PASIEN GANGGUAN INTEGRITAS KULIT DENGAN DIAGNOSA MYASTHENIA GRAVIS Ihsan, Riza Nurul; Mediawati, Ati Surya; Somantri, Irman
SINERGI : Jurnal Riset Ilmiah Vol. 1 No. 3 (2024): SINERGI : Jurnal Riset Ilmiah, Maret 2024
Publisher : Lembaga Pendidikan dan Penelitian Manggala Institute

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62335/97gq0559

Abstract

Latar belakang: Pasien dengan kondisi Myastenic crisis memiliki resiko tinggi mengalami luka tekan yang disebabkan adanya penurunan fungsi otot, berkurangnya mobilitas dan nutrisi yang kurang akibat dampak dari penyakit. Selain meyebabkan lamanya proses penyembuhan, lamanya perawatan mempengaruhi kondisi psikologis pasien dan keluarga. salah satu intervensi yang dapat diberikan adalah penggunaan minyak zaitun, sebagai cairan anti-inflamasi dan dapat mempercepat penyembuhan luka. Namun intervensi yang diberikan tidak lepas dari pendekatan yang dilakukan pada pasien terutama jika pasiennya memiliki trust issues pada tenaga kesehatan. Pembahasan : Pasien Myastenic crisis mengalami suatu kondisi melemahnya fungsi otot sehingga berpengaruh pada pernapasan melemah atau bahkan kelumpuhan otot menyebabkan penderitanya mengalami sesak napas dan penurunan kesadaran. Berdasarkan hasil pengkajian dan observasi, diagnosa manajemen keperawatan pada kasus yaitu kurangnya keterlibatan pasien dalam perencanaan perawatan pencegahan terjadinya luka tekan terhadap Tn. A, dengan rencana intervensi; meningkatkan pengetahuan keluarga terkait pencegahan terjadinya luka tekan berdasarkan prinsip teoritis hasil pencarian EBP mengenai pegaruh minyak zaitun terhadap luka tekan. Kesimpulan: Implementasi yang dilakukan yaitu, mengimplementasikan intervensi sesuai EBP yang telah didapat terapi non farmakologi pencegahan luka tekan dengan minyak zaitun, minyak zaitun terbukti sangat efektif dalam merawat pasien yang harus tirah baring dalam jangka waktu yang lama untuk mencegah timbulnya ulkus dekubitus.
Workload Measurement Models In Hospital: Literature Review Susilawati, Yeni; Komariah, Maria; Somantri, Irman
Journal Research of Social Science, Economics, and Management Vol. 2 No. 6 (2023): Journal Research of Social Science, Economics, and Management
Publisher : Publikasi Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59141/jrssem.v2i06.357

Abstract

Nurse workload is all activities, activities, actions taken by a nurse while the nurse is on duty in a hospital service unit. The purpose of this literature is to identify which method is more effective and efficient to measure the workload of nurses. Article review was carried out through several electronic databases including Google Scholar, Google Scholar, Pubmed with the keyword "nurse workload", inclusion criteria included articles published between 2015 and 2022, full text in both English and Indonesian. A literature search found 72 articles, then 51 articles were removed according to the exclusion criteria, so that only 8 articles were identified. The results of the literature study show that the WISN method is most often used to determine the workload of health workers, not only nurses. made by several people including Richa Noprianty et al, 2020 with the topic Analysis of Nurses Staff Needs Using Workload Indicate Staff Need in Pediatric Ward with Time Motion Study, Taufique Joarder et al, 2020 with the topic Assessment of staffing needs for physicians and nurses at Upazila health complexes in Bangladesh using WHO workload indicators of staffing need (WISN) method and Angélica Araújo de Menezes et al,  2022 with the topic Application of the workload indicators of staffing need method to calculate the size of the medical staff at a maternity hospital in the state of Bahia, Brazil. But beyond that, it doesn't mean that other methods are ineffective, because each method has its own advantages and disadvantages, it's up to the researchers or the hospital to choose which method to use.
Efforts to Improve Knowledge in Formulating Nursing Diagnoses through Mini Seminar Training Somantri, Irman; Ibrahim, Kusman; Mediawati, Ati Surya; Ramoo, Vimala; Yudianto, Kurniawan
Media Karya Kesehatan Vol 8, No 2 (2025): Media Karya Kesehatan
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/mkk.v8i2.66835

Abstract

Nursing professional organizations in Indonesia have established standardized guidelines for nursing documentation. However, the formulation of nursing diagnoses is still carried out as a routine activity by nursing teams, resulting in cases where diagnoses are not established according to proper standards. This community service program aimed to improve nurses’ understanding of nursing diagnosis formulation in accordance with Indonesian standards. The activity was implemented using a mini-seminar method involving 30 participants from two hospitals in the Bandung area. It was part of an activity based on Kemmis and McTaggart’s theory. In the preliminary phase, evaluation was conducted using a knowledge scale measurement and documentation observation to assess the number of nursing diagnoses implemented. The results showed an improvement in nurses’ ability to formulate nursing diagnoses, marked by an increase in understanding from only 10% before the activity to 83.33% after, with a p-value <0.001. In addition, the average number of nursing diagnosis labels increased from two to five per nurse. These findings indicate that the mini-seminar method is effective in enhancing nurses’ ability to formulate nursing diagnoses in accordance with established standards. Keywords: Nursing diagnosis, partisipatory research.
Burnout Akademik Mahasiswa Keperawatan Tingkat Akhir dalam Konteks Pendidikan Tinggi: Scoping Review Faktor Risiko dan Protektif Pamela Utami; Irman Somantri; Siti Ulfah Rifa’atul Fitri
Jurnal Ners Vol. 10 No. 1 (2026): JANUARI 2026
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jn.v10i1.51882

Abstract

Burnout akademik merupakan masalah yang sering dialami mahasiswa keperawatan tingkat akhir akibat tingginya tuntutan akademik dan praktik klinik, yang berdampak pada performa belajar, kesehatan mental, dan kesiapan profesional. Penelitian ini bertujuan memetakan gambaran burnout akademik serta faktor yang memengaruhinya pada mahasiswa keperawatan tingkat akhir melalui scoping review. Metode yang digunakan mengacu pada kerangka Population, Concept, Context (PCC) dan panduan PRISMA 2020. Pencarian literatur dilakukan pada basis data Scopus, ProQuest, ScienceDirect, Springer, dan Google Scholar terhadap artikel primer tahun 2020–2025, dan diperoleh 14 artikel yang dianalisis secara naratif. Hasil menunjukkan bahwa burnout akademik berada pada tingkat sedang hingga tinggi, dengan kelelahan emosional sebagai dimensi paling dominan, diikuti sinisme akademik dan penurunan efikasi akademik. Faktor risiko utama meliputi beban akademik dan klinik yang tinggi, stres psikologis, serta rendahnya efikasi diri dan dukungan sosial. Sebaliknya, psychological capital dan identitas profesional yang kuat berperan sebagai faktor protektif. Kebaruan penelitian ini terletak pada pemetaan lintas negara yang mengintegrasikan faktor individual, akademik, dan institusional dalam menjelaskan burnout akademik mahasiswa keperawatan tingkat akhir. Temuan ini menegaskan perlunya intervensi kurikulum dan promosi kesehatan mental berbasis institusi.
Strategi Implementasi Standar Diagnosis, Intervensi, Luaran Keperawatan Indonesia terhadap Perawat di Rumah Sakit: Scoping Review Umboh Morenita Jeanifer; Ati Surya Mediawati; Irman Somantri
Jurnal Kepemimpinan dan Manajemen Keperawatan Vol. 6 No. 1 (2023)
Publisher : Persatuan Perawat Nasional Indonesia Jawa Tengah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32584/jkmk.v6i1.2152

Abstract

Standarisasi informasi kesehatan sangat penting untuk digunakan dan dibagikan oleh penyedia layanan, pembuat kebijakan, konsumen dan lainnya. Standar Bahasa keperawatan banyak yang diakui dan digunakan secara internasional, Namun standar tersebut belum memenuhi perbedaan karakterisitik dan budaya Indonesia. Tujuan studi ini untuk mengeksplorasi strategi implementasi Diagnosis, Intervensi dan Luaran Keperawatan Indonesia terhadap perawat di Rumah sakit. Metode penelitian ini dengan pendekatan scoping review menggunakan kerangka Arksey dan O’Malley dengan kata kunci dalam pencarian artikel yaitu Nurse, Nurses, Nursing, Indonesian Nursing Diagnosis Standards, Indonesian Nursing Intervention standards, Indonesian Nursing Outcomes Standards, Indonesian Nursing Diagnosis Intervention Outcomes Standards, SDKI SLKI SIKI, Standard Nursing Language, Standard nursing terminology, Nursing terminology, Ward, Inpatient and Hospital. Hasil penelitian ditemukan 13 artikel yang menggambarkan strategi implementasi standar diagnosis, intervensi dan luaran keperawatan Indonesia terhadap perawat di rumah sakit yaitu Program edukasi, Diskusi studi kasus, Pendampingan menggunakan instrumen,  Demonstrasi, Observasi, Inovasi dan Role Play. Simpulan implementasi Program edukasi, Diskusi studi kasus, Pendampingan menggunakan instrumen, Demonstrasi, Observasi, Inovasi dan Role Play dapat meningkatkan praktik keperawatan dan keselaamtan pasien dengan menggunakan standar keperawatan Indonesia di Rumah Sakit.
Implementation of the Wim Hof Therapy in Airway Management and Nursing Education for Respiratory Clinical Symptoms Denisa Adella; Irman Somantri; Ati Surya Mediawati
Journal of Multidisciplinary Research Vol. 2 No. 3 (2026): April
Publisher : Utami Publisher

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.70963/jmr.v2i3.559

Abstract

Airway disorders are common clinical issues among patients with chronic respiratory diseases such as pulmonary tuberculosis, often resulting in ineffective breathing patterns, decreased oxygen saturation, and persistent cough. Nurses play a critical role in airway management, not only through pharmacological therapy but also through non-pharmacological, education-based interventions. One potential method for improving respiratory function is the Wim Hof technique.This study employed a descriptive case study design using the 3M management approach (Man, Material, Method) and the POAC management functions (Planning, Organizing, Actuating, Controlling). The intervention consisted of Wim Hof breathing exercises administered to one pulmonary tuberculosis patient for three consecutive days at a frequency of twice daily. Parameters measured included respiratory rate, oxygen saturation, cough frequency, and sleep quality.Results demonstrated a reduction in respiratory rate from 27x/minute to 20x/minute, a decrease in cough frequency by up to 50%, and an improvement in oxygen saturation from 99% with 5 L/min supplemental oxygen to 97% on room air. Furthermore, the patient’s sleep quality improved, and family engagement in care increased significantly.The implementation of the Wim Hof technique yielded positive effects on respiratory function through enhanced alveolar ventilation, stabilization of oxygenation, and reduced work of breathing. The combined application of the 3M and POAC frameworks strengthened the effectiveness of the intervention by reinforcing the roles of nurses and family members. Wim Hof breathing therapy is effective as part of airway management interventions for nursing diagnoses of ineffective breathing pattern, ineffective airway clearance, and impaired gas exchange.
Gambaran Tingkat Anticipatory Grief pada Caregiver yang Memiliki Anak Pengidap Kanker Sarah Angelique Mutiaraku Sitorus; Irman Somantri; Efri Widianti
MAHESA : Malahayati Health Student Journal Vol 6, No 1 (2026): Volume 6 Nomor 1 (2026)
Publisher : Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/mahesa.v6i1.20164

Abstract

ABSTRACT Caregivers are individuals who play a crucial role in caring for children with cancer, facing emotional burdens such as anxiety over the potential loss of their child. This study aims to describe the level of anticipatory grief among caregivers of children with cancer. This research uses a descriptive quantitative method. The sample consists of 47caregivers selected using the accidental sampling technique. Data were collected using the Marwit-Meuser CaregiverGrief Inventory Short Form (MM-CGI SF), which contains 18 validated items with a Cronbach's alpha reliability score of 0.90. The results showed that the majority of caregivers had a normal level of anticipatory grief (76.6%), while 14.9% had a high level and 8.5% had a low level. In the dimension of personal sacrifice burden, 21.3% of caregivers were at a high level. The heartfelt sadness and longing dimension showed 14.9% at a high level, while the worry and felt isolation dimension indicated 19.1% at a high level. This study concludes that most caregivers experience anticipatory grief at a normal level, although a small portion exhibit high levels, particularly in the dimensions of personal sacrifice burden and feelings of isolation. Therefore, greater attention and psychosocial interventions are needed to help caregivers manage anticipatory grief effectively. Keywords: Anticipatory Grief, Caregiver, Children With Cancer.  ABSTRAK Caregiver adalah individu yang berada di garda terdepan dalam merawat anak dengan kanker, menghadapi tantangan emosional seperti kecemasan akan ancaman kematian anak yang mereka rawat. Kondisi ini mendorong munculnya anticipatory grief, yaitu perasaan duka yang timbul sebelum kehilangan terjadi. Penelitian bertujuan untuk mendeskripsikan tingkat anticipatory grief caregiver yang memiliki anak pengidap kanker. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kuantitatif. Sampel diambil menggunakan teknik accidental sampling sebanyak 47 caregiver. Data dikumpulkan dengan kuesioner Marwit-Meuser Caregiver Grief Inventory Short Form (MM-CGI SF) berisi 18 item yang sudah ditanyakan valid dan nilai reliabilitas alpha cronbach 0.90. Hasil penelitian menunjukkan bahwa mayoritas caregiver berada pada tingkat anticipatory grief normal (76,6%), sementara 14,9% berada pada tingkat tinggi, dan 8,5% berada pada tingkat rendah. Pada dimensi personal sacrifice burden, 21,3% caregiver berada pada tingkat tinggi. Dimensi heartfelt sadness and longing menunjukkan 14,9% pada tingkat tinggi, sedangkan dimensi worry and felt isolation menunjukkan 19,1% pada tingkat tinggi. Penelitian ini menyimpulkan bahwa sebagian besar caregivermemiliki anticipatory grief pada tingkat normal, meskipun terdapat sebagian kecil yang mengalami anticipatory grieftinggi, terutama pada dimensi beban pengorbanan pribadi dan perasaan terisolasi. Oleh karena itu, diperlukan perhatian lebih dan intervensi psikososial untuk membantu caregiver mengelola anticipatory grief dengan baik. Kata Kunci: Anticipatory Grief, Anak Dengan Kanker, Caregiver.
Gambaran Kualitas Tidur Nelayan di Pantai Pangandaran Shintya Furi Hastuti; Irman Somantri; Setiawan Setiawan
Malahayati Nursing Journal Vol 8, No 7 (2026): Volume 8 Nomor 7 (2026)
Publisher : Universitas Malahayati Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/mnj.v8i7.25292

Abstract

ABSTRACT Sleep quality is an important factor in maintaining health and occupational safety, particularly among workers with high physical demands and irregular work patterns such as fishermen. Fishermen often experience intensive physical activity, exposure to marine environmental conditions, and work patterns that may affect rest time. In fishing communities with a one-day fishing system, fishing activities are conducted almost daily with relatively short sailing durations, which may influence sleep patterns. However, studies specifically describing sleep quality among fishermen with this work pattern remain limited. This study aims to describe the sleep quality of fishermen in Pangandaran Beach using the Pittsburgh Sleep Quality Index (PSQI) instrument along with its components. This study employed a quantitative descriptive design with fishermen in Pangandaran Beach as the study population. A total of 126 respondents were selected using simple random sampling. Sleep quality was measured using the Indonesian version of the PSQI and analyzed descriptively. The results showed that most respondents had poor sleep quality, accounting for 117 individuals (92.9%), while only 9 respondents (7.1%) had good sleep quality. However, most respondents subjectively perceived their sleep quality as fairly good. The respondents’ sleep patterns were characterized by relatively short sleep latency and adequate sleep efficiency, but with short sleep duration. Commonly reported sleep disturbances included body pain, waking up at night, nocturia and daytime sleepiness during daily activities. These findings indicate that most fishermen in Pangandaran have suboptimal sleep quality, which may affect their health and alertness at work. Keywords: Sleep, Sleep Quality, Fishermen.  ABSTRAK Kualitas tidur merupakan aspek penting dalam menjaga kesehatan dan keselamatan kerja, terutama pada pekerja dengan tuntutan fisik tinggi dan pola kerja tidak teratur seperti nelayan. Nelayan sering menghadapi aktivitas fisik intensif, kondisi lingkungan laut, serta pola kerja yang dapat memengaruhi waktu istirahat. Pada komunitas nelayan dengan sistem one-day fishing, aktivitas melaut dilakukan hampir setiap hari dengan durasi pelayaran yang relatif singkat sehingga berpotensi memengaruhi pola tidur. Namun, penelitian yang secara khusus menggambarkan kualitas tidur pada nelayan dengan pola kerja tersebut masih terbatas. Penelitian ini bertujuan untuk menggambarkan kualitas tidur nelayan di Pantai Pangandaran menggunakan instrumen Pittsburgh Sleep Quality Index (PSQI) beserta komponennya. Penelitian ini menggunakan desain deskriptif kuantitatif dengan populasi nelayan di Pantai Pangandaran. Sampel penelitian berjumlah 126 responden yang dipilih menggunakan teknik simple random sampling. Kualitas tidur diukur menggunakan PSQI versi Bahasa Indonesia dan dianalisis secara deskriptif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar responden memiliki kualitas tidur buruk yaitu 117 orang (92,9%), sedangkan kualitas tidur baik sebanyak 9 orang (7,1%). Meskipun demikian, sebagian besar responden menilai kualitas tidurnya cukup baik secara subjektif. Pola tidur responden ditandai dengan latensi tidur yang relatif cepat dan efisiensi tidur yang cukup baik, namun dengan durasi tidur yang pendek. Gangguan tidur yang sering dilaporkan meliputi nyeri tubuh, terbangun pada malam hari serta keinginan buang air kecil pada malam hari, dan sebagian responden juga melaporkan rasa kantuk saat beraktivitas pada siang hari. Temuan ini menunjukkan bahwa sebagian besar nelayan di Pantai Pangandaran memiliki kualitas tidur yang kurang optimal yang berpotensi memengaruhi kesehatan serta kewaspadaan saat bekerja. Kata Kunci: Tidur, Kualitas Tidur, Nelayan.