Claim Missing Document
Check
Articles

Found 20 Documents
Search

Makna Lirik Sawer Sunda (Sawer Penganten) Rajah Sawer Penganten Pada Acara Pernikahan Adat Suku Sunda Manalu, Erika; Torang Naiborhu; Vanesia Amelia Semayang
Jurnal Mebang: Kajian Budaya Musik dan Pendidikan Musik Vol. 5 No. 2 (2025)
Publisher : Program Studi Etnomusikologi, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Mulawarman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30872/mebang.v5i2.213

Abstract

Sawer Penganten (Sundanese Sawer) is a cultural practice of the Sundanese people. The Sundanese tribe, originally from Java, migrated to Medan, a city characterized by its ethnic diversity. This diversity enriches the cultural landscape of Medan. This research explores the significance of the lyrics of Sawer Sunda (Sawer Penganten) within the context of wedding ceremonies in Medan. The primary focus of this study is to analyse the meaning of the Sawer Sunda lyrics (Sawer Penganten) in this urban setting. To conduct this analysis, the author employs Ferdinand de Saussure's theory. A qualitative research methodology is utilized to gather and collect data. Qualitative research is fundamentally naturalistic, as described by Dr. H. Zuchri Abdussammad, and is conducted in the field. The author undertook observations, interviews, and captured photographs or videos for data collection purposes. The findings of this study indicate that Sawer Sunda (Sawer Penganten) is a significant wedding custom among the Sundanese, serving as a means for parents to impart their advice to the bride and groom. The Sundanese events held in Medan maintain the philosophical values inherent to the Sundanese tribe's region of origin.  
Mewujudkan Pariwisata Berkelanjutan Melalui Pendekatan Partisipatif: Studi Kasus di Pemandian Alam Namu Sira-Sira pardosi, jhonson; Naiborhu, Torang; Sinulingga, Samerdanta; Pardosi, Yehezkiel Lantula
Jurnal Pemberdayaan Masyarakat Vol 13, No 2 (2025): Jurnal Pemberdayaan Masyarakat
Publisher : Program Studi Pengembangan Masyarakat Islam

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37064/jpm.v13i2.25911

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan pemahaman dan partisipasi masyarakat lokal dalam pengelolaan pariwisata berkelanjutan di Desa Durian Lingga, Kabupaten Langkat, Sumatera Utara. Desa ini memiliki potensi alam yang besar, terutama Pemandian Alam Namu Sira-Sira, namun menghadapi kendala seperti infrastruktur jalan yang terbatas dan kurangnya fasilitas pendukung. Selain itu, pemahaman masyarakat mengenai pariwisata berkelanjutan masih minim. Menggunakan metodologi penelitian tindakan masyarakat, yang melibatkan 20 responden lokal , program ini menerapkan siklus berulang yang terdiri dari perencanaan, tindakan, observasi, dan refleksi. Intervensi utama mencakup serangkaian kegiatan edukatif dan praktis, dimulai dengan ceramah oleh ahli pariwisata mengenai konsep sadar wisata dan kebersihan. Hasilnya, terjadi peningkatan pemahaman yang signifikan, terbukti dari perbandingan skor pre-test dan post-test peserta yang menunjukkan peningkatan rata-rata sebesar 15 poin. Program ini berhasil mengimplementasikan berbagai inisiatif nyata, seperti pembentukan "Pojok Literasi Lingkungan" yang menyediakan materi edukasi tentang pengelolaan sampah, konservasi, dan pariwisata berkelanjutan. Selain itu, kegiatan penanaman 50 pohon, termasuk pohon buah-buahan, berhasil dilakukan di sekitar pemandian untuk mendukung pemulihan ekosistem dan menciptakan lingkungan yang lebih sejuk. Untuk meningkatkan profesionalisme pengelolaan, dibentuklah tim pengelola wisata yang melibatkan perwakilan masyarakat, pengelola, dan dosen dari Universitas Sumatera Utara (USU) sebagai dewan ahli. Tim ini kemudian menyusun dan menerapkan Standard Operating Procedures (SOP) yang mencakup pengelolaan lingkungan, pelayanan pengunjung, dan promosi. Melalui penyuluhan, masyarakat dan pengelola dilatih untuk memahami dan melaksanakan SOP ini, yang meningkatkan kapasitas mereka dalam menjalankan pariwisata secara sistematis. Program ini juga memberikan dukungan berupa fasilitas seperti buku literasi, alat kebersihan (sapu lidi, serokan, tempat sampah), dan bibit tanaman untuk menunjang upaya pelestarian lingkungan. Secara keseluruhan, penelitian ini menyimpulkan bahwa pendekatan kolaboratif yang terstruktur berhasil memberdayakan masyarakat lokal untuk mengelola pariwisata secara berkelanjutan, yang tidak hanya memberikan manfaat ekonomi, tetapi juga menjaga kelestarian alam dan budaya setempat
Analisis Fungsi dan Makna Nyanyian Rohani Batak Toba dalam Dua Konteks Ibadah Kristen di Medan Simamora, Samaria; Naiborhu, Torang; Fadlin, Fadlin
Jurnal Pendidikan dan Penciptaan Seni Vol 5, No 2 (2025): Jurnal Pendidikan dan Penciptaan Seni - November
Publisher : Mahesa Research Center

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.34007/jipsi.v5i2.1008

Abstract

This research aims to describe and analyze the function of Batak Toba sacred songs in the Charismatic worship of GBI Mawar Saron, Simalingkar B, and in the worship of HKBP Pardomuan, Simalingkar B, Medan. It also seeks to identify and compare the meanings contained in Batak Toba sacred songs within Charismatic and HKBP traditional worship, as well as to examine how the functions and meanings of these songs transform when used in different worship contexts. The researcher employs a qualitative-descriptive approach using observation, interviews, and documentation conducted directly at the selected research sites. The theoretical framework applied in this study includes Alan P. Merriam’s theory of the functions of music and Jean-Jacques Nattiez’s musical meaning analysis. The findings indicate that there are significant changes in musical style, song presentation, and worship structure, revealing differences in the liturgical and expressive functions between the two churches. Nevertheless, Batak Toba sacred songs continue to serve as a medium of spiritual unity and cultural identity among the congregations. Through this study, the researcher hopes to contribute to the field of ethnomusicology and enhance cross-traditional understanding within the practice of Christianity in Indonesia.
Tipologi Praktik Ermuro pada Masyarakat Karo : Dinamika Tradisi Lisan Agraris dan Modernisasi: Penelitian Yosua Saputra Ginting; Torang Naiborhu; Yoe Anto Ginting
Jurnal Pengabdian Masyarakat dan Riset Pendidikan Vol. 4 No. 4 (2026): Jurnal Pengabdian Masyarakat dan Riset Pendidikan Volume 4 Nomor 4 April - Juni
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jerkin.v4i4.5960

Abstract

Modernisasi pertanian dan perubahan ekologi di lahan persawahan sering kali memicu pergeseran fungsi pada tradisi lisan agraris. Penelitian ini menelaah dinamika perubahan tradisi Ermuro (menjaga padi) pada masyarakat Karo yang kini mengalami divergensi praktik akibat desakan efisiensi dan teknologi. Tujuan penelitian ini adalah untuk memetakan tipologi variasi pelaksanaan Ermuro sekaligus menganalisis transformasi nilai yang melatarbelakanginya. Menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan studi kasus komparatif di Kabupaten Deli Serdang, penelitian ini mengidentifikasi empat tipologi praktik yang berbeda secara signifikan. Pertama, Tipologi Spiritual-Katarsis, di mana nyanyian dipertahankan sebagai mekanisme doa dan terapi psikologis oleh perempuan lansia. Kedua, Tipologi Pragmatis-Domestik, yang dijalankan oleh laki-laki dengan orientasi pada afirmasi peran pencari nafkah dan produktivitas hasil. Ketiga, Tipologi Reduksi Performatif, yang ditandai dengan hilangnya elemen estetika musikal dan hanya menyisakan teriakan fungsional. Keempat, Tipologi Substitusi Teknologi, yakni penggantian agensi vokal manusia dengan perangkat audio mekanis yang memicu alienasi budaya. Temuan ini menyimpulkan bahwa tradisi Ermuro sedang mengalami gradasi fungsi yang drastis, bergerak dari aktivitas kontemplatif yang intim menuju aktivitas teknis yang bersifat mekanis
Taur-taur Bahtonang Dalam Tradisi Simalungun: Nyanyian Ungkapan Perasaan Dan Permohonan Berkat July Arta Kristin; Torang Naiborhu; Sapna Sitopu
Jurnal Pendidikan dan Penciptaan Seni Vol 6, No 1 (2026): Jurnal Pendidikan dan Penciptaan Seni - Mei
Publisher : Mahesa Research Center

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.34007/jipsi.v6i1.1074

Abstract

Taur-taur Bahtonang adalah salah satu nyanyian rakyat Simalungun yang berfungsi sebagai bentuk media pengungkapan perasaan penyanyi. Dalam penelitian ini, penulis mengkaji salah satu lagu rakyat Simalungun yang dibawakan oleh Sapna Aria Sitopu. Tujuan utama penelitian adalah untuk menganalisis makna tekstual dan unsur-unsur musikologis yang terkandung dalam lagu tersebut, serta teknik bernyanyi. Untuk mendukung kajian ini, penulis menggunakan teori dari Roland Barthes dan William P. Malm. Penelitian dilakukan dengan metode kualitatif melalui observasi langsung, wawancara, serta dokumentasi dalam bentuk rekaman. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Taur-taur Bahtonang yang dipopulerkan Sapna Aria Sitopu banyak mengandung unsur doa, harapan dan menonjolkan ciri khas vokal tradisional Simalungun yang dikenal sebagai inggou.
Teknik Pembuatan Sarune Silahisabungan oleh Hery Sipangkar Arisando Silitonga; Torang Naiborhu; Vanesia Amelia Sebayang
Jurnal Pendidikan dan Penciptaan Seni Vol 6, No 1 (2026): Jurnal Pendidikan dan Penciptaan Seni - Mei
Publisher : Mahesa Research Center

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.34007/jipsi.v6i1.985

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan teknik pembuatan Sarune Silahisabungan oleh Hery Sipangkar serta menganalisis fungsi musikalnya dalam konteks budaya masyarakat Silahisabungan. Metode yang digunakan adalah deskriptif kualitatif melalui observasi langsung, wawancara mendalam, dan dokumentasi, dengan Hery Sipangkar sebagai narasumber utama sekaligus pengrajin instrumen. Hasil penelitian menunjukkan bahwa proses pembuatan Sarune Silahisabungan dilakukan secara teliti melalui beberapa tahap, meliputi pemilihan bahan utama berupa kayu jior, tanduk kerbau, tempurung kelapa, kuningan, dan alumunium. Selanjutnya, bahan-bahan tersebut dikonstruksi menjadi bagian-bagian utama instrumen seperti ipit-ipit, uttam-uttam, tukko, porda, dan angar-angar sebelum melalui proses pelarasan. Dari segi fungsi, Sarune Silahisabungan memiliki peran penting dalam ensambel Gondang Sitolupulutolu yang digunakan pada berbagai upacara adat. Instrumen ini tidak hanya berfungsi sebagai pengiring musik, tetapi juga sebagai sar
Makna Teks Nyanyian Liturgis Chanting Passio di Gereja Katolik Kabanjahe Resdina Juita Aritonang; Torang Naiborhu; Hubari Gulo
Jurnal Pendidikan dan Penciptaan Seni Vol 6, No 1 (2026): Jurnal Pendidikan dan Penciptaan Seni - Mei
Publisher : Mahesa Research Center

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.34007/jipsi.v6i1.934

Abstract

Penelitian ini mengkaji Tentang Tujuan penelitian ini antara lain untuk (1) Mendeskripsikan jalannya ibadah Jumat Agung di Gereja Katolik Santa Perawan Maria Kabanjahe, (2) Menganalisis makna teks. Bagi Gereja Katolik nyanyian ini merupakan sebuah nyanyian yang ikonik karena dibawakan setiap perayaan Jumat Agung. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis jalannya ibadah Jumat Agung menggunakan teori Upacara Keagamaan Koentjaraningrat makna teks nyanyian Chanting Passio menggunakan teori Analisis Makna Teks oleh Ferdinan de Sausere dan teori Analisis Struktur Melodi oleh Bruno Nettl untuk menganalisis struktur melodi lagu Chanting Passio di Paroki Santa Perawan Maria. Dengan menggunakan metode penelitian kualitatif melalui pengamatan, wawancara, serta merekam dalam format audio dan video. Hasil dari penelitian ini menunjukkan  bahwa Penyajian ibadah Jumat Agung di Gereja Katolik Kabanjahe dilaksanakan dengan khidmat dan sederhana. Pada saat ibadah, pelantunan Chanting Passio merupakan liturgi inti yang menceritakan Kisah Sengsara Yesus Kristus. Berfungsi sebagai media yang menghantar umat untuk masuk dalam penderitaan Yesus Kristus. Selain itu, lagu-lagu yang dinyanyikan dalam kebaktian menunjukkan makna teks dan struktur melodi, yang secara musikal mendukung suasana duka dalam ibadah. Hal ini menunjukkan perpaduan harmonis antara nilai keagamaan dan budaya dalam kehidupan umat Katolik.
Eksistensi Musik Tiup Pada Masyarakat Batak Toba di Kecamatan Dolok Sanggul, Kabupaten Humbang Hasundutan Ervandi Noel Situmorang; Torang Naiborhu; Sapna Sitopu
Jurnal Pendidikan dan Penciptaan Seni Vol 6, No 1 (2026): Jurnal Pendidikan dan Penciptaan Seni - Mei
Publisher : Mahesa Research Center

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.34007/jipsi.v6i1.1006

Abstract

Penelitian ini mengkaji tentang eksistensi musik tiup pada masyarakat Batak Toba di Kecamatan Dolok Sanggul pada konteks upacara adat. Tujuan penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan perkembangan dan eksistensi musik tiup pada upacara adat. Dengan pendekatan kualitatif, yang melibatkan observasi, wawancara dan dokumentasi dan studi kepustakaan, penelitian menunjukkan bahwa musik tiup saat ini menjadi bagian tidak terpisahkan dalam upacara adat di Dolok Sanggul dan selain mempengaruhi gaya musik sebelumnya, kehadirannya juga memberikan pandangan baru masyarakat terhadap budaya musik sebagai pengiring upacara adat.
Peningkatan Literasi Budaya Melalui Pembelajaran Dan Praktik Aksara Batak Toba Dan Angkola Bagi Siswa Sekolah Menengah Ramlan Damanik; Warisman Sinaga; Asriaty R Purba; Rozanna Mulyani; Torang Naiborhu
Future Academia : The Journal of Multidisciplinary Research on Scientific and Advanced Vol. 4 No. 2 (2026): Future Academia : The Journal of Multidisciplinary Research on Scientific and A
Publisher : Yayasan Sagita Akademia Maju

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61579/future.v4i2.921

Abstract

Literasi budaya merupakan salah satu kompetensi penting yang perlu dikembangkan dalam pendidikan untuk memperkuat identitas budaya generasi muda di tengah arus globalisasi. Salah satu bentuk literasi budaya yang perlu dilestarikan adalah kemampuan mengenal dan menggunakan aksara daerah sebagai warisan budaya bangsa. Aksara Batak Toba dan Angkola merupakan bagian dari kekayaan budaya masyarakat Batak yang memiliki nilai historis, linguistik, dan filosofis yang tinggi. Namun, perkembangan teknologi dan dominasi penggunaan aksara Latin menyebabkan pengetahuan siswa terhadap aksara Batak semakin menurun. Kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) ini bertujuan meningkatkan literasi budaya siswa sekolah menengah melalui pembelajaran dan praktik aksara Batak Toba dan Angkola. Metode yang digunakan meliputi penyuluhan, demonstrasi, pelatihan, praktik langsung, dan evaluasi hasil belajar. Kegiatan dilaksanakan pada siswa sekolah menengah dengan melibatkan dosen dan mahasiswa sebagai fasilitator. Hasil kegiatan menunjukkan adanya peningkatan pemahaman siswa terhadap sejarah, fungsi, dan bentuk aksara Batak serta meningkatnya keterampilan membaca dan menulis aksara Batak Toba dan Angkola. Antusiasme peserta terlihat dari keterlibatan aktif dalam setiap sesi pelatihan. Kegiatan ini memberikan kontribusi positif terhadap pelestarian budaya lokal sekaligus memperkuat identitas budaya generasi muda. Dengan demikian, pembelajaran berbasis praktik dapat menjadi strategi efektif dalam meningkatkan literasi budaya siswa melalui pengenalan aksara daerah
Tradisi papungu tumpak ulaon borngin pada masyarakat sahil jae Tia Ningsi Sarumpaet; Torang Naiborhu; Rahmatika L Sholikha
Journal Scientific of Mandalika (JSM) e-ISSN 2745-5955 | p-ISSN 2809-0543 Vol. 7 No. 7 (2026)
Publisher : Institut Penelitian dan Pengembangan Mandalika Indonesia (IP2MI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36312/10.36312/vol7iss7pp878-883

Abstract

This study discusses the Papungu Tumpak Ulaon Borngin tradition in the Sahil Jae Village community, Sorkam District, Central Tapanuli Regency, which is part of a series of traditional Batak Toba wedding ceremonies. The problem of this research is how the ceremony runs and how the form of presentation and function of music in the Papungu Tumpak Ulaon Borngin party. This study aims to describe the stages of the ceremony, the form of music presentation, and the function of music in the context of the traditional ritual. The method used is a qualitative descriptive method with an ethnomusicological approach. Data were collected through direct observation, interviews with traditional leaders, musicians, and local residents, and documentation in the form of photos, audio, and video. The results of the study show that the Papungu Tumpak Ulaon Borngin party is held the night before the traditional wedding ceremony and consists of several stages, such as manomu-nomu, pasahat tumpak, pasahat silua, marpanganan borngin, distribution of jambar, and entertainment events. Music has an important role as an accompaniment to traditional processions, a means of symbolic communication, and a medium of entertainment for the community. Thus, music not only functions as an aesthetic element, but also as a means of strengthening social solidarity, conveying traditional messages, and preserving the cultural identity of the Toba Batak people in Sahil Jae Village