Petrus Subardjo
Oceanography Department, Faculty Of Fiseheries And Marine Science, Diponegoro University Jl. Prof. Soedarto, SH Kampus UNDIP Tembalang Semarang 50275, Indonesia

Published : 90 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Studi Perubahan Garis Pantai Di Teluk Banten Menggunakan Citra Satelit Landsat Multitemporal Kusumastuti, Erni; Pratikto, Ibnu; Subardjo, Petrus
977-2407769
Publisher : Departemen Ilmu Kelautan, Fakultas PerikanJurusan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (306.715 KB) | DOI: 10.14710/jmr.v3i4.11424

Abstract

Garis pantai adalah garis yang dibentuk oleh perpotongan antara air laut dengan daratan pantai. Perubahan garis pantai dapat terjadi akibat fenomena akresi dan abrasi pantai. Akresi pantai adalah kondisi semakin majunya pantai karena penambahan material dan proses marin, sedangkan abrasi pantai adalah kerusakan pantai yang mengakibatkan semakin mundurnya pantai karena kegiatan air laut. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Juni-Juli 2013 di Teluk Banten Kabupaten Serang untuk mengetahui perubahan garis pantai di Teluk Banten, Kabupaten Serang, Propinsi Banten dari tahun 1999 sampai tahun 2013. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif. Analisis data menggunakan análisis multitemporal menggunakan citra satelit Landsat (sensor ETM+ 7 tahun 1999, 2007 dan OLI 8 tahun 2013). Hasil penelitian menunjukkan bahwa perubahan garis pantai Teluk Banten selama tahun 1999 sampai dengan 2007 mengalami abrasi seluas 64,63 ha dan akresi seluas 248,06 ha. Sedangkan pada tahun 2007 sampai dengan 2013 mengalami abrasi seluas 297,76 ha dan akresi seluas 31,26 ha. Tingkat kerusakan pantai di Teluk Banten lebih tinggi di daerah pantai bagian timur daripada daerah pantai bagian barat
ANALISIS KESESUAIAN PERAIRAN UNTUK WISATA SNORKELING DAN DIVING DI PULAU PISANG BAGIAN UTARA KECAMATAN PESISIR UTARA LAMPUNG BARAT Lazuardi, Irfan; Subardjo, Petrus; Hariyadi, Hariyadi
977-2407769
Publisher : Departemen Ilmu Kelautan, Fakultas PerikanJurusan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (302.814 KB) | DOI: 10.14710/jmr.v2i3.3144

Abstract

Pisang Island is one of the islands located in the Coastal West Lampung regency precisely in West Lampung. Expected with the development of Pisang Island as a tourist destination it will beable to increase revenue and the welfare of society in western Lampung. Utilization of coastal and marine resources in West Lampung could be the development of nautical tourism in the region in this regard Pisang Island. One form of nautical tourism is snorkeling and diving activities. However, in the tourist development efforts in Pisang Island have held identification and approach problems first. The most fundamental and the purpose of this studyis to conducta study on the suitability of water level in Pisang Island, especially for snorkeling and diving tourism activities. Research carried out by field observations (collecting primary data and secondary data) for 2 months in July 2011 to August 2011 in the northern part of the Pisang Island, which is divided into thirteen point sampling locations. Primary data collection consisted of coral cover data retrieval and type of life formusing LIT, count the number off is husing visual census of fish and measure the brightness levels use these cchidisk. The method used for the analysis of the research is descriptive method of analysis with the help of Travel Suitability Index which produces the suitability andvalue of the carrying capacity of tourist areas. Based on the results obtained from the calculation of travel suitability index for snorkeling and diving touris snorkeling tours there instations 1, 2, 3, and 5 are located at a depth of 3 meters. And for diving there instations 6, 7, 8, 9, 11, 12, 13 and 14 are located at a depth of 5 meter still 10 meters.
Studi kesesuaian perairan pantai tanjung setia sebagai kawasan wisata bahari kabupaten lampung barat Provinsi lampung Aziz, Zulkifli; Subardjo, Petrus; Pratikto, Ibnu
977-2407769
Publisher : Departemen Ilmu Kelautan, Fakultas PerikanJurusan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (118.719 KB) | DOI: 10.14710/jmr.v1i2.2029

Abstract

Faithful Cape Coast is one of Lampung destinations featured attraction and a tourist attraction in West Lampung regency which has considerable potential as a marine tourism area. This study aims to identify and assess physical potential of Cape Coast Faithful as marine tourism area. This study aims to identify and assess physical potential of Cape Coast Faithful as marine tourism area. The results of the study showed that the physical condition of the waters of Cape Coast Faithful potential as marine tourism area, with some activity that is surfing (Surfing), diving (Diving), and fishing (Fishing). Based on the IKW for surfing activities (Surfing) into the category of class S1 (very suitable) with IKW value by 80%, whereas for diving (Diving) and fishing (Fishing) in the category S2 (quite appropriate) with each IKW value of 70% for diving (Diving), and 64% for fishing activities (fishing).
Sebaran Fosfor Anorganik Partikulat (PIP) di Muara Sungai Banjir Kanal Barat Semarang Tarigan, Natalia Jelita; Rochaddi, Baskoro; Subardjo, Petrus; Maslukah, Lilik
977-2407769
Publisher : Departemen Ilmu Kelautan, Fakultas PerikanJurusan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jmr.v9i4.29174

Abstract

Muara Sungai Banjir Kanal Barat Semarang merupakan wilayah yang berpotensi mengalami eutrofikasi akibat buangan limbah rumah tangga dan industri. Sebagian besar penelitian sebelumnya lebih berfokus pada fosfor dalam sedimen dasar dan fosfat terlarut, sedangkan kandungan fosfor anorganik dalam total suspended solid (TSS) di perairan muara dan laut menerima lebih sedikit perhatian. Tujuan dari penelitian ini adalah mengetahui sebaran fosfor anorganik partikulat (PIP) di perairan sekitar muara Sungai Banjir Kanal Barat Semarang. Pengambilan sampel dilakukan pada lapisan permukaan (kedalaman 0,5 m). Analisis TSS dilakukan dengan metode gravimetri. Ekstraksi asam PIP dilakukan berdasarkan metodologi ekstraksi konvensional, menggunakan 1 M HCl, diikuti oleh prosedur untuk menurunkan keasaman dan dianalisis dengan metode spectrophotometric phosphomolybdenum blue pada panjang gelombang 880 nm. Konsentrasi PIP yang didapatkan berkisar antara 0,42 µmol/g – 1,28 µmol/g dengan nilai rata-rata sebesar 0,54 µmol/g. Sebaran PIP dipengaruhi oleh arus pasang surut, total suspended solid (TSS) dan salinitas. Sebaran PIP dominan ke arah barat – barat laut karena pengaruh arus pada saat pasang menuju surut. Konsentrasi PIP menurun seiring berkurangnya konsentrasi TSS dan meningkatnya nilai salinitas. Banjir Kanal Barat estuary is an area that has the potential to experience eutrophication due to household and industrial waste disposal. Most previous research has focused more on phosphorus in basic sediments and dissolved phosphate, whereas the inorganic phosphorus content in total suspended solid (TSS) in estuarine and marine waters received less attention. The purpose of this study was to determine the distribution of particulate inorganic phosphorus (PIP) in the waters around the Banjir Kanal Barat estuary. Sampling was carried out on the surface layer (0.5 m depth). TSS analysis was performed using the gravimetric method. PIP acid extraction was carried out based on conventional extraction methodology, which required 1 M HCl, followed by a procedure to reduce acidity and analyzed by spectrophotometric phosphomolybdate blue method at a wavelength of 880 nm. PIP concentrations obtained ranged from 0,42 µmol/g – 1,28 µmol/g with an average value of 0.54 µmol/g. Distribution of PIP is influenced by tidal currents, total suspended solid (TSS) and salinity. Distribution of PIP is dominant to west – northwest direction due to the influence of currents at ebb current. PIP concentration decreases with decreasing TSS concentration and increasing salinity.
A MAP OF VULNERABILITY TSUNAMI AND PLAN EVACUATION IN COASTAL VILLAGE OF PARANGTRITIS SUB-DISTRICT KRETEK DISTRICT BANTUL DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA Gentur Handoyo; Agus A.D. Suryo Putro; Petrus Subardjo
Jurnal Kelautan Vol 10, No 2 (2017)
Publisher : Department of Marine Sciences, Trunojoyo University of Madura, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21107/jk.v10i2.2838

Abstract

ABSTRACTThe tsunami often hitthe southern coast of Java several times, where Parangtritis located in that area. This is due to the meeting of Indo-Australian plate with the Eurasian plate in the south of Java that results in a major tectonic tsunami source. Tsunami waves from this region takes 50 to 100 minutes to reach the beach. Considering the short span of time to self-rescue, than its necessary to concieve a map of vulnerability to the tsunami region to plan evacuation routes and tsunami temporary evacuation place (TES) tsunami incoastal village of Parangtritis. The material used as an object to study in this research is the vulnerability of the tsunami, tsunami runoff based on the runup height, the proposed evacuation routes and tsunami temporary evacuation place (TES) as. The result,village in Parangtritis is a tsunami prone areas with vast percentage of the tsunami-prone areas at 66.45%. When the tsunami run up reach 16m the affected area was 788.07 Ha. There are three proposed evacuation route through the Parangtritis roads, Depok roads and Depok-Parangtritis roads. There are 12 proposed temporary evacuation place which spread in the village Parangtritis. Keywords: Inundation, Plate, Runup
Evaluasi Perubahan Penggunaan Lahan Pesisir Kabupaten Kendal Tahun 1997-2001 dengan Menggunakan Data Citra Landsat-TM Petrus Subardjo
ILMU KELAUTAN: Indonesian Journal of Marine Sciences Vol 9, No 2 (2004): Jurnal Ilmu Kelautan
Publisher : Marine Science Department Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (227.585 KB) | DOI: 10.14710/ik.ijms.9.2.108-114

Abstract

Wilayah Kabupaten Kendal dengan kawasan pesisir yang luas dalam pembangunan di kawasan pesisir perlu di awasi. Pengawasan tersebut termasuk melakukan evaluasi luas dan penggunaan lahan yang ada apakah sesuai dengan perencanaan yang telah ditetapkan. Untuk melakukan evaluasi penggunaan lahan diperlukan data yang cepat, teliti, kontinyu, terbaru, dapat di percaya dan dipertanggungjawabkan, data tersebut dapat dipenuhi dengan menganalisa data citra Landsat-TM. Pada penelitian ini evaluasi penggunaan lahan pesisir dilakukan terhadap citra Landsat-TM path/row 120/064 tertanggal 15 Agustus 1997 dan citra Landsat-ETM+7 path/row 128/065 tertanggal 5 Desember 2001, juga berdasarkan Peta Rencana Umum Tata Ruang Kawasan Pesisir Kabupaten Kendal tahun 1992/1993 – 2012/2013 terbitan BPN Kendal. Pada penelitian ini diketahui penggunaan lahan di kawasan pesisir Kabupaten Kendal pada tahun 1997 dan tahun 2001 didominasi oleh kawasan pertanian, diikuti pemukiman, tambak, tegalan, perkebunan dan industri. Penggunaan lahan tambak bertambah ± 1210,86 ha lalu pemukiman bertambah ± 2153,88 ha, lahan industri bertambah ± 48,33 ha,lahan sawah berkurang ± 2662,56 ha lalu tegalan berkurang ± 644,13 ha dan lahan perkebunan berkurang ± 106,46 ha.Kata kunci : penggunaan lahan, kawasan pesisir, citra Landsat-TMKendal government has to control its coastal development progress. The control system was evaluation space and distribution of land, whether is suit with the plan or not. The evaluation needed were oford, punctual,continue, newest, trusted and responsible data. Then the Landsat-TM image data that had been used to identification the actual land use, was using for next analysis. The evaluation of coastland use had been doneby analyzing the Landsat-TM image path/row 120/064 on August 15th 1997 and Landsat – ETM +7 image path/row 120/065 on December 15th 2001, aimed at Rencana Umum Tata Ruang Kawasan Pesisir KabupatenKandal map 1992/1993 – 2012/2013, published by Badan Pertahanan Kendal. From the research, has been know that the Kendal coastal land use from 1997 and 2001 dominated by farming, settlement, brackish,anable upland, estates and industry. The usage of brackish area increase ± 121,086 ha, settlement area increase ± 2153,88 ha, industrial area increase ± 48,33 ha, paddy field area decrease ± 2662,56 ha, anableupland area decrease ± 644,13 ha and estates area decrease ± 106,46 ha.Key words : land use, coastal area, Landsat-TM image
Pemanfaatan Citra Aster untuk Inventarisasi Sumberdaya Laut dan Pesisir Pulau Karimunjawa dan Kemujan, Kepulauan Karimunjawa Petrus Subardjo; Baskoro Rochaddi; Sigit Purnomo
ILMU KELAUTAN: Indonesian Journal of Marine Sciences Vol 11, No 3 (2006): Jurnal Ilmu Kelautan
Publisher : Marine Science Department Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (393.045 KB) | DOI: 10.14710/ik.ijms.11.3.133-139

Abstract

Penelitian ini dilaksanakan di wilayah Pulau Karimunjawa dan Kemujan. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk melakukan pemetaan sumberdaya laut dan pesisir Pulau Karimunjawa dan Kemujan serta potensinya melalui analisis citra penginderaan jauh dengan menggunakan data citra satelit ASTER. Metode yang digunakandalam penelitian ini adalah diskriptif, sedangkan untuk cek lapangan menggunakan sampling purposif. Hasil menunjukkan bahwa sumberdaya laut di Pulau Karimunjawa terdapat lima kelas yaitu pasir ± 41,4 ha, padang lamun/rumput laut ± 84,16 ha, pecahan karang ± 43,77 ha, karang hidup ± 379,21 ha dan karang mati ± 107,9 ha. Sedangkan sumberdaya laut yang ada di Pulau Kemujan yaitu pasir ± 86,71 ha, padang lamun/rumput laut ± 163,16 ha, pecahan karang ± 59,00 ha, karang hidup ± 483,15 ha dan karang mati ± 153,46 ha. Sumberdaya pesisir di Pulau Karimunjawa terdapat sembilan kelas, yaitu hutan mangrove ± 184,89 ha, hutan primer ± 846,80 ha, hutan skunder ± 715,01 ha, perkebunan ± 159,40 ha, pertanian ± 25,74 ha,semak belukar ± 187,21 ha, tambak ± 38,37 ha, pemukiman ± 56,01 ha dan lahan kosong 41,96 ha. Sedangkan sumberdaya pesisir untuk Pulau Kemujan yaitu hutan mangrove ± 222,90 ha, hutan skunder ± 254,76 ha,perkebunan ± 247,73 ha, pertanian ± 31,46 ha, semak belukar ±273,30 ha, tambak ± 21,95 ha, pemukiman ± 99,07 ha, lahan kosong ± 50,47 ha dan bandara udara 16,80 ha. Uji ketelitian klasifikasi sumberdaya lautsebesar 86,04 % dan 85,50 % untuk ketelitian klasifikasi sumberdaya pesisir di Pulau Karimunjawa dan Kemujan.Kata kunci: inventarisasi, sumberdaya laut dan pesisir, citra asterThis study was carried out at Karimunjawa and Kemujan Islands. The objective of this research is to investigate marine and coastal resources of Karimunjawa and Kemujan Islands through analysis of remote sensing images by using ASTER satellite image data. Descriptive method was used in this research, while for the field check use purposive sampling. The result of this study indicate that there were five classes of marine resources at Karimunjawa Island i.e. sand ± 41,4 ha, seagrass ± 84,16 ha, coral ruble ± 43,77 ha, life coral ± 379,21 ha and dead coral ± 107,9 ha. While marine resource that exist in Kemujan Island that is sand ± 86,71 ha, field of seagrass ± 163,16 ha, piece coral ± 59,00 ha, life coral + 483,15 ha and dead coral ± 153,46 ha. There were nine classes of coastal resources at Karimunjawa Island i.e. is mangrove forest + 184,89 ha, primary forest ± 846,80 ha, secondary forest ± 715,01 ha, plantation + 159,40 ha, agriculture ± 25,74 ha, coppice ± 187,21 ha, dam out ± 38,37 ha, settlement ± 56,01 ha and empty farm + 41,96 ha. While coastal resource found at Kemujan Island were mangrove forest ± 222,90 ha, secondary forest ± 254,76 ha, plantation ± 247,73 ha, agriculture ± 31,46 ha, coppice ± 273,30 ha, dam out ± 21,95 ha, settlement ± 99,07 ha, empty farm + 50,47 ha and airport ± 16,80 ha. Sensitivity test of marine resource classification equal to 86,046% and 86,956 % for the sensitivity of coastal resource classification in Karimunjawa and Kemujan Island.Key words: inventory, seas and coastal resource, aster image.
Studi Morfologi Guna Pemetaan Rob di Pesisir Sayung, Kabupaten Demak, Jawa Tengah Petrus Subardjo
ILMU KELAUTAN: Indonesian Journal of Marine Sciences Vol 9, No 3 (2004): Jurnal Ilmu Kelautan
Publisher : Marine Science Department Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (214.374 KB) | DOI: 10.14710/ik.ijms.9.3.153-159

Abstract

Fenomena rob berkaitan erat dengan pasang surut muka air laut, karena rob adalah banjir yang disebabkan pasang air laut. Massa air laut masuk ke darat melalui saluran air dan menyebabkan intrusi air laut yang dapatmencemari air tanah. Area genangan rob pada saat air laut mengalami pasang tertinggi akan meningkat dan meluas ke daratan sesuai dengan elevasi muka tanah. Studi morfologi guna pemetaan rob wilayah pesisirSayung ini akan menjadi satu informasi yang penting dan sangat membantu dalam upaya penanganan rob di wilayah tersebut. Tujuan penelitian ini adalah membuat peta genangan rob serta menganalisa karakteristik tanah dan kecepatan rembesan dari genangan rob ke dalam tanah di wilayah pesisir Sayung, Kabupaten Demak. Penelitian dilaksanakan pada bulan Agustus – Desember 2003 dengan mengambil lokasi di wilayah pesisir Sayung, Kabupaten Demak, Jawa Tengah. Metode penelitian adalah metode diskriptif, sedangkan metode samplingnya menggunakan metode sampling purposive. Pelaksanaan penelitian ini dilakukan dalam tiga tahapan kerja, yang meliputi tahap pra kerja lapangan (studi pustaka, survei pengenalan medan, pengumpulan data sekunder, dan pengolahan peta), tahap kerja lapangan (pengukuran morfologi, pengambilan sampel tanah dan melakukan pengukuran permeabilitas tanah, serta pendokumentasian genangan rob), dantahap pasca lapangan (analisa permeabilitas tanah dan ukuran butir). Berdasarkan hasil penelitian, wilayah di pesisir Sayung dengan elevasi kurang dari 0,5 meter dpl akan terkena genangan rob pada saat pasangtertinggi. Di dalam peta kontur, daerah bebas genangan rob dapat terlihat jelas. Bangunan jalan raya Semarang - Demak yang melalui wilayah pesisir Sayung (Sriwulan, Purwosari, Sayung, Sidogemal dan Surodadi) dengan elevasi 2 meter, serta bantaran (tanggul) sungai yang berada di sisi kanan kiri sungai dengan elevasi lebih dari 0,5 meter, sehingga tidak terjangkau oleh air laut saat pasang tertinggi. Area pertambakan di Sriwulan dan Timbulsloko tersusun oleh tanah lanau lempungan pasiran dan lempung lanauan pasiran dengan permeabilitas(K) yaitu 4.268 x 10-5 – 5.161 x 10-5 m/hari. Area persawahan di Purwosari, Gemulak dan Sirodadi kriteria tanah didominasi oleh lanau pasiran lempungan dan lanau lempungan pasiran dengan kecepatan rembasan 2.728 x 10-5 – 5.242 x 10-5 m/hari. Sedangkan di area pemukiman Bedono, Sayung dan Sidogemal didominasi oleh pasir lanauan lempungan, dengan permeabilitas 0,015 m/hari – 0,132 m/hari maka tidak terjadi genangan rob yang lama.Kata kunci : Morfologi, rob, dan permeabilitas tanah.Phenomenon at rob interconected sea level tide, because that floods which caused by high water of sea where sea water mass step into continent as well as causing intrution land then contaminating ground water. Pond area of rob at the highest sea level will mount and exted to continent as according to ground elevation. Mapping of rob area whith coastal regional morphology study at Sayung will become an important information and very assisting in the effort handling at problem of rob in the region. The aims of this research are make a map of topography contour, map of rob, and also analyse ground characteristic and speed of rob’s pond perasity into ground in coastal region of Sayung, residence of Demak. Research executed in August – November 2003, by taking research location in coastal region of Sayung, residence of Demak, Central Java. The research used was descriptive method, while its sampling method use sampling purposive. Execution of this research is conducted in three activity steps, covering: pre phase work field (book study, recognize survey, secundary data collecting, and processing of map), phase work field (intake of ground sample, morphology measuring, permeability measuring and intake document of rob), and phase in the end of work field (permeability analysis and granulometry). Based to result of research, regional in coastal area Sayung with elevation less than 0,5 metre will be affected pond of rob in the highest tide. In the contour map, area which free from pond of rob can visible plain, that’s at roadway of Semarang – Demak which passing coastal area of Sayung (Sriwulan, Purwosari, Sayung, Sidogemah and Surodadi) with elevation 2 metre, the natural bank in right and left of the river with elevation 0,5 – 2 metre, and also some region which reclamated with height more than 0,5 metre out of reach from highest tide. Shrimppond area in Sriwulan and at Timbul Sloko have ground criterion of sandy clayes silt and of sandy silty clay with speed of low porasity that is 4.268 x 10-5 – 5.161 x 10-5 m/day. Ground criterion at rice field area in Purwosari, Gemulak and Surodadi, predominated by clayes sandy silt and of sandy clayes silt with speed of porasity 2.728  x 10-5 – 5.242 x 10-5 m/day. Settlement area in Bedono, Sayung and of Sidogemah predominated by clayes silty sand, so that pond of rob can seep quicker to the ground if compared to rice field area and shrimppond area that is 0.015 m/day – 0.132 m/day.Key words : Morphology, rob, permeability
Pemanfaatan Citra Landsat 7 EHM+ dalam Analisis Kesesuaian untuk Wisata Selam dan Snorkling Petrus Subardjo; Nur Ismu Hidayat
ILMU KELAUTAN: Indonesian Journal of Marine Sciences Vol 12, No 4 (2007): Jurnal Ilmu Kelautan
Publisher : Marine Science Department Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (716.877 KB) | DOI: 10.14710/ik.ijms.12.4.211-218

Abstract

Tujuan penelitian adalah memetakan dan menganalisis kondisi biofisik wilayah perairan di Pulau Karimunjawa, Jepara guna pemanfaatan wisata selam dan snorkling. Penelitian dilaksanakan di wilayah perairan Pulau Karimunjawa, Kabupaten Jepara, dengan cakupan wilayah kajian antara 110°24’00” - 110°29’30” BT dan 05°49’00” - 05°53’30” LS. Ground check dan pengambilan data lapangan dilaksanakan pada bulan Maret 2006. Metode penelitian yang digunakan adalah metode penginderaan jauh dan SIG. Penentuan lokasi sampling dilakukan dengan metode purposive random sampling. Analisis spasial di dalam Sistem Informasi Geografi (SIG) menggunakan indeks terbobot untuk analisis kesesuaian perairan untuk wisata selam dan snorkling, sesuai dengan kriteria-kriteria yang telah ditetapkan sebelumnya. Nilai tertinggi yang diperoleh sebagai hasil analisis spasial dari persen penutupan karang hidup, suhu perairan, kecepatan arus, kecerahan perairan dan kedalaman adalah 75%, 29,5°C, 0,38 m/dt, 100%, dan 15 m. Hasil uji ketelitian pemetaan ekosistem peraian (terumbu karang, lamun dan pasir) menggunakan citra Landsat 7 ETM+ sebesar 86,21%. Ditinjau dari segi biogeofisik, pemanfaatan wisata bahari di perairan Pulau Karimunjawa terdiri dari 82,14 ha sangat sesuai untuk snorkling, 273,09 ha sesuai untuk snorkling, 52,36 ha sesuai bersyarat untuk snorkling, 226,51ha sesuai untuk selam, dan 425,89 ha tidak sesuai untuk selam dan snorkling. Kata kunci: Landsat 7 ETM+; kesesuaian wisata selam dan snorkling; Pulau Karimunjawa  The research purpose is to mapping and analyze the biogeophysics condition of coastal water suitability for snorkeling and diving tourism. This research was conducted in Karimunjawa Island water territory, Jepara, Central Java in between 110°24’00” - 110°29’30”BT and 05°49’00” - 05°53’30”LS. Ground check and field data collection was done on March 2006. Survey method and sample data collection was based on purposive random sampling. Spasial analysis in Geographics Information System (GIS) such as weighted index was being used to analyze snorkeling and diving tourism suitability, according to the criteria, which have been specified previously. The highest value of live corals cover presentation, water temperature, ocean drift, light penetration and depth achieved from the survey was 75%, 29,5°C, 0,38 m/s, 100%, and 15 m. Accuracy assessment result for costal ecosystem mapping such as coastal reef, seagrass and sand using Landsat 7 ETM+ satellite imagery is 86,21 %. Based on its biogeophysic, marine tourism use in Karimunjawa Island water territory is consisted of 82,14 ha is highly suitable for snorkelling, 273,09 ha is suitable for snorkling, 52,36 ha is marginally suitable for snorkling, 226,51 ha is suitable for diving, and 425,89 ha is not suitable for snorkling and diving. Key words: Landsat 7 ETM+; snorkling and diving suitability; Karimunjawa Island
Studi Persistensi Suhu Permukaan Laut Tinggi (>30°C) di Perairan Selat Malaka Metrio Swandiko; Anindya Wirasatriya; Jarot Marwoto; Muslim Muslim; Elis Indrayanti; Petrus Subardjo; Dwi Haryo Ismunarti
Buletin Oseanografi Marina Vol 10, No 2 (2021): Buletin Oseanografi Marina
Publisher : Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/buloma.v10i2.31554

Abstract

Hot Event merupakan fenomena suhu permukaan laut (SPL) tinggi lebih dari 30°C dan memiliki mekanisme khusus dalam pembentukannya, yaitu kecepatan angin lemah dan radiasi matahari tinggi. Hot Event memiliki peran penting dalam menyumbang bahang pada pacific warm pool di Samudra Pasifik bagian barat dan berperan mengatur variasi iklim global. Indonesia sebagai negara kepulauan memiliki potensi besar melemahkan sirkulasi angin dan potensi kejadian Hot Event. Selat Malaka merupakan selat terpanjang di Indonesia dan berpotensi untuk menjadi area kajian Hot Event. Fenomena SPLtinggi (>30°C) dan konstan selama 13 tahun (2003 – 2015) di Selat Malaka merupakan hal unik untuk dikaji. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi dan mengetahui mekanisme terjadinya SPL tinggi (>30°C) dan konstan selama 13 tahun (2013 - 2015) di Selat Malaka. Metode yang digunakan adalah metode kuantitatif. Data yang digunakan adalah data harian SPL, angin, arus permukaan, radiasi matahari selama 13 tahun serta batimetri. Pengolahan data menggunakan bahasa pemograman untuk memvisualisasi SPL tinggi >30°C, angin lemah <2 m/det, arus, radiasi matahari tinggi 200 W/m² serta data batimetri. Variasi SPL paling tinggi dan konstan terjadi pada musim timur (Agustus) dan paling rendah pada musim barat (Februari). Fenomena SPL tinggi dan konstan di wilayah kajian B terhadap kajian A dan C disebabkan lemahnya kecepatan angin <2 m/det di wilayah B dibandingkan wilayah A dan C, serta didukung dengan tingginya radiasi matahari dan batimetri wilayah kajian B yang relatif dangkal, sehingga proses pemanasan massa air lebih cepat dibandingkan wilayah kajian lainnya.  Hot Event is a phenomenon of high sea surface temperature (SST) over 30 °C and it has a unique mechanism in its formation by the lower wind speed and high solar radiation. Hot Event has an important role in contributing heat to the pacific warm pool in the western Pacific Ocean and play a role in regulating global climate variations. Indonesia as an archipelagic country has the potential to weaken wind circulation and potential Hot Event. The Malacca Strait is the longest strait in Indonesia and it is potential for Hot Events. The phenomenon of high SST (>30 °C) and constant for 13 years (2003 - 2015) in the Malacca Strait is unique to be studied. The present research aims to identify and determine the mechanism of the occurrence of high SST (>30 °C) and constant for 13 years (2013 - 2015). The method used in this study is quantitative method. The data used are daily data of SST, wind, surface currents, solar radiation for 13 years, and bathymetry. Programming was used to visualize high SST >30 °C, lower speed winds <2 m/s, currents, high solar radiation 200 W/m² also bathymetry data. The highest and constant variation of SST occurs in the east season (August) and the lowest in the west season (February). The phenomenon of high and stable SST in area B on A and C is due to the low wind speed <2 m/s in region B compared to A and C and it is supported by high solar radiation and shallow bathymetry in area B, so that the heating process of water mass is faster than other areas.
Co-Authors Abdillah Ranadipura Aditya Gilang Saraswata Agus A.D. Suryo Putro Agus A.D. Suryoputro Agus ADS Agustiadi, Teguh Ahmad Nur Huda Ajie Rahmat Budiwicaksono Alfi Satriadi Ali Djunaedi Aminuyati Andhika Kurniawan Andhika Kurniawan Andika Nugraha Pradana Andita Agung Anindya Wirasatriya Anisa Nabila Apriliawan Setiya Ramadhany Apriliawan Setiya Ramadhany Aris Ismanto Azis Rifai Baskoro Rochaddi Bima Andriantama Bintang Yosua Cristian M. Chandra Sinambela Chiquita Tri Rezki Daniel Giovanni Sihotang Dayinta Andayani Denny Nugroho Denny Nugroho Sugianto Dinda Ayu Octaviana Dwi Haryo Ismunarti Dwi Haryo Ismunarti Elis Indrayanti Erni Kusumastuti Erni Kusumastuti, Erni Ezikri Yasra Ezikri Yasra Fadhli, Ramdhani Fajri Fajri Fajri Fajri Fauzia Farida Fitroh, Indah Syahiddah Franto Novico Gentur Handoyo Gersanandi Gersanandi Hanifah, Anne Hariadi Hariadi Hariadi Hariadi Hariadi, Ardian Hariyadi Hariyadi Hariyadi Hariyadi Haryadi Haryadi Hastuti Hastuti Hebron Yustiabel Hebron Yustiabel, Hebron Heriyoso Setiyono Heriyoso Setyono Hermawan Saputra Heryoso Setiyono Ibnu Praktikto Ibnu Pratikno Ibnu Pratikto Ibnu Pratikto Ichwan Dwi Saputra Ilham Aulia Nur Fuady, Ilham Aulia Indra Budi Prasetyawan Irfan Lazuardi Irwan Hidayatullah, Irwan Irwani Irwani Irwani Irwani Jannisa Raska Jarot Marwoto Jasmine Khairani Zainal Jasmine Khairani Zainal Julia Pernando Manalu Karlina Putri Diani Kokoh Dwiyan Kunarso Kunarso Larosa Nurfikri Gamellia Leon Rich Ginting Lilik Maslukah M. Furqon Aziz Ismail M. Taufan Qoriadi Melisa Dwi Syaputri, Melisa Dwi Metrio Swandiko Muh Yusuf Muhamad Adnan Kurnianto Muhammad Helmi Muhammad Helmi Muhammad Helmi Muhammad Sulaiman Muhammad Yafi Arfa Muhammad Zainuri Munasik Munasik Muslim Muslim Muslim Muslim Natalia Jelita Tarigan Nawanto Budi Sukoco Nawanto Budi Sukoco Nugroho Agus D Nunut Parasian Siregar Nur Ismu Hidayat Nur Kholik Kurniana Putra Nuriyati Nuriyati Pratiwi Ramadhan Purwanto Purwanto Putra Charisma Chryssa Sitompul Raden Ario Rahmat Hidayat Rifky Saputra Rikha Widiaratih Rina Shofiana Rizky Aditya Robin Sirait Rudhi Pribadi Ryan Nurdiansyah S.Pd. M Kes I Ketut Sudiana . Sa’adah, Nailis Sabilu, Kadir Safwan, Mohammad Arif Setyiono, Heryoso Siddhi Saputra Siddhi Saputro Siddhi Saputro Sigit Purnomo Siti Zulaykha Sofia Alma Aeda Sondy Sunaryo Sri Yulina Wulandari Sugeng Widada Surya Nugraha Syaiful Syafiq Muhammad Aziz Syakinah Maghfirah Ayu Tarigan, Natalia Jelita Togi Persada Tarigan, Togi Persada Trenggono, Mukti Vemilarisa Kusumadewi Veri Yulianto Veri Yulianto Wahyu Aditya Nugraha Wahyu Aditya Nugraha Warsito Atmodjo Wibawa, Davis Pramayuda Widodo Pranowo Widodo Setiyo Pranowo Willy Martahi Sihotang Yeremia Sudibyo Yoga Yuniadi Yulius Yulius Zulkifli Aziz Zulkifli Aziz