p-Index From 2021 - 2026
5.431
P-Index
Claim Missing Document
Check
Articles

Ketaksaan Makna dalam Mahalabiu: Kajian Teori X-Bar Ahmad Imam Muttaqin; Agus Subiyanto
Anuva: Jurnal Kajian Budaya, Perpustakaan, dan Informasi Vol 5, No 3 (2021): September
Publisher : Program Studi Ilmu Perpustakaan, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (585.519 KB) | DOI: 10.14710/anuva.5.3.447-462

Abstract

Penelitian ambiguitas kalimat dalam Mahalabiu berangkat dari fenomena tradisi lokal masyarakat suku Banjar yang dinamakan mahalabiu. Mahalabiu sendiri merupakan permainan ketaksaan makna atau ambiguitas yang memiliki intensi sebagai sebuah hiburan. Dari fenomena mahalabiu tersebut pula, dan dari berbagai penampilan mahalabiu yang ada, diduga adanya sebuah pola untuk mempraktekkan mahalabiu. Dari itu pula maka penelitian ini bertujuan mengungkap pola tersebut dan menjabarkan pola tersebut agar mampu menjadi sebuah tolak ukur atau panduan bagi masyarakat yang awam dengan mahalabiu untuk mengerti bagaimana praktek dari mahalabiu. Dalam penelitian ini digunakan teori x-bar sebagai alat untuk membedah pola dari kalimat mahalabiu. Data yang diperoleh langsung dari praktek mahalabiu pada acara pernikahan tanggal 16 Juni 2019 yang diambil menggunakan metode simak dan teknik catat. Dari penelitian ini ditemukan bahwa titik ambiguitas yang ada pada kalimat-kalimat Mahalabiu tersebut dapat berupa ambiguitas leksikal, sintaksis, gramatikal morfologis, dan fonetik yang berada di adjung. Frasa-frasa yang merupakan adjung dari frasa sebelumnya. Frasa pertama mampu berdiri sendiri, namun untuk menjadi sebuah kalimat yang berterima dalam Mahalabiu diperlukan adanya adjung yang melengkapi frasa tersebut dengan syarat adanya ketaksaan makna baik di frasa pertama atau frasa adjung. Frasa pemicu ketaksaan tersebut ditemukan berada di frasa-frasa yang menjadi adjung dari frasa pertama. Maka dari itu untuk membuat sebuah kalimat mahalabiu diperlukan pengetahuan kosakata bahasa Banjar yang luas yang disertai dengan penempatan frasa adjung yang diisi dengan ketaksaan makna pada bagian tersebut.
Peminjaman Kosa Kata Bahasa Jawa oleh Bahasa Banjar: Kajian Fonologi Generatif Zindi Nadya Wulandari; Agus Subiyanto
Anuva: Jurnal Kajian Budaya, Perpustakaan, dan Informasi Vol 5, No 3 (2021): September
Publisher : Program Studi Ilmu Perpustakaan, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (642.531 KB) | DOI: 10.14710/anuva.5.3.463-478

Abstract

Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif dengan tujuan untuk mengetahui kosa kata dalam bahasa Jawa yang diserap oleh bahasa Banjar dan untuk mengetahui bagaimana proses fonologis berupa perubahan stuktur silabel serta pelemahan dan penguatan yang terjadi dalam kata pinjaman tersebut. Penelitian ini menggunakan metode simak yang dilanjutkan dengan teknik catat. Data yang digunakan diperoleh dari penutur asli bahasa Jawa, penutur asli bahasa Banjar dan kamus bahasa Banjar. Peneliti menggunakan teori distinctive feature oleh Schane untuk menjadi acuan dalam menganalisis data. Analisis data menunjukkan bahwa terjadi dua proses fonologis, yaitu proses fonologis tunggal dan proses fonologis ganda. Proses fonologi tunggal terdiri dari penyisipan konsonan [h], penyisipan konsonan [m], penyisipan vokal [a], perubahan vokal [ə]menjadi [a], perubahan vokal [ə] menjadi [u], perubahan vokal [ɔ] menajdi [a], perubahan vokal [ɔ] menjadi [u], perubahan konsonan [j] menjadi [g] dan perubahan konsonan [ҫ] menjadi [g]. Sedangkan proses fonologis ganda meliputi penyisipan konsonan [h] dan perubahan vokal [ə] menjadi [a], perubahan vokal [ə]menjadi [i] dan perubahan vokal [ə] menjadi [a] dan perubahan konsonan [k] menjadi [h] dan vokal [ə]menjadi [i].
Memahami Budaya Masyarakat Pekalongan Melalui Tindak Tutur Direktif di Kampung Batik Kauman Laili Mahmudah; Agus Subiyanto
Anuva: Jurnal Kajian Budaya, Perpustakaan, dan Informasi Vol 4, No 4 (2020): Desember
Publisher : Program Studi Ilmu Perpustakaan, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (524.144 KB) | DOI: 10.14710/anuva.4.4.521-529

Abstract

Budaya termanifestasi dari unsur-unsur yang sangat rumit, diantaranya ialah unsur bahasa. Unsur bahasa biasa dicirikan dari perilaku komunikatif yang digunakan oleh suatu masyarakat dalam kehidupan sehari-hari. Karya tulis ini memaparkan tentang memahami budaya masyarakat Pekalongan melalui salah satu kajian linguistik modern yang pelik untuk dikaji, yaitu tindak tutur direktif. Pendekatan yang digunakan ialah deskriptif kualitatif. Data dalam karya tulis ini diambil dari percakapan pemilik rumah batik dan para pegawai pembuat batiknya. Pertama, percakapan penutur direkam dan dicatat dalam bentuk tulisan. Kemudian data yang didapat dianalisa menggunakan klasifikasi bentuk tindak tutur direktif dari Prayitno. Hasil analisis data yaitu setiap pemilik rumah batik memiliki kecenderungan tersendiri dalam memilih jenis kalimat untuk mengekspresikan bentuk tindak tutur direktif. Di rumah batik Seni Budaya, pemilik lebih sering menggunakan kalimat indirek. Di rumah batik Ratna Asih, pemilik lebih sering menggunakan kalimat direk yang terkesan to the point. Dan di rumah batik Griya Batik Mas, pemilik cenderung menggunakan kalimat indirek. Sehingga, dari observasi yang dilakukan, dapat disimpulkan bahwa budaya masyarakat Pekalongan dalam mengaplikasikan tindak tutur direktif sebagian besar menggunakan kalimat indirect yang merepresentasikan kesopanan dan egaliter. Egaliter yang dimaksud adalah saling menggunakan bahasa halus dan sopan, meskipun tindak tutur tersebut dilakukan oleh pemilik terhadap karyawan.
Konstruksi Verba Serial Tipe Gerakan Direksional Pada Bahasa Palembang Kajian Tipologi Hanif Maghfiroh; Agus Subiyanto
Anuva: Jurnal Kajian Budaya, Perpustakaan, dan Informasi Vol 5, No 2 (2021): Juni
Publisher : Program Studi Ilmu Perpustakaan, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (363.576 KB) | DOI: 10.14710/anuva.5.2.189-197

Abstract

Bahasa Palembang merupakan salah satu bahasa di Nusantara yang termasuk dalam rumpun Austronesia. Meskipun sama-sama berasal dari rumun Autronesia bahasa Palembang memiliki KVS yang  berbeda dengan bahasa Palembang.Tujuan dari penelitian ini yaitu untuk mengetahui konstrusi verba serial bahasa Palembang tipe gerak direksional dan tipenya dalam tipologi talmy yang kemudian dilihat perebdaannya dengan bahasa Jawa. Sumber data yang digunakan berupa bahasa Palembang sehari-hari dari penutur asli, serta bahasa Jawa dari intiusi penulis. Metode pengumpulan data yang digunakan yaitu wawancara dan studi pustaka, sedangkan teknik pengumpulan data yang digunakan berupa teknik simak dan catat. Teknik analisis data menggunakan pendekatan tipologi. Hasil peneliltian ini membuktikan bahwa KVSBPTGD dapat dibentuk dengan pola V1 transitif + V2 transitif dan V1 intransitif+V2 intransitif. Berdasarkan tipologi Talmy bahasa Palembang dan bahasa Jawa sama-sama dapat digolongkan ke dalam bahasa berkerangka verba maupun satelit, namun jika diujikan menggunakan alat ukur berupa kepemilikan pola resultif ajektif, bahasa Palembang termasuk ke dalam bahasa berkerangka satelit tidak seperti bahasa Jawa yang berkerangka verba.)
Does Javanese have Inflectional Phrase? Agus Subiyanto
Culturalistics: Journal of Cultural, Literary, and Linguistic Studies Vol 1, No 1 (2017): September 2017
Publisher : Culturalistics: Journal of Cultural, Literary, and Linguistic Studies

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (330.514 KB)

Abstract

Abstract        In generative grammar, especially in the X-bar theory, all syntactic constructions are claimed to be endocentric.  This principle enforces a sentence or a clause to be treated as an inflectional phrase, with the inflectional category as the head. This principle has been attested for many languages and it has become a general rule. However, some languages like Javanese may behave differently from languages having the inflection system like English. This paper aims to discuss whether Javanese has Inflectional phrase or not. The data used in this study was taken from a Javanese magazine Panjebar Semangat, collected using an observation technique. The result of the analysis shows that Javanese lexicons expressing tense, aspect, and modals belong to inflections and they have the maximal projection as Inflectional Phrase.  Keywords: inflectional phrase, Javanese, X-bar theory 
Revisiting Full Reduplication in Indonesian, Javanese, and Sundanese Verbs: a Distributed Reduplication Approach Agus Subiyanto
Culturalistics: Journal of Cultural, Literary, and Linguistic Studies Vol 2, No 2 (2018): May 2018
Publisher : Culturalistics: Journal of Cultural, Literary, and Linguistic Studies

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (280.572 KB)

Abstract

Indonesian, Javanese and Sundanese belong to the same language family, the Austronesian languages. The three languages have some similarities, one of which is the occurrence of reduplication. This paper aims to discuss full reduplication in the three languages, especially on the verbs. The objectives of this paper are to explain the semantic functions of full reduplication, and to present the process of deriving full reduplication in the three languages. In this case, the theory of distributed reduplication was applied in the analysis. The data used in the study were taken from books and research reports. In addition, I also employed a native speaker of  Sundanese to check the data on Sundanese. In this case, I used the interview method with an elicitation technique. The result of the analysis shows that Indonesian and Javanese have full reduplication with the notion of repetition, reciprocal, uncertainty of goal, and intensifier. Meanwhile, Sundanese, has full reduplication with the notion of intensifier and reciprocal. The process of full reduplication in the three language is different. In Indonesian, reduplicated forms with a reciprocal notion are composed of three morphemes, while in Javanese and Sundanese this type of reduplication is composed of two morphemes.Keywords: full reduplication, Indonesian, Javanese, Sundanese, distributed reduplication
An Analysis of Culturally Specific Items and Translation Techniques Applied in Edensor Prima Busana; Agus Subiyanto
Journal of English Language Teaching and Linguistics Journal of English Language Teaching and Linguistics, 5(1), April 2020
Publisher : Yayasan Visi Intan Permata

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (530.224 KB) | DOI: 10.21462/jeltl.v5i1.380

Abstract

This research aims to identify and classify Culturally Specific Items (CSIs) of a bilingual novel titled Edensor by using Newmark’s taxonomy and to analyze CSIs classification by using translation techniques of  Mollina and Albir. Further, this research purposes to know the accurateness of the translation. This research design is conducted with a qualitative-descriptive approach. The data of the research are taken from a novel namely Edensor which is written by Andrea Hirata, and the novel is translated from Indonesian to English by John Colombo. The researchers collect the data by using techniques of library research. The data is collected by identifying and classifying of CSIs in the novel. Then, the data is analyzed based on the translation techniques. The results show that amplification technique is used for 16 data (48.49%), borrowing technique is used for 6 data (18.18%), calque technique is used for 2 data (6.06%), description technique is used for 1 data (3.03%), generalization technique is used for 7 data (21.21%), and reduction technique is used for 1 data (3.03%). The mostly used in translation technique of CSIs is amplification technique by giving additional information, because it can make a clear for the English readers. Further, the accurateness of the CSIs translation shows 19 data (57.58%) for accurate translation, 10 data (30.30%) for less-accurate translation, and 4 data (12.12%) for inaccurate translation.
ADVERB OF TIME IN ARABIC SIMPLE SENTENCE Muhammad Ivan Fauzi; Deli Nirmala; Agus Subiyanto
Language Literacy: Journal of Linguistics, Literature, and Language Teaching Vol 4, No 2: December 2020
Publisher : Universitas Islam Sumatera Utara (UISU)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (322.313 KB) | DOI: 10.30743/ll.v4i2.3116

Abstract

This research aims to describe the pattern of Arabic simple sentences attached by adverb of time and the distribution of the adverb of time in Arabic simple sentences. The research data are in the form of a simple sentence, which contains adverb of time from a paper in the book Al-Arabiyah Baina Yadaik Volume 4a by Al-Fauzan, et al. (2014). The data collection was carried out using the observation method. The analysis of adverb of time in Arabic simple sentence was done by a tree diagram with the guidelines proposed by Chomsky (2002). The results showed that the adverb of time is inherent in verbs and was only found in the original verb and not a derivational verb. In addition, the sentence patterns of Arabic simple sentence attached by adverb of time consist of PS, SP, SPO, and PSO. The researchers also found the distribution of adverbs of time inside the predicate, behind the object, in front of the predicate, and behind the subject.
THE PHONOLOGICAL PROCESS OF SEMIVOWEL INSERTION IN BAHASA INDONESIA Kartika Eva Rahmawati; Agus Subiyanto
Language Literacy: Journal of Linguistics, Literature, and Language Teaching Vol 5, No 2: December 2021
Publisher : Universitas Islam Sumatera Utara (UISU)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (398.865 KB) | DOI: 10.30743/ll.v5i2.4530

Abstract

The phonological process shows the changing of sounds and the rules that govern the work. These sound changes can occur in vowels, consonants, and even semivowels. This study focuses on the sound changes that occur in semivowels [y] and [w], especially in Indonesian vocabularies. This study aimed to investigate the quantity of diphthong diversity in Bahasa Indonesia, as the basis for examining the role and patterns of [y] and [w] insertion, as well as when [y] and [w] cannot be inserted into some words in Bahasa Indonesia. This study also emphasizes the location where [y] and [w] are inserted by using a spectrogram. The data collection used the observation method. The list of data was taken from Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) and pronounced by an Indonesian native speaker. The spoken data are transcribed into the phonetic form using the note-taking technique. The analysis was done through the syllabic structural process based on Schane. The results present that [y] is inserted between the diphthongs ia, iu, ie, io, ea, and eo. Then, [w] is inserted between the diphthongs ua, ui, ue, uo, and oa, and the insertion of [y] and [w] does not appear when they meet with the diphthongs ai, au, ae, ao, ei, eu, oi, ou oe. The spectrograms in this study are used to see and present the insertion of [y] and [w].
The Translation Text of Drama “Macbeth”: Grammatical Transformation of Adjunct in Noun Phrase Firda Zuldi Imamah; Agus Subiyanto
Jurnal Lingua Idea Vol 12 No 2 (2021): December 2021
Publisher : Faculty of Humanities, Universitas Jenderal Soedirman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20884/1.jli.2021.12.2.2762

Abstract

Macbeth is one of Shakespeare’s play that used unique and dramatic choice of words in its adjective and noun. Grammatical transformation of adjectival adjunct in noun phrase in the translation text of drama Macbeth has caused the shift of phrase’s meaning. This study aims to identify the grammatical shift by using X-Bar theory. This study is a descriptive qualitative study. The data are collected by using documentation and note taking technique. There are 35 noun phrases collected. The results show that there are 3 types of shift of adjectival adjunct. First, the adjunct is omitted. Second, the adjunct shifts into complementizer phrase. Third, the adjunct shifts into prepositional phrase.