Claim Missing Document
Check
Articles

ANALISIS KARAKTERISTIK SEGMEN BATAS ADMINISTRASI DESA SECARA KARTOMETRIK (STUDI KASUS : KABUPATEN DEMAK, KABUPATEN SEMARANG) Rizky Arga Himawan; Sawitri Subiyanto; Hana Sugiastu Firdaus
Jurnal Geodesi UNDIP Vol 8, No 1 (2019)
Publisher : Departement Teknik Geodesi Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1054.18 KB)

Abstract

Setiap wilayah memiliki batas daerah yang jelas dan diakui atau disepakati oleh masing-masing pihak yang memiliki wilayah tersebut. Batas yang membatasi setiap daerah bisa berada di darat dan laut. Dalam batas darat dibagi menjadi dua jenis batas yaitu batas alam dan batas buatan. Batas alam adalah jenis batas yang disesuaikan  dengan kondisi alam sekitar seperti menggunakan sungai atau gunung sebagai daerah pemisah. Sedangkan batas buatan adalah jenis batas yang dibuat oleh manusia seperti jalan yang dijadikan sebagai pemisah daerah. Pada penelitian tugas akhir ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan luas wilayah yang terjadi dari data RBI dengan data hasil digitasi secara kartometrik dan mengetahui karakteristik jenis segmen batas administrasi di daerah pesisir Kabupaten Demak dan di daerah pegunungan Kabupaten Semarang. Hasil dari peneitian ini didapatkan bahwa di Kabupaten Demak terjadi perbedaan luas sebesar 0,11% atau sebesar 37,82 Hektar (Ha) dengan luas awal sebesar 35.913,36 (Ha) meningkat menjadi 35.951,19 (Ha). Sedangkan untuk Kabupaten Semarang perubahan yang terjadi sebesar 0,04% atau sebesar 7,57 Ha dengan luas awal sebesar 18.756,66 Ha menjadi 18.764,23 Ha. Karakteristik segmen batas pada Kabupaten Demak di dominasi oleh batas alam sebesar 39,02% atau 112 segmen batas persawahan dengan total segmen 287. Dan Kabupaten Semarang di dominasi oleh segmen batas alam sebesar 61,29% atau 95 segmen batas di perkebunan dari total 155 segmen batas.
PEMBUATAN PETA NILAI EKONOMI KAWASAN WISATA BERBASIS WEBGIS Dinda Anisa Anggraini; Sawitri Subiyanto; Bambang Sudarsono
Jurnal Geodesi UNDIP Volume 8, Nomor 4, Tahun 2019
Publisher : Departement Teknik Geodesi Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (985.593 KB)

Abstract

ABSTRAK Kabupaten Semarang merupakan salah satu Kabupaten di Provinsi Jawa Tengah yang perekonomiannya memiliki perkembangan yang sangat pesat ditandai dengan berkembangnya kawasan industri di beberapa wilayah di Kabupaten Semarang serta semakin berkembangnya kawasan wisata. Kabupaten Semarang memiliki beragam jenis objek wisata diantaranya Taman Wisata Kopeng, Eling Bening, Kampoeng Rawa dan Candi Gedong Songo. Berdasarkan hal tersebut, maka diperlukan peta Nilai Ekonomi Kawasan berbasis WebGIS terhadap objek wisata untuk menentukan nilai guna langsung, nilai keberadaan dan nilai total ekonomi. Penarikan sampel menggunakan non probability sampling dengan teknik sampling incidental. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah regresi linear berganda, perhitungan dilakukan dengan perangkat lunak Maple 17. Survei toponimi dilakukan dengan survei lapangan menggunakan Mobile Topographer. Perancangan Web menggunakan ArcGIS Online. Hasil dari penelitian ini yaitu nilai total ekonomi (TEV) pada keempat objek kawasan wisata yang setiap tahunnya mengalami peningkatan yang cukup signifikan, tetapi pada Taman Wisata Kopeng tahun 2016 mengalami penurunan dikarenakan pada tahun 2016 wisata ini sempat ditutup sementara waktu sampai akhirnya pada bulan mei tahun 2016 dibuka kembali dan Eling Bening tahun 2018 juga mengalami penurunan dikarenakan pada tahun 2018 wisata ini sedang direnovasi sehingga mempengaruhi kunjungan wisatawan. Pada wisata Kampoeng Rawa dan Candi Gedong Songo tidak mengalami penurunan tetapi selalu meningkat setiap tahunnya cukup pesat. Hasil kuisioner didapatkan skor terendah berada pada parameter learnability dan memorability serta skor tertinggi berada pada parameter error. Hasil uji usability pada website sebesar 85% artinya tampilan website ini sangat berhasil. Kata Kunci : Contingent Valuation Method, Nilai Ekonomi Kawasan, Travel Cost Method, WebGABSTRACT   Semarang Region is one of region in central Java Province, the economy increase very repidly. It marked by many industrial zones in Semarang region and the tourist area. Semarang region has some of tourist area such as Taman Wisata Kopeng, Eling Bening, Kampoeng Rawa and Candi Gedong Songo. Based on this, a WebGIS based regional economy value map is needed to determine the direct use value, the existence value and the total economy value. Sampling using non-probability and incidental technique. The method used in this research is multiple linear regression, calculation using Maple 17 software . The Topographic survey is conducted by field survey using a Topographer Mobile. Web design using ArcGIS online. The result of this research is total economy value (TEV) in the tourist area which every significant increase in the budget, except in Taman Wisata Kopeng in 2016 increased in 2016 reopened and Eling Bening in 2018 also decreased due to in 2018. In tourism Kampoeng Rawa and Candi Gedong Songo do not increase but always increase every year. The result of the Questionnaire obtained that the lowest score is in the learnability and memorability parameter then the highest score is in the error parameter. Usability test results on the website by 85% means that the appearance of this website is very successful.
ANALISIS PERKEMBANGAN RUANG TERBUKA HIJAU TERHADAP CAKUPAN AIR TANAH DI KOTA SEMARANG Ahmad Firdous Syifa; Sawitri Subiyanto; Fauzi Janu Amarrohman
Jurnal Geodesi UNDIP Volume 9, Nomor 1, Tahun 2020
Publisher : Departement Teknik Geodesi Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (783.588 KB)

Abstract

ABSTRAKRuang Terbuka Hijau (RTH) menurut Peraturan Daerah Kota Semarang  Nomor 7 Tahun 2010 Tentang Penataan Ruang Terbuka Hijau adalah area memanjang atau jalur dan atau mengelompok, yang penggunaannya lebih bersifat terbuka, tempat tumbuh tanaman, baik yang tumbuh secara alamiah maupun sengaja ditanam. Cakupan air tanah atau keseluruhan Muka Air Tanah (MAT) terkait erat oleh kependudukan di suatu wilayah. Tingkat pertumbuhan dan kepadatan penduduk yang tinggi tentunya dapat berimplikasi terhadap akses untuk memperoleh air bersih. Ruang terbuka hijau adalah salah satu faktor yang menjadi konsentrasi atas perubahan kedalaman air tanah dikarenakan RTH mempunyai manfaat salah satunya adalah sebagai daerah resapan air. Penelitian ini menggunakan metode  klasifikasi supervised classification untuk melihat perubahan RTH dan non-RTH yaitu daerah terbangun, badan air, jalan dan lahan kosong. Hasil perubahan RTH dan non-RTH dikorelasikan dengan perubahan MAT dengan menggunakan metode pemodelan Inverse Distance Weighted (IDW)  yang menghasilkan model perubahan MAT. Korelasi spasial perubahan MAT dan luasan RTH Pada tahun 2016 ke 2019 menunjukkan korelasi sebesar 0,09% untuk tingkat korelasi rendah, 0,18% untuk tingkat korelasi sedang, 0,23% untuk tingkat korelasi tinggi dan 0,29% untuk tingkat korelasi sangat tinggi. Tingkat korelasi perubahan kedalaman MAT dengan luasan RTH memiliki angka persentase total terlalu sedikit yaitu dibawah 5% dari jumlah total luas Kota Semarang, sehingga dapat disimpulkan bahwa perubahan kedalaman MAT dengan luasan RTH berkorelasi rendah. Kata Kunci : Cakupan Air Tanah, Inverse Distance Weighted (IDW), Korelasi Spasial, Ruang Terbuka Hijau, Supervised ClassificationABSTRACTGreen Open Space (RTH) according to Semarang City Regional Regulation No. 7 of 2010 concerning the Arrangement of Green Open Space is an elongated area or path and or grouped, the use of which is more open, place to grow plants, both those that grow naturally and intentionally planted. Groundwater coverage or the whole ground water level (MAT) is closely related to population in an area. High growth rates and population densities can certainly have implications for access to clean water. Green open space is one of the factors that is the concentration of changes in groundwater depth because green space has the benefit of one of which is as a water catchment area. This study uses the supervised classification method to see changes in green open space and non-green open space built area, water bodies, roads and vacant land. The results of changes in green space and non-green space are correlated with changes in MAT using the Inverse Distance Weighted (IDW) modeling method that results in a model of MAT changes. Spatial correlation method of overlapping changes in MAT and RTH area In 2016 to 2019 showed a correlations of 0.09% for low correlation, 0.18% for medium correlation, 0.23% for high correlation and 0.29% for very high correlation. The level of correlation of changes in MAT depth with the area of green space has a total percentage of numbers that is too little ie under 5% of the total area of the City of Semarang, so it can be concluded that the change in the depth of MAT with the area of green space correlation level is low.
ANALISIS NILAI EKONOMI KAWASAN MENGGUNAKAN TRAVEL COST METHOD (TCM) DAN CONTINGENT VALUATION METHOD (CVM) UNTUK PEMBUATAN PETA ZONA NILAI EKONOMI KAWASAN DENGAN SIG (Studi Kasus : Taman Wisata Kopeng, Kabupaten Semarang) GETMA LAVEMIA; Sawitri Subiyanto; Fauzi Janu Amarrohman
Jurnal Geodesi UNDIP Volume 7, Nomor 4, Tahun 2018
Publisher : Departement Teknik Geodesi Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (937.815 KB)

Abstract

Kabupaten Semarang mempunyaikeberagaman jenis wisata yang disuguhkan dalam kelestarian alam dan lingkungan. Di sana terdapat beberapa Obyek Wisata yang menarik untuk dikunjungi seperti Taman Wisata Kopeng sebagai tempat berpetualang yang di kelilingi oleh wahana-wahana menarik lainnya.Sektor pariwisata di Kabupaten Semarang memiliki peran yang sangat penting dalam pembangunan daerah. Potensinya dalam peningkatan pendapatan daerah dan pemberdayaan masyarakat sangatlah besar. Berdasarkanhal tersebut maka diperlukan  suatu peta Zona Nilai EkonomiKawasan (ZNEK) pada lokasi ini untuk mengetahui nilai ekonomi dan Willingness To Pay atau keinginan pengunjung untuk membayar dimana akan mempengaruhi nilai kemanfaatan lokasi wisata tersebut bagi  masyarakat dari adanya kawasan tersebut.Metode penarikan responden yang digunakan dalam penelitian tugas akhir ini adalah non probabilitysampling dengan teknik sampling insidental, yaitu responden yang ditemui secara kebetulan datang berkunjung di Taman Wisata Kopeng. Metode pengolahan data yang digunakan adalah regresi linear berganda kemudian perhitungan dengan perangkat lunak Maple 17 dengan menggunakan data TCM sebanyak 100 sampeluntuk menentukan nilai penggunaan langsung dan data CVMsebanyak 100 sampel untuk menentukan nilai keberadaan sehingga dapat digunakan untuk pembuatan Peta Zona Nilai Ekonomi Kawasan. Selanjutnya dilakukan survei toponimi untuk pembuatan Peta Utilitas. Dalam penelitian tugas akhir ini, uji asumsi klasik menunjukkan semua data berdistribusi normal, tidak terjadi heteroskedastisitas, terbebas dari autokorelasi dan tidak memiliki multikolineritas. Uji validitas dan reliabilitas menunjukan hasil valid dan reliabel pada model yang digunakan. Hasil perhitungan nilai total ekonomi didapatkan nilai DUV sebesar Rp. 379.774.061.600,-Nilai EV sebesar Rp. 41.370.407.830,- sehingga diperoleh nilai total ekonomi Taman Wisata Kopeng sebesar Rp421.144.469.400,-.
ANALISIS PENGUKURAN BATIMETRI DAN PASANG SURUT UNTUK MENENTUKAN KEDALAMAN KOLAM PELABUHAN ( Studi Kasus: Pelabuhan Tanjung Perak, Surabaya) Yose Rinaldy N; Arief Laila Nugraha; Sawitri Subiyanto
Jurnal Geodesi UNDIP Volume 3, Nomor 4, Tahun 2014
Publisher : Departement Teknik Geodesi Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1041.865 KB)

Abstract

ABSTRAKPelabuhan Tanjung Perak merupakan salah satu pelabuhan pintu gerbang di Indonesia, yang menjadi pusat distributor barang ke kawasan timur Indonesia, khususnya untuk provinsi Jawa Timur. Perkembangan lalu lintas perdagangan dan bertambahnya arus transportasi maka dilakukan usaha pengembangan fasilitas-fasilitas khususnya yang berkaitan dengan keselamatan navigasi kapal. Dalam hal ini dilakukan analisis pengukuran batimetri dan pengamatan pasang surut di perairan pelabuhan Tanjung Perak untuk menentukan kedalaman kolam pelabuhan secara berkala.            Data pasang surut selama 29 piantan dianalisis dengan metode admiralty dan pengukuran kedalaman kolam pelabuhan ditentukan berdasarkan draft (sarat kapal) kapal maksimum yang direncanakan. Kedua data tersebut akan dikombinasikan terhadadap ruang kebebasan bruto sebesar 7% dari draft maksimum, dikarenakan pelabuhan Tanjung Perak didesain terlindung dari gelombang. Dengan memperhitungkan gerak osilasi kapal karena pengaruh alam seperti gelombang, angin, dan pasang surut; kedalaman kolam pelabuhan adalah 1,1 kali draft kapal pada muatan penuh di bawah elevasi muka air rencana.            Dasar perairan dari tiap kolam pelabuhan Tanjung Perak, rata-rata bermorfologi flat to almost flat (rata/hampir rata) dengan nilai kelerengan berkisar 1,278-1,547 % serta memiliki kedalaman 2,980-20,06 m. Sedangkan tipe pasang surut perairan pelabuhan Tanjung Perak adalah pasang surut harian tunggal (diurnal tide); dengan nilai datum yang didapat sebagai berikut: MSL 1,68 m, LLWL -0,22 m, HHWL 3,58 m, dan Z0 1,33 m dengan selisih muka air laut tertinggi dan terendah sebesar 2,46 m.   Perairan kolam pelabuhan dibagi atas 5 bagian sesuai dengan desain kolam pelabuhan yang dibangun condong terlindung terhadap gelombang. Tiap kedalaman kolam pelabuhan I, II, III, IV, dan V yang dibutuhkan dengan acuan bobot kapal maksimum secara berturut-turut adalah sebesar  7,5589 m; 6,5638-7,5589 m; 9,5063 m; 8,0511 m; dan 6,5638-8,5326 m. Dimana data karakteristik kapal telah ditentukan dari pihak PT. PELINDO yang diizinkan beroperasi di tiap kolam pelabuhan. Kemudian berdasarkan data batimetri yang telah dikoreksi pasang surut, kolam pelabuhan I yang berada di bawah 7,5 m; harus dilakukan pengerukan. Untuk kolam pelabuhan II yang berada di bawah  6,5 m; harus dilakukan pengerukan. Pada data kedalaman kolam pelabuhan III yang berada di bawah 9,5 m harus dilakukan pengerukan. Pada data kedalaman kolam pelabuhan III yang berada di bawah 8 m harus dilakukan pengerukan. Pada data kedalaman kolam pelabuhan yang berada di bawah 6,5 m harus dilakukan pengerukan.Kata Kunci:   batimetri, pasang surut, admiralty, kolam pelabuhan, datum, draft  ABSTRAKPort of Tanjung Perak port is one of the gates in Indonesia, which became the center of the distributor of goods to eastern Indonesia, especially to the province of East Java. The development of trade and increasing traffic flow then made efforts to develop transportation facilities, especially with regard to the safety of navigation of the ship. In this case analysis bathymetry measurements and observations in the tidal waters of the port of Tanjung Perak port to determine the depth of the pool on a regular basis.            Tidal data for 29 piantan analyzed by methods admiralty and port pool depth measurement is determined based on the draft (laden ship) ships planned maximum. These data will be combined gross weight to freedom space for 7% of maximum draft, as the port of Tanjung Perak designed sheltered from the waves. Consider the oscillatory motion with the ship because environmental influences such as waves, wind, and tides; port pool depth is 1.1 times the full load draft of the ship below the water table elevation plans.            Bottom waters of each pool Tanjung Perak harbor, have morphologies average flat to almost flat (flat / nearly flat) with values ranging from 1.278 to 1.547% slope and has a depth of 2.980 to 20.06 m. While the type of tidal waters of Tanjung Perak port is a single daily tidal (diurnal tide); with the datum value obtained as follows: 1.68 m MSL, LLWL -0.22 m, 3.58 m HHWL, and Z0 by a margin of 1.33 m lau face highs and lows of 2.46 m.            Water pools on 5 shared port with the appropriate port built design an insulated tilt against the waves. Each port pool depth I, II, III, IV, and V are required in a row is at 7.5589 m; 6.5638 to 7.5589 m; 9.5063 m; 8.0511 m; and from 6.5638 to 8.5326 m with a maximum boat weight mold was determined from the PT. PELINDO to operate in every port pool.Then based on bathymetric data has been corrected tidal for port pool I that is between 3.830 to 7.5 m; should be dredging. For the port pool II bathymetric data between 2.220 to 6.5 m; should be dredging. For the port pool III between 1.260 to 9.5 m should be dredging. In depth data for port pool IV be between 1.26 to 8 m should be dredging. The last for port pool V between 3.78 to 6.5 m should be dredging.Keywords: bathymetry, tidal, admiralty method, port pool, georeference, draft
ANALISIS PENGARUH PERKEMBANGAN INDUSTRI BATIK TERHADAP NILAI TANAH DI KECAMATAN TIRTO KABUPATEN PEKALONGAN Muhammad Fitrianto; Sawitri Subiyanto; Andri Suprayogi
Jurnal Geodesi UNDIP Volume 5, Nomor 1, Tahun 2016
Publisher : Departement Teknik Geodesi Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1135.817 KB)

Abstract

ABSTRAKPekalongan sudah lama kita kenal dengan istilah world city of batik atau kota batik. Permintaan batik di Pekalongan yang saat ini sangat besar sehingga menimbulkan banyaknya usaha batik yang bermunculan. Dan oleh sebab itu di Pekalongan khususnya di kabupaten Pekalongan industri batik mempunyai potensi yang besar untuk  berkembang nantinya. Dengan adanya perkembangan industri batik tersebut di Kabupaten Pekalongan khususnya di Kecamatan Tirto sendiri mengakibatkan perubahan nilai tanahakibat adanya aktifitas industri batik tersebut.                Penelitian ini awalnya dilakukan pembuatan peta zona nilai tanah Kecamatan Tirto dengan menggunakansoftware Aplikasi Pengolahan Data ArcGis 10.2 untuk pembuatanpeta ZNT berdasarkan Harga Pasar Tahun 2009 dan 2014 dan pembuatanpeta ZNT berdasarkan NJOP Tahun 2009 dan Tahun 2014  . Langkah selanjutnya untuk pembuatan peta perubahan harga tanah menggunakan software ArcGis 10.2dan untuk nilai dari variabel-variabel dimasukkan pada software SPSS untuk mendapatkan hasil yang selanjutnya dilakukan analisis.Hasil penelitian menunjukkan total luas perubahan penggunaan lahan di Kecamatan Tirto dalam kurun waktu tahun 2009 ke tahun 2014 adalah 136,579 ha. Perubahan penggunaan lahan terbesar terjadi pada penggunaan lahan tegalan menjadi perumahan dengan luas sebesar 115,415 ha.Berdasarkan hasil korelasi Kendall's tau, ada hubungan yang signifikan antara perubahan nilai tanah dengan perkembangan industri batik dan begitu pula berdasarkan hasil korelasi Spearman's Rho terdapat juga hubungannya yang signifikan artinya semakin tinggi omset dari industri batik maka nilai tanah akan memiliki nilai yang tinggi pula dan melalui uji regresi linear, pengaruh adanya perkembangan industri batik terbukti memengaruhi perubahan nilai tanah di Kecamatan Tirto. Besarnya konstribusi pengaruh perkembangan industri batik terhadap perubahan nilai tanah sebesar 58,5%; R2 =0,585; β=0,001;p<0,01.Kata Kunci : Kecamatan Tirto, industri batik, perubahan nilai tanah ABSTRACTPekalongan was long known to us as the world city of batik or batik city. Request of batik in Pekalongan that is currently so great that raises a large number of batik business are popping up. And therefore in particular in Pekalongan batik of Pekalongan Regency has a great potensial in Pekalongan Regency, especially inits own momentarily TirtoLand values due to the batik industry activities.This research was originally done making zone map the value soil Sub Tirto using ArcGis Data Processing software application for the creation of a map of ZNT 10.2 based on market price in 2009 and 2014 and the making ofa map based on NJOP ZNT in 2009 and 2014. The next step for the creation on land price changes using the map softwareArcGis 10.2 and for the values of the variables included in the SPSS software to get results that are subsequently carried out the analysis.The result showed the total area land use change in district irto within years 2009 to 2014 is 136,579 ha. Based on the result of the correlation of Kendall’s know. Thre is a significant relationship between changes in land values with the development of batik industry and sois based on the correlation result Spearman’s Rho  there is also a significant relationhipmeans the higher turnover of batik industry the value soil will have a higher value and through linear regression test, influenceof the existence of the batik industry proven development influenced the change in the value of land in district Tirto. The magnitude of the contribution of  industrial development to the influence of batik to changes the value soil amounted to 58,5%; R2 =0,585; β=0,001;p<0,01.Keywords :Tirto District, batik industry, changes in the value of land *) Penulis, Penanggungjawab
SISTEM INFORMASI GEOGRAFIS SEBARAN FASILITAS PENUNJANG PERTANIAN DAN PETERNAKAN BERBASIS WEB (Studi Kasus : Kecamatan Dempet Kabupaten Demak) Bagas Arif Widyagdo; Andri Suprayogi; Sawitri Subiyanto
Jurnal Geodesi UNDIP Volume 8, Nomor 3, Tahun 2019
Publisher : Departement Teknik Geodesi Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1063.033 KB)

Abstract

ABSTRAKPertanian merupakan sektor utama perekonomian di Kabupaten Demak. Sektor pertanian merupakan sektor yang memiliki peran strategis, karena merupakan sumber utama penghidupan dan pendapatan pada tahun 2016 sektor pertanian menyumbang 24,28 % PDRB Kabupaten Demak terbesar kedua setelah sektor industri. Sebagian besar wilayah Kabupaten Demak terdiri atas lahan sawah yang mencapai luas 52.315 ha (58,29 persen), dan selebihnya adalah lahan kering Kabupaten Demak terdiri dari 14 kecamatan, salah satunya adalah kecamatan dempet yang memiliki luas 6.161 Ha (6,87% luas total kabupaten demak). Dengan teknologi yang terus berkembang, penerapan teknologi dalam berbagai bidang pun terus dilakukan, salah satu contoh dari berkembangnya teknologi adalah Sistem Informasi Geografis. Hasil penelitian ini adalah berupa website yang terdapat peta online tentang persebaran falititas penunjang pertanian dan peternakan di Kecamatan Dempet Kabupaten Demak yang diharapkan dapat membantu masyarakat yang berkecimpung khususnya dibidang pertanian dan peternakan. Website ini di bangun dengan bahasa pemrograman PHP, PostgreSQL sebagai database, sebagai hosting untuk website digunakan VPS. Dalam Website ini terdapat informasi mengenai Kecamatan Dempet khusunya dibidang pertanian dan peternakan, serta dalam peta terdapat sebaran fasilitas penunjang diantaranya, 23 penggilingan padi, 10 toko keperluan tani, 9 peternakan, dan 28 pintu air. Setelah dilakukan pengujian usability menunjukan bahwa efektivitas aplikasi mendapatkan nilai kepuasan sebesar 4,42 serta efisiensi mendapatkan nilai kepuasan 4,48. Maka dapat dikatakan responden sangat puas dengan performa website.
Analisis Geospasial Persebaran TPS dan TPA di Kabupaten Batang Menggunakan Sistem Informasi Geografis Mufti Yudiya M.; Sawitri Subiyanto; Hani&#039;ah .
Jurnal Geodesi UNDIP Volume 3, Nomor 1, Tahun 2014
Publisher : Departement Teknik Geodesi Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (758.082 KB)

Abstract

Informasi mengenai sarana kebersihan berupa TPS dan TPA sangat diperlukan guna menunjang sistem pengelolaan kebersihan di Kabupaten Batang. Dari hasil penelitian diketahui bahwa Kabupaten Batang memiliki 1 buah TPA dan 86 buah TPS. Daerah pelayanan dalam kota memiliki 78 buah TPS dengan total kapasitas 409,57 m3, sedangkan daerah pelayanan luar kota memiliki 8 buah TPS dengan total kapasitas 248,25 m3. Volume sampah yang masuk ke TPA yaitu 122 m3/hari dari dalam kota dan 23 m3/hari dari luar kota. Dari data tersebut diketahui bahwa TPS telah memenuhi daya tampung. Sementara itu dalam kesesuaian penempatan lokasi TPS, diketahui bahwa seluruh TPS di Kabupaten Batang telah sesuai dengan sedikit rekomendasi perbaikan untuk beberapa TPS seperti peletakan TPS agar tidak di badan jalan.Sementara itu keberadaan TPA Randukuning Kabupaten Batang sampai saat ini masih digunakan. Masa pelayanan sebenarnya yaitu hanya sampai tahun 2005, tetapi karena perlakuan khusus sampai saat ini masih digunakan sebagai tempat penampungan akhir sampah. Sebagai alternatif dilakukan pemilihan lokasi TPA Rekomendasi dengan memanfaatkan Sistem Informasi Geografis. Penentuan lokasi dilakukan melalui tahapan regional, penyisih, dan penilaian menggunakan SNI 193241-1994. Dari hasil pengolahan data diperoleh lokasi layak zona TPA seluas 1.423,11 Ha yang tersebar di beberapa wilayah Kabupaten Batang. Dari zona layak tersebut terpilih 3 lokasi yang dianggap paling layak yaitu berada di Desa Candiareng Kecamatan Warungasem, Desa Kalibalik Kecamatan Banyuputih, dan Desa Banaran Kecamatan Banyuputih.Kata Kunci : TPS, TPA, Sistem Informasi Geografis.
ANALISIS GEOSPASIAL PERSEBARAN TPS DAN TPA DI KOTA SEMARANG MENGGUNAKAN SISTEM INFORMASI GEOGRAFIS (Studi Kasus TPS : Kecamatan Pedurungan, Kecamatan Semarang Timur, Kecamatan Semarang Tengah, dan Kecamatan Semarang Barat) Tika Christy Novianty; Bambang Sudarsono; Sawitri Subiyanto
Jurnal Geodesi UNDIP Volume 4, Nomor 1, Tahun 2015
Publisher : Departement Teknik Geodesi Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1052.916 KB)

Abstract

ABSTRAKTempat Penampungan Sampah (TPS) di Kota Semarang hingga saat ini telah menjalankan fungsinya dengan baik. Akan tetapi, masih terdapat TPS eksisting yang terletak pada lokasi-lokasi yang dianggap kurang strategis untuk dijadikan sebagai lokasi TPS. Oleh karena itu, perlu dilakukan evaluasi kesesuaian lokasi TPS dan analisis terhadap kapasitas kontainer yang ada. Selain itu, umur TPA Jatibarang saat ini diperkirakan tidak akan muat lagi menampung sampah-sampah yang terkumpul dari seluruh Kota Semarang, untuk itu perlu dicari alternatif lahan untuk dijadikan lokasi TPA baru. Dengan memanfaatkan kemampuan Sistem Informasi Geografis maka dilakukan analisis terhadap persebaran TPS yang meliputi variabel seperti aksesbilitas, penempatan TPS, dan aktivitas dominan dari TPS tersebut, serta mencari lokasi yang strategis untuk TPA sampah yang baru berdasarkan acuan SNI 19-3241-1994. Dari hasil penelitian diketahui terdapat 60 TPS yang tersebar di Kecamatan Pedurungan, Kecamatan Semarang Timur, Kecamatan Semarang Tengah, dan Kecamatan Semarang Barat. Setelah dilakukan analisis maka diperoleh hasil bahwa TPS telah memenuhi kriteria layak dalam penilaian secara umum dengan beberapa saran perbaikan untuk lokasi TPS yang terletak di pinggir kali atau TPS yang memiliki akses jalan yang terlalu sempit dan jumlah kontainer yang masih belum mencukupi timbulan sampah di beberapa lokasi TPS. Sementara itu untuk lokasi TPA rekomendasi diperoleh tiga daerah yang layak untuk dijadikan lokasi TPA baru yang berada di Kelurahan Wonoplumbon, Kelurahan Gondoriyo, dan Kelurahan Bamban Kerep. Dari ketiga lokasi TPA rekomendasi di atas, Kelurahan yang paling layak untuk dijadikan lokasi TPA berada di Kelurahan Gondoriyo Kecamatan Ngaliyan. Kata Kunci : TPS, TPA, Standar Nasional Indonesia (SNI), Sistem Informasi Geografis (SIG) AbstractUntil now, Semarang’s Shelter Garbage (TPS) has run its function properly. However, there are still existing TPS located in locations that are considered less strategic to serve as TPS location. Therefore, it is necessary to evaluate for the suitability of the TPS location and run an analysis for the existing container capacity. In addition, the age of the TPA of Jatibarang currently are not expected to be fit to accommodate garbage that are collected from all over the city, it is necessary to find an alternative for a land to be used as a new location for the TPA. By leveraging the capabilities of Geographic Information System we analyze the distribution of the TPS that includes variables such as accessibility, TPA placement, and the dominant activity of the TPA garbage, as well as looking for a strategic location for a new TPA by reference SNI 19-3241-1994’s reference. The survey results revealed that there are 60 TPS spread in Pedurungan District, East Semarang District, Central Semarang District and Western District of Semarang. After analyzing, the results shows that TPS has met the criteria in the assessment of general feasible with some suggestions for improvements for the location of the TPS located at the edge of river or TPS that has narrow access road and the amount of container that is still not enough to meet the solid waste in some TPS location. Meanwhile for recommendation of TPA location, there are three decent area that suitable for the new TPA, located in the Wonoplumbon Village, Gondoriyo Village, and Bamban Kerep Village. From the three recommended TPA location above, the most eligible Village's for TPA location is in the Ngaliyan Subdistrict of Gondoriyo Village.Keywords : TPS, TPA, Geographic Information System (GIS)
ANALISIS TINGGI TANAMAN PADI MENGGUNAKAN MODEL 3D HASIL PEMOTRETAN UAV DENGAN PENGUKURAN LAPANGAN Kurniawan Putra Widya Wardana; Sawitri Subiyanto; Hani&#039;ah Hani&#039;ah
Jurnal Geodesi UNDIP Vol 8, No 1 (2019)
Publisher : Departement Teknik Geodesi Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (802.635 KB)

Abstract

Beras merupakan salah satu kebutuhan pokok untuk memenuhi kebutuhan pangan. Khususnya di Indonesia beras merupakan salah satu makanan pokok yang sangat dibutuhkan oleh masyarakat. Akan tetapi produksi beras di Indonesia sendiri masih belum bisa mencukupi kebutuhan akan warga negara. Ada beberapa faktor yang mempengaruhi produksi beras di Indonesia salah satunya adalah peralihan lahan sawah menjadi sektor industri dan perumahan. Khususnya di semarang peralihan lahan sawah terjadi begitu cepat karena meningkatnya kebutuhan lahan untuk hidup dan industri. Monitoring dan pengkajian akan lahan sawah perlu dilakukan agar mengetahui tindakan apa yang diperlukan untuk meningkatkan produksi beras. Salah satu cara yang dapat digunakan adalah dengan melakukan kombinasi pengamatan Unmanned Aerial Vehicle (UAV), Global Positioning System (GPS) dan data ketinggian padi di lapangan menggunakan meteran. Hal ini dilakukan dengan cara menganalisis perbedaan atau selisih tinggi tanaman padi dengan menggunakan Digital Elevation Model (DEM) yang memiliki tinggi reduksi dari ketinggian geodetik ke tinggi orthometrik. Pembentukan data DEM tersebut didapat dari data foto udara yang diolah menggunakan prinsip fotogrametri, yang kemudian dikonversi kedalam bentuk pointclouds dan kemudian menjadi data DEM yang memiliki tinggi berdasarkan EGM 2008. Hasil dari pengolahan data dilakukan validasi menggunakan metode meteran untuk mengetahui selisih tinggi tanaman yang sebenarnya.. Hasil dari penelitian ini menunjukan perbedaan tinggi rata-rata tanaman padi sebesar 0.099 m dengan tinggi kenyataan. Hasil DEM tersebut dapat dikategorikan pada Level of Detail (LOD) 3. Namun untuk visualisasi dapat dikategorikan pada Level of Detail (LOD) 2, karena bentuk 3D bangunan besar dan kecil sudah dapat dibedakan, serta vegetasi sudah padat dipetakan.
Co-Authors Abdi Sukmono, Abdi Ade Naufalita Aditya Dharmawan Afifah Asis Agatha Dimitri V. D. Kusumo Ahmad Firdous Syifa Ahmad Syauqani Ajeng Dwi Maturinsih Ajeng Dyah Setyowati Sri Utomo Akhmad Didik Prastyo Akhmad Tsalist Nailuz Tsabiq Alfonsus Bima Samudra Anastasia Astuti Andhono Yekti Andre Hidayat Andri Suprayogi Anggit Swarna Bumi Annisa Usolikhah Antonius Grizalde Simamora Anugrah, Riandhi Ardhian Setiawan Saputra ARDI SETYO PRATOMO Ardiansyah Ardiansyah Ari Setiani Arief Laila Nugraha Arif Witoko Arrizqa Laili Fitriana Arsyad Nur Ariwahid Arwan Putra Wijaya Ashari, Taufiq Ichsan Astriana Dewi Aulia Darmaputri Savitri Bagas Arif Widyagdo Bagus Yuli Arianto Bambang Darmo Yuwono Bambang Darmo Yuwono Bambang Sudarsono Bambang Sudarsono Bandi Sasmito Bashit, Nurhadi Bashit, Nurhadi Bayu Pradana Benita Roseana Benning Hafidah Kadina Bunga Roliesta Sari Charisma Parasandi Alfarizi Cindy Puspita Sari DANI PURBA Dedigun Bintang Fajeri Delima Canny Valentine Simarmata Desita Khrisna Putri, Dian Ayu Saraswati Diana Masmaulidia Diana Nukita Dinda Anisa Anggraini Dwi Rini Septiani Dwi Setyo Wicaksono, Dwi Setyo Faiz Islam Farid Burhanudin Yusup Fauzi Janu A Fauzi Janu Amarrohman Fauzi Janu Amarrohman Fauzi Janu Amarrohman Fauzi Janu Amarrohman, Fauzi Janu Febrina Aji Ratnawati Fryda Arlina Mahardika Galih Putro Pamungkas GETMA LAVEMIA Hana Sugiastu Firdaus Hana Sugiastu Firdaus Hana Sugiastu Firdaus, Hana Sugiastu Hani&#039;ah . Hani'ah, Hani'ah Haniah Haniah Hani’ah Hani’ah Hayu Rianasari Heranda Ibnu Adhi Herjuno Gularso Hisni Theresia Br Sinuraya Humaira Qanita Husen Ibnu Said Ihsan Pakaya Irfan Baharudin Istighfary Abirama Cininta Iva Kusniawati JACKIE SUPRAWITO NABABAN Jerson Otniel Purba Jetri Livia Rindika Kandiawan, Ulfa Fathul Kanti Ismawati Kemala Medika Putri Khoirul Isnaini Aulia Kukuh Ibnu Zaman Kurniawan Putra Widya Wardana L. M. Sabri Laisa Usrini Lasmi - Rahayu Leur P. Maranatha Sitorus LM. Sabri Lusiana Dewi Fatmalasari Lutfia Pangestika Lydia Fadilla Maharany Shandra Ayu Hapsary Maharditya Yoga Pramudyono Mashita Rahati Mavita Nabata Dzakiya Meilina Fika Mayangsari Merpati Dewo Kusumaningrat Mia Aulina Moehammad Awaluddin Moehammad Awwaluddin Mohammad Idris Mufid Damar Pidekso Mufti Yudiya M. Muhammad Amar Makruf Muhammad Ardhi Ahadi, Muhammad Ardhi Muhammad Fitrianto Muhammad Haris Febriansya Muhammad Nida Hakim El Wafa Muhammad Ulya Nadia Anggraeni Yuristasari Naftalie Dinda Rianty Nahar Dito Utama Giardi Nathania, Jessica Nida Shabrina Nisrina Niwar Hisanah Novian Nur Aziz Novita Amelia Nugra Putra Pembayun NUGRAHANI, MEIGA Nur Aziz Putra Aditama Nurfika Maulina Larasati Nurhadi Bashit Oktaviani Arumingtyas Pinastika Nurandani Polin Mouna Togatorop Pratama Irfan Hidayat Purwi Fitroh Hidayati Putri Ardianti Kinasih R. Sapto Hendri Boedi Soesatyo Rahmah, Azizah Nur Rajagukguk, Trevi Austin Ramlansius Tumanggor, Ramlansius Riana Kristiani Priskila Putri Rico Waskito Putro Rifky Satrio Utomo Riski Kadriansari Rismauly Yunita Tampubolon Rista Omega Septiofani Rizki Budi Kusumawardani Rizky Arga Himawan Rizky Silvandie Rudi Cahyono Putro Sarmedis Anrico Situmorang Saul Ambarita SELLI ANGELITA BR SITEPU Selli Angelita Sitepu Sitepu, Selli Angelita Siti Khoeriyah Sondang Artania Sidauruk Stella Purnomo Sutomo Kahar Sutomo Kahar Sutomo Kahar Sutomo Kahar Suwirdah Pebriyanah Swandi Sihombing Syarifa Naula Husna Tika Christy Novianty Trevi Austin Rajagukguk Tri Rahmawati Winda Kusuma Tristika Putri Utama Giardi, Nahar Dito Valent, Caesara Geacesita Viradhea Gita R. L. Wahyu Eko Saputro Wahyu Satya Nugraha Wahyuddin, Yasser Wenang Triwibowo, Wenang Wisnu Hanggoro Yasser Wahyuddin Yose Rinaldy N Yudo Prasetyo