Claim Missing Document
Check
Articles

MODEL CELLULAR AUTOMATA MARKOV UNTUK PREDIKSI PERKEMBANGAN FISIK WILAYAH PERMUKIMAN KOTA SURAKARTA MENGGUNAKAN SISTEM INFORMASI GEOGRAFIS Arrizqa Laili Fitriana; Sawitri Subiyanto; Hana Sugiastu Firdaus
Jurnal Geodesi UNDIP Volume 6, Nomor 4, Tahun 2017
Publisher : Departement Teknik Geodesi Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (581.724 KB)

Abstract

ABSTRAK Kota Surakarta merupakan salah satu wilayah dengan perkembangan kota yang pesat. Hal tersebut terjadi akibat dari peningkatan populasi dan mobilitas penduduk yang semakin tinggi. Karena faktor-faktor tersebut, maka terjadi pertumbuhan pembangunan serta perubahan penggunaan lahan yang membawa pada perubahan fisik kota. Berdasarkan hal tersebut, perlu dilakukan penelitian perubahan penggunaan lahan di Kota Surakarta. Metode yang digunakan untuk menentukan pola arah perkembangan fisik wilayah permukiman adalah Global Moran’s Index sedangkan untuk memprediksi perkembangan fisik wilayah Kota Surakarta tahun 2031 digunakan software IDRISI SELVA 17 metode CA Markov. Data-data yang digunakan antara lain citra satelit Landsat-7 SLC-on path row 119/65 tahun 2003, satelit Landsat-7 SLC-off path row 119/65 tahun 2010, citra satelit Landsat-8 OLI/TIRS path row 119/65 tahun 2017, peta tata guna lahan Kota Surakarta tahun 2010, peta RBI skala 1:25.000 tahun 2001, peta RTRW Kota Surakarta tahun 2011-2031, peta jaringan jalan tahun 2011, serta peta batas administrasi Kota Surakarta tahun 2011. Hasil dari Global Moran’s I menunjukkan bahwa pola perkembangan fisik permukiman Kota Surakarta adalah acak (random) dengan arah ekspansi bergerak keluar wilayah Kota Surakarta menuju ke selatan yaitu Kabupaten Sukoharjo. Prediksi perkembangan Kota Surakarta tahun 2031 untuk peruntukkan lahan permukiman sebesar 81,7% yang mengarah keluar menuju selatan (Kabupaten Sukoharjo) sedangkan tutupan lahan kosong sebesar 10,7% mengarah ke utara (Kabupaten Karanganyar). Kesesuaian yang diperoleh dari peta prediksi perkembangan fisik wilayah Kota Surakarta tahun 2031 dengan peta RTRW Kota Surakarta tahun 2011-2031 yaitu sebesar 61,3%. Persentase kesesuaian tersebut mengindikasi bahwa hasil prediksi CA Markov bersifat substansial dengan rentang kepercayaan 61%-80%.
ANALISIS FAKTOR AKSESIBILITAS TERHADAP ZONA NILAI TANAH DI KAWASAN PUSAT KOTA UNTUK MENINGKATKAN POTENSI PAD (Studi Kasus : Kecamatan Kendal, Kabupaten Kendal) Putri Ardianti Kinasih; Sawitri Subiyanto; Bambang Sudarsono
Jurnal Geodesi UNDIP Vol 8, No 1 (2019)
Publisher : Departement Teknik Geodesi Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (842.94 KB)

Abstract

Kecamatan Kendal merupakan ibu kota Kabupaten Kendal dengan kegiatan pembangunan wilayah yang cukup pesat, sehingga mendorong kebutuhan tanah meningkat dan menyebabkan lonjakan harga tanah. Hal ini terjadi karena berbagai faktor, salah satunya adalah faktor aksesibilitas. Berdasarkan Perda Kabupaten Kendal Nomor 11 Tahun 2011 tentang aturan penarikan pajak daerah, Pajak Bumi dan Bangunan Perdesaan dan Perkotaan  (PBB-P2) dan Bea Perolehan Hak Atas Tanah dan Bangunan (BPHTB) adalah pendapatan dari sektor pajak yang sangat potensial. Oleh karena itu perlu dianalisis penilaian tanah dengan pembentukan peta ZNT sebagai acuan penarikan pajak daerah sehingga dapat meningkatkan PAD (Pendapatan Asli Daerah). Dalam penelitian dibentuk peta ZNT  berdasarkan nilai tanah dengan penilaian massal menggunakan pendekatan perbandingan penjualan (sales comparative). Data yang digunakan berupa data Nilai Jual Objek Pajak (NJOP) serta data harga tanah. Data harga tanah diolah untuk memperoleh NIR yang kemudian dibandingkan dengan nilai tanah berdasarkan NJOP. Untuk analisis pengaruh faktor aksesibilitas dilakukan pengujian statistik antara harga pasar tanah dan variabel-variabel bebas yang ditentukan. Hasil penelitian menunjukan 67 Zona Nilai Tanah dengan data NJOP (Nilai Jual Objek Pajak) tanah dengan nilai terendah sebesar Rp 20.000 per m2 dan nilai tertinggi sebesar Rp 916.000 per m2. Sedangkan NIR dengan nilai terendah sebesar Rp 81.000 per m2 dan nilai tertinggi sebesar Rp 3.864.000 per m2. Hasil penelitian mengenai faktor aksesibilitas yang paling berpengaruh adalah lebar jalan, sedangkan hasil dari pengujian statistik didapatkan pengaruh variabel bebas dan variabel terikat sebesar 49,3%. Untuk analisis potensi peningkatan pendapatan rata-rata PAD (Pendapatan Asli Daerah) berdasarkan perbandingan antara NIR dan NJOP adalah 511,84%.
PENENTUAN NILAI EKONOMI KEBERADAAN DAN NILAI PENGGUNAAN LANGSUNG UNTUK PEMBUATAN PETA ZONA NILAI EKONOMI KAWASAN DAN PETA UTILITAS MENGGUNAKAN SIG (Studi kasus : Kawasan Kebun Raya Bogor, Kota Bogor ) Diana Masmaulidia; Sawitri Subiyanto
Jurnal Geodesi UNDIP Volume 6, Nomor 4, Tahun 2017
Publisher : Departement Teknik Geodesi Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (639.537 KB)

Abstract

ABSTRAK    Kota Bogor merupakan kota hujan dimana memiliki banyak potensi wisata. Salah satu objek wisata yang mempunyai potensi ialah objek wisata Kawasan Kebun Botani Bogor atau yang sering disebut dengan  Kawasan Kebun Raya Bogor yang terletak di pusat Kota Bogor. Kawasan Kebun Raya Bogor merupakan suatu kawasan objek wisata alam, wisata sejarah dan sebagai pusat keilmuan pengembangan pertanian dan holtikultura di Indonesia yang memiliki nilai potensi yang dapat dikembangkan.  Berdasarkan hal tersebut maka diperlukan suatu peta Zona Nilai Ekonomi Kawasan (ZNEK) untuk menduga dan mengetahui seberapa besar keinginan seseorang untuk memberikan nilai fungsi ekonomi kawasan dan masyarakat sekitar yang memperoleh manfaat dari kawasan tersebut. Metode penarikan sampel (responden) yang digunakan dalam penelitian tugas akhir ini adalah non probability sampling dengan teknik sampling insidental yaitu untuk responden yang secara kebetulan ditemui di lokasi wawancara. Metode pengolahan data yang digunakan adalah analisis regresi linear berganda dan perhitungan Willingness To Pay  menggunakan perangkat lunak Maple 17 dengan TCM (Travel Cost Method) dan CVM (Contingent Valuation Method).Dalam penelitian, diperoleh hasil berupa Peta Zona Nilai Ekonomi Kawasan dengan nilai surplus konsumen wisatawan nusantara sebesar Rp. Rp. 4.260.405,- per individu pertahun, dengan nilai Willingness To Pay sebesar Rp 39.077,- sehingga diperoleh nilai total ekonomi objek Kawasan Kebun Raya Bogor sebesar Rp. 3.691.005.204.770 (nilai surplus konsumen per individu per tahun dikalikan dengan jumlah pengunjung tahun 2016).
ANALISIS PENAMBAHAN VARIABEL PEMBANDING FISIK DALAM PERHITUNGAN HARGA TANAH DI KECAMATAN BANYUMANIK Lusiana Dewi Fatmalasari; Sawitri Subiyanto; Hana Sugiastu Firdaus
Jurnal Geodesi UNDIP Volume 9, Nomor 2, Tahun 2020
Publisher : Departement Teknik Geodesi Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (374.269 KB)

Abstract

ABSTRAKKecamatan Banyumanik termasuk ke dalam wilayah pinggiran kota (urban fringe) yang berkembang cukup pesat akibat dari padatnya aktivitas pembangunan dan laju pertumbuhan penduduk yang terjadi di pusat Kota Semarang. Hal tersebut menyebabkan meningkatnya permintaan dan penawaran lahan setiap tahun di Kecamatan Banyumanik dimana kondisi wilayahnya didominasi oleh area perbukitan dengan ketinggian kurang lebih 250 mdpl. Topografi yang bervariasi tersebut merupakan salah satu faktor fisik tanah yang menjadi penentu dari tinggi rendahnya harga tanah, oleh karena itu dilakukan penelitian terkait pengaruh penambahan penyesuaian faktor fisik dalam perhitungan harga tanah untuk memperoleh Nilai Pasar Wajar (NPW). Penelitian ini dilakukan dengan membuat peta Zona Nilai Tanah (ZNT) tahun 2013, 2016, dan 2019 berdasarkan data harga tanah hasil survei lapangan dengan penilaian masal. Dilakukan dua kali perhitungan dalam penelitian ini yaitu perhitungan dengan unsur penyesuaian menurut Badan Pertanahan Nasional (BPN) dan perhitungan dengan penambahan penyesuaian variabel pembanding fisik untuk mengetahui tingkat kedekatan data dengan Nilai Jual Objek Pajak (NJOP). Variabel pembanding fisik yang digunakan antara lain kemiringan, lebar jalan, bentuk tanah, luas tanah, dan kedudukan tanah. Berdasarkan data harga tanah yang diperoleh, dilakukan analisis pola harga tanah berdasarkan jalur jalan utama di Kecamatan Banyumanik. Hasil penelitian menunjukkan pada tahun 2013 – 2016 perubahan harga tanah tertinggi terjadi pada zona 53 yang terletak di Kelurahan Sumurboto sebesar Rp 3.351.000 dan pada tahun 2016 - 2019 terjadi pada zona 11 yang terletak di Kelurahan Ngesrep sebesar Rp 8.472.000. Berdasarkan dua perhitungan yang telah dilakukan menunjukkan bahwa perhitungan tanpa variabel pembanding fisik lebih mendekati data NJOP dengan selisih tertinggi Rp 4.553.000 pada tahun 2013, Rp 4.783.000 pada tahun 2016, dan Rp 5.034.000 pada tahun 2019. Dari data harga tanah yang ada dihasilkan pola harga tanah di Kecamatan Banyumanik yang cenderung berbentuk radial yang berpusat pada satu titik yaitu Kantor Kecamatan Banyumanik sebagai pusat kota dan mengikuti jalur jalan utama.  Kata Kunci: ZNT, Faktor Fisik Tanah, NJOP, Pola Harga Tanah, NPW ABSTRACTBanyumanik subdistrict is included in the suburban area (urban fringe) which develops quite rapidly due to the high development activities and population growth rate that is happening in the center of Semarang City. This situation causes an increase of the demand and supply in land every year in Banyumanik District where the area is dominated by hilly areas with an altitude of approximately 250 meters above sea level. This varied topography is one of the physical factor of land that determines the high and low land prices,. therefore this research is conducted related to the effect of adding physical factor adjustment in the calculation of land prices to obtain Fair Market Value (NPW). This research is done by making a map of Land Value Zones (ZNT) in 2013, 2016, and 2019 based on land price data from field observations with mass assessments. The calculations are done twice in this study are calculation with the adjustment element according to the National Land Agency (BPN) and the calculation with the addition of the physical comparison variable adjustment element to determine the level of data proximity with Tax Object Selling Value (NJOP).. Physical comparison variables used in this research are slope, road width, land shape, land area, and land position. Then from the obtained land price data, land price patterns were analyzed based on the main road lane in the Banyumanik District. The results show that in 2013-2016 the highest land price change occurred in zone 53 located in Sumurboto Sub-District with the amount of Rp 3.35.,000 and in 2016-2019 occurred in zone 11 located in Ngesrep Sub-District with the amount of Rp 8.472.000. Both calculations show that the calculation without physical comparison variables is closer to the NJOP data with the percentage difference Rp 4.553.000 in 2013, Rp 4.783.000 in 2016, and Rp 5.034.000 in 2019. From the existing land price data, land price pattern in the District Banyumanik, which tends to be radial, is centered at one point, namely the Banyumanik District Office as the center of the districtt and follows the main road.Keywords: ZNT, Land Physical Factor, NJOP, Land Price Pattern, NPW
PENGGUNAAN PARAMETER ORIENTASI EKSTERNAL (EO) UNTUK OPTIMALISASI DIGITAL TRIANGULASI FOTOGRAMETRI UNTUK KEPERLUAN ORTOFOTO Syarifa Naula Husna; Sawitri Subiyanto; Hani'ah Hani'ah
Jurnal Geodesi UNDIP Volume 5, Nomor 4, Tahun 2016
Publisher : Departement Teknik Geodesi Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (736.665 KB)

Abstract

ABSTRAKDalam pelaksanaan pemetaan fotogrametri udara dibutuhkan titik-titik yang diketahui dan memiliki referensi koordinat tanah lokasi dimana pengukuran dilaksanakan. Titik-titik ini disebut dengan Ground Control Point atau titik kontrol (Seker dan Duran, 2011). Namun selain hanya menggunakan GCP, pengolahan fotogrametri udara juga dapat dilakukan dengan menambahkan parameter orientasi eksternal (EO) hasil ekstraksi GNSS dan IMU yang terpasang pada kamera. EO ini berupa koordinat posisi principal point (X, Y, Z) dan rotasi (omega, phi, kappa) masing-masing foto udara. Penggunaan orientasi eksternal (EO) dalam menghasilkan ortofoto dapat meminimalisir kebutuhan tie point pada wilayah overlap foto udara (Ip dkk, 2007).Metodologi yang digunakan dalam penelitian ini adalah triangulasi udara digital dengan menambahkan parameter orientasi eksternal (EO) pada tiga sampel penelitian yang memiliki jumlah panjang basis yang berbeda untuk menghasilkan ortofoto. Sampel-sampel tersebut yakni foto udara dengan 8 basis, 4 basis, dan 2 basis. Seluruh pelaksanaan penelitian yang akan dilaksanakan menggunakan perangkat lunak Inpho Application Master.Setelah ortofoto seluruh sampel terbentuk didapatkan nilai RMSEX GCP untuk foto udara 8 basis sebesar 0,547 meter, RMSEY 0,670 meter dan RMSEZ 1,162 meter. Kemudian untuk foto udara 4 basis dihasilkan RMSEX sebesar 0,392 meter, RMSEY 0,573 meter dan RMSEZ 0,527 meter. Sedangkan untuk foto udara 2 basis dihasilkan RMSEX sebesar 0,137 meter, RMSEY 0,428 meter, dan RMSEZ 0,377 meter. Untuk nilai ketelitian horizontal yang didapatkan adalah 0,617 meter skala 1:5000 pada foto udara 8 basis, 0,605 meter skala 1:5000 pada foto udara 4 basis, serta 0,477 meter skala 1:2500 pada foto udara 2 basis. Kata Kunci : Fotogrametri, GCP, Orientasi Eksternal, Ortofoto, Triangulasi Udara. ABSTRACTAerial photogrammetry mapping needs points which are has been identified and have a ground reference coordinates of the location where the points was measured. Those points are called Ground Control Point (Seker and Duran, 2011). However, the aerial photogrammetry can be measured just by adding exterior orientation parameters which extracted from GNSS and IMU that applied on camera. EO is a data that consist six parameters in a two groups, first group named coordinates principal point (X, Y, Z), second group named camera’s rotation (omega, phi, kappa). The use of exterior orientation parameters (EO) in producing orthophoto can minimize the needs of tie points in the overlap region of aerial photos (Ip et al, 2007).This study is using digital aerial triangulation methodology by adding exterior orientation parameters (EO) on three samples which has different gap to produce orthophoto. The samples have three kinds of gaps which is 8 gaps, 4 gaps and 2 gaps. Overall implementation of the research are using Inpho Application Master software.After all of orthophotos are formed, RMSEX GCP values was obtained for 8 gaps aerial photos amounted to 0.547 meters long, RMSEY amounted to 0.670 meters long and RMSEZ amounted to 1.162 meters long. Furthermore, 4 gaps aerial photos produced RMSEX amounted to 0.392 meters, RMSEY amounted to 0.573 meters and RMSEZ amounted to 0.527 meters. Last, 2 gaps aerial photos produced RMSEX amounted to 0.137 meters, RMSEY amounted to 0.428 meters and RMSEZ amounted to 0.377 meters. The horizontal accuracy value is 0.617 meter with scale 1: 5000 for 8 gaps aerial photos, 0.605 meter with scale 1: 5000 for 4 gaps aerial photos, and 0.477 meter with scale 1: 2500 for 2 gaps aerial photos. Keywords : Photogrammetry, GCP, Exterior orientation, Orthophoto, Aerial triangulation. *)  Penulis, PenanggungJawab
UJI COBA GNSS CORS DALAM PEMETAAN BATAS BIDANG TANAH MENGGUNAKAN SPIDERWEB ( STUDI KASUS : KABUPATEN SEMARANG ) Kukuh Ibnu Zaman; Sawitri Subiyanto; L. M. Sabri
Jurnal Geodesi UNDIP Volume 2, Nomor 3, Tahun 2013
Publisher : Departement Teknik Geodesi Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (353.737 KB)

Abstract

SpiderWeb merupakan suatu integrasi software dan hardware untuk mengontrol dan mengoprasikan satu receiver GPS ataupun beberapa receiver dalam satu network. CORS BPN sering mendapat kendala pada Communication Link (GPRS) dan Virtual Private Network (VPN) sehingga pengukuran CORS menggunakan NTRIP (Networked Transport of RTCM via Internet Protocol) cenderung lama untuk mendapatkan solusi pengukuran “fix”, untuk itu BPN RI bekerjasama dengan Leica mencoba memberikan alternatif baru untuk membuat software SpiderWeb.Pada penelitian tugas akhir ini analisis yang digunakan adalah selisih luasan bidang tanah hasil Post Processing menggunakan Spiderweb dengan hasil Post Processing menggunakan GNSS Solutions yang mengikat pada stasiun referensi Kantor Pertanahan Kabupaten Semarang. Metode pengukuran GPS yang digunakan adalah statik singkat (rapid static), dengan waktu pengamatan selama 5 menit. Data luasan bidang tanah definitif yang digunakan adalah luasan hasil Post Processing menggunakan GNSS Solutions.Selisih luasan yang dihasilkan dari hasi pengolahan data adalah sebagai berikut: pengukuran bidang tanah metode statik singkat menggunakan SpiderWeb dengan waktu pengamatan 5 menit dan jarak dari base stasion 2 km mendapatkan selisih luasan yang cukup besar, dengan selisih terkecil luasan bidang tanah terdapat pada bidang 7 yaitu sebesar 0,603 m2 (0,13%), dan selisih terbesar adalah pada bidang 17 yaitu sebesar 147,508 m2  (18,42%).Kata Kunci : SpiderWeb, GNSS CORS, Statik singkat, Pengukuran bidang tanah.
ANALISIS ARAH PERTUMBUHAN WILAYAH DENGAN MENGGUNAKAN METODE SIG (Studi Kasus : Kabupaten Bekasi) Charisma Parasandi Alfarizi; Sawitri Subiyanto; Fauzi Janu Amarrohman
Jurnal Geodesi UNDIP Volume 4, Nomor 4, Tahun 2015
Publisher : Departement Teknik Geodesi Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1508.742 KB)

Abstract

ABSTRAKWilayah adalah bagian dari permukaan bumi yang memiliki karakteristik tertentu dan berbeda dengan wilayah yang lain. Istilah lain dari wilayah yang umum digunakan adalah region. Pesatnya pembangunan menyebabkan tingginya perubahan pola penggunaan lahan. Lahan yang dulunya merupakan lahan kosong atau lahan tidak terbangun, banyak mengalami perubahan fungsi menjadi lahan terbangun. Tujuan penelitian adalah untuk mengetahui perubahan penggunaan lahan di Kabupaten Bekasi. Analisis perubahan penggunaan lahan ini dilakukan dengan penggambaran peta penggunaan lahan Kabupaten Bekasi tahun 2000, 2005, dan 2010 menggunakan Citra Landsat 7 serta tahun 2015 dengan menggunakan Citra Landsat 8 kemudian untuk mendapatkan analisis perubahan lahan digunakan metode SIG.Berdasarkan analisis pada Citra Landsat 7 tahun 2000, 2005, dan 2010 serta Landsat 8 tahun 2015 di dapatkan luas Kabupaten Bekasi sebesar 130675,8769 Ha. Kecamatan yang paling pesat perkembangannya yaitu Kecamatan Cibitung, karena pada tahun 2000 lahan permukimannya hanya seluas 1183,232 Ha dari 4387,370 Ha atau sekitar 27%, sedangkan pada tahun 2015 lahan pemukimannya bertambah menjadi seluas 2454,887 Ha atau sekitar 56%. Dalam kurun waktu kurang lebih 15 tahun lahan pemukimannya bertambah sebesar 29%.Dengan menggunakan analisis tetangga terdekat (Nearests Neighbour Analysis) untuk mengetahui pola dari pertumbuhan wilayah Kabupaten Bekasi didapatkan pola dari tiap kecamatan dalam tiap tahunnya. Sedangkan, untuk menentukan arah pertumbuhan wilayah dilakukan pembobotan nilai, yang terdiri dari 3 unsur pembobotan. Yaitu, penilaian terhadap pola pertumbuhan kecamatan, perkembangan luas pemukiman, perkembangan kawasan industri. Kemudian setelah diberi pembobotan nilai, maka nilai dari pembobotan kecamatan yang tertinggi berarti merupakan arah dari pertumbuhan wilayah Kabupaten Bekasi. Dari hasil pembobotan tersebut, didapat hasil nilai pembobotan paling banyak yaitu pada Kecamatan Cibitung dengan nilai 6, sehingga arah pertumbuhan Kabupaten Bekasi mengarah pada Kecamatan Cibitung.Kata Kunci : Analisis Tetangga Terdekat, Perubahan Penggunaan Lahan, Pola Pertumbuhan Wilayah, SIG, Wilayah. ABSTRACTTerritories are parts of the earth surface that has a certain characteristic and each of them is different from one another. Another term of territory, which is commonly used, is called region. The rapid growing development is causing significant changes of field cultivation pattern. The fields that used to be empty or unused now are experiencing the function transformation into the developed ones. The purpose of this research is to find out the changes of field cultivation in Bekasi Regency. This analysis of the changes of field cultivation is done by drawing map of field cultivation in Bekasi Regency in the year of 2000, 2005 and 2010 by using Landsat 7 Imagery and also in 2015 by using Landsat 8 Imagery. Beside that, in order to obtain the field cultivation analysis, the author used SIG method.Based on the analysis of Citra Landsat 7 year 2000, 2005, 2010 and Landsat 8 year 2015, it is known that there were 130675,8769 Ha of subdistrict which had the most rapid development and the one was Cibitung Subdistrict. Cibitung Subdistrict used to have only 1183,232 Ha of settlement field from the total of 4387,370 Ha, approximately 27% in 2000. While in 2015, the settlement field is growing at the total of 2454,887 Ha, approximately 56%. In less than 15 years, the settlement field has grown at 29%.                By using the nearest neighbor analysis ( Nearests Neighbour analysis) to determine the pattern of growth in Bekasi Regency pattern obtained from each district in each year. Whereas , for determining the direction of growth in the region should be weighted value , which consists of three elements of the weighting . Namely , assessment of the growth pattern of the sub-district , a residential area development , the development of industrial estates . Then, after being given a weighting value then the value of the weighting of the highest districts means that a direction of growth of Bekasi District . The weighting of the results , the result is the weighting value most , namely in the District Cibitung with a score of 6 , so that the direction of growth leads to the District of Bekasi Regency Cibitung. Keywords : Field Cultivation Transformation, GIS, Region, The Growth Pattern Region and The Nearest Neighbour Analysis.*) Penulis, PenanggungJawab
EVALUASI KESESUAIAN LAHAN PERMUKIMAN BERBASIS SISTEM INFORMASI GEOGRAFIS (Studi Kasus : Semarang Bagian Selatan) Purwi Fitroh Hidayati; Sutomo Kahar; Sawitri Subiyanto
Jurnal Geodesi UNDIP Volume 4, Nomor 2, Tahun 2015
Publisher : Departement Teknik Geodesi Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (810.566 KB)

Abstract

AbstrakDalam perkembangan permukiman yang terjadi di wilayah Semarang Bagian Selatan yaitu kecamatan Gunung Pati, Tembalang dan Banyumanik secara langsung dipengaruhi oleh adanya perguruan tinggi dan para pedagang atau pekerja yang kemudian mendatangi kawasan tersebut. Selaian itu luasan lahan yang masih luas serta fasilitas yang akhirnya kecamatan-kecamatan tersebut dijadikan salah satu tempat untuk beraktifitas. Sistem Informasi Geografis (SIG) merupakan langkah yang tepat dalam menyajikan aspek spasial (keruangan). Dalam hal ini SIG mempunyai manfaat yang dapat digunakan untuk menganalisis dalam proses evaluasi kesesuaian lahan yang sesuai dengan parameter yang telah ditentukan, yaitu tata guna lahan, kemiringan lereng, jenis tanah, curah hujan, jarak terhadap jalan utama dan gerakan tanah.Dari analisis menggunakan metode AHP (Analitycal Hierarchy Process) menunjukan besar bobot yang mempengaruhi untuk masing-masing parameter sebesar 35,78 % untuk kemiringan lereng dan gerakan tanah, 10,80 % untuk jenis tanah, 8,33% untuk penggunaan lahan, 5,42 % untuk jarak terhadap jalan utama dan 3,89 % untuk curah hujan. Dari hasil overlay peta hasil skoring tersebut maka didapat lahan dengan luas 5101,10 (ha) atau sekitar 31,87 % sangat sesuai untuk permukiman, lahan dengan luas 3764,69 (ha) atau sekitar 23,52 % sesuai untuk permukiman, lahan dengan luas 2914,16 (ha) atau sekitar 18,21 % cukup sesuai untuk permukiman, lahan dengan luas 1287,36 (ha) atau sekitar 8,04% lahan kurang sesuai untuk permukiman dan lahan dengan luas 3012,56 (ha) atau sekitar 18,82 % tidak sesuai untuk permukiman. Kata kunci: Permukiman, Analytic Hierarchy Process, Sistem Informasi Geografis, Kemiringan, Jenis Tanah. AbstractIn residential developments that occurred in the area of Southren Semarang namely Gunung Pati, Tembalang and Banyumanik is directly influenced by the presence of colleges and traders or workers who later came to the region. Beside the land area that is still widespread, and the facilities are sub-districts eventually be one of the places to activities. Geographic Information System (GIS) is a right step in presenting the spatial aspects (spatial). In this case the GIS has the benefit that can be used to analyze the process of land suitability evaluation in accordance with predetermined parameters, namely land use, slope, soil type, rainfall, distance to the main road and ground movement. From the analysis using AHP (Analytical Hierarchy Process) showed much weight affect for each parameter of 35.78% for the slope and soil movement, 10.80% for the type of soil, 8.33% for the landuse, 5, 42% of the distance to the main road and 3.89% for outpour of rainfall. From the results of the scoring overlay the map results obtained land with an area of 5101.10 (ha), or approximately 31.87% is very suitable for settlement, land with an area of 3764.69 (ha), or approximately 23.52% according to settlements, land with wide 2914.16 (ha), or approximately 18.21% is quite suitable for settlement, land with an area of 1287.36 (ha), or approximately 8.04% less land suitable for settlement and land with an area of 3012.56 (ha) or around 18.82% are not suitable. Keywords: Settlement, Analytic Hierarchy Process, Geographic Information System, Slope, Soil Type.
ANALISIS DEFORESTASI HUTAN DI PROVINSI JAMBI MENGGUNAKAN METODE PENGINDERAAN JAUH ( Studi Kasus Kabupaten Muaro Jambi ) Cindy Puspita Sari; Sawitri Subiyanto; Moehammad Awaluddin
Jurnal Geodesi UNDIP Volume 3, Nomor 2, Tahun 2014
Publisher : Departement Teknik Geodesi Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (656.896 KB)

Abstract

AbstrakProvinsi Jambi merupakan salah satu provinsi di pulau Sumatera yang memiliki wilayah hutan yang cukup luas dan dijadikan sebagai penyumbang oksigen di permukaan bumi. Namun banyaknya penebangan liar, kebakaran hutan, dan perluasan wilayah perkebunan maupun pemukiman menyebabkan terjadinya penurunan luas kawasan hutan atau yang disebut dengan deforestasi.Deforestasi yang ada di Provinsi Jambi  paling parah terjadi di Kabupaten Muaro Jambi. Di Kabupaten ini terdapat kawasan hutan Produksi dan kawasanj hutan lindung yang juga mengalami deforestasi bertahap setiap tahunnya. Hal ini menyebabkan terjadinya perubahan wilayah hutan dan membuat pemerintah daerah mengeluarkan moratorium untuk melindungi kawasan hutan yang masih utuh. Oleh sebab itu dibutuhkan informasi penurunan hutan pada setiap tahunnya.Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui perubahan lahan dan penurunan kawasan hutan yang ada di Kabupaten Muaro Jambi. Metode yang digunakan adalah interpretasi citra menggunakan Software Arcgis 9.3 dan untuk mengetahui vegetasi yang ada digunakan metode NDVI dengan menggunakan software Er-Mapper 7.0.Hasil yang diperoleh dari penelitian adalah deforestasi yang terjadi di kabupaten Muaro Jambi dari tahun 2005 sampai dengan tahun 2013 adalah sebesar 9.6% atau sebesar 14.218,615 Ha dan terjadi di kecamatan Jambi Luar Kota, Bahar Selatan, Kumpeh, Kumpeh Ulu, Muaro Sebo, Taman Barjo, dan Sekernan. Kata kunci: Deforestasi, Wilayah Hutan, Ndvi, dan Interpretasi Citra AbstractJambi province is a province on Sumatra island that has a fairly extensive forest area and contributory as oxygen in the Earth's surface. But the number of illegal logging, forest fires and the expansion of plantation areas and settlements led to the decline of forest area or called with deforestationDeforestation in Jambi province's most severe case in Muaro Jambi Regency. In the County there are Production forest area and the kawasanj protected forest which also experienced a gradual deforestation every year. This led to the occurrence of change of forest area and make local governments issued a moratorium to protect forested areas that are still intact. Therefore, it needs information on forest loss every yearThe results obtained from the research is the deforestation that occurs in Muaro Jambi Regency from 2005 to 2013 is equal to 9.6% or  14.218,615 Ha and happened  in district outside the city of Jambi, South Bahar, Kumpeh, Kumpeh Ulu, Muaro Sebo, Taman Barjo and Sekernan.This research was conducted to find out the changes of land use and a decrease in forest area in Muaro Jambi Regency. The method used is the interpretation of the image using the Arcgis 9.3 Software and to know there are used methods of vegetation NDVI using Er-Mapper software 7.0.*) Penulis Penanggung Jawab
PEMANFAATAN NILAI WILLINGNESS TO PAY DALAM PERHITUNGAN NILAI EKONOMI KAWASAN (Studi Kasus : Candi Gedong Songo, Vihara Buddhagaya Watugong, Dan Masjid Agung Jawa Tengah) Suwirdah Pebriyanah; Sawitri Subiyanto; Abdi Sukmono
Jurnal Geodesi UNDIP Volume 5, Nomor 1, Tahun 2016
Publisher : Departement Teknik Geodesi Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (958.524 KB)

Abstract

ABSTRAKCandi Gedong Songo, Masjid Agung Jawa Tengah dan Vihara Buddhagaya Watugong merupakan kawasan yang mempunyai nilai sejarah yang digunakan sebagai obyek wisata yang sering di kunjungi oleh para wisatawan baik wisatawan lokal maupun wisatawan luar. Berdasarkan hal tersebut, maka diperlukan suatu peta zona nilai ekonomi kawasan (ZNEK) terhadap obyek wisata candi gedong songo, masjid agung jawa tengah dan vihara buddhagaya watugong untuk pemanfaatan willingness to pay dalam perhitungan zona nilai ekonomi kawasan pada objek wisata tersebut.Metode penarikan sampel (responden) yang digunakan dalam penelitian tugas akhir ini adalah non probability sampling dengan teknik incidental sampling. Dalam survei lapangan dibutuhkan kuisioner TCM (Travel Cost Method) yang digunakan untuk menghitung nilai guna langsung (DUV) dan kuisoner CVM (contingent valuation method) yang digunakan untuk menghitung nilai keberadaan (EV). Metode pengolahan data yang digunakan adalah analisis regresi linear berganda dan perhitungan WTP menggunakan perangkat lunak maple 14.Dalam penelitian tugas akhir ini, diperoleh hasil berupa peta zona nilai ekonomi kawasan. Candi gedong songo dengan nilai WTP sebesar Rp 39.734,- dengan surplus konsumen sebesar Rp,739.022,- sehingga diperoleh nilai ekonomi total candi gedong songo sebesar Rp.221.071.179.400,00 . Vihara buddhagaya watugong dengan nilai WTP sebesar Rp 30.055,- dengan surplus konsumen sebesar Rp129.953,-. sehingga diperoleh nilai ekonomi total vihara buddhagaya watugong sebesar Rp1.859.627.753,00. Dan untuk masjid agung jawa tengah dengan nilai WTP sebesar Rp 49.008,- dengan surplus konsumen sebesar Rp 6.260.711,- sehingga diperoleh nilai ekonomi total masjid agung jawa tengah sebesar Rp 1.366.531.749.000,-Kata Kunci : Willingness To Pay (WTP), Zona Nilai Ekonomi Kawasan,  regresi linear berganda, maple 14. ABSTRACTGedong Songo Temple, Grand Mosque Of Central Java and Buddhagaya Watugong as Buddhist Monastery are some areas as vacation objects that have many historical value frequented by tourists both local and foreign tourists. Based on this, we need a mep of the region’s economic value zone (ZNEK) of the Gedong Songo Temple, The Grand Mosque Of Central Java and Buddhagaya Watugong as Buddhist Monastery to use the willinengss to pay in the calculation of economic value zone in this area of these attractions.Sampling method (respondents) were used in this research is non probability sampling with incidental sampling technique. In a field survey questionnaire needed TCM (Travel Cost Method) which is used to calculate the direct use value (DUV) and questionnaire CVM (Contingent Valuation Method) used to calculate the existence value (EV). Data processing method used is multiple linear regression analysis and calculations software WTP using Maple 14.In this research, the results obtained in the form of  a map Zone Economic Value Area. Gedong Songo Temple with WTP value of Rp 39.734,- with consumer surplus of Rp 739.022,- in order to obtain the total economic value of Gedong Songo Temple Rp 221.071.179.400,- . Buddhagaya Watugong as Buddhist Monastery with WTP value of Rp 30.055,- with consumer surplus amounted Rp129.953,- in order to obtain the total economic value of Buddhagaya Watugong as Buddhist Monastery Rp1.859.627.753,- . The Grand Mosque Of Central Java with WTP value of Rp 49.008,- with consumer surplus of Rp 6.260.711,- in order to obtain the total economic value of The Grand Mosque Of Central Java Rp 1.366.531.749.00,- Kata Kunci : Willingness To Pay (WTP), Zone Economic Value ,  Multiple Linear Regression, maple 14.   *) Penulis, Penanggungjawab
Co-Authors Abdi Sukmono, Abdi Ade Naufalita Aditya Dharmawan Afifah Asis Agatha Dimitri V. D. Kusumo Ahmad Firdous Syifa Ahmad Syauqani Ajeng Dwi Maturinsih Ajeng Dyah Setyowati Sri Utomo Akhmad Didik Prastyo Akhmad Tsalist Nailuz Tsabiq Alfonsus Bima Samudra Anastasia Astuti Andhono Yekti Andre Hidayat Andri Suprayogi Anggit Swarna Bumi Annisa Usolikhah Antonius Grizalde Simamora Anugrah, Riandhi Ardhian Setiawan Saputra ARDI SETYO PRATOMO Ardiansyah Ardiansyah Ari Setiani Arief Laila Nugraha Arif Witoko Arrizqa Laili Fitriana Arsyad Nur Ariwahid Arwan Putra Wijaya Ashari, Taufiq Ichsan Astriana Dewi Aulia Darmaputri Savitri Bagas Arif Widyagdo Bagus Yuli Arianto Bambang Darmo Yuwono Bambang Darmo Yuwono Bambang Sudarsono Bambang Sudarsono Bandi Sasmito Bashit, Nurhadi Bashit, Nurhadi Bayu Pradana Benita Roseana Benning Hafidah Kadina Bunga Roliesta Sari Charisma Parasandi Alfarizi Cindy Puspita Sari DANI PURBA Dedigun Bintang Fajeri Delima Canny Valentine Simarmata Desita Khrisna Putri, Dian Ayu Saraswati Diana Masmaulidia Diana Nukita Dinda Anisa Anggraini Dwi Rini Septiani Dwi Setyo Wicaksono, Dwi Setyo Faiz Islam Farid Burhanudin Yusup Fauzi Janu A Fauzi Janu Amarrohman Fauzi Janu Amarrohman Fauzi Janu Amarrohman Fauzi Janu Amarrohman, Fauzi Janu Febrina Aji Ratnawati Fryda Arlina Mahardika Galih Putro Pamungkas GETMA LAVEMIA Hana Sugiastu Firdaus Hana Sugiastu Firdaus Hana Sugiastu Firdaus, Hana Sugiastu Hani'ah . Hani'ah, Hani'ah Haniah Haniah Hani’ah Hani’ah Hayu Rianasari Heranda Ibnu Adhi Herjuno Gularso Hisni Theresia Br Sinuraya Humaira Qanita Husen Ibnu Said Ihsan Pakaya Irfan Baharudin Istighfary Abirama Cininta Iva Kusniawati JACKIE SUPRAWITO NABABAN Jerson Otniel Purba Jetri Livia Rindika Kandiawan, Ulfa Fathul Kanti Ismawati Kemala Medika Putri Khoirul Isnaini Aulia Kukuh Ibnu Zaman Kurniawan Putra Widya Wardana L. M. Sabri Laisa Usrini Lasmi - Rahayu Leur P. Maranatha Sitorus LM. Sabri Lusiana Dewi Fatmalasari Lutfia Pangestika Lydia Fadilla Maharany Shandra Ayu Hapsary Maharditya Yoga Pramudyono Mashita Rahati Mavita Nabata Dzakiya Meilina Fika Mayangsari Merpati Dewo Kusumaningrat Mia Aulina Moehammad Awaluddin Moehammad Awwaluddin Mohammad Idris Mufid Damar Pidekso Mufti Yudiya M. Muhammad Amar Makruf Muhammad Ardhi Ahadi, Muhammad Ardhi Muhammad Fitrianto Muhammad Haris Febriansya Muhammad Nida Hakim El Wafa Muhammad Ulya Nadia Anggraeni Yuristasari Naftalie Dinda Rianty Nahar Dito Utama Giardi Nathania, Jessica Nida Shabrina Nisrina Niwar Hisanah Novian Nur Aziz Novita Amelia Nugra Putra Pembayun NUGRAHANI, MEIGA Nur Aziz Putra Aditama Nurfika Maulina Larasati Nurhadi Bashit Oktaviani Arumingtyas Pinastika Nurandani Polin Mouna Togatorop Pratama Irfan Hidayat Purwi Fitroh Hidayati Putri Ardianti Kinasih R. Sapto Hendri Boedi Soesatyo Rahmah, Azizah Nur Rajagukguk, Trevi Austin Ramlansius Tumanggor, Ramlansius Riana Kristiani Priskila Putri Rico Waskito Putro Rifky Satrio Utomo Riski Kadriansari Rismauly Yunita Tampubolon Rista Omega Septiofani Rizki Budi Kusumawardani Rizky Arga Himawan Rizky Silvandie Rudi Cahyono Putro Sarmedis Anrico Situmorang Saul Ambarita SELLI ANGELITA BR SITEPU Selli Angelita Sitepu Sitepu, Selli Angelita Siti Khoeriyah Sondang Artania Sidauruk Stella Purnomo Sutomo Kahar Sutomo Kahar Sutomo Kahar Sutomo Kahar Suwirdah Pebriyanah Swandi Sihombing Syarifa Naula Husna Tika Christy Novianty Trevi Austin Rajagukguk Tri Rahmawati Winda Kusuma Tristika Putri Utama Giardi, Nahar Dito Valent, Caesara Geacesita Viradhea Gita R. L. Wahyu Eko Saputro Wahyu Satya Nugraha Wahyuddin, Yasser Wenang Triwibowo, Wenang Wisnu Hanggoro Yasser Wahyuddin Yose Rinaldy N Yudo Prasetyo