Claim Missing Document
Check
Articles

ANALISIS PERUBAHAN LAHAN DAN ZONA NILAI TANAH DI KECAMATAN UNGARAN TIMUR AKIBAT PEMBANGUNAN JALAN TOL SEMARANG - SOLO (TAHUN 2008 – 2017) Nathania, Jessica; Subiyanto, Sawitri; Suprayogi, Andri
Jurnal Geodesi UNDIP Volume 6, Nomor 4, Tahun 2017
Publisher : Departement Teknik Geodesi Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (620.229 KB)

Abstract

ABSTRAK Kecamatan Ungaran Timur memiliki luas wilayah seluas 61,715 km² dan terdiri dari 10 desa yang berada di Kabupaten Semarang. Kecamatan Ungaran Timur memiliki berbagai bentuk pemanfaatan lahan, dari banyaknya penggunaan lahan penting mulai dari permukiman, industri, jalan dan fasilitas umum lainya. Seiring berjalannya waktu, penggunaan lahan akan mengalami perubahan seiring dengan pembangunan yang ada. Pembangunan jalan tol Semarang – Solo pada tahun 2009 yang dilakukan oleh PT Jasa Marga (Persero) Tbk merupakan salah satu faktor yang mengakibatkan perubahan penggunaan lahan di Kecamatan Ungaran Timur. Seiring dengan bertambahnya waktu, Ungaran Timur menjadi kecamatan yang cukup padat. Semakin tingginya aktivitas manusia menyebabkan perubahan penggunaan lahan yang berpengaruh terhadap perubahan nilai tanah di wilayah tersebut.Penelitian ini menggunakan citra resolusi tinggi tahun 2008 dan 2016, dan peta penggunaan lahan tahun 2008 dan 2017. Data tersebut digunakan untuk menganalisis perubahan penggunaan lahan. Sedangkan, analisis perubahan nilai tanah menggunakan peta zona nilai tanah tahun 2008 dan peta zona nilai tanah tahun 2017 yang didapatkan dari hasil survei lapangan. Dari hasil tersebut, dilakukan analisis pengaruh perubahan penggunaan lahan terhadap perubahan nilai tanah di Kecamatan Ungaran Timur sebagai akibat dari pembangunan jalan tol Semarang – Solo.Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa terjadi perubahan penggunaan lahan pada tahun 2008 – 2017. Kenaikan penggunaan lahan tertinggi terdapat pada permukiman sebesar 2,93% dan kenaikan terendah terdapat pada rest area tol sebesar 0,14%. Sedangkan penurunan penggunaan lahan tertinggi terdapat pada semak belukar yaitu sebesar 1,20% dan penurunan terendah terdapat pada lahan kosong sebesar 0,03%. Kenaikan dan penurunan tersebut mengacu terhadap luas Kecamatan Ungaran Timur. Perubahan zona nilai tanah akibat adanya pembangunan jalan tol dilihat dari radius 1 km dari pintu exit tol menunjukkan bahwa kenaikan harga rata-rata tanah tertinggi adalah sebesar Rp 5.039.000  terjadi karena adanya perubahan penggunaan lahan dari Tegalan menjadi Permukiman dan Perkebunan menjadi Permukiman. Sedangkan, kenaikan harga rata-rata terendah yaitu sebesar Rp 530.000 yang terjadi karena adanya perubahan penggunaan lahan dari Tegalan menjadi Permukiman dan Perkebunan menjadi Permukiman. 
PENGARUH PERUBAHAN PENGGUNAAN LAHAN TERHADAP PERUBAHAN ZONA NILAI TANAH DI KECAMATAN GAYAMSARI KOTA SEMARANG TAHUN 2004 DAN 2014 Ahadi, Muhammad Ardhi; Subiyanto, Sawitri; Haniah, Haniah
Jurnal Geodesi UNDIP Volume 4, Nomor 4, Tahun 2015
Publisher : Departement Teknik Geodesi Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (870.236 KB)

Abstract

ABSTRAK Kota Semarang merupakan ibukota Provinsi JawaTengah yang memiliki 16 kecamatan, salah satunya adalah kecamatan Gayamsari. Berkembangnya kecamatan Gayamsari dari tahun ke tahun yang salah satunya disebabkan oleh peningkatan pertumbuhan penduduk mengakibatkan adanya pengendalian pemanfaatan/ penggunaan lahan yang mana diharapkan mampu untuk menampung aktivitas penduduk yang selalu  berkembang. Perubahan penggunaan lahan dan aktivitas masyarakat yang cukup tinggi mengakibatkan nilai tanah di Kecamatan Gayamsari mengalami perubahan. Sehingga diperlukan penelitian untuk melakukan analisis perubahan penggunaan lahan terhadap perubahan nilai tanah.                Pada awalnya penelitian ini dilakukan dengan pembuatan zona awal dengan menggunakan peta administrasi Kecamatan Gayamsari dan citra Quickbird. Selanjutnya dilakukan pembuatan peta zona nilai tanah tahun 2004 dan tahun 2014. Pada peta penggunaan lahan tahun 2004 dan tahun 2014 dilakukan overlay, sehingga diperoleh peta perubahan penggunaan lahan. Pada tahap akhir dilakukan analisis perubahan penggunaan lahan terhadap perubahan nilai tanah di Kecamatan Gayamsari.                Hasil penelitian menunjukkan total luas perubahan penggunaan lahan di Kecamatan Gayamsari dalam kurun waktu tahun 2004 ke tahun 2014 adalah 106 ha. Perubahan penggunaan lahan terbesar terjadi pada penggunaan lahan tegalan menjadi pemukiman dengan luas sebesar 24 ha. Sementara perubahan penggunaan lahan terkecil terjadi pada penggunaan lahan kosong menjadi perdagangan dan jasa dengan luas sebesar 0,16 ha. Kenaikan nilai tanah tertinggi terjadi pada perubahan lahan kosong menjadi perdagangan dan jasa yaitu sebesar Rp. 1.678.000 per m2. Sedangkan kenaikan nilai tanah terendah terjadi pada perubahan lahan tambak menjadi lahan kosong yaitu sebesar Rp. 44.000 per m2. Kata Kunci : Kecamatan Gayamsari, perubahan penggunaan lahan, perubahan nilai tanah ABSTRACTSemarang city is the capital of Central Java Province which has 16 districts, one of the districts is Gayamsari. Gayamsari district was growing from year to year, one of caused by increased population growth resulted in the control of utilization or land use which is expected to be able to accommodate the ever growing population activities. Changes in land use and community activities are quite high resulting the value of land in the Gayamsari district is changes. So that research is needed to perform the analysis of land use change on changes in the value of land.This research was originally done by making an initial zone using administrative map of Gayamsari district and Quickbird imagery. Furthermore, the making of maps of land value zone in 2004 and 2014. In the land use maps of 2004 and 2014 have been overlaid, in order to obtain a map of land use changes. At the final stage of the analysis of land use changes to changes in the value of land in Gayamsari district.The results showed the total area of land use change in Gayamsari district in the period 2004 to 2014 was 106 ha. The land-use change occurs on dry land into residential use with an area of 24 ha. While the smallest land-use change occurs in the use of unused land into a trade and services with an area of 0,16 ha. The highest increase in value of land occur on changes of  the unused land into a trade and services in the amount of Rp. 1.678.000 per m2. While the lowest increase in value of land occur on changes of the fishpond into unused land is Rp. 44.000 per m2. Keywords : Gayamsari District, changes in land use, changes in the value of land    *) Penulis, PenanggungJawab
ANALISIS KETELITIAN DEM ASTER GDEM, SRTM, DAN LIDAR UNTUK IDENTIFIKASI AREA PERTANIAN TEBU BERDASARKAN PARAMETER KELERENGAN (Studi Kasus : Distrik Tubang, Kabupaten Merauke, Provinsi Papua) Mahmudi, Mahmudi; Subiyanto, Sawitri; Yuwono, Bambang Darmo
Jurnal Geodesi UNDIP Volume 4, Nomor 1, Tahun 2015
Publisher : Departement Teknik Geodesi Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1060.87 KB)

Abstract

ABSTRAKLereng merupakan permukaan bumi yang memiliki kemiringan seragam. Kelerengan merupakan perbandingan antara beda tinggi dengan jarak. Salah satu pemanfaatan informasi kelerengan yaitu dalam bidang perkebunan tebu untuk penentuan area tanam. Proses pemetaan area dengan luas ribuan hektar, tentu tidak efisien apabila menggunakan metode survey pemetaan langsung di permukaan tanah. Salah satu metode alternatif yang sering diterapkan yaitu dengan memanfaatkan elevasi dari data DEM SRTM dan ASTER yang dianggap sebagai tinggi permukaan tanah. Meski demikian, banyak literatur lain yang menjelaskan bahwa elevasi DEM (Digital Elevation Model) sebenarnya merupakan elevasi tutupan lahan di atas permukaan tanah. Dari hal itu, maka hadir metode LIDAR (Light Detection and Ranging) yang dirasa lebih baik, karena berbasis sinar laser yang dapat menjangkau informasi tinggi permukaan tanah. Penelitian ini menganalisis korelasi, dan perbedaan klasifikasi kelerengan data DEM SRTM dan ASTER terhadap klasifikasi kelerengan data LiDAR. Area yang diteliti meliputi perkebunan tebu dengan luas ±7.370 Ha di daerah Tubang, Merauke, Papua.Pembuatan peta kelerengan mengikuti SOP (Standard Operating Procedures) yang dikeluarkan oleh BIG (Badan Informasi Geospasial) pada tahun 2012, tentang pengolahan data untuk pemetaan kemiringan lereng nomor 03.01.11.02. Dimana garis besar tahap pengolahannya meliputi gridding, definisi sistem proyeksi, klasifikasi kelerengan, klustering, penghalusan, dan generalisasi. Sedangkan pembagian jenis klasifikasi kelerengan mengikuti aturan yang dibuat oleh Puslittanak (Pusat Penelitian Tanah dan Agroklimat), hal tersebut mengingat penelitian ini berkaitan dengan kondisi tanah pertanian. Hasil dari penelitian ini berupa tiga buah peta kelerengan, dan tiga buah peta kesesuaian lahan pertanian tebu berdasarkan parameter kelerengan skala 1:30,000 dari data LIDAR, SRTM, dan ASTER.Hasil proses interpolasi grid menunjukkan bahwa data yang paling akurat yaitu LiDAR dengan nilai standar deviasi ±0,3674013m; selanjutnya SRTM sebesar ±8,0916394m; dan terakhir ASTER sebesar ±9,8854329m. Setelah dilakukan uji ketinggian data terhadap titik kontrol BM dan peta RBI, diketahui bahwa data LiDAR memiliki selisih paling baik dengan standar deviasi ±0,078m dan ±1,387m; kemudian SRTM ±0,422m dan ±4,339m; ASTER ±0,297m dan ±7,979m. Meski demikian, dalam perhitungan manual ditunjukkan bahwa ketiga data menghasilkan analisis kemiringan lereng yang sama dengan RBI, selisih dan standar deviasi ketiganya kurang dari ±0,4%. Kemudian hasil uji korelasi dan signifikansi luas hasil klasifikasi kelerengan LiDAR menunjukkan bahwa hubungan terhadap SRTM searah sebesar 49,6% (Cukup), sedangkan terhadap ASTER tidak searah sebesar 57,8% (Kuat). Nilai selisih luas rata-rata antara LiDAR dengan SRTM sebesar 3.382.840 m², sedangkan dengan ASTER sebesar 5.547.200 m². Selisih luas area sesuai tanam tebu SRTM terhadap LiDAR yaitu 4.702.697,081m², sedangkan ASTER terhadap LiDAR yaitu 12.733.548,477m². Persamaan jenis klasifikasi area sesuai tanam ASTER terhadap LiDAR yaitu 34,82%; sedangkan SRTM terhadap LiDAR 29,80%.Kata Kunci : ASTER, Lereng, LiDAR, SRTM , Tebu ABSTRACTSlopes are the earth's surface that has a sloping uniform. Slope is the ratio between the height difference and distance. One of information usages of slope is in the field of sugarcane plantations especially for the determination of the planting area. The mapping process of thousands acres of area is certainly not efficient when using directly survey mapping survey method. One of alternative methods that usually applied is by using the elevation data of DEM SRTM and ASTER which are considered as a high ground area. However, many other literatures explain that the elevation of DEM (Digital Elevation Model) is actually a level of land cover elevation above ground. This condition triggers the present method of LIDAR (Light Detection and Ranging) that is considered better than the previous methods, due to the laser beam based which possibly measures the height of terrain. This study analyzed relationship and differences in the classification slope DEM SRTM and ASTER data with the classification slope LiDAR data. Area examined in this research is the sugarcane plantations area with the vast of ± 7,370 hectares in Tubang, Merauke, Papua.Map making slope is cited from SOP (Standard Operating Procedures) issued by BIG (Badan Informasi Geospasial) in 2012 related to the data processing for mapping slope number 03.01.11.02. Whereas, the outline of the data processing stages are including gridding, definition of projection system, slope classification, clustering, smoothing, and generalization. While, the distribution of slope classification types following the rules made by Puslittanak (Pusat Penelitian Tanah dan Agroklimat), it is due to this study relates to the condition of agricultural land. This study is resulting three slope maps with a scale of 1:30,000 of LiDAR, SRTM and ASTER data.After the testing of height data towards the BM control point and RBI maps, revealed that LiDAR data has the best difference with a standard deviation of ± 1.387 m, then SRTM ± 4.339 m, and ASTER ± 7.979 m. However, the manual calculations indicated that the three data produced the same slope analysis with the RBI, differentiation and standard deviations are less than ± 0.4 m. Then the results of correlation and significance of the slope broad classification show a 49.6% direct relationship between SRTM and LIDAR (considered to be enough), whereas a 57.8% indirect relationship between LIDAR and ASTER (considered to be strong). And the value difference between LiDAR and SRTM is 3,382,840 m²,  while the between LiDAR and ASTER is 5,547,200 m². The result of recapitulating sugarcane planting area which based of DEM/DTM has explained that the more resemble is between LiDAR and SRTM with the value difference is 1,380,356.127 m², while the between LiDAR and ASTER is 9,952,798.232 m². Then the equality of arable area which resemble with the result of LiDAR is ASTER, it has equation a 85.18%, whereas SRTM a 73.76%.Keywords : ASTER, LiDAR, Slope, SRTM, Sugarcane
ANALISIS PERBANDINGAN ZONA NILAI TANAH DI WILAYAH SEKITAR GERBANG TOL BOYOLALI DAN BUNDARAN SOLIDARITAS Ashari, Taufiq Ichsan; Subiyanto, Sawitri; Amarrohman, Fauzi Janu
Jurnal Geodesi UNDIP Volume 9, Nomor 3, Tahun 2020
Publisher : Departement Teknik Geodesi Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (484.43 KB)

Abstract

ABSTRAK Kabupaten Boyolali merupakan salah satu kabupaten di Provinsi Jawa Tengah yang sering dilalui oleh masyarakat ketika arus mudik maupun liburan panjang. Daerah tersebut berpotensi untuk dilakukan pembangunan infrastruktur demi menunjang aksesibilitas dan mobilitas masyarakat. Tanah merupakan salah satu dari beberapa sumber daya alam yang sangat penting keberadaannya untuk memenuhi kebutuhan pokok manusia, karena aktivitas yang dilakukan oleh manusia erat hubungannya dengan keberadaan tanah. Kebutuhan manusia terhadap tanah akan meningkat seiring berkembangnya jaman. Maka dari itu, tidak menutup kemungkinan bahwa dari tahun ke tahun akan terdapat pembangunan yang cukup pesat dan menyebabkan keterbutuhan akan tanah yang semakin besar. Pembangunan infrastruktur mengakibatkan perubahan nilai tanah mengikuti pembaruan penggunaan tanah yang ada pada daerah tersebut. Adanya Gerbang Tol Boyolali dan Bundaran Solidaritas diharapkan dapat meningkatkan aksesibilitas dan mobilitas di daerah sekitarnya. Aksesibilitas termasuk salah satu faktor yang dapat mempercepat penggunaan dan pemanfaatan tanah. Penelitian ini penting dilakukan untuk mengetahui nilai tanah yang terjadi di daerah Gerbang Tol Boyolali dan Bundaran Solidaritas yang disebabkan oleh berbagai faktor. Metode pada penelitian ini menggunakan metode overlay yang merupakan salah satu analisis dari SIG. Analisis dilakukan dengan melakukan pembuatan zona nilai tanah tahun 2019 dengan menggunakan zonasi awal dari BPN Kabupaten Boyolali dan melakukan overlay dengan peta zona nilai tanah tahun 2019 untuk dilakukan anlisa perubahan nilai tanah. Hasil dari penelitian ini kenaikan Tanah terdapat pada zona 74 sebesar Rp 2.126.000/m2 pada lokasi pengamatan area Gerbang Tol. Zona 74 terletak di Jl. Diponegoro yang mengarah langsung ke Gerbang Tol dan akses dari Jl. Raya Solo-Semarang menuju Gerbang Tol sedangkan di area Bundaran Solidaritas, kenaikan tersebut terdapat pada zona 56 sebesar Rp 2.507.000/m2 yang terletak di Jl. Jambu yang memiliki akses strategis. Kata Kunci : Bundaran Solidaritas, Gerbang Tol Boyolali, Perubahan Nilai Tanah, Zona Nilai Tanah ABSTRACT                                           Boyolali Regency is one of the regencies in Central Java Province that is often traversed by the community when going home and going for long holidays. The area has the potential to be carried out in the development of infrastructure to support accessibility and mobility of the community. Land is one of the few natural resources that is very important to meet the basic human needs, because the activities carried out by humans are closely related to the existence of land. The human need for land will increase as the times develop. Therefore, it does not rule out that from year to year there will be a fairly rapid development and cause greater need for land. Infrastructure development results in changes in land values following the renewal of land use in the area. The existence of the Boyolali Toll Gate and the Solidarity Roundabout is expected to increase accessibility and mobility in the surrounding area. Accessibility is one of the factors that can accelerate the use and use of land. This research is important to be carried out to determine the land value that occurs in the Boyolali Toll Gate area and the Solidarity Roundabout caused by various factors. The method in this study uses the overlay method which is one of the analyzes of GIS. The analysis was carried out by making a land value zone in 2019 using the initial zoning of the Boyolali Regency BPN and overlaying a land value zone map in 2019 to analyze the change in land value. The results of this study are the increase in Land in the 74 zone of Rp 2,126,000 / m2 at the observation site of the Toll Gate area. Zona 74 is located on Jl. Diponegoro which leads directly to the Toll Gate and access from Jl. Raya Solo-Semarang to the Toll Gate while in the Solidarity Roundabout area, the increase is in zone 56 of Rp 2,507,000 / m2 located on Jl. Guava that has strategic access.
ANALISIS DAMPAK FREKUENSI KUNJUNGAN WISATAWAN LAWANG SEWU TERHADAP TOTAL ECONOMIC VALUE Bashit, Nurhadi; Subiyanto, Sawitri; Sasmito, Bandi; Sitepu, Selli Angelita
ELIPSOIDA Volume 03, Nomor 01, Tahun 2020
Publisher : ELIPSOIDA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kota Semarang memiliki banyak bangunan bersejarah seperti Lawang Sewu. Wisata Lawang Sewu merupakan salah satu destinasi wisata yang memiliki daya tarik tersendiri bagi pengunjung. Keberadaan Lawang Sewu memberikan peluang masyarakat sekitar dalam meningkatkan kesejahteraan ekonomi, sosial dan budaya dalam bidang pariwisata. Lawang Sewu memiliki peluang untuk berkembang dengan meningkatnya frekuensi kunjungan dari wisatawan sehingga peran wisatawan sangatlah penting dalam perkembangan pariwisata Lawang Sewu. Daya tarik objek wisata memberikan peningkatan frekuensi kunjungan dari tahun ke tahun. Frekuensi kunjungan wisatawan dapat dianalisis tentang pengembangan objek wisata berdasarkan frekuensi kunjungan. Pengembangan pariwisata dapat dilihat dengan menggunakan Metode Biaya Perjalanan (TCM) dan Metode Penilaian Kontinjensi (CVM) untuk menentukan nilai WTP (Kesediaan Membayar) untuk melihat pengembangan pariwisata. Metode pengambilan sampel (responden) adalah nonprobability sampling dengan teknik insidental sampling, yaitu untuk responden yang kebetulan ditemukan di lokasi wawancara. Pengolahan data yang digunakan adalah analisis regresi linier berganda maka perhitungan untuk menentukan nilai penggunaan langsung (DUV) dan untuk menentukan nilai keberadaan (EV) menggunakan perangkat lunak Maple 17. Hasil penelitian ini besaran Consumer Surplus sebesar Rp. 35.169.196,-. Berdasarkan proses perhitungan dan penilaian diperoleh Total Economic Value (TEV) Kawasan Lawang Sewu sebesar Rp. 24.298.525.308.440,- pada tahun 2015, Rp. 30.381.191.942.980,- pada tahun 2016 dan Rp. 34.303.510.184.660,- pada tahun 2017. Faktor-faktor yang mempengaruhi frekuensi kunjungan ke Lawang Sewu adalah total biaya, usia, lama kunjungan dan lokasi alternatif. Peningkatan frekuensi kunjungan ke Lawang Sewu menjadikan Total Economic Value meningkat.
ANALISIS FAKTOR AKSESIBILITAS JALAN, FASUM DAN FASOS TERHADAP HARGA TANAH MENGGUNAKAN RADIAL BASIS FUNCTION (STUDI KASUS: KELURAHAN UTAN KAYU SELATAN, JAKARTA TIMUR) Utama Giardi, Nahar Dito; Subiyanto, Sawitri; Firdaus, Hana Sugiastu
Jurnal Geodesi UNDIP Volume 10, Nomor 1, Tahun 2021
Publisher : Departement Teknik Geodesi Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAKMatraman merupakan salah satu kecamatan di Jakarta Timur yang memiliki posisi cukup strategis dimana paling dekat dengan Central Business District (CBD) Jakarta. Kedekatan posisi tersebut memiliki keuntungan tersendiri bagi Kecamatan Matraman salah satunya aksesibilitas terhadap CBD Jakarta. Kelurahan Utan Kayu Selatan merupakan salah satu contoh yang mengalami perkembangan pesat. Perkembangan sektor perekonomian terjadi salah satunya di Jalan Utan Kayu Raya sehingga berpotensi meningkatkan harga tanah di wilayah sekelilingnya. Potensi bisnis properti di Kelurahan Utan Kayu Selatan menjadi daya tarik tersendiri. Ketertarikan bisnis tersebut tidak terlepas dari faktor aksesibilitas, fasilitas umum dan fasilitas sosial. Model matematis dapat digunakan untuk pemetaan, pemantauan dan menjelaskan keterkaitan faktor-faktor tersebut terhadap harga tanah. Oleh sebab itu, model matematika dapat digunakan untuk membantu pihak-pihak yang terlibat dalam bisnis properti. Metode yang digunakan dalam mengestimasi harga tanah di kelurahan tersebut yaitu Radial Basis Function (RBF), dengan melihat hubungan jarak bidang tanah terhadap jalan, fasilitas umum dan fasilitas sosial. Pemodelan dilakukan berdasarkan sampel yang ditentukan pada harga tanah ZNT dan NJOP. Selanjutnya, perhitungan jarak dilakukan dengan network analysis. Hasilnya, faktor aksesibilitas, fasilitas umum dan fasilitas sosial pada model RBF harga ZNT mempengaruhi 61,82% sedangkan pada model RBF harga NJOP mempengaruhi 34,91%. Pengaruh setiap faktor dapat dilihat pada nilai statistik t dan untuk melihat besar kecilnya pengaruh dapat dilihat pada koefisien model dimana faktor aksesibilitas yang paling berpengaruh pada model harga ZNT adalah Jalan Utan Kayu Raya sedangkan pada model harga NJOP adalah Jalan Jenderal Ahmad Yani. Sedangkan fasilitas umum dan fasilitas sosial yang paling berpengaruh pada model harga ZNT dan NJOP yaitu Universitas Negeri Jakarta dan Green Pramuka Square. Kata Kunci: Bisnis Properti, Harga Tanah, NJOP, RBF, Utan Kayu Selatan ABSTRACTMatraman is one of the sub-districts in East Jakarta which has a strategic position which is closest to the Central Business District (CBD) of Jakarta. Strategic position is an opportunity for Matraman District, one of which is accessibility to the Jakarta CBD. Utan Kayu Selatan is one example that is experiencing rapid development. One of the developments in the economic sector is Utan Kayu Raya Road, which has increased the land price in the surrounding area. The potential of the property business in Utan Kayu Selatan is an attraction. Business interest cannot be seperated from the  factors of accessibility, public and social facilities. Mathematical models can be used for mapping, explaining the relationship of these factors to land prices. Therefore, a mathematical model can be used to help the parties involved in the property business. In estimating the land price in the village, Radial Basis Function (RBF) method is used by looking at the relationship between the distance of land parcels to roads, public facilities and social facilities. Modeling is carried out based on a sample determined on the zone price and NJOP. Furthermore, the calculation of the distance is done by network analysis. As a result, the factor of accessibility, public facilities and social facilities in RBF model of zone price affecting 61.82% while in RBF model of NJOP price affects 34.91%. The effect of each factor can be seen in the statistical value and to see the size of the influence can be seen in the coefficient of the model where the most influential accessibility factor on the zone price model is Utan Kayu Raya Road while the NJOP price model is Jenderal Ahmad Yani Road. Meanwhile, public facilities and social facilities that have the most influence on the zone price and NJOP price model are Jakarta State University and Green Pramuka Square.
ANALISIS POLA DAN ARAH PERKEMBANGAN PERMUKIMAN DI WILAYAH AGLOMERASI PERKOTAAN YOGYAKARTA (APY) (STUDI KASUS: KABUPATEN SLEMAN) Valent, Caesara Geacesita; Subiyanto, Sawitri; Wahyuddin, Yasser
Jurnal Geodesi Undip Volume 10, Nomor 2, Tahun 2021
Publisher : Jurusan Teknik Geodesi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAKWilayah aglomerasi terbentuk karena adanya beragam pusat kegiatan yang dikelompokkan dalam satu lokasi tertentu. Menurut Teori Central Place adanya berbagai kegiatan pada suatu lokasi cenderung akan bergabung pada pusat wilayahnya. Contoh aglomerasi adalah aglomerasi permukiman, industri, perdagangan dan jasa dan lain – lain. Kota Yogyakarta dan wilayah di sekitarnya adalah salah satu bentuk aglomerasi permukiman akibat pertambahan penduduk. Menurut Rencana Pola Ruang Wilayah DIY, wilayah aglomerasi tersebut meliputi sebagian Kabupaten Sleman dan Bantul yang disebut dengan wilayah Aglomerasi Perkotaan Yogyakarta (APY). Kabupaten Sleman sebagai bagian dari wilayah APY tentunya mengalami perkembangan wilayah permukiman. Hal ini menjadi daya tarik para pengembang maupun masyarakat individu untuk membangun rumah di atas lahan yang masih tersedia. Pembangunan wilayah permukiman menyebabkan terjadinya intensitas peningkatan penggunaan lahan, khususnya pola dan arah perkembangan pemukiman. Penelitian ini dimaksudkan untuk mengevaluasi perubahan penggunaan lahan pemukiman dengan mengoptimalkan Citra SPOT-6 2013 dan 2020. Kemudian dianalisis besar penggunaan lahan pemukiman dan pola persebaran pemukiman dengan metode Average Nearest Neighbor (ANN). Berdasarkan hasil pengolahan data dan analisis diketahui perubahan luas pemukiman pada wilayah APY di Kabupaten Sleman mengalami peningkatan sebesar 471,55 Ha atau 4,98% dari 9467,16 Ha total luas penggunaan lahan. Perubahan lahan pemukiman terbesar terjadi di Kecamatan Ngemplak 79,63 Ha dengan perubahan penggunaan lahan kosong menjadi pemukiman sebesar 48,12 Ha dan lahan pertanian menjadi permukiman sebesar 31,76 Ha. Berdasarkan hasil pengolahan ANN pola permukiman didominasi dengan pola acak. Hal ini dipengaruhi oleh faktor topografi dan aksebilitas yang baik. Berdasarkan pendekatan Standard Deviational Ellipse (SDE) perkembangan permukiman menuju ke arah timur dengan nilai rotasi proyeksi 71o14’52,8” tahun 2013 dan 66o51’39,6” tahun 2020 yang mengarah pada Kecamatan Depok dan Kecamatan Ngemplak. Berdasarkan perhitungan Gravity Model dengan membandingkan jumlah penduduk dan jarak antara Kota Yogyakarta dengan Kecamatan di wilayah APY Sleman, hasilnya sesuai yaitu nilai interaksi wilayah yang terbesar terjadi di Kecamatan Depok sebesar 352,15.
ANALISIS FAKTOR AKSESIBILITAS JALAN TERHADAP NILAI TANAH DI SEKITAR KAMPUS TEMBALANG UNIVERSITAS DIPONEGORO Siti Khoeriyah; Sawitri Subiyanto; Arwan Putra Wijaya
Jurnal Geodesi UNDIP Volume 4, Nomor 1, Tahun 2015
Publisher : Departement Teknik Geodesi Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1204.917 KB)

Abstract

ABSTRAKAda berbagai macam faktor yang mempengaruhi harga tanah, , namun secara umum dalam penilaian tanah dikelompokkan menjadi dua faktor, yaitu faktor terukur (tangible) dan faktor tidak terukur (intangible). Melalui faktor terukur inilah nilai harga tanah dapat dipertimbangkan beberapa hal yang terkait kondisi, posisi dan aspek-aspek lainnya yang dapat dikaji secara logis dan empiris. Berbeda halnya dengan faktor tak terukur yang sangat sulit sekali untuk dapat dinilai karena mengarah kepada hal yang abstrak seperti, kenyamanan, kenyamanan serta faktor-faktor lainnya yang bersifat psikologis.Salah satu hal yang mempengaruhui dalam pembelian tanah adalah kedekatan terhadap tempat tujuan melakukan aktivitas harian. Adapun jarak adalah salah satu faktor yang mempengaruhinya, sebagaimana dalam teori yang dinyatakan oleh Von Thunen. Pada penelitian ini akan mengkaji faktor aksesibilitas yang terdiri dari variabel-variabel jarak bidang tanah terhadap kampus, jalan kolektor sekunder dan arteri sekunder, akses angkutan umum, dan ukuran lebar jalan.Berdasarkan hasil perhitungan menunjukkan bahwa data pemodelan tahun 2010 berdasarkan harga pasar dan pemodelan tahun 2013 berdasarkan harga NJOP (Nilai Jual Objek Pajak) hanya tiga variabel yang mempengaruhi harga tanah berdasarkan analisis statistik , berbeda dengan data pemodelan tahun 2013 berdasarkan harga pasar keempat variabel mempengaruhi harga tanah. Walaupun demikian data pemodelan tahun 2013 berdasarkan harga NJOP  yang memiliki harga perkiraan persamaan model yang terbaik untuk memprediksi harga sesungguhnya dibanding hasil persamaan pemodelan lainnya. Nilai COV (Coefficient Of Variation) sebesar 2% (kurang dari 5%) dapat diterima karena memiliki kriteria sangat baik dan harga perkiraan dari uji PRD (Price Related Differential) sebesar 1,12 berada diluar nilai 0,98 sampai 1,03.Kata Kunci : Penilaian tanah, Faktor Aksesibilitas, NJOP. ABSTRACTThere are many factor that affect the soil prices, but generally, the soil estimation are grouped into two factor, measurable factor (tangible) and immeasurable factor (intangible). Through the measurable factor, the soil value price can be considered some things related to the condition, position, and other aspects that can be studied logically and empirically. Unlike the measurable factor, the immeasurable factor is very difficult to measure because it leads to the abstract things such as, comfortable, also other factor which is psychologically.One of the things that influence the land purchase is the adjacency to the destination places to perform daily activities. The distance is one of the factors that influence the land purchase, as expressed in Von Thunen theory. This study will review the accessibility factors that consist of the distance variables toward the campus, secondary collector road and secondary artery, the access of public transportation, and the width measure of the road.Based on the calculation result, it showed that the 2010’s data modeling based on the market price and the 2013’s modeling based on the NJOP price (The sale value of tax object) based on the statistic analysis, only three variables that influenced the land price, it’s different from the 2013’s data modeling, based on the market price, all four variables influenced the land price. Nevertheless, the 2013’s data modeling based on the NJOP price that which has the estimation price the best model equation to predict the real price than the other equation modeling result. A COV value (Coefficient Of Variation) OF 1,7% (less than 5%) is acceptable because it has a very good criteria and an estimation price from PRD testing (Price Related Differential) of 1,11 are beyond the 0,98 to 1,03 value.Keywords : Land assessment, Accessibility Factors, NJOP
PEMETAAN TOTAL SUSPENDED SOLID (TSS) MENGGUNAKAN CITRA SATELIT MULTI TEMPORAL DI DANAU RAWA PENING PROVINSI JAWA TENGAH Pinastika Nurandani; Sawitri Subiyanto; Bandi Sasmito
Jurnal Geodesi UNDIP Volume 2, Nomor 4, Tahun 2013
Publisher : Departement Teknik Geodesi Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (321.497 KB)

Abstract

Rawa Pening is a natural lake located in Central Java that vital existence. Quality and quantity of water are mayor concern. One of water quality parameter is Total Suspended Solid (TSS). TSS are solid materials, including organic and anorganic, that are suspended in the water. High concentration of TSS can reduce the penetration of sunlight into water bodies, increase water turbidity, and can settle at any time, causing silting.Distribution of TSS cab be identified using satellite remote sensing imagery. Metode used is development of modelling algorithms using regression equation of the relationship between the insitu value and reflectance of Landsat-7 ETM+ image at 2013. This research aims to determine the suitable empirical algorithm to estimate the concentration of TSS and mapping the distribution of TSS in Rawa Pening at 2002, 2007, and 2013.The research result shows that ratio between blue band and green band of Landsat-7 ETM+ using logarithmic regression are the most suitable algorithm for estimating TSS concentration in Rawa Pening. The equation are TSS=368,7ln(x)+31,52. Water Quality in Rawa Pening has decrease at 2007 compared to 2002, and increase at 2013.Keywords: Total Suspended Solid (TSS), remote sensing, Landsat-7ETM+, empirical algorithm, insitu, reflectance
ANALISIS PERBANDINGAN NILAI EKONOMI KEBERADAAN BERDASARKAN METODE HEDONIC PRICING METHOD (STUDI KASUS: TAMAN TIRTA ARGO SIWARAK DAN WATU GUNUNG LEREP UNGARAN) Muhammad Haris Febriansya; Sawitri Subiyanto; Bambang Sudarsono
Jurnal Geodesi UNDIP Volume 9, Nomor 3, Tahun 2020
Publisher : Departement Teknik Geodesi Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (455.051 KB)

Abstract

ABSTRAKKabupaten Semarang berdasarkan UU Nomor 13 Tahun 1950 menetapkan secara definitif tentang pembentukan kabupaten-kabupaten dalam lingkungan Provinsi Jawa Tengah. Kabupaten Semarang banyak kawasan pariwisata berbasis kolam renang yang menampakkan keindahan alam didalamnya yang menarik untuk dikunjungi. Sebagai contoh adalah objek wisata Taman Tirta Argo Siwarak dan Watu Gunung Lerep Ungaran. Besarnya jumlah permintaan kunjungan wisata akan mempengaruhi perkembangan suatu objek wisata. Terdapat beberapa faktor-faktor yang akan mempengaruhi jumlah permintaan kunjungan wisata tersebut yang akan memberikan dampak signifikan bagi perkembangan wisata di Kabupaten Semarang. Berdasarkan hal tersebut diperlukannya analisis dengan menggunakan pendekatan metode HPM (Hedonic Pricing Method) untuk mengetahui pengaruh nilai hedonik terhadap faktor jumlah permintaan kunjungan wisata serta mengetahui pengaruh nilai hedonik terhadap nilai TEV rerata selama 5 tahun, metode CVM (Contingen Valuation Method) dan TCM (Travel Cost Method) untuk mengukur nilai ekonomi kawasan wisata. Metode pengolahan data yang digunakan analisis regresi linier berganda dan melakukan perhitungan menggunakan perangkat lunak Maple 17 sehingga dapat digunakan untuk pembuatan Peta TEV. Kemudian dilakukan survei toponimi untuk pembuatan Peta Utilitas. Dalam penelitian tugas akhir ini, diperoleh nilai ekonomi kawasan, dengan nilai total ekonomi Taman Tirta Argo Siwarak Tahun 2018 sebesar Rp. 156.795.811.300 sedangkan nilai total ekonomi Watu Gunung Lerep Ungaran Tahun 2018 sebesar Rp. 183.430.255.500. Dan juga hasil penelitian ini untuk mengetahui faktor apa saja yang mempengaruhi jumlah permintaan kunjungan wisata dari metode TCM dan metode HPM serta dari hasil perhitungan nilai hedonik metode HPM (Hedonic Pricing Method) diperoleh untuk mengetahui bahwa nilai hedonik berpengaruh positif terhadap hasil nilai TEV rerata selama 5 tahun. Jika dari hasil perhitungan nilai hedonik lebih besar, maka nilai TEVnya juga akan berpengaruh lebih besar.Kata Kunci : HPM, CVM, TCM, Taman Tirta Argo Siwarak, Watu Gunung Lerep Ungaran ABSTRACTSemarang Regency based on Law No. 13 of 1950 stipulates definitively about the formation of districts within the Central Java Province. Semarang Regency many swimming pool-based tourism areas that reveal natural beauty in it are interesting to visit. An example is the tourism object of Tirta Argo Siwarak Tourism Park and Watu Gunung Lerep Ungaran Tourism. The large number of requests for tourist visits will affect the development of a tourist attraction. There are several factors that will affect the number of requests for tourist visits which will have a significant impact on the development of tourism in Semarang Regency. Based on this analysis is needed by using the HPM (Hedonic Pricing Method) approach to determine the effect of hedonic values on the factor of the number of tourist visits and to determine the effect of hedonic values on the average TEV value for 5 years, the CVM (Contingen Valuation Method) and TCM (Travel Cost Method) to measure the economic value of the tourist area. The data processing method used is multiple linear regression analysis and perform calculations using Maple 17 software so that it can be used for making TEV Maps. Then toponymy survey was made for the creation of a Utility Map. In this final project research, the regional economic value is obtained, with the total economic value of the Tirta Argo Siwarak Tourism Park in 2018 of Rp. 156.795.811.300 while the total economic value of Watu Gunung Lerep Ungaran Tourism in 2018 was Rp. 183.430.255.500. And also the results of this study to determine what factors influence the number of tourist requests for requests from the TCM method and the HPM method as well as from the calculation of the hedonic value of the HPM method (Hedonic Pricing Method) obtained to know that the hedonic value has a positive effect on the results of the average TEV value for 5 year. If the hedonic value calculation results are greater, then the TEV value will also have a greater effect.Keywords : HPM, CVM, TCM, Tirta Argo Siwarak Tourism Park, Watu Gunung Lerep Ungaran Tourism 
Co-Authors Abdi Sukmono, Abdi Ade Naufalita Aditya Dharmawan Afifah Asis Agatha Dimitri V. D. Kusumo Ahmad Firdous Syifa Ahmad Syauqani Ajeng Dwi Maturinsih Ajeng Dyah Setyowati Sri Utomo Akhmad Didik Prastyo Akhmad Tsalist Nailuz Tsabiq Alfonsus Bima Samudra Anastasia Astuti Andhono Yekti Andre Hidayat Andri Suprayogi Anggit Swarna Bumi Annisa Usolikhah Antonius Grizalde Simamora Anugrah, Riandhi Ardhian Setiawan Saputra ARDI SETYO PRATOMO Ardiansyah Ardiansyah Ari Setiani Arief Laila Nugraha Arif Witoko Arrizqa Laili Fitriana Arsyad Nur Ariwahid Arwan Putra Wijaya Ashari, Taufiq Ichsan Astriana Dewi Aulia Darmaputri Savitri Bagas Arif Widyagdo Bagus Yuli Arianto Bambang Darmo Yuwono Bambang Darmo Yuwono Bambang Sudarsono Bambang Sudarsono Bandi Sasmito Bashit, Nurhadi Bashit, Nurhadi Bayu Pradana Benita Roseana Benning Hafidah Kadina Bunga Roliesta Sari Charisma Parasandi Alfarizi Cindy Puspita Sari DANI PURBA Dedigun Bintang Fajeri Delima Canny Valentine Simarmata Desita Khrisna Putri, Dian Ayu Saraswati Diana Masmaulidia Diana Nukita Dinda Anisa Anggraini Dwi Rini Septiani Dwi Setyo Wicaksono, Dwi Setyo Faiz Islam Farid Burhanudin Yusup Fauzi Janu A Fauzi Janu Amarrohman Fauzi Janu Amarrohman Fauzi Janu Amarrohman Fauzi Janu Amarrohman, Fauzi Janu Febrina Aji Ratnawati Fryda Arlina Mahardika Galih Putro Pamungkas GETMA LAVEMIA Hana Sugiastu Firdaus Hana Sugiastu Firdaus Hana Sugiastu Firdaus, Hana Sugiastu Hani'ah . Hani'ah, Hani'ah Haniah Haniah Hani’ah Hani’ah Hayu Rianasari Heranda Ibnu Adhi Herjuno Gularso Hisni Theresia Br Sinuraya Humaira Qanita Husen Ibnu Said Ihsan Pakaya Irfan Baharudin Istighfary Abirama Cininta Iva Kusniawati JACKIE SUPRAWITO NABABAN Jerson Otniel Purba Jetri Livia Rindika Kandiawan, Ulfa Fathul Kanti Ismawati Kemala Medika Putri Khoirul Isnaini Aulia Kukuh Ibnu Zaman Kurniawan Putra Widya Wardana L. M. Sabri Laisa Usrini Lasmi - Rahayu Leur P. Maranatha Sitorus LM. Sabri Lusiana Dewi Fatmalasari Lutfia Pangestika Lydia Fadilla Maharany Shandra Ayu Hapsary Maharditya Yoga Pramudyono Mashita Rahati Mavita Nabata Dzakiya Meilina Fika Mayangsari Merpati Dewo Kusumaningrat Mia Aulina Moehammad Awaluddin Moehammad Awwaluddin Mohammad Idris Mufid Damar Pidekso Mufti Yudiya M. Muhammad Amar Makruf Muhammad Ardhi Ahadi, Muhammad Ardhi Muhammad Fitrianto Muhammad Haris Febriansya Muhammad Nida Hakim El Wafa Muhammad Ulya Nadia Anggraeni Yuristasari Naftalie Dinda Rianty Nahar Dito Utama Giardi Nathania, Jessica Nida Shabrina Nisrina Niwar Hisanah Novian Nur Aziz Novita Amelia Nugra Putra Pembayun NUGRAHANI, MEIGA Nur Aziz Putra Aditama Nurfika Maulina Larasati Nurhadi Bashit Oktaviani Arumingtyas Pinastika Nurandani Polin Mouna Togatorop Pratama Irfan Hidayat Purwi Fitroh Hidayati Putri Ardianti Kinasih R. Sapto Hendri Boedi Soesatyo Rahmah, Azizah Nur Rajagukguk, Trevi Austin Ramlansius Tumanggor, Ramlansius Riana Kristiani Priskila Putri Rico Waskito Putro Rifky Satrio Utomo Riski Kadriansari Rismauly Yunita Tampubolon Rista Omega Septiofani Rizki Budi Kusumawardani Rizky Arga Himawan Rizky Silvandie Rudi Cahyono Putro Sarmedis Anrico Situmorang Saul Ambarita SELLI ANGELITA BR SITEPU Selli Angelita Sitepu Sitepu, Selli Angelita Siti Khoeriyah Sondang Artania Sidauruk Stella Purnomo Sutomo Kahar Sutomo Kahar Sutomo Kahar Sutomo Kahar Suwirdah Pebriyanah Swandi Sihombing Syarifa Naula Husna Tika Christy Novianty Trevi Austin Rajagukguk Tri Rahmawati Winda Kusuma Tristika Putri Utama Giardi, Nahar Dito Valent, Caesara Geacesita Viradhea Gita R. L. Wahyu Eko Saputro Wahyu Satya Nugraha Wahyuddin, Yasser Wenang Triwibowo, Wenang Wisnu Hanggoro Yasser Wahyuddin Yose Rinaldy N Yudo Prasetyo