Claim Missing Document
Check
Articles

PEMBUATAN PETA ZONA RAWAN TANAH LONGSOR DI KOTA SEMARANG DENGAN MELAKUKAN PEMBOBOTAN PARAMETER Jerson Otniel Purba; Sawitri Subiyanto; Bandi Sasmito
Jurnal Geodesi UNDIP Volume 3, Nomor 2, Tahun 2014
Publisher : Departement Teknik Geodesi Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (600.398 KB)

Abstract

Abstrak Penelitian yang berjudul “Pembuatan Peta Zona Rawan Tanah Longsor di Kota Semarang dengan Melakukan Pembobotan Parameter” ini dilatarbelakangi oleh  data yang didapat dari BPBD (Badan Penanggulangan Bencana Daerah) Kota Semarang, yaitu terhitung sejak Januari hingga Juni 2012 (kurun waktu 6 bulan) terdapat 20 kejadian tanah longsor. Untuk itu perlu dibuat peta zona rawan longsor guna menghasilkan informasi mengenai posisi yang berkaitan dengan tingkat kerawanan longsornya di kota Semarang. Peta ini dapat digunakan sebagai bahan acuan dalam pengambilan keputusan guna tindakan pencegahan terjadinya tanah longsor di daerah yang rawan, sehingga mengurangi jumlah korban jiwa maupun materi dan juga perencanan dalam pembangunan sarana dan prasarana.Penelitian ini menggunakan data citra pengindraan jauh dan SIG (Sistem Informasi Geografis) dengan melakukan pembobotan terhadap parameter yang mempengaruhi terjadinya longsor, yaitu: kelerengan, penggunaan lahan, jenis tanah, dan curah hujan.Hasil dari Penelitian ini adalah peta kerawanan longsor yang dibagi menjadi lima kelas kerawanan, yaitu: tidak rawan, agak rawan, cukup rawan, rawan, dan sangat rawan. Dan informasi yang didapatkan adalah sebagian besar wilayah kota Semarang masuk dalam kelas “Agak Rawan”, yaitu 60,51% (23266,315 ha), sedangkan sisanya masuk dalam kelas “Tidak Rawan” sebesar 24,66% (9480,007 ha), “Cukup Rawan” 13,32% (5120,050 ha), “Rawan” 1,20 (463,091 ha), dan “Sangat Rawan” 0,31% (120,547).Kata kunci: Tanah longsor, Peta, Sistem Informasi Geografis, Kota Semarang                                     Abstract  This study, entitled "Making the Landslide Prone Zones Map in Semarang City with Doing Weighting Parameters" is motivated by data obtained from BPBD (Badan Pengangulangan Bencana Daerah) Kota Semarang, which is commencing from January to June 2012 (the period of 6 months ) there were 20 landslide occurrences. For that need to be made map landslide prone zones to inform about the position with regard to the level of vulnerability to landslides in the city of Semarang. This map can be used as a reference in decision making for preventive measures in the landslide prone areas, thereby reducing the number of casualties and material and also planning the construction of facilities and infrastructure.The study was conducted using data of remote sensing image and GIS ( by weighting the parameters that influence the occurrence of landslides, namely: slope, land use, soil type, and rainfall.Results from this study is that the landslide susceptibility map is divided into five classes of vulnerability, ie: not prone, somewhat prone, quite prone, prone , and very prone. And the information obtained is most regions Semarang enroll in classes "Somewhat Prone", ie 60.51% (23266.315 ha), while the rest goes in the class "Not Prone " ie 24.66 % (9480.007 ha) , "Quite Prone" 13.32 % (5120.050 ha) , "Prone" 1.20 (463.091 ha), and "Highly Prone" 0.31% (120.547).Keywords: Soil Erosion, Map, Geographical Information System, Semarang City*)Penulis Penanggung Jawab
ANALISIS PENGARUH PERUBAHAN HARGA JUAL TANAH TERHADAP ZONA NILAI TANAH DI KEC. BLORA KAB. BLORA PROVINSI JAWA TENGAH Galih Putro Pamungkas; Sawitri Subiyanto; Haniah Haniah
Jurnal Geodesi UNDIP Volume 5, Nomor 1, Tahun 2016
Publisher : Departement Teknik Geodesi Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (997.345 KB)

Abstract

ABSTRAK Kecamatan Blora adalah salah satu dari 16 Kecamatan yang ada di Kabupaten Blora, Provinsi Jawa Tengah, Indonesia. Kecamatan Blora merupakan salah satu wilayah yang berada di pusat pemerintahan di Kabupaten Blora, maka dari itu pertumbuhan penduduk yang tinggi di kecamatan ini menuntut adanya pengendalian pemanfaatan lahan  yang mampu menampung aktivitas penduduk yang juga selalu berkembang. Kecamatan Blora merupakan salah satu tujuan pemukiman yang ideal, hal ini terbukti dari meningkatnya penggunaan lahan, terutama untuk pembangunan pemukiman. Untuk itu diperlukan adanya penelitian untuk menganalisis terjadinya perubahan harga jual tanah.Pada awalnya penelitian ini dilakukan dengan pembuatan zona awal dengan menggunakan peta administrasi Kecamatan Blora dan citra Quick Bird. Selanjutnya dilakukan pembuatan peta Zona Nilai Tanah tahun 2012 dan 2014 dengan menggunakan peta zona awal dan data transaksi hasil survey lapangan. Selanjutnya pembuatan peta perubahan harga tanah, yang diperoleh dari hasil overlay peta ZNT tahun 2012 dan peta ZNT tahun 2014. Kemudian dilakukan analisis terhadap perubahan harga jual tanah yang terjadi.Hasil penelitian menunjukkan dalam rentang waktu  tahun 2012 sampai tahun 2014 perubahan kenaikan harga tanah terbesar terjadi pada zona 62, yaitu sebesar Rp. 642.773,00 per meter persegi. Zona tersebut merupakan kawasan perekonomian dan bisnis. Sedangkan zona yang mengalami perubahan harga tanah terkecil terjadi pada zona 45, yaitu sebesar Rp. 3.442,00 per meter persegi, zona tersebut merupakan kawasan pertanian yang tandus.Kata kunci : Faktor Nilai Jual Lahan, Perubahan Harga Tanah , Zona Nilai TanahABSTRACT                 Blora district is one of sixteen districts in Blora Town, Central Java, Indonesia. Blora district is one area that is located in the Centre of Government in Blora, hence the high population growth requires in this distric control of land use that which are able to accommodate population activities which also always evolving. Blora district is one of the ideal residential destination, that evident from the increasing use of land, especially for residential development. It is necessary to have study or researhc for changes to the selling price of the land.                First, the research is done by making an initial zone by using the administration map of Blora district and Quick Bird image. The second step is making zone map of sale value in  2012 and 2014 using the initial zone and transactional data from the result of field survey. The next step is making the changes of land price which is obtained from the result of overlaying ZNT map in 2012 and 2014. Finally, it will analyze the changes sale value of land.                The results showed in the range-time from 2012 to 2014, the biggest changes in land prices occurred in zone 62, which amounted to Rp. 642,773.00 per square meter. The zone is an area of the economy and business. While the zones that has smallest change in land prices occurred in zone 45, which is to Rp. 3442.00 per square meter. the zone is a barren agricultural area.Keywords : Sale Value of Land Factor,  Changes of Land, Land Value Zone *) Penulis, Penanggungjawab
ANALISIS PREDIKSI PERUBAHAN PENGGUNAAN LAHAN DENGAN PENDEKATAN ARTIFICIAL NEURAL NETWORK DAN REGRESI LOGISTIK DI KOTA BALIKPAPAN Maharany Shandra Ayu Hapsary; Sawitri Subiyanto; Hana Sugiastu Firdaus
Jurnal Geodesi UNDIP Volume 10, Nomor 2, Tahun 2021
Publisher : Departement Teknik Geodesi Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAKPertumbuhan dan perkembangan suatu kota menyebabkan terjadinya perubahan penggunaan lahan akibat dari meningkatnya kebutuhan lahan dan aktifitas penduduk dalam menjalankan kehidupan ekonomi, sosial, budaya, dan politik. Sistem Informasi Geografi (SIG) dapat digunakan untuk memonitor dan memprediksi perubahan penggunaan lahan dengan menghubungkan faktor-faktor perubahan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perubahan penggunaan lahan di Kota Balikpapan periode tahun 2009-2019, memprediksi penggunaan lahan dengan model Artificial Neural Network (ANN) dan Regresi Logistik, serta menentukan kesesuaian penggunaan lahan hasil prediksi tahun 2029 dengan peta Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) Kota Balikpapan tahun 2012-2032. Data primer yang digunakan untuk penelitian adalah peta penggunaan lahan hasil klasifikasi terbimbing (supervised) dari citra Landsat 7 tahun 2009, citra SPOT 5 tahun 2014, dan citra SPOT 7 tahun 2019. Pemodelan perubahan penggunaan lahan dilakukan dengan menggunakan sebuah plugins yaitu MOLUSCE (Modules for Land Use Change Simulations) pada perangkat lunak QGIS. Variabel faktor pendorong perubahan yang digunakan berupa jarak ke jalan, jarak ke sungai, jarak ke permukiman dan kepadatan penduduk. Hasil penelitian menunjukkan perubahan penggunaan lahan Kota Balikpapan tahun 2009-2019 mengalami penurunan luas pada kebun campuran berkurang sebesar 3.499,69 Ha (6,85%) dan mangrove meningkat sebesar 2.515 Ha (4,92%). Pemodelan perubahaan penggunaan lahan dengan metode ANN memiliki nilai akurasi model yang lebih tinggi dibandingkan dengan metode regresi logistik melalui validasi model antara peta prediksi penggunaan lahan dengan peta eksisting yang menghasilkan nilai indeks kappa sebesar 0,620 untuk model ANN dan 0,588 untuk model regresi logistik. Tingkat kesesuaian setelah dilakukan overlay antara peta prediksi penggunaan lahan tahun 2029 dengan model ANN dan Regresi Logistik terhadap peta RTRW dinyatakan cukup baik yaitu sebesar 44,25% dan 43,49%.
ANALISIS HUBUNGAN PRODUKTIVITAS IKAN LEMURU DENGAN SUHU PERMUKAAN LAUT DAN KLOROFIL-A MENGGUNAKAN CITRA SATELIT AQUA MODIS (Studi Kasus : Selat Bali) Bagus Yuli Arianto; Sawitri Subiyanto; Hani'ah Hani'ah
Jurnal Geodesi UNDIP Volume 3, Nomor 4, Tahun 2014
Publisher : Departement Teknik Geodesi Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1075.245 KB)

Abstract

 ABSTRAKSelat Bali merupakan perairan yang terletak diantara Pulau Jawa dan Pulau Bali yang merupakan daerah potensial dengan hasil ikan nya yang komoditas utamanya ikan Lemuru. Karena letaknya yang dipengaruhi oleh Laut Jawa dan Samudera Hindia ini menyebabkan perairan selat Bali terdapat banyak nutrien sumber makanan dari ikan.Seiring dengan  berkembangnya teknologi, maka untuk mengetahui keaadaan perairan Selat Bali dalam penelitiaan ini menggunakan metode Penginderaan Jauh dengan mengolah citra Aqua Modis untuk diambil informasi Suhu Permukaan Laut dan Klorofil-a sebagai parameter kelimpahan ikan Lemuru di Selat Bali. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan korelasi antara jumlah hasil tangkapan ikan Lemuru denagan Suhu Permukaan Laut dan Klorofil-a di perairan Selat Bali pada tahun 2011-2013.Hasil penelitian menunjukan bahwa dalam rentang waktu 3 tahun jumlah hasil tangkapan ikan Lemuru mengalami peningkatan yang  fluktuatif dengan puncak rata-rata penangkapan terjadi pada musim barat (November-April). Pada tahun 2011 produksi ikan Lemuru tertinggi terjadi pada bulan Juli sebesar 580.803 kg, tahun 2012 produksi tertinggi terjadi pada bulan November sebesar 752.470 kg, tahun 2013 produksi tertinggi terjadi pada bulan Oktober sebesar 2.120.447 kg. Dari hasil analisis regresi tunggal hasil tangkapan ikan Lemuru dengan Suhu Permukaan Laut dan hasil tangkapan ikan Lemuru dengan Klorofil-a didapatkan nilai regresi pada musim barat lebih besar dibandingkan dengan musim timur, hal ini menunjukan bahwa ikan Lemuru lebih banyak pada musim barat di perairan Selat Bali. Sedangkan nilai regresi ganda antara hasil tangkapan ikan Lemuru dengan Suhu Permukaan Laut dan Klorofil-a menunjukan hasil bahwa ada hubungan nya antara jumlah tangkapan ikan lemuru dengan Suhu Permukaan Laut dan Klorofil-a.Kata Kunci : Selat Bali, Lemuru, Suhu Permukaan Laut, Klorofil-a ABSTRACTBali Strait is water territory located between Java Island and Bali Island where Sardinella is the the main commodity. Because of its location which influenced by Java Sea and Indian Ocean, it causes this area to have lots of nutrient for fish food source.As the technology advances, so to determine the Bali Strait in this using remote sensing method to process the captured image for information Modis Aqua Sea Surface Temperature and Chlorophyll-a as a parameter Sardinella abundance of fish in the Bali Strait sotfware processed using ENVI, ER Mapper , and ArcGIS 10. The aim of this research is to know the correlation between the catch result of Sardinella and the Sea Level Surface temperature in Bali Strait from 2011 to 2013.The result of this research shows that during those three years the catch result of Sardinella has been increased fluctuating with the peak average is occurred during the west monsoon (November-April) In 2011 the highest production of Sardinella was occurred in November as 752 470 kg, in 2013 the highest production occurred in October as up to 2,120,447 kg. From the single regression analysis between Sardinella catching with Seal level Surface Temperature and Sardinella catching with A-chlorophyll obtained regression mark in west monsoon is greater than east monsoon means Sardinella is bigger in the west monsoon in Bali Strait. Whereas, the double regression mark between the Sardinella catching result with of sea surface level temperature and A-chlorophyll shows that there is relationship between the amount of Sardinella catching with the  sea surface level temperature and A-chlorophyll.Keywords: Bali Strait, Sardinella, sea surface level temperature, A-chlorophyll
ANALISIS NILAI EKONOMI KAWASAN CAGAR BUDAYA KERATON DI KOTA CIREBON BERDASARKAN WTP (WILLINGNESS TO PAY) DENGAN PENDEKATAN TCM (TRAVEL COST METHOD) DAN CVM (CONTINGENT VALUATION METHOD) Aditya Dharmawan; Sawitri Subiyanto; arief Laila Nugraha
Jurnal Geodesi UNDIP Volume 5, Nomor 2, Tahun 2016
Publisher : Departement Teknik Geodesi Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (662.583 KB)

Abstract

ABSTRAK Kawasan Cagar Budaya Keraton di Kota Cirebon memiliki potensi sebagai obyek wisata. Lokasi yang strategis  dan saling berdekatan,serta nilai sejarah yang dimiliki, membuat  Keraton Kasepuhan, Keraton Kanoman, Keraton Kacirebonan, dan Keraton Kaprabonan menjadi salah satu Daerah Tujuan Wisata (DTW) Kota Cirebon. Berdasarkan hal tersebut maka diperlukan suatu peta Zona Nilai Ekonomi Kawasan (ZNEK) pada Kawasan Cagar Budaya Keraton untuk menduga  nilai ekonomi dan manfaat berdasarkan keinginan untuk membayar (Willingness To Pay: WTP) wisatawan dan masyarakat yang memperoleh manfaat dari kawasan tersebut.Metode penarikan sampel (responden) yang digunakan dalam penelitian tugas akhir ini adalah non probability sampling dengan teknik accidental sampling, dimana responden merupakan siapa saja yang secara kebetulan/accidental ditemui di lokasi penelitian dan dapat digunakan sebagai sampel, bila dipandang orang yang kebetulan ditemui itu cocok sebagai sumber data. Metode pengolahan data yang digunakan adalah analisis regresi linear berganda dan perhitungan WTP menggunakan perangkat lunak Maple 17.Dalam penelitian tugas akhir ini, diperoleh hasil berupa peta Zona Nilai Ekonomi Kawasan. Keraton Kasepuhan dengan surplus konsumen sebesar Rp 531.562- dan nilai WTP sebesar Rp 72.276,-. sehingga diperoleh nilai ekonomi total Keraton Kasepuhan sebesar Rp 73.591.185.150,-. Keraton Kanoman dengan surplus konsumen sebesar Rp 427.876,- dan nilai WTP sebesar Rp 39.478,-. sehingga diperoleh nilai ekonomi total Keraton Kanoman sebesar Rp 16.245.179.439,-. Sedangkan untuk Keraton Kacirebonan diperoleh surplus konsumen Rp 432.094,- dan nilai WTP sebesar Rp 81.341,- sehingga diperoleh nilai ekonomi total kawasan Keraton Kacirebonan sebesar Rp 31.406.330.368,-. Selanjutnya untuk Keraton Kaprabonan diperoleh besaran surplus konsumen Rp 0,- dan nilai WTP Rp 85.309,- sehingga diperoleh nilai ekonomi total kawasan Keraton Kaprabonan sebesar Rp 31.509.443.130,-.(nilai surplus konsumen per individu dikalikan dengan jumlah pengunjung tahun 2014). Kata kunci : Keraton, Maple 17, Regresi Linear Berganda, Willingness To Pay, Zona Nilai Ekonomi Kawasan. ABSTRACT The cultural heritage area of the palace in Cirebon has potential as a tourist attraction. The strategic location and close to each other  which have historical value, makes this particular site Kasepuhan Palace, Kanoman Palace, Kacirebonan Palace, and Kaprabonan Palace became one tourist destination areas Cirebon. Based on this, we need a  Zone Map Economic Value Areas (ZNEK) to the cultural heritage area of the palace to estimate the economic value and benefits based on willingness to pay (WTP) tourists and the people who benefit from the region.Sampling method (respondents) were used in this research is non probability sampling with accidental sampling technique, where respondents are those who by chance / accidental encountered in the study area and can be used as a sample, if it is considered that the person who happened to be found suitable as a data source. Data processing method used is multiple linear regression analysis and calculation software WTP using Maple 17.In this research, the results obtained in the form of a Zone Economic Value Area map. The consumer surplus of Kasepuhan Palace is Rp 531.562-, and WTP value of Rp 72.276,- in order to obtain the total economic value of Kasepuhan Palace Rp 73.591.185.150,-. Kanoman Palace with consumer surplus of Rp 427.876,- and WTP value of Rp 39.478,-. in order to obtain the total economic value of Kanoman Palace is Rp 16.245.179.439,-. As for the Kacirebonan Palace consumer surplus obtained Rp 432.094,- and WTP value of Rp 81.341,- in order to obtain the total economic value is Rp 31.406.330.368,-. Further to the Kaprabonan Palace gained massive consumer surplus Rp 0,- and the value of WTP Rp 85.309,- in order to obtain the total economic value of the Kaprabonan Palace area is Rp 31.509.443.130,-. (Consumer surplus value per individual multiplied by the number of visitors in 2014). Keywords : Maple 17, Multiple Linear Regression, Palace,Willingness To Pay, Zone Economic Value Zone.*) Penulis Penanggung Jawab  
PENENTUAN NILAI EKONOMI KAWASAN WISATA BUKIT LOVE, PANTAI TANJUNG GELAM, PENANGKARAN HIU BERDASARKAN TRAVEL COST METHOD DAN CONTINGEN VALUATION METHOD MENGGUNAKAN SISTEM INFORMASI GEOGRAFIS ( Studi Kasus : Pulau Karimun Jawa) Maharditya Yoga Pramudyono; Sawitri Subiyanto; Fauzi Janu Amarrohman
Jurnal Geodesi UNDIP Volume 6, Nomor 4, Tahun 2017
Publisher : Departement Teknik Geodesi Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (649.098 KB)

Abstract

ABSTRAK Taman Nasional Karimun Jawa merupakan kawasan budidaya bahari alam yang merupakan salah satu tempat wisata bahari yang sering dikunjungi di Indonesia. Tiga tempat wisata yang sering dikunjungi di kawasan Pulau Karimun Jawa adalah Bukit Love, Pantai Tanjung Gelam, Penangkaran Hiu. Pengukuran nilai ekonomi menggunakan metode Travel Cost Method dan Contingent Valuation Method pada penelitian ini dimaksudkan sebagai referensi untuk pemerintah Kota Jepara dalam pemanfaatan kawasan dan sebagai referensi bagi masyarakat untuk mengembangkan kawasan Pulau Karimun Jawa.Metode penelitian dalam penelitian ini menggunakan metode kuantitatif. Populasi yang digunakan TCM adalah jumlah pengunjung objek wisata tahun 2015 dan populasi CVM adalah populasi yang dianggap relevan, dalam hal ini adalah jumlah populasi masyarakat Pulau Karimun Jawa. Metode penarikan sampel (responden) yang digunakan dalam penelitian ini adalah Non Probability Sampling, dengan teknik Purposive Sampling. Pada penelitian ini digunakan 60 sampel. Metode pengumpulan data dilakukan dengan kuesioner. Metode analisis data yang digunakan adalah metode Travel Cost Method dan Contingent Valuation Method.Berdasarkan hasil perhitungan nilai total ekonomi kawasan (TEV) Bukit Love diperoleh hasil TEV Domestik sebesar Rp 58.723.568.800,- dan TEV Mancanegara Rp 1.104.974.850.000,-. Kawasan Pantai Tanjung Gelam diperoleh hasil TEV Domestik sebesar Rp 28.382.135.880,- dan TEV Mancanegara Rp 6.012.059.826.000,-. Kawasan Penangkaran Hiu diperoleh hasil TEV Domestik sebesar Rp 482.875.587.400,-  dan TEV Mancanegara Rp 301.811.385.000,-.
ANALISIS POTENSI PERUNTUKAN LAHAN RUMAH SAKIT DINILAI DARI ASPEK FISIK DAN KEBUTUHAN PENDUDUK DENGAN SISTEM INFORMASI GEOGRAFIS DI KOTA SEMARANG Stella Purnomo; Sawitri Subiyanto; Arief Laila Nugraha
Jurnal Geodesi UNDIP Volume 6, Nomor 4, Tahun 2017
Publisher : Departement Teknik Geodesi Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (575.08 KB)

Abstract

ABSTRAK Rumah sakit merupakan salah satu fasilitas umum yang sangat dibutuhkan penduduk. Semakin cepat perkembangan penduduk di suatu daerah menandakan semakin meningkatnya kebutuhan rumah sakit bagi setiap penduduk. Lokasi rumah sakit tersebut juga harus berada pada lokasi yang sesuai agar dapat memenuhi kebutuhan penduduk tersebut. Jenis penelitian yang digunakan ini adalah menganalisis kebutuhan rumah sakit dengan melihat perbandingan antara jumlah penduduk di Kota Semarang  dengan jumlah tempat tidur rawat inap rumah sakit yang telah tersedia. Selain itu juga dilakukan analisis dengan menggunakan metode pembobotan Analytical Hierarchy Process (AHP) dalam penentuan tingkat kepentingan dari kriteria lokasi rumah sakit yang sesuai. Adapun kriteria yang digunakan yaitu mencakup kriteria tata guna lahan, kemiringan lahan, kelas jalan, daerah potensi banjir, daerah potensi longsor, jarak terhadap TPA dan TPS, tingkat polusi udara dan tingkat kebisingan. Dari analisis dengan menggunakan metode AHP menunjukan besar bobot yang mempengaruhi untuk masing – masing kriteria sebesar 54,820% untuk tata guna lahan, 12,541% untuk potensi longsor, 10,082% untuk kelas jalan, 9,722% untuk daerah potensi banjir, 5,010% untuk jarak TPA dan TPS, 3,509% untuk kemiringan lahan, 2,456% untuk tingkat polusi udara dan 1,859% untuk tingkat kebisingan. Dari hasil overlay peta hasil pembobotan menggunakan metode Sistem Informasi Geografis (SIG) dengan prasyarat lokasi rumah sakit, dipilih tiga alternatif daerah yang sangat sesuai untuk menjadi lokasi rumah sakit di Kota Semarang, yaitu di Kecamatan Pedurungan, Kecamatan Gayamsari dan Kecamatan Semarang Barat. Dan untuk 19 rumah sakit umum yang telah ada di Kota Semarang, ada 14 rumah sakit berada di lokasi yang sangat sesuai, 5 rumah sakit berada pada lokasi yang sesuai dan tidak ada rumah sakit yang terletak di lahan yang tidak sesuai. Sedangkan untuk kebutuhan penduduk terhadap rumah sakit di Kota Semarang pun telah terpenuhi dengan jumlah tempat tidur sebanyak 4.589 untuk 1.602.717 jiwa penduduk di Kota Semarang.
PENENTUAN LOKASI POTENSIAL UNTUK PENGEMBANGAN KAWASAN INDUSTRI MENGGUNAKAN SISTEM INFORMASI GEOGRAFIS DI KABUPATEN BOYOLALI Wahyu Satya Nugraha; Sawitri Subiyanto; Arwan Putra Wijaya
Jurnal Geodesi UNDIP Volume 4, Nomor 1, Tahun 2015
Publisher : Departement Teknik Geodesi Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (780.242 KB)

Abstract

ABSTRAKKabupaten Boyolali memiliki kelebihan yang dapat dijadikan sebagai modal pembangunan daerah karena berada pada segitiga wilayah Yogyakarta – Solo – Semarang (Joglosemar) dan termasuk wilayah yang sangat strategis untuk mendirikan sebuah kawasan industri. Untuk mendorong pertumbuhan sektor industri agar lebih terarah, terpadu dan memberikan hasil guna yang lebih optimal maka di butuhkan pengembangan kawasan industri. Sistem Informasi Geografis (SIG) merupakan langkah yang tepat dalam menyajikan aspek spasial (keruangan). Dalam hal ini SIG mempunyai manfaat yang dapat digunakan untuk mengetahui tingkat potensi lahan pengembangan kawasan industri di Kabupaten Boyolali. Penelitian ini mempertimbangkan enam parameter yang menunjang dalam pengembangan kawasan industri, yaitu kemiringan lereng, penggunaan lahan, jenis tanah, jarak terhadap jalan, jarak terhadap sungai, dan jarak pusat perdagangan dan infrastruktur.Dari analisis dengan menggunakan metode AHP (Analytical Hierarchy Process) menunjukkan besar bobot yang mempengaruhi untuk masing-masing parameter sebesar 35,26% untuk kemiringan lereng, 8,21% penggunaan  lahan, 5,04% jenis tanah, 35,26% jarak terhadap jalan utama, 3,56% jarak terhadap sungai, dan 12,66% untuk jarak terhadap pusat perdagangan dan infrastruktur. Dari hasil intersect peta prioritas lahan dengan RTRW Kabupaten Boyolali, dan kemudian hasil tersebut  dilakukan pengurangan berdasarkan luas lahan RTRW maka hasil yang didapat adalah hasil potensi lahan sebesar 17389,633 Ha.Sedangkan berdasarkan hasil perhitungan dengan skoring, tingkat potensi lahan di Kabupaten Boyolali untuk pengembangan kawasan industri dibagi menjadi 5 kelas, yaitu kelas sangat sesuai (S1) dengan luas 18438,34 Ha, kelas sesuai (S2) dengan luas 21175,51 Ha, kelas cukup sesuai (S3) dengan luas 35670,16 Ha, kelas kurang sesuai (N1) dengan luas 24953,14 Ha, kelas tidak sesuai (N2) dengan luas 9701,42 Ha.Kata Kunci : AHP, Potensi Lahan Industri, SIG ABSTRACTBoyolali Regency has geographical advantage which can be used as region development due to its position on the golden triangle of Yogyakarta – Solo – Semarang (Joglosemar) and it also categorized as strategic regionfor developing the industry area. In order toenhance the development of industrial sector to be aimed, integrated, and give more optimum usage, it needs the developing of industrial area. In this study, Geographical Information System (GIS) brings specific benefit which can be used to find out the terrain potency level of industrial area development in Boyolali. This study takes consideration on six aspects which can enhance the development of industrial area, they are terrain slope, the use of the terrain, the soil type, distance to the road, distance to the river, and also distance of trading center and infrastructure.By the analysis using AHP method (Analytical Hierarchy Process) shows that the weighted score which affected each of parameter is 35.26% for terrain slope, 8.21% for the use of terrain, 5.04% for soil type, 35.26% for the distance to the main road, 3.56% for the distance to the river, and also 12.66% for the distance of trading center and infrastructure. From the intersect result terrain priority map and RTRW of Boyolali Regency, and then that result deducted based on the RTRW wide and resulting the terrain potency level is 17,389.633 Hectares.Whereas, according to the calculation result by scoring concludes that terrain potency level in Boyolali for industrial area development classified into 5 classes that are: 1) very appropriate (S1) with 18,438.34 hectares of wide, 2) appropriate (S2) with 21,175.51 hectares of wide, 3) fairly appropriate (S3) with 35,670.16 hectares of wide, 4) poorly appropriate (N1) with 24,953.14 of wide, and 5) unappropriate (N2) with 9,701.42 hectares of wide.Keywords: AHP, industrial terrain potency, GIS 
ANALISIS PERUBAHAN PENGGUNAAN DAN PEMANFAATAN LAHAN TERHADAP RENCANA TATA RUANG WILAYAH TAHUN 2009 DAN 2017 (Studi kasus : Kabupaten Boyolali) Merpati Dewo Kusumaningrat; Sawitri Subiyanto; Bambang Darmo Yuwono
Jurnal Geodesi UNDIP Volume 6, Nomor 4, Tahun 2017
Publisher : Departement Teknik Geodesi Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (832.336 KB)

Abstract

ABSTRAK Penggunaan lahan merupakan hasil akhir dari setiap bentuk campur tangan kegiatan (intervensi) manusia terhadap lahan di permukaan bumi yang bersifat dinamis dan berfungsi untuk memenuhi kebutuhan hidup baik material maupun spiritual. Lahan yang sebelumnya merupakan lahan kosong atau lahan tidak terbangun, banyak mengalami perubahan fungsi menjadi lahan terbangun dengan berbagai macam bentuk penggunaan dan pemanfaatan lahan. Penelitian ini dilakukan dengan cara membuat peta perubahan penggunaan dan pemanfaatan lahan tahun 2009-2017 yang bertujuan untuk melihat perubahan dan pembangunan yang terjadi di Kabupaten Boyolali serta mebandingkannya dengan peta pola ruangnya. Hasil dari perbandingan peta pola ruang dengan peta penggunaan lahan didapatkan kesesuaian penggunaan lahan. Berdasarkan analisis perubahan penggunaan dan pemanfaatan lahan didapatkan Kecamatan Simo mengalami perubahan penggunaan lahan paling luas yaitu 248,24 hektar.  Perubahan pemanfaatan lahan mendapatkan hasil, kegiatan ekonomi mengalami penurunan sebesar 1275,9 hektar, kegiatan sosial mengalami peningkatan sebesar 91,41 hektar, pemanfaatan tempat tinggal naik 1363,16 hektar dan klasifikasi tidak ada pemanfaatan turun sebesar 210,61. Perubahan kesesuaian lahan selama kurun waktu 8 tahun mengalami peningkatan sebesar 1291,19 hektar atau 1,18%.
ANALISIS PENGARUH FAKTOR ASKSESBILITAS, JENIS PENGGUNAAN TANAH, FASILITAS UMUM, FASILITAS SOSIAL TERHADAP HARGA TANAH SERTA VISUALISASI WEBGIS (Studi Kasus: Kelurahan Tambakharjo Semarang Barat, Kota Semarang) Laisa Usrini; Sawitri Subiyanto; Fauzi Janu Amarrohman
Jurnal Geodesi UNDIP Volume 10, Nomor 1, Tahun 2021
Publisher : Departement Teknik Geodesi Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAKKota Semarang merupakan Ibu Kota dari Provinsi Jawa Tengah yang menjadi pusat pembangunan, pemerintahan dan pusat perekonomian di Jawa Tengah sehingga Kota Semarang dapat berkembang pesat. Kelurahan Tambakharjo merupakan salah satu kelurahan di Kota Semarang yang merupakan lokasi dari Bandara Internasional Ahmad Yani. Perkembangan dan pembangunan di Kelurahan Tambakharjo menyebabkan perbedaan harga tanah di kelurahan ini, perbedaan tersebut dipengaruhi oleh faktor aksebilitas, jenis penggunaan tanah, dan juga faktor fasilitas umum dan fasilitas sosial dan faktor lainnya. Namun di Tambakharjo belum terdapat kepastian tentang harga tanah di kawasan tersebut serta belum adanya visualisasi dalam bentuk WebGIS dari harga tanah di Kelurahan Tambakharjo. Dalam menentukan prediksi harga tanah di Kelurahan Tambakharjo peneliti menggunakan data Peta Blok PBB, NJOP, Peta Jaringan Jalan, data harga pasar wajar  yang  dapat diselesaikan dengan persamaan regresi linier berganda dimana variabel yang digunakan adalah perhitungan jarak antar centeroid fasilitas dengan bidang tanah. Hasilnya Faktor Aksesbilitas, Fasilitas Umum dan Fasiltas Sosial mempengaruhi harga tanah pasar wajar sebesar 88,1% sedangkan pada NJOP sebesar 77,2% . Besar kecilnya pengaruh suatu faktor dapat dilihat dari nilai beta pada model prediksi, dimana aksesbilitas yang paling berpengaruh adalah Jalan Graha Padma, fasilitas umum yang paling berpengaruh adalah Sekolah Menengah Pertama,  fasilitas sosial yang paling berpengaruh adalah ruko dan jenis penggunan tanah yang paling mempengaruhi adalah jenis penggunaan sebagai ruko. Kesesuaian hasil prediksi dengan harga pasar wajar sebesar 84% dan kesesuaian prediksi dengan NJOP sebesar 87%. Visualisasi dari harga pasaar wajar, fasilitas, dan juga prediksi harga tanah dalam bentuk WebGIS dapat diakses pada: https://bit.ly/3mxNdDS .Hasil uji usability mendapatkan nilai 91,7% dengan kategori sangat berhasil.
Co-Authors Abdi Sukmono, Abdi Ade Naufalita Aditya Dharmawan Afifah Asis Agatha Dimitri V. D. Kusumo Ahmad Firdous Syifa Ahmad Syauqani Ajeng Dwi Maturinsih Ajeng Dyah Setyowati Sri Utomo Akhmad Didik Prastyo Akhmad Tsalist Nailuz Tsabiq Alfonsus Bima Samudra Anastasia Astuti Andhono Yekti Andre Hidayat Andri Suprayogi Anggit Swarna Bumi Annisa Usolikhah Antonius Grizalde Simamora Anugrah, Riandhi Ardhian Setiawan Saputra ARDI SETYO PRATOMO Ardiansyah Ardiansyah Ari Setiani Arief Laila Nugraha Arif Witoko Arrizqa Laili Fitriana Arsyad Nur Ariwahid Arwan Putra Wijaya Ashari, Taufiq Ichsan Astriana Dewi Aulia Darmaputri Savitri Bagas Arif Widyagdo Bagus Yuli Arianto Bambang Darmo Yuwono Bambang Darmo Yuwono Bambang Sudarsono Bambang Sudarsono Bandi Sasmito Bashit, Nurhadi Bashit, Nurhadi Bayu Pradana Benita Roseana Benning Hafidah Kadina Bunga Roliesta Sari Charisma Parasandi Alfarizi Cindy Puspita Sari DANI PURBA Dedigun Bintang Fajeri Delima Canny Valentine Simarmata Desita Khrisna Putri, Dian Ayu Saraswati Diana Masmaulidia Diana Nukita Dinda Anisa Anggraini Dwi Rini Septiani Dwi Setyo Wicaksono, Dwi Setyo Faiz Islam Farid Burhanudin Yusup Fauzi Janu A Fauzi Janu Amarrohman Fauzi Janu Amarrohman Fauzi Janu Amarrohman Fauzi Janu Amarrohman, Fauzi Janu Febrina Aji Ratnawati Fryda Arlina Mahardika Galih Putro Pamungkas GETMA LAVEMIA Hana Sugiastu Firdaus Hana Sugiastu Firdaus Hana Sugiastu Firdaus, Hana Sugiastu Hani'ah . Hani'ah, Hani'ah Haniah Haniah Hani’ah Hani’ah Hayu Rianasari Heranda Ibnu Adhi Herjuno Gularso Hisni Theresia Br Sinuraya Humaira Qanita Husen Ibnu Said Ihsan Pakaya Irfan Baharudin Istighfary Abirama Cininta Iva Kusniawati JACKIE SUPRAWITO NABABAN Jerson Otniel Purba Jetri Livia Rindika Kandiawan, Ulfa Fathul Kanti Ismawati Kemala Medika Putri Khoirul Isnaini Aulia Kukuh Ibnu Zaman Kurniawan Putra Widya Wardana L. M. Sabri Laisa Usrini Lasmi - Rahayu Leur P. Maranatha Sitorus LM. Sabri Lusiana Dewi Fatmalasari Lutfia Pangestika Lydia Fadilla Maharany Shandra Ayu Hapsary Maharditya Yoga Pramudyono Mashita Rahati Mavita Nabata Dzakiya Meilina Fika Mayangsari Merpati Dewo Kusumaningrat Mia Aulina Moehammad Awaluddin Moehammad Awwaluddin Mohammad Idris Mufid Damar Pidekso Mufti Yudiya M. Muhammad Amar Makruf Muhammad Ardhi Ahadi, Muhammad Ardhi Muhammad Fitrianto Muhammad Haris Febriansya Muhammad Nida Hakim El Wafa Muhammad Ulya Nadia Anggraeni Yuristasari Naftalie Dinda Rianty Nahar Dito Utama Giardi Nathania, Jessica Nida Shabrina Nisrina Niwar Hisanah Novian Nur Aziz Novita Amelia Nugra Putra Pembayun NUGRAHANI, MEIGA Nur Aziz Putra Aditama Nurfika Maulina Larasati Nurhadi Bashit Oktaviani Arumingtyas Pinastika Nurandani Polin Mouna Togatorop Pratama Irfan Hidayat Purwi Fitroh Hidayati Putri Ardianti Kinasih R. Sapto Hendri Boedi Soesatyo Rahmah, Azizah Nur Rajagukguk, Trevi Austin Ramlansius Tumanggor, Ramlansius Riana Kristiani Priskila Putri Rico Waskito Putro Rifky Satrio Utomo Riski Kadriansari Rismauly Yunita Tampubolon Rista Omega Septiofani Rizki Budi Kusumawardani Rizky Arga Himawan Rizky Silvandie Rudi Cahyono Putro Sarmedis Anrico Situmorang Saul Ambarita SELLI ANGELITA BR SITEPU Selli Angelita Sitepu Sitepu, Selli Angelita Siti Khoeriyah Sondang Artania Sidauruk Stella Purnomo Sutomo Kahar Sutomo Kahar Sutomo Kahar Sutomo Kahar Suwirdah Pebriyanah Swandi Sihombing Syarifa Naula Husna Tika Christy Novianty Trevi Austin Rajagukguk Tri Rahmawati Winda Kusuma Tristika Putri Utama Giardi, Nahar Dito Valent, Caesara Geacesita Viradhea Gita R. L. Wahyu Eko Saputro Wahyu Satya Nugraha Wahyuddin, Yasser Wenang Triwibowo, Wenang Wisnu Hanggoro Yasser Wahyuddin Yose Rinaldy N Yudo Prasetyo