Claim Missing Document
Check
Articles

Titer Antibodi Ayam Kampung yang Diberikan Jamu Daun Ashitaba (Angelica keiskei) Menurun Pascavaksinasi Penyakit Tetelo Widyaningsih, Putu Oka; Sudira, I Wayan; Suardana, Ida Bagus Kade
Indonesia Medicus Veterinus Vol 9 (3) 2020
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19087/imv.2020.9.3.446

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efek pemberian jamu daun ashitaba (Angelica keiskei) terhadap titer antibodi penyakit tetelo atau Newcastle Disease pada ayam kampung (Gallus domesticus). Objek penelitian sebanyak 25 ekor ayam kampung jantan yang dipelihara sejak umur 1-35 hari dengan lima perlakuan, yaitu: satu perlakuan kontrol tanpa diberikan jamu dan empat perlakuan diberikan jamu dengan dosis 50 mg per ekor/hari; 100 mg per ekor/hari; 200 mg per ekor/hari; dan 400 mg per ekor/hari. Vaksinasi penyakit tetelo atau ND aktif La Sota dilakukan pada hari ke 21. Serum diambil sebanyak tiga kali, yaitu: pravaksinasi (umur 18 hari), minggu ke-1, dan minggu ke-2 pascavaksinasi untuk uji hemaglutinasi dan uji hambatan hemaglutinasi. Hasil rerata titer antibodi ND pada ayam kampung yang diberikan jamu dosis 50 mg per ekor/hari; 100 mg per ekor/hari; 200 mg per ekor/hari; dan 400 mg per ekor/hari adalah 5,00 ± 3,80 HI log2; 4,27 ± 3,31 HI log2; 4,07 ± 3,63 HI log2; 3,67 ± 2,35 HI log2; dan 3,73 ± 2,89 HI log2. Hasil penelitian diperoleh titer antibodi ND pada kontrol signifikan lebih tinggi dibandingkan dengan perlakuan yang diberikan jamu dosis 200 mg per ekor/hari dan 400 mg per ekor/hari sedangkan perbandingan titer antibodi pada semua perlakuan lainnya tidak berbeda secara signifikan. Hal ini menunjukkan pemberian jamu menghasilkan titer antibodi lebih rendah dari kontrol. Kesimpulan dari hasil penelitian ini adalah jamu daun ashitaba tidak dapat meningkatkan titer antibodi ayam kampung.
Pemberian Jamu Daun Ashitaba pada Ayam Kampung yang Divaksin Tetelo Memperkecil Diameter dan Menekan Jumlah Pulpa Putih Limpa Kurnia, Ida Ayu Gintan Aristi; Sudira, I Wayan; Winaya, Ida Bagus Oka
Indonesia Medicus Veterinus Vol 9 (5) 2020
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19087/imv.2020.9.5.695

Abstract

Pemberian tanaman herbal diharapkan dapat meningkatkan respons imun sehingga meningkatkan jumlah antibodi. Salah satu tanaman herbal yang dapat meningkatkan respons imun adalah daun ashitaba. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pemberian jamu daun ashitaba terhadap perubahan histopatologi limpa ayam kampung. Penelitian ini menggunakan 25 ekor DOC ayam kampung jantan yang terdiri dari lima perlakuan dan masing-masing perlakuan menggunakan lima ekor ayam. Perlakuan P0 (kontrol) divaksin vaksin galur La Sota penyakit tetelo atau Newcastle Disease dan hanya diberikan air minum sedangkan perlakuan P1, P2, P3, dan P4 divaksin tetelo dan diberikan jamu daun ashitaba dengan dosis berturut-turut 250; 500; 1000; 2000 mg/100 mL/hari per oral selama 14 hari. Minggu pertama ayam kampung diberikan air minum kemudian dilanjutkan dengan pemberian jamu daun ashitaba yang dicampurkan ke dalam air minum pada hari ke-7 sampai hari ke-20. Semua kelompok perlakuan divaksinasi tetelo pada hari ke-21, kemudian hari ke-35 ayam kampung penelitian dikorbankan nyawanya dan dilakukan nekropsi serta diambil organ limpa untuk diproses menjadi preparat histopatologi dengan pewarnaan Hematoksilin-Eosin (HE). Hasil penelitian menunjukkan terdapat perubahan histopatologi limpa yang berbeda nyata antara perlakuan P0 (kontrol) dengan perlakuan yang diberikan jamu daun ashitaba. Hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa pemberian jamu daun ashitaba menyebabkan penurunan jumlah dan diameter pulpa putih limpa.
Perubahan Histopatologi Ginjal Ayam Kampung yang Diberikan Jamu Daun Ashitaba dan Divaksin Penyakit Tetelo Setyawati, Luh Gede; Sudira, I Wayan; Berata, I Ketut; Merdana, I Made
Indonesia Medicus Veterinus Vol 9 (3) 2020
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19087/imv.2020.9.3.456

Abstract

Tanaman ashitaba (Angelica keiskei) adalah tanaman asli Jepang yang telah dikembangkan di Indonesia, sebagai tanaman herbal dan imunostimulator. Penelitian dilakukan untuk mengetahui efek pemberian jamu daun ashitaba terhadap gambaran histopatologi ginjal ayam kampung (Gallus gallus domesticus) yang divaksinasi Newcastle Disease (ND) menggunakan rancangan acak lengkap, terdiri dari lima perlakuan yaitu tanpa ashitaba sebagai kontrol, ashitaba dengan dosis 250; 500; 1000, dan 2000 mg/100 mL per oral selama 14 hari. Setiap perlakuan diulang lima kali, sehingga ada 25 ekor ayam untuk diteliti. Hari ke-21, semua kelompok ayam divaksinasi Newcastle Disease. Hari ke-28, ginjal diambil untuk melihat perubahan struktur histopatologi. Variabel yang diamati meliputi kongesti, pendarahan dan nekrosis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa histopatologi ginjal ayam kampung berbeda nyata antara kelompok kontrol negatif dan kontrol positif. Penelitian menunjukkan bahwa jamu daun ashitaba dosis 1000 mg/100 mL/hari memperbaiki struktur histopatologi ginjal ayam kampung yang divaksinasi ND.
Perubahan Histopatologi Ginjal Tikus Putih yang Diberikan Ekstrak Etanol Sarang Semut dan Gentamisin Dosis Toksik Kusuma, Putu Winatha; Sudira, I Wayan; Berata, I Ketut; Merdana, I Made
Indonesia Medicus Veterinus Vol 9 (3) 2020
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19087/imv.2020.9.3.466

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk membuktikan bahwa pemberian gentamisin dosis toksik mempengaruhi struktur histopatologis ginjal dan mengetahui efek sarang semut terhadap ginjal tikus putih. Sampel dalam penelitian sebanyak 24 ekor tikus putih jantan yang terdiri dari empat perlakuan yaitu: kontrol negatif (P0) yang diberikan pakan dan minum. Kontrol positif (P1) yang diberikan gentamisin 100 mg/kgBB secara injeksi. Kelompok (P2) diberikan gentamisin 100 mg/kgBB secara injeksi dan ekstrak sarang semut 250 mg/kgBB secara oral. Kelompok (P3) diberikan tujuh hari ekstrak sarang semut dilanjutkan dengan pemberian gentamisin 100 mg/kgBB secara injeksi, dan sarang semut 250 mg/kgBB. Tikus yang telah diberikan perlakuan, kemudian di ambil organ ginjalnya untuk di buat preparat histopatologi. Kemudian dilanjutkan dengan pewarnaan Hematoxylin-Eosin (HE) dan diperiksa di bawah mikroskop dengan pembesaran 400x. variabel yang diperiksa meliputi degenerasi, kongesti, pendarahan, dan nekrosis. Hasil pemeriksaan menunjukkan hasil kerusakan ginjal berupa degenerasi, kongesti, pendarahan, dan nekrosis. Uji Kruskall-Wallis menunjukan adanya perbedaan yang nyata rerata degenerasi, kongesti, pendarahan, dan nekrosis dari kelompok yang diuji. Kesimpulan penelitian ini adalah gentamisin dosis 100 mg/kgBB dapat menyebabkan kerusakan ginjal. Sarang semut dosis 250 mg/kgBB dapat mengurangi kerusakan jaringan
Nekrosis Limpa, Infiltrasi Sel Radang dan Hemoragi Jantung pada Ayam Kampung yang Diberikan Minyak Rajas secara Oral Nugraha, Gede Wiyasa Ardy; Sudira, I Wayan; Supartika, I Ketut Eli
Indonesia Medicus Veterinus Vol 10 (5) 2021
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19087/imv.2021.10.5.735

Abstract

Minyak rajas digunakan oleh peternak ayam sebagai bahan peningkat produktivitas, khususnya pemacu pertumbuhan. Minyak rajas memiliki banyak zat aktif yang jika dikombinasikan belum diketahui efek negatif yang dihasilkan terhadap tubuh ayam kampung. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh pemberian minyak rajas secara oral terhadap gambaran histopatologi limpa dan jantung ayam kampung. Sebanyak 24 ekor ayam kampung jantan berumur delapan minggu dengan bobot 500-800 g digunakan dalam penelitian ini. Rancangan penelitian yang digunakan adalah rancang acak lengkap. Hewan coba diambil secara acak dan dibagi menjadi empat perlakuan yaitu P0 (tanpa pemberian minyak rajas), P1 (0,1 mL/kgbb), P2 (0,2 mL/kgbb) dan P3 (0,4 mL/kgbb) dengan masing-masing perlakuan terdiri dari enam ekor ayam. Perlakuan sampel diawali dengan masa adaptasi satu minggu dengan pemberian pakan dan air minum ad libitum kepada semua perlakuan. Pada minggu ke-2 sampai minggu ke-4, ayam-ayam P1, P2 dan P3 diberi minyak rajas sesuai dosis, dicampur kedalam pakan dan diberikan secara oral, sedangkan kelompok P0 tidak. Pengambilan sampel organ limpa dan jantung dilakukan setelah ayam dikorbankan nyawanya dengan cara dislokasi os Vertebrae cervicalis guna pembuatan preparat histopatologi untuk melihat adanya hemoragi, infiltrasi sel radang, dan nekrosis. Pewarnaan yang digunakan adalah pewarnaan Hematoksilin-Eosin. Berdasarkan hasil pengamatan histopatologi limpa, ditemukan nekrosis pada perlakuan P1(14,50) dan P3(14,50). Pada pengamatan histopatologi jantung, ditemukan infiltrasi sel radang pada perlakuan P0(15,83), P1(14,17) dan P3(12,50) serta adanya hemoragi pada perlakuan P0(12,83), P1(11,50), P2(14,17), dan P3(11,50). Simpulannya adalah minyak rajas tidak memberikan perubahan yang berarti terhadap gambaran histopatologi limpa dan jantung ayam kampung, dengan demikian aman digunakan.
Minyak Rajas Efektif Dipakai untuk Menyembuhkan Luka Kebiri pada Anak Babi Ningsih, Adriati; Sudira, I Wayan; Arjana, Anak Agung Gde; Merdana, I Made; Samsuri, Samsuri
Indonesia Medicus Veterinus Vol 11 (2) 2022
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19087/imv.2022.11.2.255

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efektivitas pemakaian minyak rajas terhadap kesembuhan luka kebiri pada anak babi. Anak babi yang digunakan adalah anak babi jantan berumur 10-14 hari sebanyak 32 ekor. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan dua perlakuan yaitu perlakuan P0 (kontrol) yang diberikan olesan alkohol 70% sebanyak empat tetes dan perlakuan P1 (perlakuan) yang diberikan olesan minyak rajas sebanyak empat tetes, pengobatan dilakukan sekali pada awal kebiri. Kesembuhan luka kebiri diamati secara makroskopik selama 10 hari yaitu pada hari ke-1, ke-4, ke-7 dan ke-10. Parameter yang diamati meliputi kemerahan, bengkak, dan keropeng. Untuk mengetahui minyak rajas efektif dalam mencegah infeksi luka kebiri pada anak babi, maka data yang diperoleh dianalisis menggunakan uji nonparametrik (Wilcoxon). Untuk mengetahui apakah ada perbedaan waktu kesembuhan luka kebiri pada anak babi yang diberikan alkohol 70% dan minyak rajas maka data yang diperoleh dianalisis secara deskriptif. Data hasil pengamatan terhadap kelompok P0 menunjukkan bahwa, terdapat empat sampel yang masih mengalami kemerahan, bengkak dan keropeng pada pengamatan hari ke-10, sedangkan data hasil pengamatan pada kelompok P1, menunjukkan bahwa keseluruhan sampel mengalami kesembuhan pada hari ke-7.
PCS-7 Lead Detection in Blood and Liver of Cattle sold in the Traditional Market of Denpasar City I Ketut Berata; Ni Nyoman Werdi Susari; I Wayan Sudira; I Made Kardena
Hemera Zoa Proceedings of the 20th FAVA & the 15th KIVNAS PDHI 2018
Publisher : Hemera Zoa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (402.253 KB)

Abstract

Lead contamination in many foods is reported to endanger consumers' health. Beef as one of the food of animal origin can be contaminated by lead mainly due to the maintenance of cattle in contaminated areas. Balinese cattle that are kept in urban landfills are reported to be contaminated with high levels of lead in the blood and in other tissues with lower levels [4]. The threat of human health from eating foods that contain leads can cause anemia because leads can substitute iron in hemoglobin [2]. Lead poisoning can also cause malfunction of various organs such as liver, kidney [1], lungs, spleen [7] and brain [9] in the form of cognitive impairment [5]. The high threat due to contamination of leads to health, then the meat health check should also be made on the presence of leads. One of the inspection efforts on the presence of lead contamination in beef, then the place of sale in the traditional market is a good location for sampling examination.
The Effectivity of Ethanol Extract of Datura Metel L. Seeds as a General Anaesthesia on Kintamani Dogs I Putu Juli Sukariada; I Wayan Sudira; I Gusti Ngurah Sudisma
Veterinary Science and Medicine Journal Vol 4 No 1 (2016)
Publisher : Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (432.818 KB)

Abstract

This study aimed to determine the effectivity of ethanol extract of Datura metel L. seeds, as general anaesthesia on Kintamani dogs. A total of 25 dogs was divided into 5 groups, namely: group 1(treated by the combination of xylazin 1 mg/kg BW and ethanol extract of 10% Datura metel L. seeds 10 mg/kg BW), group 2 (treated by the combination of xylazin 1 mg/kg BW and ethanol extract of 10% Datura metel L. seeds 15 mg/kg BW), group 3 (treated by the combination of xylazin 1 mg/kg BW and ethanol extract of 10% Datura metel L. seeds 20 mg/kg BW), group 4 (treated by the combination of xylazin 1 mg/kg BW and ketamine 15 mg/kg BW), and group 5 (treated by the ethanol extract of 10% Datura metel L. seeds 15 mg/kg BW). Induction time, duration and recovery time were recorded, in which these responses were observed by clamping on the tail, ears and interdigital area.  Physiological responses including respiration values, rectal temperature, oxygen saturation (SPO2), the frequency of the heart rate and electrocardiogram were observed using physiographic machine every 5 minutes until the dogs regain their consciousness. The level of ALT and AST was also examined to determine the level of toxicity of ethanol extracts of 10% Datura metel L. seeds. The results showed that group 1 and group 2 had no significant effect on the physiological response changes. However, the group 3 showed the sign of acute toxicity followed by increasing the levels of ALT and AST. The group 4 showed a decreasing physiological response, while group 5 had a similar response to group 2, but without sedation effect. It can be concluded that the ethanol extract of 10% Datura metel L. seeds has a potential as an analgesic and an anaesthetic agent.
PENYULUHAN DAN PELAYANAN KESEHATAN TERNAK SAPI DI DESA KEMENUH GIANYAR I.K. Berata; I.M. Kardena; I.B.O. Winaya; N.N.W. Susari; I.W. Sudira
Buletin Udayana Mengabdi Vol 18 No 2 (2019): Buletin Udayana Mengabdi
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (260.264 KB) | DOI: 10.24843/BUM.2019.v18.i02.p18

Abstract

Desa Kemenuh secara geografis sangat strategis sebagai kawasan agrowisata. Sektor peternakan, sebagai bagian dari program agrowisata, membutuhkan perhatian dan bimbingan berkelanjutan. Peternak sapi di desa Kemenuh masih rendah pengetahuan dan keterampilannya dalam memelihara ternak. Program ini bertujuan untuk menambah pengetahuan dan keterampilan petani. Dalam program penyuluhan disediakan waktu untuk diskusi antara tim penyuluh dan peternak. Setelah penyuluhan, dilanjutkan dengan pelayanan kesehatan berupa pengobatan ternak jika ada yang sakit, dan disertai dengan penjelasan tentang cara penanganan penyakit pada sapi. Sebanyak 52 ternak diperiksa dan diberi pengobatan gratis. Hasil pemeriksaan kesehatannya ditemukan sebanyak 10 ternak (19,23%) anemia, 4 (7,69%) kekurusan dan 1 (1,92%) menunjukkan demam. Gejala anemia cukup tinggi, mungkin karena infestasi cacing atau kekurangan protein dalam pakannya. Dapat disimpulkan bahwa peternak masih membutuhkan bimbingan dalam upaya meningkatkan pengetahuan dan keterampilan mereka sehingga nilai jual ternak mereka lebih menguntungkan. Perlu dilakukan tindak lanjut untuk memeriksa darah dan feses ternak untuk mencari penyebab anemia dan kekurusan. Kata kunci : Penyuluhan, pelayanan kesehatan, sapi, anemia, kekurusan
PENYULUHAN DAN PELAYANAN KESEHATAN TERNAK SAPI DI DESA APUAN KECAMATAN SUSUT KABUPATEN BANGLI I K. Berata; I W. Sudira1; I P. Suastika; N K. Suwiti; N. Suparta
Buletin Udayana Mengabdi Vol 12 No 2 (2013): Volume 12 No.2 – September 2013
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (238.042 KB)

Abstract

This Community Service was conducted on June 8th, 2013 in Apuan village, Bangli regency in the form ofsocialization and healthy service for the bali cattle. The aim of this program was to give knowledge to the farmersand healthy examination for their cattles.This programe was held by visiting the farmers or door to door method.Amount 107 farmers were visited and there were 212 cattle were examined for their healthy. Many kind ofdiseases were suffered at their cattle among others helminthiasis = 19 cases (8,96%) and infectious diseases = 13cases (6,13%). The other cattle showed anemia may be caused by anorexia, etc. The conclusion of this programis all of the farmers were interested to attend the socialization and healthy service for their cattle.
Co-Authors Afrizal Choirul Umam Alexander Jacky Cundawan Anak Agung Gde Arjana Anak Agung Gde Oka Darmayudha Anak Agung Gde Oka Dharmayudha Apsari, Ni Luh Putu Nadia Arinata, I Ketut Teguh Astuti, Ni Made Widy Matalia Ayu Murni Desrini Malelak, Ayu Murni Desrini BOI DARMA Darmawan, I Wayan Eka Dewi, Putu Ayu Purbani Novia Diana, Kadek Leni Martha Dini Hilary Manullang DWI SURYANTO Eukaristia Junitha Gede Yuda Darmadi Putra Hapsari Mahatmi Hartati, Ruth Dwi Hendrawan, I Wayan Dika Wahyu Hidayat, Hasannudin Hierico Manalip I Gede Made Andy Pratama I Gusti Ngurah Sudisma I K. Berata I Kadek Parnayasa I Ketut Anom Dada I Ketut Berata I Ketut Eli Supartika I Made Bayu Pandia Yudha Bauer I Made Dwinata I Made Indrayadnya Swarayana I Made Kardena I Made Maduriana I Made Merdana I Nyoman Suarsana I P. Suastika I Putu Agus Hendra Wibawa I Putu Arya Adikara I Putu Cahyadi Putra I Putu Cahyadi Putra, I Putu Cahyadi I Putu Juli Sukariada I Putu Sandika Arta Guna I Putu Suparman I Putu Wiralaga I Wayan Mas Adi Gustara I.K. Berata Ida Ayu Putu Sri Widnyani Ida Bagus Kade Suardana Ida Bagus Komang Ardana Ida Bagus Made Oka Ida Bagus Oka Winaya Kadek Karina Dewi Wijayanthi Ketut Budiasa Kiki Lulu Maduma Simanungkalit Kurnia, Ida Ayu Gintan Aristi Kusuma, Putu Winatha Luh Made Sudimartini Luh Putu Ratna Suhita M. Ali Fauzi Made Gede Adi Surya Saputra Made Oka Adinata Mahardika, I Gusti Bagus Mahendra, I Putu Gede Maria Elysabet Pane N. Suparta Ni Ketut Suwiti Ni Luh Eka Setiasih Ni Luh Putu Ratna Suhita Ni Nyoman Werdi Susari Ningsih, Adriati Nugraha, Gede Wiyasa Ardy Nyoman Adi Suratma Oktaviandari, Putu Risma Pradnyandika, I Putu Krisna Ardhia Purba, Dody Joel Putra, Putu Adi Guna Purwaka Rama Adi Putra, Rama Adi Ratih Dwi Indriani Robby Deddy Septianto Samsuri , Samsuri Samsuri Samsuri Samsuri Samsuri, Samsuri Samsuri Setyawati, Luh Gede Siswanto, Riefqy Tepu Sri Rezeki Tampubolon ST Kholifah Nor Azizati Suci Nur Qurani Tiny Mananoma Ujan, Katarina Kewa Velia Chyntia Victoria Widyaningsih, Putu Oka Yoga Eka Prasetyo