Claim Missing Document
Check
Articles

Found 28 Documents
Search

DIGITAL PERSONAL BRANDING: UPAYA MEMBANGUN IDENTITAS DAN CITRA POSITIF SISWA-SISWI SMPK IPEKA PURI MELALUI PRODUKSI KONTEN di MEDIA SOSIAL Purba, Herman; Parani, Rizaldi; Rondonuwu, Roy Robert; Jacob, Clarisse Callista; Lukman, Alexander
Prosiding Konferensi Nasional Pengabdian Kepada Masyarakat dan Corporate Social Responsibility (PKM-CSR) Vol 7 (2024): PKMCSR2024: Kolaborasi Hexahelix dalam Optimalisasi Potensi Pariwisata di Indonesia: A
Publisher : Asosiasi Sinergi Pengabdi dan Pemberdaya Indonesia (ASPPI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37695/pkmcsr.v7i0.2357

Abstract

Penggunaan teknologi digital dan internet yang semakin masif membuat sebagian besar individu berlomba untuk menampilkan tentang dirinya di media sosial. Proses ini juga dikenal dengan istilah personal branding yang ditujukan untuk membangun citra, identitas, hingga persepsi yang positif tentang diri seorang individu melalui karya, prestasi, potensi, ataupun hobi yang dibagikan melalui konten-konten di media sosial. Proses dan kemampuan untuk membangun dan mengelola identitas dan citra diri di dunia digital menjadi sangat penting untuk dilakukan terutama bagi remaja saat ini yang tumbuh di tengah lingkungan dengan pengaruh yang sangat kuat dari kehadiran dan penggunaan teknologi. Kegiatan PkM ini diselenggarakan secara luring untuk mengedukasi dan memberikan pelatihan berkaitan dengan proses membangun personal branding di ruang digital bagi siswa-siswi kelas IX SMPK IPEKA Puri Jakarta Barat. Kegiatan ini melibatkan kolaborasi antara dosen dengan mahasiswa sebagai narasumber dan fasilitator, serta didukung dengan menggunakan metode ceramah yang mengadopsi gaya pecha kucha, diskusi interaktif, dan dilengkapi aktivitas workshop dalam kelompok kecil terkait dengan proses produksi konten digital kepada 120 siswa-siswi. Melalui kegiatan PkM ini, dapat terlihat bahwa para peserta dapat mengenali konsep terkait dengan digital personal branding, memahami pentingnya kemampuan public speaking dan kesadaran akan etika di ruang digital sebagai upaya untuk membangun personal branding, serta mampu memproduksi konten yang menarik untuk memperkenalkan identitas dan citra diri di media sosial.
SOSIALISASI CERDAS BERMEDIA DIGITAL MELALUI BENTUK PERMAINAN PADA SISWA SEKOLAH MENENGAH Parani, Rizaldi; Purba, Herman; Muliawan, Diva Nanda; Tirtawinata, Rachel Daniella
Prosiding Konferensi Nasional Pengabdian Kepada Masyarakat dan Corporate Social Responsibility (PKM-CSR) Vol 7 (2024): PKMCSR2024: Kolaborasi Hexahelix dalam Optimalisasi Potensi Pariwisata di Indonesia: A
Publisher : Asosiasi Sinergi Pengabdi dan Pemberdaya Indonesia (ASPPI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37695/pkmcsr.v7i0.2359

Abstract

Cerdas bermedia menjadi suatu hal yang penting terutama untuk menghindari dampak negatif dari semakin maraknya penggunaan media sosial di kalangan masyarakat. Adapun dampak negatif yang kerap muncul seperti: penipuan transaksi perdagangan, penyebaran berita hoaks, pencurian informasi pribadi dan penting, rekayasa identitas, pembajakan akun, cyber-bullying serta tindakan yang merugikan lainnya. Oleh karenanya diperlukan sosialisasi melalui pelatihan-pelatihan terkait literasi digital untuk membangun kesadaran dalam menggunakan media sosial terutama bagi para remaja yang aktif dalam penggunaan dan rentan terhadap kejahatan digital. Bentuk sosialisasi yang dilakukan terkait kegiatan cerdas bermedia adalah melalui bentuk-bentuk permainan yang mana didalamnya diselipkan pesan-pesan cerdas untuk membangun kesadaran dalam menggunakan media sosial. Adapun bentuk-bentuk permainan yang dilakukan dalam pelatihan ini berupa: Cerdas Menilai & Memilih Informasi, See the Bigger Picture, Seek the Truth, Ular Tangga Internet Sehat dan Build the Trust yang mana pesertanya adalah pengguna aktif media sosial dengan rentang usia 14 – 17 tahun (kelas 8 – 11) dan kegiatan pernah dilakukan di sekolah IPEKA, Jakarta Barat dan SMU 70, Jakarta Selatan. Metode pelatihan dilakukan bersifat partisipatif dengan melibatkan bukan hanya siswa dan guru tetapi juga trainers yang terbagi dalam beberapa kelompok siswa. Setiap akhir permainan selalu dijelaskan tujuan dari permainan tersebut. Manfaat dari pelatihan yang dilakukan melalui bentuk-bentuk permainan adalah memudahkan dalam menyampaikan pesan, mengundang keterlibatan peserta dan tidak membosankan. Oleh karenanya sosialisasi melalui bentuk-bentuk permainan bagi para remaja dirasakan lebih tepat untuk memberikan pemahaman cerdas bermedia bagi Masyarakat.
Interpreting Meaning in Social Criticism through Murals in Indonesia Parani, Rizaldi; Darmawan, Samuel Aditya; Purba, Herman
Nyimak: Journal of Communication Vol 7, No 2 (2023): Nyimak: Journal of Communication
Publisher : Faculty of Social and Political Science, Universitas Muhammadiyah Tangerang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31000/nyimak.v7i2.8190

Abstract

Murals, as a form of street art, are increasingly used not only to enhance urban aesthetics but also to convey social criticism. In Indonesia, this trend has gained momentum, particularly during the Covid-19 pandemic, when murals have become a medium for dissent against government policies, figures, and institutions. This study aims to analyze how artists use murals to express social criticism towards the government and to understand the interpretative process involved in their message delivery. Utilizing Social Construction theory, this research examines how artists construct and convey their messages through murals. The study adopts a qualitative approach with a phenomenological method, focusing on the lived experiences of the artists to gain insights into how they perceive and represent social realities. The findings reveal that mural creation is a subjective process, deeply influenced by the artists' understanding of social issues. Artists navigate through various stages of construction, incorporating words, symbols, and images to reflect their perspectives on societal concerns. The messages embedded in these murals are often open to multiple interpretations, reflecting the diverse ways in which social criticism can be communicated. This study highlights the role of murals as a dynamic form of protest and expression, revealing the complex interplay between artistic representation and social critique. The research underscores the importance of considering artists' experiences and perspectives to fully appreciate the impact and significance of their work in the context of social and political commentary.Keywords: Social construction, meaning, interpretation, mural, social criticism ABSTRAKMural, sebagai bentuk seni jalanan, semakin digunakan tidak hanya untuk meningkatkan estetika perkotaan tetapi juga untuk menyampaikan kritik sosial. Di Indonesia, tren ini semakin berkembang, terutama selama pandemi Covid-19, ketika mural menjadi media untuk mengekspresikan ketidakpuasan terhadap kebijakan pemerintah, tokoh, dan institusi. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis bagaimana seniman menggunakan mural untuk menyampaikan kritik sosial terhadap pemerintah dan untuk memahami proses interpretasi yang terlibat dalam penyampaian pesan mereka. Menggunakan teori Konstruksi Sosial, penelitian ini memeriksa bagaimana seniman membangun dan menyampaikan pesan mereka melalui mural. Studi ini mengadopsi pendekatan kualitatif dengan metode fenomenologis, berfokus pada pengalaman hidup para seniman untuk mendapatkan wawasan tentang bagaimana mereka memandang dan merepresentasikan realitas sosial. Temuan penelitian menunjukkan bahwa penciptaan mural adalah proses subjektif, yang sangat dipengaruhi oleh pemahaman seniman terhadap isu-isu sosial. Seniman melewati berbagai tahap konstruksi, menggabungkan kata-kata, simbol, dan gambar untuk mencerminkan perspektif mereka tentang masalah-masalah masyarakat. Pesan yang tertanam dalam mural ini sering kali terbuka untuk berbagai interpretasi, mencerminkan cara-cara beragam dalam menyampaikan kritik sosial. Penelitian ini menyoroti peran mural sebagai bentuk protes dan ekspresi yang dinamis, mengungkapkan hubungan kompleks antara representasi artistik dan kritik sosial. Penelitian ini menekankan pentingnya mempertimbangkan pengalaman dan perspektif seniman untuk sepenuhnya menghargai dampak dan signifikansi karya mereka dalam konteks komentar sosial dan politik.Kata Kunci: Konstruksi sosial, makna, interpretasi, mural, kritik sosial
THE SYMBOLIC MEANING OF GAMA’ TRADITION IN MONGONDOW TRIBE WEDDING Humaira, Talitha; Parani, Rizaldi
Jurnal Lectura Vol. 1 No. 2 (2025): February
Publisher : Universitas Pelita Harapan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19166/lectura.v1i2.9392

Abstract

This research aims to uncover the symbolic meaning and social function of the Gama' traditional wedding ritual of the Mongondow tribe. The Gama' tradition is the final stage of a series of wedding rituals that must be performed, encompassing 13 stages rich in symbolism and cultural values. This study uses a qualitative approach with ethnographic methods to gain an in-depth understanding of this ritual through in-depth interviews, participant observation, and literature review. The main informants consist of the head of the cultural heritage institution, traditional elders, and community members involved in the execution of the traditional ceremony. The results show that each stage in the Gama' tradition has symbolic meaning reflecting the ancestral, religious, moral, social, and ethical values of the Mongondow community. The study also found that despite the influence of modernization causing changes in the ritual's execution, the essence and symbolic meaning of the Gama' tradition are maintained. Gama' plays a crucial role in strengthening the cultural identity and social bonds of the Mongondow community, providing guidance for the younger generation in understanding and preserving their cultural heritage.
The dynamics of transactional communication in contract marriages within Cipanas community Rizaldi Parani; Dinara Hizkiarin Verga; Herman Purba
Jurnal Studi Komunikasi Vol. 8 No. 2 (2024)
Publisher : Faculty of Communications Science, Dr. Soetomo University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25139/jsk.v8i2.7323

Abstract

The phenomenon of contract marriages often found in Cipanas Village, Bogor is interesting because it is one of the ways chosen by people to quickly improve their welfare. It’s considered to have an impact on welfare improvement and poverty alleviation in rural communities. Therefore, this study aims to describe how the dynamics of contract marriages based on transactional communication can provide a sense of what is welfare for the people of Cipanas Village. This study applies a qualitative approach supported by the use of the phenomenological method. Data collection was carried out using semi-structured interviews and observations carried out in the field. Data validity is carried out through internal validity and as a measuring tool by checking the consistency of answers given through the same question to ther informants. The results of this study indicate that transactional communication becomes a tool in the verbal negotiation process until an agreement is formed between the parties involved in the practice of contract marriages. This agreement on exchange values that has been approved is considered a safety valve in the economic dimension, especially in creating improvements in people's living standards. The society views the practice of contract marriages as legal and not in violation of religious regulations. The contribution of this research is expected to be a reference for the government and further researchers who will be conducting further studies related to the phenomenon of contract marriages.
Social Media Strategies by the Sobat Icad Community to Support Richard Eliezer as a Justice Collaborator Celesta, Xiantira Ghassani; Parani, Rizaldi; Geraldine, Christa Olivia
Jurnal Komunikasi dan Bisnis Vol. 12 No. 1 (2024): May
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat Institut Bisnis dan Informatika Kwik Kian Gie

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46806/jkb.v12i1.1073

Abstract

The Sobat Icad community uses social media to express their aspirations in supporting Richard Eliezer as a justice collaborator in the case of Brigadier J's murder. Through this study, the researchers identified the strategies used by Sobat Icad community in utilizing social media as a platform to provide support through campaigns. The research was conducted based on the Stimulus-Organism- Response theory by Carl Hovland and the Campaign Concept by Anne Gregory. The researchers employed a descriptive qualitative approach with a case study research method. The study results showed the existence of social media usage strategies formulated by Sobat Icad community in conducting their campaigns. This includes the selection of social media platforms that are Instagram and WhatsApp, the choice of content using photos, posters, and videos, as well as the establishment of rules for each member of the Sobat Icad community to always upload content based on facts without exaggeration. In future research, the researchers hope to explore the perspectives of both supportive and opposing communities to examine the social dynamics through the public's response regarding the organization of campaign support for Richard Eliezer as a justice collaborator.
STRATEGI KOMUNIKASI GEREJA KRISTEN SUMBA UNTUK MENDORONG KETERLIBATAN MASYARAKAT DALAM AKTIVITAS PEMBANGUNAN DESA PAMALAR, NUSA TENGGARA TIMUR Parani, Rizaldi; Naha, Rambu; Purba, Herman
KAGANGA KOMUNIKA: Journal of Communication Science Vol 7 No 2 (2025): Edisi 13
Publisher : Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Teknologi Sumbawa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36761/kagangakomunika.v7i2.6001

Abstract

Rendahnya partisipasi masyarakat dalam aktivitas pembangunan mendorong Gereja Kristen Sumba (GKS) Pamalar di kabupaten Sumba Tengah untuk dapat berperan aktif dalam menggerakan masyarakat. Sebagai kabupaten dengan populasi penduduk beragama Kristen yang tinggi, maka peran gereja menjadi sangat sentral. GKS Pamalar perlu untuk dapat membangun hubungan dengan masyarakat serta beradaptasi dengan identitas budaya agar dapat menemukan pendekatan berbasis kearifan lokal yang mampu mendorong partisipasi masyarakat dalam aktivitas pembangunan. Penelitian ini berusaha untuk melakukan analisis terhadap strategi yang dilakukan oleh GKS Pamalar untuk mendorong partisipasi masyarakat dalam aktivitas pembangunan. Untuk dapat menganalisis masalah penelitian, maka studi ini akan menggunakan beberapa konsep kunci seperti strategi, kearifan lokal, partisipasi, dan community development. Adapun pendekatan yang dilakukan menggunakan kualitatif dan metode studi kasus yang bertujuan untuk menganalisa pelaksanaan strategi yang dilakukan oleh GKS Pamalar untuk membangun partisipasi masyarakat dalam proses pembangunan. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa program pembangunan masyarakat yang dilakukan haruslah berorientasi pada kepentingan dan kebutuhan masyarakat desa. Keberhasilan program pembangunan masyarakat ini juga ditemukan karena peran aktif gereja melalui pemimpinya membuat program yang berkaitan dengan mata pencaharian pokok masyarakat. Selain itu pemimpin gereja juga kerap menjadi jembatan antara Pemerintah Desa dengan masyarakat desa Pamalar. Selain itu, kesesuaian gaya pemimpin Gereja dalam penelitian ini juga terlihat dari strategi yang digunakan dalam keterlibatan, mengenali dan mendorong partisipasi masyarakat intimacy dan involvement secara langsung akan membangun rasa percaya terutama bagi warga masyarakat sebagai modal penting untuk mendorong pembangunan masyarakat.   Kata Kunci: Kepemimpinan Gereja, Partisipasi Masyarakat, Pembangunan Masyarakat, Kearifan Lokal
The Dynamics Of Cultural Communication Through Acculturation In The Context Of Chinese-Dayak-Malay (Tidayu) Inter-Ethnic Marriage In Singkawang – Indonesia Rizaldi Parani; Niyu Niyu; Desideria Lumongga Dwihadiah; Herman Purba
INJECT (Interdisciplinary Journal of Communication) Vol. 10 No. 1 (2025)
Publisher : FAKULTAS DAKWAH UIN SALATIGA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18326/inject.v10i1.4425

Abstract

Singkawang, known as the “Hong Kong of Borneo,” is one of the most tolerant cities in Indonesia, where the Chinese ethnic group, with its distinctive cultural values, is the dominant cultural group in the city. With a population originating from diverse cultural backgrounds, interactions through inter-ethnic marriages, especially between Chinese, Dayak, and Malay ethnic groups, produce various dynamics of acculturation. This study aims to analyze the communication dynamics of cultural value acculturation in inter-ethnic marriages involving Chinese, Dayak, or Malay (Tidayu) ethnic groups in Singkawang. Using a phenomenological approach, this study explores the experiences of married Tidayu couples to understand how cultural differences are harmonized, shared identities are built, and family and social traditions are integrated. Data were obtained through interviews, observations, and literature review. The results of the study show that through inter-ethnic marriages Tidayu, Singkawang society has developed to be more inclusive by accepting each other. In the established dynamics of communication, it is important to maintain customs as part of efforts to adapt and acculturate culture. Communication dynamics cannot be separated from the worldview of the individuals involved. The results of this study are expected to have practical benefits in strengthening unity in the multicultural landscape of Singkawang, especially when facing the challenges of ethnic diversity.