Claim Missing Document
Check
Articles

STUDI PERBANDINGAN KUAT TEKAN DAN KUAT LENTUR PADA PERKERASAN KAKU YANG MENGGUNAKAN AGREGAT BATU PECAH MANUAL DAN AGREGAT BATU PECAH MESIN - Bani; Slamet Widodo; Eti Sulandari
JeLAST : Jurnal Teknik Kelautan , PWK , Sipil, dan Tambang Vol 3, No 3 (2016): JURNAL MAHASISWA TEKNIK SIPIL EDISI DESEMBER 2016
Publisher : JeLAST : Jurnal Teknik Kelautan , PWK , Sipil, dan Tambang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1021.422 KB) | DOI: 10.26418/jelast.v3i3.24206

Abstract

Terjadinya krisis bahan baku yang berkepanjangan terutama bahan baku utama pembuat beton jalan yaitu batu mengakibatkan harga batu meningkat. Maka perlu dicari bahan baku alternatif pengganti yang lebih ekonomis. Berdasar hal tersebut, maka penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kuat tekan beton maksimum, kuat lentur balok beton maksimum yang menggunakan campuran berbeda agregat pengelolaanny sebagai campuran dengan memiliki nilai mutu tekan 30MPa dan mutu lentur 45Kg/cm2 pada umur 28 hari. Metodelogi penulisan penelitian ini adalah kuat tekan dan kuat lentur, dengan benda uji silinder beton berdiameter 15 cm dan tinggi 30 cm, sedangkan untuk kuat lentur menggunakan benda uji balok beton dengan ukuran lebar 15 cm, tebal 15 cm, dan panjang 60 cm. Metode perencanaan campuran beton menggunakan metode SNI. Setelah dilakukan pengujian dan penelitian, maka didapat hasil pengujian kuat tekan silinder pada beton dengan menggunakan batu pecah mesin menghasilkan kuat tekan sebesar 34,53 MPa dan untuk beton dengan menggunakan batu pecah manual 30,70 MPa. Kuat tekan beton maksimal tercapai pada variasi penggunaan kedua agregat tersebut dengan rencana awal 30 MPa, untuk penggunaan agregat batu pecah mesin  mengalami peningkatan sebesar 11% dari penggunaan agregat batu pecah manual. Hasil pengujian kuat lentur balok pada beton dengan menggunakan batu pecah mesin menghasilkan kuat lentur sebesar 46,77 Kg/cm2 dan untuk beton dengan menggunakan batu pecah manual 45,46 Kg/cm2. Kuat lentur beton maksimal tercapai pada variasi penggunaan kedua agregat tersebut dengan rencana awal 45 Kg/cm2, untuk penggunaan agregat batu pecah mesin  mengalami peningkatan sebesar 2,8% dari penggunaan agregat batu pecah manual.Nilai stabilitas pada penggunaan agregat batu pecah mesin memiliki nilai kuat tekan yang lebih tinggi di bandingkan secara manual. Hal ini dapat diartikan bahwa batu yang terbentuk secara pecah mesin memiliki ukuran agregat yang standar ukurannya sehingga dalam pembentukan terhadap beton tidak membuat rongga-rongga lebih besar dan memiliki kepadataan yang lebih baik dibadingkan batu pecah manual, sedangkan untuk batu yang diolah secara manual pembentukan dengan alat seadanya tidak dapat di pastikan memiliki nilai standar. Kata kunci : kuat tekan beton, kuat lentur, agregat batu pecah mesin, agregat batu pecah manual
ANALISIS KINERJA JALUR ANGKUTAN BARANG DI KOTA PONTIANAK (STUDI KASUS JALUR LINTAS TRUK KONTAINER . Adriansyah; Slamet Widodo; Eti Sulandari
JeLAST : Jurnal Teknik Kelautan , PWK , Sipil, dan Tambang Vol 3, No 3 (2016): JURNAL MAHASISWA TEKNIK SIPIL EDISI DESEMBER 2016
Publisher : JeLAST : Jurnal Teknik Kelautan , PWK , Sipil, dan Tambang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (623.582 KB) | DOI: 10.26418/jelast.v3i3.18676

Abstract

Pada penelitian ini pengambilan data terbagi mejadi data primer dan data sekunder, pengambilan data primer,berupa survey kecepatan kendaraan pada kondisi ada truk kontainer yang melintas dan tanpa truk kontainer yang melintas yang dilakukan pada hari Jum,at,Sabtu, Minggu dan Senin dari Pukul 06.00-18.00 wib dimana kendaraan yang di jadikan contoh pengamatan adalah  minibus, serta survey geometrik dan hambatan samping. Selanjutnya,data pertama yang dianalisis adalah dat kecepatan tempuh kendaraan di lanjutkan analisis volume lalu lintas dalam satuan smp/jam  kemudian dilakukan perhitungan kapasitas jalan hingga di dapat derajat kejenuhan lalu lintas di kedua ruas jalan tersebut, sehingga dapat diketahu pengaruh truk kontainer ketika melintas dan tingkat pelayanan kinerja di jalan Gusti Situt Mahmud maupun di jalan Khatulistiwa. Berdasarkan hasil analisa diketahui kecepatan kendaraan melamban ketika ada truk kontainer melintas,pada ruas jalan Gusti Situt Mahmud melamban ± 4 km/jam sedangkan di jalan Khatulistiwa melamban ±3 km/jam, dan berdasarkan analisa volume lalu lintas  derajat kejenuhan Jalan Gusti Situt Mahmud  = 1,610 sedangkan derajat kejenuhan jalan Khatulistiwa = 0,630 sehingga perlu di lakukan upaya peningkatan kinerja jalan dengan  beberapa alternatif peningkatan kinerja jalan di kedua ruas jalan tersebut. Ada lima alternatif untuk jalan Gusti Situt Mahmud yang pertama dengan mengalihkan arus truk kontainer ke jalan 28 Oktober dan jalan Budi Utomo, alternatif ini dapat meningkatkan kecepatan kendaraan tapi tidak berpengaruh signifikan terhadap derajat kejenuhan, kedua dengan melakukan pelebaran jalan menjadi empat lajur –dua arah – tak terbagi alternatif ini mampu mengurangi derjat kejenuhan pada ruas jalan Gusti Situt Mahmud menjadi 0,926  tetapi hal ini belum mampu menyelesaikan permasalahan pada ruas jalan Gusti Situt Mahmud, yang ketiga adalah dengan melakukan pelebaran dikedua ruas jalan menjadi empat lajur-dua arah- terbagi alternatif ini mengurangi nilai derjat kejenuhan pada ruas jalan Gusti Situt Mahmud menjadi 0,833, yang ke empat rekayasa lalu lintas pada jalan Gusti Situt Mahmud menjadi jalan satu arah keluar kota Pontianak, ternyata dapat mengurangi derajat kejenuhan menjadi 0,730 termasuk dalam klasifikasi tingkat pelayanan C yang ke lima adalah rekayasa lalu lintas pada jalan Gusti Situt Mahmud menjadi jalan satu arah ke dalam  kota Pontianak, ternyata dapat mengurangi derajat kejenuhan menjadi 0,689  termasuk dalam klasifikasi tingkat pelayanan B, berdasarkan nilai derajat kejenuhan tersebut diketahui pengalihan arus lalu lintas menjadi jalan satu arah ke dalam kota Pontianak merupakan alternatif yang tepat untuk meningkatkan kinerja jalan Gusti Situt Mahmud.Sedangkan pada ruas jalan Khatulistiwa ada dua alternatif, yang pertama pelebaran jalan menjadi empat lajur –dua  arah – tak terbagi alternatif ini mengurangi nilai derjat kejenuhan menjadi 0,410 termasuk dalam klasifikasi tingkat pelayanan A , hal ini mampu menyelesaikan permasalahan pada ruas jalan Khatulistiwa, yang kedua adalah pelebaran dikedua ruas jalan menjadi empat lajur-dua arah- terbagi alternatif ini mengurangi nilai derjat kejenuhan pada ruas jalan Khatulistiwa menjadi 0,369 termasuk dalam klasifikasi tingkat pelayanan A Dengan demikian berdasarkan nilai derajat kejenuhannya maka alternatife pelebaran jalan menjadi empat lajur -dua arah – terbagi merupakan solusi paling tepat untuk meningkatkan kinerja jalan Khatulistiwa.   Kata Kunci : Truk Kontainer, Kecepatan, Derajat Kejenuhan, Kinerja Jalan
ESTIMASI NILAI MODULUS REAKSI TANAH DASAR (NILAI ‘k’) PADA MATERIAL TANAH LEMPUNG PENIRAMAN Dian Sudiyono; Slamet Widodo; Eti Sulandari
JeLAST : Jurnal Teknik Kelautan , PWK , Sipil, dan Tambang Vol 3, No 3 (2016): JURNAL MAHASISWA TEKNIK SIPIL EDISI DESEMBER 2016
Publisher : JeLAST : Jurnal Teknik Kelautan , PWK , Sipil, dan Tambang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1511.106 KB) | DOI: 10.26418/jelast.v3i3.17791

Abstract

Subgrade is a very important factor in the field of civil engineering, especially in designing the pavement, both rigid and flexible pavements pavement. According to some studies of land in West Kalimantan, especially land Peniraman have clay soil conditions that have small pebbles. Clay is technically more advantageous because it has a carrying capacity is high enough so that in designing the pavement is excellent for use as road subgrade. This research was carried out without disturbing the original soil conditions are then carried out by testing the physical properties and mechanical properties of the soil. Testing the physical properties of soil carried out by three methods: USCS, AASHTO, and the USDA. Based on the method USCS unknown land peniraman classified as ML (silt inorganic, fine sand once, powdered rock, fine sand clayed or argillaceous) and according to AASHTO classified land clayed with general levels most basic soil moderate to poor, while according to the USDA soil classified as loam or Clay. As for testing the mechanical properties of soil compaction test done and compressive strength test soil by CBR test and the test load plate to get the subgrade modulus value or the value of "k". In addition to getting the CBR value and the value of "k", the results of this research will also get the relationship of the two values ​​which will then be displayed in graphic design NAASRA. Testing was conducted in the laboratory using existing CBR tool with 2 variations sample of soak and soak and variations in energy (collision) is given. Soaking were conducted for 4 days to get a critical CBR soil tested, while the energy variations that give the 10, 30, and 56 collision. The results showed it turns out that soaked CBR generate value and value "k" is far lower than the soil soaked, it is due to the development that occurs as a result of immersion for 4 days to obtain the critical value which is used to design a pavement. Similarly, land with energy 56 collisions produce CBR value and the value of "k" is higher than the ground with energy 10 and 30 collision, This is the land with energy 56 collisions have a density that is far better than the 10 and 30 collisions so that when pressure tests produce CBR value and the value of "k" is higher the closer the value of design. Keywords :        Soil Clays Peniraman, Maximum Dry Density (γdry), Optimum Water Content (Woptimum), CBR, value 'k' (k value).
IDENTIFIKASI JALUR LINTAS ANGKUTAN BARANG DARI GUDANG-GUDANG KE PUSAT-PUSAT DISTRIBUSI DI KOTA PONTIANAK Maruli Situmorang; Slamet Widodo; Eti Sulandari
JeLAST : Jurnal Teknik Kelautan , PWK , Sipil, dan Tambang Vol 3, No 3 (2016): JURNAL MAHASISWA TEKNIK SIPIL EDISI DESEMBER 2016
Publisher : JeLAST : Jurnal Teknik Kelautan , PWK , Sipil, dan Tambang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26418/jelast.v3i3.18378

Abstract

Seiring terjadi peningkatan pertumbuhan ekonomi dan penduduk di Kalimantan Barat tentu terjadi peningkatan di segala bidang, salah satunya di bidang perdagangan yang menyebabkan peningkatan arus distribusi barang. Oleh karena itu perlu dilakukan perencanaan jalur lintas angkutan barang dari gudang gudang ke pusat-pusat distribusi di Kota Pontianak agar dapat melakukan penataan sistem jaringan lalu lintas yang disesuaikan menurut peranan jalan yang di atur memalui Rencan Tata Ruang Wilayah (RTRW) Kota Pontianak, sehingga tidak merusak kualitas dan pelayanan jalan yang di lalui oleh kendaraan angkutan barang tersebut.Keluar masuknya barang merupakan suatu kegiatan atau usaha untuk melakukan pengurusan, penyelenggaraan dan pengaturan perpindahan barang dari suatu tempat ke tempat lain dari tempat penyimpanan ke tempat pemakainya Dalam penelitian ini, Survei dilakukan pada 3 (tiga) hari kerja, dan data yang digunakan adalah data pada setiap gudang dengan jumlah kendaraan angkutan barang terbanyak dalam sehari. Survey dilakukan dengan cara mengambil data-data yang diperlukan pada lokasi survey (titik survei. Secara umum  kendaraan lintas angkutan barang banyak beroprasi pada jam 08.00- 11.00 Wib dan 13.00- 16.00 Wib dengan total 1030 kendaraan perhari. Adapun jam terbanyak berdasarkan survei adalah pukul 09.00- 10.00 Wib, dengan 237  kendaraan perhari, atau sekitar 23 % dari jumlah kendaran angkutan barang yang berasal dari pergudangan ke pusat –pusat distribusi di Kota Pontianak. Dan untuk komoditas rerlihat bahwa komoditas terbanyak yang masuk ke Kota Pontianak adalah jenis pupuk dengan angka 482 truk/hari atau sekitar 46,79 % dari total kendaraan angkutan barang dari pergudangan yang ada di Kota Pontianak. Untuk rute yang banyak di lalui oleh kendaraan angkutan barang dapat dijelaskan bahwa jumlah truk yang berasal dari pergudangan yang ada dikawasan sekitar jalan Kom Yos Sudarso adalah 408 truk atau sekitar  39,61 %, truk yang berasal dari kawasan jalan Tanjung Hilir berjumlah 254 truk atau sekitar 24,66 % , dan jumlah truk yang berasal dari kawasan jalan Gusti Situt Mahmud berjumlah 368 truk atau sekitar 35.72 %. Juga terdapat  jalur lintas yang di lalui merupakan bukan jalur yang sudah di atur oleh RTRW Kota Pontianak bahkan dengan jumlah truk angkutan barang sebanyak 397 truk atau 38, 54 % yang pada umumnya memiliki tujuan ke luar kota seperti Kota Singkawang, Sungai Pinyuh Bengkayang dan lain lain. Jalur eksisting terpilih juga bisa direkomendasikan menjadi jalur lintas angkutan barang untuk menuju kawasan industri dan tercantum di dalam RTRW Kota Pontianak,  tentu dengan penelitian kondisi lapangan,dan survei untuk mendapatkan kapasitas dan tingkat pelayanan jalan.   Kata Kunci : Truk Angkutan Barang, Jalur Lintas, Pergudangan, Pusat  distribusi
EVALUASI PENANAMAN POHON PADA SISTEM JARINGAN JALAN Guntur Saptudiyanto; Syafaruddin AS; Eti Sulandari
JeLAST : Jurnal Teknik Kelautan , PWK , Sipil, dan Tambang Vol 3, No 3 (2016): JURNAL MAHASISWA TEKNIK SIPIL EDISI DESEMBER 2016
Publisher : JeLAST : Jurnal Teknik Kelautan , PWK , Sipil, dan Tambang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (936.21 KB) | DOI: 10.26418/jelast.v3i3.18376

Abstract

Median jalan direncanakan dengan tujuan untuk meningkatkan keselamatan, kelancaran, dan kenyamanan bagi pemakai jalan maupun lingkungan. Pemanfaatan jaringan jalan sebagai jalur hijau di Kota Pontianak memerlukan suatu perencanaan yang jelas terkait dengan penentuan lokasi penanaman, penentuan jenis tanaman, fungsi tanaman jalan, dan ketentuan teknis jalan. Untuk itu perlu adanya peninjauan dan evaluasi terhadap sistem lalu lintas pada ruas jalan yang digunakan, yaitu pada jalan Daya Nasional, Abdurrahman Saleh, dan M Sohor. Metode deskriptif digunakan untuk menjabarkan keadaan objek penelitian pada saat sekarang berdasarkan faktor–faktor yang tampak atau sebagai mana adanya. Metode wawancara / pengisian kuisioner untuk mengetahui tingkat kenyamanan pengendara terhadap tanaman yang berada di median jalan. Hasil analisis menunjukan bahwa kondisi karakteristik tanaman yang terdiri dari jenis tanaman, tinggi tanaman, dan jarak penanaman merupakan faktor yang berpengaruh pada kenyamanan pengguna jalan atau pengendara. Dari hasil perhitungan data kuisioner dapat disimpulkan bahwa menurut persepsi pengguna jalan khususnya pengendara bermotor, setuju apabila tanaman di median jalan mengganggu kenyamanan disebabkan berkurangnya jarak pandang, Pada jalan Jalan Daya Nasional 82,50%, Jalan Abdurrahman Saleh 77,50 %, dan Jalan M.Sohor 72,50%. Faktor penyebab berkurangnya jarak pandang menurut pengendara atau pengguna jalan adalah ketinggian tanaman yang berada di median jalan dan jarak tanamnya terlalu dekat dengan bukaan median. Olehnya itu perlu dilakukan penataan kembali jaringan jalan yang dimanfaatkan sebagai jalur hijau khususnya pada median jalan. Jenis tanaman yang disarankan ditanam pada median jalan ialah : Pucuk Merah (tinggi 2 meter), pangkas hijau, sambang darah, hanjuang, dan puring (dengan tinggi 1 meter), kembang merak dan asoka (tinggi 1,5 meter). Tapak Dara, Sidaguri, Kaca Piring. Kata Kunci : Karakteristik Tanaman,  Pemilihan Jenis Tanaman, Penataan Tanaman.  
Analisis Pengaruh Sifat Volumetrik pada Campuran AC-WC Sulandari, Eti; Lestyowati, Yoke; Felderika, Felderika; Sutarno, Sutarno
CRANE: Civil Engineering Research Journal Vol 5 No 2 (2024): CRANE
Publisher : Program Studi Teknik Sipil, Fakultas Teknik dan Ilmu Komputer, Universitas Komputer Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.34010/crane.v5i2.14070

Abstract

Jalan sebagai prasarana infrastruktur yang mempunyai peranan dalam meningkatkan aksesibilitas yang menghubungkan antara kota. Kerusakan dini akibat beban lalu lintas yang berlebihan, pengaruh lingkungan (tenperatur), kualitas material dan desain campuran aspal merupakan kendala untuk perkerasan jalan khususnya perkerasan lentur. Sifat volumetrik (VIM, VMA dan VFA) sebagai salah satu variabel yang mempengaruhi kekuatan campuran aspal. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh kadar aspal terhadap sifat volumetrik. Marshall test sebagai metode yang digunakan pada penelitian ini. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kadar aspal pada HMA AC-WC mempengaruhi sifat volumetrik. Seiring bertambahnya kadar aspal nilai VIM menurun karena terjadi ikatan yang kuat antar butiran agregat, Nilai VIM yang terpenuhi menurut spesifikasi BM 2018 revisi 2 adalah kadar aspal 6,28% dan 6,5%. Sebaliknya nilai VFA meningkat, dimana nilai VFA yang terpenuhi pada kadar aspal 5,7% , 6% dan 6,5%, dimana nilai VFA yang tinggi terjadi bleeding dan sebaliknya VFA kecil menjadi kurang kedap pada campuran aspal. Sedangkan nilai VMA pada penelitian ini, bertambahnya kadar aspal nilai VMA menurun, nilai VMA yang terpenuhi adalah 4,5% - 6,5%. VMA besar berpengaruh pada stabilitas dan sebaliknya jika kecil berpengaruh pada durabilitas. Kesimpulan dari penelitian ini adalah bahwa kadar aspal mempengaruhi sifat volumterik dan stabilisasi campuran aspal.
Evaluasi Kerusakan Lapisan Permukaan Perkerasan Lentur Pada Ruas Jalan Parit Bugis Kabupaten Kubu Raya dengan Metode Indeks Kondisi Perkerasan Barokah, Juniwati; Eti Sulandari; Siti Mayuni
Jurnal Serambi Engineering Vol. 10 No. 2 (2025): April 2025
Publisher : Faculty of Engineering, Universitas Serambi Mekkah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

This study was conducted on Parit Bugis Street, Sungai Raya, Kubu Raya Regency, West Kalimantan. This road has a role in the development of the Kubu Raya area, as evidenced by the existence of an industrial area around it. The increase in traffic that occurs on the road has resulted in various obstacles to damage to the road pavement surface which has an impact on the performance of the pavement structure. The damage that occurs on Jalan Parit Bugis is due to the slow handling of road surface damage. This study uses pavement condition analysis with the IKP PD-01-2016-B Guideline Method. Common damages include aggregate wear, holes, edge cracks, joint reflection cracks, slumps, longitudinal cracks and grain release caused by vehicle loads. The average pavement condition index is 29.31, categorized as very poor. The percentage of pavement conditions varies from good 16%, poor 17%, severe 30%, very severe 12% and destroyed 25%. The types of recommended handling include routine maintenance, periodic maintenance and reconstruction. The results of the study concluded that the pavement condition of Jalan Parit Bugis, Sungai Raya, Kubu Raya Regency, was very poor with various types of damage that affected its performance.
EVALUASI KARAKTERISTIK AGREGAT TERHADAP KERUSAKAN RUTTING PADA CAMPURAN SPLIT MASTIC ASPHALT HALUS Sulandari, Eti; Widodo, Slamet; Mayuni, Siti; Falderika, Falderika; Sutarno, Sutarno
Jurnal HPJI (Himpunan Pengembangan Jalan Indonesia) Vol. 11 No. 2 (2025)
Publisher : Himpunan Pengembangan Jalan Indonesia (HPJI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26593/jhpji.v11i2.9518.139-148

Abstract

Abstract Rutting is a type of damage that occurs in the form of grooves on the road pavement surface caused by traffic loads, material quality, and asphalt mix design. This study aims to determine the potential for rutting in a Split Mastic Asphalt-Fine mix using two types of aggregate, namely aggregate-1 and aggregate-2. Permanent deformation test was conducted using a Hamburg Wheel Tracking Device under dry conditions at 60°C and 10,000 passes. This study shows that aggregate characteristics influence the potential for rutting. Test results indicate that the SMA-Fine asphalt mix using aggregate-1 has better permanent deformation resistance than the SMA-Fine asphalt mix using aggregate-2. Keywords: rutting damage; asphalt mix; permanent deformation; aggregate characteristics Abstrak Kerusakan Rutting merupakan suatu kerusakan yang berbentuk alur pada permukaan perkerasan jalan yang disebabkan oleh beban lalu lintas, kualitas material, dan rancangan campuran beraspal. Studi ini bertujuan untuk menentukan potensi terjadinya rutting pada campuran Split Mastic Asphalt-Halus, yang menggunakan 2 jenis agregat, yaitu agregat-1 dan agregat-2. Pengujian deformasi permanen dilakukan dengan alat Hamburg Wheel Tracking Device, dengan kondisi kering pada temperatur 60°C dan 10.000 lintasan. Studi ini menunjukkan bahwa karakteristik agregat memengaruhi potensi terjadinya kerusakan rutting. Hasil pengujian menunjukkan campuran beraspal SMA-Halus yang menggunakan agregat-1 memiliki ketahanan deformasi permanen yang lebih baik dibandingkan dengan campuran beraspal SMA-Halus yang menggunakan agregat-2. Kata-kata kunci: kerusakan rutting; campuran beraspal; deformasi permanen; karakteristik agregat
METODE PELAKSANAAN PERENCANAAN DESAIN TEBAL PERKERASAN LENTUR DENGAN MENGGUNAKAN METODE BINA MARGA 2024 Parianto, Parianto; Sulandari, Eti; Mukti, Elsa Tri
JeLAST : Jurnal Teknik Kelautan , PWK , Sipil, dan Tambang Vol 12, No 3 (2025): JeLAST Edisi Agustus 2025
Publisher : JeLAST : Jurnal Teknik Kelautan , PWK , Sipil, dan Tambang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26418/jelast.v12i3.98849

Abstract

Perencanaan tebal perkerasan lentur merupakan aspek penting dalam pembangunan infrastruktur jalan untuk menjamin keamanan, kenyamanan, dan keberlanjutan layanan transportasi. Penelitian ini membahas penerapan Manual Desain Perkerasan Jalan (MDPJ) 2024 sebagai pedoman terbaru Bina Marga dalam merancang tebal perkerasan lentur. Metode penelitian dilakukan melalui tahapan pengumpulan data primer berupa data Lalu Lintas Harian Rata-rata (LHR) dan nilai CBR tanah dasar dari uji lapangan memanfaatkan Dynamic Cone Penetrometer (DCP), serta data sekunder seperti data geometrik jalan dan curah hujan dari instansi terkait. Data lalu lintas diolah untuk memperoleh nilai beban sumbu standar kumulatif (CESAL), sedangkan data CBR digunakan untuk menentukan kualitas tanah dasar. Berdasarkan MDPJ 2024, penentuan tebal perkerasan dilakukan melalui analisis umur rencana, distribusi lalu lintas, pertumbuhan lalu lintas kumulatif, serta evaluasi daya dukung tanah. Hasil penelitian menunjukkan bahwa MDPJ 2024 mampu memberikan prosedur perhitungan yang lebih sistematis, efisien, dan akunTabel dalam penentuan tebal perkerasan lentur, serta dapat dijadikan acuan praktis bagi perencana jalan di Indonesia.
PERILAKU VOLUMETRIK CAMPURAN ASPAL HRS-WC AKIBAT VARIASI WAKTU PERENDAMAN Fadillah, Syarif Ikhwan nur; Sulandari, Eti; mayuni, siti
JeLAST : Jurnal Teknik Kelautan , PWK , Sipil, dan Tambang Vol 12, No 3 (2025): JeLAST Edisi Agustus 2025
Publisher : JeLAST : Jurnal Teknik Kelautan , PWK , Sipil, dan Tambang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26418/jelast.v12i3.97072

Abstract

Sifat volumetrik campuran aspal, seperti kadar udara kosong (VIM/void in mix), volume rongga agregat mineral (VMA/void in mineral aggregate), dan kadar aspal efektif (VFB/void filled with bitumen), merupakan parameter penting dalam mengevaluasi kualitas serta ketahanan lapisan perkerasan jalan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis perubahan sifat volumetrik campuran HRS-WC (Hot Rolled Sheet "“ Wearing Course) akibat perendaman dalam air selama waktu tertentu. Metode yang digunakan adalah metode eksperimen, yang terdiri atas studi literatur dan pengujian laboratorium. Sampel diuji dengan waktu perendaman selama 15, 30, 60, dan 1.440 menit. Pengujian dilakukan di Laboratorium Jalan Raya, Fakultas Teknik, Universitas Tanjungpura. Hasil penelitian menunjukkan bahwa nilai VIM mengalami fluktuasi, VMA tetap stabil dalam batas spesifikasi, dan VFB cenderung meningkat. Secara keseluruhan, waktu perendaman memengaruhi sifat volumetrik campuran aspal yang berdampak pada ketahanan terhadap air serta potensi kerusakan jangka panjang. Temuan ini penting untuk dijadikan pertimbangan dalam perencanaan perkerasan jalan, khususnya di wilayah dengan curah hujan tinggi. Kata kunci : HRS-WC, perendaman, VIM, VMA, VFB