Claim Missing Document
Check
Articles

Found 26 Documents
Search

EVALUASI KETAHANAN TANAMAN JERUK (Citrus sp.) HASIL FUSI PROTOPLAS JERUK SATSUMA MANDARIN (Citrus unshiu) DAN JERUK SIAM MADU (Citrus nobilis) TERHADAP INFEKSI PENYAKIT KULIT DIPLODIA (Botryodiplodia theobromae Pat.) Dharmawan Putra; Liliek Sulistyowati; Abdul Cholil; C Martasari
Jurnal HPT (Hama Penyakit Tumbuhan) Vol. 1 No. 1 (2013)
Publisher : Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRACTProtoplast fusion mandarin satsuma orange and honey thai orange to increase thequality of the honey thai orange into a seedless. Character of orange as product ofprotoplast fusion has not been known include resistance against pest and disease.One important disease of citrus is skin disease of diplodia that cause loosing yield.Protoplast fusion has highly genetic variability that cause many probabilities ofresistance expression can be happened on infection of skin disease of diplodia onorange as product of protoplast fusion. Research was conducted at glass house ofBALITJESTRO and Phytopathology Laboratory, Department of Plant Protection,Faculty of Agriculture, University of Brawijaya. The purpose of this research wasto evaluation of resistance of orange as product of protoplast fusion and itsparental on infection of skin disease of diplodia by incubation period and infectionsymptom area. Result of this research were known that there were 26 oranges asproduct of protoplast fusion had different resistance level compared by its parentalin incubation period; there were 16 oranges as product of protoplast fusion haddifferent resistance level compared by its parental in infection symptom area andthere were 11 oranges as product of protoplast fusion had not different resistancelevel compared by its parental in infection symptom area; Classification of theresistance level of oranges as product of protoplast fusion were obtained 8 plantswere classified resistant, 17 plants were classified moderate, 5 plants wereclassified susceptible.Keywords: Plant endurance, Protoplast fusion, Citrus unshiu, Citrus nobilis,Botryodiplodia theobromae Pat.
UJI KETAHANAN KALUS KULTIVAR TEBU (Saccharum officinarum L)TERHADAP PENYAKIT POKAHBUNG MENGGUNAKAN FILTRAT KULTUR FUSARIUM MONILIFORME SECARA IN VITRO Dhewyangga Bismi Panglipur; Liliek Sulistyowati; Anton Muhibuddin; Nurul Hidayah
Jurnal HPT (Hama Penyakit Tumbuhan) Vol. 1 No. 4 (2013)
Publisher : Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAKPenelitian ini bertujuan untuk menguji tingkat ketahanan kalus kultivar tebu terhadap penyakit pokahbung secara in vitro. Penelitian dilakukan di Laboratorium Fitopatologi dan Pemuliaan Balai Penelitian Tanaman Pemanis dan Serat Malang, pada bulan Pebruari - Juli  2013. Penelitian menggunakan rancangan acak lengkap (RAL) faktorial dengan 2 faktor yaitu tiga macam kultivar tebu yaitu PS.06.195, PS.06.121, PS.04.129 dengan ulangan tiga kali dan konsentrasi filtrat Fusarium monoliforme 50%. Analisa data menggunakan analisa statistika uji T berpasangan pada taraf 5%. Inokulasi terhadap  tiga kalus kultivar tebu terhadap filtrat F. moniliforme memberikan pengaruh yang  signifikan dalam berbagai indikator parameter pengamatan. Kalus PS.06.195 pada konsentrasi filtrat F. moniliforme 50% merupakan  kalus tahan dari seluruh parameter pengamatan. Hal ini dikarenakan pada kalus tebu kultivar PS.06.195 menunjukkan warna kalus kuning cokelat, biomassa dan berat kering kalus yang tidak berbeda nyata apabila dibandingkan dengan perlakuan kontrol, serta panjang kalus yang masih dapat berdiferensiasi.Kata  Kunci:  kalus  tebu,  Fusarium moniliforme,  kultur filtrat Fusarium moniliforme
PENGGUNAAN MULSA PLASTIK HITAM PERAK DAN Trichoderma sp. UNTUK MENEKAN PENYAKIT LAYU FUSARIUM PADA TANAMAN MELON Nilasari Martha Dewi; Abdul Cholil; Liliek Sulistyowati
Jurnal HPT (Hama Penyakit Tumbuhan) Vol. 2 No. 1 (2014)
Publisher : Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian bertujuan untuk mengetahui pengaruh penggunaan mulsa plastik hitam perak dan Trichoderma sp. untuk menekan penyakit layu fusarium pada tanaman melon. Penelitian dilaksanakan di Laboratorium Penyakit Jurusan Hama Penyakit Tumbuhan, Fakultas Pertanian, Universitas Brawijaya dan Desa Jetis, Kecamatan Dau, Kabupaten Malang. Penelitian dilaksanakan mulai bulan Februari - Nopember 2013. Rancangan percobaan yang digunakan adalah acak kelompok (RAK) terdiri dari 10  kombinasi perlakuan dan diulang 3 kali. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penggunaan mulsa dan agens hayati T. viride dan T. harzianum baik tunggal maupun kombinasi dapat menurunkan intensitas penyakit layu fusarium pada tanaman melon dan  berpotensi  terhadap produksi tanaman melon pada bobot buah. Penggunaan mulsa dan agens hayati T. viride secara tunggal memiliki intensitas penyakit terendah dan memiliki bobot buah paling tinggi dibandingkan dengan perlakuan lainKata kunci : Layu Fusarium, Mulsa plastik hitam perak, Trichoderma sp., Melon 
EKSPLORASI JAMUR ENDOFIT PADA TANAMAN KENTANG (Solanum tuberosum L) SERTA POTENSI ANTAGONISMENYA TERHADAP Phytophthora infestans (Mont.) de Barry PENYEBAB PENYAKIT HAWAR DAUN SECARA IN VITRO Zevita Yunade Ganda Tirtana; Liliek Sulistyowati; Abdul Cholil
Jurnal HPT (Hama Penyakit Tumbuhan) Vol. 2 No. 1 (2014)
Publisher : Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui jamur endofit yang terdapat pada jaringan daun, ranting dan akar tanaman kentang serta potensi antagonismenya terhadap P. infestans penyebab hawar daun tanaman kentang. Penelitian dilaksanakan di Laboratorium Mikologi, Jurusan Hama dan Penyakit Tumbuhan, Fakultas Pertanian, Universitas Brawijaya, Malang pada bulan Maret – Oktober 2013. Metode yang digunakan dalam penelitian ini yakni metode eksplorasi dan eksperimen. Eksplorasi jamur endofit dari daun, batang dan akar tanaman kentang yang di ambil dari lahan tanaman kentang di Kec. Sumber Brantas, Kota Batu. Eksperimen meliputi uji antagonis jamur endofit yang diperoleh terhadap P. infestans pada media PDA. Jamur endofit yang diperoleh sebanyak 28 isolat jamur dan terdiri 12 genus yang teridentifikasi antara lain Aspergillus sp., Fusarium sp., Chepalosporium sp., Hyalodendron sp., Penicillium sp., Curvularia sp., Botrytis sp., Colletotrichum sp., Paecilomyces sp., Cunninghamella sp., Monascus sp., Acremonium sp., dan 4 jamur yang tidak teridentifikasi antara lain jamur kode S2D1 DM, S4D1 DM, S3A1 6cm dan S4A1. Berdasarkan Uji T semua jamur endofit yang diperoleh berpotensi sebagai antagonis  dan persentase daya antagonis tertinggi pada jamur Hyalodendron sp. sebesar 66,56% diikuti jamur Chepalosporium sp. sebesar 61,52%.Kata kunci: Jamur endofit, Phytophthora infestans, uji antagonis, kentang.
POTENSI KHAMIR SEBAGAI AGENS PENGENDALI HAYATI PATOGEN Colletotrichum sp. PADA BUAH CABAI, BUNCIS, DAN STROBERI Anggraeni Eka Puspitasari; Abdul Latief Abadi; Liliek Sulistyowati
Jurnal HPT (Hama Penyakit Tumbuhan) Vol. 2 No. 3 (2014)
Publisher : Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui potensi khamir sebagai agens pengendali hayati patogen Colletotrichum sp. pada buah cabai, buncis, dan stroberi. Penelitian dilaksanakan di Laboratorium Mikologi, Jurusan Hama dan Penyakit Tumbuhan, Fakultas Pertanian, Universitas Brawijaya, Malang, Indonesia pada bulan Januari sampai Mei 2014. Khamir diisolasi dari permukaan buah cabai, buncis, dan stroberi yang sehat, sedangkan Colletotrichum sp. diisolasi dari buah cabai, buncis, dan stroberi yang menunjukkan gejala penyakit antraknosa. Khamir yang diperoleh dari buah cabai yaitu Metschnikowia sp., Candida sp., dan Rhodotorula sp., dari buah buncis yaitu Candida sp. dan Rhodotorula sp., dan dari buah stroberi yaitu Pichia sp., Cryptococcus sp., dan Zygosaccharomyces sp. Seluruh isolat khamir yang ditemukan diujikan untuk mengetahui potensinya sebagai antagonis terhadap Colletotrichum sp.  secara in-vitro pada media PDA dan in-vivo pada buah cabai, buncis, dan stroberi yang sehat. Khamir yang paling berpotensi dalam menekan Colletotrichum sp. pada buah cabai dan stroberi adalah Rhodotorula sp. dari buah buncis, sedangkan khamir yang paling berpotensi dalam menekan Colletotrichum sp. pada buah buncis adalah Metschnikowia sp   Kata kunci: Khamir, antraknosa, Colletotrichum sp., hortikultura, uji antagonis
Potensi Antagonis Jamur Endofit dan Khamir Pada Tanaman Pisang (Musa accumunata ) Terhadap Jamur Mycosphaerella musicola Penyebab Penyakit Bercak Kuning Sigatoka Rizatul Maela Tri Intan; Abdul Cholil; Liliek Sulistyowati
Jurnal HPT (Hama Penyakit Tumbuhan) Vol. 2 No. 4 (2014)
Publisher : Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAKPisang merupakan tanaman hortikultura yang mempunyai tingkat produksi yang tinggi dan cenderung meningkat dari tahun ke tahun. Walaupun seperti itu pertumbuhan tanaman pisang juga selalu diganggu oleh serangan organisme pengganggu tanaman, baik di pembibitan maupun di lapangan. Salah satu organisme pengganggu tanaman tersebut adalah jamur patogen bercak kuning sigatoka. Pengendalian secara biologis dilakukan untuk menekan jamur Mycosphaerella musicola penyebab bercak kuning sigatoka, dengan menggunakan agen hayati seperti jamur endofit dan khamir yang memiliki potensi antagonis.Penelitian ini dilaksanakan di Laboratorium Mikologi, Jurusan Hama dan Penyakit Tumbuhan, Fakultas Pertanian, Universitas Brawijaya Malang pada bulan januari sampai bulan juni 2014. Penelitian ini menggunakan metode eksplorasi dan eksperimental, penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Lengkap dan menggunakan uji lanjutan Duncan dengan taraf kesalahan 5 % karena hasil perhitungan yang diperoleh berbeda nyata. Dari hasil isolasi dan identifikasi diperoleh 17 isolat jamur endofit dan 5 isolat khamir yang berpotensi antagonis terhadap jamur Mycosphaerella musicola. Jamur endofit yang paling berpotensi untuk menekan pertumbuhan Mycosphaerella musicola adalah fusarium2. Khamir yang palingberpotensi untuk mengendalikan Mycosphaerella musicola adalah Rhodotorula 2.Kata kunci: Mycosphaerella musicola, jamur endofit, khamir
EKSPLORASI JAMUR ENDOFIT PADA TANAMAN KAKAO (Theobroma cacao L.) SERTA POTENSI ANTAGONISMENYA TERHADAP Phytophthora palmivora Butler. PENYEBAB PENYAKIT BUSUK BUAH SECARA IN VITRO Pandu Indra Pratama; Liliek Sulistyowati; Syamsuddin Djauhari
Jurnal HPT (Hama Penyakit Tumbuhan) Vol. 5 No. 2 (2017)
Publisher : Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Phytophthora palmivora merupakan penyakit penting kakao baik di Indonesia maupun negara produsen lain. Terdapat teknologi yang digunakan dalam pengendalian penyakit, yaitu dengan fungisida dan agen hayati Trichoderma sp. Penggunaan agen hayati merupakan salah satu cara  untuk pengendalian yang ramah lingkungan dan relatif lebih murah dibandingkan fungisida. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui jamur endofit yang terdapat di dalam jaringan tanaman kakao serta potensi antagonismenya terhadap P. palmivora secara in vitro pada media PDA. Penelitian dilaksanakan di Laboratorium Penyakit Tumbuhan, Jurusan Hama dan Penyakit Tumbuhan, Fakultas Pertanian, Universitas Brawijaya. Isolat P. palmivora diisolasi dari tanaman kakao yang terinfeksi dari lapang. Eksplorasi jamur endofit didapatkan dari daun, batang, buah dan akar tanaman kakao yang diambil di Desa Babadan, Kabupaten Kediri. Jamur endofit yang diperoleh sebanyak 26 isolat, 16 isolat telah teridentifikasi terdiri dari 3 isolat dari genus Cephalosporium,  2 isolat dari genus Colletotrichum,1 isolat dari genus Curvularia, 4 isolat dari genus Fusarium, 1 isolat dari genus Gloesporium, 1 isolat dari genus Pestalotia, 4 isolat dari genus Trichoderma, dan 10 isolat tidak teridentifikasi. Isolat Trichoderma sp.1 menunjukkan kemampuan tertinggi mampu menghambat pertumbuhan P. palmivora sebesar 98%, dan diikuti isolat EK1 dengan persentase penghambatan sebesar 73,33%.
PENGARUH APLIKASI FUNGISIDA MAJEMUK (b.a : Benalaksil 8% dan Mankozeb 65%) TERHADAP KEANEKARAGAMAN JAMUR ENDOFIT TANAMAN BAWANG MERAH (Allium ascalonicum L.) DAN TERHADAP JAMUR Fusarium oxysporum IN VITRO Hanis Alifatuz Zakiyah; Liliek Sulistyowati; Abdul Cholil
Jurnal HPT (Hama Penyakit Tumbuhan) Vol. 7 No. 1 (2019)
Publisher : Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penggunaan fungisida dengan berbagai bahan aktif dapat meningkatkan produksi namun aplikasi fungisida dihawatirkan dapat menimbulkan penurunan keanekaragaman jamur endofit yang dapat memberikan ketahanan terhadap patogen bagi inang. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh fungisida majemuk (b.a : benalaksil 8% dan mankozeb 65%) terhadap keanekaragaman jamur endofit pada tanaman bawang merah, dan fungisida dengan THR tertinggi untuk menghambat pertumbuhan jamur F. oxysporum in vitro. Variabel yang diamati pada saat eksplorasi adalah nilai keanekaragaman jamur endofit di setiap perlakuan fungisida. Sedangkan variabel pada penelitian in vitro antara lain pertumbuhan diameter koloni F. oxysporum dan tingkat hambatan relatif fungisida. hasil penelitian menunjukkan  nilai keanekaragaman jamur endofit sebelum perlakuan fungisida majemuk sebesar 12,35, nilai keanekaragaman pada pertengahan perlakuan fungisida sebesar 15,13 dan pada 1 minggu setelah aplikasi fungisida terakhir sebesar 12,11. Dari hasil analisis keanekaragaman menunjukkan bahwa aplikasi fungisida majemuk mampu menurunkan keanekaragaman jamur endofit bawang merah. Hasil penelitian in vitro menunjukkan semua perlakuan fungisida dapat menekan pertumbuhan koloni F. oxysporum pada media PDA. Tingkat hambatan relatif (THR) media PDA paling tinggi adalah pada mankozeb 65% sebesar 80,72% diikuti oleh fungisida majemuk sebesar 76,93%, dan benalaksil 8%  sebesar 10,59%.
EFIKASI FUNGISIDA MAJEMUK (BAHAN AKTIF: BENALAXYL 8% DAN MANCOZEB 65%) TERHADAP PENYAKIT DOWNY MILDEW (Pseudoperonospora cubensis) PADA TANAMAN SEMANGKA SECARA IN VITRO Intan Sugiarti Permatasari; Liliek Sulistyowati; Muhammad Akhid Syibli
Jurnal HPT (Hama Penyakit Tumbuhan) Vol. 9 No. 4 (2021)
Publisher : Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21776/ub.jurnalhpt.2021.009.4.5

Abstract

Penyakit Downy mildew yang disebabkan jamur Pseudoperonospora cubensis, masih menjadi kendala utama produksi semangka di Indonesia. Pengendalian menggunakan fungisida sintetik masih menjadi pilihan utama para petani hingga saat ini. Penelitian ini dilakukan untuk menguji efektivitas fungisida majemuk bahan aktif Mankozeb 65% dan Benalaksil 8% secara in vitro dalam menekan daya hidup jamur P. cubensis pada daun semangka. Penelitian dilaksanakan di Laboratorium Penyakit Tumbuhan, Jurusan Hama dan Penyakit Tumbuhan, Fakultas Pertanian, Universitas Brawijaya. Penelitian menggunakan rancangan acak lengkap (RAL) dengan 5 perlakuan konsentrasi dan 3 fungisida yang berbeda yaitu mankozeb, benalaksil, dan campuran mankozeb+benalaksil dengan ulangan 4 kali. Variabel yang diamati adalah persentase sporangium jamur P. cubensis utuh dan rusak setelah aplikasi, Tingkat Hambatan Relatif (THR), dan sifat aktivitas fungisida majemuk yang ditentukan berdasarkan nilai Nisbah Ko-toksisitas (NK).  Hasil pengamatan diketahui bahwa sporangium P. cubensis berbentuk oval dan berwarna abu-abu keunguan. Sporangium nampak menggerombol disekitar jaringan stomata. Pada penelitian ini, semua perlakuan fungisida dapat merusak sporangium P. cubensis. Presentase sporangium utuh paling rendah ditemukan pada perlakuan fungisida majemuk (mankozeb dan benalaksil) dengan dosis 0,6 g/l yaitu sebesar 15,19%. Nilai THR paling tinggi sebesar 58% ditemukan pada aplikasi fungisida majemuk (mankozeb dan benalaksil). Berdasarkan hasil perhitungan nilai NK, diketahui bahwa fungisida majemuk (mankozeb dan benalaksil) mempunyai sifat sinergistik (NK ≥ 1) yang mampu merusak sporangium P. cubensis yang utuh.
Analisis Sekuensing Nucleotida pada Mutasi Gen MTHFR C677T pada Kondisi Premature Cardio Infarction Muizzuddin Muizzuddin; Tinny Endang H.; I Ketut Muliartha; Liliek Sulistyowati; Djanggan Sargowo
The Journal of Experimental Life Science Vol. 2 No. 2 (2012)
Publisher : Postgraduate School, Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1138.472 KB) | DOI: 10.21776/ub.jels.2012.002.02.06

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui miokard infark prematur yang terjadi karena homocystein disebabkan oleh adanya mutasi gen C677T MTHFR. Sampel darah diambil dari pasien dengan keadaan intermediate hyperhomocystein) sebanyak 14 orang; dua diantaranya hyperhomocystin obligat. Pengukuran DNA Total menggunakan spektrofotometer 260 nm dan 280 nm dan visualisasi menggunakan elektroforesis gel agarosa. DNA mutan gen MTHFR diamplifikasi dengan PCR dan gen MTHFR (C677T) diisolasi menggunakan primer yang dirancang menggunakan Fast PCR. Gen mutan MTHFR (C677T) diamplifikasi dan visualisasi melalui Automated Sequencer Analyzer dengan pembanding gen CBS exon 3, 7, dan 8 normal, serta data sekuens Gene Bank OMIM. Hasil penelitian menunjukkan bahwa determinasi konstruksi primer untuk lokus mutasi C677T semakin mudah ditetapkan. Sehingga membuka peluang untuk menggali informasi baru mengenai protein patologis pada pasien miokard infark prematur. Molekul polipeptida yang ditemukan memiliki sekuens GRLQLRSGPGEAHPK *VW*LL*HLCGRLPQRPPRSREL*G*PEALEGEGVCGSR FHHHAAFL*G dengan berat molekul 1.6 kda. Pencandraan molekul tersebut dengan NOC  memiliki motif Glycosaminoglycan site dan N-Myristolation site, diduga dapat mempercepat proses atherosclerosis dan atherothrombosis. Kata kunci: Gen MTHFR C677t, homocystein, Premature Cardio Infarction