Claim Missing Document
Check
Articles

PERBEDAAN KONSENTRASI PEWARNA ALAMI KULIT BUAH NAGA (Hylocereus polyrhizus) TERHADAP WARNA TERASI UDANG REBON (Acetes sp.) Amelia Ayu Permatasari; Sumardianto Sumardianto; Laras Rianingsih
Jurnal Teknologi Hasil Pertanian Vol 11, No 1 (2018): Februari
Publisher : Universitas Sebelas Maret (UNS)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (549.966 KB) | DOI: 10.20961/jthp.v11i1.29094

Abstract

Shrimp paste is one of fermented product that use either shrimp (Acetes sp.), or fish, or both of them as raw materials. The use of synthetic dyes on shrimp paste is still often done. This is dangerous because it can give bad effect to the health of consumers. Therefore, it is necessary to use natural dyes instead of synthetic dyes. One of natural dyes that can be used is peel of dragon fruit (Hylocereus polyrhizus). Peel of dragon fruit has anthocyanin pigment that can give red color. The aimed of this research was knowing the effect of adding peel of dragon fruit extract (30%; 35%; 40%) to the color of shrimp paste. The treatments in this study were the addition of different concentrations of peel of dragon fruit extract at third grinding shrimp paste in triplicate. The experimental design used was Completely Randomized Design. The parameters observed include moisture content, salt content, protein content, pH, color, and sensory. Parametric data analyzed by Analysis of Variance (ANOVA) and further test by Honestly Significant Difference (HSD) test if these any differences between samples. Non-parametric data analyzed by Kruskal-Wallis and further test by Mann Whitney. The research’s result showed that processing shrimp paste with different peel of dragon fruit extract concentrations gave significant effect (P<5%) on moisture content, salt content, pH, and color. Moisture content values was ranged from 35,0741,01% and salt content values was ranged from 6,35-7,05%. pH values was ranged from 6,40-7,20. Shrimp paste with peel of dragon fruit extract 40% had more red color and improve the appearance of shrimp paste.
PENAMBAHAN NANOKALSIUM TULANG IKAN NILA (Oreochromis niloticus) TERHADAP KARAKTERISTIK FISIKOKIMIA KERUPUK UDANG Muhammad Ali Fatoni; Sumardianto Sumardianto; Lukita Purnamayati
Jurnal Teknologi Hasil Pertanian Vol 14, No 1 (2021): Februari
Publisher : Universitas Sebelas Maret (UNS)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (683.202 KB) | DOI: 10.20961/jthp.v14i1.42545

Abstract

Shrimp crackers are a type of dry food made from tapioca flour, shrimp and other additives. Shrimp crackers with the addition of fish bone flour nanocalcium is an alternative food that can be developed as a source of calcium. The purpose of this study was to determine the effect of adding nanocalcium tilapia bone flour to physico-chemical characteristics and the best concentration of tilapia nanocalcium bone in shrimp crackers to be accepted by panelists. This study used a Completely Randomized Design (CRD) with one factor, namely the concentration of addition of tilapia nanocalcium bone, namely 0%, 5%, 10%, and 15% which was done 3 times. Data were analyzed using ANOVA and continued by Tukey test if there were significant differences. The results showed that the addition of tilapia nanocalcium bone significantly affected the increase in the ash and calcium levels of shrimp crackers, while the water content, protein and developmental power decreased with the addition of increasing tilapia bone nanocalsium. The addition of 10% tilapia bone nanocalcium is the best concentration based on panelist acceptance with the category of very fond of the parameters of smell, taste, and texture, while for the panelist appearance parameter accepts in the like category. Shrimp crackers with the addition of 10% nanocalcium contain 10.76% water content; ash content 13.81%; protein content 2.40%; 2.12% calcium content and 42.62% swelling power.
PENGARUH PENAMBAHAN GULA TERHADAP LEMAK PADA TERASI UDANG REBON (Acetes sp.) DENGAN LAMA FERMENTASI YANG BERBEDA Putri Islami; Laras Rianingsih; Sumardianto Sumardianto
Jurnal Ilmu dan Teknologi Perikanan Vol 4, No 1 (2022)
Publisher : Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jitpi.2022.12873

Abstract

Shrimp paste atau terasi merupakan salah satu produk olahan tradisional yang terbuat dari udang yang difermentasi. Salah satu masalah pada penurunan mutu produk terasi adalah terjadinya oksidasi lemak. Penambahan gula pada fermentasi diharapkan dapat meningkatkan senyawa antioksidan yang dihasilkan dari reaksi Maillard. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh penambahan gula terhadap perubahan lemak selama penyimpanan pada terasi udang rebon. Metode penelitian yang digunakan yaitu experimental laboratories dengan pola percobaan faktorial 2x3 dan dirancang menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan perlakuan perbedaan penambahan konsentrasi gula (0% dan 10%) dan lama fermentasi (0 hari, 30 hari, dan 90 hari). Data parametrik dianalisis menggunakan ANOVA dan uji lanjut Duncan. Berdasarkan hasil yang diperoleh konsentrasi gula 10% memberikan pengaruh nyata terhadap kadar air dan angka iod, tetapi tidak memberikan pengaruh nyata terhadap kadar lemak dan fenol. Lama fermentasi memberikan pengaruh nyata terhadap kadar air dan fenol, tetapi tidak memberikan pengaruh nyata terhadap kadar lemak. Hasil menunjukan bahwa uji kadar air terbaik pada perlakuan gula 10% dengan lama fermentasi 0 hari sebesar 44,06%; uji kadar lemak terbaik pada perlakuan gula 10% dengan lama fermentasi 30 hari sebesar 7,10%; uji kadar fenol terbaik pada gula 0% dengan lama fermentasi 90 hari sebesar 1,36%; dan angka iod terbaik pada gula 0% dengan lama penyimpanan 30 hari sebesar 10,14 mg/g.
PENGARUH PERBEDAAN METODE EKSTRAKSI TERHADAP KARAKTERISTIK TEPUNG TULANG SOTONG (Sepia sp.) Naili Rohmah; Retno Ayu Kurniasih; Sumardianto Sumardianto
Jurnal Ilmu dan Teknologi Perikanan Vol 4, No 1 (2022)
Publisher : Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jitpi.2022.13097

Abstract

Industri pengolahan sotong meningkat seiring dengan permintaan produk tersebut sebagai komoditas unggulan dalam ekspor. Pengolahan sotong seperti pengolahan fillet sotong dan produk olahan sotong lainnya menyebabkan adanya hasil samping, salah satunya tulang sotong. Kandungan mineral dalam tulang sotong utamanya kalsium dan fosfor dapat dimanfaatkan sebagai tepung tulang sotong. Tujuan penelitian ini yaitu mengkaji pengaruh perbedaan metode ekstraksi terhadap karakteristik tepung tulang sotong serta menentukan metode terbaiknya. Pembuatan tepung tulang sotong dilakukan menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan perlakuan perbedaan metode ekstraksi yaitu ekstraksi menggunakan presto dengan aquades selama 3 jam, ekstraksi alkali dengan NaOH 1,5 N selama 2 jam serta gabungan metode presto dan alkali. Masing-masing metode dilakukan 3 kali ulangan. Parameter uji tepung tulang meliputi rendemen, derajat putih, kadar air, kadar protein, kadar abu, kadar kalsium dan kadar fosfor. Data parametrik dianalisis dengan analisis sidik ragam (ANOVA) dan dilanjutkan dengan analisis uji lanjut yaitu Beda Nyata Jujur (BNJ). Hasil penelitian menunjukkan bahwa perbedaan metode ekstraksi berpengaruh nyata (p<5%) terhadap karakteristik tepung tulang sotong. Metode ekstraksi alkali efektif dalam menghasilkan kadar abu 94,14%, kadar kalsium 35,14%, kadar fosfor 0,08%, dengan rendemen 58,20%, derajat putih 85,41%, kadar air 3,02%, serta kadar protein 2,35%. 
KARAKTERISTIK KERUPUK CUMI-CUMI (Loligo sp.) DENGAN BEDA SUHU OVEN PENGERINGAN DAN KETEBALAN KERUPUK Rika Amelia; Sumardianto Sumardianto; Slamet Suharto
Pena Akuatika Jurnal Ilmiah Perikanan Dan Kelautan Vol 19, No 1 (2020): PENA AKUATIKA JURNAL ILMIAH PERIKANAN DAN KELAUTAN
Publisher : Fakultas Perikanan Universitas Pekalongan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31941/penaakuatika.v19i1.1067

Abstract

AbstrakCumi-cumi (Loligo sp.) merupakan organisme yang luas sebarannya dan mengandung gizi yang tinggi, sehingga dapat digunakan dalam pembuatan kerupuk.Kerupuk dengan penambahan cumi–cumi diharapkan dapat memenuhi kualitas kerupuk. Proses pengeringan kerupuk perlu adanya alternatif pengeringan lain yang dapat memberikan kualitas kerupuk lebih baik dan higienis dengan menggunakan metode pengeringan oven dan ketebalan kerupuk akan mempengaruhi karakteristik kerupuk. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh penggunaan suhu oven dan ketebalan kerupuk yang berbeda serta mengetahui metode perlakuan terbaik untuk mendapatkan karakteristik kerupuk cumi. Metode penelitian yang digunakan yaitu experimentallaboratories menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan perlakuan perbedaan suhu oven dan ketebalan kerupuk A (suhu 50 oC :  2 mm), B (suhu 50 oC :  4 mm), C (suhu 60 oC :  2 mm), D (suhu 60 oC :  4 mm) dengan tiga kali ulangan. Parameter uji meliputi kadar air, kadar protein, kemekaran, kerenyahan dan hedonik. Data nonparametrik dianalisis dengan Kruskall-Wallis dan uji lanjut Mann-Whitney. Data parametrik dianalisis  menggunakan ANOVA dan uji lanjut Tukey HSD. Hasil penelitian menunjukkan bahwa uji hedonik terbaik pada perlakuan suhu 60 oC ketebalan 2 mm (7,00 7,30). Kadar air 9,74-10,98%; kadar protein 9,70-10,11%; kemekaran kerupuk 74,21-171,99%; kerenyahan kerupuk 1200,42-4300,92 gf dan rendemen cumi-cumi 59,05%. Kerupuk cumi termasuk kerupuk grade II menurut SNI No. (8272: 2016) yaitu dengan kadar protein 9,70-10,11%.Kata kunci: Cumi-cumi (Loligo sp.), Kerupuk, Ketebalan, Suhu.AbstractSquid (Loligo sp.) is an organism that is widely spread and contains high nutrition, so it can be used in making crackers. The process of drying crackers that can use the oven drying method and the thickness of the crackers will affect the characteristics of the crackers. This study aims to determine the effect of the use of oven temperature and thickness of different crackers and determine the best treatment method to get the characteristics of squid crackers. The method used was experimental laboratories by using Completely Randomized Design (CRD) by treating the difference in oven temperature and cracker thickness for A (temperature 50 oC :2 mm), B (temperature 50 oC :  4 mm), C (temperature 60 oC :  2 mm), D (temperature 60 oC : 4 mm) three replication. Test parameters include moisture content, protein content, linier expansion, crispness and hedonic. Nonparametric data was analyzed by Kruskall-Wallis test and followed by using Mann-Whitney test. Parametric data were analyzed by ANOVA and further analyzed using Tukey HSD test. The results showed that best value of test hedonic (7,00 7,30). Moisture content 9,74-10,98%, protein content 9,70-10,11%, linier expansion 74,21-171,99%, crispness 1200,42-4300,92 gf and yield of  squid 59,05%. Squid crackers including grade II crackers according SNI No. (8272: 2016) with protein content 9,70-10,11%.Key words :Crackers, Squid (Loligo sp.), Temperature, Thickness
PERBEDAAN PENGGUNAAN AIR PINDANG IKAN TERHADAP KANDUNGAN ASAM GLUTAMAT PADA PETIS Retno Viyanti; Sumardianto Sumardianto; Slamet Seharto
Pena Akuatika Jurnal Ilmiah Perikanan Dan Kelautan Vol 18, No 2 (2019): PENA AKUATIKA JURNAL ILMIAH PERIKANAN DAN KELAUTAN
Publisher : Fakultas Perikanan Universitas Pekalongan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (342.754 KB) | DOI: 10.31941/penaakuatika.v18i2.882

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh air pindang ikan yang berbeda terhadap kadar protein dan asam glutamat pada petis. Penelitian ini bersifat experimental laboratories dengan rancangan acak lengkapsatu faktor, yaitu air pindang dari jenis ikan yang berbeda dengan tiga kali pengulangan. Dilakukan analisis sidik ragam dan uji lanjut BNT. Hasil percobaan menunjukkan bahwa air rebusan dalam pengolahan pindang dari ikan layang, selar dan salem yang digunakan sebagai bahan baku pada pembuatan petis memberikan pengaruh yang nyata (P<5%) terhadap kadar protein dan asam glutamat. Namun tidak berbeda nyata pada nilai kadar air. Petis yang paling baik menggunakan bahan baku air pindang ikan layang dengan kadar protein 17,64%±0,14; kadar air 34,98%±2,23 dan asam glutamat 8,59%±0,58. Kata kunci: Air pindang, Petis, Asam Glutamat.
PENGARUH PENAMBAHAN STPP TERHADAP KEMEKARAN KERUPUK IKAN KEMBUNG (Rastrelliger sp.) DENGAN BUBUR RUMPUT LAUT Caulerpa Agung Purnama; Sumardianto Sumardianto; Apri Dwi Anggo
Jurnal Ilmu dan Teknologi Perikanan Vol 4, No 2 (2022)
Publisher : Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jitpi.2022.13465

Abstract

Kerupuk ikan dengan penambahan rumput laut merupakan salah satu inovasi dalam menambah nilai gizi kerupuk. Rumput laut menambah kadar serat pada kerupuk namun menghambat daya mekar kerupuk. STTP (sodium tripolipospat) adalah alkali fosfat yang mampu menambah daya mekar kerupuk. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui formulasi terbaik dalam mendapatkan kemekaran dan tekstur kerupuk ikan serta persentase tertinggi kemekaran kerupuk ikan. Desain percobaan dengan Rancangan Acak Lengkap (RAL). Perbedaan konsentrasi menggunakan STPP 0%; 0,1%; 0,3% dan 0,5% dilakukan 3 kali pengulangan. Data analisis menggunakan ANOVA, dilanjutkan dengan uji BNJ untuk parametrik sedangkan Kruskal-Wallis dan Mann Whitney untuk data non parametrik. Kerupuk dengan penambahan STPP memiliki kemekaran linier tertinggi yaitu 52,39±2,15 cm² atau 316%, kerenyahan tertinggi yaitu 1305,39±72,5 gf, kadar air terendah yaitu 10,78±0,20%, kadar protein tertinggi 5,92±0,07%, kadar serat kasar tertinggi yaitu 6,35±0,34%, kadar lemak tertinggi yaitu 0,62±0,23%, dan tingkat kesukaan kerupuk ikan terbaik yaitu 7,441 <µ< 7,443 (suka). Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa penambahan STPP pada kerupuk ikan kembung dan bubur rumput laut Caulerpa memberikan pengaruh nyata (P<5%) terhadap kemekaran, kerenyahan dan tingkat kesukaan.
Karakteristik Terasi Udang Rebon (Acetes sp.) dengan Penambahan Pewarna Alami Ubi Jalar Ungu (Ipomoea batatas L.) yang Berbeda: Characteristics of Shrimp Taste (Acetes sp.) with Different Concentration of Purple Sweet Potato (Ipomoea batatas L.) as Natural Coloring Sumardianto Sumardianto; Muhammad Qowiyyul Azizi; Lukita Purnamayati
Jurnal Pengolahan Hasil Perikanan Indonesia Vol 25 No 3 (2022): Jurnal Pengolahan Hasil Perikanan Indonesia 25(3)
Publisher : Department of Aquatic Product Technology IPB University in collaboration with Masyarakat Pengolahan Hasil Perikanan Indonesia (MPHPI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17844/jphpi.v25i3.43432

Abstract

Terasi adalah hasil fermentasi udang atau ikan dengan penambahan garam dan bahan tambahan lainnya. Penggunaan pewarna sintetis pada terasi masih sering dilakukan namun berbahaya karena dapat memberikan efek buruk bagi kesehatan. Maka dari itu, diperlukan pewarna alami dalam pembuatan terasi. Salah satu pewarna alami yang digunakan adalah ubi jalar ungu (Ipomoea batatas L.) Ubi jalar mengandung zat warna antosianin yang dapat memberikan warna ungu dan merah. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh pewarna alami ubi jalar ungu terhadap karakteristik terasi udang rebon. Penelitian ini bersifat experimental laboratories dengan model Rancangan Acak Lengkap (RAL). Data parametrik dianalisis dengan uji sidik ragam (ANOVA) dan Beda Nyata Jujur (BNJ) sedangkan data non parametrik dianalisis dengan Kruskal Wallis dan Mann Whitney. Penelitian dilakukan dengan menambahkan ekstrak ubi jalar ungu pada pembuatan terasi dengan konsentrasi 0%, 10%, 20% dan 30%. Hasil yang diperoleh menunjukkan bahwa nilai kadar air terasi udang berkisar antara 23,38-38,71%, kadar garam 11,53-14,85% dan pH terasi udang 7,35-7,80%. Terasi dengan penambahan konsentrasi pewarna ubi jalar ungu 30% menghasilkan karakteristik terasi terbaik dalam penelitian ini karena memiliki nilai warna antosianin tertinggi dan memperbaiki kenampakan terasi.
EKSTRAKSI ASTAXANTHIN DENGAN SUHU YANG BERBEDA DARI KARAPAS UDANG VANAME (Litopenaeus vannamei) MENGGUNAKAN PELARUT MINYAK KELAPA Natasha Rizky Maharani; Retno Ayu Kurniasih; Sumardianto Sumardianto
Jurnal Ilmu dan Teknologi Perikanan Vol 5, No 1 (2023)
Publisher : Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jitpi.2023.15309

Abstract

Udang vaname (Litopenaeus vannamei) memiliki hasil samping berupa karapas. Karapas udang vaname ini mengandung senyawa pigmen astaxanthin yang termasuk kedalam golongan senyawa karotenoid turunan dari xantofil. Astaxanthin merupakan pembentuk warna merah pada karapas udang vaname. Astaxanthin dapat diekstrak menggunakan pelarut minyak kelapa. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh suhu ekstraksi terhadap ekstrak astaxanthin. Suhu yang digunakan adalah suhu ruang (27oC), 50oC, 60oC, 70oC dan 90oC. Metode penelitian yang digunakan adalah experimental laboratorium dengan model Rancangan Acak Lengkap (RAL). Data uji total astaxanthin, warna, dan aktivitas antioksidan dianalisis menggunakan analisis varians (ANOVA) dan dilanjutkan dengan uji beda nyata jujur (BNJ). Hasil pengujian menunjukkan bahwa perbedaan suhu ekstraksi yang digunakan berpengaruh nyata terhadap total astaxanthin, warna dan aktivitas antioksidan (P<0,05). Suhu ekstraksi yang lebih tinggi dapat meningkatkan total astaxanthin yang terekstrak dan tingkat warna yang dihasilkan. Ekstrak astaxanthin menunjukkan total astaxanthin dan warna tertinggi pada suhu 70°C, dengan total astaxanthin sebesar 11,718 µg/g, nilai L* 53,23, nilai a* 3,477, nilai b* 10,560, dan aktivitas antioksidan yang dimiliki sebesar 13,08%. Hasil menunjukkan bahwa ekstrak astaxanthin dari karapas udang vaname ini berpotensi dengan baik sebagai pewarna alami.
KARAKTERISTIK STIK IKAN LELE (Clarias gariepinus) DENGAN PERBEDAAN RASIO DAGING DAN TULANG Maharani Primawestri; Sumardianto Sumardianto; Retno Ayu Kurniasih
Jurnal Ilmu dan Teknologi Perikanan Vol 5, No 1 (2023)
Publisher : Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jekk.v%vi%i.13201

Abstract

Penggunaan campuran daging dan tulang ikan lele dalam pembuatan stik ikan dimaksudkan untuk memanfaatkan ikan lele secara maksimal agar nilai jualnya bertambah dan menambah nilai gizinya. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh perbedaan rasio daging dan tulang ikan lele terhadap nilai proksimat, kalsium, fosfor, tingkat kekerasan serta rasio terbaik berdasarakan nilai hedonik oleh panelis. Penelitian ini bersifat experimental laboratories dengan model rancangan acak lengkap, menggunakan satu faktor perbedaan rasio daging dan tulang ikan dengan tiga kali pengulangan, yaitu 1:0 (kontrol), 3:1, 1:1, dan 1:3 b/b. Data parametrik, yaitu kadar proksimat, kalsium, fosfor, dan tingkat kekerasan, dianalisis menggunakan ANOVA dan uji lanjut Tukey, sedangkan data non-parametrik (hedonik) dianalisis menggunakan Kruskall-Wallis dan uji lanjut Mann-Whitney Test. Perbedaan rasio daging dan tulang ikan pada stik memberikan pengaruh yang berbeda nyata (p<0,05) terhadap nilai proksimat (kadar protein, lemak, air, dan abu), kalsium, fosfor, kekerasan dan tingkat kesukaan panelis spesifikasi aroma, rasa, tekstur, dan warna. Stik ikan lele dengan rasio 3:1 merupakan produk yang paling disukai panelis dengan selang kepercayaan 7,33< µ < 7,53, kandungan protein 7,98±0,08%, lemak 31,02±0,26%, air 1,93±0,21%, abu 2,72±0,08%, kalsium 1,64±0,08%, fosfor 0,65±0,01% dan tingkat kekerasan 789,63±23,6 gf.
Co-Authors - Khamidah, - A Suhaeli Fahmi Aditya Wafa Kuncoro Agung Purnama Agus Setiawan Ahmad Niam Salim Aisyah Ayu Hidayati, Aisyah Ayu Amelia Ayu Permatasari Anwar, Shabrina apri dwi anggo Aprilia Hudayati Arief Wibowo Arifin, Muhammad Hauzan Barodah, Luk Luul Bayu Fajar Nugraha Boy, Firts Cahyo, Septian Dwi Candra Santoso, Candra Dhita Ulfi Lestari Dinaryadi, Rico Dwicahyani, Tiara Dyah Nur Safitri Eko Nurcahya Dewi Eko Susanto Elistia, Elistia EVI MAYA SARI Fahmi, A. Suhaeli Fina Aprelya Nur Fajri Frisilia Nadhira Rimadhini Fronthea Swastawati Gerda Vernia Bali Ulina, Gerda Vernia Bali Gisella Valentine Haqqy Sahri Syadeto Hauzan Arifin, Muhammad Ima Wijayanti Indri Febriana Pakpahan Indria Eka Pangestuti Laras Rianingsih Lukita Purnamayati Ma'ruf, Widodo Farid Maharani Primawestri Meilinda Hardianti, Meilinda Muhamad Iqbal Muhammad Ali Fatoni Muhammad Luthfi Fadhli Muhammad Qowiyyul Azizi Mulyanto, Sepka Muryaning Charimah, Intan Naili Rohmah Nashita, Nadia Yasmin Natasha Rizky Maharani Novania, Anita Novita Dinny Pratiwi, Novita Dinny Nurafifah, Diyah Ayu Nurparidah, Opi Otto Andi Wijaya, Otto Andi Purnamayati, Lukita Putri Islami Putut Har Riyadi Rahussidi, Muhamad Akbar Ramadhanti, Bella Widya Retno Ayu Kurniasih Retno Viyanti Rika Amelia Rina Indiarti Rissinta Mahdalena Rizki Wisnu Murti Rizki, Dinda Rojakul, Rojakul Romadhon Romadhon Sanjaya, Yulian Dani Selamet Suharto Siswanto, Arik SITI RACHMAWATI Slamet Seharto Slamet Suharto, Slamet Syah, Dio Rachman Titi Surti Tri Winarni Agustini Triyono, Gandung Ulfah Amalia Yudhomenggolo Sastro Darmanto