Claim Missing Document
Check
Articles

Found 32 Documents
Search

Kebijakan Pengembangan Peternakan Sapi Potong di Indonesia Hamdi Mayulu; Sunarso .; Imam Sutrisno; Sumarsono .
Jurnal Penelitian dan Pengembangan Pertanian Vol 29, No 1 (2010): Maret 2010
Publisher : Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (97.605 KB) | DOI: 10.21082/jp3.v29n1.2010.p%p

Abstract

Berbagai upaya telah dilakukan untuk meningkatkan produktivitas, produksi maupun populasi sapi potong dalam rangka mendukung program kecukupan daging (PKD) 2010, yang direvisi menjadi 2014. Produksi daging dalam negeri diharapkan mampu memenuhi 9095% kebutuhan daging nasional. Karena itu, pengembangan sapi potong perlu dilakukan melalui pendekatan usaha yang berkelanjutan, didukung dengan industri pakan yang mengoptimalkan pemanfaatan bahan pakan lokal spesifik lokasi melalui pola yang terintegrasi. Hingga kini, upaya pengembangan sapi potong belum mampu memenuhi kebutuhan daging dalam negeri, selain rentan terhadap serangan penyakit. Hal ini dapat disebabkan oleh berbagai kelemahan dalam sistem pengembangan peternakan. Oleh karena itu, perlu diupayakan model pengembangan dan kelembagaan yang tepat berbasis masyarakat dan secara ekonomi menguntungkan. Pemerintah sebaiknya menyerahkan pengembangan peternakan ke depan kepada masyarakat melalui mekanisme pasar bebas. Pemerintah lebih berperan dalam pelayanan dan membangun kawasan untuk memecahkan permasalahan dasar dalam pengembangan peternakan sehingga dapat mengaktifkan mekanisme pasar. Usaha peternakan hendaknya dapat memacu perkembangan agroindustri sehingga membuka kesempatan kerja dan usaha. Implikasi kebijakan dari gagasan ini adalah perlu dibuat peta jalan pembangunan peternakan nasional dan diuraikan secara rinci di setiap wilayah pengembangan ternak.
Pengaruh pemberian probiotik isi rumen dari berbagai ternak ruminansia terhadap penampilan produksi Domba Batibul irwanto irwanto; Sunarso Sunarso; Anis Muktiani
Bulletin of Applied Animal Research Vol 2 No 1 (2020): Bulletin of Applied Animal Research
Publisher : LPPM Perjuangan University of Tasikmalaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36423/baar.v2i1.187

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji pengaruh pemberian probiotik isi rumen dari berbagai macam ternak ruminansia terhadap penampilan produksi domba dengan umur dibawah tiga bulan (Batibul). Materi yang digunakan adalah 15 ekor domba umur dibawah tiga bulan dengan bobot rata-rata sebesar 4,37 ± 0,27 kg. Penelitian dirancang melalui rancangan acak lengkap dengan 5 perlakuan dan 3 ulangan. Perlakuan tersebut meliputi T0 = konsentrat + hijauan; T1 = konsentrat + isi rumen sapi + hijauan; T2 = konsentrat + isi rumen kerbau + hijauan; T3 = konsentrat + isi rumen kambing + hijauan; dan T4 = konsentrat + isi rumen domba + hijauan. Pakan konsentrat dan hijauan diberikan secara ad libitum sedangkan isi rumen diberikan sebanyak 5% dari pakan konsentrat. Berdasarkan hasil penelitian diketahui bahwa penambahan probiotik isi rumen dari berbagai ternak ruminansia tidak berpengaruh nyata terhadap penampilan produksi domba Batibul yang meliputi konsumsi bahan kering, pertambahan bobot badan harian, efisiensi dan konversi pakan.Kata Kunci: Domba Batibul, Penampilan Produksi, Probiotik, Isi Rumen.
Pengaruh pemberian probiotik isi rumen dari berbagai ternak ruminansia terhadap penampilan produksi Domba Batibul Irwanto Irwanto; Sunarso Sunarso; Anis Muktiani
Bulletin of Applied Animal Research Vol 1 No 2 (2019): Bulletin of Applied Animal Research
Publisher : LPPM Perjuangan University of Tasikmalaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36423/baar.v1i2.267

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji pengaruh pemberian probiotik isi rumen dari berbagai macam ternak ruminansia terhadap penampilan produksi domba dengan umur dibawah tiga bulan (Batibul). Materi yang digunakan adalah 15 ekor domba umur dibawah tiga bulan dengan bobot rata-rata sebesar 4,37 ± 0,27 kg. Penelitian dirancang melalui rancangan acak lengkap dengan 5 perlakuan dan 3 ulangan. Perlakuan tersebut meliputi T0 = konsentrat + hijauan; T1 = konsentrat + isi rumen sapi + hijauan; T2 = konsentrat + isi rumen kerbau + hijauan; T3 = konsentrat + isi rumen kambing + hijauan; dan T4 = konsentrat + isi rumen domba + hijauan. Pakan konsentrat dan hijauan diberikan secara ad libitum sedangkan isi rumen diberikan sebanyak 5% dari pakan konsentrat. Berdasarkan hasil penelitian diketahui bahwa penambahan probiotik isi rumen dari berbagai ternak ruminansia tidak berpengaruh nyata terhadap penampilan produksi domba Batibul yang meliputi konsumsi bahan kering, pertambahan bobot badan harian, efisiensi dan konversi pakan.Kata Kunci: Domba Batibul, Penampilan Produksi, Probiotik, Isi Rumen.
PENGARUH PERBEDAAN ARAS STARTER PADA FERMENTASI SABUT KELAPA TERHADAP KECERNAAN BAHAN PAKAN DAN PRODUKSI VOLATILE FATTY ACIDS SECARA IN VITRO Aulia Rahman; Sunarso Sunarso; B.I.M. Tampoebolon; L.K. Nuswantara
JURNAL ILMIAH PETERNAKAN TERPADU Vol 8, No 2 (2020)
Publisher : DEPARTMENT OF ANIMAL HUSBANDRY, FACULTY OF AGRICULTURE, UNIVERSITY OF LAMPUNG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23960/jipt.v8i2.p66-71

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji pengaruh aras starter pada fermentasi sabut kelapa terhadap Kecernaan Bahan Kering (KcBK), Kecernaan Bahan Organik (KcBO) dan Volatile Fatty Acids (VFA) dengan metode in vitro. Rancangan percobaan yang digunakan adalah Rancangan Acak Lengkap (RAL). Percobaan terdiri dari 4 perlakuan aras starter yaitu T0 (fermentasi sabut kelapa + 0% starter), T1 (fermentasi sabut kelapa + 2% starter), T2 (fermentasi sabut kelapa + 4% starter), dan T3 (fermentasi sabut kelapa + 6% starter) dengan 5 ulangan tiap perlakuan dan lama fermentasi 10 hari. Hasil penelitian menunjukkan sabut kelapa yang difermentasi dengan aras starter sampai 6% dapat meningkatkan (P<0,05) KcBK dan KcBO tetapi berpengaruh tidak nyata pada VFA. Rata-rata nilai KcBK dan KcBO pada perlakuan T0, T1, T2 dan T3 berturut-turut adalah KcBK 28,08%; 30,71%; 34,27%; 35,78% dan KcBO 28,73%; 31,81%; 35,21%; 36,88%. Rata-rata nilai produksi VFA pada perlakuan T0, T1, T2 dan T3 berturut-turut adalah 130 mM, 125 mM, 118 mM dan 120 mM. Simpulan penelitian adalah pemberian aras starter mampu meningkatkan KcBK dan KcBO dan produksi VFA memiliki kecenderungan menurun serta pemberian aras starter optimal pada level 4%. Kata kunci : Fermentasi, In vitro, Kecernaan, Sabut kelapa, Volatile fatty acid.
FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI CURAHAN TENAGA KERJA KELUARGA DALAM PENGEMBANGAN EKONOMI USAHA SAPI PERAH DI KECAMATAN UNGARAN BARAT, KABUPATEN SEMARANG Iven Patu Sirappa; Sunarso Sunarso; Wulan Sumekar
Agrisocionomics: Jurnal Sosial Ekonomi Pertanian Vol 1, No 1 (2017): Mei 2017
Publisher : Faculty of Animal and Agricultural Science, Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (157.359 KB) | DOI: 10.14710/agrisocionomics.v1i1.1646

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui karakteristik peternak, faktor – faktor yang mempengaruhi alokasi waktu, dan pendapatan peternak di Kecamatan Ungaran Barat. Penelitian ini dilakukan pada bulan Februari sampai April 2016. Penentuan sampel menggunakan metode sensus sebanyak 47 orang yang memelihara ternak sapi perah. Analisis data menggunakan regresi linear berganda, analisis one sample t test, rata-rata karakteristik peternak, dan analisis pendapatan. Hasil penelitian menunjukkan kisaran umur 21-55 tahun sekitar 85%, pengalaman usaha responden sebagian besar memiliki pengalaman lebih dari 10 tahun sekitar 57%, sedangkan pendapatan usaha ternak sapi perah di Kecamatan Ungaran Barat rata-rata sebesar Rp.16.534.095/tahun. Alokasi waktu tenaga kerja dilakukan sebesar 368,37 HKP/tahun yang terdiri dari ayah ibu dan anak dalam melakukan pekerjaan membersihkan kandang, mencari rumput, memberi pakan, dan memerah susu. Faktor yang signifikan terhadap curahan tenaga kerja keluarga dalam pemeliharaan sapi perah adalah skala usaha, pendapatan, dan kedua KTT yaitu KTT Sumber Hasil, dan KTT Ngudi Makmur, sedangkan faktor yang tidak berpengaruh adalah pengalaman beternak, tanggungan keluarga, dan umur.Kata Kunci : curahan waktu; tenaga kerja; peternak; sapi perah; pendapatan
ANALISIS KEPUASAN KONSUMEN DAN STRATEGI PENGEMBANGAN AGROWISATA KEBUN BUAH CEPOKO DI KECAMATAN GUNUNG PATI KOTA SEMARANG Yanti Yosepha Rufina Br Sembiring; Sunarso Sunarso; Wiludjeng Roessali
Agrisocionomics: Jurnal Sosial Ekonomi Pertanian Vol 4, No 1 (2020): Mei 2020
Publisher : Faculty of Animal and Agricultural Science, Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/agrisocionomics.v4i1.5378

Abstract

Agrowisata memiliki tujuan yaitu untuk memberikan ilmu pengetahuan, edukasi, pengalaman rekreasi  dan mengenal hubungan usaha dibidang pertanian. Kebun Buah Cepoko merupakan salah satu Kebun Satuan Kerja milik UPTD. Kebun Dinas Pertanian yang sangat potensial untuk dijadikan Agrowisata. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kepuasan pengunjung terhadap perkembangan Agrowisata Kebun Buah Cepoko, menganalisis Faktor Internal dan Eksternal yang mempengaruhi pengembangan Agrowisata Kebun Buah Cepoko dan menetapkan strategi dalam pengembangan Agrowisata Kebun Buah Cepoko. Penelitian ini dilaksanakan di Unit Pelaksana Teknis Dinas (UPTD) Kebun Dinas, Kebun Buah Cepoko,Kecamatan Gunung Pati. Analisis data yang digunakan untuk menjawab tujuan yaitu Analisis CSI, Analisis Matriks Evaluasi Faktor Internal dan Eksternal danAnalisis SWOT. Hasil penelitian menunjukkan indeks kepuasan pengunjung Agrowisata Kebun Buah Cepoko, diketahui nilai CSI adalah 77,81 persen sehingga dapat dikatakan bahwa secara keseluruhan pengunjung Agrowisata Kebun Buah Cepoko puas terhadap atribut Kebun Buah Cepoko.Posisi Agrowisata Kebun Buah Cepoko berdasarkan kondisi internal dan eksternal berada pada kuadran I yang menunjukkan bahwa Agrowisata Kebun Buah Cepoko berada pada situasi yang sangat menguntungkan karena memiliki kekuatan dan peluang yang dapat dimanfaatkan sebaik-baiknya dengan cara menerapkan strategi pertumbuhan agresif.
POTENSI KOMODITAS TERNAK SAPI POTONG DAN DAYA DUKUNG LIMBAH TANAMAN PADI DI KABUPATEN SUKOHARJO Kharisma Imam Adinata; Sunarso Sunarso; Wulan Sumekar
BUANA SAINS Vol 16, No 2 (2016)
Publisher : Universitas Tribhuwana Tunggadewi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (268.164 KB) | DOI: 10.33366/bs.v16i2.416

Abstract

The aim of research were to determine 1) the main source of development of Cattle raising in Sukoharjo Regency, 2) to analyse population structure of beef cattle in Sukoharjo Regency, and 3) to analyse paddy straw as animal feed sources in Sukoharjo Regency. Method wereuse in this research was a survey method. Data analysis such as follows potential development beef cattle in Sukoharjo Regency, and cattle population structure in animal unit (AU). Secondary data were collected from official of agriculture Sukoharjo Regency, National Statistical Board, and Board of National Land, and analyse in accordance with descriptive analysis. Cattle density appertain rare with score 33,43 and 2) density of exertion farmer appertain dense with score 40,85, and 3) density of region appertain average with score 0,35. Maximum potential of land resources is 42.297,3animal unit (AU), capacity increased cattle population based on land resources is 23.230,05 animal unit, capacity increased cattle population by the head of family farmers is 14.490,75 animal unit. The value of land capability index was 1,95.
Analisis potensi sabut kelapa serta strategi penggunaanya sebagai bahan baku pakan ternak ruminansia Mochamad Denta Risman Muzaki; Sunarso Sunarso; Agus Setiadi
Livestock and Animal Research Vol 18, No 3 (2020): Livestock and Animal Research
Publisher : Universitas Sebelas Maret

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (588.237 KB) | DOI: 10.20961/lar.v18i3.46001

Abstract

Tujuan: Tujuan dari penelitian mengkaji dan menganalisis potensi serta strategi penggunaan sabut kelapa sebagai bahan pakan pada complete feed dan konsentrat. Manfaat penelitian ini diharapkan dapat memberikan informasi kepada peternak atau perusahaan pakan ternak ruminansia dalam pemanfaatan limbah sabut kelapa sebagai campuran pada complete feed dan konsentrat. Lokasi penelitian berada di wilayah Kabupaten Batang, Kabupaten Jepara, Kabupaten Pati dan Kabupaten Rembang.Metode: Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode survei. Data yang dikumpulkan berupa data primer didapat langsung dari petani kelapa, pedagang buah kelapa, setiap wilayah diambil sebanyak 10 responden. Data sekunder didapat dari Badan Pusat Statistik dan Dinas Perkebunan Kabupaten Batang, Kabupaten Jepara, Kabupaten Pati dan Kabupaten Rembang. Data yang sudah diperoleh diolah secara deskriptif analisis. Analisis Data menggunakan Analisis Locationt Quotient (LQ), Analisis SWOT dan Analisis Trend untuk memprediksi ketersediaan lahan dan produksi buah kelapa.Hasil: Hasil dari penelitian menunjukkan bahwa penggunaan limbah sabut kelapa sebagai pakan memiliki potensi yang dapat dikembangkan menggunakan strategi (S-O), Strategi (S-T), Strategi (W-O) dan Srategi (W-T) pada analisis SWOT. Pengembangan lahan berdasarkan analisis Locationt Quotient (LQ) sebagai basis yaitu berada di Kabupaten Rembang, Pati dan Jepara. Produksi limbah sabut kelapa berdasarkan BK, PK dan TDN secara keseluruhan yaitu 9.537; 383.29 dan 2.678,4 ton/tahun dan untuk daya dukung limbah sabut kelapa secara keseluruhan berdasarkan BK, PK dan TDN yaitu 31.794; 944,32 dan 8.926 ST/tahun.Kesimpulan: Kesimpulan dari penelitian yaitu peninjauan dalam produksi dan sediaan lahan dalam peningkatan tanaman kelapa menggunakan analisis Trend yang nantinya berpotensi menyediakan bahan baku yaitu berada pada Kabupaten Rembang.
Kecernaan, fermentabilitas dan produksi protein ruminal pelepah sawit yang difermentasi dengan isolat mikrobia rumen kerbau secara in vitro Limbang Kustiawan Nuswanatara; Eko Pangestu; Sunarso Sunarso; Marry Christiyanto
Livestock and Animal Research Vol 19, No 3 (2021): Livestock and Animal Research
Publisher : Universitas Sebelas Maret

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (481.217 KB) | DOI: 10.20961/lar.v19i3.51263

Abstract

Objective: The study aimed investigated effect of microbial isolate levels and fermentation time on fermentability regarding ammonia (NH3) production, volatile fatty acids (VFA) and microbial protein production, dry matter digestibility and organic matter digestibility in vitro.Methods: The experiment was conducted at the Laboratory of Nutrition and Feed Science, Faculty of Animal and Agricultural Sciences, Universitas Diponegoro. In vitro experiment was performed using a completely randomized design with a factorial pattern with 2 factors and 4 replications. The treatments were microbial isolate levels (1 and 3%) and fermentation time (14 and 28 days). The parameters observed included production of NH3, VFA, microbial protein and total protein as well as the digestibility of dry matter and organic matter. The data were analyzed based on analysis of variance and if there was a significant effect the data were further analyzed with Duncan’s Multiple Range Test.Results: The amount of microbial isolate and fermentation time affected rumen ammonia production. On rumen microbial protein content, the amounts of microbial isolate and fermentation time had substantial impact (P<0.05). The isolate level and fermentation time, however, had no interaction effect on VFA production, dry matter digestibility, or organic matter digestibility. The fermentation time influenced (P<0.05) the production of VFA and the digestibility of dry matter, but the isolate level and fermentation time had no effect on total protein production or organic matter digestibility.Conclusions: Processing of palm fronds through fermentation using buffalo rumen cellulolytic microbial isolates increased nutrient values of palm fronds.
Kecernaan, Fermentabilitas dan Produksi Protein Mikrobia Secara In Vitro pada Complete Feed Berbasis Pelepah Sawit Fermentasi Limbang Kustiawan Nuswantara; Eko Pangestu; Sunarso Sunarso; Marry Christiyanto
Jurnal Agripet Vol 21, No 2 (2021): Volume 21, No. 2, Oktober 2021
Publisher : Agricultural Faculty

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17969/agripet.v21i2.20554

Abstract

ABSTRACT. Penelitian bertujuan mengetahui kualitas complete feed dengan level pelepah sawit fermentasi berdasarkan kecernaan bahan kering, bahan organik, produksi N-NH3, produksi volatile fatty acids (VFA) dan produksi biomassa protein mikrobia serta protein total secara in vitro. Materi yang digunakan adalah complete feed tersusun atas konsentrat dan pelepah sawit fermentasi dengan berbagai level yaitu 0, 10, 20 dan 30%. Rancangan percobaan yang digunakan adalah rancangan acak lengkap (RAL) dengan 4 perlakuan complete feed dengan level pelepah sawit fermentasi yang berbeda. Data diolah menggunakan sidik ragam yang dilanjutkan dengan uji beda wilayah berganda Duncan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa complete feed dengan level pelepah sawit fermentasi yang berbeda berpengaruh nyata (p0,05) terhadap kecernaan bahan kering dan bahan organik, produksi N-NH3, produksi VFA, dan produksi protein total, sedangkan pada biomassa protein mikrobia tidak terdapat perbedaan yang nyata (p0,05). Rata-rata nilai kecernaan bahan kering pada perlakuan T0, T1, T2 dan T3 adalah 69,59; 71,9; 69,05; dan 62,58%. Rata-rata nilai kecernaan bahan organik pada perlakuan T0, T1, T2 dan T3 adalah 63,59; 63,15; 65,50; 52,66 %. Rata-rata produksi VFA pada perlakuan T0, T1, T2 dan T3 sebesar 105,8; 142,7; 136,4; dan 135,7 mM. Rata-rata produksi NH3, biomassa protein mikrobia dan produksi protein total pada perlakuan T0, T1, T2 dan T3 berturut-turut adalah 6,48mM, 15,04mg/ml;, 34,10mg/g; 7,36mM, 15,75mg/ml, 23,72mg/g; 8,18mM, 12,59mg/ml, 33,72mg/g); dan 6,60mM, 15,31mg/ml, 40,80mg/g. Berdasarkan hasil penelitian disimpulkan bahwa penggunaan pelepah sawit fermentasi dengan level 20% dalam complete feed menghasilkan produksi VFA, kecernaan bahan kering dan bahan organik yang cukup baik sehingga dapat menjadi pakan alternatif sumber serat pengganti rumput.(Digestibility, fermentability and in-vitro production of microbial protein on complete feed based on fermented palm frond) ABSTRAK. This study aimed to determine the quality of a complete feed containing fermented palm fronds based on the digestibility of dry matter, organic matter, N-NH3, VFA, microbial protein biomass, and total protein in vitro. The material used was complete feed composed of concentrates and fermented palm fronds at various levels, i.e., 0, 10, 20, and 30%. The experiment was conducted as a completely randomized design (CRD) with four complete feed treatments containing different levels of fermented palm fronds. The data were processed using analysis of variance, followed by Duncans multiple range test. The results demonstrated that the complete feed with different levels of fermented palm fronds had a significant effect (p0.05) on the digestibility of dry matter and organic matter, N-NH3 production, essential fatty acids production, and total protein production, whereas there was no significant difference (p 0.05) on microbial protein biomass. The average dry matter and organic matter digestibility values of T0, T1, T2, and T3 treatments were 69.59; 63.59, 71.9; 63.15, 69.05; 65.50, and 62.58%; 52.66% respectively. The average production of volatile fatty acids of T0, T1, T2, and T3 treatments were 105.8; 142.7; 136.4; and 135.7 mM. respectively, while the average N-NH3 production, microbial protein biomass, and total protein production of the T0, T1, T2, and T3 treatments were 6.48, 7.36, 8.18, 6.60 mM; 15.04, 75, 12.59, 15.31 mg/ml; and 34.10, 23.72, 33.72, 40.80 mg/g. In conclusion, the use of fermented palm fronds at a 20% level in complete feed gave the best result in the production of volatile fatty acids, improved digestibility of dry matter, and organic matter, so it can be used as an alternative feed to replace grass fiber.