Claim Missing Document
Check
Articles

Found 30 Documents
Search

Pelatihan Jurnalistik Dalam Meningkatkan Mutu Pengelolaan Berita dan Menumbuhkan Budaya Literasi Milenial Pengurus Karang Taruna Kelurahan Dasan Geres Herjan Haryadi; Mukminah Mukminah; Abdul Aziz; Falia Anjani
Abdinesia: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Vol. 1 No. 2 (2021): Jurnal Pengabdian kepada Masyarakat
Publisher : LPPM Universitas Nahdlatul Ulama Nusa Tenggara Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.69503/abdinesia.v1i2.109

Abstract

tujuan agar orang lain mengetahui hal-hal yang terjadi pada saat itu. Berita dapat memberikan informasi secara transparan, terbuka dan akan meredupkan hal-hal pemikiran yang bersifat negative bagi suatu wilayah. Berita juga merupakan bagian terpenting dari Jurnalistik karena berita merupakan produk utama jurnalistik. Seorang jurnalistik harus memiliki keahlian utama yaitu menulis dan berita tidak bisa terlepas dari kata “ Menulis”. Literasi adalah kemampuan individu untuk menggunakan potensi skill yang dimilikinya, bukan hanya kemampuan baca tulis saja.Kegiatan pelatihan jurnalistik merupakan kegiatan pengabdian masyarakat yang bertujuan untuk membudayakan literasi pemuda dikalangan milenial, membudayakan budaya menulis yang terus menurun dikalangan pemuda. Dalam kegiatan pengabdian mayarakat ini juga memberikan teknik atau cara dalam menulis kata-kata yang tidak dapat menimbulkan unsur sara atau melakukan kebencian terutama dalam memberikan kritikan atau masukan kepada pemerintah. pokok dalam penulisan literasi atau jurnalistik agar dapat menulis berita dengan baik, meningkatkan minat literasi yang tinggi dan berkualitas yang berpedoman pada kunci 5W + H. dengan rincian sebagai berikut :W pertama adalah Who: siapa yang terlibat dalam peristiwa itu? W kedua adalah What: apa yang terjadi? W ketiga adalah Where: dimana peristiwa itu terjadi? W ke empat adalah When: kapan peristiwa itu terjadi? W kelima adalah why: mengapa hal tersebut bisa terjadi? H atau How adalah bagaimana peristiwa itu bisa terjadi?
Kegiatan Belajar Masyarakat Dalam Mengurangi Buta Aksara dan Buta Huruf Al-Qur’an Mukminah Mukminah; Uswatun Hasanah; Ahlan Maulana
Abdinesia: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Vol. 4 No. 2 (2024): Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat
Publisher : LPPM Universitas Nahdlatul Ulama Nusa Tenggara Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.69503/abdinesia.v4i2.240

Abstract

Mencerdaskan kehidupan berbangsa dan bernegara adalah salah satu cita-cita bangsa Indonesia. Untuk itu pemerintah melakukan berbagai kegiatan yang mengarah pada tujuan dan cita-cita bersama yakni melalui pendidikan. Pendidikan merupakan hal yang utama di era globalisasi sekarang ini. Pendidikan dapat diperoleh baik melalui jalur formal ataupun non formal. Di lingkungan Kesambik Numpuk Kelurahan Gerunung Kabupaten Lombok Tengah tingkat buta aksara dan buta huruf Al-Qur’an masih tergolong tinggi. Di zaman yang serba modern kemampuan membaca dan menulis (aksara dan huruf Al-Qur’an) wajib dikuasai oleh semua elemen masyarakat, mengidentifikasi data tentang permasalahan, potensi, dan kebutuhan dalam pembelajaran buta aksara dan buta huruf Al-Qur’an. Tujuan kegiatan pengabdian ini adalah meningkatkan kualitas hidup masyarakat baik dari segi sosial dan ekonomi, pemberdayaan masyarakat agar mampu mandiri (berdaya), dan merancang pembelajaran keaksaraan yang praktis dan efektif bagi masyarakat. Metode pelaksanaan dilakukan dengan melakukan penyuluhan, pelatihan, dan pendampingan. Adapun luaran Pengabdian Kepada Masyarakat berupa publikasi artikel ilmiah pada jurnal nasional terakreditasi sinta/Nasional tidak terakreditasi. Hasil dari kegiatan pengabdian ini berupa adanya penurunan tingkat buta aksara dan huruf Al-Qur’an pada Masyarakat Dusun Lingkungan Kesambik Numpuk Kelurahan Gerunung Kabupaten Lombok Tengah, selain itu juga adanya peningkatan nilai-nilai karakter dan kedisiplinan dalam pembelajaran.
Strategi Peningkatan Wisatawan Melalui Pembuatan Spot Foto, Gapura, dan Pentas Seni di Gunung Jae, Desa Sedau, Kecamatan Narmada, Kabupaten Lombok Barat Aldys Salwa Zaelani; Hermawan Ramdi; Tindih Mayani; Alfia Khoirunnisa; Siti Mauliana Sari; Sumaini; Kurratul Aini; Laily Axzmi; Nurul Khatimah; Anggun Fitriani; Gilang Dwi Ramadhani; Muhammad Raid Zaidani; Trisna Kusuma Wardani; Mukminah
Abdinesia: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Vol. 6 No. 1 (2026): Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat
Publisher : LPPM Universitas Nahdlatul Ulama Nusa Tenggara Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.69503/abdinesia.v6i1.1412

Abstract

Pengabdian ini bertujuan untuk membantu masyarakat Desa Sedau dalam membuat strategi peningkatan jumlah wisatawan di Gunung Jae, Desa Sedau, Kecamatan Narmada, Kabupaten Lombok Barat melalui pembangunan spot foto, gapura, dan pentas seni berbasis masyarakat. Dengan memanfaatkan potensi alam dan budaya lokal, strategi ini bisa menarik wisatawan, khususnya generasi muda yang mencari pengalaman "instagrammable," sekaligus melestarikan seni tradisional dan meningkatkan kesadaran pengelolaan lingkungan. Metode pelaksanaan melibatkan koordinasi dengan pihak desa, sosialisasi, pelatihan pembuatan wayang botol, serta pentas seni yang melibatkan masyarakat dan sekolah setempat. Hasil Pengabdian ini menunjukkan peningkatan daya tarik visual destinasi dan partisipasi aktif komunitas, serta dampak positif pada pelestarian budaya dan ekonomi lokal. Strategi ini menjadi solusi berkelanjutan untuk pengembangan pariwisata berwawasan budaya dan lingkungan di Gunung Jae.
Internalization of Islamic Educational Values through the Merariq Mukminah Mukminah; Hirlan Hirlan
Journal La Edusci Vol. 7 No. 2 (2026): Journal La Edusci
Publisher : Newinera Publisher

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37899/journallaedusci.v7i2.2871

Abstract

The marriage tradition of the Sasak Merariq is ideally a vehicle for Islamic character education, based on the philosophy of "Customs with the joint of Syara', Syara' with the joint of Kitabullah" (Customs are based on Islamic Law, Islamic Law is based on the Book of Allah). However, contemporary practices reveal a significant erosion of meaning due to modernization, pragmatism, and external stigma. This research aims to fill the literary gap, going beyond previous research that only describes the Merariq ritual or identifies its values, by deconstructing the psychological and sociological mechanisms of internalizing the value of Islamic education in it. Using a qualitative approach with a case study design in Central Lombok, this study collected data through in-depth interviews, participant observations, and documentation. Key findings reveal that the internalization of values does not occur through indoctrination but through risk-based pedagogy and social drama. Processions such as selarian (eloquence) and selabar (deliberation) function as a structured experiential learning curriculum where values such as syaja'ah (courage), amanah (responsibility), solidarity, and consultation are tested and lived in practice. The study also confirms the challenges posed by commercialization and the pressures of modernist and puritan views. As a solution, this study recommends revitalizing meaning through cultural literacy, expanding the role of key actors such as negotiators to cultural educators, thus transforming Merariq back into a functional and relevant medium for character education.
Pergeseran Nilai Edukasi dalam Tradisi Nyongkolan: Antara Ekspresi Budaya dan Komodifikasi Konten Digital Hirlan, Hirlan; Mukminah, Mukminah
RIGGS: Journal of Artificial Intelligence and Digital Business Vol. 5 No. 1 (2026): Februari - April
Publisher : Prodi Bisnis Digital Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/riggs.v5i1.6793

Abstract

Tradisi Nyongkolan di Lombok, yang secara substansial berfungsi sebagai i’lanun nikah ‎dalam Islam, kini bertransformasi menjadi panggung konten digital. Penelitian ini bertujuan ‎menganalisis pergeseran nilai edukasi Islam akibat komodifikasi digital yang mengubah esensi ‎pendidikan moral menjadi sekadar hiburan visual demi viralitas. Fenomena ini menciptakan ‎ketegangan antara pelestarian budaya murni dengan tuntutan pasar media sosial yang ‎seringkali dangkal.‎ Menggunakan pendekatan kualitatif etnografi digital, penelitian dilaksanakan di Lombok ‎Timur dan Tengah. Data dihimpun melalui observasi partisipatif, dokumentasi konten viral, ‎serta wawancara mendalam dengan tokoh agama, tokoh adat, konten kreator, dan generasi ‎muda. Analisis data mengikuti model interaktif untuk menjamin keabsahan temuan melalui ‎triangulasi sumber.‎ Hasil penelitian menunjukkan degradasi akhlakul karimah dan adab al-ijtima’ yang signifikan. ‎Dominasi musik kecimol dengan lirik tidak pantas melanggar prinsip hifzhul lisan. ‎Komodifikasi digital memicu perilaku riya’ dan narsisme berlebihan demi engagement media ‎sosial, yang merusak sakralitas pernikahan sebagai mitsaqan ghalizha. Pelanggaran konsep ‎muru’ah juga ditemukan pada modifikasi busana adat yang mengabaikan kaidah menutup ‎aurat. Akibatnya, filosofi Sasak mengalami keretakan akibat rendahnya literasi digital ‎masyarakat.‎ Penelitian menyimpulkan pentingnya pendidikan Islam sebagai filter kritis melalui penguatan ‎literasi budaya. Diperlukan regulasi etis dan sinergi kolektif untuk merevitalisasi nilai edukasi ‎agar tradisi tidak hanya menjadi komoditas. Integrasi kearifan lokal dalam kurikulum ‎pendidikan formal krusial untuk membentengi identitas Muslim Sasak. Transformasi digital ‎harus diarahkan menjadi sarana dakwah kultural yang tetap menjaga harmoni, kesalehan ‎sosial, serta keluhuran nilai ketuhanan yang diberkahi bagi keberlangsungan eksistensi ‎generasi masa depan.‎.
EKSPLORASI ORGANOLOGI DAN INSTRUMENTASI DALAM SENI TRADISI TAMBUR MASYARAKAT SASAK Galih Suryadmaja; Mukminah; Nurtikawati; Salniwati; Dewi Puspita Ningsih
Keteg : Jurnal Pengetahuan, Pemikiran dan Kajian Tentang Bunyi Vol. 25 No. 1 (2025): Keteg: Jurnal Pengetahuan, Pemikiran dan Kajian Tentang Bunyi
Publisher : Surakarta: Jurusan Karawitan Institut Seni Indonesia Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33153/keteg.v25i1.7130

Abstract

This research explores the traditional Tambur art of the Sasak community as a cultural artifact possessing historical, organological, and social significance. The Tambur is not merely regarded as an instrument; it also serves as a symbol of identity and a space for contesting narratives between claims of Balinese heritage and the local Sasak roots. The study indicates that the Tambur has undergone a process of localisation, rendering it an inseparable part of the cultural practices of the Wetu Telu Islamic community, particularly within the context of the Perang Topat ritual. From an organological perspective, the Tambur instrument and its ensemble demonstrate the technological skills of the community in transforming natural materials such as wood, metal, skin, and bamboo into musically meaningful and functional instruments. Its rhythmic and collaborative instrumental structure reflects values of mutual cooperation, spirituality, and a connection to the environment. In a social context, the Tambur serves as a binding medium for the community and a link between generations. It functions as a cultural communication tool that preserves the continuity of tradition amidst the challenges of changing times. Therefore, the preservation of the Tambur should be understood as an effort to maintain the identity and vitality of local culture, which is increasingly threatened by global homogenisation.
Korelasi Support System Orang Tua Dengan Kesehatan Mental Emosional Siswa Kelas IV Sekolah Dasar Mukminah Mukminah; Miftahul Jannah; Trisna Kusuma Wardani; Herjan Haryadi
Science and Education Journal (SICEDU) Vol 5 No 2 (2026): Science and Education Journal 2026
Publisher : LPPM Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/sicedu.v5i2.427

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk ; 1) Untuk mengetahui apakah terdapat korelasi support sistem orang tua dengan kesehatan mental emosional anak usia sekolah dasar kelas IV. 2) mengetahui bagaimana korelasi support sistem orang tua dengan kesehatan mental emosional anak usia sekolah dasar kelas IV. Desain  penelitian adalah penelitian kuantitatif dengan jenis deskriptif korelasional. Penelitian ini dilaksanakan di SDN 1 Pringgarata Kecamatan Pringgarata Kabupaten Lombok Tengah NTB. Populasi dan sampel penelitian ini berjumlah 25 orang. Teknik pengambilan sampel yang digunakan yaitu total sampling. Teknik pengumpulan data Instrumen menggunakan angket, wawancara, observasi dan dokumentasi. Analisis data menggunakan analisis statistik deskriptif. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa  terdapat hubungan yang signifikan antara dukungan orang tua dengan kesehatan mental emosional anak usia sekolah dasar berdasarkan nilai pearson correlation sebesar 0,328 berada pada tingkat hubungan yang rendah dan bentuk hubungan yang positif, yang menunjukkan bahwa hipotesis alternatif (Ha) diterima dan hipotesis nol (H0) ditolak. Support sistem orang tua memiliki pengaruh yang positif terhadap kesehatan mental emosional anak seperti rasa aman dan kepercayaan diri, kemampuan mengelola emosi dan stres, keterampilan sosial yang lebih baik, sikap ceria dan antusias di sekolah
Integration of Local Wisdom in IPAS Learning for Islamic Awareness, Environment, and Sasak Culture Mukminah Mukminah; Hirlan Hirlan
Prisma Sains : Jurnal Pengkajian Ilmu dan Pembelajaran Matematika dan IPA IKIP Mataram Vol. 14 No. 3: July 2026
Publisher : Universitas Pendidikan Mandalika

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33394/j-ps.v14i3.20911

Abstract

This study examined how Sasak local wisdom was integrated into Natural and Social Sciences (IPAS) learning and how this integration supported students’ awareness of Islamic values, environmental responsibility, and Sasak cultural preservation. A qualitative case study was conducted at a public elementary school implementing the Merdeka Curriculum in Central Lombok, Indonesia. The case involved one principal, two classroom teachers, and 24 fifth-grade students. Data were collected through classroom observations, semi-structured interviews with the principal, teachers, and selected students, and document analysis. The data were analyzed using the interactive model of Miles, Huberman, and Saldaña, consisting of data condensation, data display, and conclusion drawing and verification. The findings indicated that Sasak local wisdom had not been integrated systematically into IPAS learning. Teachers experienced difficulties in mapping IPAS learning outcomes onto local cultural practices, relied mainly on textbooks and general examples, and had limited access to relevant learning resources and sustained professional support. Nevertheless, locally grounded practices such as besiru and awig-awig were perceived as making learning more contextual and supporting the internalization of religious, social, cultural, and ecological values. Based on these findings, the study proposes a contextual implementation framework that connects scientific concepts, social phenomena, Islamic values, and Sasak local wisdom through inquiry-based learning, project-based learning, ethnopedagogy, reflection, and holistic assessment. The framework may guide adaptation in elementary schools with similar cultural contexts, although further validation is required before broader implementation.
Pemberdayaan Remaja Putri Lintas Agama ‎melalui Peningkatan ‎Kreativitas dan ‎Keterampilan Life-Skills Menuju ‎Transformasi Sosial ‎Ekonomi Mukminah Mukminah; Hirlan Hirlan; Ashar Banyu Lazuardi
Jurnal Pengabdian Pada Masyarakat IPTEKS Vol. 3 No. 2 (2026): Jurnal Pengabdian Pada Masyarakat IPTEKS, Maret 2026
Publisher : CV. Global Cendekia Inti

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.71094/jppmi.v3i2.180

Abstract

Pengabdian ini dilatarbelakangi oleh rendahnya akses keterampilan praktis bagi remaja putri di wilayah marginal serta adanya sekat primordialisme agama yang sering kali membatasi kolaborasi produktif. Fokus utama kegiatan ini adalah sosialisasi dan pendampingan intensif untuk meningkatkan kreativitas serta keterampilan life-skills remaja putri lintas agama sebagai upaya transformasi sosial-ekonomi. Metode pelaksanaan menggunakan pendekatan Asset-Based Community Development (ABCD) yang diintegrasikan dengan Participatory Action Research (PAR), melibatkan 40 peserta dari latar belakang agama Islam, Kristen, Katolik, Hindu, dan Budha. Tahapan pengabdian meliputi pemetaan aset (discovery), pembangunan visi (dream), perancangan aksi (design), hingga tahap keberlanjutan (destiny). Hasil pengabdian menunjukkan peningkatan signifikan pada keterampilan teknis peserta, khususnya dalam literasi digital dan kriya ekonomi kreatif berbasis limbah. Secara sosiologis, program ini berhasil memicu perubahan perilaku berupa peningkatan kepercayaan diri dan munculnya pemimpin lokal muda. Selain itu, terbentuknya komunitas "Griya Kreatif Bhinneka" menjadi pranata sosial baru yang memperkuat kohesi sosial dan moderasi beragama melalui kolaborasi ekonomi produktif. Pengabdian ini menyimpulkan bahwa pemberdayaan ekonomi kreatif yang inklusif merupakan strategi efektif untuk meruntuhkan prasangka antarumat beragama sekaligus membangun kemandirian komunitas di tingkat akar rumput
Pengaruh Penggunaan Game Edukasi Berbasis Digital Terhadap Pemahaman Konsep Sains Mukminah; Yolanda Aprilianti; Herjan Haryadi
Jurnal Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah Al-Amin Vol. 4 No. 2 (2025): October
Publisher : STAI AL-AMIN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54723/ejpgmi.v4i2.444

Abstract

This study aims to determine the effect of using digital educational games on the understanding of science concepts among fifth-grade students at SDN 3 Gunungsari. This research uses a quantitative approach with a quasi-experimental design (nonequivalent control group design). The sample consists of two classes: the experimental class used the educational game "Besaku", while the control class used conventional methods. The instruments used were pretest and posttest questions, student activity observation sheets, and student response questionnaires. The independent sample t-test results showed a significance value of 0.000 < 0.05, indicating that H0 is rejected and Ha is accepted. This means there is a significant effect of using educational games on students' understanding of science concepts. Observations showed students were more active during the learning process, and the questionnaire revealed positive responses to the use of game-based media. The interactive learning flow in the "Besaku" game, which includes material presentation, simulations, quizzes, and digital rewards, proved to support meaningful conceptual understanding.