Claim Missing Document
Check
Articles

RAHASIA KEBERHASILAN SEKOLAH UNGGUL Supriyoko, Ki
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 1997: HARIAN PIKIRAN RAKYAT
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (123.137 KB)

Abstract

       Tulisan pendidikan saya di harian ini, "Pendidikan Keunggulan Sekolah Dasar" (PR: 6/1/97)  telah mendapat tanggapan yang sangat konstruktif dari dua responder;  masing-masing ialah Bapak Sudarwan dalam "Reformasi Menuju Pendidikan Keunggulan" (PR: 11/1/97) serta Bapak Dadang S. Anshori dalam "Menuju Keunggulan Kompetitif" (PR: 18/1/97).      Penerimaan ide pengembangan sekolah unggul, dalam konteks ini khususnya ialah SD, merupakan point yang perlu dihargai; kiranya ini cukup penting karena sampai saat ini masih ada kelompok masyarakat yang belum sepenuhnya bisa menerima hadirnya sekolah unggul, bah-kan alergi terhadap sekolah unggul. Mereka menganggap bahwa seko-lah unggul itu adalah sekolah yang mahal,  hanya dapat dinikmati oleh kelompok masyarakat yang berduit, tak memihak pada rakyat banyak, menimbulkan egoisme segmental, dan sebagainya.       Bahwa sekolah unggul memerlukan pembeayaan  yang tinggi me-mang benar adanya,  namun bukan berarti (selalu) mahal.  Juga tidak (selalu) benar bahwa sekolah unggul itu hanya dapat ternikmati oleh kaum yang berduit saja;  SD Muhammadiyah Sapen Yogyakarta, SMP Tamansiswa Arun Aceh,  dan SMU Taruna Nusantara adalah contoh sekolah unggul yang dapat dinikmati oleh kaum "dzuafa".  Bahkan di sekolah-sekolah unggul tersebut mereka yang berasal dari keluarga "tidak mampu" mendapat bantuan finansial.  Ini bukti konkrit bahwa sekolah unggul pun dapat dipresentasi sebagai sekolah yang berbeaya tinggi tetapi tidak mahal,  dapat dinikmati oleh kelompok masyarakat yang tidak berduit, memihak pada rakyat banyak,  serta tidak menimbulkan egoisme segmental.
SISTEM PENDIDIKAN KITA YANG TERBURUK Supriyoko, Ki
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 2001: HARIAN SUARA PEMBARUAN
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (103.465 KB)

Abstract

       Ibarat terkena pukulan palu godam, hasil studi Political and Economic Risk Consultancy (PERC), yang menyatakan bahwa sistem pendidikan di Indonesia adalah terburuk di Asia, benar-benar telah  membuat pusing kepala kita yang selama ini sudah cukup penat de-ngan segudang problematika. Bukan itu saja, hasil studi yang baru saja dipublikasikan oleh organisasi internasional  yang bermarkas di Hong Kong itu sepertinya telah mempermalukan wajah kita.          Seperti kita ketahui bersama,  PERC baru saja mempublikasi hasil studinya tentang sistem pendidikan di Asia.  Setelah menganalisis data dari para pebisnis asing yang berkiprah di negara-negara Asia tersebut  akhirnya menyimpulkan bahwa sistem pendidikan di Korea Selatan (skor 3,09) adalah terbaik di Asia, sedangkan sistem pendidikan di Indonesia (skor 6,56) adalah yang terburuk di Asia.  Sebagai catatan setiap pebisnis asing diminta memberi skor antara 0 s/d 10  untuk negara yang mereka kiprahi; skor 0 untuk peringkat yang paling tinggi dan 10 untuk peringkat yang paling rendah.          Apabila diurutkan peringkat satu sampai enam masing-masing adalah Korea Selatan, Singapura, Jepang, Taiwan, India dan Cina; sementara itu  peringkat tujuh sampai dua belas  masing-masing di-tempati oleh Malaysia, Hong Kong, Filipina, Thailand, Vietnam dan Indonesia.  Dalam hal ini posisi Indonesia benar-benar berada pada paling bontot.          Banyak indikator yang dipakai PERC untuk menentukan ran-king sistem;  antara lain menyangkut ketersediaan tenaga produksi yang berkualitas, manajer yang profesional,  kemampuan berbahasa Inggris, serta keterampilan tenaga kerja pada umumnya.
SMA PLUS MENJEPIT SEKOLAH KEJURUAN Supriyoko, Ki
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 1986: HARIAN SUARA MERDEKA
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (121.081 KB)

Abstract

       Baru-baru ini Presiden Soeharto memberi petunjuk agar segera di-bentuk semacam panitya antar departemen untuk secara mendasar membicarakan pendidikan di SMP dan SMA sekarang menjadi SMP dan SMA Plus. Pemikiran ini disertai harapan agar setiap tamatan SMP atau SMA mempunyai keterampilan khusus bila langsung terjun bekerja di masyarakat, tanpa merasa harus melanjutkannya ke perguruan tinggi untuk mencapai gelar sarjana seperti terjadi sekarang ini.       Meledaknya jumlah tamatan SMA dari tahun ke tahun dengan prosentasi sangat terbatas yang dapat tertampung di perguruan tinggi rupanya telah menyita perhatian dari berbagai pihak untuk mencari solusi dan alternatif pemecahannya. Tak terkecuali Bapak Presiden sendiri yang menaruh perhatian secara khusus.       Ledakan tamatan SMA dari tahun ke tahun memang terasa seperti tidak terkendalikan lagi jumlahnya.  Jumlah tamatan SMTA (sebagian besar diantaranya adalah SMA) untuk th 83/84 mencapai 429.000 orang. Tahun berikutnya, 84/85 meningkat menjadi 512.000 orang. Pada tahun ajaran 85/86 angka ini meningkat lagi menjadi 635.000 orang, dan tahun 86/87 nanti diprediksikan tamatan SMTA akan mencapai 800.000 orang. Sebuah deretan angka yang sungguh "memusingkan".       Hanya sekitar 15% dari jumlah tersebut yang dapat tertampung pada PTN (Perguruan Tinggi Negeri), sekitar 23 % lainnya tertampung di PTS (Perguruan Tinggi Swasta) yang "skala bonafiditas"nya sangat bervareasi.
ERA KOMPUTERISASI PERGURUAN TINGGI Supriyoko, Ki
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 1988: MAJALAH PENDOPO
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (100.985 KB)

Abstract

       Pada tahun 1950-an dunia dikejutkan dengan adanya perkembangan yang sangat berarti dalam bidang teknologi elektronika, khususnya dalam hal media elektronik video recording. Debut perkembangan teknologi ini ditunjukkan dengan berhasil direkamnya peristiwa pelantikan presiden baru Amerika Serikat waktu itu, Eisen Hower,  pada tahun 1956 yang kemudian hasilnya dapat disiar-ulangkan secara cukup sempurna.       Pada waktu itu banyak pakar pendidikan yang mulai berfikir tentang kemungkinan diaplikasikannya penemuan media elektronik tersebut untuk kepentingan-kepentingan dalam dunia pendidikan; dan ... berhasil.       Atas bantuan Ford Foundation  maka semenjak tahun 1959 media elektronik video recording tersebut sudah dapat digunakan untuk berbagai kepentingan di dalam dunia pendidikan, terutama dunia perguruan tinggi seperti yang dapat kita amati sekarang ini.  Sebagai misal dipakainya televisi serta video recorder untuk menyampaikan materi kuliah  (pada Universitas Terbuka),  perekaman peristiwa akademik tertentu, dan sebagainya.       Pada tahun 1820-an Charles Babbage mulai melakukan eksperimentasi teknis terhadap  rangkaian elektronik yang sekarang lazim disebut dengan komputer.  Pada tahun 1970-an yang lalu alat ini "meledak" di seluruh pelosok dunia  setelah teruji kegunaan serta ketelitiannya dalam memecahkan berbagai masalah dan kepentingan.  Para pakar pendidikan pun sejak beberapa tahun yang lalu juga telah berusaha dapat memanfaatkan jasa komputer untuk memecahkan berbagai persoalan dalam dunia pendidikan.
"KEKUATAN" WANITA Supriyoko, Ki
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 1990: HARIAN SUARA KARYA
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (115.444 KB)

Abstract

       Bahwa kaum wanita itu memiliki berbagai kelebihan tertentu bila dibandingkan lawan jenisnya kiranya memang tidak perlu didiskusikan lagi. Barangkali atas kenyataan inilah maka proses emansipasi wanita di Indonesia, sebagaimana yang dicita-citakan Ibu Kartini, dapat berjalan dengan cukup lancarnya; meskipun bukan berarti tidak ada hambatan sama sekali.       Tokoh pendidikan nasional kita yang amat familiar dalam soal "didik mendidik" Ki Hadjar Dewantara menunjuk salah satu  kelebihan kaum wanita terletak di dalam soal memberikan pendidikan pada sang anak. Kaum wanita secara alamiah mempunyai kelebihan menyambung "tali rasa" dalam proses mendidik sang anak; yang mana "tali rasa" ini merupakan unsur psikologis yang sangat  penting peranannya dalam memberhasilkan suatu proses pendidikan.       Secara ilmiah hipotesis Ki Hadjar tersebut pernah dibukti-kan oleh  Frances P. Lawrenz  and  Wayne W. Welch melalui temuan-temuan dalam penelitiannya.
PENDIDIKAN PROFESIONAL DAN GELAR AKADEMIK Supriyoko, Ki
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 1993: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (212.851 KB)

Abstract

       Pintu tahun 1993 telah terbuka lebar; sebagaimana dengan yang terjadi di tahun-tahun sebelumnya maka tahun 1993 inipun akan terjadi berbagai peristiwa penting dan memorial di berbagai bidang. Dari tahun ke tahun bidang-bidang politik, sosial, budaya dan tak terkecuali bidang pendidikan senantiasa terwarnai oleh peristiwa-peristiwa penting dan memorial.          Tentu kita masih ingat,  di akhir tahun 1992 yang lalu dunia pendidikan tinggi di Indonesia tersentak oleh peristiwa pemfiktifan lembaga pendidikan tinggi. Di Jakarta telah diketemukan "universitas" yang memiliki "mahasiswa" yang tidak sedikit jumlahnya. Gerak universitas ini sungguh "hebat"; hanya di dalam waktu beberapa bulan saja sanggup memberikan gelar akademik bagi lulusannya. Bahkan kehebatan universitas ini makin menjadi-jadi oleh karena calon mahasiswa yang tidak lulus sekolah menengah pun dapat diterima sebagai civitas, dan dapat lulus pula akhirnya. Tentu saja lulusannya pun berhak memakai gelar kesarjanaan. Kalau kemudian pihak berwajib "mengamankan" perguruan tinggi fiktif ini tentu sudah pada tempatnya.         Itulah salah satu peristiwa pendidikan penting dan menarik yang sempat menghiasi lembaran sejarah pendidik-an tinggi di Indonesia. Peristiwa "kelabu" tersebut,suka tidak suka, telah menjadi bagian sejarah pendidikan kita di tahun 1992 yang lalu. Bagaimanakah dengan tahun 1993? Rasanya  sejarah pendidikan kita masih akan menoreh ber-bagai peristiwa penting dan menarik yang lainnya.
KENAIKAN "IURAN PENDIDIKAN" PADA PTN Supriyoko, Ki
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 1996: HARIAN PIKIRAN RAKYAT
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (121.356 KB)

Abstract

       Barangkali "suhu politik"  di IKIP Bandung  dalam beberapa hari terakhir ini sedikit naik;  hal ini bisa diikuti dari berbagai pemberitaan di media massa.  Adapun pangkalnya adalah rencana kenaikan "iuran pendidikan" yang belum disetujui rektor sudah tercium oleh mahasiswa yang sebagian (besar?) tidak menyetujuinya.  Lebih daripada itu draft surat edaran tentang rencana kenaikan "iuran pendidikan" yang belum tertandatangani rektor pun sudah jatuh ke tangan mahasiswa. Buntutnya adalah para mahasiswa ramai-ramai melakukan unjuk rasa di Gedung Rektorat untuk memprotes rencana tersebut.       Dari sumber di IKIP Bandung sendiri diperoleh informasi bahwa rencana kenaikan "iuran pendidikan" tersebut sebenarnya cukup posi-tif; yaitu untuk mengantisipasi kegiatan mahasiswa yang makin lama makin dituntut kreativitasnya.        Lebih lanjut  dinyatakan  oleh sumber yang sama  bahwa  sampai sekarang ini berbagai lembaga kemahasiswaan di IKIP Bandung tidak mempunyai ruang sekretariat yang memadai sehingga muncul gagasan untuk membangun gedung pusat kegiatan ekstra kurikuler mahasiswa.  Di gedung ini kelak di samping akan dibangun ruang-ruang sekretariat bagi berbagai lembaga kemahasiswaan juga akan difasilitasi dengan ruang serba guna, tempat pertemuan, kantin, foto copy, percetaan dan sebagainya. Dengan fasilitas seperti ini kreativitas mahasiswa dapat dipacu dan dikembangkan secara lebih memadai.       Peristiwa unjuk rasa di IKIP Bandung tersebut mengingatkan kita pada peristiwa yang hampir sama sekitar empat tahun lalu ketika Uni-versitas Indonesia (UI) Jakarta dan Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta merencanakan menaikkan Sumbangan Pembinaan Pendidikan (SPP) bagi mahasiswanya.Ketika itu rencana kenaikan SPP juga sempat mendapat respon yang cukup demonstratif dari sekelompok mahasiswa PTN yang bersangkutan.
PTS BERKELAS INTERNASIONAL Supriyoko, Ki
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 2006: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT OKTOBER - DESEMBER 2006
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (112.678 KB)

Abstract

Dalam satu seminar internasional bertemakan ?Muslim Countries and Development: Achievements, Constraints and Alternative Solutions? yang berlangsung di UMY bekerja sama dengan International Islamic Univer-sity Malaysia (IIUM) dan Kedutaan Besar Indonesia di Malaysia baru-baru ini Mendiknas Bambang Sudibyo menyatakan sudah saatnya Perguruan Tinggi Swasta (PTS) di Indonesia masuk dalam jajaran perguruan tinggi berkelas internasional.        Lebih lanjut Pak Bambang menyatakan bahwa pemerintah Indonesia mendorong sebanyak mungkin adanya perguruan tinggi Indonesia berkelas internasional. Pemerintah akan membantu merealisasi adanya perguruan tinggi Indonesia yang masuk dalam jajaran 500 besar dunia, 100 terbaik Asia atau terakreditasi secara internasional. Perguruan tinggi seperti itu bukan saja ditujukan kepada PTN, akan tetapi PTS pun terbuka untuk dapat memasuki kancah yang bergengsi tersebut.        Apa yang dinyatakan Pak Bambang tersebut mendapat tanggapan yang beragam; dari yang menyatakan hal itu merupakan sebuah mimpi yang sulit direalisasi sampai yang menyatakan sangat mungkin diwujudkan. Ada pula yang menganggap hal itu sebagai ?lip service? seorang menteri pendidikan tetapi ada pula yang menyatakan hal itu mencerminkan sebuah keseriusan untuk memajukan pendidikan di Indonesia.
MANAJEMEN BARU KEUANGAN PTN Supriyoko, Ki
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 1991: HARIAN BERNAS
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (213.229 KB)

Abstract

Otonomisasi keuangan pada perguruan tinggi negeri (PTN) sedang menjadi topik pembicaraan yang cukup aktual di kalangan masyarakat, khususnya masyarakat pendidikan. Masalah ini menjadi semakin meningkat aktualitasnya manakala mulai tahun ini secara bersama-sama hampir seluruh PTN di negeri ini menaikkan "pungutan"nya dari mahasiswa (baru) sampai batas yang sangat berarti. Seperti kita ketahui bersama pada tahun akademik 1991/1992 ini hampir seluruh PTN di negeri ini menaikkan tarifnya. Memang, kenaikan tarif PTN tidaklah seberapa bila dibandingkan dengan beaya pendidikan pada PTS umum-nya, akan tetapi menjadi sangat berarti kalau dibanding-kan dengan beaya pendidikan pada PTN di tahun-tahun yang sebelumya. Dan yang perlu diperhatikan, nampaknya PTN mulai bersaing dengan PTS dalam soal "pungut-memungut" dana pendidikan dari masyarakat. Dari kenyataan tersebut maka isu otonomisasi keu-angan pada PTN menjadi berkembang dengan suburnya; dalam era mendatang, konon, PTN akan mengembangan manajemen keuangannya secara lebih "bebas" sebagai manifestasi a-tas otonomi yang dimilikinya.
MENYUKSESKAN SLTP KETERAMPILAN (2) Supriyoko, Ki
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 1993: HARIAN SUARA KARYA
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (409.556 KB)

Abstract

       Salah satu permasalahan pada penyelenggaraan SLTP Keterampilan adalah menyangkut fondasi hukum ("basic le-gality").  Dari sisi legalitas maka penyelenggaraan SLTP Keterampilan kurang mempunyai  fondasi hukum yang kokoh, meskipun bukan berarti tidak memiliki fondasi hukum sama sekali. Keadaan ini lebih disebabkan adanya berbagai in-terpretasi operasional yang antagonistik dan ambibalen-tif dari berbagai ketentuan yang ada, terutama ketentuan di dalam pasal-pasal dan ayat-ayat dalam UU Nomer 2/1989 dan PP Nomer 28/1990.          Dengan mengacu pada Pasal 13 UU Nomer 2/1989 yang menyatakan  bahwa pendidikan dasar diselenggarakan untuk mengembangkan sikap dan kemampuan serta memberikan penge tahuan dan keterampilan dasar yang diperlukan untuk hi-dup dalam masyarakat serta menyiapkan peserta didik yang memenuhi persyaratan untuk mengikuti pendidikan menengah (ayat 1), maka kemungkinan penyelenggaraan SLTP Keteram-pilan yang memberikan  bekal pengalaman dan keterampilan dasar kepada siswanya memang terbuka. Dengan bahasa lain ketentuan ini memberi dukungan kuat atas diselenggarakan nya SLTP Keterampilan yang memberikan bekal keterampilan bagi lulusannya.  Meskipun demikian  pada sisi yang lain ternyata ada beberapa pasal dan ayat yang kurang memberi dukungan secara optimal.          Pasal 1 PP Nomer 28/1990 menyebutkan bahwa pendi-dikan dasar adalah pendidikan umum yang lamanya sembilan tahun,diselenggarakan selama enam tahun di Sekolah Dasar dan tiga tahun di Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama atau satuan pendidikan yang sederajat (ayat 1).