Claim Missing Document
Check
Articles

HAM : HISTORIKA DAN KONDISIONALITAS Supriyoko, Ki
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 1994: HARIAN PIKIRAN RAKYAT
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (414.258 KB)

Abstract

       Pada suatu ketika Presiden Soeharto menyatakan bahwa dalam proses pembangunan dapat saja terjadi kegiatan-kegiatan yang mengakibatkan pelanggaran Hak Asasi Manusia (HAM); meskipun demikian harus kita sadari bahwa hal seperti itu merupakan ekses pembangunan yang perlu untuk segera kita perbaiki bersama.  Apa yang dinyatakan Pak Harto dalam membuka Lokakarya Nasional Ke-2 HAM beberapa waktu yang lalu itu kiranya memang pas; pembangunan nasional yang telah menghantarkan berbagai kemajuan bagi bangsa dan negara ini terkadang tak bisa berkelit dari ekses.Berbagai kasus yang kasat mata bisa dilihat;  pembangunan jalan, jembatan, bendungan, pasar, tempat rekreasi, dsb, terkadang harus mengorbankan tempat tinggal sebagian penduduk. Padahal,  mereka ini sebenarnya memiliki hak asasi untuk mempunyai tempat tinggal yang layak.          Dalam kasus tersebut terlihat adanya ekses pembangunan. Dan untungnya, hal itu masih berada di dalam bingkai toleransi sepanjang rakyat setuju dan sependapat untuk menempatkan pembangunan jalan, jembatan, pasar, bendungan, dsb, tersebut pada posisi demi kepen-tingan komunitas nasional di satu pihak dan di pihak lain pengorbanan tempat tinggal penduduk pada posisi ekses.  Sepanjang pembangunan itu sendiri dilakukan demi komunitas yang jauh lebih besar dan eksesnya menyangkut komunitas bahkan individu-individu yang sangat terbatas maka pembangunan nasional akan jalan terus.          Apakah itu berarti bahwa pembangunan itu sendiri secara otomatis dapat berkelit dari persoalan HAM? Rasanya koq tidak! Sepanjang pembangunan masih berekses sehingga ada manusia yang dirugikan, baik secara fisik maupun moral, maka tidak mungkin pembangunan terhindar dari persoalan HAM. Oleh karena itu sangat tepat himbauan Presiden Soeharto untuk memperkecil ekses pembangunan.
MINAT MAHASISWA MENJADI GURU Supriyoko, Ki
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 1992: HARIAN BALI POS
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (212.925 KB)

Abstract

           Di tengah-tengah lalu lalangnya kritik tajam yang dialamatkan kepada IKIP (dan STKIP/FKIP/dsb) akhir-akhir ini barangkali ada manfaatnya kalau saya sajikan temuan empirik mengenai mahasiswa IKIP itu sendiri.              Akhir-akhir ini lembaga pendidikan tinggi tenaga kependidikan, IKIP, banyak dikritik masyarakat; terutama berkaitan  dengan mutu lulusannya. Oleh sementara orang lulusan IKIP dianggap kurang bermutu karena tidak menguasai materi bidang studi (subject matter) yang harus diajarkannya di sekolah. Ilustrasinya: lulusan Pendidikan Matematika dianggap kurang menguasai materi kematematikaannya, lulusan Pendidikan Sejarah dianggap kurang menguasai materi kesejarahannya, dan sebagainya.              Sebagai jawaban atas kritik itu beberapa IKIP telah melakukan pembenahan ke "dalam", antara lain dengan memperbaiki kurikulum dan silabus, meningkatkan kemampuan dosen, menyediakan fasilitas belajar mengajar secara lebih memadai, dsb. Beberapa IKIP bahkan mulai menerima dosen baru lulusan lembaga pendidikan tinggi nonkependidikan. Itu semua dimaksudkan agar kualitas lulusan yang     dihasilkan dapat ditingkatkan. Meski begitu usaha-usaha ini rasanya belum mencapai hasil maksimal.
KEMBANGKAN ABILITAS DAN PERSONALITAS UNTUK MEMBANGUN NEGARA DAN BANGSA Supriyoko, Ki
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 1983: MAJALAH MAHASISWA
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (136.484 KB)

Abstract

Kemajuan suatu negara dan bangsa itu berdiri di atas keterdidikan rakyat, semakin besar rakyat mendapat kesempatan pendidikan maka semakin cepat kemajuan negara terealisir. Demikian pula sebaliknya apabila kesempatan pendidikan itu tidak diberikan maka jangan diharapkan suatu negara akan berkembang dengan pesat.Kalimat diatas rupanya dapat diartikan bahwa pendidikan mempunyai arti yang sangat penting untuk pembangunan suatu negara.Sebenarnya pendidikan itu sendiri memiliki konsep yang amat sederhana, pendidikan adalah upaya untuk menyesuaikan sikap dan perilaku manusia agar senantiasa siap untuk menghadapi hari esok.Itulah sebabnya orientasi pendidikan selalu untuk waktu yang akan datang (esok) bukan waktu yang telah lampau (kemarin). Sedangkan pelayanan pendidikan tidak lah harus selalu didapat melalui lembaga-lembaga pendidikan resmi (formal) saja melainkan dapat diperoleh di setiap saat dalam situasi dan kondisi yang tidak terikat pula.
ILMUWAN SEJATI YANG MISKIN MATERI Supriyoko, Ki
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 2007: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT OKTOBER - DESEMBER 2007
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (126.834 KB)

Abstract

       Inna Lillahi wa inna illaihi roji?un; semua yang berasal dari Allah pada akhirnya kembali kepada Allah pula. Ayat qouliyah, yang sekaligus sebagai ayat kauniyah ini berlaku bagi siapa saja; tak terkecuali bagi Prof. Dr. Teuku Jacob, M.S., M.D., D.Sc.          Ya, Pak Jacob tak kuasa melawan takdir. Rabu 17 Oktober 2007 sekitar jam 17.30 beliau wafat. Pria kelahiran Peureulak, Aceh Timur 6 Desember 1929, alumni SD Langsa (1943), SMP Banda Aceh (1946), SMA Banda Aceh (1949), Fakultas Kedokteran UGM Yogyakarta (1956), University of Arizona Graduate College (1957), Howard University Graduate School, Washington DC (1958), America University, Washington DC (1960), dan Rijkuniversiteit, The Netherland (1968), harus menghadap Sang Khaliq.          Pria yang dikenal disiplin dan teguh dalam mempertahankan pendapat yang diyakininya benar itu meninggalkan kesan yang dalam bagi sahabat dan mantan mahasiswanya. Teman dan lawan diskusinya pun kiranya juga mengalami hal yang sama.
MENGHARGAI PTS KELAS DUNIA Supriyoko, Ki
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 2008: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT JANUARI - MARET 2008
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (102.662 KB)

Abstract

Barangkali ada yang masih ingat, dalam forum seminar internasional bertemakan ?Muslim Countries and Development: Achievements, Cons-traints and Alternative Solutions? yang berlangsung di UMY bekerja sama dengan International Islamic University Malaysia (IIUM) dan Kedutaan Besar Indonesia di Malaysia beberapa waktu yang lalu menteri pendidikan kita Bambang Sudibyo menyatakan sudah saatnya Perguruan Tinggi Swasta (PTS) di Indonesia masuk dalam jajaran perguruan tinggi kelas dunia.          Lebih lanjut Pak Bambang menyatakan bahwa pemerintah Indonesia mendorong sebanyak mungkin adanya perguruan tinggi Indonesia kelas dunia. Pemerintah akan membantu merealisasi perguruan tinggi Indonesia yang masuk dalam jajaran 500 besar dunia, 100 terbaik Asia atau terakre-ditasi secara internasional. Perguruan tinggi seperti itu bukan saja ditujukan kepada PTN, akan tetapi PTS pun terbuka untuk dapat memasuki kancah yang bergengsi tersebut.          Pernyataan Pak Bambang yang sangat cerdas dan adil tersebut tentu saja disambut positif dan penuh antusias oleh praktisi PTS di negeri ini; meskipun tidak sedikit yang menganggap hal itu sebagai ?lip service? seorang menteri pendidikan.
MBA: MAKIN BINGUNG AJA Supriyoko, Ki
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 1992: HARIAN BALI POS
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (210.59 KB)

Abstract

       Judul artikel ini memang ditulis dengan nada joke tanpa dikonotasi "olok-olok" sehingga jangan diinterpretasi secara keliru, khususnya oleh teman-teman mahasiswa dan lulusan program MBA, Master of Business Administration. Kiranya hal ini juga berlaku bagi para pengelola program MBA maupun siapa saja yang memiliki hubungan dan kepentingan dengan program MBA. Kalau dalam dunia tulis menulis ada yang menganggap bahwa judul tulisan akan mencerminkan pemahaman dan kebijakan penulisnya, the title is insightfull; judul artikel ini pun semoga demikian.          Tumbuhnya program MBA akhir-akhir ini bak cenda-wan di musim hujan;  di setiap kota besar muncul lembaga pendidikan yang menjanjikan paket-paket "gelar" MBA yang bisa ditempuh dalam waktu pendek. Bayangkan hanya dengan lama pendidikan kurang dari dua, atau bahkan kurang dari satu setengah tahun gelar MBA dapat dikantongi; tentunyadengan berbagai persyaratan yang harus dipenuhinya.          Masyarakat kita pun nampaknya cukup "respect" a-tas kehadiran program MBA;  akan tetapi bersamaan dengan itu muncul isu akan ditertibkannya program master terse-but karena dipandang ada hal-hal yang "mengganjal" kalau dihubungkan dengan aturan main yang berlaku, katakanlah dengan PP No:30/1990 tentang Pendidikan Tinggi misalnya. Berlakunya SK Mendikbud No:0686/U/1991 tentang Pedoman Pendirian Perguruan Tinggi menjadikan perbincangan menge nai program MBA lebih semarak lagi; namun demikian dalam realitanya ada sekelompok masyarakat yang justru "makin bingung aja" untuk mengikuti perbincangan tersebut dika-renakan ketidak-mampuannya dalam menarik konklusi.
MENUJU 'POST GRADUATE UNIVERSITY' Supriyoko, Ki
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 2001: HARIAN PIKIRAN RAKYAT
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (100.07 KB)

Abstract

       Kiranya kita sangat senang mendapat teman berdiskusi yang kreatif, yaitu Dr. Mauro Rahardjo,  yang di dalam suatu tulisannya "Mungkinkah Konsep Research University Diterapkan?"  (PR: 9 Jan 2001) telah menanggapi artikel saya, "Menuju Perguruan Tinggi In-donesia Berkelas Dunia" (PR: 2 Jan 2001). Sudah barang tentu apa yang diuraikan beliau  telah memberi wawasan yang lebih luas serta pemikiran yang lebih lengkap kepada kita.          Sesungguhnya perbincangan mengenai perguruan tinggi kita  bukan merupakan hal baru  karena memang di dalamnya terkandung banyak kompleksitas yang relatif sukar disolusi.  Di Pikiran Rakyat sendiri, saya pun telah berulang kali menyajikan ide dan pemikiran mengenai pengembangan perguruan tinggi di Indonesia;  sebut saja contohnya  "Popularitas Universitas Terbuka"  (PR:  09 Okt 1998), "Potret Buram PTS dan PTN" (PR: 08 Des 1998),  "Komplikasi Per-guruan Tinggi Kita"  (PR: 23 Agt 2000),  "Repotnya Memandirikan PTN" (PR: 05 Sep 2000), dan sebagainya.          Dari berbagai studi komparatif yang dilakukan oleh berbagai lembaga, baik lembaga perguruan tinggi itu sendiri maupun lembaga yang independen,  dapat disimpulkan bahwa mutu perguruan tinggi kita memang tertinggal  apabila dibanding dengan perguruan tinggi manca negara. Ketertinggalan kita ini tidak saja menyangkut proses akan tetapi juga menyangkut produk.          Keadaan itulah yang memprihatinkan kita. Apabila kita tidak mampu membawa perguruan tinggi kita kepada mutu  yang berkelas dunia,  jangan diharapkan kita sanggup bersaing dalam bidang apa pun dengan bangsa-bangsa lain di dunia ini.
MEMPERKOKOH FONDASI PENDIDIKAN Supriyoko, Ki
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 2008: HARIAN SUARA MERDEKA
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (99.556 KB)

Abstract

Perjalanan pendidikan nasional Indonesia selama ini dirasakan penuh dengan dinamika dan romantika. Kedinamikaan ini sangat dirasakan dengan munculnya berbagai kebijakan yang sering menimbulkan polemik, utama-nya antara pengambil kebijakan di tingkat pusat dengan praktisi di tingkat bawah; sedangkan keromantikaan dirasakan dengan munculnya berbagai kendala dalam melaksanakan kebijakan tersebut.          Dalam soal Ujian Nasional (Unas) misalnya; di satu sisi pemerintah bersikukuh melaksanakan Unas karena hal itu dianggap sebagai metoda untuk memperbaiki mutu. Namun, kebijakan tersebut ternyata mendapat tentangan dari banyak praktisi pendidikan. Lepas dari mana argumentasi yang lebih benar, namun ?pertentangan? tersebut merupakan bagian dari dinamika pendidikan nasional. Di sisi lain kalau banyak siswa yang belum pernah menerima materi yang di-unas-kan karena faktor keprofesionalan guru, hal itu merupakan bagian dari romantika pendidikan nasional.          Kemajuan jaman yang terlalu pesat akhir-akhir ini ternyata membawa berbagai fenomena baru yang bisa mereduksi nilai-nilai konsepsi filosofis pendidikan nasional; akibatnya konstruksi pendidikan nasional kita menjadi tidak kuat dan mengkhawatirkan kalau tidak segera dilakukan pengokohan nilai-nilai dasar pendidikan nasional. Sekarang sudah saatnya dilaksanakan pengokohan nilai-nilai dasar tersebut.
HDI INDONESIA TETAP RENDAH Supriyoko, Ki
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 2004: HARIAN KOMPAS
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (141.456 KB)

Abstract

       Salah satu badan internasional yang bernaung di bawah organisasi PBB, United Nations Development Programme (UNDP), baru saja menjalankan ?ritual? tahunan dengan mengumumkan negara-negara menurut peringkat HDI-nya. Dalam laporan yang berjudul ?Human Development Report 2004? Indonesia ditempatkan di peringkat 111 dari 175 negara. Sementara negara-negara jiran seperti Singapura, Malaysia, Thailand, dan Filipina ada di peringkat yang lebih tinggi.          Singapura misalnya; negara jiran yang penduduknya tidak lebih dari jumlah penduduk Jakarta itu menempati peringkat 25 (tahun 2003 yang lalu di peringkat 28), jauh di atas Indonesia. Brunei Darussalam yang negaranya tidak seluas Jakarta di peringkat 33 (31); Malaysia yang pernah menjadi murid kita ada di peringkat 58 (58); sedangkan Thailand dan Filipina yang tujuh tahun lalu sama-sama dibantai krisis masing-masing di peringkat 76 (74) dan 83 (85).          Sebagaimana tahun-tahun yang sebelumnya, laporan UNDP yang ?biasa-biasa? saja itu pasti akan menimbulkan reaksi dari masyarakat, khususnya kaum intelektual dan birokrasi pemerintahan. Ada yang bersikap menerima, tidak percaya, mempertahankan diri, dsb. Laporan UNDP seperti itu sebenarnya bukan hal baru karena sudah dilakukan belasan tahun dan di setiap tahunnya dipublikasi secara luas. Sebagai penyedap laporan ditaruhlah bumbu-bumbu yang ditulis menurut persepsi tim studinya meskipun tidak seluruh data yang mendukung adalah data yang lengkap serta aktual. Ada juga data yang masih harus diklarifikasi validitasnya.
KEBANGKITAN NASIONAL KEDUA Supriyoko, Ki
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 1992: HARIAN BALI POS
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (213.539 KB)

Abstract

       Hari-hari ini adalah hari-hari yang lain daripada yang lain. Hari ini bangsa dan masyarakat Indonesia se-dang memperingati hari kebangkitan nasional (harkitnas), sebuah "hari besar" yang tak pernah terlewatkan. Banyak metoda yang dilakukan untuk memperingatinya; salah satu cara di antaranya adalah dengan mencoba "mengilmiahkan" kebangkitan nasional itu sendiri, yaitu dengan berseminar, diskusi, temu ilmiah, sarasehan, dan sebagainya.          Kalau  kita perhatikan dalam peringatan harkitnas beberapa tahun terakhir ini maka isu politis yang paling aktual adalah tentang kebangkitan nasional kedua. Hampir setiap pertemuan-pertemuan ilmiah dan pidato-pidato pejabat tidak pernah lupa menyinggung soal ini. Isu politis ini berawal mula dari adanya judgement terhadap berputarnya roda-roda pembangunan nasional kita dalam menghadapi tantangan-tantangan berat  pada era industrialisasi yang sedang kita lalui.          Isu kebangkitan nasional kedua tersebut muncul di permukaan ketika secara subjektif-kultural kita mencoba membandingkan berbagai kompleksitas budaya yang dihadapi  bangsa Indonesia pada awal abad ke-20 ini dengan kondisi budaya akhir abad yang sama. Kalau dulu masalah-masalah politis sangat dominan maka kompleksitas kultural bangsa kita kali ini lebih didominasi oleh masalah-masalah teknologi dan ekonomi global. Meskipun demikian secara subs tantif kompleksitas kultural  yang dihadapi oleh bangsa kita dalam dua kurun waktu itu sebenarnya relatif sama.