Claim Missing Document
Check
Articles

MEMBENAHI PRAKTEK EKONOMI KERAKYATAN Supriyoko, Ki
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 1995: HARIAN SUARA MERDEKA
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (413.453 KB)

Abstract

       Hari ini enam tahun yang lalu,  tepatnya tanggal 20 Mei 1989, Presiden Soeharto memberikan amanat mengenai tujuan kebangkitan nasional. Dinyatakan oleh beliau bahwa apabila kebangkitan nasional pertama tahun 1908 bertujuan mendirikan negara kebangsaan yang didasarkan atas persatuan dan kesatuan maka tujuan kebangkitan nasi-onal kedua nantinya (saat itu) adalah menempatkan negara dan bangsa Indonesia sejajar dengan negara dan bangsa lain yang sudah maju.          Apa yang diamanatkan Pak Harto tersebut sangatlah jelas bahwa tujuan kebangkitan nasional kedua mempunyai formulasi politis yang berdeda dengan tujuan kebangkitan nasional pertama. Hal ini memang bisa saja terjadi karena dalam perjalanan sejarahnya bangsa Indonesia telah mengalami pergeseran kontekstual atas medan perjuangannya. Di awal abad ke-20 atau pada era kebangkitan nasinal pertama maka tantangan kultural bangsa Indonesia lebih tepusat pada masalah-masa-lah politis;  sedang di akhir abad ke-20 ini atau pada era kebangkitan nasional kedua maka tantangan kultural bangsa Indonesia lebih terpusat pada masalah-masalah ekonomi global.          Sudah barang tentu kita tidak dapat menyatakan masalah politik tersebut lebih kompleks daripada masalah ekonomi global, demikian pula sebaliknya, karena keduanya muncul pada situasi yang berbeda.
PTS DAN MASYARAKAT "GRASS ROOT" Supriyoko, Ki
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 1990: HARIAN WAWASAN
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (117.443 KB)

Abstract

       Salah seorang dari sekian pakar yang kita miliki, Prof. Slamet Rahardjo, M.A. baru-baru ini menegaskan bahwa sistem pendidikan yang hendak mewujudkan demokrasi dan keadilan dalam masyarakat harus berani memihak kepada lapisan masyarakat bawah; bukan kepada lapisan atas dan menengah sebagaimana yang terjadi dalam kenyataan selama ini (Wawasan, 1/03/1990).       Pernyataan tersebut cukup "menyentuh", namun akan lebih "manis" lagi apabila kata "memihak" diganti dengan kata "berorientasi". Barangkali banyak orang yang sependapat dengan makna pernyataan tersebut.       Kalau kita sempat mengamati pelaksanaan pendidikan nasional kita secara jeli,  dalam berbagai hal memang masih terasa adanya keterbatasan pada masyarakat tingkat bawah (grass root level) dalam menikmati pelayanan pendidikan sampai jenjang yang setinggi-tingginya; sebagaimana  yang pernah diisyaratkan oleh UUD 1945 maupun oleh Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional kita.
DIKOTOMI SEKOLAH UMUM DAN KEJURUAN Supriyoko, Ki
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 1986: HARIAN SUARA MERDEKA
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (134.309 KB)

Abstract

       Dalam sejarah pendidikan di negara kita terdapat sebuah catatan yang cukup unik, ialah tentang ketidakse-imbangan jumlah siswa sekolah umum dengan jumlah siswa sekolah kejuruan. Di tengah-tengah gencarnya usaha pemerintah untuk menciptakan tenaga terampil tingkat me-nengah melalui sekolah kejuruan ternyata jumlah siswa sekolah kejuruan hampir "tidak berarti" bila dibanding dengan jumlah siswa sekolah umum.       Menurut catatan pemerintah pada awal tahun REPE-LITA III jumlah siswa SMTP (Sekolah Menengah Tingkat Pertama) menunjukkan angka 2.983 ribu orang,  terdiri dari SMTP Umum sebanyak 2.895 ribu orang (97,05%) dan SMTP Kejuruan sebanyak 88 ribu orang (2,95%).  Pada akhir ta-hun REPELITA III jumlah siswa SMTP meningkat menjadi 4.713,3 ribu orang yang terdiri dari SMTP Umum sebanyak 4.629,5 ribu orang (98,22%) dan SMTP Kejuruan sebanyak 83,8 ribu orang (1,78%).       Untuk tingkat SMTA (Sekolah Menengah Tingkat Atas) didapati ratio yang hampir sama.       Pada awal tahun REPELITA III (th79/80) terdapat siswa SMTA yang jumlahnya mencapai 1.574 ribu orang, terdiri dari siswa SMTA Umum (SMA) sebanyak 843 ribu o-rang (53,56%), dan siswa SMTA Kejuruan (STM, SMEA, SKKA, SPMA, dsb)  sebanyak 489 ribu orang (31,07%) serta siswa SPG/SGO (Sekolah Pendidikan Guru/Sekolah Guru Olah Raga) sebanyak 242 ribu orang (15,37%).  Sedangkan pada akhir tahun REPELITA III (th 83/8) terdapat 2.489,6 ribu orang siswa SMTA yang terdiri dari siswa SMTA Umum sebanyak 1.696,9 ribu orang (68,16%), SMTA Kejuruan 551,7 ribu orang (22,16%) serta siswa SPG/SGO sebanyak 241 ribu o-rang (9,68%).
KUALITAS MAHASISWA BARU VIA UMPTN Supriyoko, Ki
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 1992: HARIAN SUARA MERDEKA
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (212.054 KB)

Abstract

       Pada dua hari ini, Selasa 30 Juni 1992 dan Rabu 1 Juli 1992, seleksi tertulis Ujian Masuk Perguruan Tinggi Negeri (UMPTN) digelar bagi seluruh kandidat yang terlibat langsung dalam kompetisi perebutan kursi kuliah pada perguruan tinggi negeri, PTN. Pelaksanaan seleksi tertulis ini dilakukan secara serentak untuk seluruh PTN di negara kita; dan selama dua hari berturut-turut para kandidat mengakumulasikan seluruh potensi serta abilitasnya untuk mencoba menembus dinding PTN.          Hasil pengamatan di lapangan yang terlengkapi de-ngan berbagai informasi mengenai  proses serta mekanisme pendaftaran memberi isyarat bahwa untuk tahun ini jumlah peserta UMPTN -yang sekaligus menjadi kandidat mahasiswa baru PTN-  mengalami penurunan dibandingkan dengan tahun yang lalu; dan angka penurunannya pun kelihatannya cukup signifikan kalau dilihat dalam skala nasional. Beberapa wilayah juga mengalami penurunan yang berarti; misalnya untuk wilayah Panitya Ujian Masuk Lokal (PUML) 42 Jateng mengalami  penurunan sebesar 13,80% dibandingkan kondisi tahun yang sebelumnya.          Memang penurunan jumlah terjadi untuk tahun ini; tetapi bukanlah berarti  bahwa secara kuantitatif jumlah peserta UMPTN adalah sedikit. Jumlah peserta UMPTN tahun ini tetap saja relatif tinggi kalau dibandingkan dengan daya tampung PTN itu sendiri.  Jumlah peserta UMPTN 1992 ini yang ratusan ribu untuk memperebutkan sekitar 65.000 kursi kuliah pada PTN tetap saja memberi indikasi betapa ketatnya  kompetisi masuk perguruan tinggi yang langsung dikelola oleh pemerintah itu sendiri.
PENELITIAN DALAM RAPBN Supriyoko, Ki
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 1997: HARIAN BALI POS
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (117.236 KB)

Abstract

       Seperti yang sebelumnya sudah diprediksi oleh banyak pengamat, maka Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (RAPBN) tahun 1997/1998 mengalami kenaikan yang berarti bila dibandingkan dengan tahun yang sebelumnya. Dengan angka prediksi yang berbeda-beda pada umumnya para pengamat ekonomi dan pembangunan kita bersikap optimistik akan kemungkinan naiknya nilai RAPBN 1997/ 1998 terhadap APBN 1996/1997 yang tengah berjalan sekarang ini.       Perkiraan tersebut di atas ternyata terbukti. Di dalam menghantar keterangan pemerintah di depan Sidang Paripurna DPR pada tanggal 6 Januari 1997 yang lalu Presiden Soeharto  telah menjelaskan bahwa RAPBN 1997/1998 sekarang ini bernilai 101,1 trilyun rupiah (atau tepatnya 101.086,7 milyar rupiah); yang berarti naik di atas 11 persen bila dibanding dengan APBN 1996/1997  yang nilainya berkisar pada angka 90,6 trilyun rupiah (tepatnya 90.616,4 milyar rupiah). Untuk pertama yang kalinya dalam sejarah,  sebagaimana dikatakan Presiden Soeharto, RAPBN kita mencapai angka di atas 100 trilyun rupiah.       Kenaikan anggaran yang demikian itu telah menjadi  suatu tradisi positif dalam sistem perencanaan pembangunan kita. RAPBN 1996/ 1997 yang lalu juga mengalami kenaikan yang nilainya mencapai di atas 16 persen dibanding APBN tahun yang sebelumnya;sementara itu RAPBN 1995/1996 juga mengalami kenaikan nilai di atas 11 persen dibandingkan APBN tahun yang sebelumnya.  Kalau kita cermati lagi RAPBN 1991/1992 nilai kenaikannya bahkan hampir mencapai 18 persen dibandingkan APBN pada tahun sebelumnya, 1990/1991.
PENDIDIKAN DAN SOSIAL BUDAYA MASYARAKAT (2) Supriyoko, Ki
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 1993: HARIAN BALI POS
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (411.221 KB)

Abstract

       Bahwasanya pendidikan berpengaruh pada kehidupan sosial budaya masyarakat kiranya memang tidak terelakkan lagi.  Secara teoretik pembangunan pendidikan akan dapat memunculkan harmonisasi sosial maupun disharmonisasi so-sial.  Formulasinya sbb: apabila makin tinggi pendidikan seseorang mendapat penghargaan yang makin tinggi dalam dunia kerja dan hubungan sosial maka yang terjadi adalah harmonisasi sosial, sebaliknya apabila makin tinggi pen-didikan seseorang mendapat penghargaan yang makin rendah dalam dunia kerja dan hubungan sosial maka yang terjadi adalah disharmonisasi sosial (Holland, 1985: 15-30).          Teori Holland tersebut di atas diacu dalam sistem ketenagakerjaan. Dalam struktur ketenagakerjaan di Indo-nesia maka seorang profesional (ekuivalen dengan lulusan pendidikan tinggi)  mendapat tempat kedudukan yang lebih tinggi daripada seorang terampil (ek. lulusan pendidikan menengah), dan seorang terampil berada di atas seorang yang tidak terampil (ek. lulusan pendidikan dasar).          Dunia kerja kita menghargai pendidikan di samping juga pengalaman kerja. Penghargaan pada pengalaman kerja ini sesungguhnya juga merupakan pencerminan penghargaan terhadap pendidikan karena di dalam masa kerja seseorang terkandung proses pendidikan dan penerampilan diri.
MEDALI EMAS MATEMATIKA SISWA SD INDONESIA Supriyoko, Ki
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 2006: MAJALAH FASILITATOR
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (147.036 KB)

Abstract

Dalam suatu laporan studi yang ditulis oleh Ina V.S. Mullis, Michael O. Martin, Eugenio J. Gonzalez and Steven J. Chrostowski, ?TIMSS 2003 International Mathematics Report: Findings From IEAs Trends in Inter-national Mathematics and Science Study at the Fourth and Eighth Grades? secara tidak langsung disebutkan bahwa prestasi Matematika siswa kelas dua SMP (grade 8) di Indonesia tidak tinggi alias rendah. Di dalam laporan tersebut prestasi Matematika siswa hanya menduduki ranking ke-34 dari 45 negara. Pencapaian skor siswa Indonesia yang hanya 411 berada di bawah skor rata-rata internasional (467). Sebagai perbandingan Malaysia berada pada ranking ke-10 dan pencapaian skor siswanya adalah 508, jauh di atas skor rata-rata internasional. Ranking tertinggi adalah ?Negara Matematika? Singapura dengan pencapaian skor siswa sebesar 609 (Ina V.S. Mullis, at.all., 2004: 31-54)          Di dalam laporan studinya yang lain, secara tidak langsung disebutkan bahwa prestasi sains siswa Indonesia adalah rendah; dalam hal ini lebih ren-dah daripada siswa dari negara di sekitarnya, seperti Australia, Singapura, dan Malaysia (Michael O. Martin, at.all., 2004: 33-56). 
CITA-CITA MENGUBAH IKIP MENJADI UNIVERSITAS Supriyoko, Ki
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 1991: HARIAN YOGYA POS
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (216.013 KB)

Abstract

Konsep lain yang dikembangkan oleh Pak Vem adalah mengubah IKIP menjadi universitas, atau "menguniversitaskan" IKIP. Konsep ini kiranya dilatarbelakangi adanya semacam kekurangpuasan mengenai kualitas lulusan IKIP itu sendiri, khususnya menyangkut penguasaan materi pengajaran (subject matter). Masalah "menguniversitaskan" IKIP tersebut baru-baru ini sempat muncul dipermukaan dan sempat memancing banyak opini masyarakat ketika Direktur Jenderal Pendi-dikan Tinggi Depdikbud, Soekadji Ranoewihardjo, (konon) menyatakan bahwa sepuluh IKIP Negeri di Indonesia segera diubah menjadi universitas. Lebih daripada itu rencana penamaannya pun sudah ada, meski nampaknya belum tuntas pula, yaitu akan diambil menurut nama kotanya masing-ma-sing; misalnya saja IKIP Negeri Padang nantinya menjadi Universitas Padang, IKIP Negeri Yogyakarta kelak menjadi Universitas Yogyakarta, dan sebagainya. Menurut informasi pada waktu itu nampaknya peren-canaannya sudah "setengah matang"; setelah IKIP diubah menjadi universitas kelak mahasiswa semester 1 s/d semes ter 6 akan mendapatkan pengajaran bidang studi ilmu-ilmu murni, dan baru pada semester 7 dan semester 8 dilakukan penjurusan. Mahasiswa yang ingin mengambil program studi keguruan akan menerima kuliah kependidikan untuk menda-patkan Akta Mengajar IV (AM-4); sedangkan mahasiswa yang ingin mengambil ilmu murni akan menerima program peneli-tian ilmu-ilmu murni sesuai dengan bidangnya.
GURU DALAM REFORMASI PENDIDIKAN Supriyoko, Ki
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 1999: HARIAN SUARA KARYA
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (122.058 KB)

Abstract

       Sekitar dua bulan yang lalu,  tepatnya tanggal 23 dan 24 Februari 1999, lembaga Bank Dunia bekerja sama dengan Bappenas,Depdikbud dan Asia Development Bank menyelenggarakan konferensi pendidikan nasional untuk membicarakan berbagai masalah  yang tengah dihadapi dunia pendidikan kita. Pada forum ini juga dibahas laporan pendidikan Bank Dunia yang telah diluncurkan akhir tahun yang lalu, 'Education in Indonesia : From Crisis to Recovery' (1998).      Ketika pembahasan topik sampai pada masalah guru maka hampir semua peserta menaruh perhatian.  Dan,  ketika salah seorang anggota membacakan hasil diskusi kelompok guru yang menyatakan perlunya dilakukan kenaikan sebesar 200 persen terhadap gaji guru maka para peserta konferensipun segera memberi respon dengan bertepuk tangan meriah. Sepertinya mereka yang ada di ruang itu setuju atas kesimpul-an tersebut.  Sebagian teman saya dari Bank Dunia dan ADB ada yang ikut bertepuk tangan;  sedangkan Pak Juwono Sudarsono selaku men-teri pendidikan saya perhatikan tersenyum kecil.       Tepuk tangan yang meriah dari peserta konferensi dan senyuman kecil seorang menteri setidak-tidaknya mengandung dua arti; pertama adanya pengakuan tentang demikian strategisnya posisi guru di dalam khasanah pendidikan nasional,  dan kedua,  adanya pengakuan tentang belum optimalnya penghargaan terhadap para guru itu sendiri.       Memang demikianlah adanya!  Sampai kini di negara kita hampir tidak ada orang yang tidak mengakui peran sentral guru dalam menyi-apkan kader-kader bangsa di masa depan.  Namun demikian  pada sisi yang lain masih banyak perlakuan ketidakadilan yang sering diterima oleh para guru;  dengan demikian dapat dimaklumi kalau sekarang ini profesi guru tidak lagi diminati oleh banyak orang.
SIARAN TV KORBANKAN PENDIDIKAN ANAK? Supriyoko, Ki
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 1993: HARIAN SURABAYA POS
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (410.401 KB)

Abstract

       Materi siaran televisi di Indonesia baik televisi pemerintah (TVRI), televisi swasta (RCTI, SCTV), maupun televisi swasta "semi" pemerintah (TPI) sekarang ini di-anggap benar-benar telah mengorbankan pendidikan anak. Program-program yang ditampilkan hampir selalu terwarnai adegan kekerasan, penipuan, pencurian,  bahkan tidak ja-rang menampilkan adegan "kebiru-biruan". Semua ini tidak layak ditonton oleh anak yang dalam perkembangan jiwanya cenderung bersikap permisif terhadap budaya lingkungan yang disodorkan kepadanya.          Seorang pakar psikologi perkembangan kita, Utami Munandar,  bahkan prihatin dengan materi-materi tayangan televisi yang memberi kesan kurang memperhatikan pendi-dikan anak dan remaja.  Keprihatinannya ini sangat wajar mengingat  sekarang ini kita mempunyai puluhan juta anak dan remaja yang berada dalam proses edukasi.          Sebagai pakar pendidikan Ibu Utami tentu memiliki referensi empirik.  Berbagai penelitian di negara-negara maju membuktikan bahwa tayangan televisi yang penuh de-ngan kekerasan dan pornografi telah merusak mental, peri laku dan pendidikan anak serta remaja.  Apakah anak-anak Indonesia harus mengalami keadaan yang demikian itu?